Friday, 10 June 2016

Balimau, Mandi Besar Masuk Ramadan

Setiap memasuki bulan puasa, Ramadan, balimau menjadi hal wajib bagi kami di rumah. Balimau merupakan mandi besar, mandi wajib sebelum menjalankan ibadah puasa. Tujuan balimau tentu saja untuk membersihkan dan menyucikan untuk menyambut bulan yang suci. Mandi besar ini dilakukan pada sore hari yang dilanjutkan dengan malamnya melaksanakan salat tarawih.

Ini menjadi tradisi di keluarga besar kami di Pesisir Selatan yang kemudian berlanjut ketika tinggal di Mukomuko. Dulu, kalau di kampung, tradisi balimau dilengkapi dengan rempah-rempah dan air wangi. Rempahnya, yang saya ingat, ada bunga mawar dan daun pandan. Itu dua rempah yang paling saya ingat, sepertinya masih ada yang lain.

Kata balimau terdiri dari imbuhan ba- dan limau. Ba- sendiri sama dengan ber-, sementara limau, bermakna jeruk. Terjemahan literalnya berjeruk atau memakai jeruk, hahaha. Sementara makna semantiknya memakai jeruk untuk membersihkan diri. Jeruk kan juga identik untuk membersihkan, mewangikan, dan membuat jauh dari noda bahkan bakteri. Balimau, kira-kira terjemahan agak seriusnya begini: memakai jeruk beserta rempah lainnya untuk membersihkan diri dari noda dan kotoran menjelang menunaikan ibadah puasa Ramadan.

Nah, tradisi ini tidak hanya berkembang di Sumatera Barat. Di Mukomuko, Bengkulu, tradisi ini juga menjadi primadona. Ketika saya di Padang, pada hari balimau, orang-orang sibuk dan ramai turun ke tempat pemandian umum seperti sungai, taman bermain yang ada air tempat mandinya, dan sebagainya. Hari itu bisa lebih ramai ketimbang hari libur akhir pekan. Bisa seperti hari lebaran di mana orang-orang sibuk kesana kemari, lalu lalang, hilir mudik merayakan balimau.

Itu di Padang. Di Mukomuko juga sama, bahkan lebih mengerikan lagi. Kawasan pemandian umum tidak hanya menyediakan jasa pinjam ban, bebek-bebekan, dan sejenisnya untuk orang-orang berenang tapi juga menyediakan hiburan organ tunggal di sekitar kawasan pemandian. Orang-orang sebelum menceburkan diri ke sungai, bisa ‘pemanasan’ dulu menonton hiburan, atau sebaliknya, setelah puas dan pucat pasi mandi berjam-jam di sungai kemudian naik ke daratan mengeringkan badan, ‘relaksasi’ sembari menikmati hiburan musik.

Perayaan balimau di Mukomuko yang bagi saya luar biasa ini, tidak jarang memakan korban. Pernah suatu waktu, beberapa tahun silam, terjadi insiden di kawasan pemandian umum. Panggung musik yang sedang seru dan ramai dipenuhi oleh pejoget yang sudah puas mandi, tiba-tiba ambruk. Tidak sedikit anak-anak muda mengalami cidera dari tragedi itu. Abang saya menyaksikan langsung dan beruntung ia tidak berada dalam gerombolan di atas panggung.

Lain di tempat pemandian, lain pula di jalan. Sejak siang hingga menjelang sore adalah waktu di mana orang-orang ramai lalu lalang menuju tempat pemandian. Jalan lintas Bengkulu-Sumbar persis di depan rumah saya. Saya tahu betul arus lalu lintas saat-saat orang beramai-ramai untuk balimau. Hampir setiap detik mobil konvoi dan terutama motor lewat di depan rumah. Suaranya bising dan rata-rata dengan kecepatan tinggi, 80km/jam. Medan jalan kawasan Mukomuko cukup rata dan beraspal bagus. Tapi, banyak kelokan dan tikungan di sepanjang jalan lintas, apalagi memasuki kawasan pemandian di pedalaman. Jalan yang mulus tapi berkelok-kelok dan turun naik juga berbahaya. Pada tahun-tahun lalu, pada musim balimau, ada saja orang yang mengalami kecelakaan ketika menjalankan tradisi keren ini. Biasanya selepas pulang balimau.

Di tempat saya agak berbeda dengan di Padang. Kalau di Padang, balimau di tempat pemandian umum juga diikuti oleh anak-anak dan orang tua, selain anak muda dan remaja. Sementara di Mukomuko, balimau mayoritas dirayakan oleh anak muda, terutama anak muda yang kasmaran. Balimau seperti menjadi ajang bagi anak muda jalan-jalan bersama orang tercinta terkasih tanpa perlu banyak ditanya oleh orang tua akan kemana mereka berdua-dua. Balimau menjadi liburan sore yang asyik tanpa ‘gangguan’ orang tua mereka masing-masing. Berboncengan berdua sepanjang jalan, mandi berdua di tengah bersama-sama, menikmati hiburan berdua, makan berdua sebelum menjalan ibadah puasa Ramadan. Pemadangan ini sudah biasa.

Mungkin karena itu pula penyebab kecelakaan baik di tempat pemandian maupun di jalan ketika hari balimau itu datang. Karena anak muda masih hiruk pikuk dan suka labil dengan euforia balimau. Maka tak heran, di tempat saya balimau lebih diasosiasikan dengan dunia anak muda jalan-jalan dan mandi-mandi bersama sebelum Ramadan.

Saya sendiri pernah mengikuti tradisi balimau di luar rumah. Waktu itu saya dan teman berjalan-jalan saja kemana motor membawa. Kami tidak mandi-mandi di tempat pemandian umum, pun juga tidak mendekati kawasan tersebut. Sialnya, menjelang magrib pulang ke rumah, gempa 7 SK menimpa kawasan kami. Ini cerita sedih, beruntung saya, teman, dan keluarga tak apa. Soal gempa menjelang puasa ini, sepertinya sudah menjadi ‘tradisi’ pula di tempat saya. Ramadan tahun 2016 ini, pada Kamis menjelang puasa, Mukomuko juga dilanda gempa bumi 6,3 SK. Cukup mengguncangkan kami di subuh hari dan beruntung tak ada korban.

Sejak itu saya tidak pernah lagi merayakan balimau di luar rumah. Setiap memasuki bulan puasa, saya dan ibu hanya mandi di rumah. Kami membuat rempah wewangian sendiri dari daun pandan dan lainnya.

Demikian tradisi balimau yang ada di tempat saya. Saya tuliskan di blog karena sepertinya ini penting, menjadi bagian dari kehidupan saya yang agaknya tidak setiap orang memiliki cerita seperti yang kami miliki, hehehe. Terimakasih.



Tuesday, 7 June 2016

Ramadhan 2016, Tidak Semua Ikut Berpuasa di Rumah

Sejak beberapa tahun belakangan, ramadhan bersama ibu di rumah di Mukomuko menjadi sesuatu yang istimewa. Maklum, selama ramadhan saya kerap jauh dari rumah dan ibu. Jika tidak di Padang ya di Jogja. Ramadhan dihabiskan sendiri atau bersama teman di kosan. Kata ibu, “Ramadhan yang buka dan sahur sendiri.”

Ramadhan tahun ini saya di rumah bersama ibu dan kakak-kakak. Ya senang sih, menikmati ramadhan beramai-ramai, tidak sendiri atau dua tiga orang saja. Ditambah pula ramadhan ini rumah kedatangan satu tambahan anggota keluarga: kakak ipar, hehehe.
Cerita ramadhan di rumah sepertinya tidak banyak berbeda dengan cerita ramadhan yang sudah-sudah. Bahwa akan selalu ada pihak-pihak yang tidak berpuasa selama ramadhan. Berikut beberapa pihak yang tidak berpuasa selama ramadhan di rumah saya:

1. Da Dedi. Ini abang saya yang sulung. Abang saya ini sangat spesial, sehingga tidak memungkinkan berpuasa di bulan puasa. Kami selalu menjaganya.

2. Aji. Ini kucing kami yang paling ganteng. Umurnya hampir satu tahun. Selalu pakai kaos kaki belang, ya karena bulunya belang, hahaha. Matanya besar, hidungnya besar, dan pahanya besar. Agak flamboyan, karena tak suka dielus banyak. Dia tidak cakap mengeong. Kata ibu, suaranya seperti suara orang dicekik. Ini biasa ia lakukan jika tak menjumpai kakak saya di rumah. Dia sangat manja pada kakak saya. Sejak saya di rumah, dia kerap tidur di kamar saya. Saya berusaha melayani dia dengan profesional: tidak mengelus-elus resek ketika tidur di kamar.

