Skip to main content

Perjalanan Rindu pada Langit Andalas




120 pekan tak cukup membuatku mengeluh dan balik kanan pada terpaan angin dan padai di jantung kota ini. Masa itu, adalah masa dimana kau tumbuh lebih besar, kata seorang teman sembari mengunyah suir-suir ayam gorengnya. Tak sampai di sana, pada masa ini kau juga harus banyak belajar tentang kehidupan yang benar-benar begini adanya. Tidak seperti kehidupan selama ini kau di Andalas. Kau pasti pahamlah maksudku, katanya, kali ini mulai menyeruput es tehku.

Judul di atas, bukan rindu tepatnya, tapi kegamangan dan ketakutan, yang kadang saya lebih-lebihkan. Kau itu, suka menakut-nakuti diri sendiri, kata temanku ini. Jalani nasibmu di sini, dan kita bersama teman-teman di rumah kedua itu, mencoba merubah, apakah akan lebih baik atau semakin kecele. Kita lihat nanti, katamu lagi. Memang, temanku satu ini melihat hidup sangat simpel dan tak perlu merepotkan diri. Ia persis abangku di Andalas. "Kau jangan bingung di sana. Jangan dipersulit hidup. Jalani kehidupan seperti alur yang telah diberikan. Jangan mikir aneh-aneh," katanya dalam telepon dari seberang. Jujur, saya sangat terhibur dan seolah-olah beban berkwintal di pundak seketika terlepas. Begitu juga teman satu ini.

Bersama dia, kehidupan ini jauh lebih mudah dan aman kawan. Kau tak percaya? Suatu saat nanti jika ada waktu, akan aku perkenalkan kau dengan dia. Dalam benakku, ia memiliki konsep kehidupan yang sangat simpel namun bukan berarti tidak terpetakan. Kebijakan melihat hidup ini sangat saya hormati. Lambat laun saya memang harus banyak belajar. Kali ini bukan ilmu-ilmu praktis, namun ilmu kehidupan yang super duper harus dipraktikkan. Ya, katakanlah tak perlu bersusah payah menonton Golden Waysnya Mario Teguh, atau menyimak Salam Luar Biasanya Pri GS di radio-radio. Tak perlu. Cukup kau rela mendengarkan banyak ulasan dari kawanku satu ini. Atau ini jangan-jangan hanya tulisan tak mutu tentang kegalauan yang akut di diriku. Dan aku memaksamu membaca curhat ini hingga paragraf terakhir. Terserahlah.

Dan pekerjaan ini cukup membuatku menghilangkan segala kepanikan, sifatnya tentu temporary. Tak permanen. Pekerjaan yang memberiku banyak luang belajar dan bergaul dengan banyak orang. Kau banyak bersyukur dengan pekerjaan barumu ini, kata temanku itu. Menjalani adalah proses yang luar biasa yang akan menentukan siapa dirimu. Sekarang kau hanya menjalani dan menjalani. Katanya setiap pagi, siang, sore, dan malam. Kesediaan ia sebagai sahabat sekaligus saudara, sungguh anugerah yang luar biasa. Sekali lagi, jika ada waktu, akan kuperkenalkan kau padanya.

Sejak SMP, SMA, duduk di kuliah, hingga lepas darinya, aku memang harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Memang, siapa saja harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dan itu terbaik. Tapi bagiku, tidak sejelas itu. Maksudku begini, dalam meraih sesuatu, kadang aku mampu menakar, apakah hal itu akan aku peroleh atau tidak. Takarannya ini sudah aku tahu, walaupun aku tak dapat menentukan. Perjuanganku mendapatkan kesibukan, harus sebanding dengan apa-apa yang telah kukorbankan. Semakin banyak aku berkorban, maka semakin dekat pula kesibukan yang kucari menghampiri. Begitu juga sebaliknya.

