Saturday, 21 July 2012

Puasa 1433 H di Kota Sejuta Angkringan



KAMIS dini hari aku dibangunkan oleh teman yang baik niatnya. Apalagi kalau bukan untuk sahur -mempersiapkan tenaga esok hari. Sedikit terhuyung aku bangun dan membasuh muka. Memanaskan air dan menyeduh susu. Ada sisa camilan semalam yang cukup menambah stok karbohidrat buat esok pagi. Maka, kujinjing makanan dan minuman itu ke
kamar teman. Siap menyantap menu seadanya sembari menonton laku orang-orang dipaksa melucu di tv :)

Jumat, hari pertama puasa kami. Di kantor, waktu memang tak bisa dibunuh dengan mudah. Sesekali perut melilit pilit. Apalagi ketika menjelang salat zuhur dan ashar. Widih, bikin mata mengantuk dan hidung berair. Syukur intensitas kerja mulai sedikit menurun. Dan waktu leha-leha cukup menghemat tenaga dan pikiran. Maka kuputuskan menulis dan membaca; buku, opini di online, serta survei gebetan nasional yang menyita tenaga buat ketawa itu.

Sedangkan twitterland sesekali aku jabanin. Ya, sekadar mengecek timeline dan mention warga yang tak pernah sunyi. Pun, seperti kebanyakan orang cerdas, meminta maaf dan mengucapkan marhaban yaa ramadhan kepada rakyat twitter. Selebihnya, aku hanya memantau beberapa akun gila; masih gilakah mereka di bulan puasa ini? Jawabannya ternyata iya dan hanya sekitar 0,05 % penyakitnya disembuhin. Semoga tidak yang adu
jotos di sana.

Ketika melirik facebook, seperti yang sudah-sudah, isinya begitu-begitu saja. Memang tidak ada yang meng-anger pakaian dan rok di wall aku. Tapi, jualan di wall teman sesekali mampir juga di home. Ini tidak hanya menyakitkan mata pengunjung akun aku, tapi hati aku juga; treunyuh karena tak mampu beli! Maka cepat-cepat kupakai sepatu dan kulambaikan log out dari sana. Aku mengurut dada, dada sendiri.

Sayup-sayup imbauan untuk singgah di live.com dan tumblr juga bergema. Goggle+ pun setiap membuka gmail selalu merayu untuk digerayangi. Tapi, aku malas. Walau isinya
cuma begitu, tapi jebakannya dahsyat men! bikin aku kesurupan! Belum lagi hi5, Linkedln, twoo, apalagi skype yang selalu minta ngeadd friends. Socmed ini sejak empat tahun lalu memang suka mengatur-atur aku. Dan sudah kentara sekali ingin memerkosa aku di bulan suci ini. Maka, aku berdoa; lindungilah hamba dari godaan socmed yang terkutuk.

Karena penentuan 1 ramadhan tak seragam, maka di kantor pun yang puasa juga tak seragam. Siang-siang panas 105 derajat reamur ini masih ada yang ngerokok dan makan siang. Jleb! Aku hanya menekur di depan monitor gading meja kerjaku. Memang mereka tak makan siang di depan aku - di dapur - tetap saja tersiksa yang puasa sob! Apalagi macam aku yang labil dan iman anak bawang ini. Pengen mlintir rasanya! :)

Satu jam, dua jam, tiga jam, eh sebentar saja azan ashar berkumandang di masjid sebelah kantor. Aku senang alang kepalang. Waktu tak perlu dibunuh sob. Biarkan Tuhan dengan tangan-tanganNya yang mendorong jarum pendek jam sprint berlari ke finish. Dengan kuasaNya, dahaga yang rakus ini mulai dijinakkan. Tak terasa, niat puasa dan kesenangan menyambut ramadhan adalah oase dalam diri yang tak pernah kering dan tak pernah berhenti mendahagakan. Hari pertama puasa, aku belajar akan kerendahan hati dan tak rakus ketika berbuka :)

Sembari terkekeh-kekeh di depan netbok aku berbuka dengan es kelapa muda dan secangkir susu hangat. Cukup mengeyangkan dan membuat perut tidak letih berkontraksi. Maka isilah sepertiga perutmu (lambung) dengan air, sepertiga lagi dengan makanan, dan tinggalkan sepertiga lagi untuk angin dan doa ^_^. Yaoloh, hari pertama puasa ini sudah mulai disingsetkan! hehehe.

