Skip to main content

Posts

Ngayogjazz = Pertunjukan Seni di Societet?

PAGELARAN Ngayogjazz 2012 di desa wisata Brayut tempo hari lumayan membuat saya terkagum-kagum. Selain konsep yang ditawarkan panitia penyelenggara yang tak biasa dan terkesan kontradiktif, antusias penonton juga menjadi poin penting yang tak bisa saya kesampingkan. Penonton iven akbar setiap tahun di Yogyakarta ini memang didominasi oleh anak muda. Hari itu sejak siang hingga malam hujan tak kunjung berhenti mengguyur kota Yogyakarta. Sementara penyelenggara acara tak mungkin membatalkan pagelaran musik yang kata banyak orang adalah musik bernapaskan perlawanan. Ngayogjazz harus tetap diselenggarakan. Karena anak muda yang banyak itu tak mungkin dihalau kembali pulang. Pemandangan yang menarik bagi saya adalah langkah-langkah anak muda yang dibalut mantel hujan, berpayung jaket, atau merelakan diri basah kuyup di malam dingin itu. Saya pikir ini pengorbanan yang tak mudah. Ketika diri direlakan terancam pilek esok hari namun logika mengundurkan diri tak terbersit disana, agaknya ...

Politik UKM di Sekolah Pascasarjana

UNIT Kegiatan Mahasiswa pada tataran Pascasarjana agak berbeda semangat dan rohnya dengan program sarjana. Pasalnya selain faktor usia, faktor kepentingan pribadi -atas nama kepentingan UKM- kerap muncul tanpa disengaja atau bahkan disengaja. Bisa dalam bentuk barter produk usaha, promosi usaha, atau menerapkan aturan main sendiri -yang notabene untuk kepentingan sendiri atau kelompok. Menurut saya agak riskan dan mendulang air di muka, salah dulang kena muka sendiri. Sama halnya dengan politik kepentingan pribadi dalam UKM. Salah langkah, muka sendiri akan dibabat habis karena ulah sendiri yang kepalang 'rakus' dan mau menang sendiri. Berorganisasi kampus pada jenjang magister saya pikir sah-sah saja dan cenderung dengan kajian lebih dalam. Kalau hanya sebagai iven organizer, saya pikir sayang ilmu yang telah dipelajari pada tingkat magister namun berpikir picik dan hanya berputar-putar soalan uang dan perut. Tak ada yang menarik dan berarti jika relasi antaranggota suda...

Budaya Minoritas di Era 2.1

ADA kecenderungan ‘baru’ dalam arus globalisasi terhadap budaya termasuk di dalamnya identitas suku bangsa, bahwa budaya minoritas semakin mendapat tempat di kalangan individu –yang mayoritas- baik sebagai suatu kekayaan budaya ataupun sebagai objek eksotik atau kajian. Budaya minoritas semakin hari semakin mewarnai informasi-informasi di media massa. Ini sebuah kemajuan? Atau cara tersendiri bagaimana media menampilkan budaya minoritas dengan segala keunikan, kebesaran, atau bahkan ‘keterbelakangan’ budaya itu yang berujung pada eksplorasi budaya menjadi sebatas komoditas media belaka –tanpa pemberdayaan. Entahlah! Menarik ketika VOA Indonesia memberitakan bagaimana suku Aborigin di Australia ditampilkan meskipun itu hanya sebatas drama televisi. Tak sampai di sana, sudut pandang yang dipakai pun saya pikir bias dengan berbagai hal. Misal, ditampilkan bahwa kehidupan suku ini penuh dengan kekerasan, kemiskinan, dan alkohol –tentu saja pada pandangan sepihak si pembuat film. Berita...

Andai Aku Menjadi Ketua KPK

SEMASA SD, sekitar 15 tahun lalu, bu guru menyuruh saya menjualkan dagangan beliau berupa gorengan dan es lilin di sekolah. Alasan bu guru, karena saya pintar dan punya banyak teman. Riang gembira saya menjual panganan itu pada jam istirahat. Banyak yang laku. Ketika bel tanda sekolah usai, saya melaporkan hasil penjualan dan –yang saya tunggu-tunggu- bu guru memberi saya upah sekian ribu rupiah dari jerih payah itu. Ibu dan ayah tahu hal ini. Mereka diam saja, mungkin terlalu sibuk berjualan kian kemari. Sudahlah, yang pasti saya mendapat tambahan jajan waktu itu. Ketika saya menonton film pendek Kita vs KPK yang setting nya di sekolah dengan tema yang sama; membantu guru berjualan kemudian mendapatkan komisi, saya terbahak sekaligus insaf. Satu sisi ini tamparan bagi masa lalu saya di SD. Sisi lain, ya, bisa jadi ini salah satu perilaku kecil yang tidak disadari, guru maupun siswa, yang kelak berpotensi besar pada perilaku gemar korupsi. Memang, ucapan terima kasih dari orang de...

