Skip to main content

[Catatan] Perayaan yang Tertinggal dan Perayaan yang Alakadarnya


MEMANG agak aneh kelakuan kebijakan dimana teman-teman Robin yang bekerja di buruh pabrik. Pabrik itu memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2012 persis jatuh pada Sabtu, 1 September bulan sesudahnya. Alasan pabrik menurut teman Robin, karena hari itu umat Islam tengah menjalani ibadah puasa dan banyak instansi, departemen, serta pabrik sudah meliburkan karyawan mereka. "Dan kami merayakannya di tengah-tengah padang luas!" kata teman Robin.

Konstruksi aneh di kepala Robin bukan datang secara kebetulan. Ya, karena banyak hari lain yang bisa dipakai jika memang ingin memperingati. Itu kesatu. Kedua, perayaan ini sama sekali tak terlihat dari atribut yang teman Robin kenakan. Seperti pergi ke pabrik untuk menjahit dan memotong kain, begitu juga dengan pergi memperingati HK. Lalu, kebanggaan apa yang teman Robin dapatkan?

"Kita di sana hanya kumpul-kumpul, makan-makan, ketawa. Eh, kemaren ada dangdutan. Itupun yang ikut para yang di atas. Kita di bawah hanya berjemur sembari menyeruput es degan sambil nyengir kepanasan." Tentu saja cerita ini Robin tambahkan di sana-sini agar terlihat dramatis. Tapi, percayalah tak mengubah isi apa yang teman Robin katakan.

Sebagai buruh pabrik, Robin sadar, betapa senangnya teman-teman Robin mendapatkan baju kaos pembagian yang bahannya cukup tebal serta ada embel-embel motivasi di punggungnya. Baju kaos model begitu untuk beberapa teman Robin serta usia yang masih belia, cukup menyenangkan dan mengembalikan harapan mereka kepada pabrik yang pernah kejam dan terkesan sadis. Dengan kaos pembagian itu, pabrik membangun ulang citra yang pernah merosot dan mati-matian meyakinkan teman Robin.

Dan hasilnya, teman yang belia, masih melajang, serta tak dikejar-kejar deadline mantenan, cukup terhibur dan bersemangat menjahit serta memotong kain lagi. Sedangkan teman yang sudah cukup umur, hampir menginjak kepala tiga, single, serta merasa dikejar-kejar deathline mantenan, akhirnya mengundurkan diri. Dalam kepala Robin, cita-cita mereka ternyata lebih mahal dari kaos pembagian.

Sebenarnya Robin tak hendak bermaksud menulis perihal yang mendekati fitnah atau mengintip tapi buta segalanya. Cerita di atas fakta dan silahkan dikonfirmasi. Hanya saja mereka tidak selancang Robin. Tersurat, ada memang mereka keberatan sekaligus riang alang kepalang dengan dekonstruksi citra ini. Sekali lagi, mereka tidak seberani dan seterbuka Robin berbicara kelemahan-kelemahan di sana sini. Robin maklumi itu. Maka menulislah Robin.

PR Besar di Hari Kemerdekaan

Memperingati HK memanglah tidak hanya merayakan di sana sini dengan atribut yang merah putih. Jika Robin boleh sombong, adalah perjuangan memperoleh kemerdekaan itu yang harus diteruskan hingga sekarang dan masa mendatang. Jika 67 tahun silam para pendiri negeri ini memperjuangkannya berdarah-darah serta tak sebanyak sekarang beliau-beliau sebagai pencetus kemerdekaan, maka saat ini para pemikir atau pencetus banyak sudah. Kondisi ini, tanpa dijelaskan lagi, sudah bercerita betapa kemerdekaan ini tidak lagi dipenuhi oleh rodi dan romusha hanya dengan seragam yang sedikit berwarna.

Jika rodi dan romusha masih merajalela dan kita bangga dengan itu, maka HK tinggal simbol dan kering makna. Bukan berarti Robin melarang merayakan HK. Dan bukan Robin pesimis terhadap negara dan bangsa ini. Hanya saja pemilik negara dan bangsa ini -para kuasa dan kekuasaan (dalam kacamata kebijakan)- masih terlena dengan kemegahan-kemegahan yang baru diicap. Setelah sekian tahun duduk di ruangan penuh AC dan tak menyentuh gagang sapu, ternyata mereka juga tak kunjung puas. Ada lagi manuver yang kepentingannya jauh dari kepentingan pemilik sejati bangsa ini -rakyat- (dalam kacamata nasionalis).

67 tahun, ternyata rakyat belum merdeka. Jangankan merdeka seutuhnya, merdeka terhadap diri sendiri saja masih terkatung-katung. Ini terjadi tentu saja oleh kuasa dan kekuasaan, boleh juga dikatakan oleh pemilik modal terbesar, menengah, serta kecil di negeri ini. Bagaimana kekuasaan dan pemilik modal menghidupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan mereka tapi merenggut hati dan pikiran mereka. Tentu saja kerugian yang diderita tak bisa dinominalkan dengan Rp 2-5 juta per bulan. Mereka jika tak segera dibawa ke dokter nasionalis akan mengidap penyakit permanen. Dan secara tak sadar akan ditulari kepada orang-orang terdekat mereka, istri suami anak dan seterusnya. Inilah kerugian bangsa kita yang direncanakan serta diharapkan oleh bangsa lain yang hasrat untuk berkuasa tak pernah padam.

