Skip to main content

Mahasiswa dan Pemilu Kepada Daerah

Pemilihan umum kepala daerah (pemilu kada) tak lama lagi. Dijadwalkan akhir bulan Juni mendatang pesta rakyat demokrasi tersebut akan diselenggarakan serenatak di Ranah Minang. Lima pasangan calon pun telah tampak di depan mata. Baliho dan spanduk besar-besar mewarnai kota Padang dan daerah tingkat dua lainnya. Berbagai slogan dan visi misi sang calon pun tepampang jelas di mana-mana. Tidak hanya itu, suara dan gambar sang calon juga mewarnai media massa baik cetak maupun elektronik.
Mereka adalah pasangan calon gubernur dan wakil gubernur (cagub dan cawagub) Prof. Dr. H. Ediwarman, S.H., berpasangan dengan Drs. Husni Hadi, S.H., Drs. Endang Irzal, MBA., berpasangan dengan H. Asrul Syukur., M.M., Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si., berpasangan dengan Drs. Yohanes Dahlan, M.Si., Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi., M.Sc., berpasangan dengan Drs. H. Muslim Kasim, M.Si., dan Prof. Dr. H. Marlis Rahman, M.Sc., berpasangan dengan Drs. H. Arisno Munandar. Pasangan calon ini dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda-beda dan pengalaman memimpin yang berbeda pula.
Jika ingin lebih tahu, mahasiswa bisa mencari tread record atau latar belakang sang calon agar lebih dekat dan mengerti seperti apa calon pemimpin Sumatra Barat mendatang. Mengetahui latar belakang sang calon tak salah dan tak susah pula. Tinggal mengklik internet dan surat kabar elektonik, teman-teman mahasiswa sudah bisa mendapatlan informasi tentang mereka. Dan tinggal bagaimana mahasiswa menyesuaikan dengan pilihannya kelak.
Sebagai mahasiswa yang berdomisili di tempat atau daerah yang tidak lama lagi akan mengadakan pesta demokrasi, pemilu kada Sumbar, dan mahasiswa bukanlah pemilih yang terdaftar secara legal pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) tak usah berkecil hati. Mahasiswa yang berasal dari luar kota Padang dan tak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) setempat, memang disusahkan dengan tak bisa manyalurkan aspirasi politiknya dengan bebas. Hal ini berbeda dengan pemilu presiden, asal punya KTP nasional, calon pemilih sudah bisa memilih dalam bilik suara.
Sedangkan mahasiswa yang terdaftar secara legal pada DPT mereka berhak menggunakan hak suaranya bebas dan tak terpengaruh. Walau begitu bukan berarti mahasiswa seenaknya tanpa mempertimbangkan calon pemimpin yang sesuai dengan keadaan Sumbar sekarang dan ke depannya. Pertimbangan tersebut tetap ada. Mengingat mahasiswa juga merupakan calon pemimpin masa depan, termasuk dalam ranah politik seperti pemilu kada mendatang.
Dalam lingkup mahasiswa pemilu kada merupakan sebuah pelajaran tersendiri bagi mahasiswa. Dengan ikut serta aktif dalam pesta demokrasi ini, setidaknya telah mendapatkan pengetahuan lebih atau semacam frame tentang pemilu kada. Mahasiswa sebagai agen of change, iron stock, dan control social di masyarakat, sudah sepantasnya memberikan pencerahan terhadap masyarakat sebagai pemilih kelaknya. Memberikan informasi yang jelas sudah tentu itu penting dan harus dilakukan. Bukan berarti sebaliknya.
Pandangan mahasiswa tentang pemilu kada memang berbeda-beda. Ada yang ikut serta apakah itu dalam bentuk mengadakan acara debat dan dialog dengan pasangan calon, bedah visi dan misi ataupun lainnya. Ada pula yang tak mau tahu sama sekali, semakin sibuk dengan dunia perkuliahan di kampus. Dua keadaan yang bertolak belakang ini tidak semuanya baik dan buruk. Mahasiswa yang aktif dalam agenda pemilu kada, itu baik. Dan mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan perkuliahan di kampus, juga tidak jelek. Kedua kondisi ini muncul karena berbagai faktor.
Mahasiswa yang ikut serta dalam pemilu kada, merupakan salah satu caranya mereka belajar memimpin, mengadakan sebuah acara, dan memberikan pencerahan bagi mahasiswa serta masyarakat setempat. Sedangkan pada pilihan kedua, bisa saja mahasiswa tersebut tidak mau tahu dan masa bodoh dengan perbedaan keadaan di sekitarnya. Tetapi, jika mahasiswa bersikap cuek, bisa jadi ini adalah salah bentuk “perlawanan” terhadap keadaan pemimpin masa sekarang yang lebih banyak mengecewakan daripada mengayomi. Ini salah satu alasannya.
Fenomena pemimpin yang terjerat kasus korupsi, penyelewengan, pemerasan, makelar kasus, dan memanfaatkan kesempatan memancing di air keruh, juga banyak muncul ke ranah publik. Hal ini menyebabkan pandangan miris dari rakyat kepada pemimpin di atas sana semakin besar. Mosi tidak percaya juga berkembang dan menyebar di kalangan mahasiswa.
Pemilu kada ini merupakan salah satu cara memperbaiki citra pemimpin masa depan yang jauh lebih baik. Caranya, ya, mengetahui sepak terjang pasangan calon sewaktu menjabat. Mempelajari visi misi mereka dengan cermat dan tak segan-segan lemparkan kritikan dan masukan kepada sang calon. Setidaknya dengan begitu mahasiswa telah berbuat yang lebih positif daripada tidak sama sekali. Ingat apatis terhadap lingkungan akan merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Comments

