Wednesday, 29 February 2012

Kerjakan 'Batu Besar' Pertama Kali dalam Hidupmu!



'Did you know, it's fervency to run towards the sun'

Sepanjang perjalanan waktu, kita disibukkan dengan beragam hal yang menyita waktu, tenaga, dan perasaan. Acap kali kita lupa dan tidak sadar bahwa banyak hal dari semua itu tidak penting dan tidak perlu dikerjakan atau ditunda sementara waktu. Namun, manajemen yang buruk membuat kita menjalaninya tanpa beban dan tanpa rencana yang matang. Padahal ini bisa merugikan kuantitas dan kualitas dalam hidup kita.

Mengerjakan 'batu besar' pertama kali dalam hidup, maksudnya mengerjakan hal-hal pokok yang membuat hidup jauh berkualitas. Bukan sebaliknya, terjebak pada rutinitas kecil yang menjadikan hidup biasa-biasa saja. Kita kerap menilai, apa-apa yang kita kerjakan adalah hal yang paling luar biasa dan penting. Padahal belum tentu begitu.

Ya, menjalani hidup apa adanya banyak dielu-elukan orang. Filosofi menjalani hidup seperti air mengalir tidak hanya banyak dianut orang, namun juga dikampanyekan pagi dan petang dengan cara mereka masing-masing. Pledoinya, mengapa harus menjebak diri dengan beragam angan-angan? Yang justru hanya terukir di dalam mimpi dan agenda sehari-hari. Jalani saja, maka kau akan merasakannya. Begitu kata orang banyak.

Terlahir dari latar belakang keluarga kebanyakan serta lingkungan masyarakat dengan kesosialan yang tinggi, kerap membuat kita tidak banyak menuntut dalam hidup. Bukan apa-apa, karena budaya tuntut dan target masih belum terbiasa di tengah kampung kelahiran kita. Belum lagi ditambah dengan budaya masyarakat yang enggan untuk berpikir lebih dan pelik tentang hidup. Manajemen waktu dan tenaga pun tidak dihiraukan dan tidak menentukan.

Namun, setelah kesana kemari, setelah mendengar ini itu, setelah berjumpa dengan si A, si B, dan seterusnya, manajemen waktu dan tenaga menjadi penting. Baik untuk dituliskan maupun untuk dikerjakan. Dan melakukan hal-hal penting dalam hidup adalah menjadi perlu. Karena itu merupakan modal, aset, dan jaminan hari esok.

Menurut sumber suara yang disimak, banyak 'batu besar' yang mesti dikerjakan terlebih dahulu, misalnya, anak-anak bagi para orang tua, pasangan bagi yang telah berpasangan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Manajemenlah hal-hal itu dengan apik dan rancak. Karena dengan begitu, hidup akan menjadi lebih hidup dan berkualitas. Kita tak lagi terjebak dengan hal-hal kecil yang melenakan sekaligus mematikan.

Kerap memang, kita tersentuh oleh pihak lain yang padahaln kita juga sering disentuh oleh orang-orang terdekat kita. Sentuhan dari pihak lain menjadi berbeda dan lebih berkesan daripada oleh orang-orang terdekat. Begitu juga dengan manajemen waktu yang dimaksudkan ini. Jika kutilik-tilik dan menyusuri memori masa lalu, manajemen waktu telah diajarkan oleh Ayah ketika beliau masih sangat sehat. Tentu saja berbeda baik dari cara penyampaian, kondisi psikis kami waktu itu dan seterusnya.

Aku masih ingat sampai sekarang, "Bahwa pendidikan, jika kau mampu, maka kejarlah," kata Ayah. Ungkapan ini diulang-ulang dan aku sudah lupa berapa kali diulang. Aku dan saudara kandung, kerap dipasak kupingnya agar tidak mengesampingkan pendidikan. Bagaimanapun juga, pendidikan menjadi eskalator bagimu untuk maju dan mulia.

Bukan menafikan, bahwa pekerjaan juga sama pentingnya. Namun, posisi pendidikan belum ada yang menggantikan urutannya. Dan menurut suara-suara yang kusimak pagi ini, memang tak ada kata menyesal -karena pada hakikatnya kata ini sangat menyayat, kawan- namun jika kita terus bermain-main dengan waktu dan 'batu besar atau batu kecil' sesal itu juga akan menghampiri. Trust Me!

Tuesday, 28 February 2012

Jakarta Undercover, Seksualitas Membabi Buta Orang-orang Ibu Kota Negara







Judul : Jakarta Undercover 3 Jilid (Sex 'n the city, Karnaval Malam, Forbidden City)
Pengarang : Moammar Emka
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 488/394/382 halaman
Cetakan : 2005/2003/2006
Harga : Mohon konfirmasi ke penerbit
Resensiator : Adek Risma Dedees, penikmat buku


Jakarta Undercover, buku yang membuat geger Tanah Air beberapa tahun silam, pantas diacungi empat jempol, jika dua jempol masih kurang. Buku ini menyuguhkan beragam peristiwa dan cerita malam yang kebanyakan membuat kita ternganga tak percaya. Kebiasaan atau budaya orang-orang malam Jakarta yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ini bukan perihal percaya atau tidak, namun merupakan tamparan fenomena dari kemajuan itu sendiri.

Menurut pengakuan penulis dalam bukunya, Moammar Emka (ME), yang seorang jurnalis di beberapa media lokal Ibu Kota, tentu saja cerita ini didapatkan tidak jauh-jauh dari pergulatan kegiatan liputannya sehari-hari. Tidak kurang enam tahun menekuni dunia tulis menulis, ME pun menelurkan berbagai buku, yang lebih banyak menguak kehidupan orang-orang kelas menengah atas di sana. Memang ia khusus meliput hal-hal berbau kehidupan malam di Ibu Kota yang selama ini tidak banyak diketahui orang. ME pun memasuki dunia itu, siap tidak siap, tentunya harus siap.

Dalam bukunya, ME menuliskan tidak kurang 400 tempat hiburan -private party- yang tersebar di Jakarta. Semakin kesini, nominal ini pun menggunung dengan beragam kedok, mulai dari karaoke, hotel, kelap, spa, sauna, hingga panti pijat. Tidak sedikit pula private party ini diadakan di 'bawah tanah' yang lebih liar dan tak terduga belumnya. Pelakunya, tentu saja mereka, baik laki-laki maupun perempuan serta kaum heteroseksual dari kelas menengah atas. Kebanyakan dari mereka adalah para pelaku usaha yang tersebar di Indonesia. Mereka adalah para bule kesepian dan kegalauan, serta para perempuan yang terang-terangan melakoni kehidupan macam begini. Menghabiskan puluhan juta rupiah per malam untuk mengikuti pesta, bukanlah soal, jika semua keinginan terpenuhi dan tak ada lagi beban di kepala.

ME pun, dengan hidden identity, menampilkan cerita tentang para perempuan muda yang menjajakan cinta semalam kepada siapa siapa saja yang berkocek tebal. Rata-rata usia mereka tak lebih dari kepala tiga dan masih cantik menawan. Para perempuan muda menjadi obyek pemuas nafsu binal para tamu. Pada beberapa tempat hiburan, mereka kadang dipajang di etalase dan pengunjung dipersilahkan memilih sesuka hati, yang kemudian memboking mereka. Biasanya, menurut ME, para gadis ini akan dibawa berkeliling Jakarta, pesta hingga pagi di hotel, dan seterusnya.

Dunia prostitusi Jakarta pun dikuak lebar oleh ME. Ia menjabarkan itu semua, mulai dari A, B hingga X, Y, Z dengan gamblang, tapi dengan tidak melupakan etika penulisan identitas nara sumber di sana. Sehingga, anda akan menemukan nama-nama gadis yang khas dengan nama bunga. Sangat berita bukan?

Jakarta Undercover Sex 'n the city sendiri tak kurang menawarkan 24 tulisan yang membahas dunia seksualitas Jakarta yang sangat bebas dan berani. Sedangkan Jakarta Undercover Karnaval Malam menyuguhkan 24 pula cerita yang tak kalah mengejutkan pembaca tentang Ibu Kota Negara ini. Pun dengan Jakarta Undercover Forbidden City yang menyuguhkan liputan investigasi penulis tentang Sexual Lifestyle dan Entertainment orang-orang Ibu Kota. Anda akan tercengang sekaligus tak ingin melepaskan buku ini dari mata anda.

ME menyuguhkan kepada pembaca, bagaimana ia mulai membaui gaya hidup seperti ini, mencari kawan agar dapat mengakses komunitas tersebut, masuk dan merasakan sendiri. ME pun menjabarkan dengan gamblang, tanpa harus berporno-porno ria tentunya, bagaimana kegiatan ini dimulai dan diakhiri. Sangat menarik dan mengundang banyak tanya di benak. Separah inikah -jika kata parah masih relevan untuk gaya hidup demikian- kehidupan metropolitan anak bangsa ini?

Terlepas ME ikut serta 'mencicipi' kehidupan yang ia investigasi, pastinya ME sangat berani mengambil putusan dan resiko untuk masuk ke dalamnya. Dengan buku Jakarta Undercover ini, ME membuka mata kita tentang kehidupan seksualitas di Bumi Ibu Pertiwi. Ia menguak segala tabir yang terkesan ditutupi. Membuka dan mungkin juga mempersilahkan kepada siapa saja untuk terlibat atau hanya ingin membuktikan benar tidaknya kehidupan macam begini. Sehingga, tak berlebihan mungkin jika Arswendo Atmowiloto, budayawan yang mengendors Forbidden City, bahwa ME adalah temuan yang menyenangkan serta membanggakan baik bagi perempuan, laki-laki, maupun bagi waria.

