Monday, 17 September 2012

Industry + Life Style = Prestige?



KETIKA maskapai Garuda Indonesia menggandeng brand sebesar Liverpool sebagai rekan kerja mereka, kira-kira apa yang terbayang oleh segenap jajaran Garuda dan rakyat Indonesia yang menonton ketika The Reds berlaga? Satu bayangan yang tak mungkin disangkal adalah logo dan tulisan Garuda Indonesia menari-nari di papan Light Emitting Diode (LED) yang mewarnai tepi lapangan di Stadion Anfield. Bukan main kembang kempisnya hidung! Bangga?

Dunia bola (baca; sepak bola) sudah menjadi rahasia umum bukanlah dunia olahraga dan industri semata. Dunia bola telah bertransformasi menjadi gaya hidup atau life style -dan tengah bertransformasi entah akan menjadi apa lagi setelah ini. Ia adalah dunia yang addict sekaligus dengan peminat terbanyak sebagai primadona di bumi. Hampir genap seratus persen penduduk bumi ini -barangkali termasuk setan dan malaikatnya- mengelu-elukan agar jagoan mereka mencetak gol sebanyak mungkin di karpet hijau. Dunia yang tak bisa diterima dengan akal sehat jika anda duduk di kursi reliji sekalipun.

Kembali ke Garuda. Kenapa Garuda menggaet Liverpool? Sementara Barcelona, Chelsea, Real Madrid, MU, dan banyak lainnya justru tak dilirik? Faktor ekonomi sepertinya tak bisa disangkal dalam urusan gaet-menggaet ini. Liverpool adalah klub yang cukup tua dan terbesar di Britania Raya. Tentu Garuda melihat ini tidak semata tua dan besar. Tapi pasar The Reds (baca; fans) di Asia dan bahkan merembes ke Australia -tempat Garuda jeda setelah capek hilir mudik terbang- tak kalah besar dibanding dengan di Benua Biru, Amerika, serta Afrika. Nominal ini tak boleh Garuda abaikan setelah riset panjang hingga memutuskan kontrak dengan Liverpool untuk tiga tahun mendatang.

Lalu, kemudian muncul sentimentil dari dalam negeri kepada Garuda seperti dari PSSI, Tim Nasional -baik anak asuhan maupun pelatih asuhannya- serta persi-persi lainnya. Kenapa tidak kami? Sembari menunjuk hidung dengan nada agak cemburu. Jika begitu, saya juga bisa sentimentil dengan gugatan bernada lokalis-nasionalis. Kenapa Garuda tidak menggaet Semen Padang FC saja? Itu kan klub bola dilengkapi sejuta rasa khas makanannya yang sudah diakui oleh seluruh lidah penghuhi jagat ini bahwa maknyuss! Dengan maknyuss apakah Garuda tidak melihat peluang pasar yang jauh lebih besar, menjanjikan, dan sangat nasionalis?

Ehm! Jawabnya, boleh jadi agak sedikit sinis dan membuat gerah para pejuang sepak bola negeri ini. Ketika Garuda menggaet klub anak negeri artinya sama saja ia ‘dipaksa’ bertransformasi menjadi transportasi darat. Maka akan ada Garuda Busway, Garuda Oplet, Garuda Tranex, atau bahkan Garuda Bajaj. Tentu ini tidak lucu, mengingat secara kualitas, Indonesia memang tak punya maskapai yang diandalkan selain burung besi satu ini. Jadi, perhitungan matematisnya tidak sesederhana itu.


Prestise akan Barat

Dalam konteks asuhan, Garuda memang tidak lahir yatim piatu. Ia anak kandung negeri ini yang selalu disuapi 4 sehat 5 sempurna plus disekolahkan dengan sebaik-baiknya sekolah (baca; perusahaan BUMN). Sebagai anak yang lahir di negeri ini, cita-cita memajukan dan meng-internasionalkan tanah air memang agak wajib hukumnya. Di sini prestise atau gengsi dimulai dan dipertahankan.

