Friday, 22 June 2012

[Cara Hidup] Orang Berbudaya Itu Pasti Punya Duit



INI alur hidup sehari-hari yang saya kisahkan di dalam blog. Seperti yang sudah-sudah, saya suka menggantung ending cerita sesuka hati. Tanpa bermaksud kejam kepada pengunjung blog (jika ada), jujur saja saya sudah mengantuk untuk mengakhiri dengan pernyataan manis. Murni sikap ini gen turunan. Tak ada tendensi apalagi ingin jadi mafia blog atau aktivis blog kepada pengunjung. Maka, selamat membaca.

Awalnya karena diajak teman membantu pekerjaan yang lebih besar. Saya terima dengan besar hati dan riang alang kepalang. Apalagi itu pekerjaan tidak bersamaan dengan kerja saya sehari-hari. Saya pun bersemangat dan ingin sekali berkeringat membantunya. Perlu pembaca ketahui, saya ini selain anak yang rajin dan manis, saya orangnya selalu baik sangka dengan keadaan. Terlepas nanti akan bahagia atau jengkel setelahnya. Saya tak pikirkan itu. Maka, saya mati-matian nabung tenaga buat teman saya itu untuk hari H kelak.

Oiya, perlu saya perkenalkan sedikit tentang teman saya yang baik ini. Namanya Purwa Nugraha. Saya kerap memanggilnya dengan Pu, Pu, Pu saja. Saya anggap panggilan itu lebih enak di telinga dan tidak pasaran, maka begitu jadinya. Ini cowok sudah lebih lima tahun tinggal di Yogyakarta. Katanya ia mulai bosan. Sama dengan saya yang sudah bosan dengan Kota Padang, setelah saya tinggali sekitar empat tahun. Di sini, jika ada seseorang yang mengaku bosan dengan kota yang (pernah) mereka tinggali, saya berharap kota tersebut tidak perlu bosan pula padanya. Karena itu tidak baik bagi kesehatan kota tersebut ^_^.

Nah, ini cowok punya beberapa usaha. Salah satunya mengelola wedding organizer. Orang akrab dengan sebutan EO (Event Organizer) yang bergerak di seputar pesta dan makan-makan. Dia punya brand Pendopo Hati. Kantornya mungil dan penuh ungu. Layak buat Kate Middleton selonjoran di sana. Paling banter Asmirandahlah, keren bukan? Saya selalu senang kalau diajak ke sana. Selain banyak majalah wedding dan budaya, tempatnya juga bikin saya mengantuk. Sayang, setiap ke sana saya lupa membawa bantal.

Bulan ini Pu dapat orderan buat langsungkan pesta pernikahan orang penting di Jakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Maksudnya, keluarga yang hajatan itu orang penting di tiga daerah ini. Ia dan timnya yang solid (ini murni pendapat saya yang belum disensor) agak kelabakan dengan request-rikues keluarga besar yang hajatan. Biasa, orang mantenan itu maunya 11 12 dengan orang ngidam, ada-ada saja yang diminta. Tentu saja awak EO ini mati-matian penuhi keinginan mereka. Wajar dong, karena memang mereka menjual jasa walaupun banyak bunga dan nasi kotak di sana. Maksudnya, pelayanan terbaik itu mengalahkan apel malang (baca; rupiah/IDR). Selain itu, mereka juga sudah pengalaman.

Ini introduction terlalu panjang. Tak baik untuk kesehatan mata pembaca. Saya stop di sini.

Menjadi EO wedding dan makan-makan itu tidaklah seperti menjadi artis, yang hanya tinggal bergerak sesuai arahan sutradara atau manajemen. Mereka dituntut selain paham wilayah, paham biaya, juga paham budaya. Di tengah berlipat-lipatnya budaya atau tradisi dalam acara mantenan, orang EO tak boleh mengaku tak tahu apalagi lupa. Usaha mereka bisa wassalam jika sampai begitu. Di sini, kecerdasan budaya orang EO ditantang. Sampai dimana sih pengetahuan mereka akan mantenan dan embel-embelnya?

Saya diikutkan rapat perihal pesta kelak. Rapat berjalan dengan lancar. Berbagai taktik disusun agar acara berjalan sempurna, sesuai keinginan keluarga mantenan. Mulai dari waktu, mobil yang digunakan, seragam, MC, buah tangan, ritual, adab berbicara kepada si mbah-si mbah, hingga kemana arah jempol ibu pengantin perempuan yang menggawangi acara tersebut. Tidak hanya ribet tapi juga bikin sesak napas. Karena, kalau keliru kasih buah tangan, itu buah tangan bisa jadi arit, memenggal kepala awak EO.