3. Achil kecil. Ini juga kucing. Umurnya sekitar 5-6 bulan. Beberapa pekan sebelum ramadhan ini, tak sengaja, abang saya menabrak pinggangnya pakai mobil. Alhasil, selama sekian pekan ia tidak bisa bergerak banyak. Makan di tempat tidur, pipis di tempat tidur, pup di tempat tidur, mandi sekenanya di tempat tidur. Saya dan kakak bergantian merawatnya. Ibu kebagian mengawasinya, sementara abang kebagian menyalakan obat nyamuk bakar untuknya. Beruntung, masuk ramadhan ia sudah bisa berlari-lari meski kaki kirinya pincang, juga mahir bermain bola. Senang sekali melihatnya semakin sehat dan bisa berkejaran sana sini. Sejak mulai sembuh ia selalu tidur bersama saya. Ya, sejak ia mulai sembuh saya lebih sering tidur di lantai di depan tipi ketimbang di kamar.

4. Ace besar. Ini juga kucing, kucing besar. Usianya hampir dua tahun. Ia tidak pernah bercanda dengan saya. Tapi kalau lapar ia tidak segan-segan mencari saya ke kamar sembari mengeong hebat. Apalagi kala bukan minta makan. Bentuknya jelek, karena wajahnya penuh cakaran. Ia suka berkelahi. Ia pula yang mengajari Aji berkelahi dan, sepertinya juga berpacaran. Malangnya, di luar sana ia pernah berkelahi dengan Aji. Hingga Aji babak belur. Sementara di rumah seperti ayah-anak yang tidak banyak bersenggolan dan bercakap-cakap serius. Makan ya makan aja. Tidur ya tidur aja. Kami menyebutnya si kereta api, karena ketika lewat di tengah ruang depan, ia lewat begitu saja sembari mengeong kencang seperti kereta api sedang lewat.

Nah, demikianlah beberapa pihak yang tidak ikut berpuasa di rumah ketika ramadhan. Sebagai anak yang baik saya ikut bertanggung jawab atas pemenuhan hak-hak untuk makan-minum-tidur mereka selama ramadhan. Untuk para kucing saya menyediakan makanan-minuman setiap 3-4 jam. Menyediakan tempat tidur santai dan beberapa mainan seperti boneka dan bola berbulu khusus buat Achil kecil.

Demikianlah.

Monday, 6 June 2016

Mencintai Ibu

Bagaimana mencintai ibu?

Saya dengan mengambil alih pekerjaan yang dilakukan ibu, yang bisa saya lakukan. Ambil alih pekerjaan ini sebenarnya tidak selalu. Misal, tidak selalu saya yang mencuci piring atau tidak selalu saya yang memasak. Seperti pagi ini, saya tidak memasak, melainkan beliau. Sembari memasak beliau mengerjakan yang lain: membereskan rak piring, mengelap meja. Tapi, jika ada yang berbelanja, saya yang angkat pantat melayani pembeli.

Kecuali menjahit. Beliau tidak menjahit pakai mesin, hanya jahit tangan. Menjahit kancing baju kakak yang lepas, menjahit selangkangan celana saya yang robek, menjahit baju nenek yang kepanjangan, atau menjahit sprei yang sobek digaruk kucing. Di depan mata saya, menjahit seakan-akan menegaskan ibu sebagai ibu. Ibu sebenarnya jarang menjahit. Tapi beliau punya banyak koleksi benang dengan berbagai warna. Dan beliau selalu menyimpan perlengkapan jahit ini.

Meski tak pernah membantu ibu menjahit, tapi saya juga selalu memiliki perlengkapan jahit. Sejak di Padang hingga di Jogja. Selalu memiliki penjahit, benang, gunting, peniti, dan menyimpan kancing-kancing liar. Warisan kebiasaan dari ibu sepertinya. Menjahit adalah aktivitas purba yang bertahan hingga sekarang.

Ibu suka memasak. Beliau memasak setiap hari tanpa putus. Mulai dari air panas, nasi putih, sayur, lauk. Terlebih ketika saya di rumah, yang membuat anggota keluarga lengkap, beliau nyaris memasak panganan setiap hari. Kemarin menggoreng ubi, kemarinnya memasak lemper, kemarin lusanya memasak godok pisang, pekan kemarin memasak lemper lagi, hari ini bisa jadi membakar pisang atau merendang ketan jemur.

Setiap hari pula perhatian saya tercurah kepada dapur bersama beliau. Bagaimana tidak, seperti pada kalimat pembuka tulisan ini, itu bentuk cinta kepada ibu. Tidak tega membiarkan beliau sendiri di dapur dan menggodok semua panganan untuk satu keluarga. Satu sisi mungkin otak saya tumpul karena nyaris tak punya waktu untuk membaca apalagi menulis. Tho, kalau membaca paling membaca timeline twitter. Kalau saya menulis, ya menulis yang beginian saja, sebagai nutrisi blog.

Saya jadi berpikir, kenapa perempuan kerap terlihat tidak cerdas dan berada (tereksklusi) di luar isu-isu sosial utama di sekeliling mereka? Nyaris seharian mempersiapkan makanan dan mengurus rumah+anak adalah faktor terbesar penyebabnya. Perempuan nyaris tidak memiliki waktu melayani dirinya sendiri selain mandi pagi dan mengganti pakaian dengan yang bersih. Selebihnya untuk suami, anak, dan rumah. Rutinitas domestik itu benar-benar membunuh potensi perempuan.

Ibu saya adalah contoh yang paling lawas. Ada contoh lain yakni tetangga saya. Ia ibu dengan dua anak. Si sulung bersekolah SD, sementara si bungsu menginjak 3 tahun. Sejak saya di rumah, atas permintaan ibu, saya betul-betul mengamati kehidupan kesehariannya sejak pagi hingga malam ketika menutup kios BBM miliknya.

Pagi sekali, ia sudah membuka kios BBMnya. Sejak pagi, ia bersama suami melayani pembeli BBM yang lalu lalang di depan rumah. Pekerjaan dilanjutkan di belakang: menyiapkan perlengkapan sekolah si sulung, memandikan si bungsu, memasak, mencuci, menyapu rumah, menyapu halaman, menyuapi si bungsu, mengontrol PR si sulung sesudah pulang sekolah, mengawasi si bungsu bermain, menyiapkan makanan suami, selain mandi dan berdandan buat diri sendiri. Begitu setiap hari dan itu sebagian besar saja, sementara ada sebagian kecil lagi seperti mengingatkan si sulung dan adik mengaji, mengurus ibu dan mengurus paman.

24 jam dihabiskan dengan rutinitas demikian tiada jeda. Serupa ibu, pagi-pagi sekal beliau sudah bersih-bersih rumah, menjelang siang menyiapkan makanan, siang beres-beres –ada saja yang diberesi-, sore bersih-bersih lagi, dan malam waktu untuk istirahat. Waktu istirahat itu tidak murni tanpa mengerjakan yang lain. Entah mengisi bak mandi, entah mengecek mobil yang terkunci baik atau belum, dan entah apa lagi.

Menyaksikan sekian banyak pekerjaan harian ibu, ingin rasanya saya mengambil alih dan membiarkan ibu duduk-duduk di warung sembari melayani pembeli saja. Saya pernah mengambil alih. Dan yang paling sederhana cara membantu ibu adalah dengan tidak membiarkan mata terlelap di siang hari sementara ibu sibuk beres-beres tiada henti. Jika itu terjadi, selepas bangun tidur saya merasa menyesal. Menyesal karena membiarkan ibu tidak ikut terlelap dan menyesal karena ada aktivitas produktif lain yang bisa saya kerjakan.

Ibu Saya
Ibu saya suka bersih-bersih dan rapi-rapi. Sejak kami kecil, beliau bersama mendinga abak (ayah) berjualan di rumah dan di pasar. Dulu sekali beliau berjualan lontong sayur di depan rumah, rumah lama kami berada di sekitar pasar mingguan. Selain berjualan lontong ibu juga sibuk menjajakan keripik singkong hasil olahan tangan beliau sendiri. Beliau cukup ahli untuk itu, Cuma beliau tak pernah lakukan lagi sejak usaha abak semakin meningkat. Beliau pun lebih banyak membantu usaha abak di rumah dan di pasar.

