Wednesday, 23 December 2015

Jim Carrey dan Friendly, Friendly World


Saya tak bisa memandang remeh pertemuan saya dengan Andy Kaufman (Jim Carrey) dalam Man On The Moon (1999). Saya betul-betul tertarik pada Andy, tidak semata-mata karena model rambutnya: ikal tipis agak panjang dan lepek, tapi juga karakter yang dia mainkan. Bagaimana kita menerjemahkan Man On The Moon? Lelaki di atas bulan? Lelaki dari bulan? Lelaki dalam (berkarakter seindah) bulan? Andy ‘membunuh’ dirinya (mengaku mengidap kanker paru-paru) agar Tony Clifton (karakter lain dari Andy yang tidak disukai publik) leluasa menyanyi dan menari di depan penonton, ketimbang Andy yang innocent, disukai karena pandai melawak atas perintah naskah dan di bawah tekanan produser. Andy sebenarnya tak suka komedi. Baginya itu adalah cerita bodoh dan tak berguna. Awal kalinya ia masih mengikuti selera produser dan penonton guna melakukan lawakan-lawakan konyol yang bahkan ia sendiri tak menikmati. Tapi ia tak betah. Ia masukkan Andy ke dalam peti mati, diiringi lagu perpisahan This Friendly World yang sangat indah dan penuh kasih itu. Setahun kemudian Tony Clifton menjadi primadona, tak ada lagi yang protes ketika ia menyanyi dan menari di panggung semaunya.

Berikut lirik lagu This Friendly World:

In this friendly, friendly world
with each day so full of joy
Why should any heart be lonely?

In this friendly, friendly world
with each night so full of dreams
Why should any heart be afraid?

The world is such a wonderful place to wander through
When you've got someone you love to wander along with you

With the skies so full of stars and the river so full of song
Every heart should be so thankful

Thankful for this friendly, friendly world!


Lagu ini sangat menyentuh dan menemani saya menulis tulisan ini. Ia seperti lagu anak-anak yang bercerita tentang kasih dan persahabatan yang menghiasi dan memenuhi lingkungan dan dunia semesta kita. Komposer Kenneth Lorin Darby atau Ken Darby (1909 - 1992) menciptakan lagu ini dan dinyanyikan oleh Jim Carrey dan Michael Stipe, penyanyi rock alternatif dari Amerika Serikat, dengan sangat menghibur, membuat kita menggoyangkan badan. Dan, lagu ini juga turut membuat saya jatuh hati pada komedian Jim Carrey melalui film-filmnya. Nama Jim Carrey sendiri cukup sering terlintas dalam percakapan mengenai film dengan teman-teman. Namun, tidak menjadi perhatian utama saya laiknya seperti pada Tom Cruise, Brad Pitt, Jamie Foxx, Tom Hank, dan sebagainya. Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) tidak cukup membuat saya mengerti tentang Jim Carrey yang penuh humor itu. Hal ini mungkin dapat dimengerti karena film-film Jim Carrey bergenre komedi jarang beredar di bioskop di Indonesia. Seperti biasa, bioskop 21 hanya menyiarkan film-film ‘canggih’ dengan teknologi film yang mencengangkan sekaligus yang sangat market-oriented. Pun dalam dunia pergosipan selebritis di televisi Indonesia, nama Jim sepertinya tidak pernah dibicarakan, apalagi cerita kehidupan pribadinya.

Sebelumnya, perkenalan akrab saya dengan Jim Carrey dimulai pada Dumb and Dumber To (2014). Saya mendapatkan film ini secara tidak sengaja pasca menonton film-film yang memenangi Piala Oscar 2015. Saya menonton film ini berulang-ulang karena adegan Jim sangat-sangat penuh percaya diri dan konyol. Jim sendiri menyebut film ini dalam Tonight Show pada salah satu televisi swasta di Amerika Serikat (via Youtube) bukanlah film, tapi sebuah “fenomena” yang ia lafazkan secara ekspresif. Karena, seperti pada film-film Jim era 1990an, improvisasi Jim sangatlah banyak dalam produksi film-film komedi yang dibintanginya. Dumb and Dumber To adalah kelanjutan cerita dua pemuda dungu dari Dumb and Dumber (1994). Butuh 20 tahun bagi Llyod (Jim Carrey) dan Harry (Jeff Daniels) untuk bisa berkumpul bersama lagi. Selama 20 tahun itu Llyod pura-pura patah hati dan depresi di depan Harry, karena mengetahui bahwa Marry Swansons (gadis pujaan Llyod pada film yang pertama) sudah menikah. Llyod dirawat di panti jompo dan membiarkan Harry setiap minggu membawakan permen kesukaannya tanpa pernah menggubris percakapan Harry. “Suatu tindakan gila yang penuh komitmen”, kata Harry ketika mendengar pengakuan Llyod. Kekonyolan cerita ini akan berlanjut pada Dumb and Dumber For yang konon akan diluncurkan 20 tahun yang akan datang, tahun 2034. Saya mencoba untuk bersabar.

Saya tak bisa membayangkan Jim Carrey ketika muda tanpa menonton film-filmnya yang banyak tersebar pada era 90an dan 2000an. Menonton Jim Carrey ada baiknya dimulai dari film-film komedinya, bukan film drama serius, dan agak tidak menikmati jika itu film animasi. Saya sendiri menonton film Jim secara acak. Saya selalu terhibur ketika menonton The Mask (1994), Ace Ventura I dan II (1994 dan 1995), The Cable Guy (1996), di mana kekonyolan Jim sangat kentara di sana. Meski begitu, Jim sendiri tidak selalu bermain dalam film penuh dengan adegan lucu. Pada The Majestic (2001), The Number 23 (1997), Yes Man (2008), dan Mr. Popper’s Penguins (2011), Jim menjadi cukup serius. The Majestic sendiri adalah kritik terhadap kealpaan pemerintah Amerika Serikat atas terbunuhnya anak-anak muda negeri itu dalam peristiwa militer, abdi bagi negara. Dua film lainnya mengusung tema keretakan hubungan sepasang kekasih dan keretakan sebuah keluarga kecil. Tema-tema yang memang akrab dalam perfilman drama Hollywood. Tapi, ketika anda menonton Fun with Dick and Jane (2005), Bruce Almighty (2003) atau Liar Liar (1997), anda akan kembali dibawa kepada sosok Jim yang ‘sebenarnya’: konyol, kadang kasar, tapi sangat ekspresif.

Film-film Jim banyak beredar pada angka tahun 1990an, di mana kehidupan pibadinya terlihat sangat kacau. Ia bercerai, nikah lagi, bercerai lagi, pacaran, lalu putus yang semuanya terjadi pada dekade itu. Pasca satu dekade era 2000, kehidupan asmara Jim penuh dengan gejolak dan cerita duka. Salah seorang bekas pacarnya ditemukan tewas bunuh diri beberapa waktu setelah mereka berpisah. Jim juga dikenal suka berpacaran dengan perempuan yang jauh lebih muda usianya, bahkan seperti sebaya dengan putrinya. Ini cerita lain dari kehidupan keseharian Jim yang tentu saja berbeda dengan cerita di film-filmnya. Tidak saja film di era 90an, saya juga seperti ditarik untuk menonton film-film Jim pada masa 1980an. Akhirnya saya berjumpa dengan Once Bitten (1985), film vampir yang dikemas secara pop, tidak seram dan menakutkan. Agaknya, waktu itu usia Jim baru 23 tahun. Ia cukup tampan, imut, dan pembawaan lucunya sudah terasa dalam tindakan serta dialog antartokoh. Pada film ini, saya terheran-heran dengan adegan-adegan pemuda yang gemar mendekati perempuan lebih dewasa: brondong dan tante-tante saling kedip di pub. Sepertinya itu menjadi cerminan kondisi Amerika Serikat pada masa itu: asap rokok mengepul di mana-mana, seks dan prostitusi secara bebas, serta tuntutan kemandirian bagi remaja. Adegan ini mengusik saya untuk tak bisa melepaskan bayangan akan Jim dua tahun kemudian, usia 25, menikah dengan seorang produser dan memiliki seorang putri, Jane Carrey.