Keberadaan Robin di tengah mereka, tak banyak membawa pengaruh. Paling kecil pengaruhnya adalah kurangi menguping pembicaraan orang, kurangi bergosip di belakang orang, dan kurangi bersangka aneh-aneh terhadap orang. Untuk menumbuhkan mode hidup macam begini sangatlah sulit. Robin harus membukam di kamar karena capek mendengarkan cerita yang biasa-biasa saja dari tetangga perihal tetangga kedua. Mungkin ini tak ada sangkut pautnya apalagi efek kuasa seperti yang Robin guratkan di atas. Ya memang tak ada. Jelas sekali Robin hanya berfatwa macam-macam. Seperti fatma Jumat di kampung kecil di sudut kota ini.

Biarpun begitu Robin juga tetap menuliskannya. Mana tahu ada yang menilai catatan ini dari sudut pandang berlainan. Dan melakukan hal yang sama meski itu omong kosong bagi mereka yang biasa menjualnya demi keakraban dan sok kepedulian.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-67 17 AGUSTUS 2012

#foto internet

Comments

Popular posts from this blog

Jakarta Undercover, Seksualitas Membabi Buta Orang-orang Ibu Kota Negara

Judul : Jakarta Undercover 3 Jilid (Sex 'n the city, Karnaval Malam, Forbidden City) Pengarang : Moammar Emka Penerbit : GagasMedia Tebal : 488/394/382 halaman Cetakan : 2005/2003/2006 Harga : Mohon konfirmasi ke penerbit Resensiator : Adek Risma Dedees, penikmat buku Jakarta Undercover, buku yang membuat geger Tanah Air beberapa tahun silam, pantas diacungi empat jempol, jika dua jempol masih kurang. Buku ini menyuguhkan beragam peristiwa dan cerita malam yang kebanyakan membuat kita ternganga tak percaya. Kebiasaan atau budaya orang-orang malam Jakarta yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ini bukan perihal percaya atau tidak, namun merupakan tamparan fenomena dari kemajuan itu sendiri. Menurut pengakuan penulis dalam bukunya, Moammar Emka (ME), yang seorang jurnalis di beberapa media lokal Ibu Kota, tentu saja cerita ini didapatkan tidak jauh-jauh dari pergulatan kegiatan liputannya sehari-hari. Tidak kurang enam tahun menekuni dunia tulis menulis, ME pun menelurkan ber...

Review Encoding/Decoding by Stuart Hall

Stuart Hall mengkritik model komunikasi linear (transmission approach) –pengirim, pesan, penerima- yang dianggap tidak memiliki konsepsi yang jelas tentang ‘momen-momen berbeda sebagai struktur relasi yang kompleks’ serta terlalu fokus pada level perubahan pesan. Padahal dalam proses pengiriman pesan ada banyak kode –pembahasaan- baik yang diproduksi (encode) maupun proses produksi kode kembali (decode) sebagai suatu proses yang saling berhubungan dan itu rumit. Proses komunikasi pada dasarnya juga berkaitan dengan struktur yang dihasilkan dan dimungkinkan melalui artikulasi momen yang berkaitan namun berbeda satu sama lainnya –produksi, sirkulasi, distribusi/konsumsi, reproduksi (produksi-distribusi-reproduksi). Landasan Hall atas pendekatan ini adalah kerangka produksi komoditas yang ditawarkan Marx dalam Grundrisse dan Capital, terminologi Peirce tentang tanda (semiotic), serta konsep Barthes tentang denotatif dan konotatif yang bermuara pada ideologi (denotative-connotative-id...

Review The Commodity as Spectacle by Guy Debord

Menurut Debord sistem kapitalisme yang mendominasi masyarakat menciptakan kesadaran-kesadaran palsu para penonton atau audiens untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan, baik berupa barang (komoditas) ataupun perilaku konsumtif. Kesadaran palsu ini dibangun melalui citra-citra yang abstrak atau bahkan irrasional, yang dianggap rasional oleh penonton, sebagai bentuk pengidentifikasian diri dalam relasi sosial. Relasi sosial ini bergeser jauh dan dimanfaatkan oleh era yang berkuasa sebagai komoditas dalam dunia tontonan. Kaum kapitalis mempunyai kontrol yang kuat atas apapun termasuk mampu mengubah nilai-nilai personal menjadi nilai tukar. Hal ini sejalan dengan otensitas kehidupan sosial manusia, dalam pandangan Debord, telah mengalami degradasi dari menjadi (being) kepada memiliki (having) kemudian mempertontonkan (appearing). Ketiga aspek ini selalu dikendalikan atau disubtitusikan dengan alat tukar yakni uang. Ketika ketiga aspek ini tidak terpenuhi, penonton tidak hanya terjajah (he...