Monday, 30 December 2013

Abak, Amak, dan Perjalanan Penghujung 2013


13 Desember dan Abak Sedunia
Ini tanggal ketika abak takkan pernah lagi menyapa secara riil, tidak di dalam mimpi. Ini awal cerita ketika abak takkan pernah bertanya lagi bagaimana kabar kuliah, apakah masih punya cadangan uang, bagaimana prestasi kuliah. Ya, ada sosok yang raib selamanya sejak tanggal ini jatuh pada empat tahun silam. Beliau komplikasi. Mulai dari maag, lambung yang tak lagi sehat. Merambah ke berbagai organ dalam seperti jantung dan mungkin juga empedu hati. Sementara kadar gula darah baik-baik saja. Karena, saya yang mengecek, jadi cukup paham. Meski begitu ternyata tak menjamin bahwa Abak dapat mengikuti cerita sejarah anak per anak beliau.

Ingin kusapa, Abak, tak banyak yang berubah di rumah yang kau dirikan dulu. Masih seperti kau bangun pertama kali. Begitu juga cinta Amak dan anak-anakmu. Bahkan semakin menggunung. Akan tetapi, banyak berubah dari kehidupan anak-anakmu kini. Anak bujang dan anak gadismu makin besar. Makin cerdas dengan peningkatan pendidikan di sana sini. Amak cukup kuat membangun kepercayaan kami guna melanjutkan pendidikan setelah kau tiada. Tak ada kebahagiaan luar biasa bagi Amak, setelah kepergianmu, selain menemani kami anak-anaknya menatap hari esok dengan yakin dan tak muluk-muluk.

Kuceritakan sedikit. Abak, Amak jelas semakin tua secara usia. Namun secara sosial beliau banyak belajar, semakin kuat, dan paham betul bahwa hidup tolonglah diisi dengan jutaan kebaikan. Ya, beliau memang tidak ditakdirkan gendut seperti ibu-ibu lain. Abak tahu itu. Meski demikian, beliau selalu memberiku kabar sehat dan tak ingin dipersulitkan oleh hidup. Paling penyakit Amak berkisar pada pilek, sariawan, dan kepala pusing. Selebihnya tak ada. Amak tak makan banyak, dan tak makan makanan yang macam-macam. Tentu jengkol dan petei adalah makanan yang membuat Amak terbahak dalam telepon bersamaku. Dan, Abak juga akan tersenyum karena tahu hal ini. Ya, ini makanan favorit Abak, Da David, Da Dedi, dan setahuku kebanyakan lelaki Minang. Mereka dimana-mana selalu tergila-gila dengan jengkol dan petei. Amak, kadang memasak dua jenis makanan ini. Tentu One keberatan, meski tetap menyicipinya. Begitulah, semua berjalan tak berubah jauh ketika Abak masih menemani.

Oiya, aku sudah hampir tiga tahun tak di rumah, Abak. Sejak kepergianmu pada penghujung 2009 lalu, 2010 aku fokus menyelesaikan skripsiku sembari belajar kesana kemari dalam berbagai kunjungan. 2011 aku diwisuda dan terbang ke Yogyakarta. Aku bekerja sebagai buruh di kota ini. Jika kau tahu, kau akan marah luar biasa. Kau menolak menjadi buruh. Kenapa gadis kecilmu harus melakoni pekerjaan ini. Tapi tak apa, Abak. Tak lama kok, aku segera melanjutkan kuliah di kampus yang paling hits di kota ini. Kau pasti bangga bukan? Gadis kecilmu berjalan, meninggalkan kampung kecilnya, menyusuri perjalanan panjang sendirian, menjadi buruh, dan beruntungnya dia mendapatkan kursi seperti yang kucita-citakan dan juga kau harapkan. Abak, kepada siapa lagi aku mengadukan kebahagiaan ini kalau bukan kepada Amak dan saudara-saudaraku. Tentu dalam rapalan doa pada beberapa malam, aku tak lupa menceritakannya kepada angin dan gelap malam. Kau menerima pesan bahagia dari mereka bukan?

