Skip to main content

Kado Setelah Ujian Skripsi




Tak terasa sudah lebih tiga tahun menggeluti Program Studi Sastra Indonesia di salah satu kampus negeri kota Padang ini. Pada hari itu, Rabu, 20 Juli 2011, sekitar pukul 08.00 waktu setempat, saya mulai mempertanggungjawabkan tugas akhir atau skripsi yang saya buat di depan para penguji, baik yang bergelar professor, doctor, dan seterusnya. Memakan waktu sekitar 2 jam, saya mati-matian mempertahankan teori dan interpretasi saya mengenai gender dan feminisme di depan penguji. Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus oleh professor yang membimbing tugas akhir saya di kampus.

Sebelumnya, Selasa malam, saya menerima pesan pendek dari Panitia Lomba Menulis tentang Bung Hatta yang diadakan oleh Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi sekitar sebulan lalu, Juni 2011. Isi pesan itu, saya disuruh mengecek siapa saja yang beruntung menang dalam perlombaan tersebut, ada yang terpampang di home page nya ataupun terpampang di Harian Umum Singgalang pada Rabu itu. Ya, karena cukup sibuk mempersiapkan ujian akhir skripsi untuk besok paginya, kabar itu tak menyita perhatian hingga ujian berakhir.

Setelah bersalaman dan bercerita ria mengenai ujian akhir kepada teman-teman yang menunggu giliran, barulah teringat dengan home page yang dikabarkan oleh panitia lomba. Mbak, yang waktu itu tengah online dengan lepinya di depan jurusan, langsung saja disabotase untuk membuka situs yang bersangkutan. Loading dulu, dan gagal. Eh ternyata salah ketik. Ketik ulang, loading lagi, jumpa, diperbesar dan ini dia! Adek Risma Dedees menduduki urutan kedua dalam lomba tersebut dengan kategori umum dan mahasiswa. Senang sekali dan langsung menuju jurusan, mencari Singgalang hari itu dan berbisik kepada beberapa orang dosen sambil cengengesan.

“Selamat, selamat ya. Banyak untungnya nih,” kata salah satu dosen di jurusan tersebut. Saya mengucapkan terima kasih dan masih saja cengengesan.

Tak dinyana, teman SMA di Mukomuko ternyata tengah nongkrong di jurusan itu. Ketika berjumpa kami saling tawa dan berjabat tangan. Ia pun menjabat tanganku untuk kedua kalinya ketika mengetahui kabar indah ini. “Hebat nih Adek,” katanya sembari tertawa.

Ya, Alhamdulillah, setelah ujian kompre ternyata say jugaa mendapat peringkat dua dalam lomba tersebut. Cukup memotivasi saya menulis dan membaca lebih banyak serta belajar sejarah tentang bangsa yang kaya dan menyenangkan ini.

Esoknya, Kamis, pagi-pagi sekali saya telah berada di travel menuju Perpustakaan Proklamator Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kadang-kadang mual karena kecepatan mobil dan tanjakan yang diadu supir saja, membuat perut saya terguncang dan ingin memuntahan sesuatu. Perjalanan yang fifty- fifty.

Letak perpustakaan megah itu ternyata di atas bukit satu komplek dengan kantor Wali Kota Bukittinggi. Sepi dan asri sekali. Untuk kesekian kalinya saya mengunjungi kota ini. Setiap dikunjungi pasti ada yang berbeda dari kota berbendera merah ini. Apakah jalannya, pasarnya, tamannya, ataupun perasaan saya saja yang berbeda.

Sedikit terburu-buru saya memasuki ruang auditorium perpustakaan ini. Rupanya sedang ramai dan acara telah dimulai. Banyak anak dan remaja berkumpul di ruang tersebut. Rupanya ada lomba menggambar dan mewarnai antar Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, hingga Sekolah Menengah di Bukittinggi juga di perpustakaan ini.

