Skip to main content

Posts

Menjadi Pekerja Sosial Profesional

Menjadi pekerja sosial bukanlah hal mudah. Apalagi menjadi pekerja sosial profesional yang kredibilitasnya dapat diandalkan dalam pemecahan masalah di masyarakat. Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui Departemen Sosial (Depsos) melakukan berbagai upaya agar mampu melahirkan pekerja-pekerja sosial profesional serta pantas mendapat sertifikasi. Menjadi pekerja sosial profesional dibutuhkan tiga penguasaan kompetensi dalam mewujudkan pekerja sosial yang mampu mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Tiga kompetensi tersebut yakni, pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan nilai (value). Seorang pekerja sosial harus memiliki pengetahuan yang luas dan komprehensif. Pengetahuan ini tidak hanya dari bidang pendidikan awal seorang pekerja menempuh pendidikannya. Namun juga dari bidang lain yang berkaitan dengan keprofesionalan pekerja sosial. Pengetahuan ini merupakan modal awal bagi pekerja sosial untuk menanggapi dan mencarikan solusi dari permasalahan yang dihadapi ...

Mahasiswa dan Pemilu Kepada Daerah

Pemilihan umum kepala daerah (pemilu kada) tak lama lagi. Dijadwalkan akhir bulan Juni mendatang pesta rakyat demokrasi tersebut akan diselenggarakan serenatak di Ranah Minang. Lima pasangan calon pun telah tampak di depan mata. Baliho dan spanduk besar-besar mewarnai kota Padang dan daerah tingkat dua lainnya. Berbagai slogan dan visi misi sang calon pun tepampang jelas di mana-mana. Tidak hanya itu, suara dan gambar sang calon juga mewarnai media massa baik cetak maupun elektronik. Mereka adalah pasangan calon gubernur dan wakil gubernur (cagub dan cawagub) Prof. Dr. H. Ediwarman, S.H., berpasangan dengan Drs. Husni Hadi, S.H., Drs. Endang Irzal, MBA., berpasangan dengan H. Asrul Syukur., M.M., Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si., berpasangan dengan Drs. Yohanes Dahlan, M.Si., Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi., M.Sc., berpasangan dengan Drs. H. Muslim Kasim, M.Si., dan Prof. Dr. H. Marlis Rahman, M.Sc., berpasangan dengan Drs. H. Arisno Munandar. Pasangan calon ini dari berbagai disiplin ilm...

Perempuan dan Go Green

Salah satu keidentikan bulan April adalah peringatan perjuangan kaum perempuan yang notabene dipelopori oleh Raden Ajeng Kartini atau lebih dikenal R.A Kartini. Kartini adalah sosok pejuang kaum perempuan yang mencoba keluar dari kegelapan dan keterbelakangan jika dibandingkan dengan kaum lelaki pada masa itu. Ia terus berusaha meningkatkan status kaumnya, agar tak selalu direndahkan serta diabaikan oleh kaum lelaki. Itu dulu, masa-masa sebelum kemerdekaan dan perkembangan emansipasi wanita tidak sedahsyat saat ini. Sekarang, perempuan hidup dalam ranah dan iklim yang lebih leluasa. Mereka, kaum perempuan, lebih diberikan wewenang dan tanggung jawab daripada masa Kartini. Bebas menentukan pandangan, sikap, pendapat, tindakan, dan lainnya. Kebebasan dan kekeluasaan ini tentu tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku; tata susila, adat-istiadat, sopan santun, serta hukum atau undang-undang setempat. Hampir disetiap lini kehidupan, perempuan duduk di sana. Seperti olahraga, ekonomi,...

Perempuan-perempuan di Tanah Transmigran

Suasana Desa Beringin Lestari “Udahlah, giliranku yang main. Aku kan diset kedua”. Demikian kalimat yang keluar dari mulut Desmawati, setelah sekian set menunggu giliran menunjukkan kemampuan dalam bermain voli. Olahraga ini setiap sore, kalau tak hujan, selalu diadakan di lapangan pusat desa Beringin Lestari. Desa yang dibangun di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit milik perusahaan ternama. Beringin Lestari salah satu desa dari sekian banyak desa transmigrasi di kecamatan Tapung Hilir, kabupaten Kampar, Riau. Sorak-sorai ibu-ibu pemain voli pun semakin riuh. Apalagi jika ada pemain yang siap-siap melakukan smash, meruntuhkan pertahanan lawan. Dan berhasil, kedudukan pun dengan cepat berubah. Macam-macam kalimat terlontar dari mulut mereka, ada yang kesal dan ada juga yang tertawa cekikikan. Sedangkan sang kapten langsung memasang trik, bagaimana agar pertahanan tidak kebobolan lagi. Yang namanya main ibu-ibu, tentu lebih banyak berisiknya. Karena sembari bermain, mereka juga s...

Kabar Pilu dari RT 05

Langit tampak mendung. Sepertinya perkampungan ini baru saja diguyur hujan semalaman. Jalan-jalan tanah tak beraspal semakin lunak dipijak. Tak sedikit tanah-tanah itu singgah di terompahku dan langkah pun semakin berat. Sepelemparan batu dari tempatku berdiri, tampak dua perempuan, duduk bertingkat, sepertinya sedang mencari kutu. Mereka juga sedang bercakap-cakap sesuatu. Terlihat dari komat-kamit mulut mereka yang tak henti. Sesekali dialog-dialog itu diselingi tawa, senyum, dan nada bicara yang meninggi. Dia Sumi, dan anaknya Ida yang baru saja menikah, “Sekitar tiga bulan lalu,” jawab Sumi, Rabu (3 Maret 2010). Sumi, ibu rumah tangga yang kesehariannya berjualan di sekolah dasar desa Beringin Lestari, kecamatan Tapung Hilir, kabupaten Kampar, Riau. “Saya jual nasi goreng di sana, sebungkus Rp 500 perak,” cerita ibu tujuh anak ini. Kulitnya sawo matang, hidung rendah, ukuran mata sedang, dan rahang yang sedikit menonjol ke depan. Sangat khas dengan ras Malanesia. Dan kalimat-kalim...

Sejenak di Kebun Sawit

Kami memulai perjalanan dengan memasuki perkebunan pohon sawit milik sebuah perusahaan ternama di Riau. Kawasannya jauh ke dalam. Sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Kandis. Sepanjang mata memandang, yang ada hanyalah pepohonan penghasil minyak goreng ini. Nyaris tak ada perumahan. Sepintas, pemandangan ini menakutkan. Apalagi ditambah dengan suhu udara yang mulai menurun, ketika kita telah memasuki wilayah perkebunan. Teduh di sekeliling dan sunyi. Sesekali kesunyian dipecahkan dengan deru kendaraan; mobil, dan motor, para buruh maupun lainnya yang, tidak selalu, lalu lalang di jalanan. Setengah jam di atas mobil yang membawa kami ke tempat ini, perjalanannya pun terasa berbeda. Jalannya tidak beraspal dan tidak pula jalan berbatu. Namun jalan dengan pasir putih, yang mungkin hanya akan anda temui di tempat ini. Berkelok-kelok dan menanjak, naik turun dengan ketinggian yang mampu membuat mual. Walau begitu, suasana yang cukup mencekam tadi, seketika mencair dengan pemandangan ...

Panitia kompak dan A. Fuadi