Tuesday, 27 March 2012

12 Days Your Shadow Played in My Mind



"You know, I just wanna say I like you and I hope you to be patient to listen what I told and what I want. No more baby. But, in my opinion you are very skeptic of my story. It's not ok. And you know that but you still leave me alone. It is so painful right. Whatever, I wish you will stop off on my site blog in dedees-dedees.blogspot.com, may it happen you think the reason you loved me before" (My heart always goes with the tide to your heart)

Ini menjadi kutipan tergalau pada pekan akhir Maret 2012. Entah karena udara semakin panas, demo sana sini, atau bahkan karena hutang semakin menggunung, tak juga kunjung gajian. Pun dengan kutipan ini rasanya, ada yang terlepas dari pundak kanan. Beban 2,5 kg serasa terhempaskan. Meskipun diikuti dengan kesan mengemis cinta. Oh, poor me bro!

Adalah kisah cinta yang malang Adele semakin mengukuhkan betapa kejujuran mencintai seseorang menjadi dualisme kekuatan baru. Pertama, dengan mengemis cinta plus muka penuh derita, kau benar-benar menjadi makhluk yang sangat pantas diibai dan wajib mendapat santunan. Santunan hati yang kadang tak terganti. Kedua, betapa kau hampir mati dengan racun cinta yang kau ramu sendiri kemudian mencekik lehermu dengan sengaja. Namun, lagi-lagi, kau tak berdaya. Layla wa Majnun memang sudah takdir terlahirkan di setiap 100 km2 di tanah bumi ini.

Dan, I always remember you! Your laugh make me fly.

Aku di sini tak henti-hentinya membayangkan hal-hal gila tentang masa depan. Benar kata tetua negeri kita. Adalah pikiran sebagai senjata sekaligus racun pembunuh bagi mereka yang abai dengan otak dan insting. Aku di sini tengah begitu. Memikirkan banyak kemungkinan yang menyebabkan kita dikenal oleh orang senegeri dan menjadi isu dunia setidaknya hanya selama tiga hari tiga malam. Adalah itu masa dimana kita tengah melangsungkan pesta pernikahan, perkenalan dua keluarga besar, dan conference press. Kenapa harus ada? Karena kamu dan ibumu sangat menginginkan aku. Dan tak peduli betapa kucel dan bodohnya aku yang berasal dari negara agraris yang rakyatnya selalu beranak banyak. Oh, hayalan ini membuatku sulit memejamkan mata dan kadang terkikik sendiri di kamar.

Dan, I always remember you! Your prciousitis make me crazy.

Semakin lama kulamunkan semakin panjang pula cerita itu. Pun dengan melahirkan beragam tokoh yang menyaksikan ritual sakral hubungan kita. Kuharapkan mereka yang menonton menjadi iri dan kecil hati ketika melihat piguraku sebesar pintu rumah tengah dikecup mesra di jidat oleh dirimu yang penuh kharismatik. Sekharismatik lelaki timur dengan stok sperma yang menyebabkan bumi ini penuh sesak oleh anak manusia yang tidak kesemuanya cerdas dan berpotensi korup. Bah! hayalan memiliki anak dibuang, karena ternyata tak enak di telinga.

Aku dan kamu pun terbang dengan pesawat pribadi menuju negeri yang sangat tertib dan berbelanja tidak dengan IDR [rupiah] lagi. So sorry, we'll use £ to get something. Aku pun senangnya setengah mati. Sayangnya, ibuku yang sangat pencemas dan cinta anak itu ingin juga terbang dan menyaksikan malam pertamaku, bahwa aku bukanlah calon perempuan yang lebam-lebam di dalam berumah tangga. Alhasil, tidak. Tentu saja, hayalan ini tak akan merugikan diriku secuil pun.

Dan, I always remember you! Cause your mom is a muslim women.

Di kota itulah aku melanjutkan mimpi-mimpi yang pernah terjual mahal dan mendapatkan laba hampir 1000 kali lipat. Siapa yang tak sudi kawan? Kau dan keluargamu menjamuku bak aku seorang Maryam yang kelak menurunkan juru selamat, seselamatnya perahu Nabi Nuh yang lolos diterjang gelombang tsunami. Kau dan ibumu pun mengajarkanku bagaimana meramu daging babi seperti daging ayam yang kelak akan kita hidangkan untuk tetangga kita pada malam pergantian tahun baru 2015 Masehi. Aku senang, ibumu apalagi.