‘Melawan’ Globalisasi dengan Perspektif Poskolonial*

Jika memang ingin ‘melawan’ arus globalisasi, yang dinilai menghegemoni dan mendominasi (menghomogenisasi sekaligus mengheterogenisasi justru pengaruhnya hampir sama-sama kuat) ‘identitas’ (baca; klaim hirarki kemurnian budaya salah satunya kesenian lokal/tradisional) bangsa (nation-state), saya menawarkan perspektif poskolonial. Sebelumnya, (kita coba menyepakati) perspektif ini tidak melulu berbicara tentang penjajahan dan si terjajah, dalam konteks masa kolonial tempo dulu. Akan tetapi, dalam konteks bagaimana globalisasi ‘menjajah’ bangsa-bangsa (nation-state) di dunia (tentunya dengan kekuatan kapitalisme), mengerucup pada Indonesia, juga penting didialogkan. Perspektif ini memang terkesan serba ‘agak’; agak melawan (si penjajah; globalisasi) bahkan dalam pendapat lain justru agak meneguhkan hegemoni globalisasi itu sendiri (baca; oleh Marxian). Semangat perspektif poskolonial menawarkan ‘perlawanan’ yang tidak melulu menggempur dengan otot, tapi justru bermain pada tataran id...

Review The Public Sphere: An Encyclopedia Article by Jürgen Habermas

Era modernisasi yang mementingkan akumulasi modal, birokrasi, dan teknokratisasi, bagi Habermas, merupakan era yang cacat, terdistorsi (penyimpangan) dari pencerahan sehingga membutuhkan pencerahan lanjutan. Ia menawarkan tindakan berupa rasionalitas komunikatif yang termanifestasi dalam argumentasi-argumentasi dari masyarakat pada ruang-ruang tertentu atau publik. Tujuannya, selain untuk perkembangan politik, ilmu pengetahuan, kebudayaan, membentuk masyarakat yang otonom dan dewasa, juga karena kekuasaan harus dicerahi dengan diskusi rasional. Tawaran ini sekaligus mengkritik Marx tentang konsep praksis yakni kerja kemudian revolusi. Karena bagi Habermas, rasionalitas –dalam bentuk komunikasi dan dialog- yang lebih berpusat pada subjek, tak kalah penting dalam menentukan perubahan tatanan sosial masyarakat. Ruang publik, menurut Habermas, lahir di Inggris, Perancis, dan Jerman pada penghujung abad 18 dan abad 19. Pada masa ini (Liberal Model) ruang publik lahir –warung kopi, salon...

Review The Commodity as Spectacle by Guy Debord

Menurut Debord sistem kapitalisme yang mendominasi masyarakat menciptakan kesadaran-kesadaran palsu para penonton atau audiens untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan, baik berupa barang (komoditas) ataupun perilaku konsumtif. Kesadaran palsu ini dibangun melalui citra-citra yang abstrak atau bahkan irrasional, yang dianggap rasional oleh penonton, sebagai bentuk pengidentifikasian diri dalam relasi sosial. Relasi sosial ini bergeser jauh dan dimanfaatkan oleh era yang berkuasa sebagai komoditas dalam dunia tontonan. Kaum kapitalis mempunyai kontrol yang kuat atas apapun termasuk mampu mengubah nilai-nilai personal menjadi nilai tukar. Hal ini sejalan dengan otensitas kehidupan sosial manusia, dalam pandangan Debord, telah mengalami degradasi dari menjadi (being) kepada memiliki (having) kemudian mempertontonkan (appearing). Ketiga aspek ini selalu dikendalikan atau disubtitusikan dengan alat tukar yakni uang. Ketika ketiga aspek ini tidak terpenuhi, penonton tidak hanya terjajah (he...