Monday, 30 August 2010

Miras Oplosan di Balik Jamu Tradisional

Hampir setiap bulan nyawa pemuda melayang sia-sia dikarenakan mengonsumsi minuan keras (miras) oplosan di tanah air. Baru-baru ini tak kurang 12 pemuda meninggal setelah menenggak miras oplosan di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Tidak hanya itu, rentang waktu Mei hingga Agustus 2010, di Cirebon meninggal 12 orang, di Blitar meninggal 9 orang (Pro 3 RRI, 25 Agustus 2010), dan masih ada beberapa korban lagi meregang nyawa ataupun sekarat di rumah sakit setelah menenggak minuman ini.
Miras oplosan adalah racikan atau campuran yang kebanyakan dari jamu tradisional -ada juga miras dicampur bodrex- kemudian ditambah alkohol dengan kadar hanya dikira-kira oleh si penjual. Produk ini dibuat secara mandiri oleh perorangan ataupun kelompok di rumah (home industry). Tak ada pelatihan-pelatihan khusus sebelumnya. Peracik hanya mengira-ngira takaran alkohol yang akan dicampur dengan jamu, apakah itu jamu pegal linu, jamu kuat, ataupun lainnya.
Bagi masyarakat awam, yang pengetahuan tentang kesehatan masih minim, minuman ini seperti tak mengancam kesehatan sama sekali. Hal ini karena memang, jamu lebih identik dengan minuman kesehatan serta kebugaran. Kalimat orang-orang yang meminum jamu adalah orang-orang yang lebih peduli dengan kesehatan, sejak tempo dulu hingga sekarang melekat kuat di benak kita. Tak peduli apakah jamu tersebut diracik dengan takaran atau kandungan yang tepat atau tidak. Termasuk dengan miras oplosan ini.
Transaksi minuman ini kerap pula terjadi pada penjual-penjual jamu di tempat-tempat yang mudah dijumpai. Tak ada lokasi khusus sebagai tempat penjualan miras oplosan. Antara penjual dan pembeli pun sama-sama mengerti. Biasanya minuman ini dijual tidak dipamerkan begitu kentara, namun lebih tersembunyi pada penjual jamu. Kebanyakan pemuda atau pembeli membelinya seperti membeli es cendol dan dibungkus plastik. Terkesan minuman tidak berbahaya.
Minuman ini pun mendapat sambutan dari pembeli, kebanyakan dari kalangan pemuda. Dalam beberapa situasi pemuda kerap meminum minuman ini tanpa sebelumnya mempertimbangkan akibatnya. Beberapa penyebab pemuda menenggaknya, misal hanya untuk kesenangan semata atau hiburan ringan dan murah meriah sesama pemuda, melepaskan tekanan dari keadaan sekitar seperti tekanan ekonomi, ataupun lainnya.
Miras oplosan, yang saat ini memakan banyak korban, sekali tumbang rata-rata puluhan orang, menjadi ancaman kematian baru setelah ancaman dari ‘si ijo’ tabung elpiji 2-3 kg. Menyayangkan sekali jika jumlah penduduk berkurang dengan peristiwa-peristiwa yang bisa disebut sebagai kelalaian. Korban miras oplosan adalah salah satu bukti kelalaian stakeholder yang berkecimpung di sana. Tidak hanya masyarakat; penjual dan pembeli, namun juga elemen-elemen lain, seperti departemen kesehatana, Badan Pengawas Obat dan Minuman (BPOM), maupun DPR/DPRD kota dan provinsi.
BPOM seharusnya lebih ketat lagi mengawasi penyebaran minuman yang sejenis di kalangan masyarakat. Produk yang asli dan palsu perlu ditegaskan agar masyarakat tak lagi menjadi tumbal atas kelalaian. Begitu juga dengan departemen kesehatan dan DPR/DPRD agar lebih ketat dalam meregistrasi produk-produk baru yang bahan dan kadarnya sesuai dengan kebutuhan serta kesehatan. Regulasi atau peraturan yang dibuat di daerah tingkat I dan II dalam bentuk Peraturan daerah (Perda) pelaksanaannya perlu dimaksimalkan. Perda Pelarangan Mengonsumsi Minuman Keras, bisa dikatakan hanya mereknya saja. Implementasinya jauh dari yang diharapkan. Sanksi dengan efek jera harus dilaksanakan bagi si pelanggar agar nyawa manusia yang melayang di negeri ini tidak sia-sia lagi.

