Wednesday, 26 December 2012

[muse] cinta yang terlalu pedas


(narasi 1)
maafkan aku, katamu.
aku takut,
aku bingung,
aku canggung menatap mata orang-orang,
tapi, ternyata aku jauh lebih takut kehilanganmu, tutupmu.


dengan canggung kupeluk pinggangmu dari belakang. kubisikkan, bahwa keberanianmu mencintaiku sudah anugerah bagiku. kau terisak. aku terisak. kita, dua remaja perempuan yang terlalu pedas mendefinisikan cinta.

apa boleh buat, cinta sepasang kekasih dijatuhkan kepada kita. cinta dianugerahkan kepada siapa saja. namun, ketika cinta itu menimpa kita berdua, kenapa orang-orang dengan lantang mencibir kita? barangkali kamu tahu itu. dan aku, aku tak peduli. cinta yang kuat ini, jika akan mematahkan kaki dan tanganku, maka kuterima. selama penasaranku padamu terkuak, cinta yang pedas ini akan kupelihara.

ini adegan detik-detik terakhir film remaja lesbian yes or no. film ini khas dari negara thailand yang memang liberal akan soalan homoseksual. film ini dramatis, ironis, lucu, dan sangat menghibur. saya, sudah tak terhitung kali menontonnya. daya tarik utama, selain bercerita tentang remaja lesbian, juga para lakon yang sangat charming dan manis. aksi-aksi mereka lucu dan seolah-olah alami. misal, scene kim dan pie berciuman mesra setelah bertengkar habis di bawah guyuran hujan malam. apa ya? mmm, adegan ini berhasil mengaduk emosi penonton. bukan romantisnya, tapi terpublikasinya hubungan lesbian remaja ini.

konon, film ini adalah film pertama yang bercerita tentang lesbian remaja di thailand. fans film ini cukup semarak di indonesia. terutama dari remaja putri. dan tentu saja oleh mereka yang menjalin hubungan cinta yang pedas, serupa hubungan kim dan pie. saya, juga terbawa sebagai fans film ini. tadinya sebagai sarana menganalisis fenomena lesbian remaja, eh lama-kelamaan kok ketagihan mengetahui kabar terbaru tentang yes or no, atau tentang kim dan pie. pelan tapi pasti menjadi fanatik.

sebagai fans, dan sebagai eks tomboy, saya seolah-olah disadarkan oleh film ini. saya disadarkan bahwa saya ialah saya yang saya mau yang lahir dari dalam diri. bukan oleh karena teman dan lingkungan. hingga hari ini, saya merasa nyaman dengan ketomboyan saya. meski itu dibungkus dengan sifat feminin yang kadang dominan. sementara hubungan lesbian remaja, saya belum menemukan radar itu di diri saya.

film ini secara tersirat tidak hanya berkisah cinta yang pedas, lesbian remaja. tapi dalam ranah heterokseksual pun juga berarti. ya seperti kisah klasik itu. leela dan majnun. romeo dan juliet. atau si kaya dan si miskin.

(narasi 2)
hingga hari ini kamu tak pernah menatap mataku dengan jujur, kataku padamu.
kamu, selalu takut kepada orang-orang akan hubungan cinta kita yang timpang,
kamu, mementingkan cinta kita sebagai kesekian setelah ibumu, saudaramu, dan karibmu,
tapi aku, aku selalu menerima,
karena aku, aku terjebak,
terjebak dengan cinta yang pedas ini,
kubiarkan kau menyebutku apa saja,
asal kau senang, aku senang,
asal kau riang, aku riang,

kau benturkan kepalamu pada dadaku,
terisak payah kau minta maaf,
pasti aku maafkan,
tapi, dalam telepon kau masih menyebutku sebagai teman,



iron shell, 25/12/12

[catatan] kepada emak nun jauh di pulau

penghormatan di 22 desember

tahun ini kembali orang-orang merayakan hari kemuliaanmu. hari engkau dijadikan pahlawan. ya, sehari saja. karena esok hari orang-orang akan sibuk seperti sediakala. meski begitu, setidaknya masih ada yang menghormati kemudian merayakan kemuliaanmu.

emakku nun jauh di pulau tak pernah berpikir banyak tentang hari ini. bagi beliau, hari-hari tak jauh berbeda. hari penting ialah, hari dimana anak-anaknya punya momen istimewa, hari berkabung suaminya, hari ia dan saudarinya dapat berkumpul bersama. itulah hari istimewa. selebihnya ialah hari ia menciptakan kebahagiaan bagi dirinya, bekerja. bahkan hari ulang tahunnya, mungkin ia tak pernah merenungkan.

hidup dengan suasana yang tak mementingkan hari, saya pikir itu menantang. kampung kecilku tak pernah merayakan hari-hari yang dijadwalkan kalender sebagai hari penting. bahkan hari kemerdekaan, hanya mereka isi dengan selembar bendera di depan rumah. itu pun setelah malam sebelumnya diumumkan oleh pihak lurah. bagi mereka, hari ialah bekerja. bekerja di ladang, di sawah, di los-los pasar, di rumah, di pabrik. selagi dengan bekerja, anak-anak masih tak mampu sekolah layak, buat apa memperingati banyak hari?

sama dengan 22 desember ini. pada hari itu saya sengaja tidak membuka jejaring sosial, kabar berita, dan apalagi demo hak perempuan. esoknya, saya menemukan banyak puisi, narasi kecil, dan berita tentang ibu dan perempuan. banyak yang mendadak aktivis. dan tak sedikit pula yang mencemooh laku momentum itu. ya, begitulah. kita berpacu dengan waktu untuk meneguhkan eksistensi yang entah buat apa. tak sampai 24 jam, semua berubah jadi fatamorgana. karena nasib ibu tidak beringsut dari dalamnya jurang.

pada hari itu, emakku yang jauh di pulau berbincang-bincang tentang ayek. tak sedikitpun terbersit di kepala beliau akan hari 22 desember ini. pun, aku juga tak mengucapkan selamat kepada emak. tahun-tahun lalu, aku mencoba humanis dengan menyampaikan selamat hari ibu kepada emak. "sama saja lah nak, tak ada rancaknya hari itu," jawab beliau. aku meringis. kapok.

di sini kan bisa dilihat, siapa sesungguhnya yang membutuhkan 22 desember itu. pegawai kantorankah yang punya waktu berleha-leha hari itu? atau deretan lembaga yang punya alasan meningkatkan budget untuk memperingati 22 desember? humanisme memang berlaku sangat parsial dan berbeda cara.

kita yang mengejar momen adalah generasi saintis yang hitung-hitungan. semua berdasarkan statistik, aritmatika, dan benar-salah. ya begini. ramai-ramai menyemarakkan 22 desember (ucapan syukur, puji tuhan, doa panjang, dan macam-macam) ramai-ramai pula melupakan. karena momen tak pernah abadi. inilah generasi abal-abal. generasi opium. generasi candu. candu akan tawa, candu akan pesona, candu akan materi, dan candu akan gengsi. hidup silang sengkarut. tak tahu lagi apa sebenarnya yang dibutuhkan. atau kebutuhan itu ialah hasrat ingin dibutuhkan?

di ujung telepon emakku berucap, "akan banyak desember, dan akan seperti ini saja para ibu."

iron shell, 25/12/12

Monday, 10 December 2012

[Review] Film Arisan 2: Friendship, Homosexuality, and Bourgeois(m)



DI zaman gadget ini film arisan 2 muncul dengan tiga tema besar sebagai modal awal menarik penonton. ada persahabatan, homoseksual, dan gaya hidup kelas atas yang sohisticated dan pesta-pesta. film ini dimainkan oleh aktor-aktris yang cukup 'papan atas' seperti surya saputra, cut mini, sarah sechan, pong harjatmo, dan kawan-kawan.

arisan 2 seperti arisan pertama memiliki semangat film yang tidak biasa. film ini selain membawa tema persahabatan juga blak-blakan mengungkap apa yang terjadi di dunia nyata; keberadaan LGBT dan single parent. beberapa tokoh secara kasat mata ditampilkan sebagai pasangan homoseks dan tak kasat mata beberapa tokoh ditampilkan berkecenderungan lesbian. keberadaan banci juga tak dapat ditampik dalam film ini. banci selain sebagai kenyataan juga sebagai subjek yang tidak selamanya tidak 'berdaya'.

melalui gaya hidup kelas atas, dalam hal ini diwakili oleh kaum urban sosialita, homoseks dan banci mendapat tempat yang tidak terancam. tidak seperti di kehidupan nyata yang serba sembunyi-sembunyi dan dirazia. homoseks di tengah pergaulan kelas atas, yang identik dengan 'kemajuan', keberadaan mereka diapresiasi, dihormati, dan diberi ruang untuk berartikulasi, meski penentang di sekitar mereka tak pernah mati.

menarik dikaji sebagai 'dekonstruksi' paradigma common sense bahwa kaum homoseks juga punya 'naluri' cinta pada sahabat. dalam arisan 2 naluri cinta ini disebarkan oleh tokoh-tokoh yang digambarkan sebagai kaum minoritas, seperti homoseks, single parent, dan janda. tampaknya, melalui persahabatan, universalitas cinta 'bisa' ditebarkan oleh siapa saja. menurut saya ini kerangka besar dari arisan 2 yang ingin dibangun di benak penonton.

mungkin sebagai permulaan, arisan 2 memilih penyebaran cinta melalui kehidupan kelas atas, tidak kelas menengah bawah. ini bisa menjadi miris sekaligus pionir bahwa keberadaan LGBT dan single parent bukanlah aib dan penyakit. miris, karena hanya berfokus kepada kaum yang secara material dan pengetahuan mapan. kemapanan ini menjadi bargaining untuk mereka berbuat apa yang dimau sekaligus menolak apa yang tak diinginkan.

misal, jika indonesia menolak hubungan sesama jenis, kaum homoseks kelas atas bisa berbebas ria ke luar negeri guna mengekspresikan mau mereka. jika ini terjadi pada homoseks kelas menengah dan pas-pasan, ini melahirkan masalah baru. keterbatasan material dan pengetahuan menjadikan mereka hidup dalam kotak pandora; dikerangkeng berlapis-lapis kotak. dan deklarasi diri sebagai bagian dari kaum homo saja akan menjadi masalah besar. pertanyaan, apakah untuk menjadi homoseks yang 'aman' di indonesia harus berdeposito ratusan juta dulu?

tidak berdeterministik dengan masalah finansial, tapi keberadaan materi dan pendidikan (tinggi) bagi 'kebebasan' kaum homoseks menjadi penting. ini realita yang coba dihadirkan oleh arisan 2. tak jauh berbeda dengan status minoritas lainnya yaitu single parent dan janda. dua status yang dilekatkan kepada perempuan ini akan sedikit 'tidak berbahaya' jika mereka memiliki tabungan dan pengetahuan cukup sebagai relasi mereka dengan dunia sekitar.

tokoh lita dan andine sebagai single parent dan janda tidak ditampilkan sebagai ibu yang 'super care' dengan anak-anak mereka. andine adalah perempuan yang sibuk pesta dan 'revolusi diri' demi mempertahankan kemudaan. sementara lita ialah perempuan batak yang termakan akan stereotype sukunya. bahwa sebagai pengacara 'otomatis' ia harus ikut serta memperbaiki bangsa ini pada kedudukan lebih tinggi dalam pemerintahan yakni anggota dewan atau wakil rakyat. untuk kasus ini, lita digambarkan sebagai perempuan yang gila karir dan tak memiliki insting keibuan.

cermati tokoh perempuan-perempuan dalam arisan 2. mereka digambarkan sebagai tokoh yang 'tidak utuh'. single parent, janda, tak bergairah pada suami, gampang ditipu, hura-hura, cenderung lesbian, penyakitan (kanker), gampang tergoda laki-laki, dan banyak berharap kurang bersyukur. arisan 2 tak dapat ditampik selain membawa semangat keberadaan LGBT, di sisi lain juga meneguhkan posisi 'bahwa perempuan itu lemah'. ini paradoks. niat hati ingin memberi kebebasan, padahal secara bersamaan sedang menekan yang lain.