Aku hidup bersamamu bertahun dan berpuluh tahun kemudian. Namun, aku tak bisa menuliskan di sini bagaimana angkuhnya dirimu di depanku dan yang kau inginkan hanyalah no time play around me! You know, you're so lumpy man.

Monday, 26 March 2012

[Cerita di Minggu Pagi] Jogging dengan Seribu Sejarah




Sekitar 10 menit perjalanan jogging dari tempat tinggalku ke arah utara, kau akan bertemu dengan tiga jenis batu yakni Batu Gilang, Batu Gatheng, dan Batu Gethong. Sebelumnya, di sini di kota ini kita tentu saja tak mengenal hulu dan hilir kawan, karena kota ini adalah kawasan yang terletak di tepi pesisir/laut serta juga lembah. Masyarakatnya mengenal arah dengan sebutan mata angin yaitu biasanya utara, selatan, barat, dan timur. Dan ketiga jenis batu ini adalah obyek peninggalan sejarah Keraton Mataram 1509. Sangat tua bukan kawan?

Nah bangunan ini dipugar, dicat ulang, dan dirapikan kembali. Letaknya persis di tengah jalan dan di antara dua pohon beringin tua yang akar gantungnya menjuntai kemana-mana. Oiya, waktu kanak-kanak dulu, di Pulau Rose, beringin adalah rumahnya para wewe gombel serta makhluk halus lainnya. Itu cerita di Pulau Rose dan kami meyakini. Akan tetapi, di kota ini, beringin tidak demikian, mereka tumbuh di tengah-tengah kota, sebagai tempat berteduh dan bermainnya anak-anak, serta juga sangat dihormati. Beringin yang kira-kira mencapai 30m dan butuh tiga orang untuk mampu merangkul batangnya, saya kira usianya pun sudah mencapai ratusan tahun. Atau bisa dikatakan beringin menjadi situs sejarah yang hingga kini masih bernyawa.

Karena letaknya persis di tengah jalan, jadi bangunan ini pun ditempeli lambang tertib berlalu lintas. Saya tersenyum ketika melihat garis merah dan biru horizontal tertempel di kanan kiri pinggang bangunan. 'Akhirnya kau dipaksa patuh dengan inginnya generasi muda' bisikku sembari mengulum senyum pada bangunan itu. Tak jauh berbeda dengan Kandang Menjangan di Krapyak. Letaknya makin ke barat kota ini, persisnya selatan Keraton Ngayogyakarta. Bangunan yang dulunya dipakai sebagai perangkap ketika berburu rusa, kini menjadi situs sejarah berupa benteng. Letaknya persis di tengah jalan dan ditempeli lambang tertib berlalu lintas. "Di kota ini, apakah sengaja rakyatnya memosisikan situs sejarah menjadi tempat umum agar selalu dilihat dan gratis. Atau merupakan wasiat?" "Entahlah, siapa sangka bangunan ratusan tahun masih kokoh hingga sekarang," ujar teman enggan mengungkit-ungkit sejarah.

Kembali kumenyusuri perkampungan kota ini yang tidak hanya asri namun juga penuh warna. Macam-macam, sepanjang jalan kau akan menemukan warung-warung makan yang bangunannya unik serta sangat jadul, kampung-kampung kecil dengan nama dan slogan sesuai RT/RW mereka, pemakaman para ustad atau orang-orang yang dianggap bertuah, panganan industri kreatif, serta mural-mural di sisi kiri kanan tembok-tembok rumah penduduk. Ada yang berbicara tentang gotong royong, memasak bersama, posyandu, pos ronda, dan wayang. Dan tak perlu harus menjadi feminis, karena sudah sangat jelas setiap perempuan dalam mural itu kerjanya hanya berputar-putar di dapur, sulam, dan mengasuh anak. Sedangkan para lelaki, memikul cangkul di sawah, mengasah parang, dll. Pakaian mereka sangat Jawa, berkemben, sarung batik, serta sanggul, sangat Kartini.

Akan tetapi akan berbeda dengan mural yang menyuguhkan posyandu, pos ronda, dan PAUD. Para perempuan tak lagi berkemben, tetapi berjilbab serta memakai celana panjang. Serta para lelaki mereka duduk-duduk merokok di pos ronda. Ada banyak cerita dari mural ini yang bisa kita terjemahkan sesuai hasrat kita masing-masing. Tapi, tak usahlah.