Giliran Pulau Dewata ‘Memberontak’


Judul : Ajeg Bali: Gerakan, Identitas Kultural, dan Globalisasi
Pengarang : Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA.
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tebal : xxvi + 550 halaman
Cetakan : Pertama, Juni 2010
Harga : Rp 120.000 ,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia BP 2007 UNP



Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memerdekakan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak asing lagi terdengar di telinga kita. Begitu juga dengan Gerakan Papua Merdeka (GPM) di Pulau Kangguru tersebut. Beberapa tahun silam sayup-sayup terdengar Gerakan Riau Merdeka (GRM), motifnya sama, ingin memerdekakan diri dari NKRI. Pascameletusnya Bom Bali I Oktober 2002 di Legian Kuta, slogan Ajeg Bali riak-riak muncul ke permukaan. Apakah Ajeg Bali sama dengan gerakan-gerakan sebelumnya?
Istilah Ajeg Bali mengandung makna pejantan dan bermuatan militeristik. Berawal dari sikap nasionalisme yang terus dikumandangkan pada zaman Orde Baru oleh Presiden Soeharto. Pada zaman ini identitas kedaerahan mulai bersanding dengan identitas nasional. Promosi pariwisata Bali sebagai pariwisata budaya yang bernafaskan agama Hindu telah melahirkan cara pandang baru bagi masyarakat Bali untuk melihat dan memahami jati dirinya. Sehingga Bali pun sukses dengan identitas budayanya.
Sejalan dengan hal itu, kebijakan rezim Orde Baru yang berkuasa dan mengutamakan pembangunan ekonomi, yang di Bali tampak dalam wujud nice object tourism dan mass-tourism, Bali pun dieksploitasi secara besar-besaran dalam waktu yang relatif singkat dan cepat. Bali dengan keeksotikannya langsung disulap menjadi ‘lumbung’ perekonomian tanah air. Pemerintah dan investor berbondong-bondong membangun Bali. Dimana-mana dibangun berbagai tempat pariwisata, sang pendahulu Presiden Soekarno pun jauh hari telah membangun Istana Tampaksiring di sana.
Apakah masyarakat Bali senang dan bangga? Lebih-lebih memasuki era modernisasi dan globalisasi. Di balik semua itu justru menimbulkan kegelisahan baru. Orang Bali merasa terasing di tanahnya sendiri. Banyak lahan pertanian milik petani berubah fungsi menjadi resort wisata. Pengaruh pariwisata, seperti komersialisme budaya dan desakralisasi (penghilangan kesakralan) membuat orang Bali semakin kehilangan, tidak hanya tanahnya, namun berangsur-angsur jati dirinya.
Penulis menjabarkan dalam buku ini faktor pembangunanisme dan modernisasi mengakibatkan tergusurnya sebagian tradisi, atau tetap bertahan namun mengalami relikisasi sehingga suatu tradisi tetap hidup meski mengalami pendangkalan makna, bahkan bergeser ke arah kenikmatan badaniah. Aspek spritualnya menjadi tidak dihiraukan lagi. Begitu pula dengan refleksivitas terhadap penjaga tradisi bisa mengakibatkan peran mereka (orang Bali) tergusur atau mengalami krisis legitimasi. Setiap perubahan bisa menimbulkan masalah dengan tradisi lainnya, karena secara fungsional setiap unsur kebudayaan saling berkaitan dengan unsur kebudayaan yang lain.