Itu dulu sekitar 23 tahun lalu, ketika saya masih bermain di bawah rimbun tebu bersama ayam-ayam peliaharaan abak. Kini, ibu di rumah saja, sibuk membereskan rumah, dan melayani pembeli di warung. Nah, hobi beberes rumah ini sepertinya cukup berbahaya. Bagaimana tidak, ibu nyaris tak berhenti beraktivitas sepanjang hari. Ada saya yang beliau kerjakan. Misal, habis mencuci kain lap, ketika beberes kamar beliau menemukan kain lap yang kotor lagi, segera beliau cuci itu kain lap. Untuk bercerita soal ini, saya sudah lelah duluan menceritakan kepada pembaca.

Ibu saya itu suka memberi. Saya belajar banyak dari kebiasaan baik beliau ini. Sepertinya, jika tidak dari mendiang nenek, beliau dapatkan kebiasaan ini dari Ayek Irul. Ayek Irul adalah nenek gaul yang anak bungsunya bernama Irul. Nenek ini suka berdendeng, bercerita, berpantun, dan bercanda bersama orang-orang sekitar. Beliau turut mengasuh kakak-kakakku ketika ibu, abak, dan aku berjualan di pasar. Sebagai bungsu, ibu jarang sekali meninggalkan aku di rumah. Kemana-mana dibawa, kemana-mana dikundang.

Nenek Irul sudah dianggap ibu oleh ibuku. Maklum nenek kami jauh di kampung. Dan lagian, Nenek Irul juga sudah dijadikan ibu angkat oleh kakak perempuannya. Ceritanya, karena kakak perempuanku mirip ibu, dalam tradisi kami di Minang, kakak perempuanku mestilah digadaikan kepada orang lain agar sehat selalu. Alhasil, kakakku digadaikan kepada Nenek Irul. Dengan senang hati, si nenek mangangkat kakak perempuannya sebagai anak beliau. Malam itu juga si nenek membelikan sebungkus roti, roti marie, untuk kakakku. Aku masih ingat malam itu, hahahaha.

Nenek Irul yang sudah tua membuat ibu jadi kasihan. Dan kebaikan Nenek Irul pada ibu dan abak pasti tak tergantikan. Oleh karena itu, ibu selalu membagi makanan apa saja yang ada di rumah untuk Nenek Irul dan anak bungsu si nenek. Mulai dari lauk-pauk, nasi, gulai, makanan pabukoan waktu ramadhan, lebaran, dan sebagainya. Si nenek pun juga berkesan di hati saya. Saya, seringkali lebih suka masakan beliau ketimbang masakan ibu. Entah kenapa. Semua yang beliau masak selalu enak di lidah saya. Sehingga, si nenek pun selalu mengantarkan makanan ke rumah kepada ibu untuk saya, hehehe.

Saling bertukar makanan ini agaknya sebagai contoh yang paling bagus buat saya hingga saya tumbuh besar. Suka memberi dan suka menerima pemberian tetangga. Ini mengajarkan saya untuk, beberapa kali, memberi makanan pabukoan kepada tetangga-tetangga pada suatu ramadhan belasan tahun silam. Senang rasanya memberi makanan kepada mereka.

Tapi, kalau dipikr-pikir, setelah saya tidak banyak di rumah, di Jogja misalnya, satu dua tetangga juga suka memberi makanan ke saya. Mereka orang baik. Dan orang baik tersebar di banyak tempat serta jumlah mereka juga pasti banyak. Ibu dan orang-orang baik yang suka berbagi menjadi inspirasi dan tempat belajar yang bagus buat saya.





Friday, 27 May 2016

Dan Saya Jadi Adik Ipar

Setelah melalui kisah yang panjang dan menyayat hati, akhirnya si abang menikah jua. Kami, terutama amak, mak tuo, dan para etek riang gembira tiada tara. Baralek, pesta sederhana pun disusun dan disiapkan di kampung, tempat kelahiran si abang dan kediaman istrinya. Amak bolak balik ke kampung dari Lubuk Sanai, Mukomuko hampir setiap dua minggu. Beliau dengan riang gembira tadi memasak berbagai macam makanan ringan. Ada onde-onde, lapek, kue beking, dan lainnya. Beliau memang suka memasak.

Sementara amak dan keluarga sibuk menyiapkan pernikahan si abang, saya sedang di Yogyakarta. Saya juga sibuk menyiapkan upacara wisuda master saya yang kedua di Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada. Iya, wisuda master saya yang kedua, yang pertama di Kajian Budaya dan Media pada Oktober 2015 lalu, hehehehe. Saya memang kurang kerjaan, mau-maunya ambil master dua kali di UGM.

Si abang menikah pada 29 April 2016. Saya wisuda pada 19 April 2016. Amak dan uni sudah datang pada wisuda pertama saya dari Padang ke Jogja. Wisuda kedua ini amak tak lagi bisa menemani karena beliau sibuk dan takut sering-sering naik pesawat. Alhasil, saya sendiri merayakan wisuda kedua ini. Ada beberapa teman yang menemani dan tak perlu sentimentil dengan keadaan waktu itu.

27 April saya putuskan naik pesawat ke Padang dari Jogja guna menghadiri pernikahan si abang. Pernikahan si abang ini adalah pernikahan pertama dari keluarga kami. Dia orang pertama yang membuat amak menjadi mertua, hehehehe. Tentu saya senang dan bahagia. Perjalanan Jogja-Padang dilalui dengan lancar dan tanpa delay pesawat. Saya berterimakasih banyak kepada maskapai Lion Air waktu itu, hehehehe.

28 April ritual memasak besar dimulai di rumah mak tuo, sekitar 3 km jaraknya dari rumah kakak ipar saya. Amak dan mak tuo dibantu orang sekampung memasak berbagai macam jenis lauk. Ada goreng jengkol, asam pedas tongkol, gulai nangka, gulai ayam, rendang ayam, goreng tongkol, sambalado, rebus daun ubi dan buncis. Saya perhatikan waktu puncak acara, goreng jengkol, sambalado, dan rebus daun ubi plus buncis tak tersisa. Para tamu lebih doyan makan menu tersebut ketimbang yang lain. Saya juga doyan.

29 April pada pagi hari si abang mengucapkan ijab qabul di sebuah musala di kediaman kakak ipar. Sebagai mantan jurnalis, saya sudah lalai karena tidak mencari tahu nama musala tersebut. Mengendarai mobil butut yang dipakai abang berjualan di rumah, kami menuju musala tersebut. Sopir yang mengendarai mobil lupa-lupa ingat lokasi musala sehingga sempat kelewatan. Beruntung orang-orang di musala menyoraki sehingga dia mengerem cepat dan berbalik. Kakak ipar saya sempat kesal karena kelamaan menunggu si abang dan rombongan. Kira-kira begini gerutunya, “Jadi nikah nggak sih?!” Hehehehe.

Nah, detika-detik mengucapkan ijab qabul, ternyata mertua laki-laki si abang terpatah-patah mengucapkan kalimat menikahkan anak gadisnya. Musala rame diisi oleh warga sekitar. Warga sekitar ini juga tak sabaran. Beberapa menyerukan agar posisi ayah digantikan oleh anak laki-lakinya sebagai wali. “Berhubung waktu jumat sebentar lagi datang, pasrahkan sajalah!” Kata mereka. Giliran si abang yang kesal. Dia memasang muka ‘yah capek deh’ di depan penghulu, hahahaha. Saya mesem-mesem menahan tawa sembari tetap memotret dan merekam.

Sebelum ijab qabul si abang meminta restu kepada amak. Ia meminta amak mendoakan agar keluarganya diberkahi. Ini adalah momen yang mengharukan. Amak menangis, abang menangis, saya ikut menangis. Ada cerita panjang dalam keluarga kami selama 30an tahun ini. Ada kisah bahagia dan ada sejuta cerita sedih. Momen meminta restu tersebut seakan memutar kisah-kisah kami dalam satu keluarga yang membuat suasana jadi haru biru. Amak mengelap air matanya, si abang menyeka matanya, saya mengusap mata sendiri. Iya, momen itu sangat bermakna.

