Friday, 18 May 2012

[Muse] Saya Berbahayakah?



SETELAH sekian rentetan cerita tentang pelarangan, seperti pelarangan berbicara, berdiskusi, pelarangan baca buku ini itu, tentu saja yang lebih duluan adalah pelarangan beribadah, saya pun semakin kabur dalam mengenali diri sendiri. Karena apa-apa yang dilihat, didengar, dan dibaca tidak memberikan tujuan kemana saya harus melangkah. Artinya, orang-orang seperti saya ini tidak memiliki pedoman atau arahan kemana harus berjalan.

Saya lihat acara ILC di televisi tentang berbagai kasus yang marak terjadi belakangan di nusantara. Saya simak setiap kata yang keluar dari para pembicara yang kebanyakan pemimpin di organisasi yang mereka bernaung. Tiga jam acara berlangsung dan tak ada kata sepakat perihal sengketa pendapat atau ideologi yang tengah melanda. Persoalan Irshad Manji, buku yang dilarang baru-baru ini, konser Lady Gaga, paham-paham liberalisasi, dan banyak lainnya, tak kunjung selesai. Saya kecewa.

Kemudian saya bertanya ke mbah Google. Tentu saja ia menunjukkan banyak jalan menuju tujuan saya. Beragam, ada yang moderat dan reformis, ada pula yang fundamentalis dan konservatif. Saya mulai galau memilih. Mana ini jalan yang terbaik dan tidak mengecewakan orang tua. Dan jelas saja juga tidak mengecewakan Tuhan yang Maha Agung.

Saya juga menyimak banyak cerita dan info dari teman-teman di twitter. Kicauan orang-orang ini banyak memberi pelajaran dan renungan. Banyak pula memberi perintah dan seolah-olah petunjuk jalan ke surga, seolah-olah meraka telah berubah menjadi tuhan. Saya kembali bingung dan mencari-cari kemana harus bertanya. Pikiran akan keberadaan ayah kembali terulang. Andainya ayah masih bersama-sama kami (dalam bentuk fisik) tentu saya akan banyak bertanya kepada beliau. Karena beliau sangat cerdas dan bijak menyikapi pertarungan ideologi, seperti yang tengah melanda Indonesia sekarang ini.

Saya yang masih muda dan rentan akan isme-isme baru, sungguh sekarang merasakan sangat membutuhkan seseorang yang mampu mengendalikan arus pikiran saya. Saya yakin, banyak teman di pulau Rose menganggap saya sudah mulai 'hilang kontrol' berpeluang lupa akan agama yang sudah dianut sejak lahir. Toh, jika tidak, maka saya adalah penganut agama yang 'menyimpang' dari kebanyakan. Ini lebih rentan berbahaya bagi orang lain. Karena, sekali lagi, perbedaan pendapat yang kita miliki tidak sepenuhnya dipahami apalagi ditoleransi di tengah masyarakat dan berbangsa di negara ini. Sangat susah bukan.

Maka saya semakin sulit mendefinisikan diri saya yang sesungguhkan. Saya siapa? dan akan menjadi apa? Saya akan ikut dengan yang mana? Ikut A dengan aliran X nya atau ikut B dengan aliran Z nya. Saya benar-benar hilang kendali. Namun, sebaik-baiknya pegangan adalah berpegang kepada Tuhan Yang Satu. Ini jelas tidak semudah yang dituliskan apalagi semudah diucapkan. Banyak proses dan panjang menuju ke sana. Tentu saja harus ada campur tangan Tuhan mengutuskan wakilnya untuk membenahi jiwa dan hati yang tak jelas arahnya ini.

Tapi kalau dipikir-pikir tentu saja ini langkah bijak yang harus saya ambil. Mumpung saya masih yakin akan keberadaan-Nya dan semoga tidak berpaling. Mumpung saya belum 'terperosok' ke dalam aliran atau cerita yang semakin sering saya simak dari berbagai tempat. Mumpung saya masih hidup dan masih sehat bugar. Saya sangat ingin mengadu dengan selemah-lemahnya iman kepada Sang Pemilik alam semesta ini.

Jika isme yang tengah saya condong ke sana selaras dengan maksud dan ingin-Nya maka tunjukilah dengan cara yang sangat pula mudah saya pahami. Tunjukilah dengan cara-Mu yang sangat bijak dan sangat muda, sepeti saya ini. Sebagai Sang Pencipta, tentu saja Dia tak ingin banyak hamba-hamba-Nya yang muda terjerumus dan terjerembab ke cerita yang Ia tak ingini. Saya sangat yakin dengan kontrol semacam ini. Maka tunjukilah kami. Perlihatkan apa yang salah dan benar.

