Tuesday, 25 October 2011

Perempuan Penjual Pacai



Ayah telah membuka kedai serba ada ini sejak aku dilahirkan. Entah apa yang ada di benak ayah waktu itu, hingga beliau tertarik membuka kedai macam begini. Apa saja yang diinginkan orang-orang kampung selalu tersedia di kedaiku. Mulai dari perlengkapan mandi, alat-alat masak, jarum pentul, hingga batu asah. Jangan heran, setiap hari kedaiku ramai oleh pembeli. Tapi, sekarang ayah telah tiada.
Di kedai warisan ayah ini, pacai1lah yang paling banyak dicari orang. Karena, di kampungku, setiap pesta perkawinan, ritual kematian, doa-doa menyambut bulan suci, serta kegiatan tradisi tertentu, selalu terasa kurang lengkap jika tak ada pacai. Serbuk pacai yang mengeluarkan aroma khas apalagi ketika dibakar, menjadi daya tarik dan magis, turun temurun bagi orang-orang di kampungku. Makanya, pacai menjadi barang wajib ada di kedaiku.
Bagiku sendiri, bau pacai seperti bau bunga sedap malam yang diterpa angin sore. Suatu kali ibu menaburkan serbuk pacai ke dalam bara api di tengah rumah menjelang senja. Semerbak aromanya menyusup ke segala penjuru ruangan dan relung jiwa. Membuat kami berdecak kagum sekaligus khusyuk. Ah pacai. Ingat pacai aku jadi ingat ayah.
Pembeli pacai tak menentu. Kadang anak-anak, kadang para remaja yang disuruh orang tuanya. Tapi, lebih sering para orang tua. Setiap orang yang membeli pacai di kedaiku, selalu aku tanyakan untuk apa pacai digunakan. Bermacam jawaban yang dilontarkan.
“Untuk pesta si Meri,” atau “Ini lagi mendoa kecil-kecil,” serta “Pak Datuk ‘telah pergi’ tadi malam,” jawab orang-orang pembeli pacai kepadaku. Jawaban beragam itu membuat perasaanku kadang enak dan kadang mengharu biru.
Aku yang dibesarkan oleh ayah dan ibu di kedai serba ada ini, membuat diriku berbakat dan terampil berdagang. Kata ibu darah berdagang itu aku warisi dari ayah. Aku sudah memulainya sekitar sepuluh tahun lalu ketika aku mulai pintar berhitung. Sejak itu, ayah dan ibu mempercayaiku melayani pembeli di kedai, tentu hanya untuk barang-barang dengan harga rendah, ya seperti pacai ini.
Berdagang pacai bagiku sangat menyenangkan. Karena, selain selalu dicari-cari orang setiap hari, keuntungan yang didapat juga tidak sedikit. Aku berdagang pacai dengan keuntungan hampir mencapai lima kali lipat dan, tanpa saingan. Aku membeli pacai seharga dua puluh ribu rupiah per kilogram. Setibanya di kedai, pacai kuecer seharga sepuluh ribu rupiah per ons-nya.
Biasanya serbuk-serbuk pacai kubungkus kecil-kecil dengan harga lima ribu rupiah per bungkus. Semua bungkusan itu kujejerkan di atas meja biro. Meja dimana timbangan, gunting, selotip, kantung plastik, rokok, korek api, kertas kado, dan laci duitku bersarang. Meja ini menjadi sangat penting di kedaiku. Aku menunggu kedai seharian duduk di kursi yang berhadapan dengan meja biro ini.
“Meja ini lambang kebesaran dan keseriusan kita berdagang,” jelas ibu sambil mengelap-elap meja biro. Acap kali tampak olehku ibu tengah membayangkan almarhum ayah yang sering duduk di sana.
Dulu, aku kerap diajak ayah membeli pacai ke kota, nun jauh di sana dari tempat tinggal kami. Aku hapal tempatnya. Sebuah kota yang memakan waktu sepuluh jam perjalanan bus. Tengah malam kuberangkat, pada tengah malam berikutnya aku telah di rumah kembali. Cukup melelahkan. Tapi aku merasa ada yang kembali terpuaskan dalam batinku.