Rasanya, aku perlu juga ceritakan bahwa banyak ternyata yang dapat kulakukan di sini, Abak. Kau mungkin tak percaya. Aku bekerja membantu orang menikah dan pesta. Membantu menyiapkan makanan catering untuk partai politik. Aku membuatkan teh dan kopi bagi relasi atasanku di kantor. Sepele bukan? Tapi, jelas kau tak sepakat dengan tindakanku ini. Aku sudah menebak, kenapa aku tak ikut serta membesarkan usaha keluarga kita? Begitu tanyamu kan Bak? Abak, percayalah pada suatu waktu aku akan turut tangan lebih besar dalam mengurusi usaha keluarga kita. Sekarang, seperti yang kau pesankan, aku belajar banyak dulu dari kehidupan yang berwajah berdarah-darah ini. Dimana saja, seperti yang juga kau sarankan.

Aku ceritakan sedikit Abak. Bahwa aku ternyata mampu membuat sebuah novel yang biasa, dan beberapa orang menilainya luar biasa. Karena novel ini aku diundang sebagai penulis yang bercerita tentang novelku dalam festival sastra internasional terbesar di negeri ini. Jika kau menyaksikan, betapa beruntungnya aku waktu ini. Tapi, tak perlu disesali. Abak, dalam doa-doaku pasti kau mengetahui bagaimana perjalananku mencapai itu. Amak senang sekali. Uda one juga begitu. Mereka, dalam pikiranku akan melakukan apa saja agar aku tetap bersekolah lancar. Tadi malam Da David menelepon, ia berkata, jika aku kurang duit gadaikan saja motornya. Abak, dia kerapkan menyampaikan hal ini kepadaku dan kepada Amak. Bahkan, dia tak melakukan apa-apa yang lebih besar bagi dirinya asalkan dua gadis kecilmu selalu dalam keadaan sehat dan baik selalu. Abak, ini cerita yang sangat membuatku merasa terhormat dan sangat disayangi, sekaligus menyakitkan. Andai kau masih bersama, mungkin kakakku tidak sekejam itu terhadap dirinya.

Abak, bagaimanapun keadaanmu di sana, semoga rerindangan dedaunan, bisik-bisik burung camar menemanimu, gemericik air dan hangatnya mentari memenuhi setiap harimu. Seperti ketika kau bersama kami, kau selalu punya kesibukan hari-hari dan tampak kecil-kecil di setiap siang. Meraut lidi, menggunting karet, menjalin tali temali, membersihkan kali di belakang rumah kita, menyingkirkan pelepah pinang yang kutanam beberapa tahun silam, dan banyak lagi. Abak, hingga detik ini aku tak bisa membayangkan bagaimana warna warni surga, tapi aku bisa membayangkan bagaimana harapan di hari esok. Dalam lantunan doa, kau adalah laki-laki yang kujadikan definisi untuk melihat laki-laki lain di dunia ini. Begitulah Abak di mataku di tahun keempat kepindahanmu. 31 Desember ini, selamat ulang tahun ke 60, Abak.


22 Desember dan Amak Sedunia
22 Desember ini orang se-Indonesia merayakan Hari Ibu untuk menghormati dan menyayangi ibu. Amak, sehari sebelum tanggal itu aku beranikan diri mengucapkan selamat kepadamu, dengan sedikit grogi dan tersenyum-senyum malu. Ketika mendengar, Amak begitu senang dan mendoakan seperti biasa. Ini pertama kali ucapan itu terlontar. Kok, aku merasa sebagai anak yang terbawa arus wacana dimana-mana waktu itu. Kesannya, bahwa jika seorang anak mencintai ibunya kenapa tidak mengucapkan selamat Hari Ibu kepada ibu masing-masing? Ah, ini konstruksi pemikiran yang mainstream terlihat di tivi-tivi, terdengar di radio-radio, dan terbaca dalam status-status jejaring sosial.