Selain sebagai komedian, Jim Carrey juga dikenal sebagai comic pada Stand Up Comedy Amerika dan juga seorang pelukis. Ia tidak hanya bercerita lucu ketika di atas panggung Stand Up tapi juga ketika tengah menerima awards dari suatu kompetisi. Hal yang sama sebenarnya ia lakukan ketika menjadi bintang tamu di acara-acara talkshow. Kesemuanya itu sepertinya yang membuat dia dianugerahi doktor honoris causa dari MUM (Maharishi University of Management), sebuah universitas yang mengedepankan pendidikan dan pengembangan sosial-psikologi mahasiswanya. Pada sambutan pelepasan wisuda di kampus ini pada 2014, Jim menjelaskan tentang filsafat hidup yang ia sarikan dari kehidupannya sendiri. Ada banyak hal menarik dan lucu dalam pidatonya, tapi satu hal yang berkesan bagi saya bahwa manusia adalah bagian dari semesta di mana kehidupan terjadi bukan untuknya tapi demi dirinya. Oleh karena itu, tak ada batasan bagi seseorang untuk menggapai apa yang diinginkannya. I have no limit!

Jim Carrey adalah ayah dari seorang putri, sekaligus seorang kakek. Jim dikenal sebagai aktor yang cerdas dan jenius dengan beberapa kali dianugerahi penghargaan atas karya dan prestasinya. Bersebab inilah ia kemudian dikenal juga sebagai inspirator dan motivator meski pekerjaannya bukanlah motivator dari seminar ke seminar atau dari pidato ke pidato. Anda bisa berselancar informasi di Youtube tentang Jim Carrey. Ada banyak video motivasi yang membawa namanya, suaranya, serta gambar-gambarnya. Setelah menonton film-film Jim saya mulai bisa membedakan antara suara Jim dengan suara orang lain dalam film animasi, lagu, maupun video lainnya yang tidak menampilkan wajah Jim. Sebuah capaian yang menyenangkan, bukan? Hehehe.

Dari sekian banyak hal menarik tentang Jim Carrey, kebaikan dan kehangatan pada sesama anak manusia adalah yang paling berkesan bagi saya. Kata orang, jika kita mampu memperlakukan seseorang seperti teman lama, maka sepanjang hari hati kita akan penuh cinta dan rasa bahagia. Betul, the world is such a wonderful place to wander through!

Foto: Google

Monday, 21 December 2015

Kita Butuh Film Lokal yang Banyak dan Murah

Pengalaman menonton 10th Jogja-Netpac Asian Film Festival 2015


Perhelatan Jogja-Netpac, salah satu festival film terkeren di dunia dalam lingkup Asia yang berpusat di Yogyakarta, baru saja selesai. Saya dua kali mengikuti festival film ini, 2013 dan 2015. Posisi saya ialah sebagai pendengar yang setia dari public lecture yang diadakan JAFF, dan tidak ketinggalan sebagai penonton yang baik pada film-film yang diputar di festival tersebut. JAFF tahun ini mengangkat tema tentang [Be]Coming, datang dan menjadi. Tema ini menarik, bahwa kita dan kehidupan kita pada dasarnya tidak pernah berada pada titik ujung yang selesai. Ia selalu berada pada proses menjadi, proses mencari bentuk yang entah kapan usainya. Tema ini dipakai guna melihat dunia perfilman Asia yang berinteraksi dan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh film-film dunia, Amerika dan Eropa seperti Hollywood. Lebih spesifik, festival ini juga menegaskan kepada kita tentang posisi film-film Tanah Air, entah dalam interaksi dengan film-film dari Asia maupun secara global, mulai dari tema yang diusung, industri perfilman, hingga kajian-kajian tentang film kita di Indonesia.

Saya menonton beberapa film dengan genre yang berbeda. Ada film dokumenter, ada pula film fiksi-imajinasi pembuat film. Ada film pendek ada pula film panjang. Ada film yang ‘tak peduli’ pada pasar, ada pula film yang sangat berorientasi pada selera pasar –Garin Nugroho menyebutnya sebagai ‘sinema borongan’. Ada film dari dalam negeri, ada pula film dari luar negeri. Yang menarik dari film-film yang saya tonton adalah usaha menampilkan warna lokal dalam tema-tema keseharian: persahabatan, persaudaraan, keluarga, rekan kerja, dan dunia asmara. Tak hanya itu, konteks sosial dan politik negara-negara Asia yang tak luput dari konflik horizontal juga menjadi tema yang diusung oleh filmmaker terutama dari luar Indonesia. JAFF memutarkan beberapa film yang mengusung tema identitas dan pluralitas yang merupakan gambaran sosial masyarakat Asia hari ini. Tak ketinggalan, festival ini juga memberikan satu hari spesial bagi Jepang untuk menampilkan dan membicarakan industri film mereka, termasuk industri film dewasa Jepang yang sangat terkenal itu: Japan Adult Video.

Di JAFF, saya seperti agak-agak mengalami dejavu. Bukan pada peristiwa, tapi pada garis merah dari tema-tema film yang saya tonton. Misal, film dari Singapura, Taiwan, dan Hongkong adalah film-film dengan alur cerita yang menguras air mata. Temanya, biasanya bercerita tentang kekerasan fisik dan psikis yang dilakukan oleh orang yang sangat dicintai terhadap kelompok liyan: ayah yang menua, remaja perempuan yang cinta mati pada kekasihnya, dan difabel. Terus terang, saya mengalami depresi dengan film-film macam begini. Depresi karena harus menyaksikan sepanjang menit adegan-adegan yang mengaduk-aduk nurani dan perasaan kemanusiaan saya. Beberapa film serupa yang tidak beredar di festival, dari negara-negara yang sama, biasanya juga menjadikan anak kecil sebagai korban, entah pembulian (bullying), entah ketidakadilan –anak jadi korban lapis kesekian- yang dibungkus dengan adegan laga atau bencana. Saya sudah menonton film dari negara-negara tersebut dengan tema yang ‘khas’ sejak beberapa tahun silam. Saya kembali menyaksikan tema yang ‘khas’ tersebut di JAFF tahun 2015. Sepertinya ini bukan kejutan. Saya mengira-kira ini bagian dari cerita kondisi sosial-politik di sana: bahwa rezim politik yang represif dan otoriter pada banyak hal berpengaruh terhadap dunia perfilman dan filmmaker itu sendiri guna memproduksi film dengan tema yang berbeda, beragam, dan kritis. Karena, yang jamak diketahui publik, bahwa gesekan politik semakin kencang di Hongkong. Demi stabilitas dan kemajuan bidang ekonomi, pemerintah Taiwan dan Singapura tutup mata dan tak ambil pusing dengan cara mereka memerintah yang terkesan tertutup dan absolut: shut up! And just watching. Pada titik ini kita akan bertanya, apa dan bagaimana cara kita mendefinisikan kelokalan?