Yup, ME memang tak hanya menyoroti kehidupan seksualitas yang bebas dari kaum adam dan hawa. Tak ketinggalan bagi mereka -masih saudara kita- yang memiliki orientasi seks berbeda. Mereka kaum gay, waria, lesbi, dan jika masih ada lainnya, tak luput dari sorotan ME dalam ketiga Jakarta Undercovernya. Belum lagi kehidupan para janda-janda muda serta gigolo-gigolo muda yang haus rupiah dan dollar. Semua menyatu dengan tak meninggalkan wine dan ekstasi tentunya. Semua membaur dalam tulisan ME yang diracik ala liputan jurnalistik.

Memang, gaya penulisan dan penyampaian hasil liputan ME monoton. Sangat jurnalistik. Gaya penuturan yang sangat 'berita' ini kadang membosankan. Dan dengan mudah pula ditebak dari cerita atau liputan. Tapi, substansi dari apa yang tertuang dalam Jakarta Undercover 1, 2, dan 3 jauh lebih bermakna dan berkesan bagi pembaca. Penasaran? Silahkan temukan buku-bukunya. Selamat membaca!

Akhir Pekan Dipenuhi oleh Mereka dari Padang




'Hai, para saudariku yang di Padang, hingga kapan kita selalu mencari-cari seperti ini?'

Sejak pagi sekali, pesan singkat membangunkanku. Pesan pertama ini datang dari para sahabat yang masih bermukim di pulau seberang, Sumatera. Tepatnya Kota Padang yang pernah kutinggali sekitar empat tahun lebih. Entah apa gerangan, tiba-tiba pesan kedua, ketiga, keempat, dan selanjutnya terkirim dari mereka yang tak mungkin dilupakan.

Pesan dari rumah pertama -kos- datang dari adik-adik yang sekonyong-konyong menanyakan banyak hal tentang aku di perantauan. Kalau hanya pertanyaan kapan makan bersama lagi, ini pertanyaan mudah dengan jawaban yang mudah pula. Kujawab saja, 'Kapan aja boleh', sembari menyisipkan kata-kata 'Hehehe' di akhir pesan.

Namun, dari sekian banyak tanya, tentu saja pertanyaan yang amat sulit dijawab adalah tanya 'Kapan lagi menginap di kamar-kamar mereka yang sumpek dan berantakan?' Aku kembali mencoba dewasa dan berwibawa. 'Insyallah ya cinta, kita akan kumpul-kumpul lagi'.

Itu bukan jawaban yang mudah kuketik dan kirimkan pada mereka. Namun, tentu aku harus menjawab tanya itu dengan tidak menunda waktu. Ada semacam hutang yang harus kulunasi ketika menuliskan jawaban itu. Tak tahu kenapa. Oleh karenanyalah, aku pun memberikan jawaban yang benar-benar terbuka untuk didebatkusirkan, bagi siapa yang mau.

Di tengah rantau begini, hidup -khususnya hidupku- tidak senyaman ketika menjadi mahasiswa, ataupun masa remaja SMA dulu. Peran keluarga besar, Ibu, Ayah, serta para saudara sekandung, sangat terasa dan lengket sekali. Apa-apa tentu saja mereka tahu dan ikut merasakan. Termasuk ketika aku baru mengenal cinta -cinta monyet- serta pergaulan anak remaja. Tak ada yang luput dari mereka, meskipun itu tidak pernah mereka utarakan langsung kepadaku.

Pun demikian ketika aku di Padang. Rasanya, kota itu memang jauh berbeda dari kota asal dimana aku dibesarkan dan banyak mendapat cinta. Kota yang penuh dengan hiruk pikuk perdagangan, rebut sana sini jabatan, dan dialog-dialog kebudayaan yang tak tahu ujung pangkalnya. Kota yang memberiku banyak ilmu, kenangan, keluarga, cemburu, dan rasa sakit.

Walau begitu, kota itu adalah kota yang menyaksikan bagaimana seorang bungsu yang keras kepala dan ceroboh dengan emosi tumbuh, berkembang, hingga mampu memutuskan untuk kembali terbang ke langit berbeda. Kota itu, kini menjadi kota dengan jutaan kenangan. Kau merasakan ini setelah kau meninggalkannya. Begitulah, setiap waktu akan digantikan dengan waktu berikutnya. Bak lumut, setiap musim banyak yang busuk dan mati, namun setiap musim pula banyak yang bersemi dan menghijaukan kembali.

Pesan pendek dua gadis kecil dari kos di Padang, telah membawaku menguliti kembali kenangan itu.

Pesan pendek selanjutnya, masih dari gadis kecil di Padang, yang satu guru menulis denganku. Sore itu, ia mengagetkanku dengan pesannya yang akrab dan rasanya hendak memelukku jika saja kami berhadapan. Dengan hati-hati -tak ingin mengabaikan pesan dari siapa saja- aku membalas dengan tidak mengurangi kehangatan pesan darinya. Bertukar kabar, sebelumnya juga berkenalan -lagi, mungkin takut aku tak mengenalinya- kemudian mengundangku dalam acara pelatihan jurnalistik. Ia dari kampus. Tentu saja, pelatihan yang akan diadakan khas dengan pelatihan jurnalistik yang kerap sangat aku ikuti dulu.

Kubalaslah pesan itu dengan tak lupa mengabari keberadaanku sekarang yang jauh dari tanah Minang. Ia terpana -sepertinya begitu menurut pesan yang kuterima- dan sepertinya juga senang. Kembali aku membalas dengan sehangat mungkin. Ia dan aku senang.

Kenangannya dengannya merupakan kenalan yang istimewa. Kami diperkenalkan oleh seorang budayawan -yang cukup besar- dari tanah Minang, Wisran Hadi (alm), semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Sejak perkenalan hingga usai acara pelatihan menulis dengan sang guru, kami kerap berjumpa dan bertukar cerita. Cerita apa saja. Ia begitu cerdik, karena kerap mencuri ilmuku. Dan aku tidak keberatan.

Ini kenangan dari dia yang sepertinya sangat senang kepadaku. Terima kasih. Aku pun begitu.

Kemudian masuk lagi pesan pendek. Kali ini dari seorang lelaki, sekaligus teman baru bagiku. Ia telah bekerja dan sepertinya sangat menyukai pekerjaannya. Memberiku pesan pendek yang hanya dengan satu kata, 'Ciangk'. Aku geli, dan tak lekas membalas pesannya. Sengaja kutunda, karena ada sesuatu hal yang dikerjakan. Seperti biasa, ketika malam menjelang, aku akan membalas pesan-pesan pendek yang tak terbalas tepat waktu. Hal ini kulakukan, karena aku tengah belajar menghormati hakikat dasar sebuah pesan pendek di telepon genggam.

Pesan ini merupakan sapaan dari seseorang yang baik, dan ingin menjadi teman baik bagimu. Walaupun itu hanya dalam bentuk pesan pendek -bagiku- tidak mengurangi maknanya ketika ia berpapasan dan menyapamu langsung. Sekali lagi, aku tengah belajar cara menyapa di telepon genggam. Sayang, malam itu ia tak langsung membalas pesan balasanku, mungkin sudah beristirahat dan sibuk pada esok harinya.

Dan masih banyak ternyata pesan pendek yang masuk pada akhir pekan lalu ke telepon genggamku. Yang justru datang dari para sahabat dan saudara di kota tempatku menimba ilmu dulu, kota Padang.

Aku sangat senang dan akhir pekan ini menjadi sangat singkat. Moga di akhir pekan ke depan, ada lagi cerita yang mewarnai langkah di rantau ini. Terima kasih. Aku senang menerima pesan pendek kalian.

Thursday, 23 February 2012

Pada Gadis Kecil dan Rintik Hujan di Pagi Buta (2)




Memang, kalau dilihat-lihat, sang ibu sebaya denganku yang tengah mengadu nasib di tanah seberang pulau ini. Di wajahnya, sangat jelas sekali gurat-gurat wajah yang belum aus dimakan usia. Ia masih sangat hijau untuk berkeliling kampung dan memiliki gadis kecil yang lincah dan riang gembira itu. Dari guratan jemari tangannya yang lemah dan hati-hati meracik sate tusuk serta kuah kacang juga menampilkan kemudaan yang tak kalah kuatnya. Toh, jika ada beberapa flek hitam di kuku-kuku tangannya, itu mungkin hanya dikarenakan bumbu-bumbu sate tusuk atau bumbu masak yang menempel di sana. Namun, darah kemudaan masih sangat membekas kawan.

Akan tetapi, dari jauh kau akan melihatnya persis seperti perempuan-perempuan setengah abad yang perlahan-lahan susut dimakan waktu. Karena perawakan ibu muda ini memang tinggi semampai dengan tubuh padat berisi. Selain itu, cara ia berpakaian juga ikut serta dan memaksa ia untuk terlihat lebih tua beberapa tahun dari usia aslinya. Mulai dari kebaya serta sarung yang ia kenakan. Memang sangat asli, baik model maupun warna pakaian tersebut. Jilbab yang membungkus kepala hingga dadanya juga biasa-biasa saja. Tak jauh beda dengan jilbab yang banyak dikenakan oleh ibu-ibu lain di kampung ini. Dan karena hidup tak memberimu banyak pilihan kawan, kata hatiku.

Dan benar saja, selain mata yang tak bisa kupalingkan dari ibu muda dan gadis kecil di bawah gerimis malam itu, hati dan pikiran ini juga tak kuasa dikendalikan untuk tidak banyak mengoceh. Namun, ia tetap mengoceh dan kembali, aku kalah. Sembari membungkus empat tusuk sate seharga Rp 2000, ia sesekali memandangku dengan senyum tak lepas dibibirnya yang masih menyisakan pewarna bibir tadi sore. Pun ketika ia harus menjawab beberapa pertanyaan seputar gadis kecilnya yang sangat manis itu. Tak banyak bacot (baca;tak suka mengoceh) ia menjawab seperlunya tanpa mengurangi keakraban dengan pelanggannya.