3fold room, 9/12/12

6 Desember: Money Politic of My Mom and My Birthday



"amak, adek ulang tahun," muka senang dan suara riang.
"oya? keberapa?" amak tanpa merasa berdosa bertanya begitu.
"23," muka ditekuk.
"hahaha, wah sudah besar anak amak,"
"amak kasih adek kado apa?" ceria.
"nanti kalau pulang, amak kasih uang!" lagi, tanpa merasa bersalah.
"amak uang terus. yang lain apa?" sok protes.
"amak harus kasih apa selain itu? adek beli sendiri aja nanti kadonya." ketawa.
percakapan roaming kemana-mana dan diputus setengah jam kemudian.
biasanya dengan kesimpulan; "adek rajin belajar. banyak makan sayur. jangan lupa sembahyang. baik-baik dengan orang. baik kepada teman maupun kepada pacar. adek ada uang? amak doakan lancar dan berprestasi sekolahnya. jangan lupa doakan abak ya."
semua saya jawab dengan iya dan amin.

percakapan serupa ini sudah terjadi mungkin ratusan atau ribuan kali. sejak saya masih di padang dan sejak teknologi hape akrab dengan amak, yang dulu juga dengan abak. kesimpulannya selalu sama, atau hanya beda seangin. ya, model kalimat di atas itu.

percakapan pendek ini menarik saya berpikir ulang dengan kerangka berpikir saya yang mulai mengambang. ada dua hal yang ingin saya ulas; politik uang amak dan ulang tahun saya.

politik uang amak

"nanti, kalau rapornya ada angka 8, abak beli seharga rp 1.000. kalau angka 9, abak bayar rp 1.500. dan tak mungkin kamu dapat angka 10 kan? hahaha."

saya pikir ini embrio kenapa politik uang bermain dalam pikiran amak dan abak, kemudian merembes ke seluruh anggota keluarga. menurut orang tua saya, cara membahagiakan anak ya dengan memberi mereka uang. dengan uang mereka bisa membeli pensil bagus. gonta-ganti sepatu sekolah setiap hari. seragam cemerlang. uang jajan tak masalah. pokoknya tinggal sebut, maka akan dapat, termasuk rendang rusa. dengan begitu, mereka pasti tak rewel. tak meminta-minta. tak lapar ketika melihat makanan. tak mencuri milik orang. dan tak membuat malu orang tua. maka politik uang dilestarikan hingga 2012 ini.

model berpikir amak, menurut saya adalah pola berpikir orang tua yang sudah common sense. tak ada yang baru dalam pola pikir begini. hampir di banyak daerah orang tua memperlakukan anak-anak mereka dengan politik uang. apa sih yang dibutuhkan anak-anak kalau bukan mainan bagus, makan enak, dan uang?

deskripsinya begini: subuh-subuh amak berbisik di telinga yang mataku terlelap, 'amak berangkat ya. hati-hati sekolah nanti. muah!' kemudian mereka pergi entah kemana. pagi hari, aku mandi, pakai seragam, ambil uang sekenanya di laci meja atau di kamar amak, menghayal di atas angkutan sekolah. sampai sekolah sarapan, cekikikan di kursi paling belakang, membual di kantin, masuk keluar rimba di belakang sekolah, berenang seperti kerbau di sungai, pulang, makan kalau amak sedang rajin memasak, tidur, mengaji, menonton, tidur lagi sampai pagi. begitu siklusnya bertahun-tahun.

sesekali abak dipaksa agar membelikan keyboard dan gitar kecil guna belajar musik, punya bola basket agar kelihatan keren di sekolah, pakai sepatu terlarang, pakai dasi laki-laki, pakai rok dan kemeja terlarang, menempel gambar dan lukisan blusukan di setiap celah kamar, menggantung segala yang pantas digantung. ini paradoks. apa yang terjadi? di sekolah larangan sudah menjadi makanan, di rumah amak abak tak pernah melarang tuh! agaknya, ternyata semangat sekolah tak sama dengan semangat orang tua saya; sekolah menolak politik uang!

bisa jadi amak abak tak peduli dengan ketidaksepakatan sekolah guna menolak politik uang terhadap muridnya. bagi orang tua saya, jika mereka mendidik anak mereka dengan cara yang 'salah' itulah tanggung jawab sekolah untuk 'membenarkan'. tapi, jika mereka 'tidak salah' dalam mendidik anak mereka di rumah, maka sekolah juga bertanggung jawab guna 'semakin membenarkan' anak mereka agar cerdas dan kritis berpikir. itu tujuan orang tua saya rela membayar apa saja yang sekolah iurankan. perkara anak mereka kelak rakus dengan uang atau tidak, orang tua saya sudah mendidik jauh-jauh hari. tinggal mengemas bagaimana uang tidak berubah menjadi tuhan.

politik uang tercipta karena itu praktis. kedua karena keterbatasan waktu. di tengah keluarga yang sangat marxis -baru sadar ternyata abak dan amak saya sangat marxis- mode of production keluarga bagaimanapun caranya harus selalu berjalan dan berputar. memiliki empat anak di zaman orde baru, sebagai keluarga diaspora bukanlah hal gampang. orang tua saya sebagai minoritas mau tidak mau harus membangun image bagus dan sukses baik mereka sebagai minoritas, maupun sebagai mayoritas di tempat lain. keterbatasan akses pendidikan (amak saya SMP dan abak saya tamat SPG dua kali) serta ideologi sebagai etnis keturunan pejuang berpengaruh besar kepada orang tua saya -khusus abak- yang sangat idealis menolak berafiliasi dengan pemerintah.

bagi orang tua saya, governance is bulshit! -sangat deterministik. simpulan ini diambil dari nostalgia dan history imaginary akan perang PRRI dan atau PDRI. mereka menyebut dengan perang peri-peri. ialah perang dimana mereka harus terkubur di dalam hutan dan gua berminggu lamanya. penyebabnya agresi belanda II dan, konon, 'pemberontakan' famili dan keluarga jauh orang tua saya di provinsi seberang. nenek tetangga saban hari mengoceh dengan amarah akan kekejian perang ini. tapi, si nenek hanya sebagai korban, belum menyingkap akan adanya 'khianatan'. sayang, si nenek keburu meninggal.

kesanksian orang tua saya terhadap negara ini mengakibatkan mereka enggan atau tidak ingin berlama-lama berurusan dengan negara -birokrasi dan administrasi. mereka lebih memilih mandiri -wiraswasta. ini satu-satunya jalan agar makan dan tidur mereka enak tanpa diusik oleh negara. dan ini satu-satunya jalan -jika akses pendidikan bagi mereka masih minim- setidaknya untuk anak mereka terpenuhi. singkat kata, dengan ketersediaan uang orang tua saya menggantungkan cita-cita kepada anak mereka. cita-cita yang bukan menimbun uang, tapi cita-cita akan kecerdasan buat pemberdayaan diri sendiri dan pemberdayaan orang banyak.

ulang tahun saya

6 desember lalu genap saya 23 tahun. usia yang bagi amak saya masih muda dan bungsu. lihat saja dari percakapan pembuka di atas. respon amak masih sangat biasa dan tak ada spesifikasi berlebihan yang beliau gantungkan. pesan beliau sama dan itu-itu saja. bisa jadi ini pesan wajar dan tak ada yang baru. tapi, juga bisa dibaca terbalik, bahwa saya dalam pikiran amak saya selalu dalam keadaan berulang tahun dan diupayakan harus selalu berada pada kondisi spesial, hehe.

sejak beberapa tahun lalu saya selalu menuliskan momen-momen yang saya anggap penting dalam hidup, termasuk ulang tahun ini. tahun lalu saya menulis panjang yang isinya doa dan harapan seabreg dan seberat gandum. semua tentang hidup dan harapan saya di hari esok. spesial, meriah, sukses, panjang umur, sehat, kaya raya, dan seterusnya. dengan berulang tahun saya merasa hidup saya akan sempurna. tapi, ternyata belum.

ada kecenderungan saya enggan membaca ulang kata muluk-muluk dalam perayaan ulang tahun itu. ada beban rasanya karena tak terpenuhi. ia saya tuliskan dan saya tinggalkan begitu saja di dalam blog. terserah mau apa dan bagaimana selanjutnya. yang jelas saya telah melaksanakan ritual menulis ulang tahun. payah!

23 ini, saya bisa jadi tak begitu. masa ini adalah masa tersulit dalam agenda saya mencerdaskan dan mengkritisi hidup. ini masa dimana kerangka berpikir saya yang sejak puluhan tahun dibolak-balik oleh sistem baru; ilmu pengetahuan kontemporer. cukup menyesakkan dan membuat galau. salah-salah saya bisa jadi gila.

di hari ini, saya tak mintak apa-apa kepada raja curhat sedunia: tuhan. saya justru belajar berterima, mengapresiasi segala kenikmatan ini. kenikmatan dari orang-orang terkasih dan tercinta. amak, uni-uni, uda-uda, teman-teman, saudara, udara, ilmu, makanan, minuman, pohon, jambu, dan masih banyak lagi. apresiasi terhadap segala salah dan kekeliruan. moga-moga tak lagi sok-sokan, tak lagi egois, berkurang amarah, dan buat hidup ini sederhana tapi bermakna.

saya baca buku, nonton film, berteman dengan hal-hal yang tidak biasa. tonton film yang genrenya berbeda. baca buku yang juga jauh berbeda. tak lagi membaca buku-buku motivasi, buku-buku petualang, buku-buku rohani, tapi buku-buku sejarah pejuang, buku-buku suara orang-orang kecil dan terpinggirkan. terpinggirkan secara usia, etnis, agama, budaya, gender, dan kelas sosial.

inilah yang ingin saya abadikan pada momen ini. politik uang amak saya tidak masalah buat saya. itu adalah model perlawanan terhadap ketidakmampuan beliau memberikan hal lebih kepada anaknya. ya, beliau tidak bisa memberi banyak ilmu serupa orang tua berpendidikan tinggi lainnya. beliau juga tidak bisa mengarahkan masa depan karir seperti apa yang pantas dan cocok bagi anaknya. beliau hanya memfasilitasi dengan uang, karir dan masa depan seperti apa yang diharapkan oleh anaknya. itu saja, bagi saya, sangat cukup sekali.

selamat makan siang

#edisi huruf kecil

3fold room, 9/12/12

Monday, 26 November 2012

Ngayogjazz = Pertunjukan Seni di Societet?



PAGELARAN Ngayogjazz 2012 di desa wisata Brayut tempo hari lumayan membuat saya terkagum-kagum. Selain konsep yang ditawarkan panitia penyelenggara yang tak biasa dan terkesan kontradiktif, antusias penonton juga menjadi poin penting yang tak bisa saya kesampingkan. Penonton iven akbar setiap tahun di Yogyakarta ini memang didominasi oleh anak muda.

Hari itu sejak siang hingga malam hujan tak kunjung berhenti mengguyur kota Yogyakarta. Sementara penyelenggara acara tak mungkin membatalkan pagelaran musik yang kata banyak orang adalah musik bernapaskan perlawanan. Ngayogjazz harus tetap diselenggarakan. Karena anak muda yang banyak itu tak mungkin dihalau kembali pulang.
Pemandangan yang menarik bagi saya adalah langkah-langkah anak muda yang dibalut mantel hujan, berpayung jaket, atau merelakan diri basah kuyup di malam dingin itu. Saya pikir ini pengorbanan yang tak mudah. Ketika diri direlakan terancam pilek esok hari namun logika mengundurkan diri tak terbersit disana, agaknya semangat menonton ini yang berhasil panitia penyelenggara tanamkan dengan cukup baik. Maka, penonton Ngayogjazz malam itu adalah anak muda yang riang gembira nyeker di tengah kampung dan di depan idola mereka.

Anak Muda di Depan Panggung

Di depan panggung keprak, panggung luku, panggung caping, panggung pacul, panggung lesung, dan panggung ani-ani yang terlihat hanyalah deretan anak muda berdiri dengan baik, sesekali menggeleng-geleng atau mengangguk-anggukkan kepala, menggoyang-goyangkan kaki, melambaikan tangan, serta sorak tepuk tangan di tengah hujan malam. Meski telapak tangan dan jari mengeriput karena basah dan kedinginan selama tiga hingga lima jam, jari-jari itu tetap saja tak berhenti melentik-lentik sebagai ekspresi kegirangan. Begitulah reaksi penonton di bawah guyuran hujan akhir tahun 2012 itu.

Jari-jari yang melentik kegirangan itu adalah jari-jari anak muda atau jari-jari yang bersemangat muda. Jari-jari yang kata teman saya adalah jari-jari anak muda dari kelas menengah dan selera musik berbeda. Jari-jari yang datang ke desa brayut itu dengan honda jazz atau skooter matic, meski kendaraan bukan penentu segalanya. Dan jari-jari yang tengah melawan terhadap arus musik dominan baik di kota ataupun negeri ini.

Anak muda memang tak bisa dilepaskan dengan musik dan tetek bengeknya. Pun begitu dengan musik yang mustahil lepas dari anak muda. Hanya saja dalam kotak Ngayogjazz anak muda ini bukanlah anak muda seperti terlihat pada konser-konser musik kebanyakan. Ada beberapa hal yang dapat dilihat dari kriteria anak muda yang datang ke pagelaran Ngayogjazz ini. Selain kendaraan dan penampilan dari anak muda, cara anak muda menonton Ngayogjazz juga berbeda.

Anak muda penonton Ngayogjazz biasanya lebih nyaman berdiri dan beraksi kecil-kecilan di bumi yang mereka pijak, yakni di atas tanah dua telapak kaki itu saja. Tak menyerempet kemana-mana dan tak ugal-ugalan. Anak muda ini juga tidak berteriak-teriak. Sesekali mereka tertawa dan bersorak kecil sebagai ungkapan kegembiraan. Suasana menonton aksi panggung idola ini saya pikir juga menarik. Mereka lebih ‘rapi’ dan ‘tertib’ dalam menonton –saya tidak menyebut ‘rapi’ dan ‘tertib’ itu dalam konsep menyandingkan baik dan buruk. Tapi suasana ini saya cermati sebagai keinginan yang hanya untuk ‘menonton’ –bisa jadi juga belajar bagaimana beraksi di atas panggung bagi mereka musisi muda.

Panggung Ngayogjazz saya umpamakan seperti panggung dimana kesenian tinggi ditampilkan. Pada kesenian tinggi, misal penampilan taeter di panggung-panggung gedung kesenian Societet (nama gedung kesenian di Taman Budaya Yogyakarta), penonton ‘diajarkan’ untuk tidak sembarang melakukan aksi ketika pertunjukan berlangsung. Ada aturan main yang dimainkan oleh aktor di atas panggung ataupun penonton sendiri. Aturan ini sebenarnya sudah dipahami bersama-sama. Tidak lagi disampaikan dalam setiap pertunjukkan.

