Monday, 27 August 2012

Robin & Keluarga Ucapkan Selamat Idul Fitri 1433H Mohon Maaf Lahir dan Batin Dunia Akhirat



LEBARAN kali ini Robin tak berkumpul dengan amak dan para abang serta uni di Bengkulu. Kebetulan tante Robin mengadakan lebaran juga di cikarang Bekasi. Maka Robin putuskan meramaikan lebaran di sana. Bukan tak ingin pulang, ya karena tiket pesawat sangat mahal buat Robin tahun ini. Maklum Robin baru sadar kalau 2012 ini Robin jauh dari amak dan abang serta (edisi Robin sakaw).

Di Cikarang Robin ditemani oleh selain tante dan pak etek, ada juga Fadilla Jamsi serta Fani Jamsi. Duo jamsi ini bisa dikatakan nakal, bisa dikatakan cukup cerdas. Nakal, karena mereka belum 17 tahun dan suka berteriak ke abang-abang penjual somay keliling. Dikatakan cerdas, mereka berdua sudah fasih mematikan dan menyalakan televisi, hehehe.

Nah, siang malam Robin habiskan waktu merapikan rumah, tentunya sebelum duo jamsi itu bangun dari mimpi hulahop mereka. Jika suda bangun, Robin baru sadar, pantesan etek malas-malasan membereskan rumah. Toh bakal diobrak-abrik duo jamsi lagi. Sendal sepatu yang tadinya di tempatnya tiba-tiba pindah ke atas kepala. Gayung mandi yang tadinya di kamar mandi eh sudah hijrah saja ke kamar tidur. Dan korek api jika tak
dikawal dengan baik bisa membakar rumah tetangga yang tengah mudik jika di tangan Dila. Maka Robin berubah seperti etek. Tak apa sendal di kepala, asal tak lewat kerongkongan saja :)

Begitulah lebaran Robin 2012 ini. Selain silahturahmi ke rumah sodara pak etek di sana, Robin juga diajak berlebaran keliling Jakarta bersama duo jamsi yang selalu ada alasan untuk berteriak. Mereka tak pernah kehabisan tenaga. Meski minum makan cuma susu, somay, bakso, es, dan gula-gula, cadangan energi tak pernah disangsikan. Berteriak adalah salam selamat datang dan keakraban!

Oiya, lebaran ini Robin sampaikan selamat lebaran semoga banyak dapat THR dan angpao dimana-mana. Yang paling penting tentu meraih kemenangan dalam bentuk apapun. Selamat lebaraaaaaaan!

#foto koleksi pribadi

Si Robin Galau Menjelang Lebaran



CERITANYA begini bror. Menjelang lebaran, galau akan baju baru memang selalu melanda. Bagaimana tidak, jika seseorang berduit cukup namun tak punya banyak waktu melalang ke mal-mal, ini mampu mengguncangkan dunia persilatan si Robin. Ditambah lagi riuh ramai mereka yang gajian terlebih dahulu dan berteriak sepulang dari lapak penjualan baju. Guncangan makin tak terelakkan.

Akhirnya Robin memutuskan menutup mata. Ketika Honda Jazz parkir di depan kosan dan menunggu menenggerkan baju-baju ke bagasinya, Robin gigit jari dan menangis semalam; takkan ada moment memilih baju dan berlagak riang di fitting room, hikz. Lebaran tiba-tiba lebih kejam daripada macetnya jalur Nagreg.

Untungnya ada hadiah dari Bali beberapa waktu lalu. Itupun pas-pasan dipakai di tengah keluarga besar. Maklum, model santai dan tak ribet. Sebenarnya ini gambaran watak aseli. Bahwa Robin itu tak ingin ribet dan tak prosangat feminin. Cukup bercelana jins atau belel dengan atasan longgar mudah bergerak seperti orang hendak tawuran plus selendang dijejalkan seadanya di kepala. Cukup! Tak lebih dan tak perlu
kembang-kembang murahan.

Tapi hati, jantung, dan kesialan tak hendak kompromi. Maka lahirlah hasrat yang tidak-tidak; ingin jilbab modis semodis artis sinetron dengan blus muslim yang harganya selangit. Maklum itu bahan blus 1000% catton. Dan, kebanyakan dipakai oleh perempuan muda yang broker; moneygirl! Bagaimana dengan Robin yang gajinya seangin di atas UMR kota ini. Aih, jangan berlagak kaya deh! Kalau miskin tak usah sok kaya. Robin cries so bad!

