Skip to main content

Ketika Perempuan ‘Gaul’ Berbicara


Judul : Dunia Padmini
Pengarang : Trie Utami
Penerbit : Pustaka Sastra, kelompok LKiS Yogyakarta
Tebal : xxiv + 254 halaman
Cetakan : Pertama, Oktober 2010
Harga : Rp 50.000,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP


Satu lagi buku yang berbicara tentang perempuan dan seluk-beluknya lahir di tanah air Indonesia. Kali ini buku prempuan ini lahir dari tangan seorang seniman terkemuka di nusantara. Tentu cara si penulis menuturkan juga berbeda. Bisa saja dengan bahasa seni atau literer serta bisa pula dengan bahasa yang lebih serius.
Perempuan, bagi Trie, sosok yang seharusnya tidak melulu lemah dan objek yang dilindungi oleh kaum lelaki. Pada suatu ketika, kenapa tidak terjadi sebaliknya. Subordinasi terhadap perempuan sudah sepatutnya dikikis habis. Paradigma yang mengharuskan perempuan fokus untuk kerja pada bidang domestik, sudah selayaknya dibumihanguskan. Dengan buku ini Trie bercerita panjang tentang kehidupan berbagai sikap dan sifat perempuan yang pernah ditemui dan dikenalnya.
Dapur, kasur, dan sumur adalah peribahasa turun temurun bangsa ini, ini berkaitan erat dengan pola domestifikasi perempuan, sebagai cerminan struktur berpikir masyarakat yang patriarkhi. Pandangan ini telah diimplant ke alam bawah sadar kita sejak kecil sehingga dipercaya sebagai suatu kebenaran yang bersinggungan langsung dengan agama dan adat istiadat, dalam kaitannya dengan kodrat, dan itu adalah kebenaran Tuhan yang secara de-facto, memang benar perempuan memiliki tugas reproduksi yang spesifik.
Namun demikian, bukan berarti menelan mentah-mentah semua itu. Ketika lahir ke permukaan bumi, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama dibekali dengan hati nurani dan kejernihan berpikir. Lantas, hanya karena konstruksi sosial tentang perempuan yang harus ‘mengabdi’ pada tiga ranah tadi adalah semacam harga mati yang tak boleh ditawar. Pandangan ini tidak hanya mengerdilkan kaum perempuan, namun juga lelaki.
Dari yang kita ketahui, Trie Utami, seorang seniman dengan berbagai talenta, yang kemudian menerbitkan sebuah buku, menarik untuk dibaca dan dipahami bagaimana alur berpikir Trie tentang perempuan di negeri ini. Latar belakang kehidupan Trie, yang jika tak mau dikatakan ‘tragis’, lebih ‘dahsyat’ dan kompleks bisa dipahami dari buku ini. Berbagai peristiwa kehidupan, khususnya tentang perempuan, dialami Trie dan dengan mudah kita ketahui melalui pemberitaan di media massa.
Melalui buku ini, Trie mencoba memberikan ‘semangat juang’ kepada kaum perempuan bagaimana memerdayakan semua potensi yang dimiliki tanpa pernah ragu, sungkan, dan takut ditentang. Padmini, tokoh sentral perempuan yang ia ciptakan dalam buku ini, menyuguhkan semua problema perempuan dan bagaimana mengatasinya tanpa menyakitkan kedua belah pihak, perempuan dan laki-laki.
Padmini dilahirkan sebagai perempuan modern yang tak mau sesuka sosial memaknai dirinya. Ia mencoba mendobrak semua pakem yang telah terpaku dalam masyarakat. Salah satu jalannya mengoptimalkan potensi diri, melalui pendidikan. Padmini tidak menyalahkan kenapa laki-laki selalu dan dianggap hebat. Dengan kata-katanya ia mencoba membangkitkan agar terlahir perempuan hebat, cerdas, brilian, dan dipuja sepanjang masa justru karena ia mampu mengangkat derajatnya dengan gigih belajar.
Buku ini semacam sugesti bagi kaum perempuan untuk selalu bisa mengambil titik proporsional dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan arif. Mempelajari semua kemampuan sebagai manusia, menggali semua potensi, dan kemudian melahirkan keyakinan dalam diri bahwa sebagai manusia, perempuan memiliki daya dan energi untuk melanjutkan hidup. Mampu berkata tidak ketika tidak berkenan, sanggup menolak hal-hal yang tidak disukai, tanpa harus memusuhi laki-laki, tanpa harus membenci laki-laki, tanpa harus menggempur laki-laki, dan tanpa harus bersikap dan bertindak seperti laki-laki.
Demikian Trie menjabarkannya kepada kita, kaum perempuan. Buku ini disertai dengan sub-sub judul, seperti Padmini dan anak Perempuan, Padmini dan Keperempuanan, Padmini dan Ketololan Perempuan, Padmini dan Poligami, serta sub judul lainnya yang tak kalah menarik untuk direnungkan. Buku yang handy ini cocok dibaca ketika senggang maupun menjelang tidur. Bahasanya yang sederhana, menyentuh, terkadang lucu mungkin memang sedikit menggambarkan watak si penulis. Desain sampul yang unik, ‘tajam’, disertai lukisan janin kembar sejoli, nyaris menduga buku ini bak buku primbon, namun tidaklah demikian.

