Skip to main content

[muse] pembunuh jalang ialah sunyi!



memasuki musim libur begini, satu yang kutakutkan, sepi. hampir setiap orang kembali ke rumah dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. berjumpa ibu dan ayah, adik kakak, saudara, teman kecil, dan para tetangga yang selalu menarik dicermati. pun dengan perjalanan menuju tempat asal menjadi moment yang tak ingin begitu saja dilewatkan. seperti tiga tahun silam. aku lebih memilih selalu membuka mataku sepanjang perjalanan ketimbang membaca buku atau tidur. karena selalu terjaga dalam perjalanan bagiku menjadi babak-babak awal sebelum berlabuh ke pelukan ibu.

saat ini musim itu kembali datang. ya, satu problematik bagiku dalam menempuh pendidikan: aku benci libur. meski kadang aku tak kalah bahagia jika selalu banyak libur. karena dengan libur teman sekampus jadi berkurang, pustaka juga ogah-ogahan meladeni, kampus beradik kakak dengan kuburan, acara-acara juga berkurang, tidur menjadi alasanku untuk malas beraktivitas, dan sepi mencekam dimana-mana. lumayan kompleks kan jika libur itu datang?

tapi aku juga tidak etis jika egois begitu. bagi banyak orang libur menjadikan mereka kembali humanis. berkunjung kesana kemari, bakti sosial yang tadinya jarang dilakukan, iven liburan untuk sekelompok kecil komunitas, atau menghabiskan waktu libur di rumah yang penuh kenangan. macam-macam. begitulah.

jika libur dalam kacamata banyak orang sebagai kata berkonotasi baik, maka bagiku libur sarat dengan konotasi negatif. apakah karena aku kesepian? karena aku jauh dari orang-orang tercinta? bisa jadi iya, bisa jadi tidak. tidak, karena setiap malam ibu dan kakakku rutin menelepon. bertanya banyak ini itu, bercerita apa saja. seperti dulu kala. mungkin hanya soal lama berbincang yang berbeda.

kata chairil anwar, mati kau dikoyak sepi! pantas saja. sepi menjadi penjagal paling anarkhi dan itu jalang. membunuh jiwa-jiwa. jiwa yang tak tahan maka matilah. terkubur dengan sangat nista. mati sia-sia. sepi membuat otak dengan mudah terinfuls kepada hal-hal berbau negatif. karena sepi memungkinkanku berpikir out of context. bahkan irrasional namun dikemas seolah-olah wajar. ya, sepi adalah hakikat pembebasan. pembebasan yang tak pernah melarangmu ini dan itu. justru di balik pembebasan, satu insan tumbuh tanpa benteng pertahanan. mudah saja sepi menelanjangi kemudian menikam dari depan.

meski begitu, aku punya benteng-benteng pertahanan dimana aku harus tak kalah kepada sepi. jiwa-jiwa yang mulai akan kuat ini tak begitu saja angkat tangan pada serangan sepi. sepi hanya menjadi babak dari sekian banyak babak yang harus dan telah kulewati. bertahun silam sepi kerap menemani. dan berpuluh kali pula mungkin aku pernah tercabik-cabik olehnya. apa lacur, jiwa ini semakin kebal. hingga sepi hanyalah moment dimana aku dapat berpikir jernih dan mengeksekusi setiap rencana. tanpa sepi, aku hanyalah insan kian kemari yang gampang terombang ambing oleh keramaian. dan, aku rasa telah menyelamatkanku dari ketololan.

dedees
rumah perak, 21 januari 2013

Comments

Popular posts from this blog

Gilby Mohammad

25 dan 26

Ini tahun-tahun reflektif. Apa-apa saja yang sudah dikerjakan untuk orang lain, dan apa saja yang sudah dicapai untuk diri sendiri. Yang sudah dikerjakan untuk orang lain bisa jadi tak banyak dan tak ada catatan yang penuh tentang itu. Membantu kepada sesama mengalir dan mengalir pula dilupakan pada masa lalu. Karena memang ia tidak perlu dicatat oleh sejarah pribadi. Karena ia memang sudah mesti pergi begitu saja. Tak perlu mengenang segala kebaikan, karena mengenang adalah pekerjaan yang membosankan, meski itu adalah kenangan baik dan manis. Serius, tak perlu. Apa mungkin mengenang kembali orang-orang sakit yang pernah didampingi? Apa enaknya mengenang kembali seseorang yang terluka untuk dibawa ulas hingga hari ini? Cukup ya cukup. Kisah bersama orang lain biarlah menjadi cerita yang ada dan eksis pada hari itu saja. Tak perlu dibesar-besarkan hingga hari ini. Menjenguk si sakit, membantu yang lemah biarlah menjadi sesuatu yang tetap ada di hati. Ia tak perlu dipanggil kembali ...
Gemes Itik Foto ini diambil pada sore hari sekitar pukul 16.30 WIB, Kamis, 4 Agustus 2011 di salah satu tempat bermain (di tengah sawah yang sudah dipanen) anak-anak kampung Jambak, Balai Selasa, Sumatera Barat. Lahan sawah itu digunakan anak-anak kampung Jambak sebagai tempat bermain bola sebelum lahan itu diolah kembali oleh petani setempat untuk menanam padi. Terbang Foto ini diambil pada siang hari sekitar pukul 13.00 WIB, Senin, 29 Maret 2010 di kota Padang, Sumatera Barat. Anak-anak bermain lompat-lompatan dari atas jembatan ke sungai atau Banda Bakali di bawahnya. Di tengah rintik-rintik hujan siang itu, tak menyurutkan semangat ketangkasan mereka melompat dari ketinggian.