Maka, soal budaya dan ritual mantenan, para awak EO ini tak boleh asal-asalan. Meskipun rerata mereka muda-muda, tapi bukan berarti mereka hanya paham akan BBM dan Skype. Soal bagaimana pengantin melangkah ke pelaminan juga harus diketahui. Dan meskipun tak fasih kromo inggil (bahasa Jawa halus atau tinggi) mereka dituntut selalu bisa menghangatkan situasi dengan si mbah-si mbah, yang pernah jaya di Orde Lama dan Orde Baru (di era reformasi mereka-bisa-jadi pahlawan), agar tetap bersemangat dalam barisan antrian. Ini tak segampang memandang kura-kura berenang di baskom. Salah-salah ucap atau bertele-tele efeknya jauh lebih besar ketimbang gempa 8 SR bagi awak EO.

Di sini saya belajar. Memang, saya selalu tak bosan untuk belajar. Apa saja, bahkan hanya untuk menghabiskan waktu seharian mendengarkan celoteh Toni Blank di tivi. Ini gila? Terserah sajalah.

Ketika bergabung dengan tim EO ini, saya belajar. Maksudnya saya belajar bagaimana menuliskan kisah kerja sehari ini ke dalam blog dengan sangat elok dan menghibur. Untuk soal budaya dan tradisi, saya tak tahu. Bukan karena saya bodoh, tapi hanya karena saya belum tahu dan belum cukup umur untuk ke sana.

#foto dari internet

Wednesday, 20 June 2012

[Catatan] Make Your Crown on Good June



JIKA Presiden AS Barack Obama kelimpungan menghadapi bulan ini yang terkenal dengan 'bad june'nya, saya tidak. Presiden terkenal sejagat itu harus memutar otak bertubi-tubi beserta tim suksesnya demi menghadapi bad june, saya mah agak sedikit santai. Bukan karena ia presiden saya karyawan, tapi masalah yang kita hadapi sama besar, kok.

Juni ini saya banyak acara, bak semut-semut, setiap hari dalam sepekan, setiap jam dalam sehari, saya punya banyak cerita yang tidak hanya harus dituliskan tetapi juga dijelaskan. Ini bertangung jawab apa hanya akal-akalan saja? Lari sana lari sini. Jemput ini, antar itu. Lengkapi ini kurangi yang itu. Seperti semut, kadang berbondong-bondong, kadang merana sendiri. Begitulah kegiatan saya.

Saya dituntut harus selesaikan pekerjaan itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tak boleh kelamaan dan tak boleh pula boros tinta dan kertas. Karena saya semakin sedih dengan kegiatan kantor yang banyak memakai kertas-kertas untuk kerja-kerja. Dalam hati saya kasihan dengan kertas-kertas itu. Mereka penadah yang tubuhnya siap ditumpahi tinta-tinta. Jadi kotor meski ada tambahan warna warni di atasnya. Tapi, tetap saja mereka jadi lusuh.

Belum lagi perkara hidup saya ke depan. Entah bagaimana nanti. Saya sudah usaha untuk ikut cara mereka. Tapi mereka punya batas limit yang harus dipenuhi, maka mati-matian saya memenuhi itu. Hidup itu diikuti dengan standar-standar. Komunitas juga penuh dengan standar-standar. Maka jika anda ingin bergabung dengan mereka penuhi standar-standar itu. Saya jadi agak cemas. Karena gagal membuat saya malas mandi dan makan. Maka, saya ngos-ngosan.

Iya, benar, saya sudah sekitar setengah tahun di sini. Kira-kira saya sudah mulai pintar dengan kota dan paradigma masyarakatnya. Benar, saya senang berada di antara orang-orang yang tidak hanya sayang, tetapi juga menghormati saya. Mereka orang baik semua. Apa-apa selalu disampaikan dengan tawa dan lemah lembut. Karena dengan lemah lembut manusia itu menjadi mulia dan masuk surga. Maka, saya berbuat yang sama; lemah lembut kepada siapa saja.

Akan saya jelaskan lagi, betapa temans saya di kosan setelah bergulat dengan pekerjaan, malamnya mereka bergulat dengan tivi-tivi di kamar. Saya prihatin (catat, prihatin saya ini sama besarnya dengan prihatin SBY terhadap partainya, jadi jangan sekali-kali diremehkan) dengan tontonan temans saya itu. Seperti biasa, tontonan temans saya hanya bermuatan sandiwara, produk dari otak sutradara yang gila harta. Jauh sekali isinya dengan pembelajaran apalagi hitung-hitungan. Padahal, saya sudah susun rencana bagus buat nonton talkshow yang berbuih-buih. Saya tak yakin tontonan yang saya recomendedkan ini cerdas. Tapi, agak bergengsi daripada sandiwara kacangan. Sungguh, saya benar-benar kasihan.