Sementara di Indonesia, kita perlu berbangga karena sineas kita berada pada ruang yang cukup afirmatif guna mendukung mewujudkan ide-ide kreatif dan kritis mereka. Mereka cenderung leluasa mengeksplorasi imajinasi mengenai persoalan-persoalan yang dianggap sensitif dalam masyarakat. Cukup banyak film dari sineas kita yang bicara tentang toleransi dan pluralitas beragama, bersuku bangsa, atau yang menyorot tentang identitas seksual kelompok liyan hingga kehidupan orang-orang dari kelas sosial tertentu. Terlepas ini persoalan tren pasar yang tengah digandrungi industri film termasuk oleh penonton, tema-tema ini adalah tema-tema yang berkeliaran luas dalam perbincangan dan wacana publik, baik secara politik maupun sosial-budaya. Ambil bagiannya sineas Indonesia dalam diskusi publik yang luas tersebut, berupa film, sudah merupakan keberpihakan yang patut diapresiasi. Apresiasi yang tinggi juga diberikan kepada mereka yang memfilmkan kehidupan kelompok-kelompok marginal yang tidak diperhatikan atau tercover dalam perfilman arus utama selama ini. Sineas paling tidak secara terbuka memproklamirkan dirinya menjadi bagian dari masyarakat yang peduli kemudian mencurahkan pikiran dan tenaga pada hiruk-pikuk persoalan publik. Menurut Garin, fenomena ini merupakan tren dari sineas kita yang cenderung memproduksi film dengan tema-tema yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat penonton.

Tema Cerita Lokal Tak Pernah Mati
Saya terbahak ketika pertama kali melihat adegan gadis mengelus-eluskan pisang ke wajahnya dengan ekspresi senang-bahagia. Adegan ini ada dalam film pendek Merindu Mantan (Revenge) karya dari anak muda Indonesia yang menjadi film pilihan dari Viddsee Short Film Showcase, semacam lembaga film independen yang bermukim di Singapura. Seperti yang terangkup dalam judulnya, sang gadis menahan rindu sekaligus dendam kepada laki-laki yang sudah menjadi kekasih perempuan lain. Tak pikir panjang, pisang tadi diberi mantra lalu ditusuk dengan jarum. Kenyataan lapis pertama, pisang memang ditusuk oleh jarum. Kenyataan lapis kedua, sang mantan pacar kaget alang kepalang ketika ‘burung kemaluannya’ senat-senut perih secara tiba-tiba. Penonton, baik perempuan maupun laki-laki tentu bisa bayangkan betapa mengerikannya ketika pisang itu ditancapi oleh tusuk konde.

Adegan tusuk pisang ini mengingatkan saya pada film-film tenung-santet yang banyak tayang pada pesawat televisi dekade awal 2000an. Yang paling terkenal tentu saja film-film dari aktris legendaris Suzanna. Adegan santet dalam film waktu itu cenderung identik dengan film-film horor dan film-film seks. Film-film mendiang Suzanna tidak saja berkaitan dengan hantu perempuan yang mati diperkosa atau melahirkan, tapi juga diisi dengan cerita pesugihan, adegan seksual, dan ritual-ritual mistik lainnya. Kesemuanya itu tidak bisa dilepaskan dari tradisi kebudayaan Jawa yang menjadi latar belakang film dibuat. Merindu Mantan, seolah menjadi bagian dari satu adegan film-film Suzanna yang membawa saya pada pengalaman menonton masa-masa SMP dan suasana hari ini yang menggelitik imajinasi saya. Film ini, melalui Viddsee, bersaing dengan film-film dari negara Asia Pasifik termasuk Indonesia agar dapat diputar di JAFF tahun ini. Suatu capaian yang tidak mudah bukan?

Selain film fiksi, JAFF juga menawarkan saya film pilihan dari genre dokumenter. Harimau Minahasa karya Andang Kelana dan Syaiful Anwar yang membuat saya terkesan secara psiko-sosial. Bagaimana tidak, Budi, tokoh utama dari film tersebut yang mungkin saja hingga hari ini ia masih bermukim di Manado (Sulawesi) ternyata memiliki pengalaman pahit, tunangannya meninggal dalam sebuah kecelakaan di Mukomuko (Sumatera), tempat saya menghabiskan masa remaja. Saya ikut berduka atas tragedi tersebut. Budi sangat tidak sedang bergurau soal rantaunya hingga ke daerah ini. Andang dan Syaiful membuktikannya kepada saya melalui cerita konyol –yang oleh Budi dan pemuda di Mukomuko- kerap dipraktekkan: memeloroti celana dalam ketika bulu kuduk berdiri bertanda bertemu hantu laki-laki atau perempuan di sekitar pekuburan. Kata ibu saya yang penduduk migran di Mukomuko, konon hantu-hantu itu takut dengan kelamin yang tidak ditutupi kain atau daun. Tentu saja kita akan terbahak. Lebih terbahak lagi ketika saya menyaksikan Budi menuturkannya sungguh-sungguh bukan di depan orang Mukomuko.

Selain cerita melepas kolor ketika bertemu hantu, cerita lainnya ialah kisah bayi menangis pada malam hari di rerumpunan bambu. Di Mukomuko dikenal dengan cerita cingeak. Di Mukomuko, cingeak tak begitu digubris. Karena bayi itu adalah bayi jadi-jadian yang ditinggal mati oleh ibunya. Saya sendiri beberapa kali pernah mendengar tangis bayi ini di pekarangan belakang rumah yang ditanami bambu oleh mendiang bapak agar tanah tidak longsor terbawa arus sungai. Cuma, ibu selalu melarang jika abang berencana mencari asal suara tangis bayi di rimbun bambu: seperti apa sih rupa bayi jadi-jadian? Cerita seorang teman di Mukomuko, jika ia mendengar tangisan tersebut biasanya ia akan melemparkan puntung kayu ke rimbun bambu sebagai ganti ‘dada’ ibunya. Bayi akan berhenti menangis karena tengah disusui. Lagian, pada banyak cerita, si bayi tak pernah ditemukan. Cerita ini mirip dengan pengalaman Budi dalam Harimau Minahasa. Ia menuturkan pengalamannya mendengar tangis bayi ketika melewati kebun jagung di larut malam. Ia laporkan tangisan itu kepada bapaknya, bersama-sama mereka menyisir kebun jagung dan menemukan bayi perempuan di sekitaran rumpun bambu yang kemudian diangkat menjadi adik tiri perempuan Budi satu-satunya. Saya tidak bermaksud mengatakan adik tiri perempuan Budi keturunan bayi jadi-jadian. Karena, cerita itu terjadi di Jawa. Poinnya adalah Budi memiliki pengalaman cerita lokal, pengalaman budaya yang mirip dengan yang saya alami di Mukomuko.

Merindu Mantan dan Harimau Minahasa adalah dua film lokal yang berkesan bagi saya. Merindu Mantan mencoba menampilkan cerita asmara anak muda yang dibalut dengan konteks sosial-budaya yang melingkupinya. Kisah-kisah asmara selalu ada pada setiap generasi dengan warnanya sendiri. Kata dan istilah dalam dunia percintaan seperti pacar, mantan pacar, jomblo, ditelikung, di-PHP, di-friendzone, dianggap abang-adik dan seterusnya menjadi wacana yang tak habis-habis ditulis, dilagukan, serta difilmkan. Merindu Mantan terpilih untuk diputar pada JAFF tahun ini agaknya tidak hanya karena ia mengusung konten lokal mulai dari ritual mistik (tenung) dan identitas tradisi (Jawa) yang dipertontonkan kepada publik lintas negara-bangsa, tapi juga tema cinta membara antar-anak muda yang memabukkan dan mengaburkan akal sehat tersebut. Tema cinta membara ini menjadi tema universal yang juga terjadi di belahan bumi lain dengan ‘daya rusak’ yang dahsyat jika seseorang disakiti, dikhianati oleh pujaan hatinya.