Sekitar lima menit jogging ke utara dari tiga jenis batu ini, kau akan bersua dengan kompleks pemakaman Raja-raja Mataram (1575-1640), khususnya Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-17. Awalnya kau akan disambut dengan sebatang beringin besar dan tinggi menjulang. Lagi, saya yakin usianya sudah mencapai ratusan tahun. Kemudian melewati beberapa benteng yang mirip dengan candi-candi Hindu, dan kau akan bersua dengan Masjid peninggalan Kesultanan Mataram yang dipinpim oleh Panembahan Senopati (Sutawijaya). Semakin ke dalam, kau akan berjumpa dengan pemakaman raja-raja ini dimulai dari yang pertama, ada Sultan Agung, Paku Alam I, Sultan Hamengkubuwono I, dan seterusnya.

Di sini setiap orang boleh berziarah. Tentunya harus sesuai jadwal dan cukup umur. Ada peraturan yang bagi saya sendiri unik dan membuat berdecak kagum. Jika biasanya kita berziarah lebih kepada agama atau syariat, nah di sini, di pemakaman ini anda berziarah bisa dikatakan tidak lagi menurut syariat, tetapi menurut keraton. Sebelum memasuki makam, anda yang laki-laki harus dan wajib mengenakan pakaian bak pada zaman kesultanan atau monarki Mataram tempo dulu. Memakai blankon, baju khas kesultanan (saya lupa namanya), sarung batik, serta sandal. Nah, bagi yang perempuan tentu saja harus memakain kemben, sarung batik, dan tak boleh memakai perhiasan emas. Semua dilepas, termasuk yang memakai jilbab. "Karena ke makam itu kita tidak sedang menjalankan syariat agama, namun ingin 'menghadap' sultan," begitu kata seorang kenalan yang tengah 'bertapa' di sekitar kompleks itu. "Ooooooo" jawabku panjang.

Untuk sewa pakaian ini, anda akan dikenakan biaya sebesar Rp 10.000 per stel. Terserah mau berapa lama berziarah di makam para raja itu. Yang jelas harus sepengetahuan pengelola kawasan tersebut. Selain itu, di sini juga disediakan tempat mandi untuk para perempuan dan laki-laki yang letaknya bersebelahan. Air yang digunakan untuk mandi itu, kabarnya berasal dari makam-makam para raja yang tak pernah kering apalagi keruh. Air itu dimuarakan ke dalam beberapa kolam yang juga berisi ikan-ikan. Ada lele sebesar paha orang dewasa, ikan mas, dan jenis ikan lainnya yang enak untuk digoreng. Konon, ikan ini juga berperan dalam menyampaikan 'pesan' dari sultan kepada pertapa-pertapa di kawasan ini.

Namun, dengan gaya yang santai, teman kenalan tadi tak begitu menggubris, karena pada dasarnya ikan-ikan yang dipelihara baik di kolam penampungan air mandi, maupun di sekeliling masjid, gunanya agar jentik-jentik nyamuk tak berkembang biak di sekitar kompleks makam dan masjid ini. Masuk akal. Karena, kawasan ini baik siang maupun malam selalu diramaikan oleh para peziarah dari berbagai tempat di nusantara. "Kasihan mereka ketika tidur di balai-balai pada bentol digigit nyamuk," ujarnya sembari tertawa.

Selain itu, kawasan ini juga khas dengan keberadaan pohon tua lainnya yaitu sawo kecik. Ada sekitar sepuluh sawo kecik meneduhi kawasan masjid. Pohon ini juga menjadi salah satu ikon di lambang kerajaan Mataram. Kawasan ini selalu bersih dan riuh oleh suara anak-anak yang bermain di sekitar masjid. Maklum, benteng yang melindungi masjid, makam, dan tempat mandi ini sengaja tidak dipisahkan dengan pemukiman setempat. Pun di kompleks ini disediakan klinik, warung makan, toko kelontong, untuk para pengunjung. Makam raja-raja Mataram tak sekedar sejarah dan tempat berziarah, ia telah terubah menjadi ikon wisata sekaligus menafkahi mereka yang hidup di sekitarnya. Mungkin hal ini tak pernah terpikirkan oleh Sultan sebelumnya. Apa boleh buat, inilah adanya.

Saturday, 17 March 2012

BBM Naik, Matilah Rakyat!





Presiden dan jajaran orang penting serta berduit di negeri ini kembali ambil kebijakan menaiktinggikan harga BBM, sebagai kebutuhan utama rakyat. Analisa dan pertimbangannya, aku tak mau tahu. Namun, dengan bergemanya jeritan rakyat mulai dari Timur hingga Barat, sudah menjelaskan betapa kebijakan itu sangat ditentang dan menjijikkan.

