Monday, 30 December 2013

Abak, Amak, dan Perjalanan Penghujung 2013


13 Desember dan Abak Sedunia
Ini tanggal ketika abak takkan pernah lagi menyapa secara riil, tidak di dalam mimpi. Ini awal cerita ketika abak takkan pernah bertanya lagi bagaimana kabar kuliah, apakah masih punya cadangan uang, bagaimana prestasi kuliah. Ya, ada sosok yang raib selamanya sejak tanggal ini jatuh pada empat tahun silam. Beliau komplikasi. Mulai dari maag, lambung yang tak lagi sehat. Merambah ke berbagai organ dalam seperti jantung dan mungkin juga empedu hati. Sementara kadar gula darah baik-baik saja. Karena, saya yang mengecek, jadi cukup paham. Meski begitu ternyata tak menjamin bahwa Abak dapat mengikuti cerita sejarah anak per anak beliau.

Ingin kusapa, Abak, tak banyak yang berubah di rumah yang kau dirikan dulu. Masih seperti kau bangun pertama kali. Begitu juga cinta Amak dan anak-anakmu. Bahkan semakin menggunung. Akan tetapi, banyak berubah dari kehidupan anak-anakmu kini. Anak bujang dan anak gadismu makin besar. Makin cerdas dengan peningkatan pendidikan di sana sini. Amak cukup kuat membangun kepercayaan kami guna melanjutkan pendidikan setelah kau tiada. Tak ada kebahagiaan luar biasa bagi Amak, setelah kepergianmu, selain menemani kami anak-anaknya menatap hari esok dengan yakin dan tak muluk-muluk.

Kuceritakan sedikit. Abak, Amak jelas semakin tua secara usia. Namun secara sosial beliau banyak belajar, semakin kuat, dan paham betul bahwa hidup tolonglah diisi dengan jutaan kebaikan. Ya, beliau memang tidak ditakdirkan gendut seperti ibu-ibu lain. Abak tahu itu. Meski demikian, beliau selalu memberiku kabar sehat dan tak ingin dipersulitkan oleh hidup. Paling penyakit Amak berkisar pada pilek, sariawan, dan kepala pusing. Selebihnya tak ada. Amak tak makan banyak, dan tak makan makanan yang macam-macam. Tentu jengkol dan petei adalah makanan yang membuat Amak terbahak dalam telepon bersamaku. Dan, Abak juga akan tersenyum karena tahu hal ini. Ya, ini makanan favorit Abak, Da David, Da Dedi, dan setahuku kebanyakan lelaki Minang. Mereka dimana-mana selalu tergila-gila dengan jengkol dan petei. Amak, kadang memasak dua jenis makanan ini. Tentu One keberatan, meski tetap menyicipinya. Begitulah, semua berjalan tak berubah jauh ketika Abak masih menemani.

Oiya, aku sudah hampir tiga tahun tak di rumah, Abak. Sejak kepergianmu pada penghujung 2009 lalu, 2010 aku fokus menyelesaikan skripsiku sembari belajar kesana kemari dalam berbagai kunjungan. 2011 aku diwisuda dan terbang ke Yogyakarta. Aku bekerja sebagai buruh di kota ini. Jika kau tahu, kau akan marah luar biasa. Kau menolak menjadi buruh. Kenapa gadis kecilmu harus melakoni pekerjaan ini. Tapi tak apa, Abak. Tak lama kok, aku segera melanjutkan kuliah di kampus yang paling hits di kota ini. Kau pasti bangga bukan? Gadis kecilmu berjalan, meninggalkan kampung kecilnya, menyusuri perjalanan panjang sendirian, menjadi buruh, dan beruntungnya dia mendapatkan kursi seperti yang kucita-citakan dan juga kau harapkan. Abak, kepada siapa lagi aku mengadukan kebahagiaan ini kalau bukan kepada Amak dan saudara-saudaraku. Tentu dalam rapalan doa pada beberapa malam, aku tak lupa menceritakannya kepada angin dan gelap malam. Kau menerima pesan bahagia dari mereka bukan?

Rasanya, aku perlu juga ceritakan bahwa banyak ternyata yang dapat kulakukan di sini, Abak. Kau mungkin tak percaya. Aku bekerja membantu orang menikah dan pesta. Membantu menyiapkan makanan catering untuk partai politik. Aku membuatkan teh dan kopi bagi relasi atasanku di kantor. Sepele bukan? Tapi, jelas kau tak sepakat dengan tindakanku ini. Aku sudah menebak, kenapa aku tak ikut serta membesarkan usaha keluarga kita? Begitu tanyamu kan Bak? Abak, percayalah pada suatu waktu aku akan turut tangan lebih besar dalam mengurusi usaha keluarga kita. Sekarang, seperti yang kau pesankan, aku belajar banyak dulu dari kehidupan yang berwajah berdarah-darah ini. Dimana saja, seperti yang juga kau sarankan.

Aku ceritakan sedikit Abak. Bahwa aku ternyata mampu membuat sebuah novel yang biasa, dan beberapa orang menilainya luar biasa. Karena novel ini aku diundang sebagai penulis yang bercerita tentang novelku dalam festival sastra internasional terbesar di negeri ini. Jika kau menyaksikan, betapa beruntungnya aku waktu ini. Tapi, tak perlu disesali. Abak, dalam doa-doaku pasti kau mengetahui bagaimana perjalananku mencapai itu. Amak senang sekali. Uda one juga begitu. Mereka, dalam pikiranku akan melakukan apa saja agar aku tetap bersekolah lancar. Tadi malam Da David menelepon, ia berkata, jika aku kurang duit gadaikan saja motornya. Abak, dia kerapkan menyampaikan hal ini kepadaku dan kepada Amak. Bahkan, dia tak melakukan apa-apa yang lebih besar bagi dirinya asalkan dua gadis kecilmu selalu dalam keadaan sehat dan baik selalu. Abak, ini cerita yang sangat membuatku merasa terhormat dan sangat disayangi, sekaligus menyakitkan. Andai kau masih bersama, mungkin kakakku tidak sekejam itu terhadap dirinya.

Abak, bagaimanapun keadaanmu di sana, semoga rerindangan dedaunan, bisik-bisik burung camar menemanimu, gemericik air dan hangatnya mentari memenuhi setiap harimu. Seperti ketika kau bersama kami, kau selalu punya kesibukan hari-hari dan tampak kecil-kecil di setiap siang. Meraut lidi, menggunting karet, menjalin tali temali, membersihkan kali di belakang rumah kita, menyingkirkan pelepah pinang yang kutanam beberapa tahun silam, dan banyak lagi. Abak, hingga detik ini aku tak bisa membayangkan bagaimana warna warni surga, tapi aku bisa membayangkan bagaimana harapan di hari esok. Dalam lantunan doa, kau adalah laki-laki yang kujadikan definisi untuk melihat laki-laki lain di dunia ini. Begitulah Abak di mataku di tahun keempat kepindahanmu. 31 Desember ini, selamat ulang tahun ke 60, Abak.


22 Desember dan Amak Sedunia
22 Desember ini orang se-Indonesia merayakan Hari Ibu untuk menghormati dan menyayangi ibu. Amak, sehari sebelum tanggal itu aku beranikan diri mengucapkan selamat kepadamu, dengan sedikit grogi dan tersenyum-senyum malu. Ketika mendengar, Amak begitu senang dan mendoakan seperti biasa. Ini pertama kali ucapan itu terlontar. Kok, aku merasa sebagai anak yang terbawa arus wacana dimana-mana waktu itu. Kesannya, bahwa jika seorang anak mencintai ibunya kenapa tidak mengucapkan selamat Hari Ibu kepada ibu masing-masing? Ah, ini konstruksi pemikiran yang mainstream terlihat di tivi-tivi, terdengar di radio-radio, dan terbaca dalam status-status jejaring sosial.

Padahal, ucapan ini tak menambah rasa cinta dan hormat kepada Amak. Karena tanpa ucapan ini cinta dan hormat itu seperti akar di dalam nadi. Selalu menjalar, mengalir, dan membesar. Ucapan itu, mungkin sedikit ditambah bumbu basa basi dan mencoba menjadi masyarakat kelas atas yang merayakan. Amakku, adalah ibu yang kemuliaannya tidak dari kelas sosialnya. Beliau berasal dari strata ekonomi bawah. Tidak berpendidikan tinggi, tidak pernah menaruh harapan akan uang dan materi, tidak pernah manjamu anak-anaknya dengan ucapan 'jadilah orang kaya'. Jadi, Amak dalam benakku tidak mengubah kediriannya menjadi sedikit modern dengan ucapan-ucapan itu.

Amak selalu menguatkan diri dan anak-anaknya untuk menatap hari esok dengan harapan yang tak kosong dan juga tak penuh. Kau tak bisa mengosongkan benakmu dari apa yang kau citakan. Dalam waktu bersamaan, kau juga tak baik memenuhkannya begitu saja tanpa mempertimbangkan hukum alam dirimu. "Adek, belajarlah semampu. Gapai anganmu semampumu. Namun, jika kau lelah dan capek, beristirahat dan makanlah yang enak. Dunia tak terselesaikan dengan tergesa-gesa, Nak." Ucapan ini mengiringi tidur yang tak selalu lelap. Mengiringi hari yang panas dan tertimpa badai. Mengiringi perjalanan yang berkeringat dan kaki melepuh. Di balik ketaknyamanan itu, menikmati ketaknyamanan adalah satu-satunya cara agar aku tetap melangkah. Dan kegagalan demi penolakan menjadi santapan semata.