Kembali ke paragraf pembuka tadi. Jika logo dan tulisan Garuda menari-nari di depan jutaan pasang mata anak negeri di Stadion Gelora Bung Karno, bandingkan dengan di Anfield yang katanya sangat internasional itu, hampir tak ada prestisenya. Bukan lantas tidak nasionalis. Alasannya, suporter bola yang justru ramai di teve karena berita sumbang ini hampir-hampir jarang duduk di kursi Garuda, itu pertama. Dan kedua, sangat dipercaya mereka tidak akan menghadiri tanding Liverpool di Anfield kecuali di layar kaca. Faktor utama tentu saja perihal biaya. So, secara tak tik ekonomi saja option ini tak memperlihatkan statistik menanjak. Apalagi prestise. Maka pikir-pikir lagi.

Di sini, keputusan Garuda menggaet The Reds menjadi partnership tak sebatas mengharapkan keuntungan ekonomi, tapi agaknya juga mengangkat wibawa -agar lebih internasional- sebagai maskapai penerbang nomor wahid di Indonesia. Sekedar pengingat, sebagai bekas jajahan Barat (Eropa), kebanyakan kita (lapisan bawah, menengah, atas) serta lembaga swasta dan pemerintah di negeri ini menganggap Barat masih agung dan patut dicontoh sedetil-detilnya. Bangsa ini masih menjadikan Barat sebagai kiblat ekonomi, politik, dan budaya hingga abad dan detik ini. Ini tidak kebetulan, ini adalah warisan tuan-tuan majikan sejak berabad lalu.

Ketika Garuda Indonesia disebut-sebut di tengah ribuan pasang telinga orang Barat menjelang laga tanding Liverpool, saat itu mungkin Garuda tengah bernostalgia akan masa silam dengan bangsa Eropa. Atau jangan-jangan ini strategi cerdas Garuda ingin memberikan ‘pengaruh’ dan pelan-pelan memasang ‘candu’ kepada Barat agar ‘equal nation’ itu semakin jelas terbentuk. Apakah cara halus berbungkus industri ini mengusung semangat untuk kedigdayaan Indonesia kelak? Entahlah. Tapi, jika semestinya memajukan bangsa ini masih dengan gengsi akan Barat, cara Garuda layak diberi applause meski gemeretak gigi tak sanggup disurukkan.

#foto dari internet

Thursday, 6 September 2012

Lips Service dan Pandangi Munir dari Jauh


Sejak tiga hari belakangan, profile picture dan avatar teman-teman, baik di jejaring sosial Facebook maupun Twitter dipenuhi oleh gambar Munir dengan berbagai warna dan ekspresi. Kebanyakan berlatar belakang merah. Ada pula dilengkapi dengan kata 'Keberanian Bernama Munir'. Aksi ini tentu tak ada sebab. Pemasangan gambar aktivis hak asasi manusia, Munir, di akun jejaring sosial mereka adalah bentuk protes paling minimal terhadap pihak yang harus bertanggung jawab atas tragedi pembunuhan itu.

Voice of America (VOA) Indonesia juga menampilkan berita tentang 'peringatan' pembunuhan terhadap aktivis ini. Aksi teaterikal pun digelar sebagai protes terhadap pemerintah SBY yang terkesan menunda-tunda dan menebarkan janji palsu untuk menuntaskan kasus ini. Ketika VOA memberitakan aksi protes ini, tentu dunia internasional secara langsung diberitahu, begini lho keadilan hukum di Indonesia itu adanya. Dan, seharusnya ini menjadi cambuk bagi rezim SBY untuk segera menuntaskan hutang yang belum terbayar. Baiknya juga ada rasa malu ketika rakyat dan media membuka mulut atas kesewenang-wenangan hukum di sini. Berikut saya kutipkan berita dari VOA Indonesia yang termuat pada Rabu, 5 September 2012.

Kasus Pembunuhan Munir Harus Diungkap Secara Tuntas

Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (Kasum) mendesak agar kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalid diungkap hingga tuntas.
Delapan tahun telah berlalu sejak dibunuhnya aktivis hak asasi manusia, Munir Said Thalib pada 7 September 2004.

Ketua Tim Legal Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (Kasum) Chairul Anam kepada VOA, Selasa (4/9) menyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus bertanggung jawab untuk menuntaskan kasus kematian Munir.

Ia menilai Presiden Yudhoyono telah ingkar janji karena telah mengabaikan kasus tersebut, padahal beberapa saat setelah kematian Munir, Presiden berjanji akan menyelesaikan kasus tersebut secara tuntas.