Pada Harimau Minahasa, seperti kesan yang saya tuliskan di atas, cerita rakyat (folklore) yang menjadi bagian dari kehidupan keseharian masyarakat diolah menjadi mata rantai-mata rantai untuk menjelaskan siapa Budi di tanah Minahasa. Budi bisa jadi satu dari sekian banyak ‘harimau’ di luar sana yang kehidupannya menarik dan berguna untuk dikisahkan. Bagi saya, tingkah konyol Budi bertelanjang di pekuburan bukanlah sesuatu yang baru dan unik, meski saya tertawa ketika menontonnya. Tapi ini tidak bagi penonton dari luar Mukomuko atau daerah yang tidak mengenal cerita ini. Menggali unsur lokal dalam karya film sepertinya tidak semata-mata karena cerita, mitos, atau legenda tersebut hanya berada pada daerah tertentu (kelangkaan atau kekhasan cerita), tapi juga berkaitan dengan cara masyarakat merespon suatu fenomena yang sangat berbeda dengan masyarakat lainnya. Dalam Harimau Minahasa, aspek keberanian, jinggo-isme, kelaki-lakian, hingga wacana penaklukan terlihat disusun berdasarkan pengalaman-pengalaman kultural yang dialami oleh Budi mulai dari tanah kelahirannya di Jawa, bekerja di Sumatera, hingga menapak tanah Sulawesi. Film ini ditutup dengan adegan panjang Budi mengalami semacam kemasukan ketika tidur dan berubah menjadi kakek-kakek yang mengaku sebagai kakek buyut Budi dari tanah Jawa. Ia bicara dan meracau dalam bahasa Jawa yang disisipi adegan dan dialog lucu, terjadi miskomunikasi antara si kakek yang bersemayam dalam tubuh Budi dengan filmmaker yang tak mengerti bahasa Jawa.

Saya dan Kamu, Hanya Butuh Bioskop Kelas Bawah
Film-film yang dibuat oleh filmmaker Indonesia, pada umumnya hanya tayang di bioskop milik dinasti 21. Pun film-film tersebut acapkali kalah frekuensi tayang dengan film keluaran Hollywood yang meraja itu. Usia film Indonesia paling lama bertahan di bioskop 21 sekitar dua bulan. Ada juga yang hanya berumur sebulan, setelah itu ia diputar pada acara-acara komunitas atau festival di mana sutradaranya menjadi bagian dari acara tersebut. Acapkali kita menyaksikan film-film yang baru sebulan lalu di-launching sudah bisa ditonton di rumah di depan televisi. Satu sisi, kondisi ini menguntungkan bagi penonton, khususnya bagi mahasiswa. Harga tiket menonton di bioskop 21 tergolong cukup tinggi untuk kantong anak muda dan masyarakat pada umumnya. Di Indonesia, menonton adalah aktivitas hiburan sekunder bahkan tersier. Untuk mendapatkan hiburan, publik bisa datang ke pasar malam, pantai, pegunungan, taman, obyek bermain, serta obyek wisata lainnya. Menghabiskan uang Rp 50 ribu (ticket and food) untuk sekali menonton film, durasi 2 jam, adalah keputusan yang diambil secara tidak spontan dan tidak rutin dilakukan. Dengan nominal tersebut penonton film, apalagi di Yogyakarta, akan dihadapkan pada beberapa pilihan kebutuhan/keinginan lainnya. Lagi-lagi jika penonton film ini dibayangkan adalah mahasiswa dan masyarakat rata-rata yang ada banyak alternatif pemenuhan kebutuhan yang dapat ditutup dengan sejumlah nominal tersebut. Namun di sisi lain, ini tentu bukanlah kabar yang menggembirakan bagi sineas film dan industri film Tanah Air yang masih mencoba mengukuhkan kaki agar bisa berdiri kokoh, didukung sepenuhnya oleh pemerintah dan penonton Indonesia.

Pendeknya usia tayang film Indonesia di bioskop 21 termasuk modal menonton film yang cukup tinggi juga menjadi isu yang diperbincangkan dalam public lecture JAFF tempo hari. Dunia perfilman kita mulai dari hulu hingga hilir termasuk penonton tengah membutuhkan ruang-ruang pemutaran film yang komersil namun terjangkau oleh khalayak luas. Dinasti bioskop 21 hanya memutarkan film-film Indonesia yang baru dirilis dan itu pun usianya tak sampai seumur jagung. Setelah itu ia akan digantikan oleh film-film produksi luar negeri yang laju produksinya sangat cepat ketimbang industri film dalam negeri. Belum lagi persoalan harga tiket yang sepertinya dimonopoli oleh dinasti 21 saja. Kondisi yang belum menggembirakan ini disikapi dengan pembentukan komunitas-komunitas pencinta film di mana melalui komunitas itulah publik dapat menonton film, baik secara gratis maupun hanya dengan mengeluarkan ongkos yang lebih sedikit.

Saya sendiri menonton film jika tidak melalui VCD/DVD ya di bioskop 21. Karena, hanya jaringan bioskop itulah yang ada di kota yang saya singgahi. Masih terbayang ketika belasan tahun lalu, sekitar setengah kilometer dari rumah, persis di seberang bangunan SMP saya, pemerintah daerah membangun gedung tinggi, konon katanya diperuntukkan sebagai bioskop. Waktu itu, beberapa kali saya sempat bermain di bawah gedung bioskop yang tengah dibangun. Anda bisa bayangkan betapa senangnya hati ketika tahu akan ada tempat yang luas dan lebih nyaman untuk menonton film ketimbang lapangan bola (menonton layar tancap paling sering sekali setahun). Sepanjang ingatan saya, bioskop itu tak pernah memutarkan film, karena memang gedung tinggi itu tak pernah diselesaikan. Yang ada tiang dan dindingnya lapuk kemudian dijadikan bahan bakar oleh penduduk setempat. Bioskop menjadi barang langka dan mewah bagi saya waktu itu, dan bagi remaja/anak muda di sana hari ini. Sejarah kembali berulang.

Jika sudah begini, saya berharap besar pada pemerintah lokal serta pemilik modal untuk mengembangkan usaha mereka membangun bioskop-bioskop kecil dan sederhana di kota-kota provinsi hingga kabupaten di Indonesia. Jujur saja, saya juga tak cukup malu untuk membayangkan diri sebagai pengusaha bioskop, paling tidak untuk kota Padang dan Mukomuko. Beberapa kali teman saya teriak-teriak di media sosial betapa sulitnya mewujudkan keinginan menonton film di kota Padang karena, kabarnya, di sana tidak ada lagi bioskop. Padang pernah memiliki bioskop, Bioskop Raya. Kali terakhir saya mengunjungi bioskop itu sekitar 4 tahun lalu. Poster yang dipajang di depan gedung itu adalah poster-poster film horor. Sekarang, katanya bioskop itu sudah tutup. Entah kekurangan penonton, entah kekurangan film. Cukup kota Padang yang dijadikan contoh untuk menjelaskan betapa sendunya industri film kita di Indonesia. Jangan sekali-kali membandingkannya dengan Yogyakarta apalagi Ibu Kota. Betapa malangnya teman-teman saya di Padang, jangankan untuk menonton film keluaran terbaru Hollywood, menonton film keluaran lama produk dalam negeri saja susahnya minta ampun. Anda silahkan tertawa, karena seorang teman saya nekat pergi ke Pekanbaru guna menonton film (kalau tak salah Captain America yang kedua) di bioskop 21 di kota itu.

Dengan kondisi yang cukup menyedihkan ini, bagaimana kita akan bicara film Indonesia dalam lingkup Asia Pasifik jika akses bagi orang-orang yang ingin menonton film saja masih sulit dan terbatas. Akses terhadap film menjadi penting guna melahirkan sineas muda dan pengkaji film. Film Indonesia tidak akan kemana-mana jika pembuat film dan pengkaji film jarang menonton film. Dalam segi tema, dunia film tanah air cukup membanggakan dengan mengusung tema-tema yang beragam dan merespon kegelisahan publik. Dari segi jumlah produksi film, juga memperlihatkan kurva naik paling tidak stabil setiap tahun. Kondisi ini mestilah diikuti dengan distribusi film yang merata, yang tidak ditangani oleh satu pihak yang leluasa mendikte pasar film Tanah Air. Pada akhirnya, kita berharap besar pada pemerintah (Dinas Kebudayaan, Badan Industri Kreatif) betul-betul mengatur langkah pemilik modal agar lebih ‘ramah’ kepada publik penonton film. Soal film, saya tidak pernah putus berharap kepada negeri ini dan orang-orang yang mengurusinya.