Hati dan pikiranku kembali mengoceh, kalau keikutsertaan gadis kecil itu merupakan pemanis jualan ibunya. Pemanis ini beragam maknanya kawan. Pemanis sebagai penambah topik pembicaraan ketika sang ibu melayani pembeli. Serta pemanis agar pembeli semakin banyak membeli sate tusuk. Mereka tentu banyak sedikitnya akan merasa kasihan, dan membeli sate tusuk. Dengan membeli sate tusuk barang seribu atau dua ribu, setidaknya mereka, para pembeli, telah menunaikan rasa kewajiban mereka meneruskan dan pikiranku yang benar-benar sok tahu ini.

Dengan berat hati, aku pun menuruti apa yang dimau hati dan pikiranku ini. Bagaimana tidak sepanjang malam, mereka mengoceh tak karuan hingga dini hari. Dengan gaya mereka yang khas, bayang-bayang ibu muda dan gadis kecil diputar kembali dengan nuansa hitam putih. Bak film-film tempo dulu yang penuh dengan pesakitan. Bagaimana aku tidak terjaga dan terganjal untuk tak kembali menautkan kelopak mata. Rasa-rasanya, di tengah hujan rintik-rintik malam ini, ibu anak itu masih saja berkeliling kampung yang mulai larut dan sepi. Apalagi hujan-hujan begini, orang-orang lebih memilih meringkuk di dalam rumah dan menutup semua pintu dan jendela. Dan toh jika ada yang nekat mencari camilan malam, lebih banyak dari mereka tentu memilih makanan atau minuman yang anget-anget. Katakanlah itu bakso, mi ayam, mi pangsit, miso, serta sejenisnya. Jarang sekalilah di tengah malam dingin-dingin begini orang memilih sate tusuk yang tidak anget sama sekali.

Akan tetapi, ibu muda ini tak patah semangat kawan. Terlepas ia meniti sebuah rumah tangga yang sulit, namun ia adalah ibu yang sangat amat peduli terhadap diri dan gadis kecilnya itu. Mungkin saja ia mengalami kehidupan dengan kondisi ekonomi yang susah. Mungkin saja ia adalah sosok perempuan mandiri dan tak ingin diam duduk di rumah sepanjang hari dan malam. Atau jangan-jangan ia adalah seorang istri yang belum beruntung dalam berumah tangga. Ia harus menghidupi gadis kecilnya sendirian karena sang suami tidak di sampingnya lagi. Dan masih banyak kemungkinan tentang dirinya jika ingin dituliskan di sini.

Lagi-lagi ini hanyalah ocehan hati dan pikiranku yang tak menentu. Kadang ia sok arif dan peduli dengan lingkungan yang ia tidak tahu semuanya. Aku tak bisa banyak berbuat untuk menghentikan mereka mengoceh yang tak karuan. Persis kali ini, aku hanya menuruti arus dan jalinan permainan mereka yang garing dan di luar koridor yang pernah kami sepakati. Tapi, lagi-lagi aku tak berdaya.

Seiring banyaknya kata-kata yang kutuangkan sesuai keinginan hati dan pikiran, aku mulai gerah dan sulit berkonsentrasi. Dari pada mereka terus mengoceh hal yang aneh-aneh dan tak disensor, lebih baik aku sudahi obrolan mereka itu.

Kisah gadis kecil dan ibu muda pun kubiarkan beterbangan bersama angin. Satu-satunya hal yang dapat aku perbuat untuk mereka adalah mendoakan gadis kecil semoga tidak kehilangan masa kecil yang sangat bahagia. Dan bagi ibu muda, ketabahan, kata orang bijak, merupakan kunci untuk menghadapi hidup yang sangat keras untuk orang-orang seperti dia, aku, dan mungkin Saun sekalian.

Amin, kata hati dan pikiranku serempak. Benar bukan? Mereka selalu saja mencampuri urusanku, termasuk dalam berdoa.

Wednesday, 22 February 2012

Pada Gadis Kecil dan Rintik Hujan di Pagi Buta (1)




Mungkin ia tak punya teman di rumah, atau sang ibu tidak mempercayakan gadis kecilnya di rumah sendirian. Oleh karena, dibawalah gadis mungil itu berkeliling desa berjualan sate tusuk. Bukan tak peduli pada kesehatannya sehingga rintik-rintik gerimis ini, gadis kecilnya tetap sedia berjalan, sesekali melompat dan berlari kecil di depan sang ibu yang tengah menjunjung sate-sate tusuk dan perlengkapan jualan lainnya.

Rambut yang dikepang dua berpita kuning muda itu ikut pula meloncat-loncat ketika ia meloncat dan berlari kecil menghindari genangan air bekas hujan tadi sore. Sembari memainkan kancing jaketnya, ia pun berkata-kata, entah bernyanyi, entah bercerita. Yang jelas tampaknya gadis kecil ini tak rewel pada ibunya yang tengah berjualan keliling sate tusuk itu. Sesekali ia pun ditanyai oleh langganan ibunya. Sudah makan belom? Tadi di sekolah buat gambar apa aja? Si gadis kecil, mungkin malu, dan mungkin lebih sibuk dengan kancing jaketnya, ia tetap saja berkata-kata, entah bernyanyi, entah bercerita, tak menghiraukan tanya tadi.

Ibunya hanya tersenyum, dan gantian menjawab pertanyaan pelanggan. Kalau di sekolah tadi, gadis kecil menggambar kupu-kupu, makhluk kesukaannya. Wah pintar, balas ibu penanya sembari mengecup pipinya yang penuh.

Berjualan pun keliling diteruskan. Sang ibu terlebih dahulu menggulung kain yang akan dijadikan alas kepala untuk menjunjung nampan besar berisi sate tusuk. Kemudian merapikan sarung di pinggang dan jilbabnya. Ia pun membawa nampan besar itu ke kepala dan menjinjing satu keranjang di tangan kirinya yang berisi bangku kecil. Bangku ini ia gunakan ketika meladeni pembeli sebagai tempat duduknya. Dan gadis kecil masih saja sibuk dengan kancing jaketnya.

Kedua ibu dan anak ini pun berjalan menyusuri jalan kampung dan hilang di kegelapan. Hati saya mulai berkata-kata. Seperti biasa, ia kadang sok tahu dan sok suci dari saya sendiri. Ia mulai mengaitkan-ngaitkan perihal ibu muda dan gadis kecil itu dengan kehidupan saya. Bagaimana jika saya adalah ibu muda itu? Saya yang punya suami pemalas hingga bekerja larut malam begini dengan anak sebagai kawan berjualan. Bagaimana? Bagaimana? Saya benar-benar kesal. Ia pun mulai menyusun kalimat demi kalimat dan menancapkan di pikiran saya tentang hidup dan kehidupan perempuan di tengah semakin majunya zaman dan peradaban. Bermacam-macam. Mulai dari nikah muda, punya anak muda, kawin cerai, kawin siri, kawin lari. Pikiran saya pun mulai tak sehat, segala kawin dibahas hanya karena melihat ibu muda dan gadis kecil tadi.

Saya kesal sekali jika diajak berpikir aneh-aneh begitu oleh hati dan pikiran saya. Hendak rasanya saya menampar mereka dan menceburkannya ke dalam bak mandi atau membawanya ke dalam masjid untuk dirukiyah. Ada-ada saja. Malam-malam begini ngomongin segala kawin dan emansipasi. Ah saya malas. Saya capek. Saya lapar. Benar-benar gila mereka berdua itu. Saya tinggalkan mereka dengan kesal dan mulai menyendok nasi dan menyeruput teh anget racikan ibu baik di pertigaan jalan ini. Bodoh! Sergah saya pada mereka.

30 menit kemudian,

Benar saja, hati dan pikiranku kembali meraung-raung tak tentu arah. Mereka meracau agar aku memikirkan dan memahami ibu muda dan gadis kecil itu. Mereka adalah korban dari zaman yang tidak selalu akrab dan baik hati kawan, kata hatiku perlahan. Ia mulai meracuni, gumamku. Mereka adalah subyek yang menjadi obyek dari budaya yang sangat patriarki di lingkungan dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Sekali lagi, mereka adalah kekejaman dunia dan tingginya hasrat yang membara. Sekalipun mereka memang mendapatkan cinta yang besar dan sekalipun mereka tetap ingin mati di tanah yang patriarki itu.

Namun, kau di sana, kata pikiranku mulai mengada-ada, bahwa kau sejak setahun lalu fokus memikirkan bagaimana peran perempuan serta anak perempuan, betapa mereka telah dinomorduakan karena hidup kawan. Pikiranku yang kejam kembali meracau tentang dunia perempuan, kekuatan perempuan Jawa bahkan Indonesia dan dunia, kelemahan mereka, serta welas asih mereka yang kerap membuat mereka ditindas.

Aku berang dan segera membayar uang makan. Segera kuambil payung yang tergeletak. Kutinggalkan warung makan itu dengan hati dan pikiran risau. Apalagi kalau bukan ulah pikiranku yang kacau ini. Sejak dua hari lalu, sejak kedatanganku di sini, hati dan pikiranku hampir setiap jam berkutbah. Entah apa yang mereka kutbahkan. Seperti bibir tetangga saja. Omong sana sini. Obral ini itu. Yang entah apa yang mereka dapat dari obrolan tak jelas itu.

Aku benar-benar jengkel dan kesal. Apakah mereka tengah dilanda galau, sehingga begitu berhasratnya membicarakan dunia perempuan, ekonomi, serta perihal kawin. Entahlah aku tak tahu.

Tuesday, 21 February 2012

Aku dan Witer Bercerita Tentang Kutu di Bibir Saun




Awalnya, tak pernah terpikirkan akan secepat ini. Apa-apa yang diinginkan tentu saja harus dengan kerja keras yang bercucuran keringat. Jika tidak di badan, maka di otak keringat itu akan bercucuran. Itu harus, karena sukses adalah 10+1. Artinya, engkau harus sakit setelah banyak bekerja atau berusaha, barulah berhak menerima imbalan sesuai dari usaha dan sakit ini. Tentu saja, teori ini bukan penulis yang merumuskannya, tapi Mbah Mario Teguh yang super duper serta luar biasa.