Adalah pada bulan ini semakin garang jeritan itu di sana sini. Mulai dari kalangan elit, sebut saja mahasiswa, masyarakat, dan seterusnya. Mereka buka mulut, tak hanya di jalanan, seperti yang sudah-sudah dengan berdemonstrasi, memblokir SPBU, bakar foto-foto pejabat sana sini, serta jika juga tak digubris maki ini itu. Aparat keamanan pun 'bersitungkin' (Minang, artinya bekerja keras) mengamankan jalannya demonstrasi. Media pun ramai orderan.

Pun dengan teman-teman yang tak sempat mengacung-acungkan kepalan tangan di jalan, mereka menulis di hampir setiap jejaring yang tersedia. Riset kecil-kecilan, menyimak berita yang lalu lalang tentunya, sembari mengutip di sana sini, jadilah tulisan pedas mengkritik kenaikan BBM. Tak luput pasti, komentar dari puluhan teman, ada yang pro, dan ada juga kontra. Tergantung kocek dan kepentingan mereka.

Ibu-ibu dan Kebimbangan

Kenaikan harga BBM yang kabarnya akan dimulai pada 1 April mendatang, secara pribadi dan menurut kebutuhan sendiri, saya agak tidak bimbang. Pun rasanya saya tak harus kebakaran jenggot dengan keputusan 'tega-tegaan' para pengambil kebijakan itu. Karena, semoga, saya masih bisa bertahan dengan pundi-pundi yang tersedia. Ini terdengar egois, memang.

Akan tetapi, saya memiliki ibu yang selalu saya pikirkan dan kerap pula saya cemaskan. Beliau, (saya ceritakan) sepertinya tak bisa 'hidup' tanpa minyak tanah. Kadang saya menduga-duga, ibu saya adalah pemakai terbesar minyak tanah di kelurahan kami. Karena, pengakuan ibu, beliau tak mau gosong dimamah ledakan gas. Oh, ini penyebab utama. Sial sekali bukan gas-gas elpiji itu?

Dalam pengalaman saya, yang telah beberapa kali merasakan langsung dampak dari kenaikan harga BBM, minyak tanah pasti akan lebih mahal dan sangat langka. Ini aneh, jika dibandingkan dengan premium, solar, dan sejenisnya. Kenaikan BBM menjadikan harga minyak tanah mencapai Rp 10 ribu per liter. Gila bukan? Dan ibu saya, kadang tak mau tahu dengan harga, yang penting minyak tanah. Anda bayangkanlah!

Tentu saya tak tega menyalahkan ibu saya dengan keputusannya seperti itu. Bagi beliau, kebijakan pemerintah 'memindahpaksakan' masyarakat dari pemakai minyak tanah ke gas itu hanya sia-sia. Sia-sia jika setiap pagi beliau menonton televisi, di sana sini gas sialan itu meledak dan membuat ibu-ibu melepuh. Oh, berhentilah makan, kata beliau suatu waktu.

Kami, saya dan para saudara, juga tak kuasa egois. Ibu masih setia dengan minyak tanah dan kompor tuanya. Kami tak dapat memberikan lebih, setidaknya kami mampu menjamin rasa aman bagi ibu. Itu saja.

Nah, saya yakin, ada puluhan ribu ibu di Tanah Air ini yang pemikirannya mirip dengan ibu kami di rumah. Dengan kenaikan BBM, mungkin kecemasan beliau tidak akan 'semembabi buta' kita para anak muda. Beliau-beliau akan berpikir ulang ikut berdemonstrasi dan cuap sana sini. Beliau akan lebih legowo sambil mengurut dada dengan putusan asal-asalan ini. Karena, memang begitulah para ibu kita.

Akan tetapi, di balik legowo itu, pasti ada setitik harapan, bahwa kalau dapat janganlah dinaikkan harga BBM itu. Ingatlah kami, para ibu tua, yang mengurus dapur mulai dari pagi ke pagi lagi, yang berjualan panganan di pasar-pasar dengan harga Rp 2000-5000 an, yang memakan gaji harian di ladang-ladang Rp 20 ribu-30 ribu per hari, namun kami harus mengeluarkan Rp 5000-10 ribu untuk minyak tanah per liternya saja setiap hari. Jika ditimbang-timbang, hanya tenaga yang tersisa di sana.

Benar, harapan untuk sejahtera seperti termaktub dalam pancasila itu masih sangat jauh, setidaknya jangan 'menghukum' rakyat kecil dengan putusan-putusan yang masih memiliki alternatif untuk tidak diambil. Dengan menuliskan ini, saya menentang kenaikan harga BBM, murni hanya untuk mewakili suara ibu saya dan semoga ,mungkin, juga suara ibu-ibu lain di Bumi Ibu Pertiwi ini.