Tanah kelahiran saya ini tengah dilanda perang pemikiran yang masif dari berbagai kalangan. Mulai dari pemuka agama, pemikir, penulis, artis, dan anak-anak mudanya yang masih mencari-cari. Ini mungkin yang disebut resesi dunia. Setidaknya resesi bagi tanah kelahiran saya. Resesi ini mampu menjungkirbalikkan negara ini dengan kekuatannya yang maha dahsyat. Kekuatan pikiran akan muda mengalahkan apa saja.

Saya kerap mendengar perihal resesi dunia ini pagi-pagi sekali ketika ibu berlibur bekerja. Subuh-subuh beliau kerap memutar VCD dengan lagu-lagu rohani di ruang tengah rumah. Ini kembali mengingatkan saya betapa didikan secara tidak langsung yang ibu berikan sangat mampu mengontrol diri saya ketika jauh dari ibu. Ketika tak bersama ibu, saya harus punya kendali dan mata-mata yang tetap mengendalikan hidup saya dengan baik.

Maka, di sini saya memulai melanjutkan perjalanan yang jauh dari ayah dan ibu. Maka, dengan iman yang lemah inilah saya memohon bantuan dari yang saya yakini yang pemilik alam ini, Sang Khalik.

Saya pun menelepon ibu. Dalam setiap telepon ibu selalu mendoakan saya agar jalan saya lancar dan baik-baik saja. Ini sangat mahal kawan. Ini mungkin pagar agar saya tetap di jalan yang sama sejak dulu kala. Mungkin ini pula atas kuasa doa dan kemudian merunut kepada kuasa Sang Maha Agung untuk mengaliri doa-doa ibu menuju nyata adanya. Buktinya, saya hingga sekarang sehat-sehat dan tak kurang satu apa pun. Selain pemikiran saya yang mulai labil dengan kondisi bangsa ini. Jelas, soal ini ibu tak tahu. Dan saya juga tak hendak memberi tahu beliau.

Tuhan, saya akan tetap berjuang semampu saya. Seadanya saya, saya akan lalui apapun itu. Karena, Engkau tak main-main mengutus saya ke dunia melalui rahim seorang ibu di pulau Rose sana. Maka, saya juga tak main-main ketika melangkah. Untuk itu, jernihkanlah segala daya dan upaya ini.

#gambar dari internet

Tuesday, 15 May 2012

[Gossip Addict] Masa Mba Nggak Kenal Bimo?



BIMO yang mana? pikirku. Kabur banget pemandangan soal Bimo ini. Pacar atau suami siapa ya? Udah cerai? Trus anak-anak mereka gimana? Aku mulai tak karuan. Aku hilang konsentrasi menonton. Dan berubah menjadi setan yang ingin serba tahu urusan selebritis.

Itu yang pacarnya Ayu. Yang tubuhnya tatoan mba. Yang main di sinetron A. Akhir tahun lalu mereka yang heboh pulang jalan-jalan dari Eropa mba. Pokoknya keren banget pasangan ini. Ayu itu juga sangat setia. Moga cepat nikah mereka ya mba?

Caila! Aku benar-benar mati kutu. Kayak kambing congek di depan teman-teman ini. Siapa Ayu? Ada apa dengan sinetron A? Mereka nikah? Apa urusannya denganku? Trus, trus, trus, trus. Chanel TV kuganti ke acara komedi. Tapi cerita-cerita tentang Ayu dan Bimo masih berdesing. Matilah!

Ini sepenggal cerita tadi malam ketika nobar dengan teman-teman. Hampir setiap malam sih. Yang gila nonton, hingga tengah malam masih saja melek di depan TV. Dengan berbagai posisi, duduk, tidur, menyamping, menyender, dan belum ada yang nungging. Yang sekedarnya saja, ya juga begitu. Hanya saja hingga pukul 9 atau 10 malam. Aku masuk kategori ini. Karena tak gila menonton, karena banyak kerjaan yang harus segera diselesaikan.

Sepenggal cerita di atas hanyalah berlangsung malam tadi. Pada malam lalu dan malam nanti gimana? Ya sama saja. Tetap akan ada perbincangan seputar Bimo dan Ayu serta kawan-kawannya. Lain kata, kehidupan dan kasus selebritis sudah menjadi makanan sehari-hari teman-temanku di sini.

