Wednesday, 26 June 2013

Most-Beat ‘Akademis’ di Efek Rumah Kaca


Tulisan ini mungkin akan kurang mengesankan bagi pihak yang merasa tersinggung, terutama audiens mahasiswa. Apa lacur, di balik kemeriahan dan kegembiraan, tersimpan benih-benih yang siap berteriak, memaki, yang kemudian meledak. Bahwa, inilah keniscayaan itu.

Sekitar seribu mahasiswa dari berbagai kampus duduk bersila menghadap panggung di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri Universitas Gadjah Mada. “Ticket sold out, tapi panitia mencetak ulang,” begitu kata seorang singer dari band pengisi. Untuk acara kampus macam Earthernity Fest 2013 ini, band-band’an model begini cukup besar dan menyedot perhatian. Audiens duduk manis dan sesekali menjepret dengan sopan. Audiens, dalam hitungan jari, coba menghayati (ikut bernyanyi) bersama band-band lokal dan yang dari berbagai kampus. Selebihnya –seperti tengah berziarah- menekur dan terpesona dengan penampilan lighting serta kerumunan penjinjing DLSR merangsek panggung. Ini awal.

Ketika band polska dari kampus seni Yogyakarta, Aurette and The Polska Seeking Carnival tampil, audiens menyulap diri. Yang tadinya bersila manis, tanpa ba bi bu meloncat ke depan dan berdiri pede. Malangnya, manuver ini diikuti oleh sekitar 999 audiens lainnya. Seperti semut, panggung adalah gula, dan menjadi penting bagi audiens untuk menopang lengan di bibir panggung. DLSR menggila. Tak sedikit yang berjinjit payah dan bermuka masam. Memang, band polska satu ini sedang naik daun di tengah persaingan band indie Yogya masa kini.

Lalu, ketika drumer Efek Rumah Kaca (ERK) menabuh-nabuh riuh, saat itu pula seolah-olah audiens ingin memakukan kaki di lantai hingga pukul nol-nol kelak. “Tiga tahun berlalu, Locstock gantung diri, sekarang aku (punya) kesempatan liat ERK lagi,” kata seorang fan abangan ERK. Petikan gitar dan bass beradu, kawin mawin. Lirik-lirik dari album pertama ERK memenuhi panggung. Di beberapa lagu, suara sang vokalis hampir tak terdengar.

Jelas! Digantikan oleh chord mahasiswa yang benar-benar hapal serta berkonsentrasi tinggi. Seperti lagu Di Udara dan Hilang yang berisi kritik sosial dan ketakberhentian untuk melawan, mendapat sambutan histeria dari audiens. Tapi, seperti yang sudah-sudah, yang menyeruak selalu nuansa paradoksal; ‘kegundahan’ sekaligus hingar bingar fans yang masih belum yakin hadir di hadapan ERK dan bersama menyuarakan ketidakadilan –ekspresi yang sangat konvensional.

Saat Desember dan Melankolia dilantunkan, bibir panggung yang disesaki audiens tadi, bergemuruh. ERK memang bisa menciptakan suasana awang gemawang yang mencekam. Audiens dituntun terbang menuju langit namun singgah dulu di pemakaman. Seolah-olah, most-beat audiens ini ingin bermandi hujan kemudian –jika tak berlebihan- beramai-ramai menyayat nadi. ERK benar-benar membius malam itu. “Yang tak hapal lirik, percuma mengambil gambar!” canda seorang teman sembari meloncat.