Suatu senja di awal musim hujan di kota ini, ketika menguakkan pintu kamar kos, seonggok netbok terbungkus plastik putih, enak saja tidur di kasur lusuh itu. Kebetulan, kamar kos ini juga baru untuk aku dan Saun. Sejurus kuperhatikan, tentu saja sangat baru dan aneh. Kok bisa? Ya bisa, buktinya ada, tidak absurd seperti yang aku dan Saun dengung-dengungkan selama ini tentang janji-janji dan alamat-alamat palsu. Soal janji dan alamat palsu itu, tak perlulah dibahas dalam cerita baru ini. Cukup aku, Saun, dan Tuhan yang alami.

Karena piranti ini berada di dalam kamar kami, maka segeralah aku membuka, lahan demi perlahan. Takut kalau-kalau meledak dan menggosongkan kedua sisi muka yang sudah berantakan. Saun, tentu saja tak berani menyentuh barang ini. Dia menyerahkan segalanya padaku. Dasar cemen! Ucapku padanya yang hanya telentang itu. Dan, benar saja. Sebuah netbok lengkap dengan tagihan perbulan yang akan disetor. Gila! Masa aku -kali ini tidak kami lagi, karena Saun parasit padaku- dirayu berutang, dan, aku tersenyum simpul, seperti tengah ditaksir. Benar-benar gila! Jualan macam apa ini?

Ya, kami tidak bisa menolak begitu saja. Karena memang, kami masih membutuhkan satu teman lagi di kamar ini. Aku dan Saun, akan sangat garing dalam menghabiskan malam-malam. Karena aku, seharian tidak di kosan. Makanya, ketika Saun tahu ada teman baru, cepat-cepat ia memeriksa dan menyunggingkan senyum penuh sensi. Maknanya, bahwa aku harus menerima dengan lapang dada, jika tidak, Saun gila ini akan menceburkan diri ke dalam sumur tua di sebelah kamar kami. Aku pun merangkul piranti ini dengan darah berhenti mengalir, karena terbayang nominal rupiah yang akan disetor dengan nama 'Dana Sosial'.

Ya sudahlah, aku menerima, walau rasanya seperti kehilangan harga diri. Dan secepat kilat dan petir menyambar, Saun memberi nama piranti ini yakni Witer. Terpaksalah aku memanggilnya Witer dan harus lebih banyak dipangku. Karena begitu cara memakainya. Jika tidak, ia akan mematahkan lehermu dan membuat jumlah lemak katarak semakin ramai di matamu. Percayalah!

Sebagai partner, kami memperlakukannya profesional. Saun dan aku memperlakukannya bak pelengkap yang harus sedia setiap saat. Hanya dengan satu syarat, asupan gizi harus dipenuhi setiap hari. Tenang saja, soal ini kami tak punya kendala apa-apa. Bahkan bisa dikatakan lebih, jika hanya untuk urusan sejengkal perut.

Saun dan aku menemani Witer hampir setiap malam dan jam-jam kosong di kantor. Tak pandang bulu, ini kerja teman, dan dunia yang sangat amat nyata, kau harus tahu diri dan diri orang lain. Ungkapan ini, hanya sebagai reminder, karena Saun telah berteriak-teriak pada Witer perihal ini.

Dan ternyata banyak benar manfaatnya. Witer tak banyak perangai. Ia tentu saja, tak beda jauh dengan teman-teman kotaknya, harus patuh padaku dan pada Saun. Karena bagi dua makluk ini, urusan perut adalah segalanya. Mereka benar-benar primitif dan sepertinya kurang cocok dijadikan sebagai team work. Saya tak ambil pusing. Yang penting mereka selalu baik hati dan sedia menemani saya beristirahat dan bercengkerama tentang apa saja. Sungguh susah melepaskan diri dari hutang piutang ini.

Apa boleh buat, saya telah berjanji pada Saun dan Witer, jika tak lunas-lunas juga dalam tempo 10 tahun, mereka berdualah sebagai tebusan dan melengkapi kepercayaan diri.

'Si Witer, kau harus tahu, bahwa kau bersama aku dan Saun akan melewati hari-hari sulit di Tanah Java ini. Ingat itu!'

Friday, 17 February 2012

Sepanjang Ring Road Kau Hantarkanku




'Hai Ken, darimanakah ilham kisah tak bersudut ini bermula?'

Sepanjang jalan lingkar kota ini, kau kenalkan aku pada Saun yang dulu kau ceritakan. Waktu itu, hampir setiap malam kau berkisah akan diri, spiritual, dan bunga-bunga layu. Apapun itu, bagimu akan lebih mudah jika dilihat dengan mata menyala dan penuh harap. Karena yang demikian akan jauh lebih menenangkan dan menghibur kelana.

Waktu itu, kau bercerita tentang masa remaja. Dan waktu itu, sang ayah masih setia menemani. Di tengah kota metropolitan kau tumbuh bersama Saun dan rerumputan beton. Hingga kau mengira, kalau masa depan adalah hari-hari yang dilalui bersama karib dan keluarga. Selebihnya, adalah milik para penguasa beton dan suara itu. Dan kau sebagai bocah waktu itu, tak dibiarkan melihat banyak dari semestinya.

Kemudian, tiba-tiba ayah tercintamu mangkat dalam usia yang sangat muda sebagai kepala keluarga dan pria teladan. Kau pun menjadi kepala keluarga dengan modal mental dan materi yang tidak pas-pasan. Kurang malah. Namun, kau tak bisa menampik. Pekerjaanmu yang banyak bergulat di tengah ibu kota memahatmu menjadi laki-laki kuat seperti Hulk. Akan tetapi kau penuh dengan sentimentil asmara. Kau sangat tidak laki-laki jika berjodoh dengan yang satu ini. Buktinya kau cukup 'mati rasa' dalam beberapa waktu. Bagimu, kekasih atau jodoh tak sebanding dengan kelahiran serta kematian, yang kata orang sudah garis tangan.

Kau pun membuktikan hal itu. Ternyata memang iya. Jodoh atau kekasih hanya bisa kaudapatakan jika kau berusaha menggaetnya. Sedangkan kelahiran dan kematian tentu dengan hipotesa berbeda untuk memperoleh atau mendapatinya. Detik per detik kau terus mengayuh roda kehidupan. Hingga mampir ke berbagai kota di Bumi Ibu Pertiwi, kau tak pernah lelah.

Dengan alur yang sangat panjang, berbelit-belit, maju mundur, serta campur tak karuan, kau akhirnya menghantarkan aku pada jalan lingkar yang kerap kau ceritakan dulu. Jalan lingkar yang memudahkan kau berkelana di tengah rimba kota ini. Dijamin sayang, kau takkan tersesat. Dan takkan ada lelaki brengsek atau perempuan culas yang menipumu di kota ini. Sedangkan jalan lingkar ini adalah pintu rahmat dan keadilan bagi orang-orang yang gemar bermurah hati ini. Posisimu adalah objek yang masuk dari pintu itu, dan kamu adalah sumber rahmat bagi mereka. Kau mengerti apa yang aku katakan bukan? Begitu kau kerap mengingatkanku pada jalan lingkar yang bersih dan berkelok-kelok ini.

Acap pula, ketika pulang mengadu nasib seharian di kampung jauh, kau memboncengku berputar-putar jalan lingkar. Di sepanjang jalan, kau perkenalkan padaku garmen-garmen, rumah sakit, sekolah, terminal, hotel, dan studio musik sebagai bangunan yang menyaksikan perjalanan kita. Baik malam maupun siang, kerap kau sebutkan satu-satu bangunan itu padaku. Dan sialnya, selalu saja aku lupa bahwa kau telah membisikkan seribu kali perihal itu. Namun, tentu saja kau tak pernah bosan. Karena kau memang tidak pembosan, apalagi pada hujan yang kerap, baik kau dan aku, hadiahkan sebagai curahan jiwa pada perjalanan hidup yang mungkin tidak akan panjang dan tidak selalu mengundang tawa.

Begitulah. Kadang, hanya dengan melihat rambutmu yang belum disampo, aku terhenyak. Kadang, hanya dengan melihat kau begitu lelah di dalam tidur, aku tercekat. Kadang, hanya dengan melihat kau dengan matamu yang berkantung karena begadang, aku meringis. Henyak, cekat, dan ringis ini cepat sekali mengundang sejuta alasan untuk kita saling menitikkan air mata dan enggan untuk bercakap banyak. Betapa bodohnya kita waktu itu kan? Seperti remaja yang tengah dilanda api asmara membara saja, dan tiba-tiba mereka dipisahkan oleh orang tua yang pindah bekerja.

Dan, sekarang kau kembali membawaku berkeliling jalan lingkar di sore hari. Bau aspal yang sedikit amis karena disiram hujan sesaat, ikut serta menambah warna dari perjalanan ini. Kau kadang tak peduli dengan bau amis itu, karena makna terbesar bagimu adalah bagaimana aku nyaman di boncenganmu hingga magrib menjelang. Selebihnya hanyalah khayalanku yang bejibun. Begitu katamu.

Memang, kadang kau sangat puitis dan sangat Gibranis. Apapun akan kau ubah menjadi makna lebih dengan kata-kata sederhana. Itu membuatku menjadi tidak tenang dan kerap tersimpul geli. Karena, ternyata kau sangat 70-an dan aku sangat 2000-an. Ah itu hanya keterangan waktu yang tak perlu kau perdebatkan. Begitu katamu perihal batasan usia itu.

Ya, namanya orang sedang dilanda virus merah jambu, baik 70-an maupun 2000-an, sepertinya sama saja. Tak jadi soal dan tak perlu membuang waktu untuk hal kecil itu.