Ngarai Rindu: 22.05/20/07/12

#foto dari internet

Friday, 20 July 2012

Marhaban Ya Ramadhan ^_________^



Alhamdulillah, Ramadhan menyambut kita kembali.

Saya beserta amak, abang-abang, one, dan achil mengucapkan selamat menunaikan ibadah suci bulan puasa. Kami mohon maaf lahir dan bathin. Tak ada seindah saling memaafkan, menasehati, dan saling berbagi. Semoga amal ibadah kita berkah, berlimpah pahala, dan semoga Allah Swt suka. Amin

#foto dari internet

Friday, 13 July 2012

[Muse] Kutitipkan Emosi pada Malam di 2025



"Apa guna kusekolahkan kau setinggi pohon kelapa jika hanya untuk
mempermalukan orang tua?" Ayahanda Minke,


Setengah mati aku menahan kantuk menuliskan cerita ini. Maklum,beberapa malam ini aku dipaksa untuk tetap terjaga hingga dini hari karena Bumi Manusia-karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer. Ia memaksaku untuk memangkas waktu istirahat guna mendengarkan Minke berkisah dengan gilanya. Tak diberinya aku berpaling dari kecerdasan Nyai Ontosoroh, serta menyeretku ikut menyumpah dengan aturan yang dibuat oleh Ayahanda Minke-tepatnya bangsa Jawa. Oh, ni bukan pertama kali aku mengenangnya. But, it is always tempting!


Pantas novel ini disepakterjangkan oleh Suharto atau Sukarno atau sejenisnya karena isinya memang meracuni. Aku yakin, jika kini kau sodorkan cerita ini kepada muda mudi Jawa-secara acak-mereka juga akan menolak cara Pram mencemooh budaya yang tua ini (baca; pasrah, merangkak atau melata di hadapan raja kecil). Sumpah! Aku berani bertaruh untuk ini. Pasti mereka membuangnya ke selokan!

Tapi, aku sedang tak bicara tentang muda mudi (Jawa) secara acak melengah dari novel ini. Mari kita mengingat kembali warisan apa yang didapat dari setelah membaca dan menyimak karya Pram ini. Jika sudah begini, aku serasa ingin menjadi dosen sastra. Mewajibkan mahasiswaku menelaah Tetralogi Buru, memperdebatkannya, kemudian mentraktir mereka di warung pinggir jalan. Kenapa? Karena, saat ini, aku merasa tak
begitu bangga dengan dosenku di sastra tempo hari. Mereka terlalu adem, tak ada percikan api, serta jauh dari keringat.

Aku ingin menyuguhkan sisi lain dari Bumi Manusia (BM). Jika selama ini BM kerap 'diwakilkan' karena kesenjangan ideologi antara Eropa yang miskin dengan Pribumi yang tumpah ruah, maka sekarang aku mencoba berkisah datar-datar saja tentang kerangka moral tepatnya free sex keturunan Indo atau Pribumi yang keindo atau keeropaan di akhir abad 19.

Kenapa free sex atau moral dari BM yang kusoroti? Entahlah. Tiba-tiba, aku melihat sisi itu yang rasanya belum kujamah dari BM. Tentang perjuangan Nyai Ontosoroh yang sangat feminis itu (ah! tak usahlah bawa-bawa feminis. Tanpa embel-embel feminis, kau tetap tahu si nyai gundik itu benar-benar pahlawan), tentang kejiwaan Minke yang seperti baling-baling (khas anak muda bobo-borjuis bohemian- abad 20 ini), atau tentang postmonya BM, ini makin rumit dan menguras emosi. Maka, mari kita mengulas free sex!

Minke dalam BM rasanya belum genap 20 tahun atau lebih sedikit. Ia pelajar yang saban hari berbicara dalam empat bahasa (Belanda, Melayu, Jawa, dan Perancis) namun menulis dalam dua bahasa, ia dapat nol besar jika dihadapkan menulis dalam bahasa Jawa dan Melayu. Pemuda yang baru beberapa tahun disunat itu, sudah gemar seranjang dengan gadis-gadis sebayanya. Apa lacur? Ia dipondokkan oleh Ayahandanya, jauuuuuh dari rumah dan Bunda. Maka ia seenak perutnya. Tepatnya mengambang di permukaan budaya Eropa yang memang permisif itu.