Eh, ternyata tidak. Seperti yang saya prediksikan, tidak ada jalan temu dan jalan solusi di sana. Karena mereka yang hadir hanya memamerkan kecerdasan kognitif dan sekali-kali mengklarifikasi arus berita. Selebihnya hanya orang-orang berjas yang cekikikan terhadap nasib rakyat. Ini terlalu mahal kita beli. Maka matikan saja tivinya. Dengan begitu saya tak suuzon lagi, tapi saya tetap prihatin.

Begitulah wajah tivi-tivi kita. Sedikit sekali yang ingin menyuarakan kebenaran apa adanya. Pun dengan koran-koran yang berseliweran di rumah. Tak ada yang berani menulis sesuai dengan apa yang dilihat mata. Memang, kekuasaan pemilik media mampu mendikte jurnalis atau reporternya untuk menyampaikan anu kepada pembaca. Korporasi besar mampu membeli apa saja, idealisme jurnalis, ah hanya dengan beberapa lembar apel malang cyin, tunai dan terjual itu. Tak percaya? Silahkan saja.

Saya pernah bekerja di dunia itu, maka saya tahu dan berani menuliskannya. Jika tidak, saya akan tetap menuliskannya. Meskipun ini hanya berlangsung di blog saya. Saya sedang menggores sejarah melalui blog dan hidup saya. Maka, saya tak ingin menyia-nyiakan apa yang ada. Karena hidup tak terulang dua kali. Sekali saja, anda dibuatnya jengah, apalagi berkali-kali. Oh men!

Kembali ke temans saya. Tapi, begitulah mereka. Sebenarnya tivi itu jauh lebih dahsyat dampaknya daripada narkoba. Apa benar? Apa saya tak keliru membandingkannya? Saya rasa tidak. Mereka sama-sama membuat candu; ingin lagi, tonton lagi. Sama-sama membuat melayang-layang; fly, terbawa mimpi. Sama-sama ingin mengecapnya di pagi hari; biar semangat, seperti apa ya gaun pengantin si anu? Ah, ini benar-benar nyata. Ada di depan mata. Dan kita hanya melongo dengan itu semua. Saya berontak.

Harusnya pemerintah menarik semua produk tivi dan merazia RT yang penduduknya bertivi setiap rumah. Bagusnya setiap RT itu cuma memiliki tivi satu. Tivi itu diletakkan di pos ronda atau gedung atau pendopo. Siapa saja yang ingin menonton datanglah kesana. Dan harus akur, program mana yang layak ditonton. Hanya dua; kartun dan dunia dalam berita. Cukup!

Negara bukan berarti tidak menghormati hak asasi, karena dengan bertivi satu setiap rumah akan menciderai moral seisi rumah. Siapa yang ingin cerdas pastilah mengikuti program pemerintah. Sedangkan siapa yang tak ingin cerdas haruslah dicerdaskan. Negara harus keras di sini jika tak ingin bangsanya bodoh lagi miskin. Karena. anda perlu tahu, manusia itu sebenarnya bodoh, hanya saja mereka berakal panjang mengemas kebodohan itu dengan 1001 akal. Jadi, seolah-olah cerdas.

#gambar dari internet

Saturday, 9 June 2012

[Muse] Twitter Is A Smaller Wikileaks




SAYA tergelak jika mengingat akun-akun anonim ini di twitter. Macam-macam nama yang mereka pakai. Putri lah, Macan lah, Sakti lah, Ratu lah, dan kata-kata poli makna lainnya. Dan tak satupun informasi perkenalan yang dapat dilacak pembaca jika tak membuat janji ingin berjumpa terlebih dahulu. Tentu saja agar tak dikenali dan tak diteror pihak yang meradang menerjang karena kuliah twitter yang tak kenal sensor.

Yang jadi persoalan tentu saja bukan nama akun yang membuat orang-orang tercengang. Akan tetapi kultwit merekalah yang membuat sebagian pembacanya terbengong-bengong. Termasuk saya. Ini negara atau penjara setan sih? Kok isinya maling dan penghisap darah semua, tepatnya darah rakyat? Ini tanya ketika menyimak kultwit mereka. Lagi, saya kagok dan terbawa emosi. Mungkin juga bisa dibuat-buat.