Amak, banyak cara kerja, cara memasak, cara mengepel lantai, cara mengatur waktu salat dan tidur yang kupelajari dan kuwarisi darimu. Hal-hal yang di luar kendali sadarku, ternyata sama persis dengan apa yang kau lakukan. Kita selalu suka tidur di ruang terbuka tak berkamar. Kita selalu nyaman dengan keterbukaan pintu dan jendela. Angin dan cahaya tak diperkenankan tersendat karena atap dan bata. Bagimu, rumah menghadap ke timur adalah rumah yang sebenarnya. Rumah yang tak sekedar mensyukuri nikmat-Nya, tapi rumah yang menyehatkan batinmu dan batin tetanggamu. Hal-hal yang tak kudapati di perguruan tinggi, ternyata memberi banyak pedoman bagiku sekarang.

Amak, di ulang tahun ke 55 ini, pada 7 Januari kelak, semoga kau tetap menjadi perempuan di atas segala perempuan bagi kami dan saudarimu. Tetap dengan segala ketakmampuan kami mendefinisikan kau secara utuh. Karena kau memang tak pernah utuh, Amak. Cinta yang ditebarkan pada setiap kami mungkin berbeda dalam porsi yang tak seragam. Tapi, cinta itu dilekatkan pada setiap karakter warna yang pas menyandinginya. Cinta yang tak tampak norak dan berlebihan. Cinta yang membumi seperti cinta hujan pada kemiringan. Mengalir saja, namun mengikismu menuju kedalaman dan kemurnian.

Amak, dalam bayangan anakmu yang mungkin materialis ini, selain cinta dan hormat yang kupersembahkan di setiap doa, aku ingin membangunkan rumah rancak dan akrab buatmu di hari senja. Rumah yang menaungimu dengan sejuta cerita pada dindingnya. Rumah yang menaungimu dengan gemericik aliran air di tamannya. Rumah yang menaungimu dengan semilirnya angin di rindang dedaunan. Rumah yang kubangunkan dengan segala doa dan harapan buatmu.


Perjalanan Penghujung 2013
2013, terima kasih telah mampir dalam salah satu babak dalam adegan hidupku. Tahun yang membuatku merasa bergairah berat untuk menjalani tahun berikutnya. Tahun penuh kejutan dan menggelora. Tahun dengan kegagalan dan ketakgagalan. Tahun yang memberhentikanku putus asa.

2014, selamat datang. Jadilah engkau tahun yang jika tak sama, tapi membuatku merasa babak dalam adegan ini semakin lengkap dan terasa. Tahun yang jujur untuk keluargaku, diriku, dan Indonesiaku.

Salam serindunya,
Dedees

Monday, 9 December 2013

[Catatan 6 Desember 2013] Aku Ingin Ditemani Sengkuni!

Engkau bicara seperti orang yang mengidungkan mantra dan sudah puas hanya dengan mendengarkan kidunganmu sendiri, meskipun sebenarnya tidak tahu artinya (Bima dalam Mahabharata).


Untuk meredam itu aku mengurangi diri bereaksi cepat pada sebuah suspens, tegangan, pancingan, dan sejenisnya. Karena, bukan perkara tidak berguna dan tak ingin membela diri, tapi lebih kepada agar tidak terlihat bodoh dan kemudian lupa diri. Mengurangi menanggapi segala fenomena dengan reaktif, seolah-olah bombastis, dan kemudian begitu berhasrat mewacanakannya kepada publik. Kata seorang penulis, jika semua orang berbicara -pedas, congkak, sombong, paling benar, dan merasa pahlawan- lalu siapa yang akan menulis? Perenungan adalah keniscayaan. Kontemplasi adalah jalan menuju siapa diri, siapa alam, dan kesyukuran. Detik-detik menginjak 24 tahun, aku begitu mencintai kesunyian. Kesunyian, meski tak melahirkan karya besar, perjalanan selama sunyi benar-benar menguras nurani.

Di dalam sunyi, rasakanlah perjumpaanmu bercakap-cakap bersama dedaunan, hujan, dan nyenyamuk -aku tersenyum geli menulis dan mengenang perjumpaan ini. Karena deraan kesibukan mungkin kita luput menyaksikan bunga desember berbiak dan bertahtah mayang-mayang merah rupawan. Lalu, akan luput merenungkan bagaimana mayang-mayang itu rontok satu per satu sebelum desember beranjak. Mengenaskan! Hujan tak peduli pada ampunan mayang agar tak diterjang. Angin tak peduli pada permohonan mayang agar tak dibuai kencang. Hanya perempuan tua dan anak lelaki tuanya beserta saya, sesekali, membicarakan betapa desember begitu keji kepada kembang berumur pendek itu. Kita tak punya kendali kepada angin pun kepada hujan. Bunga desember tak juga punya kendali kepada desember yang sudah memberinya waktu menampakkan rupa, sekaligus merenggut kembang itu dalam satu dua pekan.

Seperempat abad kurang 351 hari sudah usiaku. Lompatan waktu dan lompatan kisah yang cukup kompleks. Mulai dari mencuci seragam merah putih sendiri, jatuh cinta pertama kali kepada pemuda bengkel yang selalu mengalah dan sangat tak ingin berumit, belajar meninggalkan Amak dan saudara selama empat hari atau sepekan karena keberuntungan, nekat menempuh perjalanan panjang pada usia belasan di kota lain tanpa bekal ilmu bela diri hanya karena percaya pada tagline 'keluarlah dari zona aman di dirimu', dan menjadi pengikut bahwa tak selalu setiap anak mewarisi usaha dan 'kodrat' keluarga. Bagaimanapun mencabut diri dari 'akar' bukanlah perkara gampang dan bisa. Ia adalah sesuatu yang ada dalam dirimu. Bagaimana akan memilah kemudian meletakkannya dalam lembaran halaman buku, menutup buku, dan mematikan lampu. Sementara, ia kekal mengalir disetiap bulir darahmu.

Bersama kesunyian kegemaran mendefinisikan menjadi tak berguna. Kehidupan begitu kompleks -bahkan dalam mati, cerita kebanyakan- maka berhentilah mendefinisikan. Berhentilah bertengkar sebagai sebuah panen akan kegemaran mendefinisikan. Guncangan-guncangan ini ada baiknya untuk menampakkan bahwa hidup tidak dalam baik-baik saja. Hidup tidak seperti matahari yang setia memanasi, meski pada suatu kondisi ia akan membakar dirinya sendiri. Tidak juga seperti bumi yang diam-diam saja ketika semakin sesak oleh nyawa dan beton, meski suatu ketika ia ingin batuk kencang dan memuntahkan dahak panas. Jelas penuh onak. Lalu, apakah menyanyi akan menelan gulana ini? Pada mereka yang menyembah Drupadi, menyanyi adalah kegetiran.

Perayaan demi perayaan ini seperti metamorfosis, tak akan selesai, tak kunjung selesai. Menjadi luhur tidak semata-mata mempelajari kitab-kitab, namun juga dengan bergaul bersama mereka yang bijak, bahkan nurani mampu memandumu pada benih-benih kebijakan dari seseorang yang masih berbaur antara kebijakan dan kebangsatan. Perjalanan ini masih berlanjut, bercabang, dan sunyi. Jika boleh berdua, aku ingin ditemani oleh Sengkuni. Diam-diam, dibalik kelicikan, seyogyanya kita dapat belajar lebih banyak keluhuran.

Make your friends close
But, make your enemies closer
(The GodFather, 1974).

Jaga dirimu baik-baik,
Dedees

Tuesday, 3 December 2013

Yang Ragu, Yang Diwisuda


Hari ini, 30 November 2013, Da David dan Uni Iref diwisuda diploma. Mak Tuo dan Amak tak ketinggalan, ikut serta meramaikan acara besar itu di Mukomuko. Senang saja meski tak menghadiri. One dan Da Dedi tinggal di rumah, menunggu, seperti biasa. Mereka ada orang yang setia, terpaksa setia karena ada sejuta cerita di balik itu.

Da David fokus pada pembibitan kelapa sawit. Sementara Uni Iref belajar telekomunikasi, mahir komputer buat kantoran. Mereka belajar bersama pada kampus yang sama. Usia tak jadi soal. Terhitung lambat, karena One bahkan saya sendiri sudah menamatkan sarjana kami masing-masing. Ya, tak ada cerita sesal dan datang terlambat. Masing-masing kita punya kisah dan tambatan.

Sabtu waktu itu, dari pagi hingga petang, sengaja aku berdiam diri di kos. Tak hendak kemana-mana sembari membayangkan betapa gaduh dan sibuknya One, Amak, dan Da David di rumah. Beragam yang diharus didebatkan. Soal motor, soal hujan, soal kebaya, soal payung, soal siapa yang menunggu, soal pembayaran, soal foto, soal cuci foto, dan soal lainnya. Benar, dan mungkin juga berlaku pada banyak keluarga besar seperti kami. Bahwa, kegaduhan cenderung lebih besar terjadi pada kami yang ramai. Ada saja yang membuat semua tampak tak lancar. Ada saja yang membuat Amak terdiam, atau One yang terdiam beku.

Kondis keluarga pun juga tak baik-baik amat. Amak menyembunyikan dariku yang jauh. Da David mengisahkan. Selalu begitu. Itulah beda ibu dan abang. Dan di dalam hati, andai saja aku sedikit lebih mampu, entahlah, entah bagaimana ini harus berjalan. Terus terang, maaf yang besar selalu terhimpun untuk dikirimkan dalam doa-doa. Bahwa, mungkin aku terlalu keras untuk semua keputusan ini. Bahwa, mungkin aku terlalu melampaui apa yang diharapkan Amak dan alm. Abak. Atau jangan-jangan aku masih belum apa-apa jika diukur dengan firasat abak, andai kami masih bisa menatap satu sama lain. Tentu cerita ini akan berbeda, kawan.