Awal kata, perdana gabung nobar dengan teman-teman, aku merasa sangat lebih tahu dari mereka. Tentu saja perihal berita hangat seputar hari atau minggu itu. Nyatanya, karena yang dipilih adalah chanel TV yang penuh dengan kabar selebritis, maka seputar merekalah yang diperbincangkan setiap hari. Ini benar-benar saya alami kawan.

Jika selama ini saya tak peduli dengan kehidupan selebritis kita, kali ini saya menjadi sangat peduli. Tentu saja saya peduli kepada teman-teman saya ini, bukan kepada kaum selebritis saja. Apa hubunganku? Emangnya mereka sadar dan mau kasih kalau aku tak punya uang buat beli pulsa? Tentu saja mimpi itu kawan. Jadi, buat apa saya ambil pusing.

Tapi, saya mulai kasihan dan penuh empaty kepada teman-teman di sini. Bayangkan, sebelum berangkat kerja setiap TV di kamar masing-masing menampilkan kehidupan selebritis yang tidak hanya glamour namun penuh sensasi. Mulai dari anak dilahirkan, anak pandai berjalan, model rambut terbaru, pacar baru, kado ulang tahun, nikah, bulan madu, selingkuh, cerai lagi, hak asuh anak, berantem dengan orang tua, kicauan di twitter, foto syur, dan sungguh masih banyak lagi. Kabar-kabari yang kebanyakan #sampah ini ditonton oleh teman-teman saya ini setiap pagi sebelum berangkat kerja.

Tak satu pun yang memutar chanel tentang berita pagi apalagi film kartun. Tak ada. Kenapa saya tahu? Ya tahu dong. Karena mereka kompak memilih chanel yang sama, sama-sama berkisah tentang Bimo dan Ayu, dan kawan-kawan mereka. Sama kawan. Kamar satu bicara tentang pasangan selebritis, kamar dua pun begitu. Kamar tiga pun sama. Bayangkan, betapa jelasnya setiap kata yang diucapkan oleh host acara sialan macam begitu.

Dampaknya ada? Tentu ada dong dan nyata sekali. Apakah mereka juga memotong rambut macam idola mereka. Kadang ya. Apakah mereka ingin membeli baju macam idola mereka. Benar sekali. Apakah mereka bahagian ketika melihat berita itu? Wah pasti itu. Mereka senang. Tertawa. Jika ada teman yang salah menambahkan informasi itu, maka teman yang lain akan meluruskan. Macam begini nih.

Suaminya itu setia, hanya saja istrinya ganjen dan mengkhianati. Kalau ini suaminya yang KDRT. Makanya, istrinya minta cerai. Bukan karena selingkuh. Begitu.

Saya terheran-heran. Kok hapal ya?

Ini jelas menggambarkan betapa TV beserta chanel sialan dan #sampahnya mengotori otak penonton dan anak muda kebanyakan. Satu hal yang paling penting diketahui sebagai dampak dari TV dan program acara gila-gilaan macam begini adalah, imitasi atau proses peniruan yang sangat besar dari penonton kepada idola mereka. Kalau mereka mampu? It is okay. But, if they do not. what next to do? Tidak menutup kemungkinan mereka akan maling.

Ini sepenggal lagi cerita naif dari Gosip Addict ini.

Mba, saya pengen banget lho punya kebaya macam si B itu. Manis banget. Satu saja, tak usah banyak. Tapi harganya Rp 500 ribu saja. Saya pengen banget e. Ntar kalo kemana-mana macam kondangan atau buat nikah kan enak. Satu aja. Kalau harganya sampe jutaan gitu, matilah kita kan? Saya tak punya uang segitu. Tapi pengen punya. Sepertinya harus putar otak buat punya nih.

Belum lagi dengan penggalan cerita ini.

Mba liat si C dan si D itu. Mereka pasangan sempurna. Punya rumah, mobil, anak imut, kemana-mana ada supir, mainnya ke mall dan taman-taman hiburan. Trus kalo weekend ke luar negeri. Paling dekat ya Singapur. Seneng kan mereka. Saya mau juga punya suami macam si C itu. Biar hidup saya tenang mba.

Aku tepok jidat dan menelan ludah mendengar cita-cita yang rada sableng begini... to be continued.

Aku tidak bermaksud membuka aib mereka. Ini memberiku banyak pelajaran, makanya aku abadikan menjadi cerita. Mohon maaf jika janggal dan membuat hati pembaca seperti dihoyak gempa.