Setiap pulang dari kota, aku selalu membawa tidak kurang sepuluh kilogram pacai. Dua hari kuhabiskan untuk memecah-mecah bongkahannya menjadi bongkahan-bongkahan yang lebih kecil. Kemudian membungkus, mengecer, dan menatanya di meja biro. Ibu siap menjualnya di kedai. Sedangkan aku, seharian penuh menjajakan pacai ke kampung-kampung.
Bertumpukan pada sepeda motor tua ayah, kukepak pacai ke dalam dua kardus aqua gelas. Pun beberapa papan pacai yang telah disusun kugantung pada setang sepeda motor itu. Agar orang tahu aku sedang berjualan pacai keliling kampung. Sebelum matahari meninggi aku sudah harus meninggalkan rumah. Kumulai dengan arah barat kampung, agar tak menantang mentari yang panasnya membuatku tidak hanya bermandi peluh tapi juga seperti ikan teri yang siap dikeringkan.
Aku mulai menyusuri sudut-sudut perkampungan dan ladang-ladang. Pasar-pasar kecil di setiap kampung tak ketinggalan kusinggahi. Menawarkan pacai ke kedai-kedai kecil. Jika beberapa tahun lalu hanya aku dan ayah yang menjual pacai, sekarang aku akan membuka pintu bagi penjual lain untuk menjual pacai sepertiku. Mereka akan kujadikan hulu hasratku menjual pacai sekaligus pasangan elok meraup keuntungan pasar bersama. Alhasil, tak satu kedai pun menolak tawaranku menjual pacai pada mereka. Tak jadi soal jika keuntungan yang kudapat sedikit berkurang ketika menjual pacai di kedaiku.
Berjualan pacai keliling seperti ini, membuat aku merasa seperti malaikat bagi pembeli. Aku sering berandai-andai, jika aku tak lagi berjualan pacai, tentu orang-orang yang akan menikahkan anaknya merasa ada yang kurang. Tidak saja kurang pacai, tapi menyusul kurang sah, kurang khidmat, kurang sakral, dan kurang serius tentunya.
Begitu juga dengan orang-orang yang akan menguburkan anggota keluarga mereka yang meninggal. Pastilah orang lain menganggap si anu menguburkan saudaranya seperti menguburkan kucing mati saja. Tak ada harum-haruman. Tak ada serbuk-serbukan. Sang keluarga sepertinya tak menghormati arwah dan jasa-jasa si mayat ketika hidup. Maka, tak jarang pula aku mengecer pacai kepada orang-orang yang tengah mempersiapkan pesta pernikahan atau sedang dilanda duka seperti itu.
Suatu petang kubelokkan sepeda motorku ke arah timur perkampungan. Matahari masih menggantung condong ke laut. Di belakangku beberapa bungkus pacai masih tersisa. Aku ingin dua kardus pacai ludes terjual hari ini. Besok aku akan kembali. Menagih hasil penjualan di kedai-kedai kecilku bahkan melebarkan pijakan roda-roda sepeda motorku. Mungkin ke utara dan selatan atau bisa saja ke kampung seberang.
“Kedai-kedai kecil di pelosok kampung biasanya tutup tidaklah di petang hari, biasanya sehabis magrib,” gumamku meyakinkan diri.
Memasuki perkebunan ubi jalar, beberapa lelaki masih sibuk dengan cangkul mereka. Kuoper persneling ke nomor dua, sedikit melambat. Undukan-undukan tanah memanjang dipenuhi tumbuhan menjalar terbentang sejauh mata memandang. Bunga-bunga ungu keputihan memenuhi tiap helai daunnya. Bertanda tumbuhan ini sedang mekar-mekarnya dan siap diserbu oleh kumbang-kumbang. Para lelaki tadi sibuk membersihkan rumput-rumput liar di sela-sela undukan.
“Tak lama lagi para peladang ini akan sumringah, memanen ubi jalar mereka,” pikirku dalam hati.