Perubahan terjadi dan kemudian menggusur suatu tradisi, namun di sisi lain tradisi yang akan menggantikan tradisi yang telah tergusur belumlah matang, membiasa, tidak sesuai atau bahkan tidak nyambung secara sistemik dengan tradisi atau norma yang telah ada pada masyarakat. Pegangan tradisi atau norma pun labil. Tak jelas, tradisi mana yang harus dipakai. Manusia pun hanyut dalam ketidakpastian asas normatif yang akut dan menimbulkan situasi dilematik. Dalam situasi seperti ini peluang timbulnya perilaku menyimpang sangat besar dan semakin jauh dari sendi-sendi kehidupan beragama. Hal inilah yang tengah dihadapi masyarakat Bali, dan sebenarnya juga pada masyarakat lain di tanah air.
Modernisasi dan globalisasi yang mengakibatkan masyarakat Bali mengalami perubahan sosial budaya yang hebat dan kompleks, lengkap dengan aneka penyakit masyarakat yang menyertainya. Bahkan yang tidak kalah pentingnya, modernisasi dan globalisasi dapat pula mengancam identitas masyarakat Bali. Buku ini mencoba memaparkan secara mendalam, luas, dan holistik sehingga kita dapat memahaminya secara lebih utuh apa yang dimaksud dengan Ajeg Bali.
Walaupun demikian, apa yang dipaparkan buku ini memang lebih banyak melihat perubahan sosial budaya yang berdampak negatif dan atau memunculkan berbagai masalah yang tidak diinginkan masyarakat Bali seperti peristiwa Bom Bali I dan II. Pemaparan seperti ini sengaja dilakukan untuk menyadarkan pembaca, bahwa gerakan Ajeg Bali yang terkait dengan pemertahanan identitas kultural orang Bali, tidak saja penting, tetapi juga merupakan sesuatu yang mendesak, keharusan bagi keberlangsungan hidup masyarakat dan kebudayaan Bali.
Melalui buku ini baru kita sadari ternyata di balik keelokan, kemegahan, serta keterpanaan orang-orang terutama pengunjung terhadap tanah dan budaya Bali, tersimpan sebuah pergolakan identitas pada masyarakat Bali. Pergolakan yang tak lagi ingin dieksploitasi, pergolakan yang tak lagi ingin ‘menjadi’ bagian modernisasi atau globalisasi yang justru menjadi bumerang bagi tanah dan budaya Bali.
Pergolakan identitas seperti itulah yang dibahas dalam buku ini secara detail dan komprehensif. Buku kategori sosial humaniora ini terkesan memiliki bahasan yang ‘berat’ dan cukup serius. Namun jika telah dibaca paragraf demi paragraf kesan itu pun berangsur-angsur terkikis. Justru pembaca akan merasakan seperti tengah membaca buku-buku yang banyak membahas gaya hidup atau lifestyle, bahasanya sederhana, lugas, dan banyak menampilkan istilah-istilah bahasa Bali lengkap dengan artinya. Hal ini tentu akan menambah pemahaman pembaca tentang kosa kata Bali.