Padahal, ucapan ini tak menambah rasa cinta dan hormat kepada Amak. Karena tanpa ucapan ini cinta dan hormat itu seperti akar di dalam nadi. Selalu menjalar, mengalir, dan membesar. Ucapan itu, mungkin sedikit ditambah bumbu basa basi dan mencoba menjadi masyarakat kelas atas yang merayakan. Amakku, adalah ibu yang kemuliaannya tidak dari kelas sosialnya. Beliau berasal dari strata ekonomi bawah. Tidak berpendidikan tinggi, tidak pernah menaruh harapan akan uang dan materi, tidak pernah manjamu anak-anaknya dengan ucapan 'jadilah orang kaya'. Jadi, Amak dalam benakku tidak mengubah kediriannya menjadi sedikit modern dengan ucapan-ucapan itu.

Amak selalu menguatkan diri dan anak-anaknya untuk menatap hari esok dengan harapan yang tak kosong dan juga tak penuh. Kau tak bisa mengosongkan benakmu dari apa yang kau citakan. Dalam waktu bersamaan, kau juga tak baik memenuhkannya begitu saja tanpa mempertimbangkan hukum alam dirimu. "Adek, belajarlah semampu. Gapai anganmu semampumu. Namun, jika kau lelah dan capek, beristirahat dan makanlah yang enak. Dunia tak terselesaikan dengan tergesa-gesa, Nak." Ucapan ini mengiringi tidur yang tak selalu lelap. Mengiringi hari yang panas dan tertimpa badai. Mengiringi perjalanan yang berkeringat dan kaki melepuh. Di balik ketaknyamanan itu, menikmati ketaknyamanan adalah satu-satunya cara agar aku tetap melangkah. Dan kegagalan demi penolakan menjadi santapan semata.

Amak, banyak cara kerja, cara memasak, cara mengepel lantai, cara mengatur waktu salat dan tidur yang kupelajari dan kuwarisi darimu. Hal-hal yang di luar kendali sadarku, ternyata sama persis dengan apa yang kau lakukan. Kita selalu suka tidur di ruang terbuka tak berkamar. Kita selalu nyaman dengan keterbukaan pintu dan jendela. Angin dan cahaya tak diperkenankan tersendat karena atap dan bata. Bagimu, rumah menghadap ke timur adalah rumah yang sebenarnya. Rumah yang tak sekedar mensyukuri nikmat-Nya, tapi rumah yang menyehatkan batinmu dan batin tetanggamu. Hal-hal yang tak kudapati di perguruan tinggi, ternyata memberi banyak pedoman bagiku sekarang.

Amak, di ulang tahun ke 55 ini, pada 7 Januari kelak, semoga kau tetap menjadi perempuan di atas segala perempuan bagi kami dan saudarimu. Tetap dengan segala ketakmampuan kami mendefinisikan kau secara utuh. Karena kau memang tak pernah utuh, Amak. Cinta yang ditebarkan pada setiap kami mungkin berbeda dalam porsi yang tak seragam. Tapi, cinta itu dilekatkan pada setiap karakter warna yang pas menyandinginya. Cinta yang tak tampak norak dan berlebihan. Cinta yang membumi seperti cinta hujan pada kemiringan. Mengalir saja, namun mengikismu menuju kedalaman dan kemurnian.

Amak, dalam bayangan anakmu yang mungkin materialis ini, selain cinta dan hormat yang kupersembahkan di setiap doa, aku ingin membangunkan rumah rancak dan akrab buatmu di hari senja. Rumah yang menaungimu dengan sejuta cerita pada dindingnya. Rumah yang menaungimu dengan gemericik aliran air di tamannya. Rumah yang menaungimu dengan semilirnya angin di rindang dedaunan. Rumah yang kubangunkan dengan segala doa dan harapan buatmu.


