Skip to main content

Posts

Perfect Vibe: Perjalanan dan Perpindahan

Menginjak setahun bermukim di Jakarta, saya memutuskan untuk pindah tempat tinggal meski masih dalam wilayah yang sama. 2018 pun dimulai dengan menghuni kamar baru, ibu-bapak kos baru, teman-teman kos baru, asisten rumah tangga yang baru, dan kesibukan yang baru juga. Saya sengaja mengambil kamar yang menghadap ke atap-atap rumah penduduk, langsung bertatapan dengan langit, awan, dan matahari. Efeknya, sepanjang hari dan hampir tengah malam pintu kamar dan jendela selalu terbuka lebar menampung semua yang datang dari luar: udara dari empat penjuru, debu dari genteng-genteng, sinar mentari-bulan-bintang, suara nakal dari atap plastik tetangga yang lepas pakunya, serta semilir angin yang menjalar hingga ke lantai di bawah meja. Suasana ini tidak didapatkan setahun belakangan. Pernah terpikirkan tapi tak kunjung diwujudkan karena hari-hari penuh diisi dengan mengabdi kepada visi misi lembaga tempat bekerja. Jadi, pulang dari kerja diisi dengan istirahat, bermain game di bawah sinar la...

Aruni dan Adinda: Penyuguh Sejuta Tawa

2017 adalah tahun yang indah. Tahun yang menghadirkan dua gadis kecil ke tengah keluarga besar. Amak kemudian dipanggil nenek, aku dipanggil tante. Pertama kali Aru sampai di rumah dari RS, satu keluarga hatinya penuh suka cita. Amak tidak berhenti dan tidak capek-capek menggendong Aru. Padahal Aru yang baru sampai di bumi dua hari hanya tidur dan tidur. Tapi amak memamerkan kepada siapa saja yang datang ke rumah baik yang sengaja melihat Aru maupun orang yang datang berbelanja, hahaha. Aku sendiri tidak bisa melakukan kerjaan lain selain yang berkaitan dengan Aru. Membaca tidak, mengikuti obrolan di grup whatsapp juga tidak, apalagi menonton. Hanya bergelut untuk urusan Aru dan mamanya. Aru cucu pertama amak sekaligus yang membuat aku sah sebagai tante. Begini rasanya dipanggil tante. Hatiku seperti taman bunga, di mana banyak kupu-kupu berterbangan, anak-anak kecil berlarian, dan orang-orang duduk bercengkerama santai di rumput hijau. Sinar mentari pagi menyemburkan kilauan di se...

Marlina dan Empat Film Lainnya

Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak mau tidak mau dapat dikatakan sebagai pembangkit selera saya untuk menonton dan menulis tentang film Indonesia kembali. Daya tarik Marlina yang semakin besar tidak bisa dilepaskan dari prestasi yang diukirnya yang dimulai di luar negeri. Kesan dan review tentangnya menyerbu saya di timeline twitter, membawa saya ke banyak website yang membincangkan Marlina dari yang penulis penyuka film hingga peneliti film. Semua itu semakin mendorong saya untuk menonton Marlina segera mungkin. November 2017 niat itu pun terwujud meski dilanda kecapekan yang luar biasa karena pada waktu bersamaan baru selesai mengerjakan riset lapangan di Kalimantan. Marlina adalah film perjuangan. Perjuangan memperoleh keadilan kepada negara. Ia melaporkan kejahatan yang diterimanya berupa perampasan dan pemerkosaan di hadapan mayat duduk suaminya. Untuk membuktikan seseorang dirampok dan atau diperkosa, hukum negara selalu meminta bukti dalam pelaporannya. Bukti yang Ma...

Balimau, Mandi Besar Masuk Ramadan

Setiap memasuki bulan puasa, Ramadan, balimau menjadi hal wajib bagi kami di rumah. Balimau merupakan mandi besar, mandi wajib sebelum menjalankan ibadah puasa. Tujuan balimau tentu saja untuk membersihkan dan menyucikan untuk menyambut bulan yang suci. Mandi besar ini dilakukan pada sore hari yang dilanjutkan dengan malamnya melaksanakan salat tarawih. Ini menjadi tradisi di keluarga besar kami di Pesisir Selatan yang kemudian berlanjut ketika tinggal di Mukomuko. Dulu, kalau di kampung, tradisi balimau dilengkapi dengan rempah-rempah dan air wangi. Rempahnya, yang saya ingat, ada bunga mawar dan daun pandan. Itu dua rempah yang paling saya ingat, sepertinya masih ada yang lain. Kata balimau terdiri dari imbuhan ba- dan limau. Ba- sendiri sama dengan ber-, sementara limau, bermakna jeruk. Terjemahan literalnya berjeruk atau memakai jeruk, hahaha. Sementara makna semantiknya memakai jeruk untuk membersihkan diri. Jeruk kan juga identik untuk membersihkan, mewangikan, dan membuat j...

