Monday, 26 November 2012

Ngayogjazz = Pertunjukan Seni di Societet?



PAGELARAN Ngayogjazz 2012 di desa wisata Brayut tempo hari lumayan membuat saya terkagum-kagum. Selain konsep yang ditawarkan panitia penyelenggara yang tak biasa dan terkesan kontradiktif, antusias penonton juga menjadi poin penting yang tak bisa saya kesampingkan. Penonton iven akbar setiap tahun di Yogyakarta ini memang didominasi oleh anak muda.

Hari itu sejak siang hingga malam hujan tak kunjung berhenti mengguyur kota Yogyakarta. Sementara penyelenggara acara tak mungkin membatalkan pagelaran musik yang kata banyak orang adalah musik bernapaskan perlawanan. Ngayogjazz harus tetap diselenggarakan. Karena anak muda yang banyak itu tak mungkin dihalau kembali pulang.
Pemandangan yang menarik bagi saya adalah langkah-langkah anak muda yang dibalut mantel hujan, berpayung jaket, atau merelakan diri basah kuyup di malam dingin itu. Saya pikir ini pengorbanan yang tak mudah. Ketika diri direlakan terancam pilek esok hari namun logika mengundurkan diri tak terbersit disana, agaknya semangat menonton ini yang berhasil panitia penyelenggara tanamkan dengan cukup baik. Maka, penonton Ngayogjazz malam itu adalah anak muda yang riang gembira nyeker di tengah kampung dan di depan idola mereka.

Anak Muda di Depan Panggung

Di depan panggung keprak, panggung luku, panggung caping, panggung pacul, panggung lesung, dan panggung ani-ani yang terlihat hanyalah deretan anak muda berdiri dengan baik, sesekali menggeleng-geleng atau mengangguk-anggukkan kepala, menggoyang-goyangkan kaki, melambaikan tangan, serta sorak tepuk tangan di tengah hujan malam. Meski telapak tangan dan jari mengeriput karena basah dan kedinginan selama tiga hingga lima jam, jari-jari itu tetap saja tak berhenti melentik-lentik sebagai ekspresi kegirangan. Begitulah reaksi penonton di bawah guyuran hujan akhir tahun 2012 itu.

Jari-jari yang melentik kegirangan itu adalah jari-jari anak muda atau jari-jari yang bersemangat muda. Jari-jari yang kata teman saya adalah jari-jari anak muda dari kelas menengah dan selera musik berbeda. Jari-jari yang datang ke desa brayut itu dengan honda jazz atau skooter matic, meski kendaraan bukan penentu segalanya. Dan jari-jari yang tengah melawan terhadap arus musik dominan baik di kota ataupun negeri ini.

Anak muda memang tak bisa dilepaskan dengan musik dan tetek bengeknya. Pun begitu dengan musik yang mustahil lepas dari anak muda. Hanya saja dalam kotak Ngayogjazz anak muda ini bukanlah anak muda seperti terlihat pada konser-konser musik kebanyakan. Ada beberapa hal yang dapat dilihat dari kriteria anak muda yang datang ke pagelaran Ngayogjazz ini. Selain kendaraan dan penampilan dari anak muda, cara anak muda menonton Ngayogjazz juga berbeda.

Anak muda penonton Ngayogjazz biasanya lebih nyaman berdiri dan beraksi kecil-kecilan di bumi yang mereka pijak, yakni di atas tanah dua telapak kaki itu saja. Tak menyerempet kemana-mana dan tak ugal-ugalan. Anak muda ini juga tidak berteriak-teriak. Sesekali mereka tertawa dan bersorak kecil sebagai ungkapan kegembiraan. Suasana menonton aksi panggung idola ini saya pikir juga menarik. Mereka lebih ‘rapi’ dan ‘tertib’ dalam menonton –saya tidak menyebut ‘rapi’ dan ‘tertib’ itu dalam konsep menyandingkan baik dan buruk. Tapi suasana ini saya cermati sebagai keinginan yang hanya untuk ‘menonton’ –bisa jadi juga belajar bagaimana beraksi di atas panggung bagi mereka musisi muda.

Panggung Ngayogjazz saya umpamakan seperti panggung dimana kesenian tinggi ditampilkan. Pada kesenian tinggi, misal penampilan taeter di panggung-panggung gedung kesenian Societet (nama gedung kesenian di Taman Budaya Yogyakarta), penonton ‘diajarkan’ untuk tidak sembarang melakukan aksi ketika pertunjukan berlangsung. Ada aturan main yang dimainkan oleh aktor di atas panggung ataupun penonton sendiri. Aturan ini sebenarnya sudah dipahami bersama-sama. Tidak lagi disampaikan dalam setiap pertunjukkan.

