Skip to main content

Pusparatri, Perempuan Penolak Surga*


Judul : Pusparatri
Gairah Tarian Perempuan Kembang
Penulis : Nurul Ibad, Ms
Penerbit : Pustaka Sastra dan Omah Ilmu Publishing
Tebal : x + 220 halaman
Cetakan : Pertama, 2011
Genre : Novel
Harga : Rp 40.000,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP



Untuk kesekian kalinya Nurul Ibas, Ms meluncurkan novel bertajuk senada dengan novel-novel sebelumnya, seperti novel Nareswari Karennina yang tergabung di dalam trilogi Kharisma Cinta Nyai, yakni perjuangan seorang perempuan yang ingin keluar dari lembah kemaksiatan dengan lakon lain, Gus Rukh, sebagai juru selamat. Begitu juga dengan novel Puparatri: Gairah Tarian Perempuan Kembang yang baru diluncurkan pertengahan tahun 2011 ini.
Di dalam sambutannya, penulis, Nurul Ibad, Ms menyampaikan kepada pembaca, bahwa novel ini mengangkat tema perjuangan perempuan awam untuk memperoleh kehidupan yang layak dan bermartabat, sekalipun mereka harus menjadi perempuan penghibur, bukan istri pertama, atau bahkan istri yang dinikahi sirri. Namun, justru dari rahim mereka lahir orang-orang hebat dan berpengaruh untuk umat di masa mendatang.

Tema ini diangkat berdasarkan realita kehidupan zaman kini. Satu sisi masyarakat cenderung memandang rendah orang-orang yang melakoni pekerjaan di dunia malam dan sejenisnya. Padahal di balik pekerjaan yang tidak terhormat itu, justru mampu memberi kehidupan kepada orang lain dengan lebih baik. Seperti tokoh Pusparatri di dalam novel ini yang mampu memberi banyak pekerjaan kepada orang-orang, meskipun ia bermodalkan hasil menjual diri di pemakaman di puncak Bukit Ambulu. Nyi Poniyem dan Paijo serta orang-orang yang bekerja membantu usaha Pusparatri, menganggap ia sebagai majikan yang tidak hanya kaya namun juga baik hati dan penuh kasih. Di sini, penulis membongkarbalikkan pandangan orang-orang tentang perempuan malam yang selalu dikonotasikan dengan seburuk dan sehina mungkin.

Bahkan tokoh Pusparatri merupakan keturunan Raja Agung Mataram karena ayahnya Raden Mas Joyokesumo berdarah ningrat Hamengkubuwana II demikian juga ibunya, Retno Kesambi masih berdarah Sunan Kudus. Hanya saja masa lalu yang suram membawanya harus hidup dengan dunia malam yang bergelimang kemaksiatan. Pada tahap ini, muncullah Gus Rukh, kiai nyeleneh dari Tulungagung yang mengentaskan kemaksiatan dengan jalan keluar masuk dan bergaul dengan para bramacorah untuk membawa mereka ke jalan yang benar, termasuk Pusparatri.

Selanjutnya novel ini mengalir dengan berbagai kisah mistis. Karena Gus Rukh ternyata orang sakti yang mampu merubah dirinya sesuai dengan apa yang diinginkan dan kebutuhan dakwahnya. Pusparatri pun menjadi salah satu orang yang harus dientaskan dari lembah kemaksiatan oleh Gus Rukh. Namun, Gus Rukh yang diberi kesaktian luar biasa oleh Tuhan tak mampu berbohong kepada dirinya sendiri bahwa ia benar-benar menyukai, mencintai Pusparatri dan membujuk perempuan muda itu mau menjadi istrinya yang kesekian kalinya.

Sebagai perempuan malam yang trauma dengan penikahan, Pusparatri tak mudah dibujuk. Pekerjaan yang ia lakoni sebagai perempuan penghibur dan mendambakan kehadiran seorang bayi, tak serta merta membuatnya lupa diri, mengganggu dan merebut suami orang. Ini pantangan baginya. Pusparatri pun tak ingin dijadikan sebagai istri kedua dari kiai Gus Rukh, yang kelak mampu mengabulkan semua angan-angannya. Pada bagian ini, penulis ingin menyampaikan bahwa perempuan malam pada hakikatnya sama dengan perempuan (manusia) lainnya; menginginkan kehidupan yang wajar, jauh dari dosa, dan tak ingin dimusuhi. Mereka tetap menyambung setiap titik kehidupannya tanpa mencoba mengusik kehidupan orang lain meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri. Kutipan berikut menjadi pembelaan serta gugatan atas nasib yang diderita Pusparatri kepada Gus Rukh.