Berbagi Itu Menyenangkan

Rino dan Eko sejak kecil sudah berteman. Rumah mereka berdua pun saling berdekatan. Setiap hari mereka ke sekolah dan bermain bersama. Tidak hanya di rumah, di sekolah pun juga bersama. Mereka dekat seperti adik dan kakak. Ibu Rino dan Ibu Eko saling berkunjung dan akrab seperti Rino dan Eko pula.
Suatu hari Rino dibelikan oleh ayahnya berbagai macam permainan. Ada mobil-mobilan, ada kereta api, dan pedang ksatria. Rino sangat senang dengan pemberian ayahnya itu. Ia lalu menceritakan hal tersebut kepada teman-temannya di sekolah termasuk Eko. Namun teman-teman Rino belum pernah melihat aneka permainan tersebut.
Hari itu Eko pulang sendiri dari sekolah. Tidak dengan Rino. Sejak Rino memiliki permainan baru, Eko jarang bermain bersama dengan Rino. Rino lebih memilih bermain sendiri dan tak pernah mengajak Eko. Eko pun tak tahu penyebab Rino enggan bermain dengannya.
“Seperti apa sih aneka permainan Rino?” kata Eko dalam hati.
“Kenapa Rino tak mau memperlihatkannya padaku?” ucap Eko.
Waktu itu Ibu Eko sedang memasak sup ayam kesukaam Eko. Seperti biasanya, Ibu Eko akan memberikan semangkuk sup ayam kepada Ibu Rino. Eko pun meminta izin kepada Ibunya agar ia bisa ikut ke rumah Rino bersama Ibunya. Ibunya pun terheran-heran.
“Bukankah setiap hari Eko dan Rino selalu bersama?” kata Ibu Eko.
“Sudah tiga hari belakangan tidak lagi Bu,” sahut Eko dengan murung.
“Mmm..baiklah,” jawab Ibu Eko.
Sesampainya di rumah Rino, Ibu Eko langsung ke dapur bertemu Ibu Rino. Eko di ruang tengah sedang memperhatikan Rino asyik bermain dengan aneka permainannya. Eko menyapa Rino, tapi Rino hanya diam.
“Wah bagus mobil-mobilannya,” kata Eko.
Rino tak berkata apa-apa. Tiba-tiba ketika Eko ingin memegang pedang ksatria kepunyaan Rino, Rino langsung melarangnya.
“Jangan sentuh pedangku!” kata Rino.
Eko terkejut dan langsung berlari ke dapur mencari Ibunya. Ibu Rino dan Ibu Eko pun terkejut dengan kedatangan Eko.
“Eko tidak bermain bersama dengan Rino?” Tanya Ibu Rino.
Eko menggeleng dan mengajak Ibunya segera pulang ke rumah.
Tiga hari kemudian, Rino bersama Ibunya berkunjung ke rumah Eko dan membawa sepiring rujak. Ibu Eko menyambut Ibu Rino dan Rino, tapi Eko hanya diam. Tiba-tiba Rino meminta maaf sambil mengulurkan tangannya kepada Eko karena sikapnya yang kurang terpuji. Rino mengaku merasa kesepian tanpa teman, walaupun permainannya banyak di rumah.
“Pedang ksatria tidak bisa bicara,” ucap Rino.
Rino berjanji mulai hari itu ia bersama Eko akan kembali berteman akrab dan bermain bersama.
“Eko boleh meminjam pedang ksatriaku,” kata Rino.
“Benarkah?” ucap Eko sambil tersenyum.
Mereka pun berangkulan dan tertawa bersama. Ibu Eko dan Ibu Rino pun tersenyum bangga.