Perjalanan Penghujung 2013
2013, terima kasih telah mampir dalam salah satu babak dalam adegan hidupku. Tahun yang membuatku merasa bergairah berat untuk menjalani tahun berikutnya. Tahun penuh kejutan dan menggelora. Tahun dengan kegagalan dan ketakgagalan. Tahun yang memberhentikanku putus asa.

2014, selamat datang. Jadilah engkau tahun yang jika tak sama, tapi membuatku merasa babak dalam adegan ini semakin lengkap dan terasa. Tahun yang jujur untuk keluargaku, diriku, dan Indonesiaku.

Salam serindunya,
Dedees

Monday, 9 December 2013

[Catatan 6 Desember 2013] Aku Ingin Ditemani Sengkuni!

Engkau bicara seperti orang yang mengidungkan mantra dan sudah puas hanya dengan mendengarkan kidunganmu sendiri, meskipun sebenarnya tidak tahu artinya (Bima dalam Mahabharata).


Untuk meredam itu aku mengurangi diri bereaksi cepat pada sebuah suspens, tegangan, pancingan, dan sejenisnya. Karena, bukan perkara tidak berguna dan tak ingin membela diri, tapi lebih kepada agar tidak terlihat bodoh dan kemudian lupa diri. Mengurangi menanggapi segala fenomena dengan reaktif, seolah-olah bombastis, dan kemudian begitu berhasrat mewacanakannya kepada publik. Kata seorang penulis, jika semua orang berbicara -pedas, congkak, sombong, paling benar, dan merasa pahlawan- lalu siapa yang akan menulis? Perenungan adalah keniscayaan. Kontemplasi adalah jalan menuju siapa diri, siapa alam, dan kesyukuran. Detik-detik menginjak 24 tahun, aku begitu mencintai kesunyian. Kesunyian, meski tak melahirkan karya besar, perjalanan selama sunyi benar-benar menguras nurani.

Di dalam sunyi, rasakanlah perjumpaanmu bercakap-cakap bersama dedaunan, hujan, dan nyenyamuk -aku tersenyum geli menulis dan mengenang perjumpaan ini. Karena deraan kesibukan mungkin kita luput menyaksikan bunga desember berbiak dan bertahtah mayang-mayang merah rupawan. Lalu, akan luput merenungkan bagaimana mayang-mayang itu rontok satu per satu sebelum desember beranjak. Mengenaskan! Hujan tak peduli pada ampunan mayang agar tak diterjang. Angin tak peduli pada permohonan mayang agar tak dibuai kencang. Hanya perempuan tua dan anak lelaki tuanya beserta saya, sesekali, membicarakan betapa desember begitu keji kepada kembang berumur pendek itu. Kita tak punya kendali kepada angin pun kepada hujan. Bunga desember tak juga punya kendali kepada desember yang sudah memberinya waktu menampakkan rupa, sekaligus merenggut kembang itu dalam satu dua pekan.

Seperempat abad kurang 351 hari sudah usiaku. Lompatan waktu dan lompatan kisah yang cukup kompleks. Mulai dari mencuci seragam merah putih sendiri, jatuh cinta pertama kali kepada pemuda bengkel yang selalu mengalah dan sangat tak ingin berumit, belajar meninggalkan Amak dan saudara selama empat hari atau sepekan karena keberuntungan, nekat menempuh perjalanan panjang pada usia belasan di kota lain tanpa bekal ilmu bela diri hanya karena percaya pada tagline 'keluarlah dari zona aman di dirimu', dan menjadi pengikut bahwa tak selalu setiap anak mewarisi usaha dan 'kodrat' keluarga. Bagaimanapun mencabut diri dari 'akar' bukanlah perkara gampang dan bisa. Ia adalah sesuatu yang ada dalam dirimu. Bagaimana akan memilah kemudian meletakkannya dalam lembaran halaman buku, menutup buku, dan mematikan lampu. Sementara, ia kekal mengalir disetiap bulir darahmu.