Comments

Popular posts from this blog

Jakarta Undercover, Seksualitas Membabi Buta Orang-orang Ibu Kota Negara

Judul : Jakarta Undercover 3 Jilid (Sex 'n the city, Karnaval Malam, Forbidden City) Pengarang : Moammar Emka Penerbit : GagasMedia Tebal : 488/394/382 halaman Cetakan : 2005/2003/2006 Harga : Mohon konfirmasi ke penerbit Resensiator : Adek Risma Dedees, penikmat buku Jakarta Undercover, buku yang membuat geger Tanah Air beberapa tahun silam, pantas diacungi empat jempol, jika dua jempol masih kurang. Buku ini menyuguhkan beragam peristiwa dan cerita malam yang kebanyakan membuat kita ternganga tak percaya. Kebiasaan atau budaya orang-orang malam Jakarta yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ini bukan perihal percaya atau tidak, namun merupakan tamparan fenomena dari kemajuan itu sendiri. Menurut pengakuan penulis dalam bukunya, Moammar Emka (ME), yang seorang jurnalis di beberapa media lokal Ibu Kota, tentu saja cerita ini didapatkan tidak jauh-jauh dari pergulatan kegiatan liputannya sehari-hari. Tidak kurang enam tahun menekuni dunia tulis menulis, ME pun menelurkan ber...

Gangnam Style dalam Perspektif Konstruksi Identitas

KETIKA Britney Spears diajari berGangnam Style ria oleh Psy, sedetik kemudian tarian menunggang kuda ini menjadi tren baru dan memecah rekor baru di YouTube. Guinness World Records menganugerahi sebagai video yang paling banyak dilihat yakni 200 juta kali dalam tiga bulan. Sebuah pencapaian yang tak diduga sebelumnya, begitu kira-kira kata Dan Barrett. Park Jae Sang pun mendapat nama dan melimpah job baik di Asia maupun di Amerika Serikat. Google dengan jejaring luasnya bercerita jika horse dance ini adalah sindiran kepada anak muda Korea yang tergila-gila memperganteng, mempercantik, memperlangsing, dan mempertirus tubuh dan wajah sebagai ‘syarat utama’ penampilan dan pergaulan di negeri itu. Tak ketinggalan juga mengkritik gaya hidup yang cenderung high class serta selalu mengejar kesempurnaan. Di kawasan elit Gangnam inilah anak muda dan masyarakat Korea bertemu dengan rumah-rumah bedah, salon kecantikan, serta starbuck-starbuck ala Korea. Psy mengkritik –mungkin tepatnya mela...

Review The Commodity as Spectacle by Guy Debord

Menurut Debord sistem kapitalisme yang mendominasi masyarakat menciptakan kesadaran-kesadaran palsu para penonton atau audiens untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan, baik berupa barang (komoditas) ataupun perilaku konsumtif. Kesadaran palsu ini dibangun melalui citra-citra yang abstrak atau bahkan irrasional, yang dianggap rasional oleh penonton, sebagai bentuk pengidentifikasian diri dalam relasi sosial. Relasi sosial ini bergeser jauh dan dimanfaatkan oleh era yang berkuasa sebagai komoditas dalam dunia tontonan. Kaum kapitalis mempunyai kontrol yang kuat atas apapun termasuk mampu mengubah nilai-nilai personal menjadi nilai tukar. Hal ini sejalan dengan otensitas kehidupan sosial manusia, dalam pandangan Debord, telah mengalami degradasi dari menjadi (being) kepada memiliki (having) kemudian mempertontonkan (appearing). Ketiga aspek ini selalu dikendalikan atau disubtitusikan dengan alat tukar yakni uang. Ketika ketiga aspek ini tidak terpenuhi, penonton tidak hanya terjajah (he...