Kakak ipar akhirnya dinikahkan oleh kakaknya. Tak jadi oleh ayahnya. Setelah ijab qabul, acara dilanjutkan dengan berdoa bersama di rumah kakak ipar. Petatah petitih dilantunkan. Doa panjang dilafazkan. Dan makan bersama sebagai penutup acara pagi itu. Di sela makan, raut muka amak bahagia sekali. Saya mengusili amak sebagai sudah sah jadi mertua. Beliau tertawa diiringi gelak tawa dari ibu-ibu yang lain.

Selepas Jumatan, si abang dipanggil oleh bako, sanak saudara mendiang ayah, orang Melang. Kampung Melang atau Marelang ini berada di belakang kampung Jambak, kampung kami. Ada empat lelaki paruh baya menjemput si abang. Si abang dijemput ke Marelang guna dipakaikan pakaian pengantin sebagai mempelai laki-laki. Si abang pun, masih mengenakan kemeja putih dan jas, menuju ke Marelang. Saya menyusul bersama keponakan.

Sesampai di sana, bako, kakak sepupu, kakak jauh, keponakan mendiang abak menyambut kami dengan isak tangis. Mereka antara bahagia dan sedih menyaksikan anak pisang, anak mendiang abak, sudah besar dan kemudian menikah. Mereka teringat akan abak yang dulu sering sekali mampir di Marelang ketika akan ke Padang berbelanja dan mengunjungi saya yang kuliah di sana.

Kata mereka, mendiang abak akan sangat senang dan bangga dengan kami yang sudah besar-besar dan datang ke kampung Marelang. Meski abak sudah tiada, tapi hubungan kerabat bako-anak pisang masih terjalin. Seorang ibu, saya panggil mak tuo, bercerita panjang dan banyak tentang kami pada masa kecil dulu. Beliau yang mengasuh ketika amak dan abak sibuk bekerja. Memandikan, memberi makan, dan menidurkan terutama kakak-kakak saya. Sementara saya, mereka seperti lupa, karena saya dibesarkan tidak di kampung, tapi di Lubuk Sanai, Mukomuko, Bengkulu.

Saya yang sejak pagi sudah dibuat berkaca-kaca, kembali berkaca-kaca ketika mendengar cerita mereka tentang abak dan masa kecil kami dulu. Ketika saya ceritakan kisah ini kepada amak di malam hari, amak berkata “Mak tuo itu memang begitu. Dia bercerita sembari berdendang. Dendangnya itu membuat hati kita pilu. Begitulah beliau. Kamu dan kakak-kakakmu tidak akan mereka lupakan. Ada banyak jasa abak di Marelang untuk mereka dan keponakan-keponakannya. Abakmu itu suka memberi apalagi kepada keponakan-keponakannya.”

Kita tinggalkan kisah menguras hati ini. Setelah makan dengan gulai ikan dan sambal telor, si abang didandani oleh bako. Dia dibedaki dan diberi lipstik. Pakaiannya diganti dengan pakaian anak daro, pengantin. Berwarna merah, berkopiah kuning emas, pakai saluak di pinggang. Sementara di luar musik gandang-sarunai mengiringi. Iringan musik ini dimainkan oleh teman-teman abak di Marelang. Kami hanya mengenal namanya, tapi mereka tentu mengenal kami melalui abak. Dan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka mengiringi anak lelaki temannya menikah.

Si abang pun kemudian digiring ke kampung Jambak dengan pakaian yang serba merah itu. Sepanjang jalan gandang-sarunai mengiringi dan menarik orang-orang di kampung Marelang mengikuti langkah si abang. Prosesi ini disebut antar anak-pisang. Ada sekitar 100 orang mengikuti dari kampung Marelang ke kampung Jambak. Seorang ponakan mendiang abak berbisik, “Jika kamu menikah di kampung kelak, kamu akan kami hantarkan juga seperti ini,” katanya. Saya dan dia kemudian terbahak.

Sesampainya di kampung Jambak, hidangan dari amak sudah tersedia. Mereka langsung masuk dan menikmati semua hidangan tadi. Ramai sekali. Semua sibuk. Saya sibuk memotret. Amak kemudian dipanggil oleh mak tuo-mak tuo yang kontan-dekat dengan mendiang abak. Semua hantaran dihitung. Beras dihitung, gula dihitung, kain dihitung, uang dihitung, kue dihitung, dan emas dihitung. Semua kemudian diserahkan kepada amak disaksikan oleh mak tuo-kakak amak, para sepupu saudara nenek dan lainnya. Di Minang itu dikenal dengan hantaran bako-pemberian dari saudara ayah.

Setelah berhitung, si abang dilimaukan-didoakan oleh mak tuo dari saudara mendiang abak tadi. Dilanjutkan dengan pemberian dua cincin emas kepada si abang sebagai tanda cinta kasih bako kepada anak pisang. Si abang dan amak berterimakasih banyak. Semua senang, semua bahagia.

Sebagian dari pengunjung tadi kemudian pulang ke rumah masing-masing. Sementara yang kontan-dekat dilanjutkan dengan hantaran pamali-si abang diantarkan oleh bako ke rumah kakak ipar. Beramai-ramailah kami ke rumah kakak ipar. Saya kesal di sini. Di tengah perjalanan, sebuah truk iseng menciprati saya dan sepupu dengan tai sapi yang sepertinya baru saja dihajatkan. Dengan berat hati dan sabar saya membasuh baju, rambut, dahi, dan lengan yang terkena semburan hijau itu. Sepupu mengumpat sepanjang perjalanan. Akhirnya, separuh basah saya berfoto dengan pengantin. Yha robb!

Lalu, kami makan lagi. Kue-kue dari hantaran pamali disajikan. Kue-kue tersebut dimakan oleh mak tuo-mak tuo dari saudara bapak tadi. Saya dan ibu makan dengan gulai ikan asap. Setelah makan, ritual memotong sasampek-ayam ditimbun dengan nasi kuning pun dimulai. Pengantin diminta mencomot nasi kuning lalu jejak comotan itu digali hingga menemui bagian tubuh ayam. Ada yang mengenai kepala, kaki, dan sayap. Kepala bermakna sebagai pemimpin, kaki bermakna sebagai pekerja, sayap bermakna sebagai pejalan atau petualang atau perantau. Memotong sasampek dipandu oleh kaum ibu, tak seorang pun tampak kaum bapak. Dan kaum ibu pula yang memaknai masing-masing bagian tubuh ayam-ayam tadi. Saya mendengarkan dan memotret.

Setelah segala ritual ditunaikan, si abang kembali dibawa pulang ke kampung Jambak. Malamnya, selepas salah Isya, dia dan beberapa temannya datang lagi ke rumah kakak ipar hingga subuh. Subuh hari dia sudah kembali berada di kampung Jambak. Baralek si abang pun akhirnya selesai sudah. Tinggal kami di rumah mak tuo membereskan piring kotor, membagikan menu sisa baralek ke orang kampung, dan menghitung hasil-pendapatan dari baralek yang sederhana itu.

Hehehehehe...




Sunday, 17 April 2016

Kematian di Balik Kejayaan Singapura: Ulasan Atas Film Ilo Ilo



Ilo Ilo ialah film yang berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga menengah di Singapura yang tengah didera krisis ekonomi Asia. Krisis ekonomi Asia adalah isu lawas yang terjadi pada 1997, yang bermula di Thailand dan menyebar luas di kawasan Asia Tenggara. Krisis yang semakin meneguhkan Perdana Menteri Goh Chok Tong (dengan penasehat Lee Kuan Yew) mati-matian membangun Singapura dengan mengandalkan sumber daya manusia semata: pendidikan dan pelayanan. Krisis yang memaksa kediktatoran Jenderal Suharto ‘says good bye’ dari Indonesia.

Perusahaan kaca tempat Teck (ayah) bekerja bangkrut di pasar saham. Perusahaan kapal tempat Hwee Leng (ibu) bekerja nyaris setiap hari memecat karyawan-karyawan rendahan. Krisis ekonomi ini semakin pelik menimpa pasangan Teck dan Hwee Leng dengan kelakuan putra sulung mereka, Jia Le (10 tahun), yang kerap berbuat onar di sekolah dan di rumah. Bocah ini berisik dengan bunyi-bunyian permainan tamagotchi (digital pet game) yang kemana-mana selalu dibawanya.