Setelah kau hantarkan aku berkeliling jalan lingkar, dengan nada berat aku harus menerima kau pulangkan ke rumah, yang kadang sangat membuatku gerah. Entah kenapa. Akan tetapi, cepat-cepat kau membujukku dengan sepotong kata, seulas senyuman, dan seberkas harapan akan hari esok yang lebih cerah, panjang, dan penuh warna. Aku langsung percaya. Karena hanya dengan percaya aku dapat menatap hari esok dengan tidak kembali gamang serta berkeliling jalan lingkar seperti yang kerap kau suguhkan padaku.

Thursday, 16 February 2012

Jangan di Bumi, Hiduplah di Langit!




Karena apa? Karena di bumi kau hanya akan menerima segala dosa. Dosa dengan segala ketidakenakan terhadap dirimu. Karena dosa, seperti yang diceritakan oleh para tetua dulu, adalah laknat bagi mereka yang melawan. Dan ternyata, dosa tidak selalu datang dari dirimu sendiri, namun juga dari orang-orang yang kadang sangat kau cintai. Begitulah.

Dan pikiran ini terkristalisasi, jika tak ingin menyebutnya terinspirasi, dari tentu saja pengalaman yang sudah-sudah kawan.

Pada inginnya, seseorang tak berniat mencaci dan memaki. Namun, ekspresi ini, sengaja atau tidak, tercurahkan begitu saja ketika melihat 'penampakan' yang mengakibatkan dia harus mencaci dan memaki. Tak tertutup bagi Saun. Awalnya sangat tak ingin, namun ada semacam request, terpaksalah harus memaki dan mencaci. Dengan rasa penyesalan belakangan. Sadis memang, jika harus mencaci dan memaki kepada orang-orang yang seharusnya tidak demikian.

Katakanlah ia seorang gay dan teman karib. Gay, tidak menjadi masalah. Karena memang orientasi kami berbeda. Dan itu merupakan haknya sebagai ciptaan Sang Khalik. Lagi, Saun tak merasa memiliki masalah dengan mereka yang memutuskan hidup sementara sebagai gay, kaum homo, dan sejenisnya.

Dan sebagai karib, ini menjadi masalah. Kenapa? Karena kita berteman, bercengkerama banyak hal-yang kerap kali itu dusta belaka-serta menikmati beragam tontonan dengan terpingkal-pingkal. Tentu saja Saun tak ingin mengatakan apa yang kita alami hanyalah sebuah kicauan tak berharga dan mudahnya disapu angin sore. Ketika ia memberi banyak janji dan nasihat bak seorang tua kepada anak, ini menjadi faktor kedua, untuk memaki dan mencaci. Tentu saja tidak begitu teman.

Dan bukan karena ia gay, sekali lagi, menyebabkan Saun harus memaki dan mencaci. Karena ia terlalu banyak cakap dan semuanya hampa belaka. Benar kata teman yang Saun ceritakan tempo hari. Tidak semua orang atau teman yang sudi diperbanyakcakapkan. Tidak semua orang mau menikmati kebohongan-kebohongan yang sangat kentara kalau itu dusta belaka. Karena kamu, Saun dan kita, terlahir sebagai manusia cerdas. Cerdas untuk tidak dikibuli, dikampanyekan dengan banyak janji. Dan kemudian dengan seperti tak bersalah, mengeluarkan air mata tersedu-sedu dan tiba-tiba memeluk dengan sesenggukan.

Ah, hantu belau lah itu semua!

Masalahnya, Saun tak sanggu lagi harus mendengar berbagai ocehan yang penuh dengan ketimpangan dan dusta semua. Cerita di sana sini, ketika ditanyakan ulang menghasilkan jawaban yang tak terduga dan ngawur semua. Ini fiktif yang dibungkus dengan sangat buruk dan jorok. Tak semua Saun ikhlas dibohongi dan dijadikan kambing hitam dari segala kemunafikan dan kebusukan.

Oke, oke, oke kita memang teman dan karib. Tapi sebagai karib, Saun memiliki hak untuk menolak dan berkronfontasi dengan dusta itu.

Kisah-kisah cinta, petualangan birahi yang binal, dan 'Apel Malang' sekali dua kalau diceritakan mungkin masih menarik dan enak di telingan. Tapi jika setiap hari dan itu hanya sebagai pengisi kekosongan jiwa yang renta, maaf, Saun tentu tak bisa. Mata Saun telah terbuka lebar pada kampung ini dan kota ini. Mata Saun, sejak lima tahun terakhir, bukanlah mata remaja apalagi mata kanak-kanak. Mata Suan telah dewasa dan penuh dengan 'nano-nano' hidup. Tak mudah dan tak rela jika Saun harus menerima segala ketidakenakan itu dengan ia tersenyum manja.

Ah, otak kotor apalagi memenuhi rongga kepalanya?

Dan karena itulah Saun, rasanya ingin tinggal di bumi dengan belahan lain. Karena pada belahan ini, Saun tidak menggenggam kebebasan hidup dengan sempurna. Jajahan demi jajahan dengan cara yang sangat busuk, masih membekas. Saun tak lagi sanggup menikmati jajahan kerdil itu.

Kemudian topeng hanyalah topeng dengan jutaan makna.

Jangan di bumi, hiduplah di langit! Dengan catatan, langit yang berbeda.

Tuesday, 14 February 2012

Engkaulah Si Penawar Itu




Dari pagi ke pagi, rasa jenuh, iba, dan tertekan kerap mendatangi. Beginilah sesungguhnya hidup di bawah tekanan. Tekanan yang tidak begitu menggigit sebenarnya. Namun, karena melakoni baru-baru ini, jadi semua terasa asing dan menjemukan.

Kerap pula ketika hendak membasahkan kepala ini, rasa sedih dan iba hati merajalela. Ooo, jadi begini hidup orang dewasa itu ya. Menjalankan rutinitas tanpa pernah berpikir dan bermimpi akan menyetop diri dari semua itu. Ya, ini hidup orang dewasa anakku. Beginilah kehidupan yang dilakoni oleh orang tua, abang-abang dan one sejak jauh hari dahulu. Dan engkau, bungsu, baru seumur jagung. Ternyata sudah merasa jenuh dan iba hati.

Coba pula kau lihat di teve-teve, betapa orang-orang itu setiap pagi dan sore menjelang, lalu lalang di sepanjang kota. Mereka hilir mudik hendak ke mana saja, tentu saja ke tempat dimana mereka mampu mandiri. Hidup, katanya, secara normal begitu. Bekerja dari pagi hingga petang. Awal atau akhir bulan berhak menerima salary sesuai perjanjian kerja, libur di akhir pekan, dan seterusnya.

Inilah hidup sesungguhnya wahai cinta yang mungil. Kau kini ditempa oleh dunia yang benar-benar keras. Jika kekerasan yang kau rasa selama ini hanya dalam lingkup keluarga, sekarang kau mandiri dengan jerih payahmu sendiri bukan? Kau mandiri cinta yang mungil. Dan kau harus berhadapan dengan lingkungan macam begini. Terimalah agar kau bisa tumbuh lebih besar dan baik.

Jika kata-kata ini kembali mencuat di pikiran dan menari-nari di telinga, tak ada lagi penawar selain selalu mengingat Engkau. Hidup memang tak selalu ditempa dengan pahatan-pahatan yang halus dan teratur cinta. Kadang, pahatan itu sungguh amat kasar dan menyayat. Kadang pahatan itu amat pahit dan melukai. Begitulah hidup.

Apa-apa yang kau terima dan rasai ketika di bangku kuliah dan di pangkuan ibu tempo dulu, adalah surga yang takkan pernah kau lupakan, meskipun kau tak berkunjung lagi. Bangku kuliah memberimu pemikiran yang luar biasa dalam memandang hidup yang komplek ini cinta. Dan pangkuan ibu menunjukkan kepadamu bahwa segala permasalahan dan kerumitan, selalu bisa diatasi dengan tidak meng-keraskan masalah itu. Kau peluk ia dengan erat, niscaya ia akan melunak dan mengikutimu dengan halus.

Dan sembah sujud, adalah cara yang sangat melenakan. Engkau datang dengan gumpalan-gumpalan tajwid yang dilafalkan. Engkau tebarkan segala cinta dan ketenangan. Benar, kepercayaan yang tulus ini membawamu cinta pada jalan yang tak begitu mulus namun kau bisa melaluinya dengan selamat. Percayalah, esok hari titik embun akan datang dan menyegarkan pikiran dan hatimu dengan caranya sendiri.

Memang, kau cinta, takkan sanggup menumpahkan segala resah dan sedihmu di laman ini. Itu sama saja kau membaginya kepada orang lain dan membuat mereka resah. Tak perlu. Bagilah kepada Dia yang Maha Tahu dan Maha Penawar itu. Kau takkan rugi dan berdosa. Dengan Tangan-tanganNya, Ia akan membawamu pada suasana yang baik dan menenangkan.

Atau kau butuh seseorang teladan yang akan membuat dirimu selalu siap dalam kondisi apapun cinta? Bukanlah Ibu dan mendiang Ayahmu adalah teladan yang sangat besar dan mulia cinta? Beliauberduanya biji matamu untuk bertahan di tanah rantau yang keras ini. Beliau berdualah yang menitiskan darah merah segar dan kuat di dalam tubuhmu. Beliau berdualah yang patut menjadi teladanmu pagi, siang, petang, dan malam cinta. Tak ada yang lain.

Dan tak perlu kau tuliskan bagaimana teladan beliau berdua mengarungi tanah rantau, mungkin lebih pahit dari yang kau rasakan sekarang. Sungguh, kau hanya perlu memutar balik sedikit memorimu tentang teladan beliau berdua di dalam hidupmu cinta. Jika telah kau putar, jangan lagi kau merasa sendiri, sedih, iba hati, dan nelangsa.

Dimana tanah kau pijak, di sana selalu ada berkah Sang Penawar untukmu, Insyallah.