Monday, 12 March 2012

Suatu Pagi Ketika Ibu Mengharap Telepon





Adalah cerita tentang keengganan patuh pada hasrat dan mental berbelanja. Tak ingin menguras kantung hanya untuk keperluan yang bisa ditangguhkan. Dan tak juga besemangat memperkaya para kapitalis yang belum tentu anak negeri. Hingga mengisi ulang kartu telepon prabayar pun ditepiskan untuk kesekian waktu. Tentu saja ini tak membuat mereka -para kapitalis- segera kere. Ah, jauh panggang dari api. Belum. Masih jauh. Namun, ada kelegaan.

Kabar ini pun tersiar kepada kakanda di pulau Rose . Ia mahfum. Dan segera memberi tahu ibu. Tapi apa kata ibu, 'Ini penting! Segera telepon ibu,'. Aku terhenyak. Malam harinya, kakanda bercerita bahwa ibu agak keberatan dengan sikap kami. Dan cerita ibu keberatan ini tersiar ke beberapa kota di pulau Rose. 'Hmm, ibu terlalu khawatir akan tanah Bulb ini,' kataku pada kakanda. Ia setuju. 'Sebagai anak perempuan kita telah berdosa'. Aku menolak. Kujelaskan, setelah kuperdengarkan suaraku pada ibu, ibu terdengar riang dan mulai belajar mengurangi kecemasan.

Enam jam sebelumnya, aku berjuang bagaimana memperpanjang usia sepatu beludru ini.

Adalah para lelaki yang mengabdikan hidup sebagai pahlawan-pahlawan sepatu. Tepatnya pengrajin yang dengan gigih memperbaiki barang-barang lusuh untuk disulap menjadi lebih bertenaga, tapi bukan baru. Di tengah kota 32,5 km persegi ini hanya dalam hitungan jari ada orang-orang yang rela bekerja macam begini. Apalagi di akhir pekan; setengah mati, berkeringat asin, dan hendak menyumpah dibuatnya, amat sangat sulit sekali menyaksikan mereka lembur, membuka jasa permak sepatu. 'Tukang sol juga kenal hari minggu,' teman membujuk. Oooooooo,

Baiklah, tapi adalah sesuatu yang menarik jika dapat menemukan para pahlawan ini lembur menjahit sepatu pada hari minggu. Di antara 388 ribu jiwa ini, sungguh sangat sulit menjumpai para pahlawan ini. Setelah berkeliling 3-4 jam, barulah menemukan mereka dengan sangat khas. Meja dilapisi terpal-terpal keras dan bekas, di kiri kanan pahlawan penuh dengan sepatu, benang-benang berwarna gelap, kaleng brisi sabun bewe [merek sabun batangan yang sangat terkenal waktu saya SD, kira-kira 10-15 tahun lalu], jarum-jarum dengan ukuran sejengkal, kresek, serta kain-kain lusuh. Pahlawan kita ini duduk di tengahnya sembari mengapitkan sepatu di antara kedua belah paha. Masih begitu saja model duduk dan cara orang sini menjahit sepatu, ungkapku. Memangnya macam apalagi? kata temanku menganggapku aneh.

2012 ini, ketika orang-orang masih setia mengalasi kaki mereka, maka pahlawan pempermak sepatu ini akan selalu eksis. Meskipun jumlah mereka semakin berkurang dan langka. Mereka tahu betul, di tengah gaungan konsumsi model sepatu, tas, dan seterusnya, bahwa pada hakikat karakter 'cangok' [cangok, bahasa Minang artinya rakus/tamak] akan selalu melekat hingga nyawa melayang di tubuh manusia. Mereka tak akan ingin melepaskan begitu saja sepatu-sepatu yang telah dibeli hanya karena mulut sepatu menganga.

Dan sebenarnya tidak hanya 'cangok', kikir juga termasuk di sini. Menurut survei mata sendiri, bahkan sepatu-sepatu yang telah dijahit itu tidak dipakai kembali, karena modelnya telah terciderai oleh jalinan benang di pinggir atau di telapak sepatu. Ah, alasan apa lagi ini? Nah, sepatu ini pun dipaksa memenuhi rak sepatu lusuh dan bau. Dibuang sayang, dihibahkan apa lagi. Mana tahu suatu hari kelak berguna. Padahal sepatu yang telah berjahit itu sudah empat kali lebaran haji.