Saya pikir ada kesamaan dalam pagelaran Ngayogjazz baru-baru ini. Penonton Ngayogjazz memang tidak reaksional ketimbang penonton konser musik pop, rock, atau dangdut. Mereka lebih adem dan tenang. Bukan berarti mereka pasif. Sama halnya dengan penonton konser musik lainnya, aktif. Aturan main yang saya umpamakan dengan pertunjukan kesenian di atas panggung tadi saya gunakan sebagai melihat ada kemiripan dengan pagelaran Ngayogjazz.

Perbedaannya terletak pada ruang. Ngayogjazz di tempat terbuka dan penonton bebas menonton dari sudut mana saja. Bebas berpindah-pindah. Sementara kesenian di gedung-gedung kesenian penonton diharuskan menonton pada sudut pandang tertentu. Misal hanya dari depan, dari awal hingga akhir pertunjukan, penonton berada pada posisi tetap.
Apa arti di balik kecenderungan penonton dan cara mereka menonton?

Menurut saya, meski musik jazz diramu sedemikian rupa di tangan seniman Yogyakarta, keberadaan dan perkembangan musik ini masih berada pada kelas menengah dan atas. Mulai dari siapa yang menonton, cara mereka menonton, ekspresi penonton – meski tontonan ini gratis semacam tontonan rakyat. Tontonan rakyat, tapi rakyat yang mana dulu? Ialah rakyat dari kelas sosial, selera musik yang kata orang tidak dominan –meski jazz mulai mendominan di tengah masyarakat (kelas menengah dan atas baru).
Pun faktor seniman atau budayawan juga tak dapat ditampik dalam hal ini. Si penonton jika bukan dari anak muda kuliahan, eksekutif muda dengan selera musik jazz, pastilah juga mereka yang asyik masyuk berkecimpung dalam dunia kesenian; musik, tari, lukis, sastra, dll. Dunia seniman dan budayawan yang akrab dengan dunia literer atau literacy ini tak dapat dipungkiri masih kurang dipahami oleh masyarakat dominan.

Faktor tempat Ngayogjazz digelar hemat saya hanya berdampak secara ekonomi dan pariwisata kepada penduduk di sana. Di desa wisata Brayut ketika Ngayogjazz digelar, kampung ini memang mendapat pemasukan cukup besar. Ini bisa terlihat dari aktivitas masyarakat desa berjualan sampai tengah malam, losmen-losmen atau penginapan penuh terisi, tukang parkir kebanjiran pendapatan, dan sebagai ajang promosi kampung kepada pengunjung yang menonton. Sementara pada sisi budaya atau kesenian, Ngayogjazz tidak berpengaruh. Karena Ngayogjazz tidak menampilkan ‘pure’ kesenian daerah Brayut meski ada beberapa alat musik tradisi dipakai dalam pertunjukan. Menurut saya, bisa jadi semangat Ngayogjazz –hanya- untuk membantu perkembangan kampung dalam hal pariwisata dan promosi kearifan lokal. Sementara perkara apakah masyarakat setempat menikmati musik jazz atau tidak, bukanlah soal utama.

Politik UKM di Sekolah Pascasarjana



UNIT Kegiatan Mahasiswa pada tataran Pascasarjana agak berbeda semangat dan rohnya dengan program sarjana. Pasalnya selain faktor usia, faktor kepentingan pribadi -atas nama kepentingan UKM- kerap muncul tanpa disengaja atau bahkan disengaja. Bisa dalam bentuk barter produk usaha, promosi usaha, atau menerapkan aturan main sendiri -yang notabene untuk kepentingan sendiri atau kelompok.

Menurut saya agak riskan dan mendulang air di muka, salah dulang kena muka sendiri. Sama halnya dengan politik kepentingan pribadi dalam UKM. Salah langkah, muka sendiri akan dibabat habis karena ulah sendiri yang kepalang 'rakus' dan mau menang sendiri.

Berorganisasi kampus pada jenjang magister saya pikir sah-sah saja dan cenderung dengan kajian lebih dalam. Kalau hanya sebagai iven organizer, saya pikir sayang ilmu yang telah dipelajari pada tingkat magister namun berpikir picik dan hanya berputar-putar soalan uang dan perut. Tak ada yang menarik dan berarti jika relasi antaranggota sudah digantikan dengan kepentingan angka-angka dalam rupiah.

Tulisan ini lahir karena senyatanya begitu terjadi di dunia realitas -sekolah pascasarjana. Memang dimanapun kita berada akan ada oknum-oknum yang tak lagi atau tak tahu -tak mau tahu- cara 'menghormati dan menghargai' kerja kelompok dan perbedaan dalam kelompok. Pernyataan 'kita sudah kepepet' atau 'waktu tak banyak lagi' kerap menjadi kartu truf yang mematikan ide-ide lain dari rekan kerja. Pernyataan ini mampu mengalahkan 'kemukjizatan' kerja kelompok dan partisipasi subjek-subjek yang dianggap 'pinggiran'.

Relasi kuasa -lebih senior, lebih menguasai medan, dan merasa lebih pintar- juga tak dapat dielakkan sebagai pemicu chaos di dalam kerja kelompok. Implikasinya rekan-rekan di bawah yang hanya menunggu utusan -karena memang begitu digariskan di dalam rapat- adalah korban-korban dari kuasa-kuasa si penimbul chaos tadi. Sebagai bawahan, suara dan pendapat -meski masih didengar- tapi tak dianggap. Sehingga hasil kerja bawahan hanyalah kerja ecek-ecek yang tak dipandang dan kalau dinilai tak lebih basa-basi. Begitulah.

Fenomena ini menarik diungkap karena antara si bawahan dan atasan yang berbeda hanyalah usia. Sementara pendidikan berada pada jenjang yang sama, pun pengalaman bekerja sama secara tim tak jauh beda. Hemat saya, semangat kerja tim terletak pada etika bekerja sama (menghormati perbedaan, memberi peluang kepada rekan kerja mengaktualisasikan diri, serta musyawarah mufakat) bukan kepada siapa kuat dia menang, bukan kepada dia merasa pintar kemudian semena-mena, dll.

Jika siapa kuat dia menang diterapkan dalam kerja tim pada tataran magister, akan menjadi sangat lucu dan norak. Bagaimana tidak, rekan kerja bukanlah orang-orang bodoh dan terima begitu saja setiap putusan yang dihasilkan. Rekan kerja adalah subjek-subjek mandiri, tak pasif, dan sangat kualitatif dalam berbagai hal. Rekan kerja bukan angka meski posisi mereka adalah anggota atau sebagai 'pembantu' dalam kerja tim. Agaknya memposisikan rekan kerja sebagai subjek yang tak berbeda jauh dengan diri sendiri lebih penting dan lebih arif.

Tulisan ini hanya buat lucu-lucuan ketika berada dan mencoba mencari banyak teman di pascasarjana. Tujuannya tidak lain sebagai kritik diri. Meski begitu, tulisan ini menjadi semacam pengingat bahwa pada tataran magister berorganisasi tidaklah sama dengan tataran program sarjana tahun-tahun lalu. Bukan buruk, hanya saja agak norak dan butuh belajar banyak perkara politik -bagaimana berpolitik secara lebih halus.

Tuesday, 6 November 2012

Budaya Minoritas di Era 2.1



ADA kecenderungan ‘baru’ dalam arus globalisasi terhadap budaya termasuk di dalamnya identitas suku bangsa, bahwa budaya minoritas semakin mendapat tempat di kalangan individu –yang mayoritas- baik sebagai suatu kekayaan budaya ataupun sebagai objek eksotik atau kajian. Budaya minoritas semakin hari semakin mewarnai informasi-informasi di media massa. Ini sebuah kemajuan? Atau cara tersendiri bagaimana media menampilkan budaya minoritas dengan segala keunikan, kebesaran, atau bahkan ‘keterbelakangan’ budaya itu yang berujung pada eksplorasi budaya menjadi sebatas komoditas media belaka –tanpa pemberdayaan. Entahlah!

Menarik ketika VOA Indonesia memberitakan bagaimana suku Aborigin di Australia ditampilkan meskipun itu hanya sebatas drama televisi. Tak sampai di sana, sudut pandang yang dipakai pun saya pikir bias dengan berbagai hal. Misal, ditampilkan bahwa kehidupan suku ini penuh dengan kekerasan, kemiskinan, dan alkohol –tentu saja pada pandangan sepihak si pembuat film. Berita ini ditampilkan seolah-olah tidak ada tendensi apa-apa terhadap suku Aborigin –yang tentu saja tidak semodern kaum modern kebanyakan. Penggambaran cerita dan karakter saya pikir belum mewakili sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi dan menjadi budaya ‘luhung’ dari suku tersebut.
Berikut saya kutipkan berita Budaya Aborigin Muncul dalam Drama Televisi (Senin, 5 November 2012) :

SYDNEY — Drama mengenai suku Aborigin di Australia ditayangkan untuk pertama kalinya dalam televisi nasional di negara tersebut. Drama berjudul Redfern Now itu mengeksplorasi realitas narkotika dan obat-obatan terlarang serta kemiskinan di sebuah distrik di kota Sydney, dan merupakan bagian dari kebangkitan budaya Aborigin di Australia.

Redfern Now adalah drama televisi Australia pertama yang diproduksi oleh penulis dan sutradara dari suku asli, yang bekerja sama dengan penulis naskah pemenang penghargaan dari Inggris, Jimmy McGovern.

Serial enam bagian tersebut menampilkan aktor yang sebagian besar orang Aborigin. Perlu dua tahun untuk membuat film tersebut dan sebagian dana diperoleh dari pemerintah Australia.

Kritikus televisi David Knox mengatakan serial itu merupakan penggambaran realistis dari kehidupan di Redfern, sebuah daerah perumahan di dalam kota Sydney.

“Salah satu yang paling mengesankan saya mengenai serial ini adalah bahwa dalam di tengah kesulitan – kemiskinan, alkoholisme atau kekerasan, ada cinta tanpa pamrih yang mengedepan,” ujarnya.

Redfern memiliki sejarah yang kelam. Ada berbagai kerusuhan pada 2004, dan meski kemiskinan dan ketimpangan terus bertahan, para tetua adat mengatakan serial televisi tersebut akan menjadi sumber kebanggaan masyarakat suku asli.

Serial tersebut ditayangkan oleh stasiun ABC.

Produser Rachel Perkins mengatakan bahwa Redfern Now mengikuti kesuksesan artistik suku Aborigin baru-baru ini dalam film, tari dan teater.

“Ada banyak investasi untuk sampai di sini. Dan momen ini harus ditandai dan dirayakan karena ditayangkannya serial ini pada slot utama di ABC menunjukkan konten yang bagus, berkualitas dan berbobot, dan termasuk konten dan pembuatan film yang paling baik yang ada di Australia saat ini,” ujar Perkins.

Redfern Now sebagian diproduksi oleh tim Aborigin yang menghasilkan film Australia yang banyak dipuji, The Sapphires. Dirilis awal tahun ini, film tersebut dan mengisahkan empat perempuan muda Aborigin yang ditemukan oleh kompetisi pencari bakat bernyanyi di pedalaman Australia dan kemudian menghibur pasukan AS di Vietnam.

Didasarkan pada kisah nyata, para penyanyi tersebut diambil dari pedalaman dan dinamakan The Sapphires, serta dianggap sebagai padanan lokal kelompok asal Amerika yang terkenal The Supremes.

Kelompok tari dan seniman suku asli telah menikmati keberhasilan pada tahun-tahun terakhir, seiring penghargaan yang lebih dalam dari Australia terhadap warisan yang berasal dari lebih 50.000 tahun lalu. Hal ini telah membawa manfaat. Produksi Redfern Now membuka 250 lapangan pekerjaan untuk orang Aborigin di Sydney.

Suku Aborigin merupakan 2 persen dari populasi Australia, dan sejauh ini merupakan kelompok yang paling terpinggirkan, mengalami tingkat kemiskinan, pengangguran dan kesehatan buruk yang tinggi.


Saya pikir, kajian bagaimana pemerintah yang berkuasa dan tentu saja bersama dengan media mengonstruksi suku-suku yang minoritas ditampilkan, dilombakan, dianalisis, dikaji ulang, dan coba didefinisikan kembali, adalah salah satu cara untuk ‘memanusiakan’ mereka. Tidak bermaksud lebay, dan tidak hanya VOA Indonesia yang memberikan berita seputar budaya minoritas di Indonesia atau di dunia, media cetak dan elektronik lain juga berbuat serupa. Kepedalaman mereka diteliti, dibuat hipotesa, kemudian menjadi produk dari pengetahuan yang kelak –lebih banyak- dikomersialkan.

Bagaimanapun juga, media tidak berdosa sepenuhnya. Pun dengan media kehadiran budaya minoritas justru tengah diperjuangkan; baik budaya yang mereka miliki maupun keberadaan mereka secara fisik dan simbolik sedang mulai diakui dan dihormati. Ini bisa dikatakan dampak positif dari peran besar media, meski dampak lain juga perlu dipertimbangkan.

#foto dari VOA Indonesia


Sunday, 4 November 2012

Andai Aku Menjadi Ketua KPK



SEMASA SD, sekitar 15 tahun lalu, bu guru menyuruh saya menjualkan dagangan beliau berupa gorengan dan es lilin di sekolah. Alasan bu guru, karena saya pintar dan punya banyak teman. Riang gembira saya menjual panganan itu pada jam istirahat. Banyak yang laku. Ketika bel tanda sekolah usai, saya melaporkan hasil penjualan dan –yang saya tunggu-tunggu- bu guru memberi saya upah sekian ribu rupiah dari jerih payah itu. Ibu dan ayah tahu hal ini. Mereka diam saja, mungkin terlalu sibuk berjualan kian kemari. Sudahlah, yang pasti saya mendapat tambahan jajan waktu itu.