Saya pikir ada kesamaan dalam pagelaran Ngayogjazz baru-baru ini. Penonton Ngayogjazz memang tidak reaksional ketimbang penonton konser musik pop, rock, atau dangdut. Mereka lebih adem dan tenang. Bukan berarti mereka pasif. Sama halnya dengan penonton konser musik lainnya, aktif. Aturan main yang saya umpamakan dengan pertunjukan kesenian di atas panggung tadi saya gunakan sebagai melihat ada kemiripan dengan pagelaran Ngayogjazz.

Perbedaannya terletak pada ruang. Ngayogjazz di tempat terbuka dan penonton bebas menonton dari sudut mana saja. Bebas berpindah-pindah. Sementara kesenian di gedung-gedung kesenian penonton diharuskan menonton pada sudut pandang tertentu. Misal hanya dari depan, dari awal hingga akhir pertunjukan, penonton berada pada posisi tetap.
Apa arti di balik kecenderungan penonton dan cara mereka menonton?

Menurut saya, meski musik jazz diramu sedemikian rupa di tangan seniman Yogyakarta, keberadaan dan perkembangan musik ini masih berada pada kelas menengah dan atas. Mulai dari siapa yang menonton, cara mereka menonton, ekspresi penonton – meski tontonan ini gratis semacam tontonan rakyat. Tontonan rakyat, tapi rakyat yang mana dulu? Ialah rakyat dari kelas sosial, selera musik yang kata orang tidak dominan –meski jazz mulai mendominan di tengah masyarakat (kelas menengah dan atas baru).
Pun faktor seniman atau budayawan juga tak dapat ditampik dalam hal ini. Si penonton jika bukan dari anak muda kuliahan, eksekutif muda dengan selera musik jazz, pastilah juga mereka yang asyik masyuk berkecimpung dalam dunia kesenian; musik, tari, lukis, sastra, dll. Dunia seniman dan budayawan yang akrab dengan dunia literer atau literacy ini tak dapat dipungkiri masih kurang dipahami oleh masyarakat dominan.

Faktor tempat Ngayogjazz digelar hemat saya hanya berdampak secara ekonomi dan pariwisata kepada penduduk di sana. Di desa wisata Brayut ketika Ngayogjazz digelar, kampung ini memang mendapat pemasukan cukup besar. Ini bisa terlihat dari aktivitas masyarakat desa berjualan sampai tengah malam, losmen-losmen atau penginapan penuh terisi, tukang parkir kebanjiran pendapatan, dan sebagai ajang promosi kampung kepada pengunjung yang menonton. Sementara pada sisi budaya atau kesenian, Ngayogjazz tidak berpengaruh. Karena Ngayogjazz tidak menampilkan ‘pure’ kesenian daerah Brayut meski ada beberapa alat musik tradisi dipakai dalam pertunjukan. Menurut saya, bisa jadi semangat Ngayogjazz –hanya- untuk membantu perkembangan kampung dalam hal pariwisata dan promosi kearifan lokal. Sementara perkara apakah masyarakat setempat menikmati musik jazz atau tidak, bukanlah soal utama.

Politik UKM di Sekolah Pascasarjana



UNIT Kegiatan Mahasiswa pada tataran Pascasarjana agak berbeda semangat dan rohnya dengan program sarjana. Pasalnya selain faktor usia, faktor kepentingan pribadi -atas nama kepentingan UKM- kerap muncul tanpa disengaja atau bahkan disengaja. Bisa dalam bentuk barter produk usaha, promosi usaha, atau menerapkan aturan main sendiri -yang notabene untuk kepentingan sendiri atau kelompok.

Menurut saya agak riskan dan mendulang air di muka, salah dulang kena muka sendiri. Sama halnya dengan politik kepentingan pribadi dalam UKM. Salah langkah, muka sendiri akan dibabat habis karena ulah sendiri yang kepalang 'rakus' dan mau menang sendiri.

Berorganisasi kampus pada jenjang magister saya pikir sah-sah saja dan cenderung dengan kajian lebih dalam. Kalau hanya sebagai iven organizer, saya pikir sayang ilmu yang telah dipelajari pada tingkat magister namun berpikir picik dan hanya berputar-putar soalan uang dan perut. Tak ada yang menarik dan berarti jika relasi antaranggota sudah digantikan dengan kepentingan angka-angka dalam rupiah.

