Thursday, 7 May 2009

Bunuh Diri, Solusi ‘Cerdas’ yang Tak Pantas

Oleh Adek Risma Dedees

Baru-baru ini, hampir disetiap media massa baik cetak maupun elektronik, lokal maupun nasional, kembali membahas tragedi pembunuhan dengan cara bunuh diri. Apakah itu dengan gantung diri, seperti yang dilakukan Hendriadi, warga Jorong Gantiang, kenagarian koto Tangah, kabupaten Agam (Singgalang, Minggu 26/4), memotong urat nadi, meminum racun, melompat dari ketinggian, menusuk bagian tubuh, dan menembak diri, seperti yang dilakukan oleh Kapolsek Padang Utara Ajun Komisaris Polisi Asril Radjam. Ini hanya segelintir dari kasus pembunuhan di sekeliling kita. Belum lagi dari kalangan rakyat biasa, bunuh diri juga sesuatu yang jamak. Namun, karena yang bunuh diri hanya rakyat biasa dan tidak cukup punya nilai berita maka bunuh diri seorang buruh miskin, pemuda yang sedang patah hati atau anak yang gagal masuk universitas tidak begitu menjadi sorotan.

Semakin maraknya kasus bunuh diri yang tidak hanya dilakukan dari kalangan masyarakat biasa namun juga oleh mereka yang di ‘atas-atas’ sana, membuktikan kalau bunuh diri sudah mendapat ‘tempat’ di hati masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Bunuh diri telah dianggap sebagai sebuah solusi yang ‘cerdas’ untuk menyelesaikan masalah. Dengan bunuh diri semua problema yang sedang mendera dan membayang-bayangi seseorang (mungkin) akan terselesaikan dengan lebih mudah dan sempurna. Padahal anggapan ini sangat tidak sesuai dan bertentangan dengan hakikat kehidupan manusia itu sendiri.

Kenapa mereka bunuh diri? Apakah karena faktor ekonomi, dililit hutang dan kemiskinan misalnya, depresi, psikosis atau gelisah, dipermalukan atau direndahkan oleh teman sejawat maupun pacar, atau pun juga karena tarjadinya kekerasan keluarga, termasuk fisik, atau penyalahgunaan seks. Banyak faktor yang melatarbelakangi kasus ini, yang membuatnya semakin ‘digemari’ di masyarakat.

Ketika seseorang mencoba menyudahi kehidupan ini dengan disengaja ataupun dipaksa (bunuh diri) maka semakin teranglah bahwa mereka (korban bunuh diri) sebelumnya tidak mengetahui bagaimana kehidupan setelah mati. Pengetahuan setelah mati bukankah diperoleh dengan mempelajari agama dan kepercayaan yang dianut. Untuk daerah Sumbar, pengetahuan ini diajarkan tidak hanya di bangku sekolah, namun juga di tempat-tempat nonformal lainnya. Dan itu pun tidak hanya diajarkan pada anak-anak yang sedang menempuh pendidikan. Di lembaga lainnya juga seperti itu. Katakanlah di sebuah departemen, instansi, lembaga publik baik swasta maupun negeri, walupun porsinya tidak sebanding pada dunia pendidikan.

Kasus bunuh diri akan berbeda jika pada negara atau daerahnya tidak diajarkan tentang kehidupan setelah mati. Indonesia yang terkenal dengan negara religius, hampir pada setiap lembaga mempunyai badan atau semacam bidang yang menangani tentang keagamaan. Berbeda jika kasus ini dibandingkan dengan Korea, di sekolah anak-anak, remaja, maupun dewasa tidak belajar agama. Mereka hanya diajarkan tentang moral, baik dan buruk bukan tentang kehidupan lain setelah dunia dan mati. Mereka tidak mengenal akan ada balasan tentang apa yang telah diperbuat sewaktu hidup di dunia. Mereka tidak tahu tentang surga dan neraka. Hal ini sangat bertolak belakang dengan Indonesia. Walaupun demikian, tetap saja kasus bunuh diri semakin menonjol di negara ini. Alasannya, mungkin saja agama dan kepercayaan sudah tidak dipelajari dan tidak dipahami lagi maka wajarlah seseorang tidak mengetahui betapa hinanya mati dengan cara seperti ini.

Indonesia, salah satu negara yang sedang berkembang, masalah ekonomi, sosial, kebudayaan, kesehatan, kependudukan maupun keagamaan tentu tidak begitu stabil jika dibanding dengan negara maju lainnya. Ketidakstabilan ini salah satu pemicu yang menyebabkan depresi, strees, dan kehilangan kontrol diri ketika menghadapi permasalahan diri. Walaupun demikian, bukan berarti bunuh diri dianggap jalan utama untuk menyelesaikan masalah. Apalagi jika bunuh diri dianggap salah satu cara untuk mengurangi kepadatan dan perkembangan penduduk, tentu cara ini sangat tidak elegan, tidak bijak, dan tidak pantas.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^