Tapi, tak perlu disesali dan disedihkan. Apa yang terjadi hari ini, abangku diwisuda, Amak tak sampai hati untuk tidak hadir dengan berbagai alasan, One yang tak bisa kemana-mana, sementara aku dimana-mana, Da Dedi yang seperti itu-itu saja adalah rezeki dan cerita indah yang dapat kutuliskan. Adalah alur dimana aku mencari akar, atau bahkan awal agar aku mencari bentuk. Maaf jika sentimentil. Ini versi kisah keluarga. Pahit, manis, asin, kecut, dan berjalan ratusan kilo adalah sehari-hari yang pasti kulalui, kami lalui.

Kepada Da David dan Uni Iref, selamat. Dengan senang hati aku selalu mendoakan dua kakak yang mencintaiku dan kucintai juga. Dua kakak yang selalu mendukung, bahkan merelakan untuk menunda pernikahan -ini cerita lucu. Jika setelah ini secara fisik mereka tidak berpindah ladang kerja, itu bukanlah penting. Yang utama, dua kakakku sudah menambah cakrawala mereka akan dunia dan pengetahuan. Dengan begitu, semoga saja ada yang mendarah daging kebaikan, keluhuran, dan kedamaian. Percaya tak percaya, kita jarang sekali mendebat uang, bukan? Maka dari itu, bukan uang citacita kita. Jika ini naif, maka benar uang membantu kita dalam beberapa hal di sini.

Pada doa-doa di siang hari aku selalu berterima kasih, dan tidak meminta kepada Tuhan. Jika di doa malam, barulah aku mulai mengais pertolongan, meminta, dan berharap esok pagi aku tetap hidup dan dapat melunasi hutang-hutang budiku pada siapa saja yang patut kubayarkan.

Doa siang itu, terima kasih atas ruang yang mungil ini, terima kasih atas kabar dari rumah yang separuh membahagiakan yang separuh membuat meringis, terima kasih atas kesehatan meski lauk apa adanya, terima kasih atas teman-teman yang sederhana, terima kasih atas cinta banyak pihak yang membantu meminggirkan kerikil-kerikil, terima kasih kepada generasi lampau yang sangat toleran, dan terima kasih kepada bayi-bayi yang sudah membuat ini sangat optimis.

Dan doa di malam itu, seperti doa-doa SMP-SMA dan masa lalu: sehat Amak dan saudara, tempatkan Abak di tempat terbaik di sisi Rasul, ampunkan dosa amak dan saudara dan para tetangga, lancarkan kebutuhan keluarga, dan pekakan hati ini terhadap apa saja di sekitar. Berusahalah tidak menjadi pribadi yang selalu duluan, jadilah pribadi yang perenung. Dan, jika suatu ketika Tuhan siap, berikanlah mimpi yang kudambakan sejak belasan tahun lalu. Mimpi itu belum kesampaian.

Inilah pribadi yang mendua. Tak menjadi utama apakah agama saya paling benar atau tidak, apakah kepercayaan saya sudah semestinya atau belum, apakah ilmu saya sudah menuju pencerahan atau masih di abad kegelapan, tapi satu hal yang ditekunkan ialah pegagangan. Pegangan menjadi penguat kenapa ini dipilih dan yang lain diutamakan. Pegangan saya, sama sekali tak menginginkan orang lain rugi dan merasa dikhianati.

Catatan ini untuk dua kakakku yang berbahagia. Jelas, akan sulit bagi mereka dapat menyimak cerita ini, karena faktor kultural. Meski begitu, itu bukan perkara. Kukisahkan semua ini dengan bahagia sembari membayangkan mereka berjas dan berkebaya indah. Selamat Da David dan Uni Iref. Ada pintu baru di sana, ayo dicoba.

Kutuliskan kisah di malam ini sembari memberi makan hewan piaraan virtual di handphone. Menyiram dan memanen apel, pisang, mangga, jambu monyet, buah kiwi, serta cerry sebagai pakan mereka.

Salam bahagia,
Dedees

Saturday, 9 November 2013

Seriously, I’m Nothing, I’m in Ubud Writers and Readers Festival 2013 as A Writer



I’m Nothing

Saya sedang tidak menempatkan mental poskolonial saya, saya sedang merefleksikan posisi saya dalam ajang festival ini.

Ketika novel Keringnya Ladang Nurbaya yang kutulis dipilih oleh kurator Ubud Writers and Readers Festival 2013 (UWRF13) sebagai emerging writers yang akan hadir, aku bertanya-tanya. Pasalnya –sebelum membicarakan isi novel- tak satupun karyaku baik kumpulan cerpen, tulisan esai, apalagi novel yang pernah diterbitkan, mengingat oplah penerbitanlah sebagai eksistensi berkarya yang menjadi indikator seorang penulis diundang ke festival ini, begitu awal pikirku. Tesis ini agaknya teruntuhkan ketika aku menjadi salah satu emerging writers pada 10th anniversary festival ini. Bahwa, “Benih penulis berkualitas lahir dari pelosok dan tempat yang sunyi, tidak melulu dari Jakarta dan kota besar. Dan, tidak perlu lagi datang ke Jakarta untuk hebat. Maka kami memberi kesempatan bagi mereka yang dari kota kecil, dan mereka ini luar biasa!” begitu alasan I Wayan Juniartha, aktor khusus emerging writers Indonesia. Terima kasih atas apresiasinya.

Keringnya Ladang Nurbaya bercerita tentang perjalanan spiritual seorang tenaga kerja wanita dari kampung halamannya menuju Singapura dan kembali lagi, kali ini dengan kehidupan ‘paradoks’ ke kampung kelahirannya, desa kecil di pelosok pesisir pulau Sumatera, Indonesia. Nurbaya percaya kepada kambing-kambing jantan sebagai penyelamat hidup. Karena, hampir setiap agama seperti Islam, Kristen, dan Yahudi melibatkan kambing dalam pembersihan jiwa-jiwa yang berdosa. Islam memiliki Idul Adha atau Idul Qurban, kisah pengorbanan dan ketaatan Nabi Ibrahim kepada Tuhan untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail, yang tapi digantikan oleh seekor kambing sebagai perlambang pengorbanan. Pada Kristen kambing sebagai perlambang pengorbanan sebelum kelak Yesus memikul dosa-dosa seluruh umat manusia. Begitu juga Yahudi, bahwa kambing sebagai media pengampunan bagi dosa-dosa bangsa Israel. Ketika Imam Agung meletakkan tangan dan mengakui dosa-dosa mereka di kepala kambing, segera kambing tersebut diterjunkan dari jurang atau dilepas ke padang gurun. Dengan demikian dosa-dosa tertebus dan kehidupan kembali dijalani secara putih dan suci. Ini sekelumit tentang novel saya.

Novel ini belum diterbitkan. Novel ini kutulis dalam waktu berkejaran dengan deadline lomba novel yang diadakan oleh sebuah penerbit yang tak terlalu besar di tanah air pada pertengahan 2012. Novel ini tak menang, otomatis juga ditolak. Aku memperbaiki sedikit di sana sini, dan kukirim kepada seleksi karya pada festival ini. Dan, surprise sekali, menjadi terpilih.

Tema UWRF13 ialah R.A Kartini: menafsir ulang surat-surat dan kehidupan Kartini, pahlawan perempuan Indonesia. Tokoh utama novel ini, Nurbaya, bercerita tentang kehidupan perempuan kelas pekerja dan marginal secara sosial ekonomi. Ia datang dari narasi agama terbesar di negeri ini, Islam. Perempuan yang seharusnya kuat secara adat dan tatanan kemasyarakatan yang egaliter sesuai alam Minangkabau, nyatanya tidak. Nurbaya adalah korban dari narasi adat yang berkarat, tapi sekaligus pelaku pemutarbalikkan narasi besar agama dan adatnya. Makanya, ia dibenci dan dicap sebagai perempuan gila. Pastilah banyak pertimbangan dari dewan kurator UWRF13 tahun ini untuk memilih karya ini.

Sementara, penulis lain, khususnya dari luar negeri cukup melimpah dan berprestasi dengan standar ukuran mereka sendiri. Dan emerging writers juga menempatkan diri masing-masing dengan standar ukuran sendiri pula. Maka, akan cukup sulit menemukan garis temu dari dua standar ini. Dan saya, akan mungkin, berjalan menepi-nepi, bukan untuk agar dinilai sebagai rendah hati (diri?). Cukup dengan mengoreksi tulisan-tulisan saya, dan pelan-pelan mengabarkannya. Ya, begitu kira-kira.

Ubud dan Writers and Readers Festival 2013

Ini pertama kali saya menjejak kaki ke Ubud, dan tentu ke Bali juga. UWRF13 membawa saya ke kota kecil penuh pura dan cerita. UWRF13 memperkenalkan saya pada bunga-bunga kamboja yang mengharumi setiap sudut kamar -yang saya jiplak setiba di Yogyakarta. Tentunya, melalui festival ini saya berkenalan dan mendapat banyak teman, baik volunteers, panitia festival, bli-bli yang menyuguhkan sarapan dan suka membaca di hotel, bli pengumpul kamboja di pagi buta, kucing dan anjing-anjing gendut di sekitaran Ubud tempat festival berlangsung.