“…Jangan kau jadikan aku istrimu. Meskipun aku menyintaimu. Biarlah aku tetap dalam cahaya kehidupan ini. Menjadi istrimu adalah penderitaan. Menjadi istrimu adalah kegelapan yang lain. Bahkan terlalu gelap untuk aku jalani…Apakah Tuhanmu sedemikian angkuh pada para perempuan sehingga menentukan takdirmu dipenuhi dengan sakit hati para perempuan yang menyintaimu?”

Novel ini jelas menarik untuk dibaca. Gus Ibad meneropong dunia perempuan malam dari kaca mata pesantren, yang memang latar belakang penulis ini. Ia menyandingkan sosok Gus Rukh dan Pusparatri dalam ranah yang tidak biasa. Kisah percintaan dan pergumulaan mistis dua insan ini mengiring pembaca kepada tingkat kepenasaranan yang tinggi. Pertanyaannya kira-kira ada tidak tempat atau tradisi demikian di Pulau Jawa sana? akan membayang-bayangi pembaca selanjutnya. Dalam novel ini, batas imajinasi, mitos, dan legenda terasa semakin tipis. Letupan-letupan emosi tokohnya mampu membawa pembaca agar tak perpaling dari bacaannya. Selamat membaca!


* terinspirasi dari salah satu judul cerpen yang pernah dibaca.

Comments

Popular posts from this blog

Gilby Mohammad

Etika Religius untuk Masyarakat Modern

Judul : Agama dan Bayang-bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari Penulis : Dr. Mustari Mustafa Penerbit : LKiS Yogyakarta Tebal : xii + 206 halaman Cetakan : I, Juni 2011 Harga : Rp 40.000,- Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP Pascareformasi bangsa Indonesia harus menghadapi tantangan yang jauh lebih besar, baik itu permasalahan nasional maupun dari luar negeri. Berbagai kemelut pun melanda Tanah Air ini. Mulai dari krisis ekonomi, politik, nasionalisme serta moralitas yang jauh lebih mengancam ketentraman dan kedamaian kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecenderungan pihak-pihak penguasa untuk mendahulukan kebutuhan pribadi atau kelompoknya, semakin meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat kepada penguasa. Alhasil, berbagai tindakan, aksi bahkan pelanggaran hukum ikut serta mewarnai kehidupan masyarakat yang bermuara kepada instabilitas nasional. Kondisi ini menjadi perhatian utama sekaligus kegamangan bagi Dr. Mustari Mustafa, seorang pendidik ya...

Perfect Vibe: Perjalanan dan Perpindahan

Menginjak setahun bermukim di Jakarta, saya memutuskan untuk pindah tempat tinggal meski masih dalam wilayah yang sama. 2018 pun dimulai dengan menghuni kamar baru, ibu-bapak kos baru, teman-teman kos baru, asisten rumah tangga yang baru, dan kesibukan yang baru juga. Saya sengaja mengambil kamar yang menghadap ke atap-atap rumah penduduk, langsung bertatapan dengan langit, awan, dan matahari. Efeknya, sepanjang hari dan hampir tengah malam pintu kamar dan jendela selalu terbuka lebar menampung semua yang datang dari luar: udara dari empat penjuru, debu dari genteng-genteng, sinar mentari-bulan-bintang, suara nakal dari atap plastik tetangga yang lepas pakunya, serta semilir angin yang menjalar hingga ke lantai di bawah meja. Suasana ini tidak didapatkan setahun belakangan. Pernah terpikirkan tapi tak kunjung diwujudkan karena hari-hari penuh diisi dengan mengabdi kepada visi misi lembaga tempat bekerja. Jadi, pulang dari kerja diisi dengan istirahat, bermain game di bawah sinar la...