Tapi bukan Robin namanya kalau tak mampu memuaskan diri sendiri (bukan dengan masturbasi lho, mbekekek!), tentu dengan cara yang masuk akal dan sangat manusiawi. Caranya, melihat-lihat model jilbab modis dan sangat update menit itu. Dengan melihat saja, Robin merasa itu sudah cukup. Untuk membeli dan mengenakannya, tunggu dulu! Pertama karena kemampuan rupiah yang memang cekak, kedua itu model lu banget gak sik?
Dan tanya kedua ini yang memikirkan ulang untuk berbelanja dan ikut modis. Robin has won!

Cuci Mata Kedua; Pesta Nikah Penuh dengan Karyawan Modis!

Nah, ini satu lagi peluang cuci mata tanpa mesti mengeluarkan uang. Setiap perempuan yang tampak, jilbab dan pakaian muslimah mereka memang cantik-cantik. Soal serasi dengan kulit itu soal nanti. Yang jelas, Robin salut dengan percaya diri yang mereka tampilkan di sana. Jika sehari-hari mereka cukup berjilbab praktis dan apa adanya, dalam moment itu tiba-tiba mereka berubah sangat Iran, hehe.

Itu terjadi hari lalu. Hari ini Robin dengan ringan hati browsing akan model jilbab. Wah, benar adanya. Model yang mereka kenakan kemaren benar-benar tengah update bror! Hampir semua model yang tampak kemaren persis ditampilkan oleh mbah google hari ini. Paling harga dan warna saja yang berbeda. Dan mereka benar-benar berani. Salute!

Robin pulang dengan hati riang. Robin sadar, untuk memuaskan hasrat berbelanja tak perlu harus memiliki barang-barang itu. Karena jika menurutkan mata yang lapar, esok hari Robin akan jadi pengamen dengan jilbab seharga pendapatan seminggu pengamen di Nol Kilometer Jogja. Maka Robin tetap seperti orang kampung dengan jilbab seadanya, jauh dari kesan modis, apalagi sebagai orang beruang tebal.

Kemudian Robin sadar, bagaimana fenomena jilbab dimanfaatkan oleh para desainer perempuan muda dalam dan luar negeri. Jilbab-jilbab impor memenuhi pasar kaki lima di pelosok negeri. Model jilbab yang dipakai perempuan-perempuan Iran juga menyesaki mata setiap lewat di keramaian, termasuk di pesta-pesta. Modis dan casual dalam berjilbab beberapa tahun silam ini menjadi daya tarik perempuan muda untuk berjilbab. Apakah hati dan pikiran mereka juga berjilbab, Robin tak memikirkan dan menuliskan itu.

Fenomena ini sebenarnya sangat Robin nikmati sebagai tamparan kebudayaan dalam perkembangan dunia islam di tengah-tengah bumi yang semakin menuhankan uang dan tunduk pada pemilik modal. Bagaimana tidak, Robin saja sudah enggan memakai jilbab dua tahun silam. Alasannya, hello udah gak jaman lagi ya makai jilbab model ibu-ibu begitu! Lagian, kok pede banget ya tampil serampangan dengan model jilbab jaman Cleopatra itu. Alamak! Robin benar-benar hilang akal!

Robin yakin, pikiran ini juga tumbuh subur di dalam benak kaum perempuan muda islam. Lihat saja di mal-mal (hehe, ketauan ya Robin suka windows shopping), ketika salat Ied, ketika main di Ancol, ketika silahturami ke rumah-rumah, ketika nongkrong di TMII, dan ketika nyicip es krim di pesta kawinan, mereka tak ada lagi pakai jilbab model dua tahun silam. Serba baru, modis, dan cukup murah kok harganya, berkisar Rp 25-75 ribu saja.

Jilbab dengan modelnya yang semakin modis, casual, dan meriah menjadi skala prioritas sendiri ketika berbelanja. Kedudukan jilbab di lemari pakaian sudah sejajar dengan kemeja, blus, celana, dan pakaian lengkap lainnya. Itu menandakan, di tengah keluarga muslim (ingat! muslim saja ya, katakanlah itu islam KTP), posisi jilbab semakin dihargai meskipun awalnya hanya untuk gaya-gayaan.

Robin bangga dan senang dengan kemajuan ini. Meski Robin tak ikut dalam modis-modisan, Robin cukup puas hanya dengan mlototin di toko online atau teman-teman yang belajar modis. Bukan Robin tak mampu beli atau sok anti modis. Karena hanya semata Robin adalah pria dewasa yang ingin berjualan jilbab, hehehe *kemplang!