Seiring dengan perut Hwee Leng yang semakin membuncit, pasangan ini memutuskan mempekerjakan Terry, buruh perempuan rumah tangga yang didatangkan dari Filipina. Singapura terkenal sebagai pengimpor buruh rumah tangga dari Filipina dan negara-negara Melayu (Malaysia, Brunei, serta Indonesia). Orang-orang Cina Singapura cenderung lebih memilih mempekerjakan buruh dari Filipina karena keterampilan Bahasa Inggrisnya lebih baik dan faktor agama (Katolik). Pengeluaran pun semakin tinggi. Teck banting setir menjadi satpam perusahaan telur tanpa sepengetahuan istrinya. Hwee Leng mendekati stres dan lari ke kelas motivasi yang selebarannya, secara tak sengaja, ia temukan di taman kota ketika terbawa angin.

Kehadiran Terry pada keluarga itu seperti pisau bermata dua. Satu sisi menghangatkan Jia Le yang kesepian karena kurang mendapat perhatian dari ibu dan ayahnya. Di sisi lain membuat Hwee Leng cemburu karena merasa perannya sebagai ibu diambil alih oleh Terry. Filipina yang juga didera krisis ekonomi memaksa Terry bekerja ganda di Singapura demi bayinya. Selain di rumah majikan, ia juga bekerja paruh waktu pada sebuah salon di pusat perbelanjaan. Di tengah kota Singapura yang penuh sesak, ia berkejar-kejaran antara rumah, salon, dan antar-jemput sekolah putra majikannya.

Mati Ibu, Mati Ayah, dan Jayalah Negara
Singapura disebut-sebut sebagai negara urban pada lingkup regional Asia. Ia semacam ‘baratnya’ Asia Tenggara. Ia negara tujuan belajar, negara tujuan bekerja, serta negara tujuan berwisata bagi penduduk negara lain di kawasan Asia. Label itu tentu saja tak dapat dipisahkan dari sepak terjang dan kemampuan ekonomi negara Singapura. Bank Dunia pada 2015 mencatat Singapura masuk dalam daftar 10 negara terkaya di dunia berdasarkan Pendapatan Nasional Bruto (Gross Domestic Product) dengan angka fantastis mencapai US$ 326 milyar. Ia duduk sederetan dengan negara kelas wahid dari barat/nonbarat seperti Norwegia, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Luxembourg. Sebelumnya, tahun 2013 Dana Moneter Internasional menetapkan Singapura sebagai tiga negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia.

Posisi Singapura sebagai jantung bisnis dan finansial di kawasan Asia Tenggara membuat perusahaan-perusahaan top dunia berkepentingan menanamkan saham dan membuka kantornya di negara tersebut. Negara ini terkenal sebagai penghubung bisnis regional dan internasional untuk memanajemen kekayaan sehingga mampu membeli bahan mentah yang tidak dimiliki untuk diolah dan diekspor kembali. Sebagai negara yang berpijak pada gugusan pulau kecil yang tidak begitu potensial, satu-satunya yang diandalkan oleh Singapura ialah taman agroteknologi untuk memenuhi kebutuhan produksi dan konsumsi pertanian.

Ilo Ilo bermakna konotasi mati ibu dan mati ayah. Tak ada ibu dan ayah di rumah, karena ibu dan ayah sibuk bekerja. Pada keluarga di Singapura, pasangan (suami dan istri) pada umumnya menghabiskan waktu bekerja di luar rumah dari pagi hingga sore, bahkan malam. Jika tak tengah cuti bekerja, jarang sekali menemukan laki-laki atau perempuan tinggal di rumah tanpa pekerjaan dengan sejumlah pendapatan tertentu. Dan umumnya, urusan rumah dan anak dilimpahkan kepada buruh rumah tangga.

Kecenderungan ini sebenarnya tidak hanya menimpa keluarga, ibu dan ayah. Setiap warga Singapura yang produktif begitu terobsesi (diobsesikan?) untuk bekerja dan mandiri secara finansial. Mereka tidak akan menikah sebelum memiliki rumah sendiri atau kendaraan sendiri. Ada jargon 5C (cash, car, condominium, credit card, and country club/anggota dari klub elit) sebagai ukuran kesuksesan yang dikejar oleh orang muda di Singapura. Ya, mereka memang dikenal cenderung materialistik.

Keras bekerja dan keras berkompetisi merupakan prinsip hidup kebanyakan warga Singapura yang salah satunya ditanamkan oleh mendiang Bapak Bangsa mereka, Lee Kuan Yew. Sehingga, mereka menjadi sangat takut ketika menganggur, jatuh miskin, dan menua. Antisipasinya ialah, atas kampanye negara, orang Singapura cenderung lebih giat menabung penghasilan sebagai investasi untuk hari tua. Setiap tahun Jia Le dan neneknya berulang tahun. Sang ibu dan para tante selalu memberi kado amplop. Jia Le pun protes. Tentu saja protes itu tidak dihiraukan oleh ibunya. Tak menunggu lama, amplop segera disimpan ke bank sebagai tabungan pendidikan untuk Jia Le kelak.

Jika ibu mengadokan amplop, ayah Jia Le memilih menghadiahinya lima ekor anak ayam. Bersama Terry, anak ayam itu dibesarkannya dengan penuh sayang di balkon rumah susun mereka. Sebenarnya tidak ada yang berbeda antara amplop dan anak ayam. Keduanya sama-sama modal investasi. Karena pada akhirnya, satu per satu ayam-ayam malang itu bergelimpangan tanpa bulu di atas meja makan Jia Le. Ia sempat sedih dan meminta kepada Terry agar ayam terakhir tidak dipotong.

Potret suram kehidupan keluarga yang tengah ditempa krisis ini tak dapat ditonton di bioskop-bioskop Singapura. Sebagai sutradara, agaknya Anthony Chen tahu betul bahwa filmnya yang bernada kritik dan tak sejalan dengan ‘selera’ pemerintah Singapura siap untuk tidak populer di dalam negeri. Dan pada banyak kejadian, film yang dilarang di dalam negeri cenderung mendapat tempat di luar negeri. Ilo Ilo pun didapuk oleh Camera d’Or (Golden Camera) sebagai film feature pertama terbaik pada Festival Film Cannes (2013) di Cannes, Perancis.

*Diterbitkan pertama kali oleh Brikolase.com




Friday, 1 April 2016

Memoar Pulau Buru: Berhenti Mengelola Negara dengan Kejahatan


Hersri Setiawan, alumni FISIPOL UGM yang selama sembilan tahun dibuang dan mendekam di Pulau Buru, Maluku, sebagai tahanan politik (tapol). Ia bersama beratus-ratus temannya, dosen dan mahasiswa UGM, hilang dan tidak kembali, menjadi korban peristiwa 65. Pada 11 Maret 2016, 51 tahun kemudian FISIPOL UGM memberi penghargaan Inspirasi Perjuangan HAM kepada karya-karya Hersri Setiawan. Ia seorang penulis buku dan jurnalis yang gigih mengupayakan pengungkapan kebenaran, rehabilitasi, serta rekonsiliasi peristiwa 65 yang merenggut nyawa anak bangsa yang tidak sedikit.
Adapun buku-buku Hersri Setiawan yang bercerita tentang pengalamannya sebagai tapol di Pulau Buru, antara lain: Humoria Buruensis (1987); Aku Eks-Tapol (Galang Press, 2003a); Kamus GESTOK (Galang Press, 2003b); Diburu di Pulau Buru (Galang Press, 2006); dan yang terbaru Memoar Pulau Buru I (Gramedia, 2015).

Seperti yang diutarakan oleh Budi Irawanto dalam makalahnya yang disampaikan pada Diskusi Buku Memoar Pulau Buru: Sejarah Kemanusiaan dan Melacak Pengetahuan Bagi Kaum Muda di Gedung Seminar FISIPOL UGM, bahwa memoar bukanlah sekadar pengakuan atau dongengan, melainkan sebentuk narasi yang bergulir dan dikontrol oleh gagasan tentang ‘diri’ dengan cara menyulih bahan mentah yang bersumber dari hidup menjadi kearifan. Narasi ini bisa menjadi pengetahuan sekaligus perspektif alternatif terhadap sejarah yang selama ini –dan cenderung selalu- ditulis oleh para ‘pemenang’ (penguasa).