Presiden, menurut Anam, sebenarnya saat ini dapat memerintahkan Jaksa Agung Basrief Arif dan Kapolri Jenderal Timur Pradopo melakukan penyidikan ulang untuk persiapan peninjauan kembali.

Ia menambahkan, jika Presiden tidak mau menyelesaikan kasus Munir secara tuntas berarti reformasi di badan Intelijen Negara tidak akan berjalan secara baik karena badan ini diduga terlibat dalam pembunuhan aktivis HAM Munir.

“[Presiden Yudhoyono] mengabaikan begitu saja padahal dia punya kuasa untuk itu. Tidak melakukan itu berarti menunjukan komitmen Presiden ini sangat lemah. Ia akan tercatat dalam sejarah sebagai presiden yang hanya tebar janji tanpa adanya tindakan konkrit kasus Munir,” ujar Anam.

“Jaksa Agung sudah memberi lampu hijau untuk PK (Peninjauan Kembali) tetapi memang saya nilai Jaksa Agung ragu-ragu karena memang tidak ada dukungan dari Presiden, sebab dia paham betul kasus ini kalau tidak ada dukungan dari Presiden juga susah karena dia tahu pelaku, konspirasinya kayak apa dan sebagainya. Itu problem yang mendasar.”

Anam menambahkan Komite Aksi Solidaritas untuk Munir juga terus meminta dunia
internasional untuk terus mempertanyakan penyelesaikan kasus pembunuhan Munir kepada Presiden Yudhoyono.

Suciwati, istri almarhum Munir, mengatakan penuntasan kasus kematian Munir ini sangat penting agar tidak ada lagi aktivis yang dibunuh atau disiksa karena perjuangannya. Suciwati mengatakan hingga saat ini dia terus berjuang agar kasus kematian suaminya dapat dituntaskan.

“Sampai saat ini saya masih terus meminta kasus ini dituntaskan karena ini persoalan kredibilitas bangsa kita seperti yang di ungkapkan presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono,” ujarnya.

Sementara itu Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha menyatakan Presiden Yudhoyono sangat mendungkung pengungkapan kasus kematian Munir. Sejauh ini, kata Julian, kasus yang berkaitan dengan kematian Munir sedang ditangani di kejaksaan dan kepolisian.

“Kalau memang ternyata ada temuan baru, secara prosedur bisa diterima, diteruskan sebagai suatu upaya pengungkapan baru. Untuk berkaitan dengan isu-isu berkaitan dengan HAM segera diproses, diselesaikan atau dituntaskan.

Munir Said Thalib tewas di dalam pesawat Garuda dalam penerbangan menuju Belanda pada 7 September 2004 lalu karena diracun. Dalam kasus ini, pengadilan telah memvonis dua orang yakni mantan pilot Garuda Indonesia, Pollycarpus Budihari Priyanto, dengan hukuman 20 tahun penjara dan mantan direktur utama PT Garuda Indonesia, Indra Setiawan, dengan hukuman 1 tahun penjara. Sedangkan mantan deputi penggalangan BIN Muchdi Purwoprandjono divonis bebas oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.


Ketika kita membaca berita ini, kita memperoleh, selain informasi akan protes terhadap kasus pembunuhan Munir yang tak kunjung selesai, di balik ini semua, bagaimana kasus ini seolah-olah disetting untuk selalu ditunda-tunda hingga kelak para pemprotes capek, bosan, kemudian melupakan. Bukankah pemerintah kita selalu punya alasan untuk menunda? Termasuk menunda untuk maju!

Kenapa? Delapan tahun sudah sejak peristiwa unsportif itu terjadi, kasus ini tak kunjung menemukan pangkalnya. Jelas terlihat, belum ada atau bahkan tak ada niat baik dari pemerintah untuk benar-benar berkomitmen membangun negara yang demokratis dan menjunjung hak-hak asasi manusia. Padahal, andai saja pemerintah jeli dan dilengkapi gaul, bagaimana kemerosotan kepercayaan rakyat terhadap rezim ini semakin dalam. Hal ini terlihat dari ungkapan keprihatinan pada negara yang gagal serta doa untuk Munir dan orang terdekatnya berseliweran di jejaring sosial.