Ketika saya menonton film pendek Kita vs KPK yang settingnya di sekolah dengan tema yang sama; membantu guru berjualan kemudian mendapatkan komisi, saya terbahak sekaligus insaf. Satu sisi ini tamparan bagi masa lalu saya di SD. Sisi lain, ya, bisa jadi ini salah satu perilaku kecil yang tidak disadari, guru maupun siswa, yang kelak berpotensi besar pada perilaku gemar korupsi. Memang, ucapan terima kasih dari orang dewasa kepada anak kecil atau remaja sering dalam bentuk uang tunai ketimbang yang lain. Ini dianggap simpel dan lebih ampuh. Tapi, coba bayangkan dampaknya kelak, saya yang baru 8 tahun sudah diajari oleh guru sendiri untuk belajar menerima ‘gratifikasi’, meski ‘gratifikasi’ itu dibungkus dengan retorika ‘upah belajar kerja keras’. Retorika yang luar biasa!

Nah, kemudian saya ditantang oleh KPK RI beserta Tempo, apa yang akan saya perbuat seandainya saya menjadi ketua KPK. Bagi saya fungsi dan tugas KPK RI secara tertulis sudah sangat mulia, mantap, komprehensif, dan sangat Pancasilais. Pelaksanaannya juga sudah profesional, patuh etika, dan sangat signifikan membuat koruptor bergidik selama 12 tahun ini. Tapi, kenapa koruptor tak jera-jera di negeri kita? Sejenak, mari kita berkaca siapa diri.

Hemat saya, suap dan gratifikasi sebagai awal dari perilaku korupsi bukanlah budaya bangsa kita. Perilaku ini membumi karena etika, nurani, dan budaya malu menyusut. Ia tak lebih dihargai dari lembaran ‘apel malang’ dan ‘apel washington’ saja. Sementara itu, cepat lupa akan saudara yang hidup di bantaran kali seperti tumpukan sangkar burung; berisik, kumuh, lapar, dan (di) bodoh (kan). Belum lagi mirisnya mereka yang buruh diobral di negeri tetangga bak pakaian bekas. Sementara, pajak mereka bertriliun itu dijarah, digondol ke negeri orang, dan dipakai sesuka hati hanya untuk kepentingan perut sendiri. Seberapa canggih pun sistem, hukum, undang-undang dibuat untuk memberantas korupsi jika nurani dan etika kita tak lagi utuh melekat pada badan, saya mengundurkan diri saja jadi ketua KPK.

Bukan saya pesimis, bukan saya tidak cinta Indonesa, tapi mari kita mulai bekerja pada level bawah dan kecil-kecil menyangkut etika, nurani, dan budaya malu. Misalnya, di keluarga, di sekolah, di kelurahan, di kantor camat, di jajaran birokrasi, di kantor pajak, di partai-partai, di LSM, di APBD-APBN, di BUMN, di swasta-swasta, dan seterusnya. Saya heran, kenapa kita tidak malu menyuap? Dan tidak merasa terhina menerima suap? Bukankah menyuap dan menerima suap itu sebagai tanda kita lemah, bodoh, tapi kalah dengan hasrat kemaruk dan loba. Jika posisi Abraham Samad itu diganti dengan saya, selain hukum dan keadilan memang harus tegak dengan semestinya, hukum masyarakat pun (norma, etika, budaya, adat, dll) juga harus dikaji ulang, didefinisikan kembali, dan diterapkan sesuai dengan asas-asas kemanusiaan dan keadilan universal.


#foto dari google.co.id

Monday, 29 October 2012

‘Melawan’ Globalisasi dengan Perspektif Poskolonial*



Jika memang ingin ‘melawan’ arus globalisasi, yang dinilai menghegemoni dan mendominasi (menghomogenisasi sekaligus mengheterogenisasi justru pengaruhnya hampir sama-sama kuat) ‘identitas’ (baca; klaim hirarki kemurnian budaya salah satunya kesenian lokal/tradisional) bangsa (nation-state), saya menawarkan perspektif poskolonial. Sebelumnya, (kita coba menyepakati) perspektif ini tidak melulu berbicara tentang penjajahan dan si terjajah, dalam konteks masa kolonial tempo dulu. Akan tetapi, dalam konteks bagaimana globalisasi ‘menjajah’ bangsa-bangsa (nation-state) di dunia (tentunya dengan kekuatan kapitalisme), mengerucup pada Indonesia, juga penting didialogkan. Perspektif ini memang terkesan serba ‘agak’; agak melawan (si penjajah; globalisasi) bahkan dalam pendapat lain justru agak meneguhkan hegemoni globalisasi itu sendiri (baca; oleh Marxian).

Semangat perspektif poskolonial menawarkan ‘perlawanan’ yang tidak melulu menggempur dengan otot, tapi justru bermain pada tataran ideologi (Bhabha dalam Gandhi, 2006). Sebagai contoh, dalam konteks berkesenian, anda berkesenian dalam kondisi selalu dibayang-bayangi oleh sebuah regime of truth tentang standar seni yg. adiluhung (high culture) dan seni bukan adiluhung (low culture) kemudian itu harus dijalankan, metode dekonstruktif perlu dipakai. Apa iya seni yg. adiluhung itu harus pure dan bebas dari tangan-tangan ‘kreatif’ yg. justru dinilai mencemari keadiluhungan seni tersebut? Regime of truth adalah bisa institusi, personal, yang memaksa pihak di bawahnya mengikuti segala pakem yang telah digariskan dan tak ada tawar menawar di sana. Orde-orde terdahulu banyak mewarisi model macam begini. Di tengah gempuran globalisasi, warisan ini kerap dikritisi atau bahkan menjadi olok-olok, khususnya oleh kaum postrukturalisme dan postmodernisme.

Dalam berkesenian, perspektif poskolonial memberi ruang untuk membaca yang estetis secara ideologi dan politik. Di balik keindahan tersimpan banyak cerita. Di balik cerita ada kepentingan. Di balik kepentingan ada kekuatan. Di balik kekuatan ada hasrat untuk menundukkan. Di balik ketundukkan ada yang dirugikan. Ada yang dirugikan, ada yang diuntungkan, terjadi ketidakadilan. Ketidakadilan selalu melahirkan chaos, minimal protes, kritik, atau bahkan revolusi. Nah, sampai dimana subyek mampu membaca kekuatan untuk menundukkan ini di dalam berkesenian?
Jika hanya membaca keindahan sebatas keindahan, meneliti kesenian hanya untuk mengulang-ulang atau bahkan meneguhkan yang sudah ada, itu artinya isi tak lebih dari sangkar. Subyek tak melakukan apa-apa, kecuali mengetik yang sudah ada. Padahal, anda (termasuk saya) adalah subyek-subyek yang tidak menutup mata terhadap masa depan. Obsesi masa depan selalu ada. Masa depan, kata Goenawan Mohamad, adalah negeri entah. Sebagai negeri entah, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Di sini, setiap orang berhak melakukan ekplorasi. Inilah ruang yang ditawarkan oleh poskolonial, ruang untuk bernegosiasi dan berkontestasi; ‘melawan’ globalisasi dengan cara-cara kreatif atau bahkan dengan ‘mengejek’ (mockery). Dengan syarat cara pandang perlu didekonstruksi sebelum melancarkan aksi?!

Globalisasi yang Menyambar-nyambar

Indonesia sebagai negeri jajahan sekaligus pasar potensial oleh negara-negara industri kapitalis, Eropa barat dan Amerika termasuk Cina, jika tak mungkin maka akan sangat sulit lepas dari pengaruh globalisasi. Sebagai negeri jajahan, ada baiknya jeli melihat bahwa Indonesia takkan pernah bebas seutuhnya dari pengaruh penjajahan dalam bentuk apapun. Ini bukan soal waktu, ini soal bagaimana pengaruh kolonial masih terasa sampai sekarang. Arus globalisasi yang menempatkan Indonesia sebagai target ‘jajahan’ adalah faktanya.

Pengaruh globalisasi tidak dilihat hanya sebatas pengaruh dalam bidang ekonomi. Tapi juga dan tak kalah krusial adalah pengaruh dalam kebudayaan. Dalam kebudayaan ini, lagi-lagi menurut Bhabha, negeri jajahan, akan sangat sulit lepas dari kultur si penjajah. Klaim-klaim keautentikan budaya menjadi rancu dan tak dapat dipertahankan. Apalagi di tengah derasnya globalisasi, teknologi yang semakin canggih, membuat setiap orang mampu dan tak ada beban menampilkan, memainkan, atau bahkan mengklaim budaya asing sebagai milik sendiri.

Dalam kaca mata Bhabha, budaya merupakan produk hybrid. Budaya menjadi gabungan dari berbagai aspek yang selalu berubah-ubah, tidak stabil. Relasi sosial, wacana, serta pengalaman-pengalaman terdahulu berjalin berkelindan, saling mempengaruhi, kemudian membentuk suatu formasi baru dalam kebudayaan. Begitupun juga dengan kesenian dan berkesenian. Sebagai produk hybrid, subyek di dalamnya juga tak stabil. Setiap orang memahami budaya dengan pemahaman yang tidak sama.

Apa implikasi jika ngotot mengatakan kalau budaya, termasuk di dalamnya kesenian, adalah stabil, autentik? Klaim-klaim autentik, asli, pure dst. ini tidak lebih menghantarkan kepada sikap narsistik atas budaya sendiri. Sikap menonjolkan dan membesar-besarkan bahkan menegas-negaskan atas milik sendiri. Semangat emansipatoris (memerdekakan) tidak ada, yang ada justru membatasi dan menganggap manusia sebagai makhluk pasif yang tak tahu apa-apa.

Agaknya mahasiswa ISI khususnya dari Etnomusikologi telah melakukan kreatifitas seni yang beragam. Semangat emansipatoris pastilah sudah dikembangkan di sini. Perihal apakah itu mendapat apresiasi positif atau tidak, itu urusan dialog dengan regime of truth di kampus ini. Masalah ‘melawan’ globalisasi, perspektif poskolonial menawarkan bagaimana subyek tidak harus ‘membebek’ kepada globalisasi dan pada bagian lain juga tak anti dengan globalisasi. Inilah ruang “antara” tempat dimana subyek ‘bermain kucing-kucingan’ dengan globalisasi.

Referensi:
Gandhi, Leela. 2006. Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat. Yogyakarta: Penerbit Qalam.

*Bahan diskusi ilmiah di Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Rabu, 24 Oktober 2012

Review The Public Sphere: An Encyclopedia Article by J├╝rgen Habermas



Era modernisasi yang mementingkan akumulasi modal, birokrasi, dan teknokratisasi, bagi Habermas, merupakan era yang cacat, terdistorsi (penyimpangan) dari pencerahan sehingga membutuhkan pencerahan lanjutan. Ia menawarkan tindakan berupa rasionalitas komunikatif yang termanifestasi dalam argumentasi-argumentasi dari masyarakat pada ruang-ruang tertentu atau publik. Tujuannya, selain untuk perkembangan politik, ilmu pengetahuan, kebudayaan, membentuk masyarakat yang otonom dan dewasa, juga karena kekuasaan harus dicerahi dengan diskusi rasional. Tawaran ini sekaligus mengkritik Marx tentang konsep praksis yakni kerja kemudian revolusi. Karena bagi Habermas, rasionalitas –dalam bentuk komunikasi dan dialog- yang lebih berpusat pada subjek, tak kalah penting dalam menentukan perubahan tatanan sosial masyarakat.

Ruang publik, menurut Habermas, lahir di Inggris, Perancis, dan Jerman pada penghujung abad 18 dan abad 19. Pada masa ini (Liberal Model) ruang publik lahir –warung kopi, salon- untuk memfasilitasi keprihatinan individu tentang ekonomi dan keluarga yang dihadapkan pada tuntunan dan keprihatinan pada sosial dan politik. Pun, ruang publik berfungsi sebagai perantara kontradiksi antara kaum borjuis dan proletar saat itu. Ruang publik tercipta atau diciptakan lebih dominan untuk kaum borjuis dan kelas menengah atau elit (baca; laki-laki, kulit putih) yang tentu saja lebih banyak membawa kepentingan privat partikular kelompok tersebut. Di sini, konsep ruang publik Habermas masih bias gender. Padahal pada masa itu gerakan feminis (The First Wave of Feminism) sudah muncul ke permukaan. Habermas seolah-olah meniadakan keberadaan kaum perempuan, kelas pekerja, dan kulit berwarna.

Pada abad 20, bahkan abad 21, (Mass Democracy) konsep ruang publik dinilai sangat penting sekaligus mengalami kemerosotan. Di ruang publik setiap individu bisa membawakan sisi kritis sosial yang mewakili dirinya atau juga kelompoknya. Hal ini sejalan dengan konsep Habermas, bahwa opini publik adalah fiksi hukum kontitusional. Bukankah lahirnya hukum berdasarkan konvensi-konvensi atas norma-norma dari suatu masyarakat yang diyakini dan dihormati? Sedangkan kemerosotan ruang publik dikarenakan bangkitnya kapitalisme negara, tak ketinggalan peran media, memaksa masyarakat puas hanya dengan mengonsumsi barang dan pertunjukan publik. Isu wacana hanya sebagai industri budaya pada media masa yang bermuara pada budaya banalisme (permukaan). Padahal, menurut Habermas, masyarakat bukanlah sistem administrasi birokrasi dan ekonomi semata, mereka adalah suatu entitas solidaritas budaya, dan komunitas yang tidak ‘stabil’. Agaknya, pendapat ini sejalan dengan konsep encoding dan decoding Stuart Hall, bahwa masyarakat memiliki logika sendiri dan sebenarnya mereka aktif -mereproduksi.