Foto: Google

Monday, 14 December 2015

Menikmati Budaya Populer, Melihat Indonesia



Buku ini dibuka dengan judul bab yang agak multitafsir, Mengenang Masa Depan. Bab ini bicara tentang bagaimana kita membaca masa depan Indonesia yang bermodalkan sisa-sisa sejarah yang serba lapuk dan keterkejutan-keterkejutan pada masa kini yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ariel menjelaskan bahwa tantangan yang lebih berat pascamusuh bersama (baca: rezim otoriter Orde Baru) tumbang ialah memelihara persatuan bersama agar bisa melangkah maju dan menikmati buah kemenangan tersebut (hal: 5). Mengapa dengan Mengenang Masa Depan? Sepertinya, ada persamaan atau paling tidak korelasi kontinuitas –dari diskontinuitas yang pernah terjadi (tragedi 1965)- dalam bahasa Ariel ialah kesejajaran situasi antara Indonesia mutakhir dan masa sesudah kemerdekaan. Ada tiga alasan yang menguatkan argumen ini, yaitu pertama, perlunya memahami kondisi masa kini dengan perspektif historis yang sepadan; kedua, perlunya mengenali masalah ideologi hiper-nasionalis yang telah menguasai imajinasi publik; ketiga, perlunya membongkar amnesia publik Indonesia tentang sejarahnya sendiri yang kompleks. Dalam buku ini Ariel memang memakai kacamata historis guna meneroka Indonesia dan keindonesiaan kontemporer berupa praktik-praktik budaya layar ala era 21 (sinema, televisi, internet, dan media sosial).

Pasca-1998, publik menyambut dan merayakan kemenangan dengan, misal tidak lagi wajib menonton film Pengkhianatan G 30 September/PKI setiap tahun, perayaan barongsai pada tahun baru Imlek (budaya Tionghoa) secara terbuka, atau perubahan image pakaian muslimah yang tadinya berkonotasi perlawanan menjadi lebih kepada perayaan fashion di kalangan perempuan muda kaya perkotaan. Belum lagi soal perluasan industri media –konglomerasi maupun spasialisasi media ke media baru yang merupakan bagian dari sistem media liberatarian-, serta masifnya disfungsi peran ganda dan istimewa aparat militer dalam kelembagaan politik. Akan tetapi, hari ini tepat di depan mata kita praktik oligarki politik begitu nyata dan vulgar di lembaga-lembaga eksekutif dan legislatif yang tak ubahnya ketika pada masa dekade 1950-an. Tahun 1998, dalam banyak kajian budaya maupun politik, kerapkali menjadi fase awal dari proses pembentukan apa yang disebut sebagai ‘Indonesia Baru’, Indonesia yang bermartabat dan sekaligus Indonesia yang lebih ‘humanis’.

Budaya populer merupakan bagian dari pranata dan praktik sosial yang lebih luas yang pada umumnya ditujukan sebagai hiburan (komoditas) kepada publik, di mana publik dihitung sebagai konsumen (hal 21-22). Identitas keindonesiaan ‘dicari-temukan’ melalui berbagai budaya populer (budaya layar) yang berseliweran dalam keseharian publik. Ariel sengaja memilih beberapa film besutan duo sineas terkemuka Riri Reza dan Mira Lesmana. Seperti, sekuel Laskar Pelangi, trilogi Merah Putih (1,2 dan 3), Garuda (1 dan 2), dan Gie. Film-film ini memiliki satu garis lurus tentang sepak terjang orang-orang hiper-nasionalis yang mencintai Indonesia tanpa syarat, cinta yang sangat buta. Pengagungan kebangsaan semakin memuncak ketika dihadapkan pada kisah-kisah yang nadanya meromantisme masa lalu. Tapi pada saat yang bersamaan konflik-konflik berskala lokal-nasional pun semakin akrab dalam pemberitaan media-media kita. Mulai dari perdebatan undang-undang anti-pornografi, diskriminasi dan konflik yang berbau teologis dan etnisitas, penghilangan nyawa karena perebutan sumber daya alam, dan seterusnya. Konflik-konflik ini justru terjadi ketika rezim otoriter tak lagi berkuasa secara legal-formal. Belum lagi tentang kebangkitan Islam dan Islamisasi yang tak jarang berkonotasi negatif baik dalam perspektif politik keamanan nasional (baca: demonstrasi benih-benih jihadis ISIS) maupun bagian dari praktik neo-liberalisme dalam skala kapitalisme global yang berorientasi profit semata.

Di tengah kebangkitan-kebangkitan itu, budaya populer mendapat tempat sebagai ruang perebutan ideologi bagi ‘kaum kekinian’, kelompok hegemonik yang berada di luar kekuasaan negara. Mereka memanfaatkan ruang-ruang publik dalam media (film dan media sosial) sebagai bagian dari agenda politik, menyebarkan nilai dan ideologi yang mereka anut. Dan, tentu saja sebagian yang lain mencoba menahan laju perkembangan budaya populer dengan modal keagamaan yang kuat dan atas dasar menjaga moralitas anak bangsa. Praktik budaya populer hari ini dan deretan konflik yang menyertainya adalah bagian dari bentuk amnesia sejarah sebagian besar publik Indonesia, yang tak menyadari banyaknya ruang kosong dari proses pembentukan dan transformasi Indonesia dari setiap rezim yang berkuasa. Dampaknya, kata Ariel, tersebar-luasnya kepicikan wawasan historis dalam mendiskusikan masalah-masalah mutakhir Indonesia hari ini. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, sedikit-sedikit berkonflik, sedikit-sedikit mendiskriminasi, bahkan sedikit-sedikit mengkafirkan.


Judul Buku : Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia
Penulis : Ariel Heryanto
Penerjemah : Eric Sasono
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun : Juni 2015
Judul Asal : Identity and Pleasure: The Politics of Indonesian Screen Culture

Foto: Google







Friday, 11 December 2015

Anak Gadis Berjalan Sendiri

catatan 6 tahun kepergian Abak ke haribaan-Nya



Lantunan musik yang menemani ketika menulis catatan ini sama sekali tidak mencerminkan kondisi kejiwaan dalam tulisan ini. Apa boleh buat, semua-semua kan tidak mesti segaris selurus, bukan? Hal yang sama ketika orang-orang di kampus dulu menakutkan dengan studi lanjut yang tidak segaris dengan keilmuan awal yang ditekuni. Abak pernah berkata, "Adek belajarlah ke Jogja, belajarlah di UGM itu. Orang-orang besar lahir dari sana. Kamu mesti ke sana". Abak tak tahu, sebelum semua rencana itu berjalan, beliau lebih dahulu pergi tanpa pernah menyaksikanku pergi dan pulang, Mukomuko-Yogyakarta. Dan, aku sendiri tak pernah berniat menjadi salah satu mahasiswa FISIPOL yang super terkenal dan populer di kampus mana pun itu. Alumni yang terkenal di level pemerintahan negara manapun.

Seperti yang pernah kuutarakan tempo dulu, Abak mengidolakan Amien Rais yang lulusan FISIPOL UGM yang namanya terkenal se-nusantara ketika gelombang reformasi merejalela. Beliau menginginkan anaknya belajar di kampus yang mencetak Amien Rais. Iya, tiga tahun setelah kepergian Abak, aku datangi kampus itu, kurang lebih dua tahun kemudian, aku duduki FISIPOL itu. Sebenarnya, tak ada niat ingin menjadi salah satu mahasiswa FISIPOL. Sama sekali tak pernah terbersit (aku terbahak jika mengingat ini). Cuma, ada yang sangat menarik dan berkesan, mengubah konstelasi kehidupan keseharianku setelah menjadi mahasiswa FISIPOL. Private and secret sector!