#foto internet

Wednesday, 15 August 2012

[Catatan] Ramadhan Oh Ramadhan



CIHUY, H-3 Surah An Naas usai dibaca. Akhirnya, khatam Al-Quran juga Ramadhan kali ini. Sempat tertunda tahun lalu, namun alhamdullah, sembari menahan kantuk sehabis sahur, induk segala kitab ini terampungkan sudah. Maka, nikmat mana lagi yang kau dustakan wahai hamba-hamba dari Sang Raja kehidupan. Sungguh, kebanggaan menjadi pengikut Rasulullah Saw itu tiada duanya.

Apa inikah yang dinamakan Lailatul Qodhar? Oh God! Secepat itukah? Jika iya, rasa kemanusiaanku memang agak membaik. Menjaga hati agar tak dongkol terhadap kawan, atasan, saudara, dan Tuhan, adalah pendidikan Ramadhan yang mencengangkan kuterima tahun ini. Bagaimana aku tak mendoakan dengan penuh kekesalan kepada mereka yang lalai dengan kerja padaku. Maka, ini balasan dari Ramadhan: jaga hati agar tak menyumpah serapah.

Tapi, jika tidak. Sungguh ya Rabb, tak sedikitpun buruk sangka ini kulahirkan untuk-Mu apalagi untuk orang-orang di sekitarku yang dicintai. Karena, berjumpa dengan Ramadhan saja, adalah kado terindah dari sekian banyak kado yang Kau hadiahkan dalam hati ini.

Kenapa? Karena dongkol dan menyumpah dalam hati ini pengalaman. Jika sadar, pengalaman mengajarkan apa sesungguhnya yang diinginkan oleh hidup dan kehidupan ini. Jika tak sadar, kata Buya Hamka, jika hidup hanya hidup samalah dengan babi yang hidup hanya untuk hidup. Pahit memang. Tapi, hati kecil tak bisa berpaling dari kebenaran ungkapan buya itu.

Surah An Naas, berbicara tentang manusia. Sebagai manusia, kita diciptakan bukan tanpa tujuan. Persis seperti kita membuka laptop, atau memasak kue, atau membeli baju baru. Banyak tujuan yang ingin dicapai dari segala aktivitas itu. Mungkin akan menulis atau mendengarkan musik, mungkin untuk menghibur si sakit, atau mungkin untuk anak yatim piatu tetangga yang jarang sekali membeli baju baru. Dan hidup diciptakan Allah Swt, mustahil tanpa tujuan. Seperti yang tertuang dalam induk segala kitab ini, tujuannya: bertakwa kepada Pencipta.

Maka, semenjak Ramadhan ini, dan sejak dulu-dulunya, semua tindak tanduk memang harus dipertanggungjawabkan. Mengingat ini, banyak sesalan dan rasa bersalah. Dosa-doa yang lalu; lalai salat, kurang berinfak, asyik bergosip, serta tindakan yang tidak terpuji, tidak hanya mempermalukan diri sendiri, tapi juga menyakiti nurani. Maka, tobat adalah penawarnya. Tobatlah sebelum tobat itu asing dan berat adanya.

Sebagai manusia, tobat mencoba mengobati hati yang luka karena sesal dosa-dosa. Sebagai manusia, tobat menyemangati dan mengoptimiskan diri akan masa mendatang. Dan, sebagai manusia, tobat cukup melapangkan hati yang sesak karena tekanan. Tobat juga menguatkan bahwa manusia hanya meminjam bahkan menumpang di bumi dan tanah ini pada anak cucunya. Selebihnya hanya akal-akalan manusia yang terlampau rakus dan lupa diri.

Ramadhan ini akan segera berakhir. Tapi, perkenankanlah ya Rabb, pertemukan lagi kami dengan Ramadhan mendatang. Sungguh benar, Ramadhan adalah kebaikan dari segala bulan. Andai kata, kami belum mujur dan bertambah mulia di tahun ini. Hanya maaf dan mohon bukakan pintu hati agar segera bertobat dan insaf diri. Nikmat Islam, hidayah akan Islam, terlalu mahal jika harus kami tukar dengan riang gembira, gegap gempita, dan pesta berbulan-bulan di bumi ini. Semoga kami termasuk pada hamba-hamba-Mu yang insaf dan tawaduk. Amin.

#foto dari Holy Ramadan Moon

Benua Iman; 150812,5:53

Monday, 6 August 2012

[Catatan] A Letter to My New Uniform


HIKMAH puasa awal Agustus ini adalah sepucuk surat pengumuman datang dari Unijahda. Isinya, 'So, have you prepared that your new uniform?' Sudahlah, pasti ini akan membuat iri barang satu dua orang. Tapi, kuteruskan juga SMS bahagia ini kepada beliau-beliau yang layak tahu dengan cara diSMS. Sebentar, sebelumnya amak dan abangku di seberang adalah pihak perdana yang berujar alhamdulillah keras-keras di telepon.