Melihat pertunjukan ini, ERK memang punya karakter fans tersendiri. Katakanlah, fans ERK dari anak muda yang (pernah) berkeliaran di kampus, aktivis sosial, banci (baca; suka) demo, banci diskusi, dan sejenisnya. Kenapa? Ya karena –lebih banyak- orang-orang inilah yang (dapat) menghayati lirik-lirik dalam atau khas dan ‘puitis’ ala ERK. Dan, sekaligus orang-orang inilah –yang juga lebih banyak- membicarakan cinta kemudian ‘putus asa’ di dalamnya. Lagu Cinta Melulu mendapat sorakan dan gelak tawa. Banyak yang melenggokkan pinggul, menggoyangkan bahu, kemudian seolah berkaca pada teman di samping. Audiens –dan mungkin juga ERK- antara menyindir ‘mereka’ sekaligus menampar pipi sendiri. Meski demikian, ERK dan audiens agaknya sama-sama puas. ‘Kegilaan-kegilaan akademis’ seperti inilah yang disuguhkan ERK. Dan, ‘kegilaan-kegilaan akademis’ seperti inilah yang dihadirkan, dinikmati, dipuja, kemudian diulas –seperti yang saya lakukan. Inilah most-beat ‘akademis’ itu.

ARD

Tuesday, 11 June 2013

Isra Mi'raj



LAMA sudah rasanya tidak menghadiri perayaan ini. Terakhir menghadirinya, entahlah. Mungkin sekitar 4-5 tahun lalu. Atau sejak 7 tahun lalu, dimana masjid dan musala yang kujumpai tidak begitu akrab dan juga tak diketahui jadwal mereka memperingatinya.

Aku rindu menghadiri acara ini. Seperti 7-8 tahun lalu. Waktu itu mungkin aku masih berseragam abu-abu. Ketika Isra Mi'raj datang, jika ada guru rebana, aku dan kawan-kawan biasanya mengisi acara ini dengan berqasidah bersama. Hahaha, lucu dan sangat menyenangkan jika mengingat itu.

Isra Mi'raj datang. Kalender berwarna merah. Dari siang hingga sore kami berlatih rebana, menyanyikan salawat dan lagu-lagu nasyid bersama. Tentu saja ini dilakukan di masjid. Dimana teman lainnya mendapat jatah menghias masjid, menyediakan teh panas, serta tak ketinggalan membersihkan pekarangan masjid.

Jika sore usai, bapak-bapak, ibu-ibu, serta anak-anak kecil sehabis magrib berdatangan ke masjid, mengikuti pengajian, sambutan ini-itu, serta berinfaq bersama di sana. Sementara aku dan kawan-kawan sibuk merias diri, memilih seragam yang bagus, meminjam jilbab kakakku, serta meminta lipstik tetangga. Benar-benar menyenangkan. Ini momen kami manggung, momen kami memperkenalkan diri, sekaligus momen ibu-bapak kami memperkenalkan diri mereka kepada orang lain melalui kami anak-anaknya.

Hiburan, begitu kelak kami disebut ketika manggung. Aku biasanya memegang gendang. Gendang rebana yang banyak dipakai para artis nasyid, hehehe. Kata guru rebanaku aku cocok memegang alat ini ketimbang rebana biasa yang dari kulit kerbau itu. Ya, aku memang suka memukul-mukulnya dengan irama dan ketukan yang itu-itu saja, hahaha. Hampir setiap tahun.

Biasanya kami akan menampilkan sekitar 5-7 lagu. Hiburan ini akan disuguhkan ketika ceramah agama selesai. Ceramah agama ini diberikan setelah sambutan semua usai, dan biasanya mulai cukup larut. Jadi, bisa dibayangkan kalau hiburan kami akan manggung sekitar pukul 00 atau 01 malam. Terbayang bagaimana repotnya aku dan kawan-kawan menjaga mata agar tak terkantuk dan menjaga lipstik tidak punah diserap teh hangat.

Ini terjadi ketika aku remaja. Lain ceritanya ketika aku kanak-kanak. Mari kuceritakan, hehe

Kanak-kanakku bersama Isra Mi'raj memberi kesan yang berbeda. Ketika ceramah diberikan hampir larut malam, sementara pada sesi sambutan saja aku sudah tergolek lemas di pangkuan ibu, maka aku tak pernah menghadiri ritual ceramah. Tapi, aku akan selalu menghadiri ritual hiburan dan tentu saja juga ritual makan roti dan snack.