“Hei Nak! Mari singgah dulu,” lambai seorang pak tua, sepelemparan batu dariku yang tengah asyik dengan pemandangan sore itu.
Aku mendekat dengan wajah penuh senyum. Di dangau pak tua, aku menawarkan pacai sambil melepas lelah.
“Bapak mau membeli pacai? Jangan-jangan nanti ada anaknya yang mau pesta,” tawarku ramah.
“O iya. Bapak mau membeli pacai-pacaimu.” Katanya dengan sungging senyum yang terasa aneh bagiku.
“Pacai-pacaiku? Memangnya Bapak mau beli berapa banyak?” selaku penasaran.
“Memang yang tersisa berapa, Nak?” balik pak tua bertanya dengan suaranya yang berat.
“Masih lima papan pacai lagi Pak,” sambungku. “Satu papan ada dua puluh bungkus kecil. Satu bungkus lima ribu rupiah. Bapak boleh dapat harga murah kok?” Tawarku pada pak tua sambil membuka ikatan kardus pacai.
“Bapak mau ngecer di rumah?”
“Ndak, Cuma buat keluarga.”
“Istri dan anak-anak bujang Bapak suka dengan pacai,” pak tua menjawab santai. Ia berkacak pinggang melempar pandang membelakangiku. Rambut kelabunya turut mempertegas keringkihan tubuh pak tua. Mulutnya berdesis, mengucapkan kata-kata yang tak kutangkap maknanya.
“Buat apa saja Pak?” buruku lagi.
“Ngerokok, dicampur sambel, dan ngusir nyamuk,” jawab pak tua sekenanya sambil berbalik ke arahku.
“Lha, bukannya pacai buat nikah dan ada kematian saja Pak,” aku makin penasaran.
“Bapak mau tiga papan Nak!” pintanya tanpa menggubris kepenasaranku.
Cepat-cepat aku membuka kardus dan menyisihkan tiga papan pacai.
“Hehehehe,” suara pak tua menyambut ketika menerima pacai. Deretan gigi hitamnya masih begitu jelas di senja ini. Guratan di wajahnya pun bercerita kalau ia telah hidup puluhan tahun dan lelaki pekerja keras.
“Besok saya mampir lagi. Mau kan Bapak jadi pelanggan saya? Eh habis berapa lama sebanyak itu Pak?” Tanyaku.
“Paling seminggu Nak,” jawabnya cengengesan sambil mengeluarkan beberapa lembar lima puluhan ribu dari kantung bajunya yang lusuh dan dekil.
Ketika jemari kami bersentuhan terasa sesuatu yang dingin dan kaku. Dug, jantungku berdesir. Sejenak aku merinding. “Tak biasanya,” pikirku. Di detik berikutnya aku berusaha bersikap wajar. Wajah pasinya tetap cengengesan seperti tak merasakan keterkejutanku setengah mati dengan buku-buku tangannya itu. Kubalas dengan anggukan dan senyum pendek. Segera kukantongi lembaran uang tadi dan menyeret sepeda motorku menjauh dari pak tua.
“Aku pamit dulu Pak. Sudah mulai gelap.”
Pak tua hanya mengangguk sembari membuka bungkusan pacai. Sebelum aku meninggalkan dangau pak tua, lelaki itu sudah mengunyah-kunyah pacai. Aku tambah ngeri.
“Baru kali ini ada orang yang makan pacai,” gumamku, sambil menghidupkan lampu sepeda motor.
Di tengah jalan, perempuan paruh baya membawa keranjang bunga menyetopku. Ia meminta tumpangan hingga ke pertigaan jalan. Aku tak bisa. Namun, ia terpana ketika mengetahui aku menjual pacai pada pak tua di dangau sana.
“Pak tua itu bukan peladang. Dan ini pemakaman suamiku serta orang-orang kampung sini,” ujar perempuan itu.
Aku membisu. Ketika aku menoleh ke dangau tadi, dari kejauhan samar-samar pak tua melambaikan tangan ke arahku.

1Pacai: serbuk cendana atau setanggi (kemenyan wangi)

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^