Seringkali aku membayangkan seandainya Abak masih bersama kami di rumah, di Mukomuko. Akan senang sekali rasanya, ketika ia menyaksikan anak gadis bungsunya pulang dari Jogja ke Mukomuko yang lengang, kampungan, dan angka pernikahan dini masihlah tinggi. Pun kerap membayangkan ketika beberapa bulan lalu ibu bersama uni ke Jogja. Andai ada Abak, tentu ibu akan bersama Abak ke Jogja. Naik pesawat, jalan-jalan di Malioboro, mengunjungi Borobudur, dan kembali ke Mukomuko. Beliau tentu akan menceritakan kisah perjalanannya ke teman-temannya di warung kopi, seperti yang kerap beliau lakukan ketika aku dan kakak-kakak masihlah kecil dulu. Tapi, kembali ke bumi, Abak tak ada dan angan-angan itu takkan terwujud. Kata ibu, untuk menyenangkan hatiku,

"Abak tahu Adek kuliah di Jogja. Jangan pernah merasa sendiri, nak".

Aku hanya mengiyakan, mesti kadang tak percaya. Kata orang Minang, sebagai perintang hati yang rusuah, sebagai pengobat hati yang gundah gulana. Bolehlah kita mempercayakan hal-hal yang di luar kepercayaan kita. Jika begitu, maka aku selalu menuliskan hal-hal yang menyangkut Abak (misal, bulan kepergian beliau, Desember 2009), pun dengan beberapa kisah yang menyertai beliau dalam perjalanan panjangku.

Kata orang, cinta seorang ayah kepada anak gadisnya adalah cinta yang sangat besar dan tak terkira. Aku ingat bagaimana uni, kakakku yang perempuan, menjadi anak kesayangan Abak. Uni adalah anak perempuan pertama Abak, lalu aku. Kata ibu, ia menjadi penyemat hidup Abak. Bekerja lebih keras, menjadi lebih agak feminin, berpikir semakin panjang (memikirkan masa depan putrinya, meski Abak sudah punya dua putra). Ini terbukti ketika Abak marah-marah sewaktu uni tak ingin kuliah, ingin merantau dan bekerja sebagai buruh pabrik. Hellow, Abak yang cukup tajir dan terpelajar waktu itu, tidak akan membiarkan anak gadis pertamanya merantau dan menjadi buruh pabrik di Batam (aku ngakak jika mengingat cerita ini). Alhasil, Abak mencari kampus swasta yang bisa menerima uni dengan prestasi yang rata-rata. Dan, ini sebuah revolusi gerakan, Abak membuka kran dengan menjadikan kuliah dan kampus alumni uni sebagai kampus primadona di kalangan tetangga dan lingkaran pertemanan Abak di Mukomuko. Ngeri memang pengaruh beliau di sana, hahaha.

Bulan ini adalah tahun ke-6 Abak tak bersama kami di rumah di Mukomuko. Aku manja pada beliau. Karena aku tak sabaran, jadi sering berdebat dan berselisih pendapat dengan beliau. Ibu adalah penengah yang baik. Banyak yang membuka pikiranku atas pandangan moderat dan agak radikal Abak tentang budaya, agama, dan politik. Aku baru bisa memahami setelah setengah dekade kepergian beliau. Sungguh, aku menjadi lebih tahu kenapa Abak berbuat demikian waktu dulu itu. Kenapa beliau kerap dikucilkan dengan pola pikir beliau yang melawan arus. I love you.

Doa dan cinta mulia selalu tercurah padamu, Abak.

Monday, 7 December 2015

25 dan 26




Ini tahun-tahun reflektif. Apa-apa saja yang sudah dikerjakan untuk orang lain, dan apa saja yang sudah dicapai untuk diri sendiri. Yang sudah dikerjakan untuk orang lain bisa jadi tak banyak dan tak ada catatan yang penuh tentang itu. Membantu kepada sesama mengalir dan mengalir pula dilupakan pada masa lalu. Karena memang ia tidak perlu dicatat oleh sejarah pribadi. Karena ia memang sudah mesti pergi begitu saja. Tak perlu mengenang segala kebaikan, karena mengenang adalah pekerjaan yang membosankan, meski itu adalah kenangan baik dan manis. Serius, tak perlu.

Apa mungkin mengenang kembali orang-orang sakit yang pernah didampingi? Apa enaknya mengenang kembali seseorang yang terluka untuk dibawa ulas hingga hari ini? Cukup ya cukup. Kisah bersama orang lain biarlah menjadi cerita yang ada dan eksis pada hari itu saja. Tak perlu dibesar-besarkan hingga hari ini. Menjenguk si sakit, membantu yang lemah biarlah menjadi sesuatu yang tetap ada di hati. Ia tak perlu dipanggil kembali dan diulaskan hari ini di ruang-ruang bersama. Mengulas kesedihan, kepayahan, dan kenelangsaan seseorang di masa lampau tidak mengubah apa-apa. Yang ada adalah rasa percaya diri hingga merasa paling baik dan benar yang semakin besar menerpa. Sungguh, gampang sekali tergelincir ke arah sana. Baiknya, hindari segera.

Ini perayaan yang ke-26, seperti yang sudah-sudah, selalu dilengkapi rasa syukur dan berbaik sangka. Selalu mencoba untuk merefleksikan pada masa lalu, dan biasanya selalu gagal jika dibangunkan sebuah rencana ke depan untuk hari esok. Kata orang, penyandang sagitarius cenderung berjalan dan berbuat sesuatu tidak memerlukan rencana. Saya terbahak berhari-hari setelah mengetahui hal itu. Betul memang. Setiap rencana akan banyak sekali meleset dan gagal ketimbang berjalan berhasil. Dan, seterusterangnya, saya seringkali membaca sifat dan karakter sagitarius itu baik versi primbon, astrologi, maupun shio (hahahahaha). Tapi baru menemukan kalau sagitarius berjalan lebih banyak tanpa rencana. Ia berjalan sesuka hatinya. Dan gampang sekali menemukan orang-orang baru yang membuatnya cepat merasa nyaman. Hari ini saya mulai belajar menyadari dan merasakannya.

Di 26 ini, ada beberapa hal yang agaknya menarik bagi saya. Ini mungkin lucu, tapi bolehlah tertawa. Saya berhasil mendatangkan ibu ke Yogyakarta (hahahaha). Memperkenalkan ibu ke kampus tempat saya kuliah (hahahaha). Dan, membawa ibu jalan-jalan naik candi Borobudur (hahahaha). Eits, melihat kondisi candi tersebut hari ini: banyak pengawas yang mengawasi tingkah laku pengunjung yang naik ke candi, bisa jadi pada 2020 candi Borobudur tidak diperkenankan lagi dinaiki oleh pengunjung karena konstruksi bangunan tersebut mulai aus, terkikis, dan rapuh. Pengunjung barangkali hanya akan bisa melihat dari jarak 2 meter dari candi yang dibatasi oleh pagar besi. Ini bahaya! Merupakan kesempatan langka masih bisa menaiki candi tersebut pada tahun-tahun ini. Makanya saya senang sekali ibu bisa melihatnya secara langsung.

Di 25 dan 26 saya belajar memahami kembali keputusan-keputusan besar yang pernah saya ambil. Mendekati sesuatu, dan sekaligus menjauhi sesuatu. Tidak gampang. Banyak pertarungan, khususnya soal akal dan perasaan. Untuk tetap berada dalam lajur yang bersesuaian dengan diri saya, saya mencoba membangun kondisi sekitar bak rumah di mana ibu dan kakak-kakak saya selalu berada dan memperhatikan saya. Latar belakang keluarga saya yang tidak fanatikan terhadap sesuatu (tidak melihat sesuatu secara hitam-putih) membantu saya untuk menjadi seperti hari ini. Di mana pun berada, di kota manapun, mencoba selalu membayangkan rumah pun berada di sana. Dengan begitu, keputusan-keputusan tadi (yang tidak biasa), saya pikul dengan agak begitu enteng. Saya bersyukur berada dalam lingkaran orang-orang yang berprasangka positif terhadap saya. Meski mereka bukanlah keluarga batih saya, ada ikatan darah dan silsilah keturunan. Tapi mereka begitu hangat dan yang menjadi tantangan adalah bagaimana saya bisa berprilaku sehangat mereka kepada mereka. Hingga hari ini, saya membayar itu semua dengan agak mahal: waktu dan kesabaran. Tapi tak apa. Kata teman saya, itu amal jariyah (hahahahaha).