Tulisan ini lahir karena senyatanya begitu terjadi di dunia realitas -sekolah pascasarjana. Memang dimanapun kita berada akan ada oknum-oknum yang tak lagi atau tak tahu -tak mau tahu- cara 'menghormati dan menghargai' kerja kelompok dan perbedaan dalam kelompok. Pernyataan 'kita sudah kepepet' atau 'waktu tak banyak lagi' kerap menjadi kartu truf yang mematikan ide-ide lain dari rekan kerja. Pernyataan ini mampu mengalahkan 'kemukjizatan' kerja kelompok dan partisipasi subjek-subjek yang dianggap 'pinggiran'.

Relasi kuasa -lebih senior, lebih menguasai medan, dan merasa lebih pintar- juga tak dapat dielakkan sebagai pemicu chaos di dalam kerja kelompok. Implikasinya rekan-rekan di bawah yang hanya menunggu utusan -karena memang begitu digariskan di dalam rapat- adalah korban-korban dari kuasa-kuasa si penimbul chaos tadi. Sebagai bawahan, suara dan pendapat -meski masih didengar- tapi tak dianggap. Sehingga hasil kerja bawahan hanyalah kerja ecek-ecek yang tak dipandang dan kalau dinilai tak lebih basa-basi. Begitulah.

Fenomena ini menarik diungkap karena antara si bawahan dan atasan yang berbeda hanyalah usia. Sementara pendidikan berada pada jenjang yang sama, pun pengalaman bekerja sama secara tim tak jauh beda. Hemat saya, semangat kerja tim terletak pada etika bekerja sama (menghormati perbedaan, memberi peluang kepada rekan kerja mengaktualisasikan diri, serta musyawarah mufakat) bukan kepada siapa kuat dia menang, bukan kepada dia merasa pintar kemudian semena-mena, dll.

Jika siapa kuat dia menang diterapkan dalam kerja tim pada tataran magister, akan menjadi sangat lucu dan norak. Bagaimana tidak, rekan kerja bukanlah orang-orang bodoh dan terima begitu saja setiap putusan yang dihasilkan. Rekan kerja adalah subjek-subjek mandiri, tak pasif, dan sangat kualitatif dalam berbagai hal. Rekan kerja bukan angka meski posisi mereka adalah anggota atau sebagai 'pembantu' dalam kerja tim. Agaknya memposisikan rekan kerja sebagai subjek yang tak berbeda jauh dengan diri sendiri lebih penting dan lebih arif.

Tulisan ini hanya buat lucu-lucuan ketika berada dan mencoba mencari banyak teman di pascasarjana. Tujuannya tidak lain sebagai kritik diri. Meski begitu, tulisan ini menjadi semacam pengingat bahwa pada tataran magister berorganisasi tidaklah sama dengan tataran program sarjana tahun-tahun lalu. Bukan buruk, hanya saja agak norak dan butuh belajar banyak perkara politik -bagaimana berpolitik secara lebih halus.

Tuesday, 6 November 2012

Budaya Minoritas di Era 2.1



ADA kecenderungan ‘baru’ dalam arus globalisasi terhadap budaya termasuk di dalamnya identitas suku bangsa, bahwa budaya minoritas semakin mendapat tempat di kalangan individu –yang mayoritas- baik sebagai suatu kekayaan budaya ataupun sebagai objek eksotik atau kajian. Budaya minoritas semakin hari semakin mewarnai informasi-informasi di media massa. Ini sebuah kemajuan? Atau cara tersendiri bagaimana media menampilkan budaya minoritas dengan segala keunikan, kebesaran, atau bahkan ‘keterbelakangan’ budaya itu yang berujung pada eksplorasi budaya menjadi sebatas komoditas media belaka –tanpa pemberdayaan. Entahlah!