Bagi saya, Ubud begitu dingin jika dibandingkan dengan Yogyakarta apalagi Mukomuko, Bengkulu. Tidak hanya itu, matahari begitu cepat melesat. Baru bangun, masih jam 6 pagi kurang, eh mentari sudah mulai menyingsing. Ya, tentu ini pengaruh dari WITA. Dan jam di telepon genggam saya masih kaget dengan perubahan ini. Saya kagum pada tetumbuhan rendah di sekitar kamar saya. Ya, orang-orang ini tidak berambisi menanam sesuatu karena bakal buah atau batang tanaman yang berharga mahal kelak, panen pada suatu ketika. Tapi, mereka menanam apa saja jenis tumbuhan. Mungkin tidak semata-mata demi kebersihan udara yang dihasilkan, tapi keikhlasan memberi ruang dan kasih kepada jenis tumbuhan apa saja untuk hidup dan dikagumi. Ini model hidup yang saya rencanakan untuk dijiplak (lagi) kelak. Mungkin karena semasa SD saya dan teman-teman setiap minggu menanam jenis tumbuhan apa saja di sekolah –gedung baru yang masih gersang- sehingga seolah-olah membangunkan memori sayang dan kagum pada tumbuhan. Saya benar-benar belajar kepada apa yang saya lihat dan pada tumbuhan di sekelilingnya.


Sama's Cottage






Festival sendiri sangat menyita perhatian. Sejak pukul 09.00 pagi panel-panel keren dengan para penulis dan pembaca keren mulai dihantarkan. Hampir setiap hari saya terlambat datang. Bukan semata-mata karena hotel saya berjauhan dengan pusat festival, karena memang saya keberatan meninggalkan hotel lebih pagi. Ya, rugi saja rasanya tidak menyaksikan kilauan mentari bercumbu dengan dedaunan. Belum lagi menyaksikan rutinitas bli-bli di hotel yang sibuk dan setia dengan seragam mereka merawat dan melayani para tetamu di hotel.

Tak sampai sepekan di UWRF13, adalah waktu yang sangat singkat dan membuat sesal. Bagaimana tidak, ada banyak agenda yang saya rencanakan seperti mengunjungi ini itu, museum, pasar Ubud, nonton film, workshop wayang/puphet. Tapi kemudian batal karena mepetnya acara, sesaknya perjalanan, dan singkatnya waktu. Ya, ini benar-benar bikin kelu. Niat hati ingin mengikuti hingga larut dan dini hari, apa daya bahu, lengan, dan kaki tak kuasa lagi digerakkan dan dilangkahkan. Dengan meringis, sayup-sayup terdengar dentuman acara setengah kilometer dari onggokan tubuh di atas kasur. Inilah malam-malam yang menyakitkan itu. Benar status dan tweets penulis hebat yang hadir di festival ini, UWRF13 benar-benar bikin galau. Banyak acara bagus dan bermutu pada waktu bersamaan. Pilihan memang membuat marah.

Hari ini, agaknya tentu saja tim UWRF14 sedang menyiapkan berbagai hal untuk festival tahun 2014 nanti. Mengingat saja, saya senang dan ingin kembali hadir ke Ubud. Saya berharap, untuk tahun mendatang UWRF akan lebih sempurna. Seperti, mungkin tim UWRF lebih sensitif akan kebutuhan para penulis dan pembaca yang hadir dalam festival ini. Misal, tim UWRF menyiapkan kawasan beribadah bagi penulis dan pembaca yang dengan latar belakang agama beragam di pusat festival, peta kawasan penyedia kuliner bagi vegetarian dan makanan ‘halal’, shuttle bus nya ditambah dan dengan intensitas yang lebih cepat misal 15 menit sekali mungkin –hal ini sejalan dengan harapan saya bahwa tahun depan akan lebih membludak lagi penulis dan pembaca yang hadir. UWRF, Ubud, dan Bali memang tidak hanya cantik tapi juga mengajarkan sesuatu kepada yang datang kesana.



Gala Opening


Tribute to Kartini


Panel Dewi Lestari dan Nila Tanzil

Terima kasih untuk Bli I Wayan Juniartha atas ceramahnya yang jujur dan menyakitkan mengenai emerging writers, Mba Kadek Purnami yang aduhai ceria dan baik sekali, Bli dan Mas Gustra yang diam-diam eh ternyata asyik, Mba Dewi yang sabar, Mba Nafisa yang gugup tapi hebat, Yayasan Mudra Swari Saraswati yang menanam kenangan ini hingga akhir kelak, Ibu Janet DeNeefe yang cantik dan sibuk (saya maju mundur ingin berfoto dengan beliau, akhirnya tak jadi), para kurator (Mba Dee yang sederhana dan lucu, terima kasih atas cerita-ceritanya tentang generasi mendatang dan kehidupan anda –saya bertemu satu orang kurator saja, sayang sekali) dan segenap orang-orang luar biasa yang datang berbagi (seperti Mba Nila Tanzil, tenggorokan saya ikut tercekat ketika ia berujar, “Ya, I want to be the next Kartini” katanya sembari menyeka air mata), serta masyarakat Ubud yang ikut mendukung semua agenda di balik festival megah dan hebat ini. Terima kasih.


Bersama Mba Kadek dan Bli Juniartha


Bersama Mas dan Bli Gustra


UWRF13 dan Saya

Tak lupa kepada teman-teman saya yang ber-15 lainnnya mulai dari pusat ibu kota negeri ini hingga tersebar di berbagai pulau di Indonesia yang luas begini. Mba Ramayda Akmal dan Mba Langit Maryam, dua perempuan yang satu begitu cerdas dengan ilmunya dan satu lagi begitu asyik dengan kejujurannya. Bernard Batubara dan saya kemudian suka-suka memanggil Mba Langit sebagai Mba Payudara. Dea Anugrah, Fitrawan Umar, dan Mario F Lawi adalah tiga bodyguard saya berangkat dan pulang larut malam dari festival. Kalian memang asyik dan kadang malu-malu. Bang Emil Amir, kita selalu cocok bercerita apa saja; sastra, tema bestseller, ole-ole, gosip, dan LGBT. Uda Agus, kadang uda norak tapi cukup kreatif buat kita tergelak. Mas Alek Subairi dan Mas Jun Nizami atau Encep Jujun (itukah nama aslimu mas yang ketiduran pesawat?) diam-diam ternyata paling menggoda dan pede na’uzubillah. Bang Ilham Q Moehiddin bersama kakak (yang bulan madu jilid II? hihi) adalah abang yang cerdas dan menggembirakan dengan DLSRnya. Mba Astri Apriyani, meski sesaat, mungkin kita sebaya, kayaknya bakal banyak obrolan di antara kita yang gila-gilaan. Tribute to Kartini, Mba Astri manis sekali. Mas Bayu Maitra, pria keren apalagi ketika bersebelahan dengan Leila S Chodari. Mas Agustinus Wibowo, jika masa itu bisa diputar mungkin saya berubah jadi jurnalis kurcaci di depanmu, tentu saja mengenai perjalanan dan foto-fotomu. Dan Mas Tosca Santoso, sepertinya saya hilang kontak, atau saya tak sadar dengan kehadiran beliau. Kawan, terima kasih atas cerita dan lucu-lucuan kalian.


Perjalanan Panjang ke Antonio Museum


Sastra Revolusioner di Denpasar


Mba Payudara lebih sayang kaki daripada selop tinggi


Padanggggggg!


Novelis Ramayda dan Penyair Mario


Bernard Batubara dan kawan-kawan


Kepada Kadi Hughes (Director of The Bookworm International Literary Festival, China/US/Europe as moderator), Maria Peura (novelis dari Finlandia), Glen Duncan (Anglo-Indian novelist, London), dan Jenny Erpenbeck (Novelis dari Berlin) adalah penulis sepanel saya yang bercerita tentang Dreamscape dalam karya sastra. Mereka adalah penulis yang novelnya sudah diterjemahkan ke dalam beberapa dan puluh bahasa. Cerita-cerita seram mereka tuturkan dengan gaya khas masing-masing. Tentu juga menyangkut dengan tradisi kemasyarakat dimana mereka berada dan cerita dibuat. Sebagai penulis yang cukup ternama, satu hal yang saya perhatikan yaitu Jenny dan Maria selalu berhati-hati ketika menyampaikan apa yang mereka pikirkan ketika menulis cerita seram. Jenny sendiri sangat sederhana tak muluk-muluk dalam bercerita. Dua penulis perempuan ini selalu tersenyum ketika ditanya. Entahlah, apakah mereka sengaja begitu atau tak ingin melahirkan efek ‘kontroversi’ dalam karya mereka. Mungkin begini, “Kamu tak perlu membuat pendengar terperangah dengan ucapanmu. Berikan saja mereka novelmu, dan biarkan mereka berkhayal jauh dan liar dengan itu.” Mungkin hanya ini tugas penulis.


(kiri-kanan) Maria, Jenny, Saya, dan Glen


Saya dan Blurrrrr!


Museum Antonio Blanco


Launching The Question of Red (Amba versi Inggris) by Laksmi Pamuntjak


Panel Okka Rusmini


Panel Agustinus Wibowo


Di Taman Baca menjelang senja


Gala Opening



Belakang, perempuan Bali dulu. Saya suka!


Closing Party. Dum! dum! dum! bersama Jalanan Film dan Navicula Band. Good bye UWRF13!

Sampai jumpa lagi Ubud Writers and Readers Festival!

#beberapa foto ini dari teman-teman di UWRF13 (Bang Ilham dan kakak, Uda Agus, Mba Ramayda, Bang Emil, dan saya sendiri)

Tuesday, 10 September 2013

Dogma dalam Keterkejutan The Conjuring


The Conjuring (Praktik Setan)

Film The Conjuring bercerita tentang sebuah keluarga Roger dan Caroline dengan lima anak gadis mereka menempati rumah dan perkebunan baru di sebuah pulau terpencil, Rhode Island. Rumah dan perkebunan ini dibeli dari pelelangan bank, yang tak dikenal sebelumnya. Rumah dua tingkat ini dilengkapi dengan bangunan bawah tanah sebagai gudang serta praktik sihir dari si empunya pertama kali, tahun 1863. Rumah, perkebunan, serta danau yang membentang di perkebunan ini dipakai sebagai tempat pemujaan setan pada awalnya. Para pembeli selanjutnya kerap mengalami kejadian aneh yang berujung pada gantung diri dan kematian.

