Skip to main content

Posts

Dua Panggung Pelacur

Judul : Agama Pelacur Dramaturgi Transendental Penulis : Prof. Dr. Nur Syam, M.Si Penerbit : LKiS Yogyakarta Tebal : xviii + 200 halaman Cetakan : Pertama, Oktober 2010 Harga : Rp 55.000,- Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP Salah satu fenomena sosial yang menyimpang –terutama dalam kaca mata agama dan budaya- sekaligus unik adalah dunia pelacuran. Jika mengingat satu kata ini, yang terbayang tentulah kehidupan malam dengan segala aktivitas seksual yang tidak hanya memalukan dan menjijikkan, tetapi juga merupakan kejahatan seksual dan hampir selalu mendapat tantangan dari beragam pihak. Perkembangan dunia pelacuran dewasa ini juga berjubel di Tanah Air. Tidak hanya di kota-kota besar, di kampung-kampung pun dunia esek-esek ini tumbuh subur. Persoalan seksualitas sudah sangat lama diperbincangkan. Mulai zaman Yunani Kuno hingga zaman yang sebar IT sekarang. Perbincangan seksualitas selalu menjadi ide menarik dan mendapat tempat di mana pun j...

Pandanwangi

Secepat kilat orang-orang membuka bungkusan mayat mungil itu. Sebelum sempat dikuburkan, bungkusan putih itu bergerak-gerak. Mata orang-orang tak henti-hentinya memelototi gadis mungil dalam kain kafan tiga lapis itu. Tangis bayi itu pun pecah seperti baru keluar dari liang ibunya. Ucapan-ucapan syukur pun menggema di pekuburan kampung yang tiba-tiba ramai. "Oh gadisku, ibu sayang nak," kecupan-kecupan cinta menghujani si bayi dari ibunya yang lusuh dan pucat pasi. Kulit perempuan itu berubah cerah ketika mendapati bayinya hidup kembali. Ia kehabisan tenaga setelah lima kali pingsan sejak tadi malam. Tak kuasa menerima kepergian putri bungsunya setelah diserang pelasit. Selama tiga hari tiga malam keluarga perempuan itu mengadakan syukuran. Semua orang kampung dijamu. Berbondong-bondonglah orang miskin di kampung itu datang. Selama ini mereka hanya makan ubi sekarang diberi makanan enak-enak. Anak-anak yatim diundang. Disuruh mengaji dan mendendangkan puji-pujian pada Sang ...

Mobil Gorden Coca-Cola

Belajar Kepemimpinan dari Cina

Judul : The Little Red Book Leadership Secrects of Mao Tse-Tung Penerjemah : A. Rachmatullah Penerbit : ONCOR Semesta Ilmu Tebal : x + 230 halaman Cetakan : Pertama, 2010 Harga : Rp 40.000,- Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP “Kita harus memberi pemahaman kepada rakyat bahwa negara kita ini masih miskin, dan kita tidak dapat merubah keadaan dalam waktu singkat; perubahan hanya mungkin terjadi jika generasi muda bersatu dengan rakyat, bekerja keras; hanya dengan cara demikian Cina akan menjadi kuat dan makmur dalam beberapa dekade ini. Penerapan sistem sosialisme kini telah membuka jalan kita menuju masyarakat yang ideal pada masa depan, namun untuk mewujudkannya dibutuhkan kerja keras.” On the Correct Handling of Contradictions Among the People (27 Februari 1957). Kalimat di atas salah satu quotation dari Mao Tse-Tung dalam menyemangati anak-anak muda Cina untuk bangkit dari kemiskinan dan ketertinggalan dari bangsa lain. Calaan-celaan yang dihu...

Sepasang Sepatu

Sepatu pada awalnya berfungsi melindungi kaki dari berbagai ancaman. Sebagai pelindung, sepatu selayaknya digunakan dengan rasa aman dan mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan. Saat ini, sepatu tidak hanya sebagai penopang kaki dan tubuh ketika berjalan, namun juga menggambarkan kelas seseorang yang memakai sepatu. Jenis dan mode sepatu apa yang akan digunakan bisa saja menjadi persoalan besar. Apakah seseorang pantas mengenakan sepatu itu atau tidak? Persoalan ini pun bisa menyangkut apakah seseorang pantas dan memenuhi syarat dimasukkan ke dalam kelompok tertentu atau harus pindah ke kelompok lain. Sepasang sepatu mampu menggambarkan bagaimana status sosial seseorang. Sepasang sepatu juga mampu mengangkat atau menjatuhkan harkat, martabat, dan derajat manusia. Sepatu bermerek akan dipandang sebagai citra diri tersendiri (ekslusif) dan cenderung istimewa. Begitu juga sebaliknya. Sepasang sepatu mampu beralih fungsi tidak hanya sebagai benda pakai, tetapi mempunyai bahasa tubu...

Jurnalistik Mahasiswa pun Perlu Kompetisi

Kunjungan perdana Studi Media dan Budaya Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto di Jakarta sekitar sebulan lalu, 8 hingga 20 Agustus, pada surat kabar nasional Media Indonesia (MI). Salah satu media harian dari sekian banyak media yang berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat Indonesia ini, tak segan-segan memberikan pendapat, berbagi ilmu seputar dunia jurnaistik serta evaluasi terhadap SKK Ganto. Bertamu sekaligus belajar pada media nasional yang lebih profesional dari media kampus kami, kira-kira demikian kalimat yang cocok untuk menggambarkannya. Lain MI lain pula Ganto. Jika pada keredaksian MI terdapat sesuatu yang menjadi ciri khas media ini, Ganto pun demikian. Perbedaan kontras dalam pemberitaan dan laporan antarmedia ini tidak begitu jauh. Walau pangsa pasarnya berbeda namun hakikat dan kode etik pun selalu dijalankan. Bincang-bincang dengan kepala divisi pemberitaan MI, Ade Alwi, memaparkan seputar pemberitaan mulai dari ide yang diusung, hipotesa pra turun ke lapang...

Demam Korea dan Nasionalisme

Merebaknya kegemaran anak muda atau remaja Indonesia akan artis-artis kawakan dari Negara-Negara Matahari Terbit seperti Cina, Jepang, ataupun Korea, memberikan keasyikan tersendiri untuk disimak. Berawal dari kegandrungan mengikuti serial filmnya baik di televisi maupun membeli VCDnya. Tak sampai di situ, untuk mengikuti sepak terjang sang aktor dan aktris dalam kehidupan sehari-hari, tak sedikit remaja bela-belain membeli majalah yang memuat idola mereka atau bahkan mengaksesnya di dunia maya, salah satunya mem-follow sang idola pada jejaring sosial seperti twitter ataupun facebook. Dari sekian banyak aktor dan aktris tersebut, aktor yang berasal dari Korea lebih mendapat tempat. Genre musik dan style tersendiri dari personilnya kelihatan lebih menarik dari yang lain. Mulai dari penampilan aksi panggung sang idola, keterlibatan idola dalam sebuah talk show versi Korea, dan berbagai iven lainnya yang mengikutsertakan sang idola. Walaupun subtansinya hanya sekedar lucu-lucuan. Sang id...