Eh, aku kaget dengan sosial budaya anak muda pada abad 19. Hindia Belanda yang pandir ini, ternyata anak mudanya sudah berpengalaman dengan semen leven dan model hidup macam begitu. Sepertinya ini tak mendapat hirauan serius dari ayahanda. Meski Minke dipindahsekolahkan karenanya tapi itu masih berlanjut. Di bagian ini, aku malas menerka-terka, memang benar adanya, seiring pergundikan marak di Hindia Belanda, pemuda negeri ini pun-tentunya yang bersekolah Belanda-bergundik pula di pemondokannya. 'Bergundik' kecil-kecilan. Begitu aku menyebutnya.

Pun dengan tradisi gundik, nyai-nyai, plesiran baba A Tjong, ini terjadi, katakanlah, semakin marak sejak Hindia Belanda di bawah kekangan bangsa Eropa. Siapa gurunya? Tentu saja mereka yang perampas itu. Bangsa Eropa yang merampas lada, pala, cengkeh, kopi, harta, anak perawan hingga nyawa. Aku terbawa emosi, wahai teman-teman yang cerdas hukum, bukankah kita berhak menuntut balas akan kebiadaban bangsa Belanda 300 tahun lalu ke pengadilan internasional sekarang? Jepang juga bisa. Bukankah kita punya saksi hidup, Jugun Ianfu, yang tersebar dari Papua hingga Aceh sana?

Sampai di sini aku terdiam. Tak mungkin kepahitan cerita ini dikarang Pram hanya untuk menakut-takuti anak cucu bangsanya. Pastilah ini terjadi kawan! Dan, tak terbayangkan betapa bengis dan jijiknya beliau melisankan cerita ini di Penjara Buru, di depan para pesakitan tahun 1973 itu. Tapi, cepat-cepat aku berkilah, pastilah para pembeo di Senayan dan di ruang berAC itu tak pernah membaca BM. Atau jangan-jangan juga tak kenal Pram. O alah! Salah muara aku sekiranya.

Kembali ke free sex. Sebenarnya tak hanya Minke yang buaya bangkong namun cukup pintar itu saja yang berfree sex ria. Bahkan Robert, kakak kandung Annelis-pacar Minke kelak menjadi istrinya-sudah pula berbuat hidup purba dengan adik kandungnya. Aku teringat Kemarau A.A Navis yang incest itu. Sayang, di BM kisahnya lebih tragis.

Kisah hidup muda mudi di BM menghantarkanku pada perjalanan muda mudi saat ini. Sungguh, di kota serba menjunjung tinggi hormat-menghormati ini, jangan kau tanyakan budaya free sex. Lumat dimakan mentari dan malam sudah. Tak ada yang menegur. Semua berjalan dengan busuknya. Sungguh busuk ketimbang bangkai tikus di sumur tinggal.

Apa? Kau sebut aku katrok? Ulok? Ndeso? Tak gaul? Sok bijak? Jangan-jangan aku juga begitu? Ah, ini benar-benar gila!

Andai saja, guru sastra dan dosenku delapan atau empat tahun lalu mengajarkan, betapa dalam sastra itu adalah lukisan usang namun hidup dalam kehidupan bapak ibumu, mamakmu, abangmu, bahkan dirimu, mungkin aku tidak sesentimentel ini. Kau tahu, kematian Tuan Mellema kemudian menyusul Robert Mellema yang spilis itu adalah buah dari ketidakberdayaan jiwa yang sedang krisis. Apa kau ingin anak cucumu juga begitu? Jika tidak maka bersungguh-sungguhlah untuk menghadirkannya ke muka bumi yang sial ini.

Lantas, di tengah-tengah bumi yang penuh sumpah serapah ini, bayi-bayi imut itu lahir. Mengerjapkan mata kecilnya. Bercengkerama dengan seseorang yang memeluknya. Menghangatkannya, tapi bukan ibunya. Ibu? Kemana? Tak ada peran yang tertinggal setelah perempuan muda mengejankan bayinya ke bumi Allah. Di zaman itu, 1899, kedudukan anak haram jadah jauh lebih tinggi dari kedudukan gundik, ibunya, meski ia
berperangai seperti anak setan. Bapaknya? O, di sinilah aku kerap menyepelekan peran laki-laki, kenapa mereka banyak diangkat menjadi nabi, padahal antara otak dan humanismenya sering tak sejalan.