Dan bisa saja ini penulis di pulau Rose yang tengah berada di tanah Bulb. Sedang mempergunjingkan diri atau orang lain, serta memperingati diri dan orang lain. Begitulah, yang jelas, sepatu beludru sudah tak menganga dan beberapa lembar dollar dengan sangat rela bagi saya dikantungi oleh pahlawan sepatu tempo hari. Sepintas, sangat tak ada yang dirugikan. Dua pintas, kami-kami adalah hamba-Mu yang memiliki tujuan hidup sama, sama-sama ingin eksis.

Friday, 9 March 2012

[Membantu Si Gundul Hitam] Belai Daku dan Bawalah Berlari!





Meskipun hujan deras begini, tidak berarti tabungan air di kamar melimpah. Persediaan air putih yang sedia semakin menipis. Untungnya para teman tak keberatan berbagi minuman. Walau begitu, tentu saja tidak boleh boros. Karena menyulitkan orang lain itu tidak enak. Dihemat-hematlah minum air putih. Pun dengan berbicara agar tak lekas haus. Selain cangkirnya ditutup, agar tak masuh benda-benda aneh, diawasi juga agar tak tersenggol kaki yang kadang tak terkontrol.

Akan tetapi, penyakit lupa yang meletakkan begitu saja roti tak jauh dari cangkir, telah mengundang sekitar lima kepala keluarga semut ke sana. Alhasil, berkerubunglah mereka. Ada yang sedang sibuk mencari celah membobol roti, ada pula yang tengah bermain-main di bibir cangkir. Ini bukanlah pemadangan bagus. Harus segera diungsikan roti dan cangkir dari serangga-serangga lapar itu. Usahapun dimulai.

Niatnya ingin mengeluarkan seekor semut yang terlanjur jatuh dan basah kuyup di dalam cangkir. Ternyata serangga satu ini bodohnya minta ampun. Seringkali semut yang terjerembab ke dalam cangkir berisi air biasanya mengapung-apung di permukaan. Mengais-ngais ke dinding cangkir, dan segera menjauh. Eh, yang ini ternyata terbenam seperti batu kali. Jika tidak karena bodoh, mungkin karena terlalu kenyang. Si gundul hitam pun naik turun mengikuti riaknya air ketika cangkir digoyang-goyangkan. Harapnya agar segera ke permukaan, eh malah semakin menuju dasar cangkir. Sial!

Terpaksalah telunjuk mengais-ngais, membantu serangga gundul satu ini agar segera keluar dari satu-satunya minuman yang tersisa malam ini. Beberapa kali kais, telunjuk tak mampu menangkapnya. Gravitasi bumi sepertinya tengah tertarik dengan si gundul hitam. Dan berpacu dengan telunjuk 22 tahun ini. Singkatnya, sang talunjuk memenangkan perpacuan. Tak ingin melukai, si gundul hitam diletakkan di lantai. Hati-hati. Basah kuyup dan tak bergerak lagi. Mati? Oh, semua akan sia-sia.

Entah mengapa, tiba-tiba sangat ingin menyaksikan si gundul hitam kembali berdiri dan berlari menuju teman-teman dan keluarga. Namun, tak kunjung juga. Masih basah. Inisiatif pun berdatangan. Dilaplah si gundul hitam dengan pembesih lubang telinga. Kapas ini akan cepat menyerap air di badannya, pikirku. Dan benar. Mulai kering. Detik berikutnya ia mulai bergerak, menggeliat mungkin. Ditunggu-tunggu, kembali tergolek. Lemas. Masih menunggu.

Dan, entah sahabat, entah pacar, atau entah ayahnya, si gundul hitam 2 datang. Menciumi, tepatnya membaui. Berkali-kali dan tak ingin menjauh. Menjilati air yang masih melekat, mungkin juga. Menarik-narik kaki-kaki si gundul hitam. Tak juga berdiri, si gundul hitam 2 pun kelihatan panik. Ia bergegas, separuh berlari mengelilingi si gundul hitam. Pikirnya mungkin si gundul hitam akan mati jika tak segera dibawa ke dukun para semut. Bisa jadi kaki atau lehernya patah hingga tak kuat berdiri.

Hilang sabar atau sebuah keputusan matang, si gundul hitam 2 mengangkat si gundul hitam di kepala dan membawanya berlari. Menuju kresek, melintasi ubin, menjauh lagi, memanjat dinding, berkeliling, belok kanan, panjat lagi, kali ini mencapai semeter, dua meter, mencari-cari celah, jeda sejenak dan jreppp -saya memotret- kemudian lenyap di antara pertemuan loteng dan dinding. Mungkin akan segera bertemu dukun ahli patah tulang, harapku.