Konsep ruang publik, bagi Habermas, harus diikuti oleh peserta yang komunikatif dengan argumentasi terbaik, dengan syarat: (1) peserta memiliki peluang yang sama untuk memulai diskusi dan mengemukakan serta mengkritik argumentasi lain; (2) tidak ada perbedaan kekuasaan dalam mengajukan argumentasi; (3) peserta dengan baik mengungkapkan pemikirannya sehingga tidak ada manipulasi. Hal ini menegaskan konsep rasionalitas dalam bentuk komunikasi yang ditekankan pada klaim-klaim kesahihan, meliputi; klaim kebenaran, klaim ketepatan, klaim autensitas, dan klaim komprehensif. Habermas sebagai filsuf teori kritis (rasionalitas) dengan semangat kognitif emansipatoris sangat mendukung unsur-unsur kebenaran –ucapan yang diterima berdasarkan konsensus di antara semua pihak yang bersangkutan dan konsensus ini dapat dinilai secara rasional.

Di Indonesia yang pluralis, konsep ini dinilai relevan untuk menyelesaikan konflik-konflik seperti agama, ras, dan etnisitas yang marak terjadi. Celah yang muncul dalam bentuk diskursus rasional agaknya dapat digunakan sebagai rujukan untuk berdialog menyelesaikan masalah dan menghindari kekerasan fisik serta main hakim sendiri. Terlepas dari Habermas menolak atau menerima konsep realitas metafisis.

Review The Commodity as Spectacle by Guy Debord


Menurut Debord sistem kapitalisme yang mendominasi masyarakat menciptakan kesadaran-kesadaran palsu para penonton atau audiens untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan, baik berupa barang (komoditas) ataupun perilaku konsumtif. Kesadaran palsu ini dibangun melalui citra-citra yang abstrak atau bahkan irrasional, yang dianggap rasional oleh penonton, sebagai bentuk pengidentifikasian diri dalam relasi sosial. Relasi sosial ini bergeser jauh dan dimanfaatkan oleh era yang berkuasa sebagai komoditas dalam dunia tontonan.

Kaum kapitalis mempunyai kontrol yang kuat atas apapun termasuk mampu mengubah nilai-nilai personal menjadi nilai tukar. Hal ini sejalan dengan otensitas kehidupan sosial manusia, dalam pandangan Debord, telah mengalami degradasi dari menjadi (being) kepada memiliki (having) kemudian mempertontonkan (appearing). Ketiga aspek ini selalu dikendalikan atau disubtitusikan dengan alat tukar yakni uang. Ketika ketiga aspek ini tidak terpenuhi, penonton tidak hanya terjajah (hegemoni), melainkan pada saat yang bersamaan penonton juga terasing (alienasi) dalam relasi sosial dan standar nilai yang mengindetifikasikan diri mereka.

Media massa sebagai bagian dari industri budaya adalah korporasi dari sistem ideologi ekonomi kapitalisme. Media melakukan representasi dan komodifikasi berita, informasi, dan hiburan sebagai langkah strategis untuk memproduksi komoditas demi meraup keuntungan yang berdampak kepada pamor atau rating industri media tersebut.

Dalam masyarakat tontonan, media massa sekaligus menjadi tontonan (spectacle) itu sendiri. Media tidak hanya berperan sebagai ‘pasar’, mengiklankan banyak produk, melainkan juga memproduksi citra individu secara positif. Misalnya selebritis dan diidolakan. Dalam konteks ini, media menjadikan penonton sebagai konsumen aktif atas komoditi yang diidolakan. Pada sisi lain, sang idola, tanpa disadari juga ikut serta ‘dijual’ oleh media sebagai rezim konstruksi realitas. Industri budaya memanipulasi penonton tidak sekedar berbasis konsumsi, tapi juga menjadikan semua (lebih banyak) artefak budaya sebagai produk industri dan komoditas belaka.

Oleh karena itu Debord menulis, masyarakat modern adalah akumulasi dari tontonan (spectacle) yang tak terhingga. Apa yang telah dihidupi menjadi representasi semata. Kehadiran spectacle sepertinya menyatu dengan kehidupan masyarakat, padahal dalam realitas autentik terpisah satu dengan yang lain. Sehingga yang tampak adalah imajinasi yang tersusun rapi dalam kesadaran semu masyarakat.

Agaknya fenomena ini sejalan dengan alasan sikap pesimistik Adorno dan Horkheimer bahwa industri budaya, termasuk media, turut menawarkan kebutuhan dan citra palsu. Penonton mencari kepuasan melalui konsumsi semu, demi sebuah kepentingan tertentu. Kepentingan ini tidak lepas dari keuntungan industri atas segala bentuk produk budaya.

Review Encoding/Decoding by Stuart Hall



Stuart Hall mengkritik model komunikasi linear (transmission approach) –pengirim, pesan, penerima- yang dianggap tidak memiliki konsepsi yang jelas tentang ‘momen-momen berbeda sebagai struktur relasi yang kompleks’ serta terlalu fokus pada level perubahan pesan. Padahal dalam proses pengiriman pesan ada banyak kode –pembahasaan- baik yang diproduksi (encode) maupun proses produksi kode kembali (decode) sebagai suatu proses yang saling berhubungan dan itu rumit.

Proses komunikasi pada dasarnya juga berkaitan dengan struktur yang dihasilkan dan dimungkinkan melalui artikulasi momen yang berkaitan namun berbeda satu sama lainnya –produksi, sirkulasi, distribusi/konsumsi, reproduksi (produksi-distribusi-reproduksi). Landasan Hall atas pendekatan ini adalah kerangka produksi komoditas yang ditawarkan Marx dalam Grundrisse dan Capital, terminologi Peirce tentang tanda (semiotic), serta konsep Barthes tentang denotatif dan konotatif yang bermuara pada ideologi (denotative-connotative-ideology).

Menurut Hall realitas itu sendiri harus dibentuk melalui proses produksi ketika diciptakan (di -encode; diubah menjadi code-code) dan diterima (di-decode; diubah menjadi code-code kembali oleh si penerima). Persis yang disampaikan oleh Umberto Eco tentang tanda-tanda ikonik ‘kelihatan seperti objek-objek dalam dunia real karena tanda tersebut mereproduksi kondisi (code) persepsi yang ada pada penonton’.
Proses pengodean ini tidak akan tercapai jika tidak ada kerangka pengetahuan (frameworks of knowledge), relasi produksi (relations of production), dan infrastruktur teknis (technical infrastructure). Menurut Hall, dalam encoding dan decoding akan terjadi ketidaksimetrian antara ‘sumber’ dan ‘penerima’, yang apa disebut sebagai ‘kesalahpahaman’, tepatnya muncul dari kurangnya ekuivalensi (kesamaan) antara kedua pihak dalam pertukaran komunikasi.

Hall juga menjabarkan tiga posisi hipotesis antara pembuat teks dan penerima. Pertama, dominant-hegemonic position, artinya penonton/pendengar langsung mendekode pesan dari sudut pandang rujukan yang telah dienkode oleh kode profesional. Biasanya reproduksi ideologis terjadi di sini yang dilakukan oleh para elit untuk membangun berita/citra yang hegemonik tanpa diketahui oleh pendengar/penonton, yang tentu saja kontradiksi atau penuh konflik. Kedua, negotiated position, artinya dekoding pada posisi ini mengandung campuran unsur yang bersifat adaptif dan oposisional; pendengar mengakui legitimasi atau beberapa hal yang disampaikan namun pada situasi lain justru membuat aturan dasarnya sendiri atau menolak. Ketiga, oppositional position, artinya pendengar membaca pesan secara oposisi dan menolak pesan yang disampaikan karena mereka memiliki alternatif penafsirkan atau pembacaan sendiri.

Review The Work of Art in the age of Mechanical Reproduction


Walter Benjamin khawatir terhadap kemajuan teknologi yang dinilainya dapat menghancurkan nilai seni yang tinggi dan antik. Reproduksi mekanik karya seni, dalam pandangan Benjamin, mampu meniscayakan kehadiran ruang dan waktu. Kemajuan teknologi ini melahirkan karya seni yang tidak lagi murni karena ditopang oleh produksi karya seni dengan mudah dan cepat dalam produksi mekanik.

Melalui produksi mekanik ini, proses peniruan dilakukan terhadap karya seni dengan mudah dan cepat. Melalui produksi mekanik pulalah penemuan atau hak kepemilikan berubah dari tangan yang satu ke tangan yang lain. Alhasil, karya seni dengan mudah dimiliki oleh siapa saja dan dimana saja tanpa harus mengeluarkan uang atau tenaga yang lebih banyak.

Dalam hal ini Benjamin memisalkannya dengan kemajuan fotografi (kamera) yang menggantikan litografi sebagai produk mekanik untuk memproduksi seni secara massal. Akan tetapi, melalui kemajuan teknologi ini, Benjamin merasa ada yang kurang, pudar, atau bahkan hilang dalam karya seni murni itu yakni aura. Aura dalam pandangan Benjamin sebagai nilai kultis atau ritual karya seni. Konsep aura ini yang melatarbelakangi Benjamin mengkritisi produksi mekanik dalam karya seni. Dalam produksi mekanik yang massal, nilai adiluhung yang terdapat pada karya seni murni pudar dan bahkan tak terlihat lagi.

Menurut Benjamin, produksi mekanik tak mampu mengalahkan keberadaan karya seni yang aslinya, sebagai contoh lukisan. Tadinya nilai seni selain digunakan sebagai keindahan, juga sebagai nilai-nilai dalam keagamaan, pemujaan, serta kekuatan dari cita-cita yang diimpikan. Namun, seiring dengan perkembangan produksi mekanik semua itu lenyap dan seni menjelma menjadi produk konsumsi yang semata-mata demi keuntungan ekonomi (kapitalisme). Pengaruhnya, orang-orang tak lagi dapat menghayati atau merenungi makna atau cita-cita dari lukisan tadi ketika telah berubah menjadi foto atau gambar yang diproduksi secara massa.

Hal yang sama terjadi dengan dunia perfilman yang juga dikhawatirkan oleh Benjamin dalam artikel ini. Film sebagai produksi mekanik berupa alat-alat seperti kamera, suara, video rekam, dan aspek seni lainnya diubah sedemikian rupa untuk memberi kesan ilusi oleh khalayak. Dengan kata lain, pekerja film melakukan spekulasi terhadap kepuasan penonton untuk menikmati 'seni' atas karya mereka sendiri.

Tak terbatas di sana, pelaku film berusaha mencoba menghadirkan aura dalam karya mereka. Aura di sini, dicoba diproduksi, tak lain sebagai penggaet calon penonton agar produk mekanik yang dihasilkan selalu dan lebih banyak mendatangkan keuntungan ekonomi. Di sinilah peran aktor, lakon, atau pemain film sebagai objek diatur dan ciptakan untuk mampu melahirkan aura itu kembali oleh sang sutradara atau produser.
Meskipun demikian, kritik pedas Benjamin terhadap produksi mekanik (produk massal) yang menghilangkan aura dari seni murni, justru berbalik mendukung upaya memproduksi seni lebih banyak dan sebanyak-banyaknya. Tujuannya untuk melepaskan seni dari otoritas tertentu yang berhak dinikmati oleh siapa saja dan dimana saja. Berkat teknologi, seni dapat dikembangluaskan kepada masyarakat serta diambil alih dari kelompok elit dan mapan selama ini yang mengklaim seni milik mereka semata. Demokrasi seni ala Benjamin, seni untuk seni (l'art pour l'art).

Friday, 5 October 2012

Kakek Nenek di Era Globalisasi



KETIKA bercengkerama ria bersama karib kerabat, biasanya para pekerja sosial (bahasa bekennya aktivis), candaan agar mati muda adalah salah satu yang ‘dicita-citakan’. Selanjutnya Soe Hoek Gie, adalah salah satu nama yang tak bisa ditampik dalam pembicaraan itu. Ia menjadi pujaan, khususnya akan gerakan dan karya-karyanya. Kenapa? Ini menjelaskan, bahwa usia muda harus digebrak sedemikian rupa untuk terus bekerja dan berkarya –tidak kemudian bercita-cita pensiun di usia 40 tahun. Nah, ketika ajal menjemput, katakanlah itu di usia belum genap 30 tahun atau setidaknya tak sampai menjadi nenek kakek dan masuk panti jompo, adalah sangat ‘sesuatu’ hingga luar biasa. Kata dosen saya, menunggu tua itu menyakitkan! Kemudian, sebagai contoh yang fenomenal, di kalangan kaum adam, keputusan memilih untuk berkumis atau tidak disesuaikan sedemikian rupa, mulai dari menginjak usia kepala tiga (tidak berkumis atau kumis tipis), empat puluh hingga 50 tahun (mulai agak tebal), 60 tahun (kumis dicukur habis) hingga penghujung 70 dan seterusnya. Ini taktik untuk mengaburkan penuaan.

Ketika Voice of Amerika Indonesia mengabarkan perihal jumlah lansia di seluruh dunia mencapai 1 milyar orang, dan itu membawa tantangan tersendiri jika tak diimbangi dengan jumlah kaum mudanya, saya jadi terbawa arus untuk ikut serta mengulasnya. Di bawah ini kutipan berita dari VOA Indonesia pada Kamis (04/10/2012) :

Jumlah Lansia Sedunia Diperkirakan Mencapai 1 Miliar dalam 10 Tahun

Hasil penelitian yang diterbitkan pekan ini oleh Dana Kependudukan PBB mengungkapkan jumlah lansia di seluruh dunia dapat mencapai jumlah 1 miliar orang dalam kurun 10 tahun mendatang.