Lalu, lagi, aku berterima kasih kepada Pram yang menyadarkan setiap pembaca yang menyimak kisah ceritanya. Sungguh, aku tidak tengah mendewakan sastrawan satu ini. Bagiku, setiap membaca ceritanya ada nilai baru yang membuat aku merinding untuk slonong boy dalam ulah dan laku. Karena dengan hidup-apalagi dengan bersekolah tinggi- kau harus pandai menerima dan membuat sesuatu itu patut bagi dirimu serta
orang-orang di sekelilingmu. Dengan begitu, tentu kau takkan memakan makanan orang lain bukan?

Sayup-sayup Avenged Sevenfold menyalip di telinga, rasanya mereka mulai memaki, mendaki, dan ssssstttttttttt!

I see my vision burn, I feel my memories fade with time
But I’m too young to worry (a melody, a memory, or just one Picture)

Seize the day, or die regretting the time you lost
It’s empty, and cold without you here, too many people to Ache over


#Foto dari internet

Ulama Syiah Dipidana Penodaan Agama Amendemen Pasal Penodaan Agama, Hapus Kewenangan Bakor Pakem

Untuk Segera Disiarkan


(New York, 12 Juli 2012) – Pemerintah Indonesia harus segera cabut semua tuntutan dan bebaskan Tajul Muluk, ulama Syiah di Pulau Madura yang divonis hari ini dengan hukuman dua tahun penjara karena “penodaan” agama,” demikian Human Rights Watch.

Human Rights Watch mendesak pemerintah untuk mengamendemen atau mencabut pasal penodaan agama dan membubarkan lembaga dengan identitas Islamis, biasa disebut Bakor Pakem, atau Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat, yang secara resmi berada di bawah Kejaksaan Agung, di mana lembaga ini getol lakukan kriminalisasi kegiatan keagamaan.

“Pemerintah Indonesia harus segera menghentikan kasus terhadap Tajul Muluk. Pasal penodaan agama bertentangan dengan prinsip kebebasan beragama,” kata Elaine Pearson, wakil direktur Asia pada Human Rights Watch. “Pemerintah perlu menghentikan tren meningkatnya kekerasan dan tindakan hukum terhadap minoritas agama di Indonesia.”

Pengadilan negeri Sampang pada 12 Juli memutuskan ustad Syiah, Tajul Muluk, bersalah melakukan penodaan agama karena ajarannya. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 156a, pelanggaran “penodaan terhadap suatu agama” diancam dengan hukuman maksimal lima tahun penjara.

Selama bertahun-tahun, komunitas Syiah di dusun Nangkernang, kecamatan Omben, kabupaten Sampang, menghadapi beragam gangguan dari otoritas pemerintah dan keagamaan. Pada Februari 2006, 40 ulama Sunni dan empat polisi menandatangani pernyataan publik, mengumumkan bahwa Islam Syiah sebagai “aliran sesat.” Pernyataan ini menyebut dua pertemuan dengan ulama Syiah, di mana jemaat Syiah diminta untuk kembali ke “jalan Ahlussunnah wal-Jamaah dan sesepuh terdahulu” tapi mereka “membangkang.” Surat pernyataan ini juga minta lembaga-lembaga penegak hukum untuk mengambil tindakan terhadap Tajul Muluk.

Pernyataan itu merupakan langkah pertama siar kebencian terhadap jemaat Syiah di Sampang. Pada 2009, Tajul Muluk berselisih pendapat dengan adiknya, Roisul Hukama, yang mendorong Roisul bergabung dalam kampanye anti-Syiah di Madura. Pada Juli 2011, polisi dan pejabat pemerintah Sampang mendesak Tajul Muluk untuk meninggalkan kampungnya dan memberi bantuan keuangan bila pergi dari Nangkernang. Polisi dan pejabat Indonesia belakangan mengatakan persoalan terhadap Muluk merupakan “sengketa keluarga” dengan adiknya bukan perkara keyakinan.

Selama 2011, warga Sunni melancarkan pelecehan dan intimidasi terhadap jemaat Syiah di dusun kecil Nangkernang. Misalnya, 6 Desember 2011, saat merayakan Asyura, hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam yang menggambarkan arti penting spiritual bagi umat Syiah, militan Sunni mencegah 60 jemaat Syiah meninggalkan dusunnya dengan blokade jalan. Ustad Syiah, Iklil al Milal berkata dia minta polisi setempat untuk ambil tindakan mengakhiri ancaman, tapi polisi justru membiarkan.