#gambar dari internet

Monday, 7 May 2012

[Musefun] Twitter, Kamar Ke 2 Kita



Sejak mencoba aktif dan merayakan hidup bersama twitter, sebelumnya tentu saja facebook dkk, hidup ini lambat laun terkikis dan aus. Oleh pergaulan dan magnetnya dunia internet yang merambah sampai ke kamar mandi. Bagaimana tidak, daya tarik socmed ini sangat kuat dan meluluhlantakkan hati yang tak kuat.

Hasrat ingin bergabung pun tak terbendung. Akhirnya dengan meneguhkan hati, ngetwit pun dimulai. Welcome to twitter, begitu kira-kira sambutannya. Saya lupa dan sedang malas mengingat-ingat apalagi berpikir. Kreasi Jack Dorsey pun merayapi sekujur hari-hari. Saya tak mampu menolak. Karena memang orang-orang lucu dan kreatif plus cerdas banyak di sana rupanya. Pun demikian dengan si doi yang lebih dahulu bergabung.

Memang, sudah hampir enam tahun lalu socmed ini lahir dan berkembang di Amrik sana. Hanya saja, sejak 2010 lalu, socmed satu ini menggema keras di Indopahit. Pun, dengan saya, jurnalis muda dan kadang ecek-ecek sudah familiar perihal twitter singgah di telinga. Akan tetapi, baru tahun 2012 ini sangat aktif menggunakannya. Sejak 2010 sudah buat akun, karena di Pulau Rose orang jarang memakainya, maka setibanya di rantau penjual bak mie saja pakai twitter, pasti ada yang salah dengan saya yang tidak memanfaatkannya. Maka jadilah, kembali aktif maksudnya.

Berbulan-bulan kemudian, follower semakin bertambah. Ada-ada saja yang memfollowed. Pun dengan twit mereka yang cerdas, aneh, lucu, dan kadang bodoh. Di sini kembali saya belajar. Mana orang yang benar-benar cerdas di twitter, dan mana pula yang goblok. Tentu saja ada yang hanya seperti kebanyakan, metwit hal-hal seputar kegiatan mereka sehari-hari. Tak ubahnya seperti saya ini. Garing ya? Ya begitulah. Otak belum ingin dipaksakan buat berpikir banyak.

Catatan saya, jika di facebook atau socmed lainnya, mungkin penggunanya bisa memanipulasi karakter dan siapa mereka, di twitter seperti sangat sulit buat begitu. Karena dengan kapasitas kata yang hanya 140 karakter itu, anda akan menjadi diri anda sendiri. Tak bisa sok baik dan sok alim. Lambat laun akan terlihat siapa anda. Tak percaya, silahkan cek atau follow orang-orang yang anda idolakan. Anda akan tahu apa, dengan siapa, dan seperti apa isi otak mereka setiap detik.

Cerita sedikit, saya memfollow orang yang saya anggap hebat. Ternyata kerjaan seharian hanya memention setiap kabar yang ada di dinding twitternya. Acapkali mention itu tak penting dan hanya sekedar menertawakan. Sungguh, saya kasihan dengan perilaku bertwitter macam begini.

Awalnya saya benar-benar shock dan nggak nyangka. Lama-lama saya terbiasa dan paham dengan maksud terselubung dilahirkannya socmed satu ini. Anda dipaksa berkicau, karena dengan berkicau anda menjadi lebih eksis dan demi menambah follower. Hal ini akan selalu berlangsung jika anda tidak membatasi waktu memantau twit satu dengan yang lain.

Masih banyak cerita lagi tentang twitter yang saya pantau dari hari ke hari. Mungkin saya termasuk yang gila twitter. Maka maafkanlah kicauan saya yang freak ini. Salam berkicau!

[Remember] Jangan Paksakan Selera Musikmu!



Dalam sebuah tulisan yang tak sengaja ditemukan di internet, salah satu kecerdasan yang dimiliki oleh manusia adalah kecerdasan bermusik. Kecerdasan ini tidak hanya sebatas pada kemahiran memainkan alat musik, tetapi juga menyanyi. Intinya, ada orang-orang yang baru sekali dua mendengar sebuah lagu langsung hapal dan dengan enak menyanyikannya. Ada juga tak pandai-pandai walaupun telah mendengarkan hingga puluhan kali. Bahkan sengaja menuangkan lirik lagu itu di atas kertas. Hasilnya nihil.