Penelitian yang berjudul “Aging in the Twenty-First Century: A Celebration dan a Challenge,” diterbitkan pekan ini oleh Dana Kependudukan PBB. Penelitian itu mengatakan bahwa dalam tahun 2000, untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada lebih banyak orang yang berusia 60 tahun atau lebih daripada anak-anak di bawah usia lima tahun.

Para pakar demografi mengatakan bahwa sebelum tahun 2050, jumlah generasi yang lebih berusia lanjut akan lebih besar daripada penduduk berusia di bawah 15 tahun. Dalam hanya 10 tahun, jumlah lansia akan melampaui 1 miliar orang, peningkatan yang hampir mencapai 200 juta dalam waktu 10 tahun.

Laporan baru itu menunjukkan bahwa, sekalipun peningkatan jumlah lansia patut disambut dengan baik, hal tersebut juga memberi tantangan yang sangat besar bagi perawatan kesehatan dan pengaturan tunjangan masa pensiun, pengaturan perumahan dan hubungan antar-generasi.


Tantangan bagi negara atas meningkatnya kaum lansia ini tidak hanya berkutat pada hal kesehatan dan pengaturan tunjangan masa pensiun, tapi juga hal remeh temeh. Maksudnya, soal bagaimana kondisi sosial memandang kemudian memosisikan kaum lansia ini di tengah arus globalisasi juga perlu dipikirkan. Terlepas dari apakah mereka tinggal dan hidup di panti-panti jompo atau diasuh oleh sanak saudara sendiri.

Era global adalah era gila dan sangat narsistik (kurang lebih begitu Lyotard mengatakan). Di era ini orang –dengan kekuatan- akan berlomba-lomba memenuhi segala keinginan meskipun itu lebih banyak yang bersifat artifisial. Tak peduli itu butuh atau tidak. Tak peduli itu berpengaruh fungsional atau tidak. Yang penting ‘tamparan’ fenomenal akan tren itu terpenuhi dan tersimpan di dalam rumah sendiri. Apakah dengan begitu kepuasaan terpenuhi? Tunggu dulu.

Nah, apa dampak horizontal era narsistik ini pada nasib kakek nenek?

Kakek nenek yang secara harfiah adalah manusia yang lemah tidak hanya fisik tapi juga pikiran -tentu saja sangat tidak potensial- menjadi semacam tanggungan sekaligus penghalang. Tidak bermaksud durhaka, kaum papa ini menjadi tanggungan sekaligus penghalang tidak hanya pada sanak saudara sendiri tapi juga pada negara dalam konteks yang lebih general. Muaranya, kakek nenek menjadi marginal dan ter-subalternity, jika men-subyetifikasi diri pada kaca mata poskolonial dan atau kajian budaya.

Selanjutnya, ternyata negara sudah memberikan ‘simpati’nya pada kakek nenek, dalam hal ini tunjangan pensiun, yang tentu saja diregulasikan. Apakah sudah merata di setiap negara? Jika sudah, apakah dengan begini, persoalan kaum papa serta merta terangkat kemudian (kembali) tercerahkan? Belum tentu. Contoh konkret, kunjungi saja panti-panti jompo di sekitar tempat tinggal kita. Atau, mau yang lebih sederhana, luangkan waktu melihat dan mencermati bagaimana kaum papa di negeri ini. Jika kondisi mereka sangat menyedihkan dan menguras emosi, kita tak perlu menyumpah-sumpah kepada karib kerabat kaum papa, yang mungkin dalam benak kita mereka durhaka.

Perlakuan negara atau sanak kerabat agak sedikit berbeda dengan konsep yang coba ditawarkan oleh pemikir poskolonial, yakni menyuruh mereka bersuara dan bertindak sendiri. Dalam situasi kakek nenek, di tengah deraan yang papa, mustahil mengharapkan mereka berdemo atau melakukan aksi fisik untuk kembali membuat kehidupan mereka layak, layak dipenuhi kebutuhan, layak dihormati, dan terutama layak dicintai. Artinya, kaum papa ini lebih banyak membutuhkan rasa empati dari orang-orang di sekelilingnya yang ‘lebih kuat’ dari diri mereka. Di sini negara dan sanak kerabat ditantang agar kaum lansia tidak hanya hidup menunggu ajal semata. Tapi, ada yang diharapkan sekaligus dibanggakan di hari tua mereka yang kata banyak orang penuh cekaman.

#foto dari http://alumni-smun3kobi.blogspot.com/2012/04/jutaan-lansia-terlantar.html

Monday, 1 October 2012

Gangnam Style dalam Perspektif Konstruksi Identitas



KETIKA Britney Spears diajari berGangnam Style ria oleh Psy, sedetik kemudian tarian menunggang kuda ini menjadi tren baru dan memecah rekor baru di YouTube. Guinness World Records menganugerahi sebagai video yang paling banyak dilihat yakni 200 juta kali dalam tiga bulan. Sebuah pencapaian yang tak diduga sebelumnya, begitu kira-kira kata Dan Barrett. Park Jae Sang pun mendapat nama dan melimpah job baik di Asia maupun di Amerika Serikat.

Google dengan jejaring luasnya bercerita jika horse dance ini adalah sindiran kepada anak muda Korea yang tergila-gila memperganteng, mempercantik, memperlangsing, dan mempertirus tubuh dan wajah sebagai ‘syarat utama’ penampilan dan pergaulan di negeri itu. Tak ketinggalan juga mengkritik gaya hidup yang cenderung high class serta selalu mengejar kesempurnaan. Di kawasan elit Gangnam inilah anak muda dan masyarakat Korea bertemu dengan rumah-rumah bedah, salon kecantikan, serta starbuck-starbuck ala Korea.

Psy mengkritik –mungkin tepatnya melawan- lewat Gangnam Style dan berujar PeDe bahwa dirinya yang sipit dan tak atletis juga bisa mendunia, eksis, namun tetap apa adanya. Rapper ini seolah-olah jengah dengan budaya anak muda Korea yang selalu berhasrat menyembunyikan atau bahkan mematikan warisan leluhur ke-Asia Timur-an mereka (sipit, putih atau kuning langsat, hidung mungil, rambut lurus, dan seterusnya) kemudian menggantinya dengan kehendak sesuai selera (tak lagi sipit, bangir, coklat, keriting atau ikal, dan seterusnya), tentu saja tak ketinggalan agar lebih atletis atau singset.

Sebelumnya, mengingat ke belakang pada grup vokal atau boyband dan girlband yang memang banyak ditularkan oleh negara-negara Asia Timur ini. Di sana ada Super Junior, Big Bang, Shinee, SMTown, Girls’ Generation dan seterusnya, yang secara penampilan dan genre musik tak jauh berbeda. Lebih jauh lagi ada Fantastic atau Favorite Four (F4) yang sudah melegenda. Jika ingin men-generalkan, mereka memang tergolong ganteng dan cantik untuk ukuran selera 90-an hingga tahun 2000-an, serta menjadi primadona bagi remaja dan perempuan muda. ‘Standar’ ganteng, cantik menuju sempurna ini ternyata masih bertahan di era Twitter dan ‘Indie’ ini. Psy pun bangun dan menertawakan dengan Gangnam Style-nya.

Identitas Kultural

Menurut Stuart Hall, identitas kultural dilihat bukan sebagai refleksi atas kondisi suatu hal yang tetap dan alamiah, melainkan sebagai proses ‘menjadi’. Tidak ada esensi bagi identitas yang perlu dicari; namun identitas kultural terus-menerus diproduksi di dalam vektor kemiripan dan perbedaan. Identitas kemudian menjadi ‘potongan’ atau kilatan makna yang terungkap; penempatan yang strategislah yang memungkinkan adanya makna.

Dalam konteks identitas anak muda Korea (baca; penampilan dan gaya hidup) memang akan selalu berubah dan tidak stabil. Ketidakstabilan identitas ini, jika terjadi pada mereka yang sebagai public figure, maka secara langsung atau lambat identitas yang tak stabil ini juga merembet kepada fans mereka. Identitas menjadi semacam permainan. Tujuannya, tentu saja demi tercapainya segala model kebutuhan; fisik maupun psikis.
Ketika Psy mengkritik atau bahkan coba melawan budaya yang ‘mempermain-mainkan’ identitas melalui segepok uang dan jabatan, maka itu akan menjadi semacam ‘sia-sia’. Orang-orang yang mendengar Gangnam Style di kawasan elit Gangnam yang mungkin wajah mereka tengah dibedah, atau tengah berselonjor ria di salon, tak akan merasakan efek apa-apa. Kritik itu tentu akan terus berjalan searah kemana mulut mengarahkan. Namun kesadaran akan perbedaan, keunikan diri sendiri mungkin masih lama untuk dipikirkan. Singkatnya, di tengah kawasan Gangnam, naif sekali membicarakan identitas yang dikonstruksi secara kultural dan kapitalistik itu.

Untuk itu, agaknya Psy paham apa dan bagaimana tantangan sesungguhnya dari lagu dan tarian goyang naik kuda ini; kritik tajam kepada mereka sebagai pelaku sekaligus korban budaya pop dan kapitalistik. Kepahaman Psy ini terlihat dari esensialisme dari lirik lagu dalam horse dance. Lalu, kenapa tidak diteruskan?

Pada hakikatnya kepahaman Psy baik dari dalam negeri atau luar negeri sendiri, justru menghantarkannya jadi public figure yang benar-benar ‘merakyat’. Jika tadinya ia ingin melawan arus strategi budaya yang dilahirkan di Korea Selatan dan itu sepertinya tak mempan, alih-alih berpaling dari kawasan Gangnam, Psy tak habis akal. Ia merebut perhatian publik dengan kelucuan dan atraktif tarian itu sendiri. “Be funny but not stupid,” kata PSY kepada Yonhap, kantor berita Korea Selatan. Akibatnya, lirik-lirik kritis Psy tertelan begitu saja ketika tari ini dimainkan oleh seleb papan atas Amerika. Apa lacur, ‘identitas dan ideologi’ Psy pun ‘terjual’ oleh YouTube dan maraknya flash mob yang beredar.

Hallyu atau gelombang Korea Pop yang mengerucut membentuk soft power bagi anak muda, termasuk Psy di dalamnya, menjelaskan bahwa gelombang ini adalah cara Korea menghegemoni atau bahkan ‘meng-kolonialisasi’ bangsa-bangsa di dunia. Tujuannya tentu saja meneguhkan akar-akar kapitalistik yang sudah dibangun bertahun silam. Negara-negara Arab, Timur Tengah, dan Amerika Selatan, adalah negara yang tadinya sulit disusupi K-Pop, sekarang, pelan tapi pasti budaya ini menyebarkan ‘virus’ di sana.
Kehadiran serta kehebohan Psy dengan Gangnam Stylenya semakin meneguhkan bahwa kita, bangsa Asia, Amerika, Eropa, atau bahkan Afrika tak mampu menolak gelombang hegemoni ini. Kita tak berdaya dibuatnya. Menerima yang ditawarkan dan pelan-pelan terbawa ke dalamnya. Seperti kata Stuart Hall, identitas bersifat kontradiktif dan saling silang meniadakan satu sama lain. Persaingan identitas dan subjetivitas menunjukkan bagaimana kita dibentuk sebagai subjek manusia, yaitu jenis manusia yang tengah kita bentuk pada diri kita.

#foto dari internet



Monday, 17 September 2012

Industry + Life Style = Prestige?



KETIKA maskapai Garuda Indonesia menggandeng brand sebesar Liverpool sebagai rekan kerja mereka, kira-kira apa yang terbayang oleh segenap jajaran Garuda dan rakyat Indonesia yang menonton ketika The Reds berlaga? Satu bayangan yang tak mungkin disangkal adalah logo dan tulisan Garuda Indonesia menari-nari di papan Light Emitting Diode (LED) yang mewarnai tepi lapangan di Stadion Anfield. Bukan main kembang kempisnya hidung! Bangga?

Dunia bola (baca; sepak bola) sudah menjadi rahasia umum bukanlah dunia olahraga dan industri semata. Dunia bola telah bertransformasi menjadi gaya hidup atau life style -dan tengah bertransformasi entah akan menjadi apa lagi setelah ini. Ia adalah dunia yang addict sekaligus dengan peminat terbanyak sebagai primadona di bumi. Hampir genap seratus persen penduduk bumi ini -barangkali termasuk setan dan malaikatnya- mengelu-elukan agar jagoan mereka mencetak gol sebanyak mungkin di karpet hijau. Dunia yang tak bisa diterima dengan akal sehat jika anda duduk di kursi reliji sekalipun.

Kembali ke Garuda. Kenapa Garuda menggaet Liverpool? Sementara Barcelona, Chelsea, Real Madrid, MU, dan banyak lainnya justru tak dilirik? Faktor ekonomi sepertinya tak bisa disangkal dalam urusan gaet-menggaet ini. Liverpool adalah klub yang cukup tua dan terbesar di Britania Raya. Tentu Garuda melihat ini tidak semata tua dan besar. Tapi pasar The Reds (baca; fans) di Asia dan bahkan merembes ke Australia -tempat Garuda jeda setelah capek hilir mudik terbang- tak kalah besar dibanding dengan di Benua Biru, Amerika, serta Afrika. Nominal ini tak boleh Garuda abaikan setelah riset panjang hingga memutuskan kontrak dengan Liverpool untuk tiga tahun mendatang.

