Friday, 27 April 2012

[Review Hidup] Mari, Mampir Sejenak


Siapa nanya jika perjalanan ini masih membawaku pada jalan yang berliku dan panjang. Jalan yang tak berkesudahan dari malam ke malam lagi. Begitu setiap hari dan petang. Perjalanan yang sungguh melelahkan. Karena selalu berpacu dengan waktu, langkah-langkah pun terbiasa untuk selalu bergerak dan berpindah.

Namun, pagi ini, di tengah lapar mendera dan hanya ada seonggok komputer putih di depan mata, ada suara sengau menderu di ulu hati.Ah, hidup. Jika ingin memilih, aku
berharap dibesarkan oleh peladang dan tinggal di kaki bukit yang penuh dengan hamparan sayur mayur, beberapa ekor ayam kampung dan sapi perah. Cukup itu. Tentu saja bersama orang-orang yang aku kasihi dan mengasihiku.

Rasanya, meneguk teh atau kopi di pagi hari yang merupakan hasil panen sendiri sangat menggiurkan. Belum lagi jika ditambah pula dengan pisang atau ubi rebus atau bakar yang kerap disuguhkan ibu dan nenek di pulau Rose dulu. Sungguh, hari yang menyenangkan dan penuh dengan kebermaknaan. Ini hari penuh cerita, yang mungkin tak pantas diterbitkan di blog lusuh ini.

Tapi kawan, hidup, sadar atau tidak kau rasakan, selalu meminta kita agar diperhatikan dan selalu menikung, berkelok, dan menuju ke arah atas. Banyak dari kita
yang ketika memenuhi kehendak itu hampir mati dan gila dibuatnya. Termasuk aku yang pada hari ini mungkin. Begitu sangat merasakan jemu, bosan, garing, dan ingin lari dari ruang ini, jika boleh. Betapa waktu ini, ketidaknyaman yang selama ini membuncah ujungnya ingin meledak pada hari ini.

Adalah pengekangan batin yang menjadi ujung permasalahan ini. Sekalipun batin itu pada dasarnya tak akan mampu dikekang dan dipenjarakan. Akan tetapi, apa yang kurasakan saat ini membalikkan segala kalimat dan juga mungkin jargon di atas. Karena pengekangan batin itu ada nyatanya. Tak percaya, mungkin butuh tenaga dan cobaan keras untuk membuktikannya.

Nah, sekitar lima menit lalu, sebelum kulanjutkan tulisan ini, malu tak malu aku harus menemukan makanan yang mampu mengganjal perutku. Apa pun itu. Asalkan mampu dihaluskan oleh gigi dan mampu pula digiling oleh usus. Kutemukanlah kerupuk lebar dan semangkuk mie goreng di atas meja makan.Untuk apa lagi menunggu? Langsung saja kusikat makanan itu. Alhamdulillah, rasa lapar sedikit berkurang dan akupun kembali bekerja.

Mengalami cerita ini, aku jadi teringat akan kisah dan slogan sewaktu jadi mahasiswa sekitar 2-3 tahun lalu di kota Cumulonimbus. Kita yang waktu itu sedang ingin belajar menjadi mahasiswa yang hiperaktif, ya orang-orang cerdas mengenalnya sebagai aktivis,
mati-matian berusaha dan mendorong diri agar bertahan.

Slogan kita, tak logis tanpa logistik. Makanya setiap akan menjalankan sesuatu kita mati-matian cari makanan terlebih dahulu. Ini dilematis. Dan tak jarang pula jadi lelucon dan bahan ledekan dari para tuan pengambil kebijakan (senior). Benar mungkin jika pada waktu itu kerjaan kami banyak makan dan agak terkesan lalai dengan kewajiban atau tanggung jawab. Tapi apa boleh buat, begitulah iklim pergaulan di antara kami. Budaya ini masih berurat berakar hingga sekarang.

Memang naif rasanya jika dipikir-pikir menghabiskan separoh hidup hanya untuk memikirkan perut. Bahkan memalukan untuk di zaman twitter dan skype ini. Karena,
andalah orang terbodoh dan terugi. Kasihan sekali.Tulisan ini ngelantur kemana-mana tak tentu arah dan tak terukur keabsahannya. Ini hanyalah omong kosong saya tentang hidup yang saban hari semakin pelik saya rasakan. Tapi, saya, sungguh tak mau kalah. Ini egois yang tidak sehat mungkin. Egois yang akan memperbudak diri sendiri dan hati. Benar-benar tak sehat.

Untuk itu, mari singgahlah sejenak. Lepaskan penat di kepala dan di tubuh yang mendera sejak belasan tahun lalu. Siapa lagi yang akan mengasihani engkau jika tidak diri engkau sendiri. Lepaskan dulu beban di pundak. Berselonjorlah agak 15 menit dan nikmati aktivitas di sekelilingmu. Betapa hidup menginginkan diri jauh berbeda dari diri yang sebenarnya itu. Betapa hidup mengegoiskan diri dan kita mengikuti saja. Ini benar-benar tak fair kawan.

Keberpacuan ini, kata seorang guru spritual asal Taiwan, hanya akan membuat diirmu penat dan merasa bersalah jika tidak tercapai. Kebahagiaan seutuhnya adalah menikmati dan mensyukuri apa yang ada di depan matamu. Jangan mengada-ada dan ngoyo. Paham realitas, paham diri, dan paham hidup di dunia.

Selamat merdeka teman-teman. Nikmati apa yang ada di dirimu sekalipun itu kecil dan mungkin tidak berharga bagi orang lain.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^