Bagaimana tidak, kultwit mereka selalu berbau isu sensitif dan yang sedang hangat. KPK RI yang avant garde menangkap koruptor di negeri ini, mereka sebut-sebut sebagai lembaga yang masuk anginlah, loyolah, dan kenyang kena sikut sana sini. Terlontar juga bahwa Om Samad itu jauh lebih loyo dari yang sudah-sudah dan No Hope. Ini biasa dan wajar terjadi. Di negeri Indonesia yang (katanya) sangat demokrasi, toleran, dan terbuka, setiap orang (sudah) berhak berbicara, tepatnya ngetwit seenak perutnya. Siapa yang mau tangkap? Maka akan datang seribu koin untuk si X, si Y, si Z kelak. Orang lebih takut dengan 1000 koin ketimbang pengadilan. Ini negara asoy bung!

Maka disebut-sebutlah siapa setan belang di balik kelangkaan BBM, di balik harus naiknya BBM, di balik si pengangkut Apel Malang, di balik payahnya Hambalang, di balik merebaknya hutang-hutang. Saya jadi ingat, mungkin juga karena desas desus akun anonim gila di twitter, menarik anggota DPR bikin akun twitter juga. Ialah Bang Poltak yang doyan ngetwit dan bergonta-ganti foto dan nama akun. Silahkan maknai sesuka pembaca.

Jika saya ingin menghitung-hitung, setidaknya ada dua hingga tiga kasus yang dikultwitkan setiap hari. Dominan dari kasus suap, korupsi, bobrok rezim berkuasa, dan sedikit-sedikit menyerempet perkara (suap) seks kaum elit, kebanyakan anggota DPR. Nah, tinggal mengalikan dengan sekitar lima bahkan sepuluh akun anonim yang menggerahkan penguasa namun menyejukkan banyak orang. Saya salah satunya.

Tak kalah menyenangkan, isu yang mereka buat, mampu membangun opini publik secara luas dengan ditandainya perkara yang mereka kultwitkan langsung ditanggapi pemerintah secara serius. Sudah jelas, media akan menggiring kemana arahnya. Plus menyebarluaskan secepat mungkin. Ini menarik bagi orang-orang yang doyan. Macam saya lagi.

Belakangan, identitas akun-akun anonim itu mencuat ke permukaan. Misal, ada yang bekas pejabat BUMN, pejabat dengan gelar S3 bidang politik dan luar negeri, orang-orang yang pernah dekat dengan Cikeas, dan seterusnya, dan seterusnya. Ini tak kalah seru. Pada bagian ini, saya terbahak. Rupanya mereka yang anonim, menurut sumber yang anonim pula, adalah raja-raja kecil yang hidupnya dari suap ke suap karena kultwit terlalu pedas. Bukan main lucunya kawan! Dikibuli tetapi nyandu.

Twitter Oh Twitter!

Ini gaya masih tergolong baru. Tidak hanya dalam berkomunikasi tetapi juga dalam mendapatkan informasi penting namun belum jelas valid. Paradoks sih. Namun, di zaman yang rentan terbohongi ini orang doyan dengan info-info sensitif dan terkait rezim penguasa. Laris manis bak kacang goreng. Cek saja, followers akun anonim mencapai puluhan bahkan ratusan ribu. Berbeda dengan beliau-beliau yang motivator, paling ribuan atau belasan ribu saja. Motivasi sudah, tinggal menggugat saja. Kira-kira begitu.

Dengan hanya 20 kali kultwit, 1 twit +- 140 karakter => 20 x 140 = 2800 karakter, anda tak perlu susah buat situs, beli domain dan hosting, bak raja Julian itu. Cukup dengan dua tiga orang admin, atau bahkan anda sendiri dengan kevalidan info nomor sekian, kultwit anda bikin muka presiden merah padam. Plus anda terkenal dan agak mulia, kesannya. Ini cara mudah dapatkan uang sekaligus kebencian dari orang. Konon, suap tutup mulut itu tidak ratusan juta, tapi mencapai M M an. Gila bukan? Inilah wajah negara yang diwariskan Bung Hatta sekarang.

Tapi kenapa orang tetap menikmati?

Jauh-jauh hari Jack Dorsey sudah memikirkan betapa hasrat manusia itu ingin yang simple, cepat, dan nanti soal ketepatan. Twitter memang tidak real time, akan tetapi ia jauh lebih simple dari pada Facebook, Lingkeldn, dan kawan-kawan. Anda cukup menulis satu tarikan napas dan mempublishnya di twitter land. Semua follower anda akan membaca dan biasanya akan kasih mention sana sini. Mention sana sini, ini keasyikan lain yang menyebabkan candu terhadap twitter.