Di 26 saya tengah merencanakan sesuatu yang setiap hari saya ingat-ingat, setiap hari pula ia pecah dan berantakan. Kembali saya susun menjelang tidur. Ketika bangun pagi, ketika saya mengingat, kembali ia pecah dan berantakan. Hingga pada suatu ketika saya biarkan begitu saja. Saya tinggalkan ia di kamar. Ketika pulang ia menemui saya kembali dan mengancam akan memecahkan diri seperti biasanya jika tidak saya acuhkan. Saya biarkan ia pecah berkali-kali. Dan hari ini saya terbiasa dengan rencana hidup yang bopeng dan pecah di sudut sana sini. Saya hanya tertawa jika ditanyai soal ini. Entahlah, saya hanya begini, tidak menjadi apa-apa. Kemudian saya membayangkan ketika di SD dulu, ketika guru bertanya tentang cita-cita saya. Saya ingin jadi dokter, Bu! Alangkah mudah dan gampangnya hidup di masa kecil. Dan alangkah semrawutnya hidup dua dekade kemudian (hahahaha).

Tiba-tiba seorang teman memotong lamunan saya. Ini teman yang paling hancur di Jogja.

Adek, kenapa orang begitu mudah menikah lalu punya anak?

Saya langsung terbahak mendapat tanya macam begini dari seorang teman yang sama-sama suka bergosip. Bagi saya itu agak lucu. Karena saya tidak sedang merencanakan menikah dan punya anak. Sekenanya saya jawab, itu serangan virus. Virus karena mereka hidup di lingkaran orang-orang yang sudah menikah dan punya anak. Ini berbeda dengan seseorang yang tidak berada dalam lingkaran macam begitu. Ia menyusul terbahak. Mengingat orang-orang yang berada di sekelilingnya: rerata ibu-ibu. Sudahlah.

Seperti yang sudah-sudah, pada akhir tahun ada banyak agenda yang dapat dikeruk ilmunya. Saya si kecil yang rakus dengan itu semua. Kemudian saya berpikir, meski hidup saya berjalan tanpa rencana yang ajeg, ada baiknya saya mulai belajar, paling tidak tetap berada di lajur yang segaris dengan garis besar rencana saya. Untuk sejalan beriringan tanpa membelot, agaknya itu sulit dan mustahil. Iya, saya mesti membangun itu semua. Semata-mata agar saya tetap berpikir rutin sesuai dengan apa yang saya sukai dan menarik tentunya. Sebagai pengingat, saya cukup cerdas untuk melihat sesuatu yang tampak tidak menarik menjadi sesuatu yang tampak menarik (hahahaha).


Selamat ulang tahun, Adek!


Foto: Google

Menenteng ‘Warung Kopi’ Viral Kemana-mana




Seorang teman jauh-jauh dari ujung Sumatera sana ketika sampai di Yogyakarta ingin sekali pulang kampung. Bukan kangen pada ibu-bapak, tapi teringat pada warung-warung kopi yang bertebaran di kampungnya. Setelah ia belajar tentang konsep public sphere (ruang publik) yang sangat hits itu, seketika itu juga ia terbayang bagaimana para lelaki di kampungnya saban pagi dan petang membunuh waktu bercengkerama membicarakan berbagai hal di warung-warung kopi. Sembari menyeduh kopi gayo yang semerbak itu, bermacam obrolan dihempaskan di atas meja. Sebut saja, mulai dari mahar perkawinan, dominasi partai nasional pada partai lokal, isu separatisme, hingga qanun syariah yang penuh pro-kontra itu. Bagi sang teman, warung kopi di kampungnya ternyata sangat ‘revolusioner’, meski tidak mengubah keadaan secara drastis, tapi tingkat keterlibatan (partisipasi) warga dalam obrolan-obrolan wacana publik cukup tinggi. “Inilah demokrasi dengan kearifan lokal itu”, katanya sembari menyeruput Kapal Api.

Lain di Aceh, lain pula di Yogyakarta. Warung-warung kopi di tengah kota Yogyakarta adalah tongkrongan-tongkrongan dengan cita rasa estetik yang tinggi guna memuaskan hasrat sesaat para anak muda (mahasiswa) yang haus keramaian atau krisis quota internet. Semakin malam, warung kopi semakin ramai. Sialnya, kecepatan mendownload semakin lambat. Ramainya pengunjung warung kopi di kota ini, pada beberapa hal juga diperuntukkan sebagai ruang publik: ruang publik merayakan ulang tahun, ruang publik kencan pertama setelah dinner tentunya, ruang publik bermain kartu, ruang publik bagi segerombolan anak muda jomblo, dan ruang publik bagi pengamat budaya pop amatiran. Kenapa bisa begitu? Karena, perbedaan antara warung kopi di Aceh dan di Yogyakarta terletak pada iringan musik yang menyertai warung kopi tersebut. Di Yogyakarta pada umumnya warung kopi dilengkapi dengan alunan musik –paling sering diputar Happy dari Pharrell Williams- sementara di Aceh tidak. Ini jawaban awal. Jawaban lainnya sebagai berikut.

Jika anda follower dari akun twitter Partai Social Media (@PartaiSocmed), setiap pagi anda akan menyaksikan admin akun ini mengetwit ungkapan “selamat pagi”, ungkapan “menyeduh kopi”, dan ungkapan yang paling ngetren adalah “menyalakan sesuatu” (memantik rokok). Kalau sudah begitu ada saja satu-dua follower kemudian menawari dan menyuguhi goreng pisang lah, mendoan lah, rebus ubi lah, teh manis lah, dan sejenisnya yang akrab disantap untuk sarapan bagi orang Indonesia. Bentuknya bisa berupa tulisan, gambar, serta gabungan keduanya (twitpic). Ritual itu hampir setiap pagi dilakukan sebelum memulai aktivitas “kerja”: ngetwit atau kultwit soal isu-isu politik terhangat di tanah air. Belakangan akun tersebut tidak lagi melakukan hal itu, konon adminnya sekarang berhenti merokok dan minum kopi.

Selain itu, jika lingkaran pertemanan anda di twitter bersinggungan dengan geng #pekok, suasana obrolan warung kopi akan lebih terasa. Member geng ini tersebar pada beberapa kota besar: Yogyakarta, Jabodetabek, dan Jateng. Dari kecenderungan bahasa yang mereka gunakan, bahasa Jawa-Yogyakarta, sepertinya mereka sering kopdar di kota Jogja. Latar belakang anggota geng ini beragam. Ada PNS, ada aktivis pecinta hewan, ada penulis, ada pengusaha, ada karyawan, katanya juga ada pengajar, dan profesi lainnya. Obrolan mereka tidak jauh-jauh dari seputar aktivitas pertemanan antar-mereka. Entah perayaan ulang tahun seorang teman dengan memproduksi hashtag ucapan selamat, entah agenda berpantun yang diadakan sepekan sekali (dalam bahasa Jawa), entah ejek-ejekan terhadap kelakuan seorang teman di antara mereka. Akan tetapi, pada isu-isu tertentu mereka juga ambil bagian dengan caranya masing-masing. Misal, gerakan anti-miras, gerakan save kretek, hingga gerakan save dedek-dedek gemes. Tidak bermaksud menggeneralkan, pada umumnya aktivitas sosial media pada lingkaran pertemanan ini cenderung untuk mengobrol santai saja laiknya tengah berada di warung kopi sembari leyeh-leyeh dan ketawa-ketawa. Ingat, mereka memiliki profesi utama.