Keluarga Roger dan Caroline pun mengalami hal yang sama. Setiap malam hantu-hantu ini mengganggu tidur anak-anak Caroline. Seperti, menarik-narik kaki mereka, menyemburkan bau bangkai di sekitar rumah, membuat salah satu putri mereka tidur berjalan, bahkan Sadie, anjing keluarga ini, mati menggenaskan pada hari ke dua kepindahan mereka di rumah baru ini.

Adalah Caroline, ibu dari lima putri ini sebagai korban dari hantu jahat tersebut. Hantu ini parasit pada tubuh Caroline, kemudian berhasrat membunuh dua putri terkecil mereka yang hendak dijadikan tumbal pemujaan setan. Niat ini tak terlaksana karena dihambat oleh Ed dan Lorrain Warren, para demotologi dari kereja Katolik setempat. Prosesi pengusiran setan pun dilaksanakan. Berbagai data dan dokumentasi perlu disusun untuk meyakinkan bahwa hantu jahat sangat mengganggu keluarga ini. Mulai dari rekaman wawancara serta salinan foto dari setiap kejadian yang janggal.

Review The Conjuring
Film ini berhasil membuat penonton kaget, terkejut, serta bergidik. Suasana horor yang dibangun, mulai dari model, posisi, dan ukuran rumah, perkebunan, pohon tua tempat gantung diri, serta dermaga kecil dengan air danau yang pekat, cukup menggambarkan bahwa lokasi ini benar-benar sarang hantu. Sosok hantu yang diperlihatkan bermacam-macam, seperti hantu Rory, anak lelaki berseragam sekolah yang hanya dapat dijumpai melalui kaca permainannya; hantu Bethesda, hantu perempuan yang membunuh anaknya; hantu Jedsman, hantu lelaki pemuja setan; hantu pembantu yang gantung diri; hantu nenek tua yang bunuh diri; serta hantu anak kecil yang hanya memperlihatkan tangan dan tepukannya ketika bermain sembunyi dan bertepuk.

Hantu-hantu ini dilengkapi dengan kostum, rupa, dan cara menakuti yang beragam. Kehadiran mereka hanya sekali dua, selebihnya lebih banyak sekadar menampakkan efek dan bau yang mengganggu daripada kehadiran langsung kepada para tokoh. Pada momen inilah sang sutradar James Won menakut-nakuti penonton, membuat terkejut, namun enggan menutup mata.

Menariknya, hantu-hantu ini bermain, mengganggu serta merasuki hanya pada Caroline serta anak-anak perempuan Roger. Roger sendiri hampir tak pernah diganggu; tidak menampakkan wujud dan tidak diusili, berbeda pada anak dan istrinya. Ini kemudian memperlihatkan bahwa tubuh dan psikis serta konsentrasi yang lemah ada pada perempuan. Lelaki, hampir tidak. Kaki-kaki anak perempuan Roger ditarik-tarik, rambut putrinya ditarik kemudian tubuhnya dibanting ke jendela, setiap malam mereka terjaga karena seorang putrinya selalu tidur berjalan tak karuan. Pengukuhan bahwa perempuan -sekaligus kulit putih- pada waktu itu, 1971, sebagai sasaran dan objek pencerahan terjadi. Perempuan lebih rentan sebagai objek dari praktik sihir, terpengaruh dan mudah diperdaya.

Wacana yang tak kalah menarik dari film ini adalah ketaatan akan agama, dalam hal ini agama katolik. Keluarga Roger bukanlah keluarga yang taat. Hal ini terlihat dari tak seorang pun anak perempuannya dibaptis. Satu dari banyak faktor kenapa anak perempuan Roger diganggu oleh hantu-hantu tersebut adalah karena tidak dibaptisnya sang anak. Baptis dalam agama katolik menjadi semacam 'kewajiban' sebagai bentuk 'pengakuan' atau 'sahnya' seseorang menjadi umat agama katolik. Sisi lain, agaknya baptis juga bermakna agar kehidupan yang akan dilalui mendapat kemudahan dan kelancaran -tidak mudah diganggu hantu atau setan.

Kuatnya pengaruh agama katolik dalam film ini terlihat tidak hanya pada prosesi pengusiran setan, tetapi juga sebagai syarat boleh tidaknya seseorang yang terpengaruh oleh setan 'diselamatkan'. Jika si anak belum/tidak dibaptis, gereja akan keberatan melakukan prosesi pengusiran setan. Dalam film ini, peran gereja menjadi lebih lemah karena semangat mendahulukan kebaikan dan keselamatan atas sesama yang diperan oleh Ed Warren. Meski demikian, dalam prosesi pengusiran setan, peran ajaran-ajaran katolik mendominasi. Mulai dari simbol salib yang diletakkan pada beberapa sudut rumah, air suci yang disiramkan di sekeliling rumah, keyakinan pada Tri Tunggal. Katolik menjadi juru selamat keluarga Roger dan Caroline.

The Conjuring dirilis tahun ini, 2013. Namun setting cerita berkisar pada tahun 1971. Ada yang menarik dari satu scene awal film ini, yakni ketika Ed Warren memperkenalkan seorang utusan dari salah satu lembaga. Ia laki-laki berkulit hitam -Afrika Amerika. Ketika Ed dan si lelaki memasuki ruangan yang berisi segala macam barang yang dipakai untuk pemujaan setan dan hantu, si lelaki berhenti pada sebuah patung monyet, mnegamati sambil menunduk. Tiba-tiba Ed berkata, "Bahkan seekor monyet pun dapat dipakai sebagai media pemujaan setan/hantu." Scene ini bercerita pada kita bagaimana pada tahun-tahun 70an rasisme begitu kuat melanda Amerika dan bahkan Eropa. 'Penindasan' politis dan sosial terhadap orang kulit hitam masih kerap terjadi baik secara terang benderang maupun samar-samar. Celakanya, The Conjuring yang dirilis 2013, sepertinya tak rela membiarkan semangat rasisme -khususnya terhadap kulit hitam- dihapuskan dari permukaan bumi. Film ini, sangat secara samar, ingin mengembalikan 'kejayaan' kulit putih yang bisa jadi, sedang terancam saat ini -sebagain besar oleh orang kulit hitam. Jika diteliti lebih rinci lagi dalam film ini, rasisme, perbedaan kelas sosial dan ketaatan menyuguhkan banyak hal yang tak kalah menarik dianalisis lebih dalam.

Akhir cerita, The Conjuring cukup berhasil menakut-nakuti penonton. Tapi, sebagai film horor disayangkan jika hantu-hantu tersebut harus menjadi pecundang dan kalah oleh tangan manusia. Di akhir cerita, keluarga Roger dan Caroline selamat dan berkumpul kembali, meski keberadaan hantu dan setan dalam rumah dan perkebunan mereka belumlah punah. Hal ini agaknya, ketaatan si empunya film pada dogma dan ajaran katolik sebagai penyelamat keluarga tersebut -umat manusia. Sangarnya Betesdha belum seberapa dibandingkan kekuatan katolik. Dan, sepertinya katolik tidak tega membiarkan gadis-gadis manis Roger dan Caroline tersiksa sepanjang hayat atau mati menggenaskan.

#DDS

Sunday, 25 August 2013

Ramadhan, Lebaran, dan Kemerdekaan 2013



Banyak harapan ingin dikerjakan pada ramadhan tahun ini. Sejuta angan hendak dikabulkan untuk membahagiakan banyak orang. Ada pihak-pihak utama yang hendak 'diselamatkan' dari lembah kebisingan kota. Apa kata, rencana tinggal rencana. Angan dan cita tinggal angan dan cita. Inilah kemudian masa yang membuat semua gugur ke bumi dan kembali menangisi nasib.

Juli Agustus adalah bulan yang kepayahan. Dari jutaan kepayahan, waktu untuk diri kemudian tersingkirkan dengan cepat dan gampang. Semua dikorbankan untuk orang-orang tersayang. Tapi banyak keliru rupanya. Ah, apa guna pula diceritakan yang menguras emosi di laman publik ini. Tak baik untuk kesehatan hati.

Perjuangan panjang dan melelahkan itulah yang kemudian semakin memuncak dengan konteks yang tak menarik hati. Saudara, ada banyak duri rupanya hari ini. Meski begitu akal sehat dan harapan tinggi selalu membayangi. Dengan mencemooh akal sehat dan harapan tinggi berkata, "Sudah lama kau berjuang, jadi selalulah berjuang".

Mengingat ini, geli juga jika tak berbuat apa-apa tapi memanen hasil yang lumayan tinggi. Bukan ibu, saudara, dan bangsa yang takut kau tipu-tipu, tapi dirimulah yang enggan kau tipu. Baiklah, mulai mengerti.

Meski begitu, tahun ini adalah tahun beruntung yang pernah kudapati, meski ada yang bolong diantaranya. Ada deretan yang membuat tersenyum jika mengingat. Dan, ada deretan yang membuat menelan ludah pahit jika terbayang. Kemudian, dengan setengah pongah, ini bukan levelmu, levelmu yang itu.

Ramadhan, lebaran, kemerdekaan; tiga hal yang menyenangkan sekaligus yang mengeraskan. Tiga budaya yang menyatu semenjak masih bayi hingga kini. Di tengah masa ini, aku berbuat untuk kehidupan, meski kecil tentunya.