Nah, di zaman twitter ini, orang perang dan bercinta di sana. Obama terkenal dengan julukan presiden gaul, karena aktif di twitter. Lady Gaga apalagi. Hampir separuh penduduk bumi ini ia sedot untuk mengikutinya. Ingat revolusi di negara-negara Afrika sejak 2011 lalu? Bukankah masifnya gerakan dibangun di jejaring twitter dan kawan-kawan. Penyebarluasannya begitu cepat, dan pembaca digiring emosi yang bertopeng akal sehat untuk memberontak. Di Indonesia, jika ingin, juga bisa begitu.

Di Indonesia, para menteri dan ketua partai bertwitter ria. Mereka berbicara soal kemiskinan, korupsi, air bersih, hingga bola dan tarian adat. Jelas saja mereka memiliki sederetan admin yang kelak akan bekerja keras agar akunnya nyala 24 jam. Ini citra bahwa mereka tak tidur demi rakyat. Tapi, di zaman twitter rakyat tak bodoh!

#foto dari internet

Tuesday, 5 June 2012

[1 Juni] Cerita di Balik Kepak Sayap Anak Muda




ORANG memperingati 1 Juni ini sebagai kelahiran Pancasila, dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bung Karno dan orang berjasa lainnya pada 1 Juni 1945 mengukuhkan lima pilar dalam pancasila sebagai pedoman berkehidupan dan berbangsa di tanah air dan dunia. Jalani kelima pilar ini niscaya negara akan berjalan baik-baik saja dan hanya secuil kebusukan yang disebarkan oleh orang-orang munafik yang kesetanan. Percayalah!

Bung Karno dan orang-orang berjasa lainnya, satu per satu wafat. Mereka mewariskan generasi yang tidak selalu pancasilais dan baik. Banyak yang busuk apalagi tamak. Puncaknya, Pancasila pun hanya berperan sebagai lambang di kantor-kantor kelurahan hingga gedung dewan rakyat yang terhormat. Apa yang tampak, itulah nyatanya.

Hari ini orang-orang menyebut Pancasila. Koran-koran menampilkan artikel-artikel yang membahas Pancasila dan perjuangan mewujudkannya. Di laman-laman sosial media tak ketinggalan orang yang merasa penting menuliskan secarik dua sejarah tentang Pancasila. Ini cara memperingati Hari Kelahiran Pancasila. Beragam.

Beda cerita dengan anak-anak muda di sini memperingati momen tersebut.

Kami tetap bekerja pada hari ini, bukan karena kami tak peduli dengan Pancasila, tapi rasanya dengan begini, kecintaan terhadap nilai-nilainya dapat terwujud. Kami memang tak paham bagaimana Bung Karno memperjuangkan Pancasila serta merumuskan terlebih dahulu kelima pilar tersebut. Tapi, kami dapat merasakan nilai-nilai sosial, spiritual, dan kebersamaan di dalamnya.

Di balik bangunan tinggi dan pagar besi ini, kami tahu ada hari luar biasa yang harus selalu dikenang dan dihormati. Mengenang dan menghormati Pancasila, bagi kami, tidak harus dengan lomba makan kerupuk dan menulis serta menghimbau sana sini. Kami cukup menghimbau diri kami sendiri, bagaimana seharusnya bertindak. Ialah kami tetap bekerja dengan semangat tak berkurang.

Apakah banyak yang mengatakan kami pandir, dan menghabiskan usia dengan bekerja macam begini? Kalau iya, sungguh kami tak pandir dan tak sedang berusaha bunuh diri. Kepandiran kami yang mungkin sedang ditonton oleh mereka yang lebih cerdas dan beruang, hanyalah kepandiran semu yang coba mereka hidupkan dalam pikiran mereka. Memang, ada pula orang-orang yang membiasakan diri mereka menilai orang lain bodoh dan buruk.

Sedangkan untuk menuakan diri kami bekerja, hei bapak ibu, hanya ini yang mampu negara berikan kepada kami. Kami hanya mampu mendapat pekerjaan dengan cara begini, upah begini, dan jaminana kesehatan serta keamanan segini. Ini negara merdeka yang diberikan kepada kami. Negara yang katanya luar biasa kaya dan agak cerdas.

Tapi sungguh, kami tak protes. Kami takkan kecewa. Kecintaan kepada negara ini takkan berkurang hingga mati. Tak penting apa yang diberikan negara kepada kami, yang penting kami selalu bekerja untuk negara ini. Begini kami memperingati Hari Kelahiran Pancasila.

#foto internet