Saturday, 7 August 2010

Antirokok dan Perang Kepentingan




Diawali dengan penampilan monolog oleh sastrawan Whani Darmawan, tentang asal muasal serta eksistensi perilaku merokok dalam kehidupan berbangsa di Tanah Air. Monolog menceritakan pertentangan Roro Mendut, penjual rokok di kalangan masyarakat dan pemerintah yang menentang kegiatan tersebut. Whani membawakannya begitu apik dan mengesankan. Audiens tidak hanya terperangah dengan monolog tersebut, di sisi lain juga cukup ‘hilang pegangan’, apakah setuju dengan pemerintah yang melarang merokok atau kepada Roro Mendut, dalam pandangannya merokok justru salah satu identitas bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan.
Acara itu bedah buku Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat karya Wanda Hamilton. Wanda dalam buku ini mengungkapkan dengan gamblang dan sangat rinci tentang motif-motif yang mendasari larangan dan pembatasan produk tembakau ini. Hal ini seiring dengan karirnya, peneliti independen dan pengajar ditiga universitas terkemuka di Amerika. Wanda ‘menelanjangi’ Amerika tentang niat liciknya, ingin mengulang sejarah, menjajah negeri dunia ketiga dengan segala propaganda serta penelitian dan argumen yang dalam pandangan banyak orang, ilmiah.
Amerika begitu hebat membohongi dunia. Kebohongan itu diciptakan seolah-olah betul, objektif, dan ilmiah. Tak satu pun, jika tak jeli, dari kita yang mengetahui niat busuk tersebut. Kebenaran dalam pandangan Amerika hanyalah kebenaran menurut diri sendiri, kebenaran menurut orang banyak tak lagi dihiraukan, apalagi kebenaran menurut Maha Kuasa. Mental menjajah atau kolonial pun semakin tumbuh subur dari tiap generasi. Pembohongan besar dijejalkan kepada bangsa Indonesia dengan sangat mudah. Demikian Mohamad Sobari, budayawan, dalam diskusinya di depan sekitar 300 peserta baik pelajar, mahasiswa, budayawan, akademis, wartawan, dan lainnya di Teater Utama Taman Budaya Sumatra Barat, Rabu (28/7) lalu.
Hal ini sebelumnya ditekankan oleh Salamuddin Daeng, peneliti. Bagi Daeng, isu pembatasan mengosumsi rokok kemudian diikuti dengan fatwa haram terhadap rokok yang keluar Maret lalu, seharusnya tidak dilihat dari segi kesehatan semata, tapi juga telisik dari segi ekonomi politik. Sebab maupun akibatnya juga perlu dipandang lebih jeli lagi, bahwa ada kepentingan dari perguliran isu antirokok di tanah air.
Keterlibatan Indonesia dengan perundingan dan perjanjian-perjanjian baik bilateral maupun multilateral adalah salah satu cara bagi negara maju untuk mempengaruhi dan menguasai negara berkembang, dalam hal ini antirokok dan tembakau. Menurut Daeng, Amerika memandang Indonesia adalah salah satu negara pesaing penghasil tembakau di dunia. Dengan begitu Amerika menginginkan Indonesia menghentikan produksi tembakau dengan segala alasan-alasannya, yang kemudian Amerika akan menduduki Indonesia, sebagai pengekspor rokok dan tembakau. Penguasaan pasar internasional, imprealisme gaya baru yang kembali meningkatkan hutang dan ketergantungan Indonesia ke negara Amerika atau negara maju. “Politik ekonomi, inilah tujuan utama dari kampanye antirokok dan tembakau di tanah air,” jelasnya.
Padahal jika ingin melihat segi lain dari dunia tembakau di tanah air sangatlah mengkhawatirkan. Tembakau: Segurat Sejarah, film pendek yang menceriterakan tembakau dan petaninya di Kabupaten Jember. Di tempat ini menanam tembakau sudah turun temurun dari satu generasi ke generasi lain. Ratusan ribu hektar lahan ditanami tembakau dan ratusan ton tembakau dipanem setiap musim panen. Tak heran Jember dikenal sebagai sentral tembakau di Tanah Air. Namun kehidupan petani tembakau tak selalu berbuah manis. Persaingan harga, kongkalikong para tengkulak, sengketa lahan dengan tuan tanah, serta lainnya, menjadi problematik tersendiri bagi petani tembakau. Namun demikian, petani tembakau tak bisa berpindah ke lain tanaman, karena mereka bergantung hidup dengan tanaman ini.
Ia menambahkan, berbagai perundingan internasional baik yang langsung berkaitan dengan tembakau dan rokok, maupun yang berhubungan dengan investasi dan perdagangan secara keseluruhan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, mutlak harus diwaspadai oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan sudah terlalu banyak sumbar daya alam Indonesia dikuasai oleh pihak asing, dan rakyat serta pemerintah Indonesia tak banyak berkutik. Mulai dari tambang minyak bumi, tambang batu bara, tambang emas, dan lainnya, tampuknya selalu dipegang bangsa asing. Kemudian yang didapat bangsa ini adalah sisa-sisa dari pertambangan tersebut, seperti produk yang kurang bagus, kerusakan lingkungan serta bencana-bencana yang ditimbulkannya. “Kalau tidak cermat kita akan kehilangan sensitivitas nasional,” kata Daeng.
Bagi M. Taufik, sosiolog, sudah saatnya bangsa ini jeli mencermati dan memandang segala keputusan dan kebijakan yang dibuat pemerintah. Keputusan yang dibuat pemerintah sarat dengan kepentingan ideologi tertentu. Penjajahan gaya baru dari bangsa asing, adalah penjajahan mainset atau pola pikir yang pada dasarnya telah merebak ke dalam kampus. Kondisi kekinian terkesan pendidikan tidak lagi memanusiawikan manusia, tetapi hanya untuk memenuhi pasar kerja.

‘Bahasa Gagap’ atau Gagap Berbahasa?

