Skip to main content

Posts

Most-Beat ‘Akademis’ di Efek Rumah Kaca

Tulisan ini mungkin akan kurang mengesankan bagi pihak yang merasa tersinggung, terutama audiens mahasiswa. Apa lacur, di balik kemeriahan dan kegembiraan, tersimpan benih-benih yang siap berteriak, memaki, yang kemudian meledak. Bahwa, inilah keniscayaan itu. Sekitar seribu mahasiswa dari berbagai kampus duduk bersila menghadap panggung di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri Universitas Gadjah Mada. “Ticket sold out, tapi panitia mencetak ulang,” begitu kata seorang singer dari band pengisi. Untuk acara kampus macam Earthernity Fest 2013 ini, band-band’an model begini cukup besar dan menyedot perhatian. Audiens duduk manis dan sesekali menjepret dengan sopan. Audiens, dalam hitungan jari, coba menghayati (ikut bernyanyi) bersama band-band lokal dan yang dari berbagai kampus. Selebihnya –seperti tengah berziarah- menekur dan terpesona dengan penampilan lighting serta kerumunan penjinjing DLSR merangsek panggung. Ini awal. Ketika band polska dari kampus seni Yogyakarta, Auret...

Isra Mi'raj

LAMA sudah rasanya tidak menghadiri perayaan ini. Terakhir menghadirinya, entahlah. Mungkin sekitar 4-5 tahun lalu. Atau sejak 7 tahun lalu, dimana masjid dan musala yang kujumpai tidak begitu akrab dan juga tak diketahui jadwal mereka memperingatinya. Aku rindu menghadiri acara ini. Seperti 7-8 tahun lalu. Waktu itu mungkin aku masih berseragam abu-abu. Ketika Isra Mi'raj datang, jika ada guru rebana, aku dan kawan-kawan biasanya mengisi acara ini dengan berqasidah bersama. Hahaha, lucu dan sangat menyenangkan jika mengingat itu. Isra Mi'raj datang. Kalender berwarna merah. Dari siang hingga sore kami berlatih rebana, menyanyikan salawat dan lagu-lagu nasyid bersama. Tentu saja ini dilakukan di masjid. Dimana teman lainnya mendapat jatah menghias masjid, menyediakan teh panas, serta tak ketinggalan membersihkan pekarangan masjid. Jika sore usai, bapak-bapak, ibu-ibu, serta anak-anak kecil sehabis magrib berdatangan ke masjid, mengikuti pengajian, sambutan ini-itu, sert...

Mei yang Rumit

KITA sulit lupa pada tragedi Mei nan bersejarah bagi bangsa ini. Ya, karena media tak pernah absen menuliskan kembali narasi-narasi perlarian, penculikan, perkosaan, penjarahan, pembunuhan, penahanan, penyerahan, dan pemenangan waktu itu. Plus mengendorser dari pelaku, baik penggugat maupun tergugat, serta keluarga korban. 2013, 15 tahun sudah tragedi rontoknya Orde Baru itu melambaikan tangan, secara ke-rezim-an. Secara praksis, jelas saja belum tentu. Tak mudah memang mengubah tradisi bernegara yang sudah dibangun selama 32 generasi. Tragedi ini lebih dari tragedi saling memaki, saling mengolok, dan saling menyumpahi. Ini tragedi berdarah dalam menumbangkan rezim yang korup, penuh bias, dan jelas saja diskriminatif. Tragedi yang menghilangkan banyak roh, banyak generasi; roh dan generasi yang kritis serta berani. Kritis dan berani tidak gampang di rezim itu. Dan, sudah terungkap, betapa mahalnya untuk menukar kritis dan berani; renggukan nyawa. Kini, kita kembali mengingat Mei ...

Demokrasi Air dan Pro-Future Generation

Yogyakarta, Rabu (27/3)- Demokrasi air sebuah langkah sebagai perwujudan kritik atas 'politik bumi' yang antroposentris bahwa alam untuk manusia. Sementara ideologi survivalim yang disuarakan Vanda Nashiva, yang memihak pada kelestarian lingkungan, bahwa keberadaan manusialah untuk alam. Keberpihakan terhadap alam sama artinya dengan keberpihakan pada kelangsungan generasi mendatang. Jika kepada alam tidak ada keberpihakan bagaimana mungkin manusia akan berpihak kepada anak cucu selanjutnya? Prof. Dr. Heru Nugroho mengatakan air adalah kado alam. Sebagai kado, air bukanlah produk komoditi yang kemudian diprivatisasi. Fakta di Indonesia, air sebagai komoditi, diperjualbelikan dengan mudah. Hal ini diperparah dengan kebijakan privatisasi air yang tidak mengedepankan konservasi. Belum lagi persoalan pengeboran sumur mencapai puluhan dan ratusan meter ke perut bumi. "Akhirnya, air dengan kandungan mineral tinggi kembali dikuasai oleh segelintir orang bermodal. Sementara y...

Frekuensi Publik dan Pentingnya Serikat Buruh

Yogyakarta, Rabu (13/3) - Sebagian besar penikmat media, baik cetak maupun elektronik, belum memahami bahwa publik punya hak besar menentukan tayangan termasuk membatasi penguasaan atas frekuensi. Di balik penguasaan frekuensi yang terbatas itu, penguasa media massa saat ini cenderung politis dan eksploitatif di atas fasilitas publik. Sosialisasi dari pihak terkait perihal frekuensi ini dinilai minim. Alhasil, sak wasangka publik terhadap negara yang bermain dengan cukong tak terhindarkan. Ucu Agustin, penulis dan sutradara film ini menuturkan, hingga 2012 publik hanya memiliki 20% dari jumlah frekuensi yang tersedia. Selebihnya, 80%, sudah dikuasai oleh swasta. "Ketika sebagain saham satelit Palapa dijual ke pasar pada masa kepemimpinan Megawati, dari sanalah bermula kuantitas frekuensi untuk publik semakin merosot," kata Ucu. Maraknya pemakaian telepon seluler BlackBerry juga memungkinkan frekuensi yang tersisa itu semakin terbatas. "Negara juga menyediakan sekian...

[Catatan] Bernie dan Kemengantukan Hidup

Habis magrib 14 Februari lalu seseorang datang sembari cengengesan padaku. Aku kira dia menang togel dan kita segera umroh tahun ini. Lagi pula, kado momen itu dialokasikan untuk memenuhi kamar dengan karya Karl Marx. Jadi, surprise romantis ala abegeh ditunda tahun depan. Aku sudah bisa memotong poni sendiri, jadi tak perlu ngambek malam itu. Namun, cengengesannya berganti seketika ledakan tawa. Aku tak bisa menyembunyikan cengengesanku sembari penyesalan dibuat-buat ketika dia menjinjing kantong plastik besar bergambar beruang. Isinya? Boneka anjing besar berbulu lebat dengan ukuran moncong mendekati besar bokongnya. Ia berwarna cream dan oranye. Kupingnya melambai menutup matanya yang cekung. Mirip si Jack dalam Pirate of Carribean, sebelah matanya dikelilingi bulu dengan warna berbeda. Malam itu juga, kami punya anggota baru. Namanya Bernie. Karena facebook menginginkan nama terdiri atas dua kata, ia menjadi Bernie Wati. Kenapa tidak Bernie Wan? Karena aku tak suka memanjakan l...

Mengabarkan Jagat Raya dan Mengisahkan Manusia

[Ahmad Tohari, Acep Zamzam Noer, dan Kris Budiman]