Tuesday, 18 August 2015

2015: Ramadhan, Kemerdekaan, dan Misi 1 Akhirnya Selesai



Tahun ini tahun yang cukup berat. Setelah ditinggal selamanya oleh nenek, aku memasuki ramadhan dengan hati yang campur aduk: senang, gembira, namun juga sedih, sibuk, dan susah untuk fokus pada satu hal. Bagaimana tidak, deadline datang beruntun, kesehatan menurun, belum lagi soal ini itu yang datangnya tiba-tiba namun menguras energi dan perasaan. Namun begitu, sembah sujud, aku masih bisa menikmati dan beribadah maksimal di bulan suci ramadhan. Semua dilalui dengan pelan-pelan. Pada bulan suci itu juga satu misi yang penting terlewati dengan cukup baik meski tersangkut di sana sini.

Sempat stress dan kalut dengan tuntutan penelitian yang berat dan menghendaki banyak duduk, banyak membaca, dan merenung dalam. Pada titik tertentu sepat down dan berpikir untuk menyerah. Namun, cara paling sederhana memulihkannya ialah dengan tidak memikirkannya terlalu berat. Cukup menghadapi laptop setiap hari, sabar mengetik, dan membaca ulang, mengoreksi, dan kembali mengumpulkan semangat untuk menyelesaikannya. Dan akhirnya selesai juga. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang selalu dekat dan menolong dengan caranya sendiri.

Lalu, setiap tahun menjadi tahun yang berbeda bagi aku. Aku selalu merasakan tahun ini tahun yang lebih kompleks, lebih bermakna dari tahun sebelumnya. Merayakan apa saja. Mulai dari ulang tahun diri sendiri, ulang tahun negara tercinta, memasuki ramadhan dan lebaran, mengakhiri satu fase dalam hidup, dan seterusnya. 2012, 2013, 2014 adalah tahun tahun yang rumit. Namun tahun 2015 adalah tahun yang tak kalah rumit dan menguras energi. Meski begitu, satu hal yang membuat aku merasa optimis dan tidak lelah adalah keyakinan yang besar tentang hari esok adalah hari yang bermakna yang sudah dibangun sejak hari lalu dan hari ini.

Sama seperti ketika tahun ini aku lebaran di Jogja. Ini lebaran pertama kali aku tidak kumpul dengan keluarga. Pernah satu kali aku lebaran di tempat tante, lalu lebaran sendiri di kampung orang. Memang ibu dan saudara aku sedih, namun sepertinya mereka cukup memahami kondisi aku. aku berharap dan berencana, pada lebaran besok aku akan berlebaran kembali di rumah bersama ibu dan saudara.

Aku kadang merasa, aku terlalu cepat tumbuh menjadi dewasa. Iya, temen aku yang seumuran memang beberapa sudah menikah dan punya anak. Dewasa di sini bukan persoalan itu. Ini persoalan tentang kehidupan yang lebih kompleks. Bagaimana perempuan muda seusia aku memang hidup? Bagaimana aku memandang lapangan kerja aku? Bagaimana aku memandang setiap kota yang pernah aku singgahi? Bagaimana aku memandang laki-laki yang dekat dengan kehidupan aku? Dan bagaimana aku memandang tiap putusan yang akan aku ambil dalam hidup?

Aku rasa teman-teman aku juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Hanya saja kadar kompleksitasnya tidak seperti aku. Aku berkaca dari kenyataan dan pengalaman aku dan orang-orang di sekeliling aku. Jika memang kondisinya ribet dan njlimet begini, aku kan tidak bisa menutup mata. Misalnya, main tanda tangan kontrak saja, atau main terima saja dilamar oleh laki-laki, atau berdamai saja dengan kondisi kota yang ditempati. Banyak hal kemudian yang memang perlu dipertimbangkan dan diperhatikan.

Ini 17 Agustus 2015, 70 tahun sudah Indonesia, tanah air yang aku tumpangi hidup di muka bumi. Usia yang cukup matang untuk berbenah dan memperbaiki diri. Aku berharap besar bagi negeri ini. Pada suatu masa anak negeri ini dapat mencicipi pendidikan secara gratis hingga ke bangku kuliah. Bangku kuliah, pada banyak hal, memang sangat membantu masa depan anak bangsa ini, soal: mental, kecerdasan, kemandirian, dan kemampuan kognisi lainnya.

DIRGAHAYU NK REPUBLIK INDONESIA KE-70 TAHUN 2015!

NB: Foto dari Google

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^