Wednesday, 26 December 2012

[muse] cinta yang terlalu pedas


(narasi 1)
maafkan aku, katamu.
aku takut,
aku bingung,
aku canggung menatap mata orang-orang,
tapi, ternyata aku jauh lebih takut kehilanganmu, tutupmu.


dengan canggung kupeluk pinggangmu dari belakang. kubisikkan, bahwa keberanianmu mencintaiku sudah anugerah bagiku. kau terisak. aku terisak. kita, dua remaja perempuan yang terlalu pedas mendefinisikan cinta.

apa boleh buat, cinta sepasang kekasih dijatuhkan kepada kita. cinta dianugerahkan kepada siapa saja. namun, ketika cinta itu menimpa kita berdua, kenapa orang-orang dengan lantang mencibir kita? barangkali kamu tahu itu. dan aku, aku tak peduli. cinta yang kuat ini, jika akan mematahkan kaki dan tanganku, maka kuterima. selama penasaranku padamu terkuak, cinta yang pedas ini akan kupelihara.

ini adegan detik-detik terakhir film remaja lesbian yes or no. film ini khas dari negara thailand yang memang liberal akan soalan homoseksual. film ini dramatis, ironis, lucu, dan sangat menghibur. saya, sudah tak terhitung kali menontonnya. daya tarik utama, selain bercerita tentang remaja lesbian, juga para lakon yang sangat charming dan manis. aksi-aksi mereka lucu dan seolah-olah alami. misal, scene kim dan pie berciuman mesra setelah bertengkar habis di bawah guyuran hujan malam. apa ya? mmm, adegan ini berhasil mengaduk emosi penonton. bukan romantisnya, tapi terpublikasinya hubungan lesbian remaja ini.

konon, film ini adalah film pertama yang bercerita tentang lesbian remaja di thailand. fans film ini cukup semarak di indonesia. terutama dari remaja putri. dan tentu saja oleh mereka yang menjalin hubungan cinta yang pedas, serupa hubungan kim dan pie. saya, juga terbawa sebagai fans film ini. tadinya sebagai sarana menganalisis fenomena lesbian remaja, eh lama-kelamaan kok ketagihan mengetahui kabar terbaru tentang yes or no, atau tentang kim dan pie. pelan tapi pasti menjadi fanatik.

sebagai fans, dan sebagai eks tomboy, saya seolah-olah disadarkan oleh film ini. saya disadarkan bahwa saya ialah saya yang saya mau yang lahir dari dalam diri. bukan oleh karena teman dan lingkungan. hingga hari ini, saya merasa nyaman dengan ketomboyan saya. meski itu dibungkus dengan sifat feminin yang kadang dominan. sementara hubungan lesbian remaja, saya belum menemukan radar itu di diri saya.

film ini secara tersirat tidak hanya berkisah cinta yang pedas, lesbian remaja. tapi dalam ranah heterokseksual pun juga berarti. ya seperti kisah klasik itu. leela dan majnun. romeo dan juliet. atau si kaya dan si miskin.

(narasi 2)
hingga hari ini kamu tak pernah menatap mataku dengan jujur, kataku padamu.
kamu, selalu takut kepada orang-orang akan hubungan cinta kita yang timpang,
kamu, mementingkan cinta kita sebagai kesekian setelah ibumu, saudaramu, dan karibmu,
tapi aku, aku selalu menerima,
karena aku, aku terjebak,
terjebak dengan cinta yang pedas ini,
kubiarkan kau menyebutku apa saja,
asal kau senang, aku senang,
asal kau riang, aku riang,

kau benturkan kepalamu pada dadaku,
terisak payah kau minta maaf,
pasti aku maafkan,
tapi, dalam telepon kau masih menyebutku sebagai teman,



iron shell, 25/12/12

[catatan] kepada emak nun jauh di pulau

penghormatan di 22 desember

tahun ini kembali orang-orang merayakan hari kemuliaanmu. hari engkau dijadikan pahlawan. ya, sehari saja. karena esok hari orang-orang akan sibuk seperti sediakala. meski begitu, setidaknya masih ada yang menghormati kemudian merayakan kemuliaanmu.

emakku nun jauh di pulau tak pernah berpikir banyak tentang hari ini. bagi beliau, hari-hari tak jauh berbeda. hari penting ialah, hari dimana anak-anaknya punya momen istimewa, hari berkabung suaminya, hari ia dan saudarinya dapat berkumpul bersama. itulah hari istimewa. selebihnya ialah hari ia menciptakan kebahagiaan bagi dirinya, bekerja. bahkan hari ulang tahunnya, mungkin ia tak pernah merenungkan.