Lalu, kemudian muncul sentimentil dari dalam negeri kepada Garuda seperti dari PSSI, Tim Nasional -baik anak asuhan maupun pelatih asuhannya- serta persi-persi lainnya. Kenapa tidak kami? Sembari menunjuk hidung dengan nada agak cemburu. Jika begitu, saya juga bisa sentimentil dengan gugatan bernada lokalis-nasionalis. Kenapa Garuda tidak menggaet Semen Padang FC saja? Itu kan klub bola dilengkapi sejuta rasa khas makanannya yang sudah diakui oleh seluruh lidah penghuhi jagat ini bahwa maknyuss! Dengan maknyuss apakah Garuda tidak melihat peluang pasar yang jauh lebih besar, menjanjikan, dan sangat nasionalis?

Ehm! Jawabnya, boleh jadi agak sedikit sinis dan membuat gerah para pejuang sepak bola negeri ini. Ketika Garuda menggaet klub anak negeri artinya sama saja ia ‘dipaksa’ bertransformasi menjadi transportasi darat. Maka akan ada Garuda Busway, Garuda Oplet, Garuda Tranex, atau bahkan Garuda Bajaj. Tentu ini tidak lucu, mengingat secara kualitas, Indonesia memang tak punya maskapai yang diandalkan selain burung besi satu ini. Jadi, perhitungan matematisnya tidak sesederhana itu.


Prestise akan Barat

Dalam konteks asuhan, Garuda memang tidak lahir yatim piatu. Ia anak kandung negeri ini yang selalu disuapi 4 sehat 5 sempurna plus disekolahkan dengan sebaik-baiknya sekolah (baca; perusahaan BUMN). Sebagai anak yang lahir di negeri ini, cita-cita memajukan dan meng-internasionalkan tanah air memang agak wajib hukumnya. Di sini prestise atau gengsi dimulai dan dipertahankan.

Kembali ke paragraf pembuka tadi. Jika logo dan tulisan Garuda menari-nari di depan jutaan pasang mata anak negeri di Stadion Gelora Bung Karno, bandingkan dengan di Anfield yang katanya sangat internasional itu, hampir tak ada prestisenya. Bukan lantas tidak nasionalis. Alasannya, suporter bola yang justru ramai di teve karena berita sumbang ini hampir-hampir jarang duduk di kursi Garuda, itu pertama. Dan kedua, sangat dipercaya mereka tidak akan menghadiri tanding Liverpool di Anfield kecuali di layar kaca. Faktor utama tentu saja perihal biaya. So, secara tak tik ekonomi saja option ini tak memperlihatkan statistik menanjak. Apalagi prestise. Maka pikir-pikir lagi.

Di sini, keputusan Garuda menggaet The Reds menjadi partnership tak sebatas mengharapkan keuntungan ekonomi, tapi agaknya juga mengangkat wibawa -agar lebih internasional- sebagai maskapai penerbang nomor wahid di Indonesia. Sekedar pengingat, sebagai bekas jajahan Barat (Eropa), kebanyakan kita (lapisan bawah, menengah, atas) serta lembaga swasta dan pemerintah di negeri ini menganggap Barat masih agung dan patut dicontoh sedetil-detilnya. Bangsa ini masih menjadikan Barat sebagai kiblat ekonomi, politik, dan budaya hingga abad dan detik ini. Ini tidak kebetulan, ini adalah warisan tuan-tuan majikan sejak berabad lalu.

Ketika Garuda Indonesia disebut-sebut di tengah ribuan pasang telinga orang Barat menjelang laga tanding Liverpool, saat itu mungkin Garuda tengah bernostalgia akan masa silam dengan bangsa Eropa. Atau jangan-jangan ini strategi cerdas Garuda ingin memberikan ‘pengaruh’ dan pelan-pelan memasang ‘candu’ kepada Barat agar ‘equal nation’ itu semakin jelas terbentuk. Apakah cara halus berbungkus industri ini mengusung semangat untuk kedigdayaan Indonesia kelak? Entahlah. Tapi, jika semestinya memajukan bangsa ini masih dengan gengsi akan Barat, cara Garuda layak diberi applause meski gemeretak gigi tak sanggup disurukkan.

#foto dari internet

Thursday, 6 September 2012

Lips Service dan Pandangi Munir dari Jauh


Sejak tiga hari belakangan, profile picture dan avatar teman-teman, baik di jejaring sosial Facebook maupun Twitter dipenuhi oleh gambar Munir dengan berbagai warna dan ekspresi. Kebanyakan berlatar belakang merah. Ada pula dilengkapi dengan kata 'Keberanian Bernama Munir'. Aksi ini tentu tak ada sebab. Pemasangan gambar aktivis hak asasi manusia, Munir, di akun jejaring sosial mereka adalah bentuk protes paling minimal terhadap pihak yang harus bertanggung jawab atas tragedi pembunuhan itu.

Voice of America (VOA) Indonesia juga menampilkan berita tentang 'peringatan' pembunuhan terhadap aktivis ini. Aksi teaterikal pun digelar sebagai protes terhadap pemerintah SBY yang terkesan menunda-tunda dan menebarkan janji palsu untuk menuntaskan kasus ini. Ketika VOA memberitakan aksi protes ini, tentu dunia internasional secara langsung diberitahu, begini lho keadilan hukum di Indonesia itu adanya. Dan, seharusnya ini menjadi cambuk bagi rezim SBY untuk segera menuntaskan hutang yang belum terbayar. Baiknya juga ada rasa malu ketika rakyat dan media membuka mulut atas kesewenang-wenangan hukum di sini. Berikut saya kutipkan berita dari VOA Indonesia yang termuat pada Rabu, 5 September 2012.

Kasus Pembunuhan Munir Harus Diungkap Secara Tuntas

Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (Kasum) mendesak agar kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalid diungkap hingga tuntas.
Delapan tahun telah berlalu sejak dibunuhnya aktivis hak asasi manusia, Munir Said Thalib pada 7 September 2004.

Ketua Tim Legal Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (Kasum) Chairul Anam kepada VOA, Selasa (4/9) menyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus bertanggung jawab untuk menuntaskan kasus kematian Munir.

Ia menilai Presiden Yudhoyono telah ingkar janji karena telah mengabaikan kasus tersebut, padahal beberapa saat setelah kematian Munir, Presiden berjanji akan menyelesaikan kasus tersebut secara tuntas.

Presiden, menurut Anam, sebenarnya saat ini dapat memerintahkan Jaksa Agung Basrief Arif dan Kapolri Jenderal Timur Pradopo melakukan penyidikan ulang untuk persiapan peninjauan kembali.

Ia menambahkan, jika Presiden tidak mau menyelesaikan kasus Munir secara tuntas berarti reformasi di badan Intelijen Negara tidak akan berjalan secara baik karena badan ini diduga terlibat dalam pembunuhan aktivis HAM Munir.

“[Presiden Yudhoyono] mengabaikan begitu saja padahal dia punya kuasa untuk itu. Tidak melakukan itu berarti menunjukan komitmen Presiden ini sangat lemah. Ia akan tercatat dalam sejarah sebagai presiden yang hanya tebar janji tanpa adanya tindakan konkrit kasus Munir,” ujar Anam.

“Jaksa Agung sudah memberi lampu hijau untuk PK (Peninjauan Kembali) tetapi memang saya nilai Jaksa Agung ragu-ragu karena memang tidak ada dukungan dari Presiden, sebab dia paham betul kasus ini kalau tidak ada dukungan dari Presiden juga susah karena dia tahu pelaku, konspirasinya kayak apa dan sebagainya. Itu problem yang mendasar.”

Anam menambahkan Komite Aksi Solidaritas untuk Munir juga terus meminta dunia
internasional untuk terus mempertanyakan penyelesaikan kasus pembunuhan Munir kepada Presiden Yudhoyono.

Suciwati, istri almarhum Munir, mengatakan penuntasan kasus kematian Munir ini sangat penting agar tidak ada lagi aktivis yang dibunuh atau disiksa karena perjuangannya. Suciwati mengatakan hingga saat ini dia terus berjuang agar kasus kematian suaminya dapat dituntaskan.

“Sampai saat ini saya masih terus meminta kasus ini dituntaskan karena ini persoalan kredibilitas bangsa kita seperti yang di ungkapkan presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono,” ujarnya.

Sementara itu Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha menyatakan Presiden Yudhoyono sangat mendungkung pengungkapan kasus kematian Munir. Sejauh ini, kata Julian, kasus yang berkaitan dengan kematian Munir sedang ditangani di kejaksaan dan kepolisian.

“Kalau memang ternyata ada temuan baru, secara prosedur bisa diterima, diteruskan sebagai suatu upaya pengungkapan baru. Untuk berkaitan dengan isu-isu berkaitan dengan HAM segera diproses, diselesaikan atau dituntaskan.

Munir Said Thalib tewas di dalam pesawat Garuda dalam penerbangan menuju Belanda pada 7 September 2004 lalu karena diracun. Dalam kasus ini, pengadilan telah memvonis dua orang yakni mantan pilot Garuda Indonesia, Pollycarpus Budihari Priyanto, dengan hukuman 20 tahun penjara dan mantan direktur utama PT Garuda Indonesia, Indra Setiawan, dengan hukuman 1 tahun penjara. Sedangkan mantan deputi penggalangan BIN Muchdi Purwoprandjono divonis bebas oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.


Ketika kita membaca berita ini, kita memperoleh, selain informasi akan protes terhadap kasus pembunuhan Munir yang tak kunjung selesai, di balik ini semua, bagaimana kasus ini seolah-olah disetting untuk selalu ditunda-tunda hingga kelak para pemprotes capek, bosan, kemudian melupakan. Bukankah pemerintah kita selalu punya alasan untuk menunda? Termasuk menunda untuk maju!

Kenapa? Delapan tahun sudah sejak peristiwa unsportif itu terjadi, kasus ini tak kunjung menemukan pangkalnya. Jelas terlihat, belum ada atau bahkan tak ada niat baik dari pemerintah untuk benar-benar berkomitmen membangun negara yang demokratis dan menjunjung hak-hak asasi manusia. Padahal, andai saja pemerintah jeli dan dilengkapi gaul, bagaimana kemerosotan kepercayaan rakyat terhadap rezim ini semakin dalam. Hal ini terlihat dari ungkapan keprihatinan pada negara yang gagal serta doa untuk Munir dan orang terdekatnya berseliweran di jejaring sosial.

Dan meski lebih banyak di jejaring sosial, hendaknya pemerintah tidak menggampangkan hal ini. Kita tentu ingat bagaimana negara-negara otoriter di Afrika Utara tumbang baru-baru ini justru karena pemprotes gigih unjuk gigi meraup massa di jejaring sosial. Hasilnya, Hosni Mubarak, Muammar Qaddafi, serta raja lainnya, rela tak rela harus melepaskan kukunya di sana! Rezim SBY harus belajar dari peristiwa ini meski kiamat masih jauh.

Dan, apakah rezim SBY tak membaca konteks ketika penundaan penyelesaian terhadap kasus ini semakin lama justru membawa bumerang bagi mereka. Lihatlah, lagi, di jejaring sosial, tiga atau lima tahun lalu masih sedikit anak muda yang kenal siapa Munir dan apa pekerjaannya. Namun sekarang, tanpa kenal secara langsung pun, hanya melihat orang ramai memakai gambarnya di Facebook dan Twitter, maka tidak sedikit anak muda ikut serta bersolidaritas memasang dan kemudian tentu mencari tahu siapa Munir. Atau sebaliknya. Untuk itu, ada bagusnya rezim ini tidak main-main dengan ungkapan 'Melawan Lupa' bagi Munir.

Jika penundaan pengusutan terhadap kasus ini semakin diperpanjang dan protes di sana sini setiap tahun, dalam kaca mata rezim ini, sudah menjadi ritual saja, maka bersiaplah akan ada gerakan atau ledakan paling besar dan masif atas kekecewaan rakyat terhadap pemimpinnya. Bukankah perut yang selalu diisi tanpa pernah melakukan ritual ekskresi akan meledak dan masuk peti? Sebenarnya malam belumlah begitu tua bagi rezim ini untuk pergi ke toilet dan berkata sejujur-jujurnya.

#foto dari grafisosial.wordpress.com

Monday, 3 September 2012

[Catatan] Perayaan yang Tertinggal dan Perayaan yang Alakadarnya


MEMANG agak aneh kelakuan kebijakan dimana teman-teman Robin yang bekerja di buruh pabrik. Pabrik itu memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2012 persis jatuh pada Sabtu, 1 September bulan sesudahnya. Alasan pabrik menurut teman Robin, karena hari itu umat Islam tengah menjalani ibadah puasa dan banyak instansi, departemen, serta pabrik sudah meliburkan karyawan mereka. "Dan kami merayakannya di tengah-tengah padang luas!" kata teman Robin.

Konstruksi aneh di kepala Robin bukan datang secara kebetulan. Ya, karena banyak hari lain yang bisa dipakai jika memang ingin memperingati. Itu kesatu. Kedua, perayaan ini sama sekali tak terlihat dari atribut yang teman Robin kenakan. Seperti pergi ke pabrik untuk menjahit dan memotong kain, begitu juga dengan pergi memperingati HK. Lalu, kebanggaan apa yang teman Robin dapatkan?

"Kita di sana hanya kumpul-kumpul, makan-makan, ketawa. Eh, kemaren ada dangdutan. Itupun yang ikut para yang di atas. Kita di bawah hanya berjemur sembari menyeruput es degan sambil nyengir kepanasan." Tentu saja cerita ini Robin tambahkan di sana-sini agar terlihat dramatis. Tapi, percayalah tak mengubah isi apa yang teman Robin katakan.