Popular posts from this blog

Gilby Mohammad

Etika Religius untuk Masyarakat Modern

Judul : Agama dan Bayang-bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari Penulis : Dr. Mustari Mustafa Penerbit : LKiS Yogyakarta Tebal : xii + 206 halaman Cetakan : I, Juni 2011 Harga : Rp 40.000,- Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP Pascareformasi bangsa Indonesia harus menghadapi tantangan yang jauh lebih besar, baik itu permasalahan nasional maupun dari luar negeri. Berbagai kemelut pun melanda Tanah Air ini. Mulai dari krisis ekonomi, politik, nasionalisme serta moralitas yang jauh lebih mengancam ketentraman dan kedamaian kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecenderungan pihak-pihak penguasa untuk mendahulukan kebutuhan pribadi atau kelompoknya, semakin meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat kepada penguasa. Alhasil, berbagai tindakan, aksi bahkan pelanggaran hukum ikut serta mewarnai kehidupan masyarakat yang bermuara kepada instabilitas nasional. Kondisi ini menjadi perhatian utama sekaligus kegamangan bagi Dr. Mustari Mustafa, seorang pendidik ya...

Perfect Vibe: Perjalanan dan Perpindahan

Menginjak setahun bermukim di Jakarta, saya memutuskan untuk pindah tempat tinggal meski masih dalam wilayah yang sama. 2018 pun dimulai dengan menghuni kamar baru, ibu-bapak kos baru, teman-teman kos baru, asisten rumah tangga yang baru, dan kesibukan yang baru juga. Saya sengaja mengambil kamar yang menghadap ke atap-atap rumah penduduk, langsung bertatapan dengan langit, awan, dan matahari. Efeknya, sepanjang hari dan hampir tengah malam pintu kamar dan jendela selalu terbuka lebar menampung semua yang datang dari luar: udara dari empat penjuru, debu dari genteng-genteng, sinar mentari-bulan-bintang, suara nakal dari atap plastik tetangga yang lepas pakunya, serta semilir angin yang menjalar hingga ke lantai di bawah meja. Suasana ini tidak didapatkan setahun belakangan. Pernah terpikirkan tapi tak kunjung diwujudkan karena hari-hari penuh diisi dengan mengabdi kepada visi misi lembaga tempat bekerja. Jadi, pulang dari kerja diisi dengan istirahat, bermain game di bawah sinar la...