Peristiwa 65, lebih dari sekadar peristiwa politik. Ia peristiwa kemanusiaan di mana ada ratusan ribu anak bangsa dipisahkan dari ibunya, dipisahkan dari tanah kelahirannya, dan direnggut kemanusiaannya. Selama setengah abad peristiwa itu menghantui bangsa Indonesia, terutama penguasa negeri ini. Implikasi besar dari peristiwa tersebut ialah kehidupan panjang, 50 tahun, yang selalu dibayang-bayangi ketakutan. Ketakutan akan perbedaan pandangan politik, ketakutan akan perbedaan agama yang dianggap tak jelas, ketakutan pada kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender), serta ketakutan pada banyak hal lainnya.

“Hersri, melalui buku ini menghadirkan ketakutan tersebut di tengah-tengah kita. Dan melalui buku ini pula ia mencoba mengikis ketakutan-ketakutan yang masih bersemayam secara kolektif pada hidup kita,” ujar Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Hilmar menambahkan, kepada generasi mudalah bangsa ini menumpukan harapan. Anak muda yang tidak hidup di era Orde Baru, anak muda yang mampu membuka selubung sejarah, membongkar ketakutan yang ditimpakan kepada kaum tua, kaum pendahulu mereka. Seperti yang diterangkan Bung Karno, membangun kepribadian dalam kebudayaan. Ialah dengan berani mengenal diri sendiri. Membebaskan pikiran untuk membentuk imajinasi tentang diri sendiri. Melihat dunia dengan pengalaman dan terminologi sendiri. Bukan diri yang didikte oleh ketakutan demi ketakutan yang membelenggu. Pembebasan adalah kunci utama untuk membangun negeri ini.

Memoar Pulau Buru, bagi Roichatul Aswidah, Komisioner Komnas HAM, melampaui soal melacak pengetahuan. Buku ini ialah bentuk penolakan, bentuk ketidak-tundukkan pada kejahatan Orde Baru yang menghantui selama 50 tahun. Orde Baru melakukan kejahatan kepada anak bangsanya sendiri secara terstruktur dan dilegalkan.

“Ada surat perintah dan ada struktur organisasi negara yang melakukan kejahatan ini secara sistematis, meluas, dan menjadi norma. Oleh karena itu, Komnas HAM menyebut tragedi ini sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan,” ujarnya.

Kejahatan dan pelanggaran HAM pasca peristiwa 65 terus terjadi dan memakan korban puluhan ribu jiwa. Seperti peristiwa Talangsari, Tanjung Priok, Trisaksi, Mei 98, Petrus, hingga persoalan kemanusiaan yang terjadi di Aceh dan Papua. Negara ini, kata Roichatul, mesti berhenti dikelola dengan cara-cara kejahatan.

Penolakan atas narasi sejarah yang dibangun Orde Baru secara sepihak juga diutarakan oleh Naomi Srikandi, seorang seniman teater dan aktivis perempuan. Tak dipungkiri, sulit bagi anak muda yang tumbuh tidak di era Orde Baru untuk membayangkan peliknya kehidupan politik dan sosial pada masa tersebut. Baginya, sebagai orang muda yang baru belajar tentang sejarah, cara terbaik ialah ikut terlibat secara personal dengan cerita sejarah yang dibaca atau dipelajari.

“Saya ikut terlibat dalam cerita Pak Hersri di Pulau Buru. Jika hanya membaca, saya tidak mendapatkan apa-apa. Melalui buku ini saya mengasah kemanusiaan saya,” ucap Naomi.

*Juga dimuat di Brikolase

Politik Kelas Menengah di Kota Menengah Indonesia



Indonesia cenderung dimengerti melalui Jakarta. Melalui birokrasi dan mata rantai yang bertumpu kepada institusi negara. Riset tentang kelas menengah ini mengembalikan pemahaman akan Indonesia yang tidak melulu dipahami dari Jakarta melainkan dari kawasan lokal yang jauh dari logika negara. Menggeser lokal menjadi kota. Menggeser pemahaman akan Indonesia ke garis kelas sosial masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Cornelis Lay dalam Seminar dan Diskusi Buku Kelas Menengah di Kota Menengah di Gedung Seminar FISIPOL UGM pada 24 Februari 2016 lalu.

Selain Cornelis Lay, hadir di sana Gerry van Klinken sebagai peneliti dan penyunting buku tersebut. Menurut van Klinken, kelas adalah alat intelektual untuk berpolitik, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, dan melanggengkan kekuasaan informal di kota menengah. Kelas menengah di kota menengah Indonesia pada dasarnya mendukung demokrasi dan desentralisasi, tapi menolak pasar bebas. Mereka juga cenderung bersepakat dengan model otoritarianisme dengan menjaga jaringan yang bersifat patron-klien dengan pemerintah kota.

“Kelas menengah ini cenderung mengontrol arus perburuan rente dengan negara (pemerintah kota) untuk agenda politik mereka,” ujar van Klinken.

Lay menambahkan, dimensi kelas menengah di kota menengah membutuhkan ruang-ruang representasi bagi mereka. Ada simbol-simbol sosial yang dipakai sebagai penanda kelas sosial, seperti sepeda motor atau kulkas. Kelas menengah cenderung berpenampilan modis dan sekaligus menjadi umat yang berTuhan dengan baik. Misal, pasar adalah panggung bagi kelas menengah untuk menampilkan diri mereka sebagai kelas yang menguasai kota provinsi. Atau, ke gereja biasanya memakai baju-baju baru. Pasar dan gereja menjadi ruang-ruang representasi bagi kelas menengah di kota menengah.

“Ciri lainnya ialah bercita-cita menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Hampir setiap rumah di Kupang memiliki salah satu anggota keluarga berprofesi PNS,” ungkap Lay.

Kelas menengah menjunjung tinggi nilai-nilai lokal dan kultural. Kekuasaan dibangun cenderung dipengaruhi oleh faktor-faktor informal seperti etnisitas, agama, kekerabatan, dan faktor kedaerahan. Cita-cita menjadi PNS adalah bagian dari capaian menggapai negara.

“Dengan begitu mereka dapat mengontrol arus perburuan rente seperti uang, pengetahuan (menyekolahkan anak ke Pulau Jawa), dan kekuasaan resmi (birokrasi),” tutup van Klinken.


*Juga dimuat di Brikolase

Kenapa Orang Bosan dengan Kecepatan?


Revolusi Internet 2.0 yang memungkinkan pengguna internet (media dan sosial media) berbagi konten kapan dan di mana saja dalam hitungan detik. Selama 24/7 orang terhubung dengan internet tanpa jeda. Waktu dan kecepatan pun menjadi tolak ukur seseorang untuk dapat dikatakan terkini dan terdepan, dua kata sakti-mandraguna dalam kajian media baru kontemporer. Alhasil, arus baru informasi dari televisi, media cetak, radio, dan internet berputar tanpa henti.

Di tengah perputaran jutaan informasi yang cepat ini, orang-orang kemudian menjadi jenuh dan lelah. Tidak semata-mata karena kecepatan yang tak selalu terkejar, tapi juga pada persoalan akurasi antara fakta dan opini, orisinalitas, dan tata bahasa informasi yang disajikan tidak proporsional, serampangan, dan jauh dari etika pemberitaan media siber.

Pindai.org, salah satu ruang publikasi kolektif untuk liputan dan analisis jurnalistik yang disajikan secara kritis dan mendalam meluncurkan buku Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme di Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta pada Sabtu, 13 Februari 2016 lalu. Hadir di sana Andreas Harsono (wartawan dan peneliti Human Rights Watch) dan Nezar Patria (wartawan dan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Online). Di tengah sekitar 100 peserta diskusi, pembicara membincangkan masa depan jurnalisme naratif di tengah tren media baru dan gempuran informasi yang semakin sulit diverifikasi.

“Jurnalisme naratif atau jurnalisme santai semakin disukai karena memiliki keterikatan lebih dengan pembaca. Orang-orang bisa menikmati karena menyajikan cerita yang utuh dan berkaitan langsung dengan fakta sosial,” ujar Nezar Patria.

Masa depan jurnalisme naratif pada media online dipandang menjanjikan berhubung media online memiliki kelebihan: ruang yang tak terbatas (unlimited space), kontrol pembaca/audiens (audience control), penyimpanan dan perolehan kembali (storage and retrieval). Selain kelebihan ini, media online yang bersifat multiplatform dapat memuat berbagai bentuk konten (tulisan, gambar, suara, gambar dan suara) sangat mendukung perkembangan jurnalisme naratif agar berkembang pesat di Indonesia.