Sebagai buruh pabrik, Robin sadar, betapa senangnya teman-teman Robin mendapatkan baju kaos pembagian yang bahannya cukup tebal serta ada embel-embel motivasi di punggungnya. Baju kaos model begitu untuk beberapa teman Robin serta usia yang masih belia, cukup menyenangkan dan mengembalikan harapan mereka kepada pabrik yang pernah kejam dan terkesan sadis. Dengan kaos pembagian itu, pabrik membangun ulang citra yang pernah merosot dan mati-matian meyakinkan teman Robin.

Dan hasilnya, teman yang belia, masih melajang, serta tak dikejar-kejar deadline mantenan, cukup terhibur dan bersemangat menjahit serta memotong kain lagi. Sedangkan teman yang sudah cukup umur, hampir menginjak kepala tiga, single, serta merasa dikejar-kejar deathline mantenan, akhirnya mengundurkan diri. Dalam kepala Robin, cita-cita mereka ternyata lebih mahal dari kaos pembagian.

Sebenarnya Robin tak hendak bermaksud menulis perihal yang mendekati fitnah atau mengintip tapi buta segalanya. Cerita di atas fakta dan silahkan dikonfirmasi. Hanya saja mereka tidak selancang Robin. Tersurat, ada memang mereka keberatan sekaligus riang alang kepalang dengan dekonstruksi citra ini. Sekali lagi, mereka tidak seberani dan seterbuka Robin berbicara kelemahan-kelemahan di sana sini. Robin maklumi itu. Maka menulislah Robin.

PR Besar di Hari Kemerdekaan

Memperingati HK memanglah tidak hanya merayakan di sana sini dengan atribut yang merah putih. Jika Robin boleh sombong, adalah perjuangan memperoleh kemerdekaan itu yang harus diteruskan hingga sekarang dan masa mendatang. Jika 67 tahun silam para pendiri negeri ini memperjuangkannya berdarah-darah serta tak sebanyak sekarang beliau-beliau sebagai pencetus kemerdekaan, maka saat ini para pemikir atau pencetus banyak sudah. Kondisi ini, tanpa dijelaskan lagi, sudah bercerita betapa kemerdekaan ini tidak lagi dipenuhi oleh rodi dan romusha hanya dengan seragam yang sedikit berwarna.

Jika rodi dan romusha masih merajalela dan kita bangga dengan itu, maka HK tinggal simbol dan kering makna. Bukan berarti Robin melarang merayakan HK. Dan bukan Robin pesimis terhadap negara dan bangsa ini. Hanya saja pemilik negara dan bangsa ini -para kuasa dan kekuasaan (dalam kacamata kebijakan)- masih terlena dengan kemegahan-kemegahan yang baru diicap. Setelah sekian tahun duduk di ruangan penuh AC dan tak menyentuh gagang sapu, ternyata mereka juga tak kunjung puas. Ada lagi manuver yang kepentingannya jauh dari kepentingan pemilik sejati bangsa ini -rakyat- (dalam kacamata nasionalis).

67 tahun, ternyata rakyat belum merdeka. Jangankan merdeka seutuhnya, merdeka terhadap diri sendiri saja masih terkatung-katung. Ini terjadi tentu saja oleh kuasa dan kekuasaan, boleh juga dikatakan oleh pemilik modal terbesar, menengah, serta kecil di negeri ini. Bagaimana kekuasaan dan pemilik modal menghidupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan mereka tapi merenggut hati dan pikiran mereka. Tentu saja kerugian yang diderita tak bisa dinominalkan dengan Rp 2-5 juta per bulan. Mereka jika tak segera dibawa ke dokter nasionalis akan mengidap penyakit permanen. Dan secara tak sadar akan ditulari kepada orang-orang terdekat mereka, istri suami anak dan seterusnya. Inilah kerugian bangsa kita yang direncanakan serta diharapkan oleh bangsa lain yang hasrat untuk berkuasa tak pernah padam.

Keberadaan Robin di tengah mereka, tak banyak membawa pengaruh. Paling kecil pengaruhnya adalah kurangi menguping pembicaraan orang, kurangi bergosip di belakang orang, dan kurangi bersangka aneh-aneh terhadap orang. Untuk menumbuhkan mode hidup macam begini sangatlah sulit. Robin harus membukam di kamar karena capek mendengarkan cerita yang biasa-biasa saja dari tetangga perihal tetangga kedua. Mungkin ini tak ada sangkut pautnya apalagi efek kuasa seperti yang Robin guratkan di atas. Ya memang tak ada. Jelas sekali Robin hanya berfatwa macam-macam. Seperti fatma Jumat di kampung kecil di sudut kota ini.

Biarpun begitu Robin juga tetap menuliskannya. Mana tahu ada yang menilai catatan ini dari sudut pandang berlainan. Dan melakukan hal yang sama meski itu omong kosong bagi mereka yang biasa menjualnya demi keakraban dan sok kepedulian.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-67 17 AGUSTUS 2012

#foto internet

Monday, 27 August 2012

Robin & Keluarga Ucapkan Selamat Idul Fitri 1433H Mohon Maaf Lahir dan Batin Dunia Akhirat



LEBARAN kali ini Robin tak berkumpul dengan amak dan para abang serta uni di Bengkulu. Kebetulan tante Robin mengadakan lebaran juga di cikarang Bekasi. Maka Robin putuskan meramaikan lebaran di sana. Bukan tak ingin pulang, ya karena tiket pesawat sangat mahal buat Robin tahun ini. Maklum Robin baru sadar kalau 2012 ini Robin jauh dari amak dan abang serta (edisi Robin sakaw).

Di Cikarang Robin ditemani oleh selain tante dan pak etek, ada juga Fadilla Jamsi serta Fani Jamsi. Duo jamsi ini bisa dikatakan nakal, bisa dikatakan cukup cerdas. Nakal, karena mereka belum 17 tahun dan suka berteriak ke abang-abang penjual somay keliling. Dikatakan cerdas, mereka berdua sudah fasih mematikan dan menyalakan televisi, hehehe.

Nah, siang malam Robin habiskan waktu merapikan rumah, tentunya sebelum duo jamsi itu bangun dari mimpi hulahop mereka. Jika suda bangun, Robin baru sadar, pantesan etek malas-malasan membereskan rumah. Toh bakal diobrak-abrik duo jamsi lagi. Sendal sepatu yang tadinya di tempatnya tiba-tiba pindah ke atas kepala. Gayung mandi yang tadinya di kamar mandi eh sudah hijrah saja ke kamar tidur. Dan korek api jika tak
dikawal dengan baik bisa membakar rumah tetangga yang tengah mudik jika di tangan Dila. Maka Robin berubah seperti etek. Tak apa sendal di kepala, asal tak lewat kerongkongan saja :)

Begitulah lebaran Robin 2012 ini. Selain silahturahmi ke rumah sodara pak etek di sana, Robin juga diajak berlebaran keliling Jakarta bersama duo jamsi yang selalu ada alasan untuk berteriak. Mereka tak pernah kehabisan tenaga. Meski minum makan cuma susu, somay, bakso, es, dan gula-gula, cadangan energi tak pernah disangsikan. Berteriak adalah salam selamat datang dan keakraban!

Oiya, lebaran ini Robin sampaikan selamat lebaran semoga banyak dapat THR dan angpao dimana-mana. Yang paling penting tentu meraih kemenangan dalam bentuk apapun. Selamat lebaraaaaaaan!

#foto koleksi pribadi

Si Robin Galau Menjelang Lebaran



CERITANYA begini bror. Menjelang lebaran, galau akan baju baru memang selalu melanda. Bagaimana tidak, jika seseorang berduit cukup namun tak punya banyak waktu melalang ke mal-mal, ini mampu mengguncangkan dunia persilatan si Robin. Ditambah lagi riuh ramai mereka yang gajian terlebih dahulu dan berteriak sepulang dari lapak penjualan baju. Guncangan makin tak terelakkan.

Akhirnya Robin memutuskan menutup mata. Ketika Honda Jazz parkir di depan kosan dan menunggu menenggerkan baju-baju ke bagasinya, Robin gigit jari dan menangis semalam; takkan ada moment memilih baju dan berlagak riang di fitting room, hikz. Lebaran tiba-tiba lebih kejam daripada macetnya jalur Nagreg.

Untungnya ada hadiah dari Bali beberapa waktu lalu. Itupun pas-pasan dipakai di tengah keluarga besar. Maklum, model santai dan tak ribet. Sebenarnya ini gambaran watak aseli. Bahwa Robin itu tak ingin ribet dan tak prosangat feminin. Cukup bercelana jins atau belel dengan atasan longgar mudah bergerak seperti orang hendak tawuran plus selendang dijejalkan seadanya di kepala. Cukup! Tak lebih dan tak perlu
kembang-kembang murahan.

Tapi hati, jantung, dan kesialan tak hendak kompromi. Maka lahirlah hasrat yang tidak-tidak; ingin jilbab modis semodis artis sinetron dengan blus muslim yang harganya selangit. Maklum itu bahan blus 1000% catton. Dan, kebanyakan dipakai oleh perempuan muda yang broker; moneygirl! Bagaimana dengan Robin yang gajinya seangin di atas UMR kota ini. Aih, jangan berlagak kaya deh! Kalau miskin tak usah sok kaya. Robin cries so bad!

Tapi bukan Robin namanya kalau tak mampu memuaskan diri sendiri (bukan dengan masturbasi lho, mbekekek!), tentu dengan cara yang masuk akal dan sangat manusiawi. Caranya, melihat-lihat model jilbab modis dan sangat update menit itu. Dengan melihat saja, Robin merasa itu sudah cukup. Untuk membeli dan mengenakannya, tunggu dulu! Pertama karena kemampuan rupiah yang memang cekak, kedua itu model lu banget gak sik?
Dan tanya kedua ini yang memikirkan ulang untuk berbelanja dan ikut modis. Robin has won!

Cuci Mata Kedua; Pesta Nikah Penuh dengan Karyawan Modis!

Nah, ini satu lagi peluang cuci mata tanpa mesti mengeluarkan uang. Setiap perempuan yang tampak, jilbab dan pakaian muslimah mereka memang cantik-cantik. Soal serasi dengan kulit itu soal nanti. Yang jelas, Robin salut dengan percaya diri yang mereka tampilkan di sana. Jika sehari-hari mereka cukup berjilbab praktis dan apa adanya, dalam moment itu tiba-tiba mereka berubah sangat Iran, hehe.

Itu terjadi hari lalu. Hari ini Robin dengan ringan hati browsing akan model jilbab. Wah, benar adanya. Model yang mereka kenakan kemaren benar-benar tengah update bror! Hampir semua model yang tampak kemaren persis ditampilkan oleh mbah google hari ini. Paling harga dan warna saja yang berbeda. Dan mereka benar-benar berani. Salute!

Robin pulang dengan hati riang. Robin sadar, untuk memuaskan hasrat berbelanja tak perlu harus memiliki barang-barang itu. Karena jika menurutkan mata yang lapar, esok hari Robin akan jadi pengamen dengan jilbab seharga pendapatan seminggu pengamen di Nol Kilometer Jogja. Maka Robin tetap seperti orang kampung dengan jilbab seadanya, jauh dari kesan modis, apalagi sebagai orang beruang tebal.

Kemudian Robin sadar, bagaimana fenomena jilbab dimanfaatkan oleh para desainer perempuan muda dalam dan luar negeri. Jilbab-jilbab impor memenuhi pasar kaki lima di pelosok negeri. Model jilbab yang dipakai perempuan-perempuan Iran juga menyesaki mata setiap lewat di keramaian, termasuk di pesta-pesta. Modis dan casual dalam berjilbab beberapa tahun silam ini menjadi daya tarik perempuan muda untuk berjilbab. Apakah hati dan pikiran mereka juga berjilbab, Robin tak memikirkan dan menuliskan itu.

Fenomena ini sebenarnya sangat Robin nikmati sebagai tamparan kebudayaan dalam perkembangan dunia islam di tengah-tengah bumi yang semakin menuhankan uang dan tunduk pada pemilik modal. Bagaimana tidak, Robin saja sudah enggan memakai jilbab dua tahun silam. Alasannya, hello udah gak jaman lagi ya makai jilbab model ibu-ibu begitu! Lagian, kok pede banget ya tampil serampangan dengan model jilbab jaman Cleopatra itu. Alamak! Robin benar-benar hilang akal!

Robin yakin, pikiran ini juga tumbuh subur di dalam benak kaum perempuan muda islam. Lihat saja di mal-mal (hehe, ketauan ya Robin suka windows shopping), ketika salat Ied, ketika main di Ancol, ketika silahturami ke rumah-rumah, ketika nongkrong di TMII, dan ketika nyicip es krim di pesta kawinan, mereka tak ada lagi pakai jilbab model dua tahun silam. Serba baru, modis, dan cukup murah kok harganya, berkisar Rp 25-75 ribu saja.

Jilbab dengan modelnya yang semakin modis, casual, dan meriah menjadi skala prioritas sendiri ketika berbelanja. Kedudukan jilbab di lemari pakaian sudah sejajar dengan kemeja, blus, celana, dan pakaian lengkap lainnya. Itu menandakan, di tengah keluarga muslim (ingat! muslim saja ya, katakanlah itu islam KTP), posisi jilbab semakin dihargai meskipun awalnya hanya untuk gaya-gayaan.

Robin bangga dan senang dengan kemajuan ini. Meski Robin tak ikut dalam modis-modisan, Robin cukup puas hanya dengan mlototin di toko online atau teman-teman yang belajar modis. Bukan Robin tak mampu beli atau sok anti modis. Karena hanya semata Robin adalah pria dewasa yang ingin berjualan jilbab, hehehe *kemplang!

#foto internet