Ramadhan 2016, Tidak Semua Ikut Berpuasa di Rumah

Sejak beberapa tahun belakangan, ramadhan bersama ibu di rumah di Mukomuko menjadi sesuatu yang istimewa. Maklum, selama ramadhan saya kerap jauh dari rumah dan ibu. Jika tidak di Padang ya di Jogja. Ramadhan dihabiskan sendiri atau bersama teman di kosan. Kata ibu, “Ramadhan yang buka dan sahur sendiri.” Ramadhan tahun ini saya di rumah bersama ibu dan kakak-kakak. Ya senang sih, menikmati ramadhan beramai-ramai, tidak sendiri atau dua tiga orang saja. Ditambah pula ramadhan ini rumah kedatangan satu tambahan anggota keluarga: kakak ipar, hehehe. Cerita ramadhan di rumah sepertinya tidak banyak berbeda dengan cerita ramadhan yang sudah-sudah. Bahwa akan selalu ada pihak-pihak yang tidak berpuasa selama ramadhan. Berikut beberapa pihak yang tidak berpuasa selama ramadhan di rumah saya: 1. Da Dedi. Ini abang saya yang sulung. Abang saya ini sangat spesial, sehingga tidak memungkinkan berpuasa di bulan puasa. Kami selalu menjaganya. 2. Aji. Ini kucing kami yang paling ganteng. Umu...

Mencintai Ibu

Bagaimana mencintai ibu? Saya dengan mengambil alih pekerjaan yang dilakukan ibu, yang bisa saya lakukan. Ambil alih pekerjaan ini sebenarnya tidak selalu. Misal, tidak selalu saya yang mencuci piring atau tidak selalu saya yang memasak. Seperti pagi ini, saya tidak memasak, melainkan beliau. Sembari memasak beliau mengerjakan yang lain: membereskan rak piring, mengelap meja. Tapi, jika ada yang berbelanja, saya yang angkat pantat melayani pembeli. Kecuali menjahit. Beliau tidak menjahit pakai mesin, hanya jahit tangan. Menjahit kancing baju kakak yang lepas, menjahit selangkangan celana saya yang robek, menjahit baju nenek yang kepanjangan, atau menjahit sprei yang sobek digaruk kucing. Di depan mata saya, menjahit seakan-akan menegaskan ibu sebagai ibu. Ibu sebenarnya jarang menjahit. Tapi beliau punya banyak koleksi benang dengan berbagai warna. Dan beliau selalu menyimpan perlengkapan jahit ini. Meski tak pernah membantu ibu menjahit, tapi saya juga selalu memiliki perlengkap...

Dan Saya Jadi Adik Ipar

Setelah melalui kisah yang panjang dan menyayat hati, akhirnya si abang menikah jua. Kami, terutama amak, mak tuo, dan para etek riang gembira tiada tara. Baralek, pesta sederhana pun disusun dan disiapkan di kampung, tempat kelahiran si abang dan kediaman istrinya. Amak bolak balik ke kampung dari Lubuk Sanai, Mukomuko hampir setiap dua minggu. Beliau dengan riang gembira tadi memasak berbagai macam makanan ringan. Ada onde-onde, lapek, kue beking, dan lainnya. Beliau memang suka memasak. Sementara amak dan keluarga sibuk menyiapkan pernikahan si abang, saya sedang di Yogyakarta. Saya juga sibuk menyiapkan upacara wisuda master saya yang kedua di Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada. Iya, wisuda master saya yang kedua, yang pertama di Kajian Budaya dan Media pada Oktober 2015 lalu, hehehehe. Saya memang kurang kerjaan, mau-maunya ambil master dua kali di UGM. Si abang menikah pada 29 April 2016. Saya wisuda pada 19 April 2016. Amak dan uni sudah datang pada wisuda pertama saya da...