Pesan Amak,
Hidup di tanah rantau Nak,
Mandi di hilia-hilia
Bajalan di tapi-tapi
Dan mangecek di bawah-bawah
Tak perlu kau sombong dengan apa yang kau miliki
Percayalah itu hanya titipan Tuhan kepadamu yang dipercayaiNya

Dan jangan sekali-kali kau menyakiti orang-orang di sekelilingmu
Mereka adalah keluarga terdekatmu di rantau
Jangan kau sakiti mereka
Toh ketika mereka, tak sengaja, menyakitimu
Jangan pula sekali-kali kau balas perbuatan itu
Tak perlu Nak,
Sungguh tak perlu

Tak hanya di rantau
Biarlah kita disakiti orang, tapi tidak sebaliknya
Karena yang demikian jauh lebih baik bagimu
Percayalah Nak

Setiap kali mendengar -saya menyebutnya Gurindam 20- ini, merasa tenang dan senang. Selalu berbuat baik pun menjadi salah satu cita-cita yang selalu dan selalu ditunaikan.

Hingga detik ini, kerap pula danau mengambang di pelupuk mata jika mengingat-ngingat pesan Amak. Betapa hidup harus kau lalui cinta dengan penuh perhitungan dan tidak main-main dengan waktu.

Ada selaksa cerita yang terberi dalam kisah ini. Selaksa makna hidup yang mungkin oleh sebagian besar orang tidak merasakannya. Ya karena hidup kadang memberi warna berbeda dalam hati kita cinta.

Selamat pagi Amak,

Friday, 10 February 2012

Di Sini, Jiwa Dagang Itu Membludak





Sejak langkah pertama menginjakkan kaki di kota budaya ini, dimana-mana orang berjualan selalu lebih banyak. Apa saja. Mulai dari makanan, ini yang paling banyak, kemudian merembes ke produk-produk kreatif seperti kaos oblong, pernak pernik, tas, sepatu, dan masih banyak lagi. Orang muda dan tua di sini memang suka berjualan. Awalnya memang kecil-kecilan dulu, setelahnya bakal lebih besar lagi jika mampu menakklukan kendala.

Beberapa teman dekat, sangat membabi buta untuk membuka berbagai bidang usaha. Misal, mulai dari makanan, jasa, penerbit, usaha foto copy, dan tak ketinggalan order ini itu kecil-kecilan yang berbuah besar. Pokoknya apa saja diharapkan mampu menghasilkan uang. Tak pikir lama-lama, apa saja. Tentu saja dominan dari teman saya harus mengkaji ulang kembali jenis dan ketersediaan modal dalam menjalankan ritual itu.

Tiga menit lalu, ketika saya menuliskan uneg-uneg ini, saya berkenalan dengan laki-laki padat berisi yang menurut saya, hampir sebagian besar masa dewasanya dihabiskan dengan usaha ini itu. Kalau di sini orang-orang muda sini menyebut dengan mudairs yang enterpreneur. Sumpah deh, mati-matian orang sini menjadi mudairs yang enterpreneur itu.

Ya, saya bukan menyindir bahkan tidak berniat menertawai. Tidak sama sekali. Bahkan saya salut dengan jiwa dagang itu. Jujur, tidak mau sombong, sejak saya mengenal dunia, saya sudah berkubang dengan dagang-dagang itu. Jadi saya tak heran jika mudairs ini ngebet banget menjadi enterpreneur muda yang sukses luar biasa. Yang bikin saya tertantang menuliskan uneg-uneg ini karena, ternyata, setelah kuliah 4, 5, 6, bahkan 7 tahun, para mudairs ini lebih enjoy dengan dagang-dagang sana sini. Itu yang bikin saya berpikir puluhan kali. Banak saya cenat cenut dan menuliskan kata-kata, "Apa enaknya dagang sana sini?" Hahaha, saya jadi nggak enak kalau-kalau teman saya yang suka dagang baca uneg-uneg ini.

Sumpah bro, gua nggak mikir macem-macem kok. Gua cuma ingin menuliskan apa yang gua pikir dan rasakan. Gua nggak niat bikin niat mulia dagang kalian terhambat dan merasa direndahkan. Sumpah gua nggak niat begitu. Karena lu-lu pada tahu kan kalau nyokap gua di Lubuk Sanai, Bengkulu sana juga dagang. Dan, lu-lu pada tahu, kalau gua dibesarkan dengan duit hasil dagang. Maap kalau gua, nyinggung. Tapi, gua mau nerusin tulisan ini, hee.

Sejak wirausaha muda digembar gemborkan tahun 2009 dan 2010, setiap kampus dan anak muda berlomba-lomba pulalah membangun wirausaha dengan cara mereka sendiri-sendiri. Tak tanggung-tanggung, milyaran rupiah dikucurkan oleh pemerintah untuk menyukseskan program ini. Memang ada para muda yang menjalankan dengan baik. Namun, tak sedikit pula yang menjadikannya aji mumpung, ya nambah kantung kuliah. Ini kelemahan dan menjadi tak sehat bagi mudairs yang lain.

Nah, teman-teman saya yang suka dagang ini memang pinter banget ngomong. Kalau soal omong, mereka nomor uno, nggak ada tandingnya. Rasa-rasanya semua yang direncanakan bakal berjalan semua dan lancar-lancar saja. Jika berada di depannya dan mendengar mereka bercakap-cakap, rasanya masa depan hidup itu akan sangat bagus dan tidak membuat hidup susah. Tak punya uang pensiun, dengan dagang kalian akan memperoleh lebih dari pensiun. Tak punya asuransi, dengan dagang, penyedia jasa asuransi akan lebih pede dan semangat memberikan asuransi kepada mereka yang dagang ketimbang pada mereka yang pegawai negeri, hee. Entah benar, entah tidak, simpulan ini saya petik dari percakapan selama waktu Ashar itu.

Ciri-cirinya, ngomongnya cepat, matanya nanar kemana-mana, tangan berayun-ayun kiri kanan, dan kadang kaki naik ke atas sebelah, ya setingkat dagulah. Tentu tak ketinggalan tekanan suara yang sangat stabil dan padat berisi. Sumpah, kalau jumpa orang begini, kau punya uang Rp 100 ribu saja, kau takkan pikir panjang untuk ikut serta membantu dan bahasa merekanya, berinvestasi. Teman, kalau kau tidak jeli, bisa saja ini adalah penipuan. Uangmu ditilap di depan matamu dan kau tersenyum menyaksinkannya.

Begitulah mereka. Namun, sekali lagi, tidak semua mereka sama dan keji. Masih banyak juga yang pure membantu dan berwirausaha dengan baik dan tak menyakitkan. Dan teman-temanku di sini tidak begitu.

Berdagang, sudah sangat lama diungguli dan digadang-gadangkan oleh orang Minang. Dimana mereka hidup dan tinggal, di sana mereka akan berdagang untuk bertahan hidup. Namun, tak dinyana, filosofi berdagang ini merebak ke bidang pemerintah dan dibuatlah sebuah program untuk berdagang. Jujur, saya bangga. Karena saya orang Minang, dan saya saat ini kurang untuk berdagang. Tapi, tentu saja saya tidak menampik jika suatu saat nanti saya justru dibesarkan untuk kedua kalinya dengan berbagai bidang usaha berdagang. Siapa tahu kan?

Kenapa tertarik berdagang? Alasannya, lagi-lagi menurut saya yang kurang pandai berdagang ini, ketika memperoleh uang, kamu akan merasakan betapa nikmatnya. Uang hasil dari kristalisasi keringat sendiri. Luar biasa rasanya. Perolehan uang ini menjadi candu yang susah untuk diputuskan. Kau bisa lihat betapa Tn. Krabs di Bikini Bottom tergila-gila pada uang dan memutuskan untuk tak menikah lagi. Sedangkan anaknya tidak dibiarkan tinggal bersamanya, hanya akan menyusutkan uang-uang simpanannya. Bagi Tn. Krept, kawan terbaik adalah uang-uang itu. Tidak Spongebob. Tidak Squidward Tentakel. Dan tidak pula Nyonya Puff. Ini bukti teman, yang walaupun fiktif dan animasi, kita dapat belajar dari sana. Bukankah dunia kartun, animasi, maya, dan atau hiper realitas ini sudah menjadi dunia kita sehari-hari, yang kita tak sadar kita paksakan untuk kita cocokkan dan sangat amat kita nikmati.

Untuk itu, teman-teman yang ingin berdagang, teruskanlah. Saya tak berniat dan takkan sanggup menghadang. Karena saya bukan pemilik modal dan bukan Tuhan .

Butuh Boncengan Ke Milan?



'Hati-hati dengan mata anda yang mudah ditipu'

Jika selama ini yang namanya dibonceng hanya untuk kawasan yang berdekatan, kali ini kamu akan dibonceng menuju Milan. Siapakah yang bersedia memboncengmu ke sana? Dan dalam keperluan apa sehingga ia mau memboncengmu ke sana?

Ide bonceng membonceng ini tak terlepas dari kegemaran menonton televisi. Milan, menjadi tujuan akhir boncengan berhenti. Kenapa Milan? Katanya Milan itu adalah selain kota surga belanja juga kota dengan penuh daya tarik. Konon di sana goresan tempo dulu, sebelum masehi, sejarah Yunani atau Romawi kuno sempat mampir di sana. Dalam benakku yang dangkal ini, sesampinya di sana, mungkin kamu akan seperti memasuki zaman before century dengan sangat memukau. Mulai dari warna kota yang kuning tanah, bangunan dan benteng kuno besar-besar, serta peradaban lainnya, termasuk pakaian dan cara menikmati hidup.

Sebelumnya, kau tentu ingat dengan gaetan iklan es krim yang membuatmu bak berada di istana dan dilayani bak ratu itu? Iklan ini sudah jelas penuh dengan kelebayan dan dusta 1000 persen. Tapi efek jauh di balik itu adalah betapa kapitalisme merambah dan meracuni konsumen dengan terang-terangan. Kita kerap dibohongi terang-terangan oleh para pemilik media dan pemilik modal. Dan parahnya kok kita nrimo begitu saja. Penerimaan ini ya, kok mau bela-belain beli produk-produk yang diiklankan bohong itu. Saya tak habis pikir. Disuruh minum racun kok mau.