Tak beberapa lama, puncak penyerahan hadiah pun dimulai. MC pun memanggil dan mempersilahkan setiap pemenang menaiki panggung. Hadiah langsung diserahkan oleh kepala perpustakaan dan entah wali kota entah wakil wali kota entah sekretaris wali kota atau apalah jabatan bapak berkopiah itu. Yang jelas ia senang dan bangga kepada kami para pemenang, dan tentu juga saya.

Sebelum meninggalkan perpustakaan megah itu, karena ini kali pertama saya ke sini, tak buang-buang waktu, langsung saja mneyusuri lekuk demi lekuk perpustakaan tersebut. Para pengelola yang cukup ramah dan rajin senyum semakin menambah kebetahan berlama-lama di sana. banyak sekali koleksi pustaka Bung Hatta ini, batin saya. Mulai dari sastra, bidang sosial, eksakta, kedokteran, IT, majalah kini dan dulu, dan bejibun lagi koleksi baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sebelum keluar dari pustaka ini, saya sempatkan melihat-lihat di Asean Corner, nyaman, lucu-lucu namun kaya ilmu. Sayang, di kota Padang, tak ada pustaka senyaman ini.

Cerita ini diakhiri dengan menggondol satu buku bajakan yang dibeli di kawasan Jam Gadang. Hal ini kerap saya lakukan. Maaf jika kurang mengenakkan. Dan beberapa kantong makanan khas Bukittinggi sebagai traktir setelah ujian kompre dan menang lomba menulis. Tak ada yang keberatan.

Comments

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^

Popular posts from this blog

Gilby Mohammad

Etika Religius untuk Masyarakat Modern

Judul : Agama dan Bayang-bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari Penulis : Dr. Mustari Mustafa Penerbit : LKiS Yogyakarta Tebal : xii + 206 halaman Cetakan : I, Juni 2011 Harga : Rp 40.000,- Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP Pascareformasi bangsa Indonesia harus menghadapi tantangan yang jauh lebih besar, baik itu permasalahan nasional maupun dari luar negeri. Berbagai kemelut pun melanda Tanah Air ini. Mulai dari krisis ekonomi, politik, nasionalisme serta moralitas yang jauh lebih mengancam ketentraman dan kedamaian kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecenderungan pihak-pihak penguasa untuk mendahulukan kebutuhan pribadi atau kelompoknya, semakin meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat kepada penguasa. Alhasil, berbagai tindakan, aksi bahkan pelanggaran hukum ikut serta mewarnai kehidupan masyarakat yang bermuara kepada instabilitas nasional. Kondisi ini menjadi perhatian utama sekaligus kegamangan bagi Dr. Mustari Mustafa, seorang pendidik ya...

Perfect Vibe: Perjalanan dan Perpindahan

Menginjak setahun bermukim di Jakarta, saya memutuskan untuk pindah tempat tinggal meski masih dalam wilayah yang sama. 2018 pun dimulai dengan menghuni kamar baru, ibu-bapak kos baru, teman-teman kos baru, asisten rumah tangga yang baru, dan kesibukan yang baru juga. Saya sengaja mengambil kamar yang menghadap ke atap-atap rumah penduduk, langsung bertatapan dengan langit, awan, dan matahari. Efeknya, sepanjang hari dan hampir tengah malam pintu kamar dan jendela selalu terbuka lebar menampung semua yang datang dari luar: udara dari empat penjuru, debu dari genteng-genteng, sinar mentari-bulan-bintang, suara nakal dari atap plastik tetangga yang lepas pakunya, serta semilir angin yang menjalar hingga ke lantai di bawah meja. Suasana ini tidak didapatkan setahun belakangan. Pernah terpikirkan tapi tak kunjung diwujudkan karena hari-hari penuh diisi dengan mengabdi kepada visi misi lembaga tempat bekerja. Jadi, pulang dari kerja diisi dengan istirahat, bermain game di bawah sinar la...