Tuesday, 21 February 2012

Aku dan Witer Bercerita Tentang Kutu di Bibir Saun




Awalnya, tak pernah terpikirkan akan secepat ini. Apa-apa yang diinginkan tentu saja harus dengan kerja keras yang bercucuran keringat. Jika tidak di badan, maka di otak keringat itu akan bercucuran. Itu harus, karena sukses adalah 10+1. Artinya, engkau harus sakit setelah banyak bekerja atau berusaha, barulah berhak menerima imbalan sesuai dari usaha dan sakit ini. Tentu saja, teori ini bukan penulis yang merumuskannya, tapi Mbah Mario Teguh yang super duper serta luar biasa.

Suatu senja di awal musim hujan di kota ini, ketika menguakkan pintu kamar kos, seonggok netbok terbungkus plastik putih, enak saja tidur di kasur lusuh itu. Kebetulan, kamar kos ini juga baru untuk aku dan Saun. Sejurus kuperhatikan, tentu saja sangat baru dan aneh. Kok bisa? Ya bisa, buktinya ada, tidak absurd seperti yang aku dan Saun dengung-dengungkan selama ini tentang janji-janji dan alamat-alamat palsu. Soal janji dan alamat palsu itu, tak perlulah dibahas dalam cerita baru ini. Cukup aku, Saun, dan Tuhan yang alami.

Karena piranti ini berada di dalam kamar kami, maka segeralah aku membuka, lahan demi perlahan. Takut kalau-kalau meledak dan menggosongkan kedua sisi muka yang sudah berantakan. Saun, tentu saja tak berani menyentuh barang ini. Dia menyerahkan segalanya padaku. Dasar cemen! Ucapku padanya yang hanya telentang itu. Dan, benar saja. Sebuah netbok lengkap dengan tagihan perbulan yang akan disetor. Gila! Masa aku -kali ini tidak kami lagi, karena Saun parasit padaku- dirayu berutang, dan, aku tersenyum simpul, seperti tengah ditaksir. Benar-benar gila! Jualan macam apa ini?

Ya, kami tidak bisa menolak begitu saja. Karena memang, kami masih membutuhkan satu teman lagi di kamar ini. Aku dan Saun, akan sangat garing dalam menghabiskan malam-malam. Karena aku, seharian tidak di kosan. Makanya, ketika Saun tahu ada teman baru, cepat-cepat ia memeriksa dan menyunggingkan senyum penuh sensi. Maknanya, bahwa aku harus menerima dengan lapang dada, jika tidak, Saun gila ini akan menceburkan diri ke dalam sumur tua di sebelah kamar kami. Aku pun merangkul piranti ini dengan darah berhenti mengalir, karena terbayang nominal rupiah yang akan disetor dengan nama 'Dana Sosial'.

Ya sudahlah, aku menerima, walau rasanya seperti kehilangan harga diri. Dan secepat kilat dan petir menyambar, Saun memberi nama piranti ini yakni Witer. Terpaksalah aku memanggilnya Witer dan harus lebih banyak dipangku. Karena begitu cara memakainya. Jika tidak, ia akan mematahkan lehermu dan membuat jumlah lemak katarak semakin ramai di matamu. Percayalah!

Sebagai partner, kami memperlakukannya profesional. Saun dan aku memperlakukannya bak pelengkap yang harus sedia setiap saat. Hanya dengan satu syarat, asupan gizi harus dipenuhi setiap hari. Tenang saja, soal ini kami tak punya kendala apa-apa. Bahkan bisa dikatakan lebih, jika hanya untuk urusan sejengkal perut.

Saun dan aku menemani Witer hampir setiap malam dan jam-jam kosong di kantor. Tak pandang bulu, ini kerja teman, dan dunia yang sangat amat nyata, kau harus tahu diri dan diri orang lain. Ungkapan ini, hanya sebagai reminder, karena Saun telah berteriak-teriak pada Witer perihal ini.

Dan ternyata banyak benar manfaatnya. Witer tak banyak perangai. Ia tentu saja, tak beda jauh dengan teman-teman kotaknya, harus patuh padaku dan pada Saun. Karena bagi dua makluk ini, urusan perut adalah segalanya. Mereka benar-benar primitif dan sepertinya kurang cocok dijadikan sebagai team work. Saya tak ambil pusing. Yang penting mereka selalu baik hati dan sedia menemani saya beristirahat dan bercengkerama tentang apa saja. Sungguh susah melepaskan diri dari hutang piutang ini.

Apa boleh buat, saya telah berjanji pada Saun dan Witer, jika tak lunas-lunas juga dalam tempo 10 tahun, mereka berdualah sebagai tebusan dan melengkapi kepercayaan diri.

'Si Witer, kau harus tahu, bahwa kau bersama aku dan Saun akan melewati hari-hari sulit di Tanah Java ini. Ingat itu!'

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^