Menarik ketika VOA Indonesia memberitakan bagaimana suku Aborigin di Australia ditampilkan meskipun itu hanya sebatas drama televisi. Tak sampai di sana, sudut pandang yang dipakai pun saya pikir bias dengan berbagai hal. Misal, ditampilkan bahwa kehidupan suku ini penuh dengan kekerasan, kemiskinan, dan alkohol –tentu saja pada pandangan sepihak si pembuat film. Berita ini ditampilkan seolah-olah tidak ada tendensi apa-apa terhadap suku Aborigin –yang tentu saja tidak semodern kaum modern kebanyakan. Penggambaran cerita dan karakter saya pikir belum mewakili sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi dan menjadi budaya ‘luhung’ dari suku tersebut.
Berikut saya kutipkan berita Budaya Aborigin Muncul dalam Drama Televisi (Senin, 5 November 2012) :

SYDNEY — Drama mengenai suku Aborigin di Australia ditayangkan untuk pertama kalinya dalam televisi nasional di negara tersebut. Drama berjudul Redfern Now itu mengeksplorasi realitas narkotika dan obat-obatan terlarang serta kemiskinan di sebuah distrik di kota Sydney, dan merupakan bagian dari kebangkitan budaya Aborigin di Australia.

Redfern Now adalah drama televisi Australia pertama yang diproduksi oleh penulis dan sutradara dari suku asli, yang bekerja sama dengan penulis naskah pemenang penghargaan dari Inggris, Jimmy McGovern.

Serial enam bagian tersebut menampilkan aktor yang sebagian besar orang Aborigin. Perlu dua tahun untuk membuat film tersebut dan sebagian dana diperoleh dari pemerintah Australia.

Kritikus televisi David Knox mengatakan serial itu merupakan penggambaran realistis dari kehidupan di Redfern, sebuah daerah perumahan di dalam kota Sydney.

“Salah satu yang paling mengesankan saya mengenai serial ini adalah bahwa dalam di tengah kesulitan – kemiskinan, alkoholisme atau kekerasan, ada cinta tanpa pamrih yang mengedepan,” ujarnya.

Redfern memiliki sejarah yang kelam. Ada berbagai kerusuhan pada 2004, dan meski kemiskinan dan ketimpangan terus bertahan, para tetua adat mengatakan serial televisi tersebut akan menjadi sumber kebanggaan masyarakat suku asli.

Serial tersebut ditayangkan oleh stasiun ABC.

Produser Rachel Perkins mengatakan bahwa Redfern Now mengikuti kesuksesan artistik suku Aborigin baru-baru ini dalam film, tari dan teater.

“Ada banyak investasi untuk sampai di sini. Dan momen ini harus ditandai dan dirayakan karena ditayangkannya serial ini pada slot utama di ABC menunjukkan konten yang bagus, berkualitas dan berbobot, dan termasuk konten dan pembuatan film yang paling baik yang ada di Australia saat ini,” ujar Perkins.

Redfern Now sebagian diproduksi oleh tim Aborigin yang menghasilkan film Australia yang banyak dipuji, The Sapphires. Dirilis awal tahun ini, film tersebut dan mengisahkan empat perempuan muda Aborigin yang ditemukan oleh kompetisi pencari bakat bernyanyi di pedalaman Australia dan kemudian menghibur pasukan AS di Vietnam.

Didasarkan pada kisah nyata, para penyanyi tersebut diambil dari pedalaman dan dinamakan The Sapphires, serta dianggap sebagai padanan lokal kelompok asal Amerika yang terkenal The Supremes.

Kelompok tari dan seniman suku asli telah menikmati keberhasilan pada tahun-tahun terakhir, seiring penghargaan yang lebih dalam dari Australia terhadap warisan yang berasal dari lebih 50.000 tahun lalu. Hal ini telah membawa manfaat. Produksi Redfern Now membuka 250 lapangan pekerjaan untuk orang Aborigin di Sydney.

Suku Aborigin merupakan 2 persen dari populasi Australia, dan sejauh ini merupakan kelompok yang paling terpinggirkan, mengalami tingkat kemiskinan, pengangguran dan kesehatan buruk yang tinggi.


Saya pikir, kajian bagaimana pemerintah yang berkuasa dan tentu saja bersama dengan media mengonstruksi suku-suku yang minoritas ditampilkan, dilombakan, dianalisis, dikaji ulang, dan coba didefinisikan kembali, adalah salah satu cara untuk ‘memanusiakan’ mereka. Tidak bermaksud lebay, dan tidak hanya VOA Indonesia yang memberikan berita seputar budaya minoritas di Indonesia atau di dunia, media cetak dan elektronik lain juga berbuat serupa. Kepedalaman mereka diteliti, dibuat hipotesa, kemudian menjadi produk dari pengetahuan yang kelak –lebih banyak- dikomersialkan.

Bagaimanapun juga, media tidak berdosa sepenuhnya. Pun dengan media kehadiran budaya minoritas justru tengah diperjuangkan; baik budaya yang mereka miliki maupun keberadaan mereka secara fisik dan simbolik sedang mulai diakui dan dihormati. Ini bisa dikatakan dampak positif dari peran besar media, meski dampak lain juga perlu dipertimbangkan.

