Friday, 11 December 2015

Anak Gadis Berjalan Sendiri

catatan 6 tahun kepergian Abak ke haribaan-Nya



Lantunan musik yang menemani ketika menulis catatan ini sama sekali tidak mencerminkan kondisi kejiwaan dalam tulisan ini. Apa boleh buat, semua-semua kan tidak mesti segaris selurus, bukan? Hal yang sama ketika orang-orang di kampus dulu menakutkan dengan studi lanjut yang tidak segaris dengan keilmuan awal yang ditekuni. Abak pernah berkata, "Adek belajarlah ke Jogja, belajarlah di UGM itu. Orang-orang besar lahir dari sana. Kamu mesti ke sana". Abak tak tahu, sebelum semua rencana itu berjalan, beliau lebih dahulu pergi tanpa pernah menyaksikanku pergi dan pulang, Mukomuko-Yogyakarta. Dan, aku sendiri tak pernah berniat menjadi salah satu mahasiswa FISIPOL yang super terkenal dan populer di kampus mana pun itu. Alumni yang terkenal di level pemerintahan negara manapun.

Seperti yang pernah kuutarakan tempo dulu, Abak mengidolakan Amien Rais yang lulusan FISIPOL UGM yang namanya terkenal se-nusantara ketika gelombang reformasi merejalela. Beliau menginginkan anaknya belajar di kampus yang mencetak Amien Rais. Iya, tiga tahun setelah kepergian Abak, aku datangi kampus itu, kurang lebih dua tahun kemudian, aku duduki FISIPOL itu. Sebenarnya, tak ada niat ingin menjadi salah satu mahasiswa FISIPOL. Sama sekali tak pernah terbersit (aku terbahak jika mengingat ini). Cuma, ada yang sangat menarik dan berkesan, mengubah konstelasi kehidupan keseharianku setelah menjadi mahasiswa FISIPOL. Private and secret sector!

Seringkali aku membayangkan seandainya Abak masih bersama kami di rumah, di Mukomuko. Akan senang sekali rasanya, ketika ia menyaksikan anak gadis bungsunya pulang dari Jogja ke Mukomuko yang lengang, kampungan, dan angka pernikahan dini masihlah tinggi. Pun kerap membayangkan ketika beberapa bulan lalu ibu bersama uni ke Jogja. Andai ada Abak, tentu ibu akan bersama Abak ke Jogja. Naik pesawat, jalan-jalan di Malioboro, mengunjungi Borobudur, dan kembali ke Mukomuko. Beliau tentu akan menceritakan kisah perjalanannya ke teman-temannya di warung kopi, seperti yang kerap beliau lakukan ketika aku dan kakak-kakak masihlah kecil dulu. Tapi, kembali ke bumi, Abak tak ada dan angan-angan itu takkan terwujud. Kata ibu, untuk menyenangkan hatiku,

"Abak tahu Adek kuliah di Jogja. Jangan pernah merasa sendiri, nak".

Aku hanya mengiyakan, mesti kadang tak percaya. Kata orang Minang, sebagai perintang hati yang rusuah, sebagai pengobat hati yang gundah gulana. Bolehlah kita mempercayakan hal-hal yang di luar kepercayaan kita. Jika begitu, maka aku selalu menuliskan hal-hal yang menyangkut Abak (misal, bulan kepergian beliau, Desember 2009), pun dengan beberapa kisah yang menyertai beliau dalam perjalanan panjangku.

Kata orang, cinta seorang ayah kepada anak gadisnya adalah cinta yang sangat besar dan tak terkira. Aku ingat bagaimana uni, kakakku yang perempuan, menjadi anak kesayangan Abak. Uni adalah anak perempuan pertama Abak, lalu aku. Kata ibu, ia menjadi penyemat hidup Abak. Bekerja lebih keras, menjadi lebih agak feminin, berpikir semakin panjang (memikirkan masa depan putrinya, meski Abak sudah punya dua putra). Ini terbukti ketika Abak marah-marah sewaktu uni tak ingin kuliah, ingin merantau dan bekerja sebagai buruh pabrik. Hellow, Abak yang cukup tajir dan terpelajar waktu itu, tidak akan membiarkan anak gadis pertamanya merantau dan menjadi buruh pabrik di Batam (aku ngakak jika mengingat cerita ini). Alhasil, Abak mencari kampus swasta yang bisa menerima uni dengan prestasi yang rata-rata. Dan, ini sebuah revolusi gerakan, Abak membuka kran dengan menjadikan kuliah dan kampus alumni uni sebagai kampus primadona di kalangan tetangga dan lingkaran pertemanan Abak di Mukomuko. Ngeri memang pengaruh beliau di sana, hahaha.

Bulan ini adalah tahun ke-6 Abak tak bersama kami di rumah di Mukomuko. Aku manja pada beliau. Karena aku tak sabaran, jadi sering berdebat dan berselisih pendapat dengan beliau. Ibu adalah penengah yang baik. Banyak yang membuka pikiranku atas pandangan moderat dan agak radikal Abak tentang budaya, agama, dan politik. Aku baru bisa memahami setelah setengah dekade kepergian beliau. Sungguh, aku menjadi lebih tahu kenapa Abak berbuat demikian waktu dulu itu. Kenapa beliau kerap dikucilkan dengan pola pikir beliau yang melawan arus. I love you.

Doa dan cinta mulia selalu tercurah padamu, Abak.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^