Begitu juga dengan kota Milan, salah satu kota yang akan dikunjungi jika kamu banyak membeli es krim sialan itu dan tentu saja jika kamu menang. Sebelum menang, tentu saja diundi dulu. Hokimu bagus atau sekarat. Jika kamu menang, katanya dalam iklan itu, kamu akan dibawa ke beberapa kota besar di Eropa sana dan didanai berbelanja apa saja. Dan saya tak habis pikir, eh tiba-tiba Jakarta disebut-sebut walau yang terakhir. Kesannya kasian ya.

Saya mulai berpikir, setiap kota yang pernah mengiklankan produk itu juga akan diiming-imingi berbelanja dan singgah berkunjung ke kota tersebut. Jelaskan, kalau otak kota itu berputar-putar seputar perkara uang saja. Benar-benar kebablasan itu, karena ternyata si kota, demi uang, ya monggo dikibuli anak-anak bangsa yang tengah candu kokain ini. Betapa, kota (kita) tak lagi menjamin keamanan dan perlindungan dari racun universal.

Dalam iklan itu dibuatlah dan dipajanglah perempuan kurus dengan tonjolan tulang dimana-mana, rambut pirang kering berombak, kulit seperti udang rebus, dan menggigit es krim dengan ekspresi muka dibuat-buat. Garing. Bukan tahayul, malah lebih parah dan meracuni sekujur tubuh. Gila!

Nah, ketika seorang bapak-bapak pengayuh becak menawari boncengan ke depan gang, saya terhenyak. Saya teringat akan ke Milan, walaupun saya tak pernah membeli es krim hitam pekat itu. Tentu unik sekali jika saya diboncengi becak ke Milan sana. Dan saya yakin, sesampainya di sana, mujur-mujur ditawari berbelanja, jangan-jangan rambut saya yang kering berombak ini akan disulap lebih pirang lagi. Jelas saya tak sudi.

Dan akhirnya, setelah saya kaji-kaji, banyak juga faedahnya saya menonton iklan di chanel-chanel teve yang kurang mutu itu. Otak saya jadinya makin banyak mikir dan teriak-teriak. Mikir karena saya tak terima dipaksa membeli ini itu yang tidak menjadi idaman saya. Teriak-teriak karena, kebanyakan saya tidak mampu membeli salah satu dari salah ribuan produk yang diklankan itu.

Astaga, sebenarnyalah saya juga siap diracuni oleh iklan keparat itu.

Thursday, 9 February 2012

Tegakkan Kepala, Berlarilah Muridku!




“Sikap masa bodoh hanya akan membuat diri kita bodoh dan tak berarti apa-apa.
Sikap ini jauhkan dari diri kalian. Kalian anak cerdas yang punya masa depan jauh lebih
baik daripada Bapak. Ingat selalu kebaikan-kebaikan orang tua yang sekarang di sawah,
di pasar, dan dimana saja. Tak ada alasan bagi kita, anak-anakku, untuk membuat
mereka sedih dan kecewa.” Begitulah sepenggal ceramah dari guru kelasku sewaktu di
SD dulu. Ceramah ini akan selalu beliau berikan kepada kami, murid-muridnya,
sebelum sekolah bubar.

Beliau adalah Pak Wama. Guru muda dengan perawakan tinggi semampai,
rambut hitam lurus, kulit sawo matang, khas orang khatulistiwa, namun telah beristri.
Hingga sekarang aku masih gelap, Pak Wama tamatan sekolah tinggi mana. Namun,
sekitar 11 tahun lalu, beliau menurutku adalah guru tercerdas serta baik hati yang
pernah ku’miliki’ di sekolah. Beliau berbeda dari guru lainnya. Cara beliau menegur,
mengajar, terbahak, dan tersenyum, adalah hal luar biasa bagiku dan bagi masa depanku
saat ini.

Pak Wama merupakan putra pribumi dimana aku dan orang tua merantau. Aku
yang dibesarkan di salah satu kawasan transmigrasi di provinsi Bengkulu, sudah
terbiasa hidup berbaur dengan suku lain. Di sekeliling tempat tinggalku ada beberapa
suku bangsa, yakni Minang, Batak, Jawa, dan penduduk asli di sana. Penduduk asli ini
berada di perbatasan provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat. Secara administrasi
mereka berada di provinsi Bengkulu, namun bahasa yang mereka gunakan bercampur.
Pun demikian dengan budaya mereka.

Pada waktu itu, perbedaan latar belakang budaya dan negeri asal menjadi
penting. Penting ketika orang tua mengurus KTP. Penting ketika keluarga menginduk
ke kaum mana. Penting ketika mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah apa. Di
tengah masyarakat yang beragam, heterogen, kampung tempat tinggalku berubah
menjadi kampung yang tidak hanya ramai, tetapi jauh lebih maju dari kampung
induk, kampung dimana dominan dihuni penduduk asli setempat. Perbedaan ini
menimbulkan ‘strata’ sosial yang tidak kumengerti waktu itu.

Aku yang dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga pedagang bersekolah di SDN
58. Dua orang temanku, yang orang tuanya petani dan penambal ban, juga bersekolah
di sana. SDN 58 menjadi SD satu-satunya bagi anak pedagang, petani, dan buruh,
namun tidak untuk anak guru dan putra pribumi. Di SD ini siswa-siswinya kebanyakan
dipenuhi oleh anak-anak petani transmigrasi, biasanya dari Jawa, serta anak-anak
pedagang rantau, dari Minang dan Batak. Hanya hitungan jari SDN 58 memiliki anak
didik dari masyarakat pribumi. Orang tua anak pribumi ini mungkin ketinggalan berita
kampung. Dan Pak Wama tampil di antara kami. Beliau mengajarkan mengenal huruf,
mengeja, membaca, dan berhitung kepada setiap anak dari Jawa, Minang, dan Batak,
tentu juga putra pribumi.

Pak Wama pada waktu itu tidak egois. Kupikir bisa saja beliau tidak mengajar
di SDN 58 dan pindah ke SD sebelah, yang kebanyakan dipenuhi oleh para guru dan
anak didik dari kampungnya sendiri. Di SD itu tampaknya beliau bisa lebih leluasa dan
tak perlu banyak trik untuk mengajar putra putri yang sebuyut dengan beliau. Beliau
bisa saja menggunakan bahasa asli daerah itu untuk mengajar dan membuat anak
didik beliau mudah mengerti pelajaran. Pun demikian dengan para guru yang kurasa
bertetangga dengan Pak Wama. Interaksi antarguru akan jauh lebih mudah dan lancar.
Sehingga Pak Wama tak perlu pusing dan semaput menghadapi aku dan teman-teman
ketika tiba-tiba sibuk dengan perangai serta bahasa kami masing-masing, yang mungkin
aneh di telinga beliau.

Namun, Pak Wama tak melakukan semua itu. Beliau memilih SDN 58 sebagai
tempat mengabdi. Beliau memutuskan diri untuk berjumpa denganku dan temanteman
dari budaya dan negeri asal yang berbeda. Beliau mengorbankan banyak waktu
untuk mendidikku dan teman-teman dengan cara beliau sendiri. Tak perlu neko-neko.
Tak perlu sangsi akan kemampuan sendiri. Toh, pada akhirnya Pak Wama mampu
menikmati kebersamaan denganku dan teman-teman.

Pak Wama menjadi guru kelasku. Beliau mengajarkan berbagai pelajaran, selain
mata pelajaran agama Islam dan kesenian. Untuk dua mata pelajaran ini, diajarkan
langsung oleh Pak Abu. Guru senior dari Pak Wama ini kerap menegur ulahku di kelas.
Pak Abu di mataku tidak semenarik Pak Wama ketika mengajar. Mungkin beliau capek
menghadapi anak-anak SD yang tidak hanya susah diatur, tetapi juga bau amis. Karena
itu pula mungkin Pak Abu tidak memilih menjadi guru kelas. Beliau menjadi penjaga
sekolah dan hanya memegang dua mata pelajaran di SD ku dulu.

Seingatku, waktu SD hingga kelas tiga, aku hanya memiliki empat mata
pelajaran. Ada Bahasa Indonesia, Matematika, Agama Islam, dan Kesenian. Sedangkan
menginjak kelas empat hingga kelas enam, mata pelajaranku pun bertambah. Kalau
tidak salah aku dan teman-teman juga dibekali dengan mata pelajaran PMP, IPA,
IPS, Olahraga, dan tentu tak ketinggalan mata pelajaran terdahulu. Nah, semua mata
pelajaran dari kelas empat hingga kelas enam ini, diajarkan langsung oleh Pak Wama.
“Pak Wama benar-benar hebat,” pikirku dari balik meja waktu itu.

Aku pun semakin kagum dan hormat kepada beliau, Pak Wama. Kepintaran
beliau memotivasiku agar pada suatu hari kelak, aku pun bisa seperti beliau. Berdiri di
depan banyak anak, menyampaikan pelajaran dengan suara teratur, berjalan hilir mudik
menghampiri meja para siswa, dan sekali-sekali diselingi senyum dan tawa. Aku dan
teman-teman sangat menikmati ketika belajar dengan Pak Wama. Ada-ada saja yang
disampaikan Pak Wama agar kami selalu memperhatikan setiap ujaran yang beliau
keluarkan.

Jika salah satu temanku mengantuk ketika jam pelajaran, dengan sabar Pak
Wama menghampiri temanku, mengusap bahunya dan mempersilahkan temanku keluar
untuk mencuci muka. Jika mata pelajaran PMP, IPA, atau IPS, beliau kerap menyuruh
kami membacakan materi dari buku panduan, membetulkan bacaan kami yang salah,
dan kadang menertawai bacaan cadel yang dibuat-buat siswa.
“Ucaha-ucaha (aslinya usaha-usaha) apa?” kata Pak Wama menirukan ucapan
teman yang lidahnya keseleo ketika membaca.