hidup dengan suasana yang tak mementingkan hari, saya pikir itu menantang. kampung kecilku tak pernah merayakan hari-hari yang dijadwalkan kalender sebagai hari penting. bahkan hari kemerdekaan, hanya mereka isi dengan selembar bendera di depan rumah. itu pun setelah malam sebelumnya diumumkan oleh pihak lurah. bagi mereka, hari ialah bekerja. bekerja di ladang, di sawah, di los-los pasar, di rumah, di pabrik. selagi dengan bekerja, anak-anak masih tak mampu sekolah layak, buat apa memperingati banyak hari?

sama dengan 22 desember ini. pada hari itu saya sengaja tidak membuka jejaring sosial, kabar berita, dan apalagi demo hak perempuan. esoknya, saya menemukan banyak puisi, narasi kecil, dan berita tentang ibu dan perempuan. banyak yang mendadak aktivis. dan tak sedikit pula yang mencemooh laku momentum itu. ya, begitulah. kita berpacu dengan waktu untuk meneguhkan eksistensi yang entah buat apa. tak sampai 24 jam, semua berubah jadi fatamorgana. karena nasib ibu tidak beringsut dari dalamnya jurang.

pada hari itu, emakku yang jauh di pulau berbincang-bincang tentang ayek. tak sedikitpun terbersit di kepala beliau akan hari 22 desember ini. pun, aku juga tak mengucapkan selamat kepada emak. tahun-tahun lalu, aku mencoba humanis dengan menyampaikan selamat hari ibu kepada emak. "sama saja lah nak, tak ada rancaknya hari itu," jawab beliau. aku meringis. kapok.

di sini kan bisa dilihat, siapa sesungguhnya yang membutuhkan 22 desember itu. pegawai kantorankah yang punya waktu berleha-leha hari itu? atau deretan lembaga yang punya alasan meningkatkan budget untuk memperingati 22 desember? humanisme memang berlaku sangat parsial dan berbeda cara.

kita yang mengejar momen adalah generasi saintis yang hitung-hitungan. semua berdasarkan statistik, aritmatika, dan benar-salah. ya begini. ramai-ramai menyemarakkan 22 desember (ucapan syukur, puji tuhan, doa panjang, dan macam-macam) ramai-ramai pula melupakan. karena momen tak pernah abadi. inilah generasi abal-abal. generasi opium. generasi candu. candu akan tawa, candu akan pesona, candu akan materi, dan candu akan gengsi. hidup silang sengkarut. tak tahu lagi apa sebenarnya yang dibutuhkan. atau kebutuhan itu ialah hasrat ingin dibutuhkan?

di ujung telepon emakku berucap, "akan banyak desember, dan akan seperti ini saja para ibu."

iron shell, 25/12/12

Monday, 10 December 2012

[Review] Film Arisan 2: Friendship, Homosexuality, and Bourgeois(m)



DI zaman gadget ini film arisan 2 muncul dengan tiga tema besar sebagai modal awal menarik penonton. ada persahabatan, homoseksual, dan gaya hidup kelas atas yang sohisticated dan pesta-pesta. film ini dimainkan oleh aktor-aktris yang cukup 'papan atas' seperti surya saputra, cut mini, sarah sechan, pong harjatmo, dan kawan-kawan.

arisan 2 seperti arisan pertama memiliki semangat film yang tidak biasa. film ini selain membawa tema persahabatan juga blak-blakan mengungkap apa yang terjadi di dunia nyata; keberadaan LGBT dan single parent. beberapa tokoh secara kasat mata ditampilkan sebagai pasangan homoseks dan tak kasat mata beberapa tokoh ditampilkan berkecenderungan lesbian. keberadaan banci juga tak dapat ditampik dalam film ini. banci selain sebagai kenyataan juga sebagai subjek yang tidak selamanya tidak 'berdaya'.

melalui gaya hidup kelas atas, dalam hal ini diwakili oleh kaum urban sosialita, homoseks dan banci mendapat tempat yang tidak terancam. tidak seperti di kehidupan nyata yang serba sembunyi-sembunyi dan dirazia. homoseks di tengah pergaulan kelas atas, yang identik dengan 'kemajuan', keberadaan mereka diapresiasi, dihormati, dan diberi ruang untuk berartikulasi, meski penentang di sekitar mereka tak pernah mati.