Maka, berdebar-debarlah aku meskipun SMS itu belum kukirimkan. Send to many, beberapa menit kemudian, vibra henpon terus beraksi. Ada dari Prof. HET, ada dari Prof. HWS, ada dari kandidat doktor bunda YH. Beliau semua dosen sastra dan jurnalistik di kampus dulu. Mereka mendukung dan memotivasi, seperti yang sudah-sudah. Tak kalah seru sekaligus yang menginspirasi kata pembuka catatan ini datang dari Om YKW yang selalu energik dan tak pernah mati gaya. 'Hikmah puasamu luar biasa' kira-kira begitu isi SMSnya.

Eh, tak kalah berkeringat, selang tiga hari kemudian, sore-sore ketika tengah mempersiapkan seragam kerja, ada nomor baru menelopen. Datang dari profesor jurnalistik, begitu saya menyebutnya diam-diam. Mengucapkan selamat belajar. Dan dengan murah hati akan membantu proses ke depan. "Yang jelas, kau akan melawan pemilik media di negeri ini. Siap-siap!" kata Prof. AH. Saya cengengesan sembari mengiyakan. Telepon diputus. Saya senyum-senyum hingga sahur menjelang.

Yap, benar. Waktu adalah keberuntungan yang pantas kau pikirkan dan pertimbangkan (film yang barusan kutonton). Dalam waktu beberapa bulan ini, aku mencoba menimbang dan mengingat-ingat untuk hari esok, sembari belajar dari masa lalu yang bisa dikatakan sedikit kelam. Maka keputusan dikuatkan oleh amak dan abang di rumah dulu. Berangkatlah dan buatlah almarhum abak bangga di sana, meski beliau secara hukum bumi tak lagi ambil pusing dengan hidup orang-orang di bumi. Aku kembali merantau dalam jilid berbeda.

Seperti yang diterangkan oleh abang di banda sana. Dalam hidup kau jangan bergantung pada satu akar. Meliriklah ke akar lain, agar andai kau tergapai, raut mukamu tak akan mencekam, karena ada akar lain yang tengah kau taksir. Baik, aku buat dua dan tiga rencana. Andai rencana X tak terkendali, maka Y dan Z akan menyusul. Pun andai rencana X tergapai, akan ada Xa, Xb, Xc...Xn yang patut kau sudahi. Oh! hidup sebegini kompetitif. Hei! Ya! karena kau adalah sesembahan kompetitif itu.

Maka, malam itu dimulai dengan yang berbau hari esok. Menabung adalah cara terkeren untuk mempercepat kecerdasan. Jika 17 tahun lalu kau menabung dengan menguras koin jual beli amak dan abak, maka sekarang pikirkan lagi untuk berbuat hal serupa. Karena usia tak menjamin kau adalah penabung yang baik dan cerdas. Selera akan selalu tiga kali lipat raksasanya ketimbang ukuran tubuhmu. Kau pun patut menyewa security untuk mengamankannya. Minimal, usahakan selalu dalam keadaan sadar dan sehat wal'afiat ketika mendorong pintu swalayan dan mall , jika masih ingin selamat.

Untuk itu, target dan capaian akan datang, bukan karena pelit, memang harus dipertimbangkan. Termasuk, kau akan berendam seharian di kamar mandi ketika orang-orang takbir keliling dan bersalaman sehabis salat idul fitri kelak? Memang, hati dan perasaan selalu memiliki 1002 alasan bagi si penyandangnya untuk menangis, sedu sedan, dan hura-hura. Ingat, menabung adalah cara terkeren untuk mempercepat kecerdasan! Tapi, ini adalah penguatan rasa yang sedang labil karena obsesi begitu besar dan liar. Ada pintu negosiasi andai hatimu meraja pada hari itu.

Inilah cerita yang tidak kasat cerita yang dituliskan di sini. Tak mungkin menjabarkan satu dua tiga apa yang akan dilangsungkan kelak oleh si penulis. Dengan berkelok-kelok ini, penulis memang tak bermaksud membuat pembaca paham apalagi sadar. Ini adalah code yang pada hari-hari tertentu saja, seperti 17 Agustus, akan diperjelas maksud dan capaiannya.

Memang, sedari dulu, saya menulis kerap berkeliling-liling, multi makna bahkan mungkin bias makna. Tapi, ya sudahlah. Ini kan kisah yang saya utarakan dengan code-code kerangka alam pikiran saya. Jadi tak perlu heboh dan bersungut-sungut. Selamat malam!

#foto internet

Kota Merah, 00.06.08.2012