Next, I'm in a musing.

Peristiwa sepele tadi, saya yakin ada kuasa Ilahi di sana.

Adalah cerita hidup yang bagi banyak orang tak penting dan buang waktu saja. Begitu juga denganku. Apa itu? Membantu serangga jahil kemudian menyimpan albumnya di netbok? Ah, sejak merantau kau terlihat arif, perhatian, dan alim sekali. Benar kau mampu bertahan? Entahlah, batinku cepat menyergah.

Hanya saja, dalam kesendirian yang panjang, otakku tak bisa diawasi untuk berpikir aneh-aneh. Termasuk menghormati hak hidup serangga-serangga itu. Sejak 15 tahun belakangan hingga sore kemarin, hasrat membunuh serangga itu tinggi sekali kawan, terutama nyamuk. Rasanya menambah harga dan derajat diri ketika berhasil menangkap dan meratakan tubuh mereka di telapak tangan.

Hmm, yummie!

Rasa benci dan dendam kepada serangga-serangga itu sudah ditanam dan dipupuk dari dulu. Mekar dan berseri. Hingga tak layak memberi maaf pada mereka jika berpapasan. Langsung saja tepok!

Namun, malam ini, mungkin aku agak kemayu, -selain krisis air minum. Kehadiran mereka adalah jawaban dari kebesaran Ilahi di muka bumi. Pertolongan yang kuberikan, bukanlah jaminan seuntas nyawa -nyawa serangga- akan pasti selamat. Pertolongan itu harus diikuti dengan pertolongan selanjutnya agar si hitam gundul dapat terus bernapas. Ini bukti, bahwa aku -manusia- tak begitu punya banyak daya dan kuasa. Untuk menyelamatkan hidup seekor semut saja kau belum mampu? Apalagi dirimu? Ibumu? Saudaramu? Bahkan bangsamu!

Bah, cerita ini jadi membelit diri.

Dan, untaian pertolongan rajutlah selalu. Karena, sepertinya rajutan yang panjang dan bertingkat itu, mungkin justru untuk dirimu sendiri nantinya. Bukankah itu menyenangkan kawan? Kau ditolong ketika susah. Kau dihibur ketika duka. Dan kau dipuji ketika jaya. Semoga saja.

Wednesday, 7 March 2012

Kaum Wangi-wangi Pool dan Rendang Padang





Tengah enak-enaknya makan malam di warung nasi langganan, tiba-tiba si bapak Sumbawa nyeletuk, bahwa perempuan cantik yang berteduh setengah menit tadi, super wangi dan renyah. Saya terbahak dan berhenti menyuap. Si bapak ngotot kemudian mengatakan bahwa saya tidak menyimak wewangiannya. Kali ini saya cengengesan.

Orang-orang wangi begitu, sambung bapak Sumbawa, didapatkan memang sudah 'turunan' dari langit. Sudah digariskan bahwa mereka kemana-mana pakai sedan antik dan mahal. Tidak akan bersusah payah dan harus kere dalam mencari makan, seperti kebanyakan penjual makanan di kota ini. Saban hari, lanjut bapak Sumbawa, kerja mereka ya cuma ngumpul-ngumpul sembari tanda tangan ini itu.

"Saya memang tak pernah mimpi hidup seperti itu, tapi saya memimpikan untuk anak saya kelak mba," lanjut bapak Sumbawa. Untung ini suapan terakhir, jadi saya bisa mengiyakan angan si bapak.

Sembari menyiapkan teh hangat buat dirinya sendiri, si bapak melanjutkan cerita. Luarnya saja Muntilan dan Singosaren ini sepi, kalau sudah kenal, dimana-mana ya kayak gitu. Si bapak menunjuk rumah beton berpagar tinggi dengan lampu lima watt di setiap sudut rumahnya. Sangat klasik namun terkesan mewah. Di depan pagar, berjejer lima hingga sepuluh sedan, mulai dari yang antik hingga yang mutakhir. Sangat mewakili dari gelak tawa dan suara-suara di balik pagar. Ada pesta kecil-kecilan mungkin di sana mba, lanjut bapak Sumbawa, seolah tahu apa yang kupikirkan.