Di tengah berbagai bencana media, seperti kolapsnya media cetak konvensional dan konten informasi pada media online yang tak terkontrol, jurnalisme naratif memungkinkan untuk mengambil alih menyediakan konten yang lebih bermutu, bagus, dan berpengetahuan.

“Jurnalisme naratif memberi peluang untuk melahirkan penulis-penulis hebat. Yang ditakuti dari Amerika Serikat itu bukanlah militeristiknya, tapi penulis-penulis hebatnya,” pungkas Andreas Harsono.


*Juga dimuat di Brikolase

IPT 65: Mengadili Dusta Sejarah




International People’s Tribunal for Indonesian 1965 Crimes against Humanity (IPT 65) yang digelar di Den Haag, Belanda, pada 10-13 November 2015 lalu ialah demonstrasi menyerupai pengadilan rakyat yang menuntut keadilan bagi korban tragedi 1965 dalam dan luar negeri. Hakim-hakim pada pengadilan rakyat ini menyimpulkan sementara bahwa terjadi kejahatan serius dan pelanggaran hak asasi manusia berat di Indonesia pada periode 1965 terhadap mereka yang dituduh komunis. Keputusan akhir majelis hakim akan diumumkan pada Maret mendatang. Keputusan ini penting guna menjadi dasar pengungkapan kebenaran dan kerja-kerja ke depan untuk meyakinkan pemerintah Indonesia menuntaskan persoalan 1965 dengan bermartabat.

Usaha meyakinkan itu tidak berhenti pada pengadilan rakyat semata di Belanda, di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, di ruang Teaterikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi, perbincangan tentang IPT 65 diselenggarakan pada siang yang terik oleh Pers Mahasiswa RHETOR, Sosial Movement Institute, dan Front Perjuangan Demokrasi pada 18 Februari 2016 lalu. Hadir di sana Aboeprijadi Santoso (IPT 65) dan Elisabeth Ida (seniman). Acara dibuka dengan pemutaran film pendek dokumenter karya Elizabeth Ida yang menyorot orang-orang yang tak bisa pulang ke Indonesia pascatragedi 1965. Awal tahun 60-an, mereka berangkat ke luar negeri untuk belajar atas suruhan Presiden Sukarno, ada juga sebagai delegasi dari Partai Komunis Indonesia. Ketika suhu politik nasional memanas, paspor mereka tidak berlaku, ketika Jenderal Suharto menjabat pucuk pemerintahan, paspor mereka dicabut. Cerita luntang-lantung di negeri orang pun dikisahkan dengan getir dan diam.

“Ada yang terpaksa menjadi warga negara Belanda, ada juga yang hanya berani menatap pantai Indonesia dari kejauhan di Singapura,” cerita Elizabeth Ida.

Pengadilan rakyat ini tidak memiliki kekuatan formal dalam sistem hukum nasional maupun internasional, tetapi lebih kepada tanggung jawab moral dan sejarah sebagai sebuah bangsa, bangsa Indonesia. Pengadilan ini menargetkan rekonsiliasi nasional berdasarkan kebenaran pascaputusan majelis hakim IPT 65. Kebenaran sejarah menjadi titik tolak guna menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, termasuk pelanggaran HAM di Papua dan Aceh.

“Kita sedang mengadili dusta. Karena jika tidak, dusta ini akan terus turun-temurun diidap oleh bangsa kita,” ujar Aboeprijadi Santoso.

Aboeprijadi mencontohkan model rekonsiliasi yang dilakukan oleh warga Jembrana, Bali, yang berbasis pada budaya lokal. Di Jembrana terdapat kuburan massal korban tragedi 65. Pada kuburan massal ini, tak seorang pun dikuburkan melalui prosesi ngaben (membakar mayat) ketika orang meninggal. Ketiadaan ngaben membuat masyarakat ini jadi tak nyaman, merasa dihantui berbagai perasaan bersalah. Ketidaknyamanan dan ketakutan ini menyatukan masyarakat guna menggali kuburan massal tersebut, lalu menguburkan ulang korban tragedi 65 secara manusiawi.

“Kita butuh rekonsiliasi menyeluruh, rekonsiliasi nasional,” pungkas Aboeprijadi.*

*Juga dimuat di Brikolase

Wednesday, 27 January 2016

Memaknai Malam secara Kultural


Kita mungkin perlu berterimakasih kepada kota-kota yang hidup-menyala hingga larut malam. Melaluinya, kita tidak hanya diajari mengenai hangatnya cahaya, tapi juga sejuknya gulita. Jika siang menyuguhi kita pandangan serba kesibuk-riuhan, maka malam menawari kita alunan-alunan yang lebih gemulai dan tak tergesa-gesa. Duduk santai di sudut taman kota, ditemani secangkir kopi, beratapkan gemintang semesta, di sanalah malam mulai diurai kata per kata.

Menikmati malam-malam seperti di Yogyakarta, Jakarta, Medan, atau Makassar adalah menikmati sisi lain dari maskulinitasnya sebuah kota. Bisakah kita menyebut malam sebagai sisi femininitas kota? Mungkin tidak, tapi mungkin juga bisa iya. Tidak, karena malam sudah duluan diberi label negatif, bahwa segala praktik kekerasan dan kedina-hinaan terjadi di kala malam. Mamak berujar ke keponakan, “Makanya, anak perempuan tak boleh keluar malam!”.

Tapi, bisa jadi iya, karena ketika malamlah wajah asli sebuah kota ditampilkan. Bisa wajah yang sendu, bisa wajah yang lelah, atau sebaliknya wajah tanpa riasan yang tetap percaya diri dan takkan menerkam. Semisal, malam di sepanjang Jalan Mangkubumi kota Jogja, adalah malam-malam yang tak bisa dilepaskan dari gelak tawa perempuan-perempuan muda. Mereka sedang mencoba akrab dengan malam yang ramah, tidak lebih.

Lalu, bagaimana dengan malam-malam selain di kota-kota di atas? Malam adalah tak lebih dari pukul 23.00 WIB. Karena ini aturan, maka tak ada pedagang keliling membawa termos menjajakan kopi di jalan-jalan utama atau pusat kota di kala malam. Karena ini aturan, maka tak ada perempuan-perempuan muda bercengkerama santai duduk di teras toko sembari menyantap capcay kuah hangat kuku di kala malam. Yang ada hanya anjing dan kucing liar berkejaran dengan tikus-tikus di sudut pasar kota yang apek dan pesing.

Bergenderkah malam? Ya. Tidak semua kita dapat menikmati malam dengan tanpa was-was. Setelah malam dicitra-rendahkan, malam kerap dipisah-paksakan dari perempuan-perempuan muda. Setelah malam diberi otot, malam menjadi mutlak milik lelaki. Karena malam itu akrab dengan kopi, karena malam itu akrab dengan tontonan sepak bola. Begitu kata Mamak.

Agaknya Mamak lupa bahwa setiap mata makhluk dapat melihat indahnya taburan bintang di langit. Mamak juga lupa bahwa kulit ini dapat merasakan dengan baik lembutnya belaian udara malam. Mamak juga lupa bahwa perempuan juga ingin dipeluk dan dicumbu oleh malam. Dan, Mamak sangat tidak asyik soal kopi dan sepak bola yang katanya hanya digemari oleh lelaki.

Kegelapan kerap diasosiasikan dengan ketidakbaikan, ketidakberesan, dan segala kemungkaran. Arang, jelaga, tinta gurita, dan malam ada di sana. Bertopang pada inilah manusia dan anak perempuan dijauhkan serta dipisahkan dari malam. Bertopang pada ini pula, sepanjang malam para lelaki dewasa akan menjagainya: meronda kampung hingga subuh menjelang. Meronda tak pernah dilakukan atau diwakilkan kepada perempuan. Karena malam yang maskulin mestilah dihadapi oleh tangan-tangan yang maskulin pula.

Di kota-kota yang menyuguhkan malam tanpa sak-wasangka, ada banyak tempat yang bisa dikunjungi. Di Jogja misalnya, menikmati malam dapat disesuaikan dengan selera dan isi dompet. Sebut saja kafe-kafe yang buka sore hingga subuh bertebaran di lingkungan kampus, waralaba bubur kacang ijo (burjo) -meski kadang tidak menyediakan bubur kacang ijo- dipadu mie rebus yang buka nyaris 24 jam, serta angkringan dengan suasana khas redup lampu teploknya yang bertebaran di trotoar dan sudut kota.