Bersama kesunyian kegemaran mendefinisikan menjadi tak berguna. Kehidupan begitu kompleks -bahkan dalam mati, cerita kebanyakan- maka berhentilah mendefinisikan. Berhentilah bertengkar sebagai sebuah panen akan kegemaran mendefinisikan. Guncangan-guncangan ini ada baiknya untuk menampakkan bahwa hidup tidak dalam baik-baik saja. Hidup tidak seperti matahari yang setia memanasi, meski pada suatu kondisi ia akan membakar dirinya sendiri. Tidak juga seperti bumi yang diam-diam saja ketika semakin sesak oleh nyawa dan beton, meski suatu ketika ia ingin batuk kencang dan memuntahkan dahak panas. Jelas penuh onak. Lalu, apakah menyanyi akan menelan gulana ini? Pada mereka yang menyembah Drupadi, menyanyi adalah kegetiran.

Perayaan demi perayaan ini seperti metamorfosis, tak akan selesai, tak kunjung selesai. Menjadi luhur tidak semata-mata mempelajari kitab-kitab, namun juga dengan bergaul bersama mereka yang bijak, bahkan nurani mampu memandumu pada benih-benih kebijakan dari seseorang yang masih berbaur antara kebijakan dan kebangsatan. Perjalanan ini masih berlanjut, bercabang, dan sunyi. Jika boleh berdua, aku ingin ditemani oleh Sengkuni. Diam-diam, dibalik kelicikan, seyogyanya kita dapat belajar lebih banyak keluhuran.

Make your friends close
But, make your enemies closer
(The GodFather, 1974).

Jaga dirimu baik-baik,
Dedees

Tuesday, 3 December 2013

Yang Ragu, Yang Diwisuda


Hari ini, 30 November 2013, Da David dan Uni Iref diwisuda diploma. Mak Tuo dan Amak tak ketinggalan, ikut serta meramaikan acara besar itu di Mukomuko. Senang saja meski tak menghadiri. One dan Da Dedi tinggal di rumah, menunggu, seperti biasa. Mereka ada orang yang setia, terpaksa setia karena ada sejuta cerita di balik itu.

Da David fokus pada pembibitan kelapa sawit. Sementara Uni Iref belajar telekomunikasi, mahir komputer buat kantoran. Mereka belajar bersama pada kampus yang sama. Usia tak jadi soal. Terhitung lambat, karena One bahkan saya sendiri sudah menamatkan sarjana kami masing-masing. Ya, tak ada cerita sesal dan datang terlambat. Masing-masing kita punya kisah dan tambatan.

Sabtu waktu itu, dari pagi hingga petang, sengaja aku berdiam diri di kos. Tak hendak kemana-mana sembari membayangkan betapa gaduh dan sibuknya One, Amak, dan Da David di rumah. Beragam yang diharus didebatkan. Soal motor, soal hujan, soal kebaya, soal payung, soal siapa yang menunggu, soal pembayaran, soal foto, soal cuci foto, dan soal lainnya. Benar, dan mungkin juga berlaku pada banyak keluarga besar seperti kami. Bahwa, kegaduhan cenderung lebih besar terjadi pada kami yang ramai. Ada saja yang membuat semua tampak tak lancar. Ada saja yang membuat Amak terdiam, atau One yang terdiam beku.

Kondis keluarga pun juga tak baik-baik amat. Amak menyembunyikan dariku yang jauh. Da David mengisahkan. Selalu begitu. Itulah beda ibu dan abang. Dan di dalam hati, andai saja aku sedikit lebih mampu, entahlah, entah bagaimana ini harus berjalan. Terus terang, maaf yang besar selalu terhimpun untuk dikirimkan dalam doa-doa. Bahwa, mungkin aku terlalu keras untuk semua keputusan ini. Bahwa, mungkin aku terlalu melampaui apa yang diharapkan Amak dan alm. Abak. Atau jangan-jangan aku masih belum apa-apa jika diukur dengan firasat abak, andai kami masih bisa menatap satu sama lain. Tentu cerita ini akan berbeda, kawan.