Pantas saja, perempuan muda dan mulus tadi sibuk mencari tempat parkir untuk mobil antiknya. Pun demikian dengan laki-laki agak tambun dengan sedan keluaran terbaru itu. Tak keberatan, bapak Sumbawa mengatur arus jalan kampung yang mulai sesak oleh kendaraan mewah. Saya hanya menonton dan mereka-reka. Kira-kira para tamu ini anggota dewankah? Pengusahakah? Atau generasi kedua atau ketiga yang mendapat warisan milyaran dollar dari mbah-mbah mereka?

Ya, itu tadi mba. Semua itu datang dari 'langit' dan tinggal pakai kok, jawab bapak Sumbawa. Lagi-lagi, saya kecolongan pikiran oleh si bapak. Ah, bapak bisa saja, kataku agak canggung. Mata dan telinga ini pun masih saja mempel pada celah-celah pagar tembok, terlihat satu, dua orang berlalu lalang dan saling menjabat kemudian merangkul. Sepertinya enak hidup seperti itu ya pak? Tanyaku. Kayaknya iya mba, tapi saya belum pernah coba mba, he he he, kata bapak Sumbawa sembari menghenyakkan bokongnya di kursi bambu.

Tidak satu dua pesta kecil-kecilan diadakan di rumah-rumah yang tergolong jetset di kampung ini. Kalau tidak malam Minggu, ya malam Selasa, atau malam Kamis. Motifnya juga macam-macam. Ada yang memang hanya untuk kumpul-kumpul, nyanyi-nyanyi, makan-makan, atau bahkan awalnya pengajian. Kemudian, ya terserah yang punya hajatan.

"Di sini mba, setiap orang bebas membuat perkumpulan. Dan hampir setiap orang pula yang senang atau takkan ada gangguan," ujar bapak Sumbawa. Saya mengiyakan dan melirik buku tulis setengah halaman yang penuh dengan tulisan resep Rendang Padang.

Itu tulisan tangan saya sendiri tempo hari. Bapak Sumbawa sangat ingin tahu dan akan mencoba memasak Rendang Padang yang sangat populer itu. "Saya terheran-heran, kok bisa ya rendang seenak itu mba. Kalau saya makan di rumah makan Padang, saya pasti ambil kuah rendang." Begitu alasan bapak Sumbawa agar saya berkenan menuliskan resep Rendang di buku tulis anaknya.

"Suatu saat nanti saya akan coba buat Rendang Padang, dan saya nggak akan lupa jasa mba sudah kasih saya resep ini," lanjut si bapak. Saya terbahak sambil mengaminkan niat bapak Sumbawa.

Adalah lelaki setengah abad lebih yang memutuskan hidup di tanah Jawa bersama istri, anak, menantu, dan cucu. Ia datang dari timur sana, Sumbawa, yang terkenal dengan ribuan kuda liar yang melintasi tanah penuh rumput hijau itu sepanjang tahun. Sang istri yang memang berdarah Jawa, enggan diajak kembali hidup di tanah Sumbawa. Alasannya di sini, di kampung ini, adalah surga yang tak mungkin tergantikan. Ia mendapat banyak cinta, walaupun pernah direnggut oleh ayah kandung sendiri.

"Istri saya diusir dari rumah beberapa tahun lalu oleh ayahnya mba. Karena hal anak-anak, sepele sekali, bukan? Saya sedih dan sakit hati. Karena kami telah membangun rumah permanen di sana. Untung kami sudah memiliki lahan di jalan lintas itu. Kami mendirikan pondok dan hidup bersama anak di sana."

Perkara itu menjadi semangat bagi saya untuk mengembangkan usaha rumah makan, lanjut bapak Sumbawa. Walaupun saya tidak dari Padang, saya sangat ingin memasak masakan khas orang sana mba. Mba bantu saya ya? Pinta bapak Sumbawa. Tak ada alasan saya untuk menolak pinta itu. Selagi saya tahu dan pernah mempraktikkan bersama ibu di rumah dulu, tentu saja saya akan bagi resep itu.

Jika sudah begitu, saya merenung betapa ilmu memasak yang ibu berikan dulu sangat penting dan mulia. Bukan semua untuk saya, tapi lebih kepada pertanggungjawaban saya sebagai anak muda Minang yang perkara selera di kampung kami menjadi primadona dunia. Mungkin saya tidak akan memasak Rendang Padang di sini, tapi saya tidak mungkin merahasiakan tanah tumpah darah saya, Minang. Dan sangat tidak cool, kalau saya mengaku dari Suriname hanya karena saya tak tahu resep Rendang Padang. Saya tak ingin mengecewakan ibu dan tanah tumpah darah saya.