Ramadhan, lebaran, dan kemerdekaan, senang telah lama mengenal kalian.

see you next years ^_^

Dedees

Wednesday, 26 June 2013

Most-Beat ‘Akademis’ di Efek Rumah Kaca


Tulisan ini mungkin akan kurang mengesankan bagi pihak yang merasa tersinggung, terutama audiens mahasiswa. Apa lacur, di balik kemeriahan dan kegembiraan, tersimpan benih-benih yang siap berteriak, memaki, yang kemudian meledak. Bahwa, inilah keniscayaan itu.

Sekitar seribu mahasiswa dari berbagai kampus duduk bersila menghadap panggung di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri Universitas Gadjah Mada. “Ticket sold out, tapi panitia mencetak ulang,” begitu kata seorang singer dari band pengisi. Untuk acara kampus macam Earthernity Fest 2013 ini, band-band’an model begini cukup besar dan menyedot perhatian. Audiens duduk manis dan sesekali menjepret dengan sopan. Audiens, dalam hitungan jari, coba menghayati (ikut bernyanyi) bersama band-band lokal dan yang dari berbagai kampus. Selebihnya –seperti tengah berziarah- menekur dan terpesona dengan penampilan lighting serta kerumunan penjinjing DLSR merangsek panggung. Ini awal.

Ketika band polska dari kampus seni Yogyakarta, Aurette and The Polska Seeking Carnival tampil, audiens menyulap diri. Yang tadinya bersila manis, tanpa ba bi bu meloncat ke depan dan berdiri pede. Malangnya, manuver ini diikuti oleh sekitar 999 audiens lainnya. Seperti semut, panggung adalah gula, dan menjadi penting bagi audiens untuk menopang lengan di bibir panggung. DLSR menggila. Tak sedikit yang berjinjit payah dan bermuka masam. Memang, band polska satu ini sedang naik daun di tengah persaingan band indie Yogya masa kini.

Lalu, ketika drumer Efek Rumah Kaca (ERK) menabuh-nabuh riuh, saat itu pula seolah-olah audiens ingin memakukan kaki di lantai hingga pukul nol-nol kelak. “Tiga tahun berlalu, Locstock gantung diri, sekarang aku (punya) kesempatan liat ERK lagi,” kata seorang fan abangan ERK. Petikan gitar dan bass beradu, kawin mawin. Lirik-lirik dari album pertama ERK memenuhi panggung. Di beberapa lagu, suara sang vokalis hampir tak terdengar.

Jelas! Digantikan oleh chord mahasiswa yang benar-benar hapal serta berkonsentrasi tinggi. Seperti lagu Di Udara dan Hilang yang berisi kritik sosial dan ketakberhentian untuk melawan, mendapat sambutan histeria dari audiens. Tapi, seperti yang sudah-sudah, yang menyeruak selalu nuansa paradoksal; ‘kegundahan’ sekaligus hingar bingar fans yang masih belum yakin hadir di hadapan ERK dan bersama menyuarakan ketidakadilan –ekspresi yang sangat konvensional.

Saat Desember dan Melankolia dilantunkan, bibir panggung yang disesaki audiens tadi, bergemuruh. ERK memang bisa menciptakan suasana awang gemawang yang mencekam. Audiens dituntun terbang menuju langit namun singgah dulu di pemakaman. Seolah-olah, most-beat audiens ini ingin bermandi hujan kemudian –jika tak berlebihan- beramai-ramai menyayat nadi. ERK benar-benar membius malam itu. “Yang tak hapal lirik, percuma mengambil gambar!” canda seorang teman sembari meloncat.

Melihat pertunjukan ini, ERK memang punya karakter fans tersendiri. Katakanlah, fans ERK dari anak muda yang (pernah) berkeliaran di kampus, aktivis sosial, banci (baca; suka) demo, banci diskusi, dan sejenisnya. Kenapa? Ya karena –lebih banyak- orang-orang inilah yang (dapat) menghayati lirik-lirik dalam atau khas dan ‘puitis’ ala ERK. Dan, sekaligus orang-orang inilah –yang juga lebih banyak- membicarakan cinta kemudian ‘putus asa’ di dalamnya. Lagu Cinta Melulu mendapat sorakan dan gelak tawa. Banyak yang melenggokkan pinggul, menggoyangkan bahu, kemudian seolah berkaca pada teman di samping. Audiens –dan mungkin juga ERK- antara menyindir ‘mereka’ sekaligus menampar pipi sendiri. Meski demikian, ERK dan audiens agaknya sama-sama puas. ‘Kegilaan-kegilaan akademis’ seperti inilah yang disuguhkan ERK. Dan, ‘kegilaan-kegilaan akademis’ seperti inilah yang dihadirkan, dinikmati, dipuja, kemudian diulas –seperti yang saya lakukan. Inilah most-beat ‘akademis’ itu.

ARD

Tuesday, 11 June 2013

Isra Mi'raj



LAMA sudah rasanya tidak menghadiri perayaan ini. Terakhir menghadirinya, entahlah. Mungkin sekitar 4-5 tahun lalu. Atau sejak 7 tahun lalu, dimana masjid dan musala yang kujumpai tidak begitu akrab dan juga tak diketahui jadwal mereka memperingatinya.

Aku rindu menghadiri acara ini. Seperti 7-8 tahun lalu. Waktu itu mungkin aku masih berseragam abu-abu. Ketika Isra Mi'raj datang, jika ada guru rebana, aku dan kawan-kawan biasanya mengisi acara ini dengan berqasidah bersama. Hahaha, lucu dan sangat menyenangkan jika mengingat itu.

Isra Mi'raj datang. Kalender berwarna merah. Dari siang hingga sore kami berlatih rebana, menyanyikan salawat dan lagu-lagu nasyid bersama. Tentu saja ini dilakukan di masjid. Dimana teman lainnya mendapat jatah menghias masjid, menyediakan teh panas, serta tak ketinggalan membersihkan pekarangan masjid.

Jika sore usai, bapak-bapak, ibu-ibu, serta anak-anak kecil sehabis magrib berdatangan ke masjid, mengikuti pengajian, sambutan ini-itu, serta berinfaq bersama di sana. Sementara aku dan kawan-kawan sibuk merias diri, memilih seragam yang bagus, meminjam jilbab kakakku, serta meminta lipstik tetangga. Benar-benar menyenangkan. Ini momen kami manggung, momen kami memperkenalkan diri, sekaligus momen ibu-bapak kami memperkenalkan diri mereka kepada orang lain melalui kami anak-anaknya.

Hiburan, begitu kelak kami disebut ketika manggung. Aku biasanya memegang gendang. Gendang rebana yang banyak dipakai para artis nasyid, hehehe. Kata guru rebanaku aku cocok memegang alat ini ketimbang rebana biasa yang dari kulit kerbau itu. Ya, aku memang suka memukul-mukulnya dengan irama dan ketukan yang itu-itu saja, hahaha. Hampir setiap tahun.

Biasanya kami akan menampilkan sekitar 5-7 lagu. Hiburan ini akan disuguhkan ketika ceramah agama selesai. Ceramah agama ini diberikan setelah sambutan semua usai, dan biasanya mulai cukup larut. Jadi, bisa dibayangkan kalau hiburan kami akan manggung sekitar pukul 00 atau 01 malam. Terbayang bagaimana repotnya aku dan kawan-kawan menjaga mata agar tak terkantuk dan menjaga lipstik tidak punah diserap teh hangat.

Ini terjadi ketika aku remaja. Lain ceritanya ketika aku kanak-kanak. Mari kuceritakan, hehe

Kanak-kanakku bersama Isra Mi'raj memberi kesan yang berbeda. Ketika ceramah diberikan hampir larut malam, sementara pada sesi sambutan saja aku sudah tergolek lemas di pangkuan ibu, maka aku tak pernah menghadiri ritual ceramah. Tapi, aku akan selalu menghadiri ritual hiburan dan tentu saja juga ritual makan roti dan snack.

Ini ritual yang hampir tak pernah kulewatkan setiap Isra Mi'raj. Tentu saja atas bantuan ibuku, hehehe. Ketika hiburan ibu selalu membangunkanku. Rasanya aku sudah lelap sekali tidur dan merasa sudah berada di kasur, eh ternyata masih di pangkuan ibu. Dua hal yang menyenangkan itu adalah ada rebana nasyid serta makan-makan. Setelah itu aku bisa bangun hingga pulang, atau dibopong mendiang abak di punggungnya.

Aku tak habis pikir, kenapa aku selalu senang pada momen hiburan dan makan-makan itu. Semua orang di desaku tahu kalau ibu berjualan makanan ringan setiap hari. Dan kapan saja aku memakannya ibu tidak pernah melarang tuh. Dan orang-orang yang datang ke masjid juga membawa makanan yang sama dengan yang ibuku jual. Rasanya itu juga. Ukuranya itu juga. Dan teh hangat hampir setiap pagi aku mencicipinya. Ibu setiap hari membuatkan teh untuk abakku. Segelas besar. Dan 6 orang manusia akan meminum teh itu kapan mereka mau. Ibu dan abakku, serta aku dan tiga saudaraku.

Sekarang atau beberapa tahun belakang, ketika Isra Mi'raj datang yang terlintas adalah momen yang sangat menyenangkan itu. Dimana aku dan kawan-kawan jingkrak-jingkrak belajar rebana, malamnya kasak-kusuk berdandan, ibu dan abak selalu mengunci rapat rumah yang kosong, semua saudaraku berkumpul di masjid, mendengarkan kisah Rasul Saw, mengikuti tebakan berhadiah, suasana yang sangat mahal harganya saat ini.