Pada 29 Desember 2011, militan Sunni menyerang dusun Nangkernang, membakar beberapa rumah dan madrasah, dan menyebabkan sekira 500 warga Syiah mengungsi. Polisi hanya menangkap dan mendakwa seorang lelaki Sunni atas serangan pembakaran. Di sisi lain, serangan ini mendorong polisi memaksa ulama Syiah, termasuk Tajul Muluk dan Iklil al Milal, untuk meninggalkan Nangkernang. Kementerian Agama di Sampang mengumumkan mereka akan “membina” ratusan jemaat Syiah untuk “belajar Islam.”

Pada 4 Januari 2012, kepala kejaksaan negeri Sampang, Danang Purwoko Adji Susesno, sebagai ketua Bakor Pakem, minta Kejaksaan Agung untuk melarang “ajaran Tajul Muluk” dan menyatakan dalam sebuah surat bahwa kejaksaan Sampang akan mendakwa Tajul Muluk. Jaksa membuat bermacam argumentasi tentang ajaran Tajul Muluk dan mengapa Syiah bertentangan dengan Islam. Tajul Muluk mulai diinterogasi polisi pada Februari 2012, dan mendakwa serta menahannya dengan pasal penodaan agama dan “perbuatan tak menyenangkan” pada 24 April 2012.

Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat atau Bakor Pakem merupakan lembaga koordinasi di bawah Kejaksaan Agung, dengan perwakilan di setiap provinsi dan kabupaten di tiap kantor kejaksaan daerah. Menurut Undang-Undang 16/2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, Bakor Pakem diberi mandat untuk mengawasi “penyalahgunaan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan negara.” Bakor Pakem biasanya bekerja di bawah seksi intelijen dari kantor kejaksaan, dan berhubungan dekat dengan Departemen Agama, polisi, militer, pemerintah daerah, dan lembaga keagamaan.

Bakor Pakem sangat berpengaruh dalam merekomendasi pemerintah dalam melarang komunitas keagamaan, menurut Human Rights Watch. Bakor Pakem merekomendasikan pelarangan Muslim Ahmadiyah pada April 2008, dan dua bulan kemudian minoritas agama itu dilarang. Di Dharmasraya, Sumatra Barat, Bakor Pakem mengawali tuntutan terhadap Alexander An, admin grup Facebook “Ateis Minang.” Dia akhirnya dibebaskan dari tuduhan penodaan agama Islam tapi, pada Juni 2012, pengadilan negeri Sijunjung memvonisnya 2,5 tahun penjara dan menjatuhkan denda Rp 100 juta atas pasal perbuatan menganggu ketertiban umum lewat Facebook.

Bakor Pakem juga memainkan peran dalam memprakarsai penuntutan terhadap Andreas Guntur, tokoh gerakan spiritual Amanat Keagungan Ilahi, yang divonis empat tahun penjara pada Maret 2012 oleh pengadilan negeri Klaten, Jawa Tengah, karena pasal penodaan agama Islam.

Indonesia terikat dengan Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik, di mana pasal 18 menyatakan “Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama. Hak ini mencakup kebebasan untuk menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri, dan kebebasan, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di tempat umum atau tertutup, untuk menjalankan agama dan kepercayaannya dalam kegiatan ibadah, pentaatan, pengalaman, dan pengajaran. … Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk menganut atau menetapkan agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya.”

“Pemerintah Indonesia membiarkan Bakor Pakem melakukan kriminalisasi kaum minoritas dengan pasal penodaan agama,” kata Pearson. “Pemerintah harus mengakhiri praktik lembaga yang mendukung diskriminasi terhadap keyakinan dan keberagamaan untuk punya tempat dalam sistem peradilan Indonesia.”


Untuk pernyataan Human Rights Watch pada April 2010 tentang Mahkamah Agung Indonesia mengekalkan beleid penodaan agama, sila baca:
http://www.hrw.org/news/2010/04/19/indonesia-court-ruling-setback-religious-freedom

Untuk pernyataan Human Rights Watch tentang Tinjauan Periodik Universal (UPR) Indonesia di Dewan HAM PBB pada 23 Mei 2012, sila baca:
http://www.hrw.org/node/107178

Untuk laporan lengkap Human Rights Watch tentang Indonesia, sila lihat:
http://www.hrw.org/asia/indonesia

Guna informasi lanjut, sila kontak:
Di Jakarta, Andreas Harsono (Bahasa Indonesia, Inggris): +62-815-950-9000 (mobile); atau harsona@hrw.org. Ikuti Twitter @andreasharsono
Di New York, Elaine Pearson (Inggris): +1-646-291-7169(mobile); atau pearsoe@hrw.org. Ikuti Twitter @pearsonelaine
Di Bangkok, Phil Robertson (Inggris, Thai):+66-85-060-8406(mobile); atau robertp@hrw.org. Ikuti Twitter @Reaproy
Di London, Brad Adams (Inggris): +44-7908-728-333(mobile); atau adamsb@hrw.org.