menarik dikaji sebagai 'dekonstruksi' paradigma common sense bahwa kaum homoseks juga punya 'naluri' cinta pada sahabat. dalam arisan 2 naluri cinta ini disebarkan oleh tokoh-tokoh yang digambarkan sebagai kaum minoritas, seperti homoseks, single parent, dan janda. tampaknya, melalui persahabatan, universalitas cinta 'bisa' ditebarkan oleh siapa saja. menurut saya ini kerangka besar dari arisan 2 yang ingin dibangun di benak penonton.

mungkin sebagai permulaan, arisan 2 memilih penyebaran cinta melalui kehidupan kelas atas, tidak kelas menengah bawah. ini bisa menjadi miris sekaligus pionir bahwa keberadaan LGBT dan single parent bukanlah aib dan penyakit. miris, karena hanya berfokus kepada kaum yang secara material dan pengetahuan mapan. kemapanan ini menjadi bargaining untuk mereka berbuat apa yang dimau sekaligus menolak apa yang tak diinginkan.

misal, jika indonesia menolak hubungan sesama jenis, kaum homoseks kelas atas bisa berbebas ria ke luar negeri guna mengekspresikan mau mereka. jika ini terjadi pada homoseks kelas menengah dan pas-pasan, ini melahirkan masalah baru. keterbatasan material dan pengetahuan menjadikan mereka hidup dalam kotak pandora; dikerangkeng berlapis-lapis kotak. dan deklarasi diri sebagai bagian dari kaum homo saja akan menjadi masalah besar. pertanyaan, apakah untuk menjadi homoseks yang 'aman' di indonesia harus berdeposito ratusan juta dulu?

tidak berdeterministik dengan masalah finansial, tapi keberadaan materi dan pendidikan (tinggi) bagi 'kebebasan' kaum homoseks menjadi penting. ini realita yang coba dihadirkan oleh arisan 2. tak jauh berbeda dengan status minoritas lainnya yaitu single parent dan janda. dua status yang dilekatkan kepada perempuan ini akan sedikit 'tidak berbahaya' jika mereka memiliki tabungan dan pengetahuan cukup sebagai relasi mereka dengan dunia sekitar.

tokoh lita dan andine sebagai single parent dan janda tidak ditampilkan sebagai ibu yang 'super care' dengan anak-anak mereka. andine adalah perempuan yang sibuk pesta dan 'revolusi diri' demi mempertahankan kemudaan. sementara lita ialah perempuan batak yang termakan akan stereotype sukunya. bahwa sebagai pengacara 'otomatis' ia harus ikut serta memperbaiki bangsa ini pada kedudukan lebih tinggi dalam pemerintahan yakni anggota dewan atau wakil rakyat. untuk kasus ini, lita digambarkan sebagai perempuan yang gila karir dan tak memiliki insting keibuan.

cermati tokoh perempuan-perempuan dalam arisan 2. mereka digambarkan sebagai tokoh yang 'tidak utuh'. single parent, janda, tak bergairah pada suami, gampang ditipu, hura-hura, cenderung lesbian, penyakitan (kanker), gampang tergoda laki-laki, dan banyak berharap kurang bersyukur. arisan 2 tak dapat ditampik selain membawa semangat keberadaan LGBT, di sisi lain juga meneguhkan posisi 'bahwa perempuan itu lemah'. ini paradoks. niat hati ingin memberi kebebasan, padahal secara bersamaan sedang menekan yang lain.


3fold room, 9/12/12

6 Desember: Money Politic of My Mom and My Birthday



"amak, adek ulang tahun," muka senang dan suara riang.
"oya? keberapa?" amak tanpa merasa berdosa bertanya begitu.
"23," muka ditekuk.
"hahaha, wah sudah besar anak amak,"
"amak kasih adek kado apa?" ceria.
"nanti kalau pulang, amak kasih uang!" lagi, tanpa merasa bersalah.
"amak uang terus. yang lain apa?" sok protes.
"amak harus kasih apa selain itu? adek beli sendiri aja nanti kadonya." ketawa.
percakapan roaming kemana-mana dan diputus setengah jam kemudian.
biasanya dengan kesimpulan; "adek rajin belajar. banyak makan sayur. jangan lupa sembahyang. baik-baik dengan orang. baik kepada teman maupun kepada pacar. adek ada uang? amak doakan lancar dan berprestasi sekolahnya. jangan lupa doakan abak ya."
semua saya jawab dengan iya dan amin.

percakapan serupa ini sudah terjadi mungkin ratusan atau ribuan kali. sejak saya masih di padang dan sejak teknologi hape akrab dengan amak, yang dulu juga dengan abak. kesimpulannya selalu sama, atau hanya beda seangin. ya, model kalimat di atas itu.