Jawabnya, jangan salahkan diri anda yang tak pandai-pandai itu. Karena memang, menurut tulisan tadi, kecerdasan seseorang dalam memahami dan melakukan suatu hal berbeda-beda. Bukan berarti mereka tak bisa. Hanya saja proses dan lama penerimaan sesuatu berbeda. Begitu juga dengan musik. Walau kedengarannya enteng dan remeh.

Sama halnya dengan genre musik yang dipilih. Kerap, karena sedang up to date atau tren musik X digandrungi habis-habisan. Musik Y dan Z yang dinilai sudah tak tren dan baru lagi pun ditinggalkan. Didelete dari netbok dan handphone. Diganti dengan musik X yang terbaru dan hampir setiap sudut desa memainkannya. Semua menjadi seragam. Karena mampu menaikkan gengsi pemutarnya.

Masalahnya, saya yang kadung jatuh cinta dengan musik keroncong, berpikir sepuluh kali untuk memutar genre musik ini di kantor. Rekan-rekan kantor, setelah melakukan investigasi mini, lebih condong ke arah pop, kebarat-baratan, rock dan metal, pun sedikit membelot ke aliran nasyid, yang tengah tren seperti lagu-lagu Maher Zein dan Sammy Yusuf, kalau saya tidak salah.

Saya bukannya tak suka dengan genre macam begitu di atas. Kalau musik-musik itu diputar hampir sepanjang hari selama enam hari berturut-turut, akan menjadi wajar jika ada niat untuk mendelete genre musik itu di komputer admin, haha. Niat inilah yang saya takutkan akan beraksi tiba-tiba hingga rekan kantor mencak-mencak dibuatnya.

Selain itu, saya orang yang kerap menertawakan orang lain yang suka ikut-ikutan. Kadang saya sadar kalau saya kerap demikian juga. Termasuk ketika seseorang mencintai genre musik yang tengah ngetren. Maaf, saya suka meremehkan mereka. Ketika orang-orang putar lagu-lagu Mettalica, situ juga putar Mettalica, walau tak paham apa yang disampaikan. Pun ketika orang dengar syair-syair Maher Zein, situ dengar Maher Zein juga. Bahkan memuji-muji genre musik itu sangat bernuansa surga. Ini bagi saya freak!

Kenapa saya protes atau keberatan? Karena anda yang memutar Maher Zein atau Sammy Yusuf, masih saja suka coel-coel gadis. Masih saja suka lirak-lirik dada dan bokong perempuan. Karena tak sedikit dari anda yang menyanyikan lagu-lagu mereka sepertinya sangat tersentuh, langsung tobat, dan bercita-cita ingin hidup seperti dalam syair tersebut. Nyatanya, tetap saja disetiap obrolan anda menyisipkan sumpah serapah dan ungkapan tak sopan lainnya. Wajarkan kalau saya menertawai anda?

Atau anda mengaku Mettalicaholic dan sejenisnya, akan tetapi tak pede dengan bentuk badan yang dimiliki. Bisanya cuma teriak-teriak. Ini membuat saya kesal. Karena saya benci dengan orang-orang yang sok paham dan sok mulia, yang ke-sok-annya itu didapat dengan imitasi (meniru) murahan. Bahkan imitasi itu hanya didapatkan dalam secarik lirik lagu. Ini nggak asyik bro!

Nah, mengenai genre keroncong yang saya sukai, namun kenapa saya tidak berdandan atau berperilaku ala penyanyi keroncong? Katakanlah itu lemah gemulai atau bahkan merantau ke Portugal sana. Ya, saya belum mampu ke sana serta juga tak sudi sok-sok an. Dan yang jelas saya berusaha tidak mencoba mengelabui hati dan pikiran saya dengan aliran musik yang digandrungi.

Intinya, berhenti sok mulia dan sok paham jika anda belum mampu melakukannya. Dan please, jangan memaksakan genre musik tersimpan dalam netbok atau handphone anda yang itu tidak benar-benar anda sukai. Percuma bro. Bikin sampah saja.

Remember ini buat diri sendiri yang jika tak cepat sadar akan kalah dan hanyut diterjang maunya industri musik dunia. Dan, maaf bagi pembaca yang tersinggung. Yang lebih penting saya tidak berniat membuat anda berpindah agama.