Budaya Komunal dan Gotong Royong pada Media Sosial
Tak seorang pun dari member geng #pekok yang saya kenali secara akrab atau pernah bergabung kopdar dengan mereka di kota Jogja. Tapi, dalam praktik bercakap-cakap di twitter (berbalas mention) kerap terjadi. Ada anggapan bahwa orang Indonesia itu cenderung lebih mudah bergaul dan mudah akrab dengan orang lain. Pendapat ini kerap dilontarkan oleh orang asing yang datang ke Indonesia, khususnya Jogja, bahwa kita adalah orang-orang yang mudah memberikan senyum, ramah, dan berbaik sangka. Pendapat ini sepertinya sesuai dengan kondisi riil masyarakat kita yang kemudian dibawa atau terbawa dalam praktik kita bermedia sosial hari ini. Pun dengan kondisi sosial masyarakat kita yang memiliki tradisi budaya suka mengobrol (budaya lisan). Hal ini juga dibawa dan terbawa-bawa dalam praktik kita bermedia sosial yang suka membicarakan atau mengomentari apa saja. Pada beberapa waktu dengan konteks sosial politik tertentu, laman twitter jauh lebih berisik dan membuat capek ketimbang kehidupan nyata dan pekerjaan yang kita lakoni sehari-hari. Misal, pada peringatan Hari Buruh Internasional, peringatan Valentine, dan peringatan lainnya yang berpotensi tinggi untuk diulas panjang.

Tingkat partisipasi kita yang cukup tinggi itu membuat sesama pengguna media sosial lebih mudah akrab, meski tak sekalipun pernah bersua apalagi melakukan proyek bersama. Dengan kata lain, keakraban yang minim syarat itu mendorong kita, pengguna media sosial (netizen) melakukan aksi-aksi sosial bersama di media sosial yang tidak jarang tampak heroik. Para pengkaji cyberculture menyebut kegiatan tersebut dengan istilah cyberactivism atau click-activism. Aktivis-aktivis siber berseliweran di timeland twitter guna melakukan kampanye isu-isu publik yang menjadi konsen mereka, lalu mendorong dan memobilisasi netizen untuk terlibat ambil bagian. Syukur-syukur berlanjut ke dunia off-line. Banyak contoh yang bisa diambil dari gerakan cyberactivism ini. Misal, gerakan adili pembunuh gadis mungil Angeline di Bali, gerakan menolak asap, atau gerakan lengserkan Setya Novanto. Saya sendiri, setiap hari tidak kurang menerima email yang berisi dua petisi dengan tema berbeda. Satu-satunya wadah perubahan yang kerap digunakan dari dunia online ialah Change.org. Change.org dapat dikatakan sebagai petisi daring yang menjadi primadona bagi aktivis siber di Indonesia guna mengubah kondisi yang tidak becus yang terjadi di sekitar kita.

Meningkatnya gerakan cyberactivism ini tidak bisa dilepaskan dari kecenderungan budaya kita yang gemar kumpul-kumpul yang pada mulanya diawali di warung-warung kopi secara off-line. Pun dengan kegiatan gotong royong yang sangat akrab dalam kehidupan keseharian kita yang kemudian terbawa ke media sosial, berupa click-activism yang tanpa pikir panjang gampang sekali kita lakukan –satu dari dua petisi biasanya saya tandatangani. Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari kesibukan kita dengan pekerjaan atau aktivitas yang menyita waktu dan sedikit sekali memungkinkan kita melakukan kegiatan-kegiatan sosial. Di Jogja, di kompleks tempat saya indekos, bagi laki-laki paling tidak jaga malam, sementara bagi perempuan buat kumpul bersama paling tidak arisan atau pengajian, itupun jika arisan dan pengajian dianggap memiliki nilai dan abdi sosial. Cyberactivism dan gotong royong secara viral (tanda tangan petisi misalnya) seakan-akan dan bisa jadi menjadi pilihan akhir dari kesempatan kita melakukan aksi sosial. Tentu saja banyak yang tidak bersepakat dengan pendapat ini dan sangat terbuka untuk didiskusikan ulang mengingat tidak sedikit para aktivis gerakan yang gemar turun ke jalan dan beraksi lebih nyata ketimbang hanya meng-klik ini itu di layar ponsel, tablet, atau laptop mereka. Yang ingin ditekankan di sini adalah transformasi budaya komunal dan tradisi gotong royong kita yang terjadi dalam dunia online sebagai trend masa kini dari cara kita bermedia sosial.

‘Warung Kopi’ Viral
Kembali ke warung kopi. Aura dan suasana bermedia sosial seperti yang dijelaskan pada bagian pertama tulisan ini, kurang lebih, berasa seperti di warung-warung kopi nun jauh di kampung halaman teman saya itu. Paling tidak juga mirip dengan warung-warung kopi di sekitar rumah di kampung saya. Tapi, tetap ada perbedaan, bahwa ‘warung kopi’ ini berlangsung secara viral: tanpa sekat materi, menembus ruang dengan dimensi dan cakupan jauh lebih luas. Sekat yang paling jelas membatasi peserta yang akan ikut berkomentar ialah minat dan luasan pengetahuan yang tidak selalu sama. Pada warung-warung kopi konvensional, identitas lengkap peserta tidaklah menjadi poin penting yang perlu dibahas dalam. Sejauh ia memiliki pengetahuan untuk ikut ambil bagian dalam diskusi tersebut, sejauh itu pula ia dapat menjadi bagian dari lingkaran orang-orang di warung kopi. Hal yang senada terjadi di ‘warung kopi’ viral di mana peserta yang membalas mention (cuitan) menjadi bagian dari diskusi yang kerap panas dan alot. Keterbukaan antarpeserta dengan pendatang baru –yang ikut berkomentar- serta rasa partisipasi/keterlibatan yang tinggi tadi memungkinkan mudahnya terjadi komunikasi yang akrab, sekaligus yang tak dapat dinafikan debat yang tak berkesudahan. Para pengguna twitter menyebutnya dengan istilah tweetwar/twitwar (perang tweet). Perhatikan bagaimana akun Partai Social Media dan akun Kurawa yang kerap berbeda pendapat tentang satu hal persoalan publik, entah dalam penyuguhan data, entah dalam pembacaan dan interpretasi terhadap fenomena sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya di laman-laman timeland kita.

Dengan uraian di atas, agaknya dapat dikatakan bahwa ‘warung kopi’ viral sebenarnya tidak saja terjadi di twitter, tapi juga di laman-laman facebook, pada grup-grup whatsapp, dan sebagainya –mungkin saja bisa sama dengan kondisi di path dan atau instagram. Pada laman-laman tersebut kita dapat menyaksikan bagaimana orang-orang dalam lingkaran pertemanan kita selalu membagi sesuatu yang dapat dibicarakan bersama, sesuatu yang dapat dinilai bersama, dan sesuatu yang tidak jarang mendatangkan manfaat bersama –termasuk praktik jual beli. Timeland twitter, dinding facebook, dan grup whatsapp -yang biasanya tergabung pada lebih dari satu grup- merupakan ruang-ruang komunitas yang ikatannya bisa saja sangat longgar atau sangat kuat/akrab. Dimensi pertemanan, dimensi komunitas yang terbentuk melalui media sosial menjadi sesuatu yang perlu untuk didefinisikan kembali, untuk dibicarakan ulang mengingat ada banyak perubahan yang terjadi dalam praktik keseharian kita yang nyaris tak lepas bersentuhan dengan dunia digital. Di tengah masih banyaknya warung kopi di Jogja dan kota lain, sebenarnya masing-masing dari kita sedang menenteng ‘warung-warung kopi’ viral kita kemana kita pergi. Warung kopi kita tidak pernah habis dan ‘warung kopi’ viral kita tidak pernah tutup.

Foto: Google