Monday, 2 July 2012

[Muse] Si Fulan, Pendengar Segala Cerita



Saya berteman dengan Si Fulan baru bisa dihitung jari. Tak sampai sepuluh tahun. Namun, jalinan psikologi sebagai teman bisa dikatakan baik dan akrab. Dia baik, dan saya kira, saya juga baik. Maka kami tak punya masalah dalam pertemanan sejauh ini. Suatu hari, saya perkenalkan teman saya kepada Si Fulan yang baik ini. Sama-sama dari pulau yang sama, tanpa perlu saya duga pun keakraban akan jauh lebih kuat. Ternyata memang begitu.

Saya sebutkan bentuk dari luar Si Fulan ini. Dia tampak sebagai seorang rampok yang selalu apes. Dalam arti, bentuk luarnya sekilas akan sangat mengganggu orang yang berjumpa dengannya. Ada kesan orang macam Fulan ini selalu membuat resah dan menakuti anak kecil. Namun, sekali jumpa dan terlibat cakap-cakap pendek, lawan bicara akan menangkap lain. Mereka akan mudah percaya. Karena, Si Fulan akan mencoba menampilkan
diri sesungguhnya, tanpa dibuat-dibuat. Dan itu mujarab.

Nah, teman saya akhirnya terpedaya. Ia kenal dua hari dengan Si Fulan, lantas bercerita apa saja tentang hidup dan keluarga besarnya. Tak tanggung-tanggung, sang kakak yang tengah didera badai kehidupan pun bercerita panjang lebar dengan Fulan. Sampai mewek dan tersedu-sedu. Mereka menumpahkan luka-luka yang menyayat kepada Fulan dengan berkisah. Adik kakak ini langsung nyaman. Meski mereka tak pikir panjang, siapa sebenarnya lawan bicara yang tengah dicurhati.

Si Fulan bingung bercampur geli. Dia sadar, bukan siapa-siapa bagi orang itu. Namun, dengan kebaikan hati tadi, ia mencoba memberi jalan keluar dari setiap gelombang badai yang diceritakan kepadanya. Lha, saya tak paham harus berbuat apa? Makanya saya karang saja kalimat yang baik di telinga, katanya suatu malam.

Fulan pun tak pikir panjang lagi. Ia selalu meluangkan waktu pada teman-temannya (lama maupun baru) untuk mendengarkan beragam cerita. Meskipun itu tak ia pahami, tak pernah ia harapkan, dan tak pernah ia pikirkan. Namun, kisah hidupnya berkehendak lain. Ia menjadi manusia dengan segala kenyamanan bagi orang lain terhadapnya. Bagi teman sebayanya, bagi kakaknya, bagi kekasihnya, bagi ibu-ibu rumah tangga, serta bagi karyawannya. Ia baik.

Saya, ketika mendengar Fulan bercerita di warung lesehan trotoar kota ini, terpingkal-pingkal sesekali mengucap kaget dan terperangah. Saya kaget dan butuh waktu untuk percaya kepada Fulan. Tapi, saya kenal dia, mustahil ia berbohong akan kisah hidup orang lain. Saya jadi lebih banyak tahu akan kisah keluarga si A ketimbang kamu? katanya padaku. Padahal, lanjutnya, dia itu temanmu, bukan temanku. Tapi, apa boleh buat, aku yang menderita, katanya sembari terkekeh.

Fulan pun tak percaya dengan jalan hidupnya yang beberapa hari lalu yang ia kisahkan. Ia terheran-heran dengan dirinya. Tak percaya, dan hanya bisa mendengar, sesekali menimpali. Selebihnya, ia kalut.

Cerita Si Fulan ini memberi saya pelajaran tentang hidup yang tak mau tahu dengan orang yang melakoninya. Hidup tak peduli, bagaimana jadinya nasib orang-orang yang menjalani hidup itu. Apakah akan berurai air mata, cekikikan, atau hanya hambar. Tokoh Fulan, ia diciptakan bukan tanpa tujuan. Ia begitu berguna bagi orang lain. Siapa saja yang merasa butuh tempat bercerita, maka Fulanlah orangnya.

#foto internet