Wednesday, 2 May 2012

[MayDay] Catatan Seorang Buruh




Sebagai seorang buruh, saat ini, setidaknya saya harus menulis peringatan Hari Buruh Internasional (MayDay) yang baru pertama kali saya rasakan. Ya, pada peringatan MayDay tahun ini, 1 Mei 2012, saya baru tahu dan sadar betapa pentingnya hari ini diisi dengan, katakanlah, sedikit protes (perjuangan) oleh kaum buruh sedunia.

Adalah sistem outsourching yang ramai dibincangkan di banyak media, baik cetak maupun elektronik. Sistem ini dinilai menjadi sistem perbudakan yang kembali terbangun setelah zaman jahiliyah. Sistem yang sewenang-wenang terhadap nasib dan harkat diri umat manusia sebagai makhluk termulia di muka bumi. Karena dengan sistem ini, pekerja sewaktu muda diperas otak dan ototnya, maka menjelang berumur atau tua, mereka dicampakkan (dikembalikan) kepada si penyuplai tenaga kerja. Maka sistem outsourching sama dengan agen murahan. Pada MayDay, ini pun digugat habis-habisan.

Saya tahu karena saya sengaja pantau MayDay ini sejak subuh hingga malam hari. Tentu saja di sela-sela tengah mengerjakan pekerjaan kantor juga. Sebagai buruh, kebijakan tertinggi tidaklah berapa di tangan kami. Faktanya, jika di luar negeri sana atau di Jakarta peringatan MayDay semua buruh diliburkan, maka saya dan rekan-rekan tetap masuk kerja. Kenapa kami tak protes? Bukankah itu momen yang pas? Entahlah. Mungkin kami terlalu sopan dan banyak menghargai perasaan orang lain. Jadi, cukup protes di blog saja, jika pun tulisan ini bernada protes.

Kembali ke sistem perbudakan era neolib. Beberapa teman saya di Pulau Rose bekerja mengandalkan sistem ini. Hingga sekarang, mereka belum terkena masalah. Apakah itu perihal gaji, kontrak kerja, serta layanan kesehatan. Entahlah kalau tahun depan. Apakah mereka masih akan baik-baik saja dengan sistem ini. Saya akan tunggu kabarnya.

Memang, kerap berhembus kabar ke telinga, sewaktu-waktu mereka dapat diberhentikan oleh yang empunya perusahaan atau ditarik oleh sistem dimana mereka bergantung. Ini akan sangat mengerikan, kata salah satu teman yang tergabung di sistem ini. Tentu saja ada alasan kenapa mereka dikeluarkan atau ditarik. Akan tetapi, alasan yang dominan kerap kali bukanlah alasan profesional. Misal, karena karakter pribadi yang kalau dicari ujungnya belum tentu berpengaruh kepada kualitas kerja. Pun dengan karakter yang empunya perusahaan yang tidak sedikit pula kurang bersahabat bahkan sentimen kepada karyawan atawa buruh.

Ini merupakan bentuk sewenang-wenang empunya perusahaan dan agen tadi. Ini pulalah yang menginspirasi saya menyebutnya sebagai perbudakan era neolib. Beruntung saya bekerja tidak memanfaatkan sistem sialan ini. Ini baru satu kasus di Pulau Rose yang tidak semetropolitan Jakarta. Apalagi di Ibu Kota yang terkenal angker dan beringasnya itu. Hak-hak para buruh, kerap kita dengar, tidak terpenuhi dan selalu diabaikan.

Para buruh ini rela dimiskinkan oleh perusahaan dimana ia mengabdi. Suatu putusan yang luar biasa dan sudah membumi. Kenapa? Ya karena demi anak tetap bisa sekolah dan atau karena jika lebaran bisa mudik. Sayangnya, yang empunya perusahaan dan agen tadi adalah oknum-oknum mata duitan berotak setan. Mereka memikirkan hal ini hanya sepintas. Karena darah kapitalis sudah mengalir deras dari tumit hingga ubun-ubun. Maka tak peduli lagi dengan sekolah atau tidak, bahkan lupa kapan lebaran.

Kondisi ini, pada MayDay, menjadikan buruh turun ke jalan. Mereka bersorak dengan spanduk penuh dengan tulisan protes dan kebencian. Macet Jakarta jadi dua kali lipat. Syukur jika tak ada yang anarkis dan merusak fasilitas umum. Teve, radio, detik.com dan koran penuh dengan MayDay. Saya dan rekan-rekan pun hanya menonton. Sekali-kali berkomentar tak penting. Ya, mungkin begini saya memperingati Hari Buruh Internasional 2012 ini. Selamat MayDay ya.

#foto dari internet