Di kota ini perempuan-perempuan mudanya menyebut malam secara puitis dan mendayu. Dengan senyum lebar mereka berkata, “malam itu seksi”, “malam itu Jogja”, “malam itu romantis”, “malam itu kehangatan”, “malam itu tertawa dan melepas penat”, serta “malam itu kedamaian”.

Masih pantaskah kita fobia terhadap malam?






The Hateful Eight dan Kebencian Atas Tubuh



The Hateful 8 (2015), film kedelapan Quentin Tarantino ini dibuka dengan akting seorang nigger, Major Marquis Warren (Samuel L. Jackson) duduk santai sembari menghisap cerutu di atas seonggok mayat di tengah badai salju bagian utara Amerika Serikat. Niatnya, menghadang siapa saja yang lewat di jalur itu guna mendapatkan tumpangan ke Red Rock, pemukiman terdekat di padang salju tersebut. Cerita mulai mengalir ketika kereta kuda yang ia cegat merupakan kereta yang membawa seorang pemburu bayaran (bounty hunter) yang membunuh tawanannya dengan cara digantung hidup-hidup. The Hangman itu ialah John Ruth (Kurt Russell). John Ruth, memborgol dirinya bersama Daisy Dormegue (Jennifer Jason Leigh), saudara perempuan Jody Dormegue (Channing Tatum), ketua gang pembunuh bayaran yang kepalanya dihargai paling tinggi, sebesar US$ 50 ribu bagi pemburunya.

Film ini hanya mengambil satu latar tempat yakni rumah persinggahan Minnie’s Haberdashery. Minnie dan Dave, sang pemilik rumah yang ramah terbiasa menyediakan tungku perapian, kopi panas, cerutu, makanan rebusan, dan gula-gula stick bagi yang singgah di tempatnya barang sejenak sebelum melanjutkan perjalanan di tengah salju. Di rumah inilah delapan pembunuh, meski saling benci satu dengan lainnya, tapi terikat kerja sama dan kepentingan, termasuk pengabdian kepada hukum negara dan kepada Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat. Sebelum kereta kuda tadi berlabuh di Minnie’s Haberdashery, rumah itu sudah diambil alih oleh Jody Dormegue and the gang. Mereka merencanakan sebuah penyelamatan terhadap saudarinya dan membunuh mati John Ruth sebelum sampai di Red Rock.

Laiknya pada film-film terdahulu, tingkah aktor dalam film Quentin Tarantino terkenal kasar, sadis, dan brutal. Django Unchained (2012) misalnya, pembunuhan terhadap manusia tidak hanya melalui tembakan-tajam-menembus dan berdarah-darah, tapi juga meledakkan tubuh dengan granat –yang diledakkan adalah sang sutradara sendiri yakni Quentin-, serta gigitan-cabikan tubuh manusia oleh anjing-anjing liar dan lapar. Kebrutalan serupa juga akrab pada Reservoir Dogs (1997), sekuel Kill Bill I & II (2003 & 2004), Death Proof (2007), serta Inglorious Basterds (2009) yang penuh dendam itu. Oleh Quentin Tarantino kita lebih sering disuguhi pada tontonan yang penuh darah dan carut dalam setiap dialognya.

You are motherfucker black bastard!

Tubuh dan Kebencian
The Hateful 8 adalah film terbaru Quentin Tarantino. Jika tak terbiasa menonton film-film Quentin, mudah sekali menyebut Quentin sebagai sutradara film yang rasis. Dalam film-filmnya, kata “nigger” dan “black” berserakan pada dialog-dialog kasar tokohnya. Meski kata tersebut secara politik berkonotasi negatif-diskriminatif-subordinatif-dan-seterusnya yang kemudian diganti dengan kata “colored” hingga “African-American”, tapi tidak bagi Quentin dalam filmnya. Sutradara kulit putih ini konsisten membangun cerita film yang penuh makian dengan kata-kata “rasis” dan “khas-dialog-orang-negro-yang-penuh-sumpah-serapah”.

Soal “nigger” dan “black” ini, menarik dicermati dalam Pulp Fiction (1994) yang memenangkan banyak penghargaan itu. John Travolta dan Bruce Willis adalah dua aktor kulit putih (white folks) yang bermain di film ini dan dipanggil nigger. Hal yang sama ketika Robert De Niro, bekas tahanan pembobol bank yang pandir lagi gegabah dipanggil nigger oleh penampungnya yang berkulit hitam dalam Jackie Brown (1997). Memanggil kulit putih dengan sebutan nigger lebih merujuk kepada relasi tuan dan pembantu. Relasi ini, oleh Quentin tidak dibatasi oleh warna kulit, bentuk rahang, dan jenis rambut, tapi lebih kepada kuasa pemilik rumah terhadap ‘anjing penjaga’. Memang, pembantu dan ‘anjing penjaga’ dalam film Quentin banyak dilakoni oleh kulit hitam. Namun, ini tidak bisa dilepaskan dari pemilihan tema film Quentin yang berlatar waktu dan suasana Perang Sipil, praktik perbudakan, gesekan sosial yang tajam antara masyarakat dari belahan utara dengan belahan selatan di Amerika Serikat pada masa itu.

Selain dialog yang penuh caci maki, film-film Quentin juga khas dengan praktik penghancuran terhadap tubuh para aktornya. Tubuh-tubuh dalam film Quentin adalah sasaran utama kebrutalan: brutal untuk senang maupun brutal hingga berujung maut. Misal, adegan Samuel L. Jackson dan John Travolta membunuh membabi buta empat remaja tanggung: two black people and two white people, yang sebelumnya dibacakan kutipan Alkitab seperti tengah mengikuti kebaktian di gereja. Atau, di tengah buah pelir Major Marquis Warren yang pecah-berlumur-darah ditembak musuh, dengan sisa tenaga ia mati-matian menarik tali agar bisa membuat Daisy Dormegue “menari” di depannya. Ia menggantung perempuan malang-sekarat itu bersama potongan tangan kiri John Ruth yang masih terborgol.

Menonton praktik kebencian dan penghancuran terhadap tubuh dalam film-film Quentin seperti tengah berada di neraka jahanam. Di neraka, merujuk kepada buku-buku siksa neraka yang kerap disuguhkan waktu kanak-kanak dulu, adalah lembah di mana kepala, rambut, mata, tangan, badan, kaki, dan sebagainya menjadi sasaran empuk atas sikap janggal, salah, dan dosa. Coba tonton sekuel Kill Bill, di sana nafsu penghancuran atas tubuh sangat sadis dan mengerikan. Banjir darah di mana-mana, orang-orang tak berlengan terkapar kian kemari, pedang tajam-panjang-licin yang kerap dipakai pendekar Samurai siap menghujam siapa saja dan kapan saja. Puncak penghancuran atas tubuh oleh Quentin agaknya ada pada serial film ini.

Tubuh menjadi sasaran atas berbagai kebencian. Kebencian kepada teman yang berkhianat: mencongkel bola matanya (Kill Bill); kebencian kepada aparat polisi: mengiris daun telinganya (Reservoir Dogs); kebencian kepada Nazi: mengelupasi batok kepalanya (Inglorious Basterds); kebencian kepada teman yang bodoh: menembaknya dengan bekas pistolnya (Jackie Brown); kebencian kepada lawan: memecahkan buah pelirnya (The Hateful 8 dan Pulp Fiction): kebencian kepada perusuh: menyiksa secara keji hingga mati (Death Proof); kebencian kepada tuan tanah: meledakkan rumah dan keluarganya (Django Unchained).

Di balik pencabikan atas tubuh, Quentin Tarantino tidaklah lalu kehilangan rasa guyon dalam film-filmnya. Lihat adegan Major Marquis Warren yang tengah sekarat tetap saja mencemooh mayat malang Bob alias Marco The Mexican (Demian Bichir) yang kepalanya dihargai sebesar US$ 12 ribu, tapi tidak laku jika dibayar dengan peso. Adegan cemooh ini juga terjadi di meja makan malam oleh Monsieur Calvin J. Candie (Leonardo DiCaprio) dalam Django Unchained. Ia yang keturunan Amerika Serikat lebih senang dipanggil ala orang Perancis-Eropa, namun sinis pada Boston, kota jajahan yang dibangun oleh Kerajaan Inggris ketika masa pendudukan terhadap Amerika Serikat pada tahun 1630.

Selamat menonton!