Ini ritual yang hampir tak pernah kulewatkan setiap Isra Mi'raj. Tentu saja atas bantuan ibuku, hehehe. Ketika hiburan ibu selalu membangunkanku. Rasanya aku sudah lelap sekali tidur dan merasa sudah berada di kasur, eh ternyata masih di pangkuan ibu. Dua hal yang menyenangkan itu adalah ada rebana nasyid serta makan-makan. Setelah itu aku bisa bangun hingga pulang, atau dibopong mendiang abak di punggungnya.

Aku tak habis pikir, kenapa aku selalu senang pada momen hiburan dan makan-makan itu. Semua orang di desaku tahu kalau ibu berjualan makanan ringan setiap hari. Dan kapan saja aku memakannya ibu tidak pernah melarang tuh. Dan orang-orang yang datang ke masjid juga membawa makanan yang sama dengan yang ibuku jual. Rasanya itu juga. Ukuranya itu juga. Dan teh hangat hampir setiap pagi aku mencicipinya. Ibu setiap hari membuatkan teh untuk abakku. Segelas besar. Dan 6 orang manusia akan meminum teh itu kapan mereka mau. Ibu dan abakku, serta aku dan tiga saudaraku.

Sekarang atau beberapa tahun belakang, ketika Isra Mi'raj datang yang terlintas adalah momen yang sangat menyenangkan itu. Dimana aku dan kawan-kawan jingkrak-jingkrak belajar rebana, malamnya kasak-kusuk berdandan, ibu dan abak selalu mengunci rapat rumah yang kosong, semua saudaraku berkumpul di masjid, mendengarkan kisah Rasul Saw, mengikuti tebakan berhadiah, suasana yang sangat mahal harganya saat ini.

Di kota ini dan kota yang lalu, kenapa semua menjadi asing. Tahun lalu aku berharap akan ada suasana yang kurang lebih mirip dengan masa kecilku di kota ini. Infonya masjid A akan mengadakan perayaan Isra Mi'raj pukul 09 pagi. Aku ikut ah, hatiku riang bukan kepalang. Tidak semata-mata ingin dapat makan minum dan hiburan gratis, tapi merefresh diri dan kepala yang sudah sumpek dan apek ini. Capek kerap melanda. Di tengah kalender biru dan hijau, ada kalender merah yang agamis, aku berharap besar.

Pagi-pagi sekali aku sudah semangat bangun dan mandi pagi. Berniat dan merapikan diri. Berharap refresh terlaksana meski mungkin tidak seperti masa kecilku. Tapi, ketika sampai di masjid A, ternyata masjid ini dikuasai oleh sekelompok kaum yang begitu tertutup. Memandangku dengan aneh, dan was-was. Aku masih berharap. Kumasuki saf perempuan, oh my godness, ini bukan masa kecilku. Begitu tertutup. Baiklah. Aku pamit diri dan meninggalkan itu semua di belakangku. Tentu dengan perasaan hampa, berkecamuk, dan rusak sudah hariku.

Isra Mi'raj ku adalah sambutan panitia, ceramah agama yang friendly kalau dapat lucu dan menghibur, duduk santai atau bahkan selonjor, tertawa bersama ibu-ibu atau nenek-nenek sembari menikmati makan minum dan hiburan rebana atau apalah. Itu saja. Isra Mi'raj ku bukanlah proses pembabtisan, bukanlah proses indokrinisasi -meski ceramah agama adalah indokrinisasi juga, tapi setidaknya tidak begitu vulgar, toleransiku.

Mungkin aku berlebihan dan tidak sesuai dengan konteksku, dimana Isra Mi'raj orang-orang berbeda denganku. Ya, aku paham itu. Maka tahun ini, Isra Mi'raj ku hanya di depan TV dan menuliskannya di blog ini.

Ini perjalanan Isra Mi'raj ku di beberapa kota. Ini model perjalanan yang kudapat dari kisah perjalanan Rasul Saw, yang jelas saja sangat berbeda. Benar, aku sangat rindu Isra Mi'raj ku dulu.

#Dedees