percakapan pendek ini menarik saya berpikir ulang dengan kerangka berpikir saya yang mulai mengambang. ada dua hal yang ingin saya ulas; politik uang amak dan ulang tahun saya.

politik uang amak

"nanti, kalau rapornya ada angka 8, abak beli seharga rp 1.000. kalau angka 9, abak bayar rp 1.500. dan tak mungkin kamu dapat angka 10 kan? hahaha."

saya pikir ini embrio kenapa politik uang bermain dalam pikiran amak dan abak, kemudian merembes ke seluruh anggota keluarga. menurut orang tua saya, cara membahagiakan anak ya dengan memberi mereka uang. dengan uang mereka bisa membeli pensil bagus. gonta-ganti sepatu sekolah setiap hari. seragam cemerlang. uang jajan tak masalah. pokoknya tinggal sebut, maka akan dapat, termasuk rendang rusa. dengan begitu, mereka pasti tak rewel. tak meminta-minta. tak lapar ketika melihat makanan. tak mencuri milik orang. dan tak membuat malu orang tua. maka politik uang dilestarikan hingga 2012 ini.

model berpikir amak, menurut saya adalah pola berpikir orang tua yang sudah common sense. tak ada yang baru dalam pola pikir begini. hampir di banyak daerah orang tua memperlakukan anak-anak mereka dengan politik uang. apa sih yang dibutuhkan anak-anak kalau bukan mainan bagus, makan enak, dan uang?

deskripsinya begini: subuh-subuh amak berbisik di telinga yang mataku terlelap, 'amak berangkat ya. hati-hati sekolah nanti. muah!' kemudian mereka pergi entah kemana. pagi hari, aku mandi, pakai seragam, ambil uang sekenanya di laci meja atau di kamar amak, menghayal di atas angkutan sekolah. sampai sekolah sarapan, cekikikan di kursi paling belakang, membual di kantin, masuk keluar rimba di belakang sekolah, berenang seperti kerbau di sungai, pulang, makan kalau amak sedang rajin memasak, tidur, mengaji, menonton, tidur lagi sampai pagi. begitu siklusnya bertahun-tahun.

sesekali abak dipaksa agar membelikan keyboard dan gitar kecil guna belajar musik, punya bola basket agar kelihatan keren di sekolah, pakai sepatu terlarang, pakai dasi laki-laki, pakai rok dan kemeja terlarang, menempel gambar dan lukisan blusukan di setiap celah kamar, menggantung segala yang pantas digantung. ini paradoks. apa yang terjadi? di sekolah larangan sudah menjadi makanan, di rumah amak abak tak pernah melarang tuh! agaknya, ternyata semangat sekolah tak sama dengan semangat orang tua saya; sekolah menolak politik uang!

bisa jadi amak abak tak peduli dengan ketidaksepakatan sekolah guna menolak politik uang terhadap muridnya. bagi orang tua saya, jika mereka mendidik anak mereka dengan cara yang 'salah' itulah tanggung jawab sekolah untuk 'membenarkan'. tapi, jika mereka 'tidak salah' dalam mendidik anak mereka di rumah, maka sekolah juga bertanggung jawab guna 'semakin membenarkan' anak mereka agar cerdas dan kritis berpikir. itu tujuan orang tua saya rela membayar apa saja yang sekolah iurankan. perkara anak mereka kelak rakus dengan uang atau tidak, orang tua saya sudah mendidik jauh-jauh hari. tinggal mengemas bagaimana uang tidak berubah menjadi tuhan.

politik uang tercipta karena itu praktis. kedua karena keterbatasan waktu. di tengah keluarga yang sangat marxis -baru sadar ternyata abak dan amak saya sangat marxis- mode of production keluarga bagaimanapun caranya harus selalu berjalan dan berputar. memiliki empat anak di zaman orde baru, sebagai keluarga diaspora bukanlah hal gampang. orang tua saya sebagai minoritas mau tidak mau harus membangun image bagus dan sukses baik mereka sebagai minoritas, maupun sebagai mayoritas di tempat lain. keterbatasan akses pendidikan (amak saya SMP dan abak saya tamat SPG dua kali) serta ideologi sebagai etnis keturunan pejuang berpengaruh besar kepada orang tua saya -khusus abak- yang sangat idealis menolak berafiliasi dengan pemerintah.