Dan meski lebih banyak di jejaring sosial, hendaknya pemerintah tidak menggampangkan hal ini. Kita tentu ingat bagaimana negara-negara otoriter di Afrika Utara tumbang baru-baru ini justru karena pemprotes gigih unjuk gigi meraup massa di jejaring sosial. Hasilnya, Hosni Mubarak, Muammar Qaddafi, serta raja lainnya, rela tak rela harus melepaskan kukunya di sana! Rezim SBY harus belajar dari peristiwa ini meski kiamat masih jauh.

Dan, apakah rezim SBY tak membaca konteks ketika penundaan penyelesaian terhadap kasus ini semakin lama justru membawa bumerang bagi mereka. Lihatlah, lagi, di jejaring sosial, tiga atau lima tahun lalu masih sedikit anak muda yang kenal siapa Munir dan apa pekerjaannya. Namun sekarang, tanpa kenal secara langsung pun, hanya melihat orang ramai memakai gambarnya di Facebook dan Twitter, maka tidak sedikit anak muda ikut serta bersolidaritas memasang dan kemudian tentu mencari tahu siapa Munir. Atau sebaliknya. Untuk itu, ada bagusnya rezim ini tidak main-main dengan ungkapan 'Melawan Lupa' bagi Munir.

Jika penundaan pengusutan terhadap kasus ini semakin diperpanjang dan protes di sana sini setiap tahun, dalam kaca mata rezim ini, sudah menjadi ritual saja, maka bersiaplah akan ada gerakan atau ledakan paling besar dan masif atas kekecewaan rakyat terhadap pemimpinnya. Bukankah perut yang selalu diisi tanpa pernah melakukan ritual ekskresi akan meledak dan masuk peti? Sebenarnya malam belumlah begitu tua bagi rezim ini untuk pergi ke toilet dan berkata sejujur-jujurnya.

#foto dari grafisosial.wordpress.com

Monday, 3 September 2012

[Catatan] Perayaan yang Tertinggal dan Perayaan yang Alakadarnya


MEMANG agak aneh kelakuan kebijakan dimana teman-teman Robin yang bekerja di buruh pabrik. Pabrik itu memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2012 persis jatuh pada Sabtu, 1 September bulan sesudahnya. Alasan pabrik menurut teman Robin, karena hari itu umat Islam tengah menjalani ibadah puasa dan banyak instansi, departemen, serta pabrik sudah meliburkan karyawan mereka. "Dan kami merayakannya di tengah-tengah padang luas!" kata teman Robin.

Konstruksi aneh di kepala Robin bukan datang secara kebetulan. Ya, karena banyak hari lain yang bisa dipakai jika memang ingin memperingati. Itu kesatu. Kedua, perayaan ini sama sekali tak terlihat dari atribut yang teman Robin kenakan. Seperti pergi ke pabrik untuk menjahit dan memotong kain, begitu juga dengan pergi memperingati HK. Lalu, kebanggaan apa yang teman Robin dapatkan?

"Kita di sana hanya kumpul-kumpul, makan-makan, ketawa. Eh, kemaren ada dangdutan. Itupun yang ikut para yang di atas. Kita di bawah hanya berjemur sembari menyeruput es degan sambil nyengir kepanasan." Tentu saja cerita ini Robin tambahkan di sana-sini agar terlihat dramatis. Tapi, percayalah tak mengubah isi apa yang teman Robin katakan.

Sebagai buruh pabrik, Robin sadar, betapa senangnya teman-teman Robin mendapatkan baju kaos pembagian yang bahannya cukup tebal serta ada embel-embel motivasi di punggungnya. Baju kaos model begitu untuk beberapa teman Robin serta usia yang masih belia, cukup menyenangkan dan mengembalikan harapan mereka kepada pabrik yang pernah kejam dan terkesan sadis. Dengan kaos pembagian itu, pabrik membangun ulang citra yang pernah merosot dan mati-matian meyakinkan teman Robin.