Di kota ini dan kota yang lalu, kenapa semua menjadi asing. Tahun lalu aku berharap akan ada suasana yang kurang lebih mirip dengan masa kecilku di kota ini. Infonya masjid A akan mengadakan perayaan Isra Mi'raj pukul 09 pagi. Aku ikut ah, hatiku riang bukan kepalang. Tidak semata-mata ingin dapat makan minum dan hiburan gratis, tapi merefresh diri dan kepala yang sudah sumpek dan apek ini. Capek kerap melanda. Di tengah kalender biru dan hijau, ada kalender merah yang agamis, aku berharap besar.

Pagi-pagi sekali aku sudah semangat bangun dan mandi pagi. Berniat dan merapikan diri. Berharap refresh terlaksana meski mungkin tidak seperti masa kecilku. Tapi, ketika sampai di masjid A, ternyata masjid ini dikuasai oleh sekelompok kaum yang begitu tertutup. Memandangku dengan aneh, dan was-was. Aku masih berharap. Kumasuki saf perempuan, oh my godness, ini bukan masa kecilku. Begitu tertutup. Baiklah. Aku pamit diri dan meninggalkan itu semua di belakangku. Tentu dengan perasaan hampa, berkecamuk, dan rusak sudah hariku.

Isra Mi'raj ku adalah sambutan panitia, ceramah agama yang friendly kalau dapat lucu dan menghibur, duduk santai atau bahkan selonjor, tertawa bersama ibu-ibu atau nenek-nenek sembari menikmati makan minum dan hiburan rebana atau apalah. Itu saja. Isra Mi'raj ku bukanlah proses pembabtisan, bukanlah proses indokrinisasi -meski ceramah agama adalah indokrinisasi juga, tapi setidaknya tidak begitu vulgar, toleransiku.

Mungkin aku berlebihan dan tidak sesuai dengan konteksku, dimana Isra Mi'raj orang-orang berbeda denganku. Ya, aku paham itu. Maka tahun ini, Isra Mi'raj ku hanya di depan TV dan menuliskannya di blog ini.

Ini perjalanan Isra Mi'raj ku di beberapa kota. Ini model perjalanan yang kudapat dari kisah perjalanan Rasul Saw, yang jelas saja sangat berbeda. Benar, aku sangat rindu Isra Mi'raj ku dulu.

#Dedees

Monday, 13 May 2013

Mei yang Rumit



KITA sulit lupa pada tragedi Mei nan bersejarah bagi bangsa ini. Ya, karena media tak pernah absen menuliskan kembali narasi-narasi perlarian, penculikan, perkosaan, penjarahan, pembunuhan, penahanan, penyerahan, dan pemenangan waktu itu. Plus mengendorser dari pelaku, baik penggugat maupun tergugat, serta keluarga korban. 2013, 15 tahun sudah tragedi rontoknya Orde Baru itu melambaikan tangan, secara ke-rezim-an. Secara praksis, jelas saja belum tentu. Tak mudah memang mengubah tradisi bernegara yang sudah dibangun selama 32 generasi.

Tragedi ini lebih dari tragedi saling memaki, saling mengolok, dan saling menyumpahi. Ini tragedi berdarah dalam menumbangkan rezim yang korup, penuh bias, dan jelas saja diskriminatif. Tragedi yang menghilangkan banyak roh, banyak generasi; roh dan generasi yang kritis serta berani. Kritis dan berani tidak gampang di rezim itu. Dan, sudah terungkap, betapa mahalnya untuk menukar kritis dan berani; renggukan nyawa.

Kini, kita kembali mengingat Mei '98 dengan banyak cerita. Di balik banyak cerita itu ada angan-angan untuk mengulang tragedi yang sedikit banyak mirip. Kali ini adalah tragedi memerangi rezim yang korup dan tak punya malu. 15 tahun bukan waktu yang sedikit untuk membenahi diri. Jika berkomitmen, banyak peluang untuk tidak tipu-tipu dan tidak lebay di depan televisi. Ini tidak sekadar momentum untuk April 2014, tapi -selaiknya- sudah menjadi tanggung jawab dalam hidup berbangsa dan bernegara sejak dulu.

Mei 2013 adalah mei yang panjang sekaligus rumit. Ini bulan penuh kisah, menguras tenaga dan emosi. Bulan dimana kita berkaca kemudian melihat wajah, apakah bopeng yang sama masih menempel atau sudah ada titik terang. Bulan yang membuat kita marah dan memaki ketika membaca koran, menonton tivi, serta berselancar di cyberspace. Bulan yang mengerutkan saraf otak. Bulan yang benar-benar membuat capek.

Inilah Mei. Bulan yang rumit. Apakah akan tetap menyimak kemudian memaki koran, atau diam saja sekaligus tetap mengumpat karena cerita akan Mei ini tak bisa dihilangkan dari benak kepala begitu saja. Saya pun demikian. '98 adalah waktu dimana saya tak bisa membedakan mana makan pagi dan makan malam. Masa yang tak sama sekali saya kenali hingga bertahun-tahun kemudian. Sampai seseorang berceletuk ketika saya di tahun akhir kuliah, "'98 adalah kerja keras kami, kerjamu mana sebagai mahasiswa?". Saya jengkel, sekaligus memijit-mijit dahi, "di '98 kamu tak sendiri, sementara sekarang, saya hampir sendiri."

Inilah Mei yang Rumit,,,

AR Dedees

Friday, 19 April 2013

Demokrasi Air dan Pro-Future Generation




Yogyakarta, Rabu (27/3)- Demokrasi air sebuah langkah sebagai perwujudan kritik atas 'politik bumi' yang antroposentris bahwa alam untuk manusia. Sementara ideologi survivalim yang disuarakan Vanda Nashiva, yang memihak pada kelestarian lingkungan, bahwa keberadaan manusialah untuk alam. Keberpihakan terhadap alam sama artinya dengan keberpihakan pada kelangsungan generasi mendatang. Jika kepada alam tidak ada keberpihakan bagaimana mungkin manusia akan berpihak kepada anak cucu selanjutnya?

Prof. Dr. Heru Nugroho mengatakan air adalah kado alam. Sebagai kado, air bukanlah produk komoditi yang kemudian diprivatisasi. Fakta di Indonesia, air sebagai komoditi, diperjualbelikan dengan mudah. Hal ini diperparah dengan kebijakan privatisasi air yang tidak mengedepankan konservasi. Belum lagi persoalan pengeboran sumur mencapai puluhan dan ratusan meter ke perut bumi. "Akhirnya, air dengan kandungan mineral tinggi kembali dikuasai oleh segelintir orang bermodal. Sementara yang tak memiliki modal, mengalami kelangkaan air bersih," katanya dalam diskusi pemikiran Vanda Nashiva, Eco-Feminism asal India di Sekolah Pascasarjana Univeristas Gadjah Mada.

Sebagai Eco-Feminism, bagi Vanda Nashiva, kelangkaan air sama artinya dengan ancaman bagi perempuan. Berdasarkan konteks pemikiran ini dilahirkan, kelangkaan air mengakibatkan perempuan India bekerja lebih keras (mengangkut) guna mendapatkan air, kekeringan melanda, dan petani gagal panen. Semangat menyuarakan demokrasi air juga erat kaitannya dengan perlawanan atas 'water wars' dalam hal ini privatisasi air oleh sekelompok pemodal.

Sementara itu, Agus Maryono, Deputy Director Seamoe-Seamolec Indonesia, menjelaskan basis membangun demokrasi air di Indonesia adalah membangun budaya mengerti akan air. Konsep water culture ialah kepahaman masyarakat sosial tentang masalah pemanfaatan air dan konservasi air yang ada di sekitar masyarakat. Dalam hal ini termasuk sumber air, tata air, serta perilaku manusia terhadap sumber dan tata air tersebut. Lebih jauh lagi ialah keterkaitan antara air dengan ekologi termasuk masalah sosial dan ekonomi.

Air dalam pandangan masyarakat masa kini mengalami transformasi dari air adalah nilai-nilai (values) berubah menjadi air adalah harga (price). Ketika air dimaknai sebagai harga, maka water culture yang ada di nusantara mengalami pergeseran. Masyarakat akan cenderung tidak peduli dengan sumber dan tata air di lingkungannya. Penggundulan hutan membabi buta, pengalihan arus air, atau pelurusan sungai, adalah bentuk nyata ketika manusia tak paham dengan water culture. "Menghargai arus sungai dan evoluasi air adalah beberapa hal dari sekian banyak water culture yang perlu dipahami manusia," katanya.

Tuesday, 2 April 2013

Frekuensi Publik dan Pentingnya Serikat Buruh




Yogyakarta, Rabu (13/3) - Sebagian besar penikmat media, baik cetak maupun elektronik, belum memahami bahwa publik punya hak besar menentukan tayangan termasuk membatasi penguasaan atas frekuensi. Di balik penguasaan frekuensi yang terbatas itu, penguasa media massa saat ini cenderung politis dan eksploitatif di atas fasilitas publik. Sosialisasi dari pihak terkait perihal frekuensi ini dinilai minim. Alhasil, sak wasangka publik terhadap negara yang bermain dengan cukong tak terhindarkan.

Ucu Agustin, penulis dan sutradara film ini menuturkan, hingga 2012 publik hanya memiliki 20% dari jumlah frekuensi yang tersedia. Selebihnya, 80%, sudah dikuasai oleh swasta. "Ketika sebagain saham satelit Palapa dijual ke pasar pada masa kepemimpinan Megawati, dari sanalah bermula kuantitas frekuensi untuk publik semakin merosot," kata Ucu. Maraknya pemakaian telepon seluler BlackBerry juga memungkinkan frekuensi yang tersisa itu semakin terbatas. "Negara juga menyediakan sekian persen frekuensi publik untuk perusahaan Kanada itu," terangnya. Dengan kata lain, frekuensi yang seharusnya milik publik, dengan kebijakan privatisasi BUMN berpindah tangan menjadi otonomi pihak penanam modal.