Pengorbanan ini kawan, tidak tanggung-tanggung. Tidak hanya berkorban materi, tetapi juga berkorban hati dan nurani. Tak perlulah kutuangkan bagaimana pengorbanan ini kulalui. Karena itu hanya akan membuatmu sedih dan bersimpati dalam padaku. Apalagi jika tuangan curhat ini sampai ke telinga Ibu, Abang, dan Uniku di Andalas. Bisa-bisa aku dibentak untuk kembali ke tanah itu selama-lamanya. Tak perlu terjadi. Memalukan itu. Aku tak perlu disimpatikan. Cukup dijadikan teman yang dapat dipercaya dan menyenangkan.

Nah, pengorbanan inilah yang menggerakkan tanganku untuk menuliskan kata rindu kepada Andalas. Bagaimanapun juga, ketika engkau ditimpa derita dan kesusahan, benak dan hati ini langsung menampilkan bayangan dan suasana kota kecilmu, jika aku, maka Andalas. Semakin jelas dan terang, dan semakin nelangsalah aku. Namun, buru-buru aku hapus semua bayangan itu. Sekuat tenaga dan hati pula aku berdiri menuju kamar mandi. Mengguyur kepala dengan air pagi, cukup membuatku meninggalkan sedikit akan bayangan dan kenangan itu. Dan kembali membawa pikiran yang berisi kesadaran akan hari ini dan apa yang semestinya dikerjakan. Begitulah, caraku mengobati hati yang luka. Luka bukan karena cinta, seperti pada yang banyak terjadi. Namun luka karena perantauan, heee.

Andalas, dalam ulasan ini, rasa rindu itu sedikit-sedikit tersalurkan. Walau tak mesti menginjakkan kaki di tanah itu. Memang, kadang musuhku terbesar adalah hatiku yang banyak bercakap-cakap yang kadang sok tahu dan tak realistis. Membosankan memang.

Comments

Popular posts from this blog

Gilby Mohammad

Etika Religius untuk Masyarakat Modern

Judul : Agama dan Bayang-bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari Penulis : Dr. Mustari Mustafa Penerbit : LKiS Yogyakarta Tebal : xii + 206 halaman Cetakan : I, Juni 2011 Harga : Rp 40.000,- Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP Pascareformasi bangsa Indonesia harus menghadapi tantangan yang jauh lebih besar, baik itu permasalahan nasional maupun dari luar negeri. Berbagai kemelut pun melanda Tanah Air ini. Mulai dari krisis ekonomi, politik, nasionalisme serta moralitas yang jauh lebih mengancam ketentraman dan kedamaian kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecenderungan pihak-pihak penguasa untuk mendahulukan kebutuhan pribadi atau kelompoknya, semakin meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat kepada penguasa. Alhasil, berbagai tindakan, aksi bahkan pelanggaran hukum ikut serta mewarnai kehidupan masyarakat yang bermuara kepada instabilitas nasional. Kondisi ini menjadi perhatian utama sekaligus kegamangan bagi Dr. Mustari Mustafa, seorang pendidik ya...

Perfect Vibe: Perjalanan dan Perpindahan

Menginjak setahun bermukim di Jakarta, saya memutuskan untuk pindah tempat tinggal meski masih dalam wilayah yang sama. 2018 pun dimulai dengan menghuni kamar baru, ibu-bapak kos baru, teman-teman kos baru, asisten rumah tangga yang baru, dan kesibukan yang baru juga. Saya sengaja mengambil kamar yang menghadap ke atap-atap rumah penduduk, langsung bertatapan dengan langit, awan, dan matahari. Efeknya, sepanjang hari dan hampir tengah malam pintu kamar dan jendela selalu terbuka lebar menampung semua yang datang dari luar: udara dari empat penjuru, debu dari genteng-genteng, sinar mentari-bulan-bintang, suara nakal dari atap plastik tetangga yang lepas pakunya, serta semilir angin yang menjalar hingga ke lantai di bawah meja. Suasana ini tidak didapatkan setahun belakangan. Pernah terpikirkan tapi tak kunjung diwujudkan karena hari-hari penuh diisi dengan mengabdi kepada visi misi lembaga tempat bekerja. Jadi, pulang dari kerja diisi dengan istirahat, bermain game di bawah sinar la...