Tapi, tak perlu disesali dan disedihkan. Apa yang terjadi hari ini, abangku diwisuda, Amak tak sampai hati untuk tidak hadir dengan berbagai alasan, One yang tak bisa kemana-mana, sementara aku dimana-mana, Da Dedi yang seperti itu-itu saja adalah rezeki dan cerita indah yang dapat kutuliskan. Adalah alur dimana aku mencari akar, atau bahkan awal agar aku mencari bentuk. Maaf jika sentimentil. Ini versi kisah keluarga. Pahit, manis, asin, kecut, dan berjalan ratusan kilo adalah sehari-hari yang pasti kulalui, kami lalui.

Kepada Da David dan Uni Iref, selamat. Dengan senang hati aku selalu mendoakan dua kakak yang mencintaiku dan kucintai juga. Dua kakak yang selalu mendukung, bahkan merelakan untuk menunda pernikahan -ini cerita lucu. Jika setelah ini secara fisik mereka tidak berpindah ladang kerja, itu bukanlah penting. Yang utama, dua kakakku sudah menambah cakrawala mereka akan dunia dan pengetahuan. Dengan begitu, semoga saja ada yang mendarah daging kebaikan, keluhuran, dan kedamaian. Percaya tak percaya, kita jarang sekali mendebat uang, bukan? Maka dari itu, bukan uang citacita kita. Jika ini naif, maka benar uang membantu kita dalam beberapa hal di sini.

Pada doa-doa di siang hari aku selalu berterima kasih, dan tidak meminta kepada Tuhan. Jika di doa malam, barulah aku mulai mengais pertolongan, meminta, dan berharap esok pagi aku tetap hidup dan dapat melunasi hutang-hutang budiku pada siapa saja yang patut kubayarkan.

Doa siang itu, terima kasih atas ruang yang mungil ini, terima kasih atas kabar dari rumah yang separuh membahagiakan yang separuh membuat meringis, terima kasih atas kesehatan meski lauk apa adanya, terima kasih atas teman-teman yang sederhana, terima kasih atas cinta banyak pihak yang membantu meminggirkan kerikil-kerikil, terima kasih kepada generasi lampau yang sangat toleran, dan terima kasih kepada bayi-bayi yang sudah membuat ini sangat optimis.

Dan doa di malam itu, seperti doa-doa SMP-SMA dan masa lalu: sehat Amak dan saudara, tempatkan Abak di tempat terbaik di sisi Rasul, ampunkan dosa amak dan saudara dan para tetangga, lancarkan kebutuhan keluarga, dan pekakan hati ini terhadap apa saja di sekitar. Berusahalah tidak menjadi pribadi yang selalu duluan, jadilah pribadi yang perenung. Dan, jika suatu ketika Tuhan siap, berikanlah mimpi yang kudambakan sejak belasan tahun lalu. Mimpi itu belum kesampaian.

Inilah pribadi yang mendua. Tak menjadi utama apakah agama saya paling benar atau tidak, apakah kepercayaan saya sudah semestinya atau belum, apakah ilmu saya sudah menuju pencerahan atau masih di abad kegelapan, tapi satu hal yang ditekunkan ialah pegagangan. Pegangan menjadi penguat kenapa ini dipilih dan yang lain diutamakan. Pegangan saya, sama sekali tak menginginkan orang lain rugi dan merasa dikhianati.

Catatan ini untuk dua kakakku yang berbahagia. Jelas, akan sulit bagi mereka dapat menyimak cerita ini, karena faktor kultural. Meski begitu, itu bukan perkara. Kukisahkan semua ini dengan bahagia sembari membayangkan mereka berjas dan berkebaya indah. Selamat Da David dan Uni Iref. Ada pintu baru di sana, ayo dicoba.

Kutuliskan kisah di malam ini sembari memberi makan hewan piaraan virtual di handphone. Menyiram dan memanen apel, pisang, mangga, jambu monyet, buah kiwi, serta cerry sebagai pakan mereka.

Salam bahagia,
Dedees