Monday, 12 March 2012

Suatu Pagi Ketika Ibu Mengharap Telepon





Adalah cerita tentang keengganan patuh pada hasrat dan mental berbelanja. Tak ingin menguras kantung hanya untuk keperluan yang bisa ditangguhkan. Dan tak juga besemangat memperkaya para kapitalis yang belum tentu anak negeri. Hingga mengisi ulang kartu telepon prabayar pun ditepiskan untuk kesekian waktu. Tentu saja ini tak membuat mereka -para kapitalis- segera kere. Ah, jauh panggang dari api. Belum. Masih jauh. Namun, ada kelegaan.

Kabar ini pun tersiar kepada kakanda di pulau Rose . Ia mahfum. Dan segera memberi tahu ibu. Tapi apa kata ibu, 'Ini penting! Segera telepon ibu,'. Aku terhenyak. Malam harinya, kakanda bercerita bahwa ibu agak keberatan dengan sikap kami. Dan cerita ibu keberatan ini tersiar ke beberapa kota di pulau Rose. 'Hmm, ibu terlalu khawatir akan tanah Bulb ini,' kataku pada kakanda. Ia setuju. 'Sebagai anak perempuan kita telah berdosa'. Aku menolak. Kujelaskan, setelah kuperdengarkan suaraku pada ibu, ibu terdengar riang dan mulai belajar mengurangi kecemasan.

Enam jam sebelumnya, aku berjuang bagaimana memperpanjang usia sepatu beludru ini.

Adalah para lelaki yang mengabdikan hidup sebagai pahlawan-pahlawan sepatu. Tepatnya pengrajin yang dengan gigih memperbaiki barang-barang lusuh untuk disulap menjadi lebih bertenaga, tapi bukan baru. Di tengah kota 32,5 km persegi ini hanya dalam hitungan jari ada orang-orang yang rela bekerja macam begini. Apalagi di akhir pekan; setengah mati, berkeringat asin, dan hendak menyumpah dibuatnya, amat sangat sulit sekali menyaksikan mereka lembur, membuka jasa permak sepatu. 'Tukang sol juga kenal hari minggu,' teman membujuk. Oooooooo,

Baiklah, tapi adalah sesuatu yang menarik jika dapat menemukan para pahlawan ini lembur menjahit sepatu pada hari minggu. Di antara 388 ribu jiwa ini, sungguh sangat sulit menjumpai para pahlawan ini. Setelah berkeliling 3-4 jam, barulah menemukan mereka dengan sangat khas. Meja dilapisi terpal-terpal keras dan bekas, di kiri kanan pahlawan penuh dengan sepatu, benang-benang berwarna gelap, kaleng brisi sabun bewe [merek sabun batangan yang sangat terkenal waktu saya SD, kira-kira 10-15 tahun lalu], jarum-jarum dengan ukuran sejengkal, kresek, serta kain-kain lusuh. Pahlawan kita ini duduk di tengahnya sembari mengapitkan sepatu di antara kedua belah paha. Masih begitu saja model duduk dan cara orang sini menjahit sepatu, ungkapku. Memangnya macam apalagi? kata temanku menganggapku aneh.

2012 ini, ketika orang-orang masih setia mengalasi kaki mereka, maka pahlawan pempermak sepatu ini akan selalu eksis. Meskipun jumlah mereka semakin berkurang dan langka. Mereka tahu betul, di tengah gaungan konsumsi model sepatu, tas, dan seterusnya, bahwa pada hakikat karakter 'cangok' [cangok, bahasa Minang artinya rakus/tamak] akan selalu melekat hingga nyawa melayang di tubuh manusia. Mereka tak akan ingin melepaskan begitu saja sepatu-sepatu yang telah dibeli hanya karena mulut sepatu menganga.

Dan sebenarnya tidak hanya 'cangok', kikir juga termasuk di sini. Menurut survei mata sendiri, bahkan sepatu-sepatu yang telah dijahit itu tidak dipakai kembali, karena modelnya telah terciderai oleh jalinan benang di pinggir atau di telapak sepatu. Ah, alasan apa lagi ini? Nah, sepatu ini pun dipaksa memenuhi rak sepatu lusuh dan bau. Dibuang sayang, dihibahkan apa lagi. Mana tahu suatu hari kelak berguna. Padahal sepatu yang telah berjahit itu sudah empat kali lebaran haji.

Dan bisa saja ini penulis di pulau Rose yang tengah berada di tanah Bulb. Sedang mempergunjingkan diri atau orang lain, serta memperingati diri dan orang lain. Begitulah, yang jelas, sepatu beludru sudah tak menganga dan beberapa lembar dollar dengan sangat rela bagi saya dikantungi oleh pahlawan sepatu tempo hari. Sepintas, sangat tak ada yang dirugikan. Dua pintas, kami-kami adalah hamba-Mu yang memiliki tujuan hidup sama, sama-sama ingin eksis.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^