Di Balik Frekuensi bercerita tentang monopoli frekuensi oleh suatu kelompok swasta. Dimana penguasaan itu menciderai hak-hak publik. Seperti informasi yang tak berimbang dan penuh intrik politis. Film ini menyoroti dua media besar di Indonesia, yaitu TV berita MetroTV dan TVOne. Dalam kompetisi rating, dua TV berita ini memang rendah. Sementara dalam penanaman ideologi dan kepentingan politik, dua TV berita ini mendominasi atas TV-TV swasta yang lain.

Konglomerat media seperti Surya Paloh dan Aburizal Bakri mau tidak mau ditampilkan sebagai sosok paradoks di tengah pemberitaan, baik yang mendukung langkah politik mereka, maupun yang beroposisi. Dua taipan media ini dianggap bertanggung jawab atas ketidakbebasan pers dan bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo.

Film ini juga bercerita tentang kesewenang-wenangan media terhadap karyawan dan aspirasi publik. Ucu mengangkat kisah tentang usaha Luviana, karyawan MetroTV, menuntut peningkatan kesejahteraan di tempat ia bekerja. Serta pemutarbalikan fakta perjuangan Hari Suwarno, lelaki setengah abad lebih yang memutuskan berjalan kaki dari Sidoarjo ke Jakarta guna menuntut Aburizal Bakri. Justru tiba di Jakarta, Hari Suwarno terisak malu dan memohon maaf kepada Aburizal Bakri dan publik. Ia mengaku menyesal, dipermainkan sebagai korban kepentingan politik orang-orang tertentu.

"Selain menuntut peningkatan kesejahteraan karyawan, saya dan teman-teman juga menginginkan adanya serikat pekerja di sana," jelas Luviana malam itu di Lembaga Indonesia Prancis. Bagi Luviana, kenaikan kesejahteraan hanya dapat terwujud jika digerakkan oleh banyak orang. Kesatuan pendapat dan kepentingan setiap pekerja menjadi tujuan utama pembentukan sarikat ini.

Dr. Ratna Noviani, sebagai pembahas film ini dari Kajian Budaya dan Media UGM, mengatakan salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya pembentukan serikat pekerja/buruh ialah tidak adanya pengakuan dari wartawan sendiri bahwa jurnalis itu sama dengan buruh. "Jurnalis dan apapun dia, selagi tidak memilki modal produksi dan bekerja pada pihak lain, tetaplah dia sebagai buruh. Saya, dosen, dan ketika menerima gaji, saya sangat menghayati bahwa saya adalah buruh," terangnya sembari tertawa.

Sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, seniman, aktivis, dan jurnalis mengikuti pemutaran film yang berdurasi 2,5 jam ini. "Cukup memenatkan, tapi banyak ilmu dan pengetahuan baru yang disuguhkan seputar media di tanah air," jelas Indah, mahasiswa UGM.

Wednesday, 13 March 2013

[Catatan] Bernie dan Kemengantukan Hidup



Habis magrib 14 Februari lalu seseorang datang sembari cengengesan padaku. Aku kira dia menang togel dan kita segera umroh tahun ini. Lagi pula, kado momen itu dialokasikan untuk memenuhi kamar dengan karya Karl Marx. Jadi, surprise romantis ala abegeh ditunda tahun depan. Aku sudah bisa memotong poni sendiri, jadi tak perlu ngambek malam itu.

Namun, cengengesannya berganti seketika ledakan tawa. Aku tak bisa menyembunyikan cengengesanku sembari penyesalan dibuat-buat ketika dia menjinjing kantong plastik besar bergambar beruang. Isinya? Boneka anjing besar berbulu lebat dengan ukuran moncong mendekati besar bokongnya. Ia berwarna cream dan oranye. Kupingnya melambai menutup matanya yang cekung. Mirip si Jack dalam Pirate of Carribean, sebelah matanya dikelilingi bulu dengan warna berbeda. Malam itu juga, kami punya anggota baru. Namanya Bernie. Karena facebook menginginkan nama terdiri atas dua kata, ia menjadi Bernie Wati. Kenapa tidak Bernie Wan? Karena aku tak suka memanjakan laki-laki. Lagi pula dengan leher terlilit pita berbunga, Bernie sangat girly.

Pada malam sebelumnya, dia sudah membawaku dimana sebangsa Bernie berada. Ketika kuintip kertas menggantung di leher mereka, alamak, muahal sekali harga untuk seekor anjing ilusi macam Bernie. Malam itu juga kukubur cita-cita memelihara boneka binatang kembali. Sudahlah semoga Saun baik-baik saja di tangan sepupu kecilku di kota sana. Ketika hendak meninggalkan tempat itu, tak kupungkiri ada kerinduan dan kepuasaan yang berbeda dengan makhluk lucu dan bikin mengantuk itu.

Tentu saja aku senang alang kepalang ketika ia menyuguhkan Bernie padaku. Katanya, "Tadinya, aku kira kamu di kamar. Mau taruh Bernie di kursi, ketok jendelamu, dan aku sembunyi. Biar surprise. Eh, malah kamu nangkring aja di luar sini," ekspresinya seolah-olah jengkel. Tawaku meledak. Ketika Bernie di pangkuanku, seperti Saun dulu, kutelusuri setiap sisi badannya. Mana tahu ia membawa kutu, seperti yang Saun bawa. Walau sekadar kutu ecek-ecek.

Kehadiran Bernie cukup membantuku untuk tidur lebih teratur. Ia juga menghangatkan malam berhujan. Ekspresinya sepanjang hari yang begitu-begitu saja tak kunjung membuatku bosan. Bernie ikut membantu psikologiku agar betah di kamar. Bisa jadi premis minor ini meneguhkan atas boneka turut serta mempengaruhi psikologi dan mood seseorang. Mungkin karena itu, hampir setiap orang menyukai boneka.

Mendekati sebulan Bernie bersama kami, Bernie mulai berubah aroma. Kadang bau ketek, kadang bau kentut, dan pastinya bau jigong. Kemaren minggu, dengan berat hati kujemur Bernie di bawah terik mentari. Panas buanget. Kuharap panas ini dapat mengurai semua jenis bau yang melekat di badannya. Lalu kusemprotkan pewangi pakaian. Lumayan segar. Paginya, Bernie tak ubahnya dengan bau badanku. Sudahlah.

Berbeda dengan Saun yang aneh ketika dipeluk. Karena Bernie punya kaki depan dan belakang yang tidak sependek kaki-kaki Saun, Bernie lebih stabil ketika dipeluk. Ini mengasyikkan. Belum lagi matanya yang kerap tertutup oleh lebarnya kuping dan tebalnya bulu rambut. Sepanjang hari Bernie buta dan tak bergerak sedikit pun. Ditambah besarnya perut dan bokong Bernie yang berat. Lengkap sudah. Bernie hanya teronggok dengan dua posisi; terlentang dan tengkurap.

Ekor Bernie yang tak sampai sejengkal itu, menjadi lucu ketika dipermainkan atau dielus-elus. Disamping panjangnya moncong, lebarnya kuping, dan besarnya perut, Bernie hanya dilengkapi ekor mungil oranye yang mungkin tak berefek banyak padaku.
Konstruksi Bernie yang menggemaskan ini menjadi proyek besar dari kapitalis. Adalah perbaikan mood juga menjadi urusan penting manusia. Dan adalah boneka anjing, satu dari ribuan model binatang yang diharapkan dapat mengentaskan psikologi yang labil. Bernie, representasi dari hewan anjing yang lincah dan cukup cerdas. Jelas, boneka Bernie tak mampu mewujudkan karakter itu secara fisik. Tapi, karakter itu coba dilekatkan pada pemilihan warna, ukuran tubuh dan kaki, serta model ideal seekor anjing.

Karakter Bernie dan hewan anjing, sadar atau tidak, memberi share meaning padaku bahwa Bernie adalah laki-laki. Ini juga tergantung pada framework-ku terhadap anjing-anjing yang pernah kami pelihara sebelumnya. Hampir semua anjing yang dipelihara oleh keluargaku adalah laki-laki. Karena ayah suka berburu babi dan kijang, anjing laki-laki menjadi harga mati. Itu terjadi belasan tahun lalu. Dan kehadiran Bernie tahun ini, mengingatkanku pada masa lalu, dimana aku, ayah, ibu, kakak, abang selalu menoleransi anjing-anjing kami melintasi ruang tengah menuju halaman belakang.

Ditambah lagi beberapa teman dan tetangga yang juga hobi memelihara anjing di rumah. Cantik-cantik. Membawa kedamaian. Anjing dan anak kecil, adalah dua elemen yang mampu membangun humanisasi antarsesama. Anjing biasanya gampang akrab dengan anak kecil, pun sebaliknya, anak kecil suka bermain-main dengan anjing. Seperti aku dulu. Selepas makan siang sepulang sekolah, menjelang mandi sore, ibu dan ayah takkan menegurku berkejar-kejaran dengan anjing, berguling-gulingan dengan anjing di bawah rerimbunan bambu belakang rumah, atau berebut kulit kelapa. Bajuku pasti kotor dan bau. Di kulit dan di rambutku air liur anjing biasa menempel. Ada ekspresi kesenangan dari binatang ini yang mereka kirimkan kepadaku. Dengan cepat aku paham bahwa mereka suka berkejaran, bergulingan, dan bahkan pura-pura ingin menerkamku.

Jika sudah begini, ingin aku pulang ke desa dimana aku dibesarkan. Memelihara anjing kampung, membuatnya jinak, dan disenangi banyak orang.

Thursday, 28 February 2013