Dan hasilnya, teman yang belia, masih melajang, serta tak dikejar-kejar deadline mantenan, cukup terhibur dan bersemangat menjahit serta memotong kain lagi. Sedangkan teman yang sudah cukup umur, hampir menginjak kepala tiga, single, serta merasa dikejar-kejar deathline mantenan, akhirnya mengundurkan diri. Dalam kepala Robin, cita-cita mereka ternyata lebih mahal dari kaos pembagian.

Sebenarnya Robin tak hendak bermaksud menulis perihal yang mendekati fitnah atau mengintip tapi buta segalanya. Cerita di atas fakta dan silahkan dikonfirmasi. Hanya saja mereka tidak selancang Robin. Tersurat, ada memang mereka keberatan sekaligus riang alang kepalang dengan dekonstruksi citra ini. Sekali lagi, mereka tidak seberani dan seterbuka Robin berbicara kelemahan-kelemahan di sana sini. Robin maklumi itu. Maka menulislah Robin.

PR Besar di Hari Kemerdekaan

Memperingati HK memanglah tidak hanya merayakan di sana sini dengan atribut yang merah putih. Jika Robin boleh sombong, adalah perjuangan memperoleh kemerdekaan itu yang harus diteruskan hingga sekarang dan masa mendatang. Jika 67 tahun silam para pendiri negeri ini memperjuangkannya berdarah-darah serta tak sebanyak sekarang beliau-beliau sebagai pencetus kemerdekaan, maka saat ini para pemikir atau pencetus banyak sudah. Kondisi ini, tanpa dijelaskan lagi, sudah bercerita betapa kemerdekaan ini tidak lagi dipenuhi oleh rodi dan romusha hanya dengan seragam yang sedikit berwarna.

Jika rodi dan romusha masih merajalela dan kita bangga dengan itu, maka HK tinggal simbol dan kering makna. Bukan berarti Robin melarang merayakan HK. Dan bukan Robin pesimis terhadap negara dan bangsa ini. Hanya saja pemilik negara dan bangsa ini -para kuasa dan kekuasaan (dalam kacamata kebijakan)- masih terlena dengan kemegahan-kemegahan yang baru diicap. Setelah sekian tahun duduk di ruangan penuh AC dan tak menyentuh gagang sapu, ternyata mereka juga tak kunjung puas. Ada lagi manuver yang kepentingannya jauh dari kepentingan pemilik sejati bangsa ini -rakyat- (dalam kacamata nasionalis).

67 tahun, ternyata rakyat belum merdeka. Jangankan merdeka seutuhnya, merdeka terhadap diri sendiri saja masih terkatung-katung. Ini terjadi tentu saja oleh kuasa dan kekuasaan, boleh juga dikatakan oleh pemilik modal terbesar, menengah, serta kecil di negeri ini. Bagaimana kekuasaan dan pemilik modal menghidupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan mereka tapi merenggut hati dan pikiran mereka. Tentu saja kerugian yang diderita tak bisa dinominalkan dengan Rp 2-5 juta per bulan. Mereka jika tak segera dibawa ke dokter nasionalis akan mengidap penyakit permanen. Dan secara tak sadar akan ditulari kepada orang-orang terdekat mereka, istri suami anak dan seterusnya. Inilah kerugian bangsa kita yang direncanakan serta diharapkan oleh bangsa lain yang hasrat untuk berkuasa tak pernah padam.

Keberadaan Robin di tengah mereka, tak banyak membawa pengaruh. Paling kecil pengaruhnya adalah kurangi menguping pembicaraan orang, kurangi bergosip di belakang orang, dan kurangi bersangka aneh-aneh terhadap orang. Untuk menumbuhkan mode hidup macam begini sangatlah sulit. Robin harus membukam di kamar karena capek mendengarkan cerita yang biasa-biasa saja dari tetangga perihal tetangga kedua. Mungkin ini tak ada sangkut pautnya apalagi efek kuasa seperti yang Robin guratkan di atas. Ya memang tak ada. Jelas sekali Robin hanya berfatwa macam-macam. Seperti fatma Jumat di kampung kecil di sudut kota ini.

Biarpun begitu Robin juga tetap menuliskannya. Mana tahu ada yang menilai catatan ini dari sudut pandang berlainan. Dan melakukan hal yang sama meski itu omong kosong bagi mereka yang biasa menjualnya demi keakraban dan sok kepedulian.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-67 17 AGUSTUS 2012

#foto internet