#foto dari VOA Indonesia


Sunday, 4 November 2012

Andai Aku Menjadi Ketua KPK



SEMASA SD, sekitar 15 tahun lalu, bu guru menyuruh saya menjualkan dagangan beliau berupa gorengan dan es lilin di sekolah. Alasan bu guru, karena saya pintar dan punya banyak teman. Riang gembira saya menjual panganan itu pada jam istirahat. Banyak yang laku. Ketika bel tanda sekolah usai, saya melaporkan hasil penjualan dan –yang saya tunggu-tunggu- bu guru memberi saya upah sekian ribu rupiah dari jerih payah itu. Ibu dan ayah tahu hal ini. Mereka diam saja, mungkin terlalu sibuk berjualan kian kemari. Sudahlah, yang pasti saya mendapat tambahan jajan waktu itu.

Ketika saya menonton film pendek Kita vs KPK yang settingnya di sekolah dengan tema yang sama; membantu guru berjualan kemudian mendapatkan komisi, saya terbahak sekaligus insaf. Satu sisi ini tamparan bagi masa lalu saya di SD. Sisi lain, ya, bisa jadi ini salah satu perilaku kecil yang tidak disadari, guru maupun siswa, yang kelak berpotensi besar pada perilaku gemar korupsi. Memang, ucapan terima kasih dari orang dewasa kepada anak kecil atau remaja sering dalam bentuk uang tunai ketimbang yang lain. Ini dianggap simpel dan lebih ampuh. Tapi, coba bayangkan dampaknya kelak, saya yang baru 8 tahun sudah diajari oleh guru sendiri untuk belajar menerima ‘gratifikasi’, meski ‘gratifikasi’ itu dibungkus dengan retorika ‘upah belajar kerja keras’. Retorika yang luar biasa!

Nah, kemudian saya ditantang oleh KPK RI beserta Tempo, apa yang akan saya perbuat seandainya saya menjadi ketua KPK. Bagi saya fungsi dan tugas KPK RI secara tertulis sudah sangat mulia, mantap, komprehensif, dan sangat Pancasilais. Pelaksanaannya juga sudah profesional, patuh etika, dan sangat signifikan membuat koruptor bergidik selama 12 tahun ini. Tapi, kenapa koruptor tak jera-jera di negeri kita? Sejenak, mari kita berkaca siapa diri.

Hemat saya, suap dan gratifikasi sebagai awal dari perilaku korupsi bukanlah budaya bangsa kita. Perilaku ini membumi karena etika, nurani, dan budaya malu menyusut. Ia tak lebih dihargai dari lembaran ‘apel malang’ dan ‘apel washington’ saja. Sementara itu, cepat lupa akan saudara yang hidup di bantaran kali seperti tumpukan sangkar burung; berisik, kumuh, lapar, dan (di) bodoh (kan). Belum lagi mirisnya mereka yang buruh diobral di negeri tetangga bak pakaian bekas. Sementara, pajak mereka bertriliun itu dijarah, digondol ke negeri orang, dan dipakai sesuka hati hanya untuk kepentingan perut sendiri. Seberapa canggih pun sistem, hukum, undang-undang dibuat untuk memberantas korupsi jika nurani dan etika kita tak lagi utuh melekat pada badan, saya mengundurkan diri saja jadi ketua KPK.

Bukan saya pesimis, bukan saya tidak cinta Indonesa, tapi mari kita mulai bekerja pada level bawah dan kecil-kecil menyangkut etika, nurani, dan budaya malu. Misalnya, di keluarga, di sekolah, di kelurahan, di kantor camat, di jajaran birokrasi, di kantor pajak, di partai-partai, di LSM, di APBD-APBN, di BUMN, di swasta-swasta, dan seterusnya. Saya heran, kenapa kita tidak malu menyuap? Dan tidak merasa terhina menerima suap? Bukankah menyuap dan menerima suap itu sebagai tanda kita lemah, bodoh, tapi kalah dengan hasrat kemaruk dan loba. Jika posisi Abraham Samad itu diganti dengan saya, selain hukum dan keadilan memang harus tegak dengan semestinya, hukum masyarakat pun (norma, etika, budaya, adat, dll) juga harus dikaji ulang, didefinisikan kembali, dan diterapkan sesuai dengan asas-asas kemanusiaan dan keadilan universal.


#foto dari google.co.id