bagi orang tua saya, governance is bulshit! -sangat deterministik. simpulan ini diambil dari nostalgia dan history imaginary akan perang PRRI dan atau PDRI. mereka menyebut dengan perang peri-peri. ialah perang dimana mereka harus terkubur di dalam hutan dan gua berminggu lamanya. penyebabnya agresi belanda II dan, konon, 'pemberontakan' famili dan keluarga jauh orang tua saya di provinsi seberang. nenek tetangga saban hari mengoceh dengan amarah akan kekejian perang ini. tapi, si nenek hanya sebagai korban, belum menyingkap akan adanya 'khianatan'. sayang, si nenek keburu meninggal.

kesanksian orang tua saya terhadap negara ini mengakibatkan mereka enggan atau tidak ingin berlama-lama berurusan dengan negara -birokrasi dan administrasi. mereka lebih memilih mandiri -wiraswasta. ini satu-satunya jalan agar makan dan tidur mereka enak tanpa diusik oleh negara. dan ini satu-satunya jalan -jika akses pendidikan bagi mereka masih minim- setidaknya untuk anak mereka terpenuhi. singkat kata, dengan ketersediaan uang orang tua saya menggantungkan cita-cita kepada anak mereka. cita-cita yang bukan menimbun uang, tapi cita-cita akan kecerdasan buat pemberdayaan diri sendiri dan pemberdayaan orang banyak.

ulang tahun saya

6 desember lalu genap saya 23 tahun. usia yang bagi amak saya masih muda dan bungsu. lihat saja dari percakapan pembuka di atas. respon amak masih sangat biasa dan tak ada spesifikasi berlebihan yang beliau gantungkan. pesan beliau sama dan itu-itu saja. bisa jadi ini pesan wajar dan tak ada yang baru. tapi, juga bisa dibaca terbalik, bahwa saya dalam pikiran amak saya selalu dalam keadaan berulang tahun dan diupayakan harus selalu berada pada kondisi spesial, hehe.

sejak beberapa tahun lalu saya selalu menuliskan momen-momen yang saya anggap penting dalam hidup, termasuk ulang tahun ini. tahun lalu saya menulis panjang yang isinya doa dan harapan seabreg dan seberat gandum. semua tentang hidup dan harapan saya di hari esok. spesial, meriah, sukses, panjang umur, sehat, kaya raya, dan seterusnya. dengan berulang tahun saya merasa hidup saya akan sempurna. tapi, ternyata belum.

ada kecenderungan saya enggan membaca ulang kata muluk-muluk dalam perayaan ulang tahun itu. ada beban rasanya karena tak terpenuhi. ia saya tuliskan dan saya tinggalkan begitu saja di dalam blog. terserah mau apa dan bagaimana selanjutnya. yang jelas saya telah melaksanakan ritual menulis ulang tahun. payah!

23 ini, saya bisa jadi tak begitu. masa ini adalah masa tersulit dalam agenda saya mencerdaskan dan mengkritisi hidup. ini masa dimana kerangka berpikir saya yang sejak puluhan tahun dibolak-balik oleh sistem baru; ilmu pengetahuan kontemporer. cukup menyesakkan dan membuat galau. salah-salah saya bisa jadi gila.

di hari ini, saya tak mintak apa-apa kepada raja curhat sedunia: tuhan. saya justru belajar berterima, mengapresiasi segala kenikmatan ini. kenikmatan dari orang-orang terkasih dan tercinta. amak, uni-uni, uda-uda, teman-teman, saudara, udara, ilmu, makanan, minuman, pohon, jambu, dan masih banyak lagi. apresiasi terhadap segala salah dan kekeliruan. moga-moga tak lagi sok-sokan, tak lagi egois, berkurang amarah, dan buat hidup ini sederhana tapi bermakna.

saya baca buku, nonton film, berteman dengan hal-hal yang tidak biasa. tonton film yang genrenya berbeda. baca buku yang juga jauh berbeda. tak lagi membaca buku-buku motivasi, buku-buku petualang, buku-buku rohani, tapi buku-buku sejarah pejuang, buku-buku suara orang-orang kecil dan terpinggirkan. terpinggirkan secara usia, etnis, agama, budaya, gender, dan kelas sosial.

inilah yang ingin saya abadikan pada momen ini. politik uang amak saya tidak masalah buat saya. itu adalah model perlawanan terhadap ketidakmampuan beliau memberikan hal lebih kepada anaknya. ya, beliau tidak bisa memberi banyak ilmu serupa orang tua berpendidikan tinggi lainnya. beliau juga tidak bisa mengarahkan masa depan karir seperti apa yang pantas dan cocok bagi anaknya. beliau hanya memfasilitasi dengan uang, karir dan masa depan seperti apa yang diharapkan oleh anaknya. itu saja, bagi saya, sangat cukup sekali.

selamat makan siang

#edisi huruf kecil

3fold room, 9/12/12