Sejarah perjalanan bahasa bangsa ini cukup panjang dan lama. Katakanlah berawal sebelum kemerdekaan dikumandangkan di tanah air, bangsa ini telah jauh hari merintis bahasa yang bisa dimengerti dan dapat digunakan oleh semua rakyat. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, benar adanya. Sumpah Pemuda ini dijadikan pijakan pertama akan pengakuan bahasa persatuan dan nasional yakni Bahasa Indonesia.
Sekitar 82 tahun kemudian, Bahasa Indonesia pun beradaptasi, kalau tak mau mengatakannya berubah, ke bentuk bahasa-bahasa yang kita kenal dewasa ini. Kalau dalam istilah akademisnya ada Bahasa Standar, Klasik, Artifisial, Vernakular, Pijin, serta Kreol. Jika melirik dalam bahasa di sekitar tempat tinggal kita, ada Bahasa Sleng atau Ken, Gaul, Jargon, dan sepadannya.
Kesemua variasi bahasa tersebut subur berkembang di sekitar kita. Mulai dari para siswa, mahasiswa, pegawai atau karyawan, pemuda-pemudi di lingkungannya, serta tak ketinggalan para waria dan banyak jenis profesi lainnya. Variasi bahasa tersebut diciptakan tentu tidak asal cipta dan tanpa tujuan tertentu. Setiap bahasa dalam beberapa buku sosiolinguistik, perannya tidak terlepas dari sang pencipta serta pemakainya untuk masa mendatang.
Sang pencipta dan pemakai bahasa berperan aktif sebagai penyebar variasi bahasa kepada pihak lain. Latar belakang sang pencipta dan pemakai adalah semacam ‘perwakilan’ dari apa yang mereka kerjakan. Sederhananya, refleksi diri dari si pemakai. Jika boleh diungkapkan dengan pribahasa, Bahasa Menunjukkan Bangsa.
Nah begitu juga dengan ‘bahasa gagap’ pada judul tulisan ini. Seorang teman bercerita akan ‘bahasa gagap’ yang marak di lingkungan remaja khususnya pada penulisan pesan pendek atau sms. Kategori bahasa ini tidaklah begitu ‘menggagapkan’, menurut remaja tentunya. Namun cukup memumetkan kepala, jika tak terbiasa. Sebagai contoh, /Lhu m0 M4Na?/, n3 z4 dkj4RkN cRp3nX/ atau Un!q t’ za kyuT. Bahasa seperti ini sering disebut bahasa gagap, karena ketika membacanya sedikit gagap jika tak terbiasa.

Belum lagi jika diperhatikan bahasa lisan atau percakapan sehari-hari. Ada beberapa kosa kata yang mengekori ujaran, semisal, …emang bener?/ …donk, denk/…ember/…capcay ah/ ...cape deh/ …lebay tuh/ …masa sehhh/ atau …itu mah IDL (itu derita lo) dan masih banyak lagi. Kosa kata ini pun semakin akrab di masyarakat. Ada semacam nilai rasa yang dikandung pada kosa kata tersebut yang ‘sahih’ dan harus digunakan. Tak heran jumlah pemakainya pun semakin meningkat, khususnya pada kalangan, katakanlah para siswa, mahasiswa, karyawan, pemuda pemudi dan sepadannya.
‘Bahasa gagap’ satu sisi memiliki kemenarikan tersendiri dalam perkembangan Bahasa Indonesia ke depannya. Bahasa ini menambah khasanah variasi Bahasa Indonesia. Perkembangannya pun tak bisa dibendung. Bermunculan dari berbagai tempat dan profesi tidak hanya di kota-kota besar. Selain itu, media massa cetak dan media elektronik, ikut serta menyebarluaskannya.
Sedangkan di sisi lain, bahasa ini bisa saja menjadi tantangan tersendiri bagi kelestarian dan kemurnian Bahasa Indonesia, khususnya Bahasa Indonesia resmi atau standar. Sebagai contoh, kebiasaan pemakai bahasa ini, akan terbawa-bawa dalam situasi resmi atau formal, tanpa disadarinya. Pemakaian bahasa jika tak sesuai dengan konteks, akan menimbulkan kerancuan makna dan nilai rasa bahasa yang tak menentu. Buktinya, sesekali coba perhatikan variasi bahasa yang digunakan oleh wakil-wakil rakyat di DPR atau DPRD sana. Faktanya sekarang, kita tidak hanya tergagap dari kenaikan sembako, dalam berbahasa pun sama halnya.