Kontan saja seisi kelas juga ikut tertawa. Namun, aku dan teman-teman tidak
marah kepada beliau. Paling-paling teman yang diledeki memberengut dan melanjutkan
bahan bacaannya. Aku dan teman-teman tahu dan paham bagaimana Pak Wama dalam
keseharian bersama kami. Beliau tak pernah marah dengan kasar. Teguran yang beliau
sampaikan, bukan membuat kami meradang justru membuat kami malu dan merasa
bersalah. Di sinilah letak keistimewaan guru SD ku ini.

Ketika aku dan teman-teman menginjak kelas enam, artinya bulan-bulan terakhir
kami di sekolah itu, Pak Wama semakin dekat dengan kami. Seperti kebanyakan
sekolah, sekolahku juga memberlakukan kelas tambahan pada siang hingga sore hari.
Biasanya kelas ini dimulai pada Senin hingga Kamis. Selepas sekolah pagi, aku dan
teman-teman kembali bersemangat ke sekolah dengan jarak hampir mencapai 1,5 km
dari kampung kami. Sedangkan Pak Wama harus menempuh jarak 2 km dari rumahnya
ke SDN 58 yang letaknya di pelosok kampung. Kadang beliau menempuh jarak itu
dengan bersepeda, dan tak jarang pula berjalan kaki.

Dari sini, pikiranku kembali berkata-kata. Pak Wama setelah sekian tahun
mengabdi ke SDN 58, tampaknya beliau tak pernah jenuh dan bad mood menghadapi
aku dan teman-teman, baik pada pagi hari maupun pada siang hingga sore hari. Kadang
kala, pada sekolah sore, beliau juga mengikutsertakan anak sulung beliau, seingatku
namanya Yoga. Yoga kadang didudukkan di atas meja, atau sengaja diajak bermain
keluar oleh murid lain yang tidak sekolah sore. Pada jam istirahat, aku dan temanteman
bergantian menggendong Yoga yang pada waktu itu usianya sekitar tiga tahun.
Sekarang, mungkin bocah laki-laki itu telah menginjak masa paling indah di SMA.
Hampir disetiap kesempatan Pak Wama selalu memberi nasehat-nasehat.

Nasehat dari beliau jauh berbeda dari nasehat yang diberikan oleh guru-guru lain di SD
ku. Pak Wama, di mataku sangat menentang cita-citaku dan mungkin juga kebanyakan
cita-cita temanku serta orang tua kami. Pak Wama mewanti-wanti agar jika kelak kami
dewasa dan bisa menentukan jalan hidup sendiri, janganlah sekali-sekali memimpikan
menjadi pegawai negeri. Janganlah memimpikan menjadi dirinya yang terikat profesi
sebagai guru.

“Mandirilah anak muridku! Jangan berharap besar pada pegawai negeri, jika
kelak kau tak ingin menyesal,” ungkap Pak Wama di suatu sore sebelum kelas bubar.
Aku terheran-heran. Kenapa kami dilarang menjadi seperti Pak Wama? Padahal
beliau sendiri memilih menjadi guru, dan sungguh, hingga sekarang aku tak tahu,
apakah Pak Wama seorang pegawai negeri sipil atau bagaimana. Yang jelas, kata-kata
beliau, ‘Buang jauh-jauh memimpikan pegawai negeri’ sudah mewakili kalau beliau
berada dalam kehidupan yang pelik. Mungkin pelik secara keuangan, dan juga pelik
secara kebijakan, dalam hal ini relasi antara atasan dan bawahan.

Aku dan teman-teman yang berlatar belakang dari keluarga pedagang,
petani, dan buruh, entah mengapa, kerap menjadi pujian. Beberapa kali Pak Wama
membanggakan para orang tua kami yang bertahan hidup dengan tidak menjadi ‘anak
buah’ negara atau menggantungkan hidup dari pendapatan negara. Pak Wama pun
kerap mengambil salah satu orang tua kami sebagai contoh yang perlu diteladani kelak.
Teladani semangat mereka, teladani keberanian mereka, dan teladani cara kerja mereka
yang mandiri.

“Bapak Tutri wiraswasta kan? Selain uangnya banyak, juga tak perlu kerja
seharian seperti Bapak ini,” ujar Pak Wama mencontohkan pekerjaan orang tua dari
Tutri, salah satu temanku.

“Kalian, anak-anakku akan memiliki kehidupan jauh lebih bebas, mandiri,
tak diatur-atur orang jika mampu berwiraswasta. Mau ini ayo! Mau itu ayo! Maka
belajarlah yang rajin dan bagus. Cari ilmu sebanyak-banyaknya. Jika telah banyak
ilmu, kita yang akan ciptakan lapangan kerja. Mulai sekarang, tegakkan kepalamu
Nak, berlarilah yang kencang. Jangan seperti Bapak ini,” ungkap Pak Wama dengan
semangat berapi-api.

Biasanya, aku dan teman-teman hanya terdiam dan terpana-pana. Apa benar
orang tua kami yang pedagang, petani, serta buruh itu jauh lebih hebat dari guru? Apa
benar orang tua kami yang kurang perhatian atas sekolah kami itu jauh lebih cerdas
dari para pegawai negeri di kampung ini? Apa benar? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap
menghinggapi benakku. Dan jika terlampau banyak Pak Wama berceramah perihal
pegawai negeri, tidak sedikit pula dari kami diam, belum dan mungkin tak mengerti.
Begitulah Pak Wama. Terserah. Apakah anak didiknya mengerti, setengah
mengerti, atau bahkan belum mengerti apa yang beliau utarakan tentang hidup mandiri,
tak ambil pusing. Dalam pikiranku, waktu itu sepertinya Pak Wama menanamkan
sebuah dogma ke dalam kepalaku dan teman-teman perihal jangan mau jadi orang
gajian. Walaupun beliau merupakan salah satu dari golongan tersebut, tampaknya beliau
tak ingin apa yang beliau rasakan juga terjadi pada anak didik beliau kelaknya.

Dogma ini sepertinya singgah pada diriku, setidaknya hingga SMA lalu. Ketika
teman-temanku membicarakan cita-cita, seiring dengan jurusan dan kampus mana yang
akan dimasuki selepas SMA, dominan mereka memilih jurusan keguruan. Tak lain
dan tak bukan karena tenaga guru sangat amat banyak dibutuhkan oleh bangsa ini ke
depan. Sayup-sayup suara dan seraut wajah Pak Wama membayangiku ketika memilihmilih
jurusan apa yang akan diambil ketika kuliah kelak. Ketika teman-teman lebih
banyak memutuskan memasuki keguruan, akhirnya aku berani memutuskan mengambil
sastra. Jurusan yang notabene jauh melenceng dari apa yang kuharapkan, teman-teman
harapkan, dan mungkin Pak Wama harapkan. Tak apa. Akan kujalani dengan semangat
yang tidak sedikit pun surut.

Itulah Pak Wama. Guru muda yang menjadi idolaku hingga sekarang. Walaupun
selepas SD, ketika aku memasuki SMP, SMA, dan bahkan kuliah di kota lain, tak
sampai lima kali aku berjumpa beliau. Namun, Pak Wama menjadi satu-satunya guru
yang tak bisa kulupakan dengan mudah. Tak jarang, ketika aku membuat email, salah
satu pertanyaan kunci tentang guru favorit, nama Pak Wama selalu menghiasi jawaban
pertanyaan itu. Aku bangga sekaligus puas.

Sosok Pak Wama berkesan di hatiku, mungkin juga dikarenakan ada kemiripan
karakter dengan mendiang Ayah yang telah tiada. Ayah yang menjadi sosok inspirasiku
dengan karakternya yang kuat, konsisten, dan mandiri, kadang terlihat juga pada diri
Pak Wama. Imbauan-imbauan Pak Wama agar tak menjadi orang gajian, acap kali
dilontarkan mendiang Ayah kepadaku dulu. Agar aku dan saudara-saudaraku mandiri,
merupakan bahan utama perbincangan di tengah makan malam keluarga. Agar aku dan
saudara-saudaraku menjadi orang yang mampu menciptakan lapangan kerja buat orang
lain, juga topik hangat yang tak habis-habisnya dibincangkan mendiang Ayah. Aku pun
tumbuh dengan karakter sedikit liberal dan lebih berani.

Demikianlah cerita tentang Pak Wama, the unforgetable teacher of my life.
Beliau, sekarang mulai senja dengan beberapa orang putra putri yang menginjak remaja.
Kehidupan beliau yang sederhana dan apa adanya menjadi teladan tersendiri bagiku.
Aku senang menulis cerita ini. Ada sesuatu yang kembali bersemi di dalam sanubari,
yakni masa kanak-kanakku yang penuh makna dan cerita. Dan Pak Wama adalah salah
seorang yang menyaksikan bagaimana aku tumbuh dan berkembang. Jika ada waktu,
ingin sekali aku mengirimkan cerita ini kepada beliau yang sangat kuhormati. Akhir
kata, terima kasih guruku Pak Wama.

Meniti Awan dan Menyeberang Senja




Kata Ibu, awan gemawan ikut serta membesarkanmu
Persis pula dengan yang dikatakan Ayah
Dengan putih dan beraraknya, kau diayun, dilena, dan disenangi setiap siang

Karena awan menginangmu
Karena Ibu dan Ayah mengais rezeki
Karena saudaramu juga belajar air, udara, dan waktu

Biar kau bersama awan hingga senja
Dan senja takkan penatkan kami
Ibu, Ayah, serta saudara tumbuhkanmu hingga kau tahu panasnya api, mentari, dan ucapan

Wahai biji mataku, berria rianglah di atas sana
Tunggu Ibu Ayah menjemputmu ke pelukan

Wednesday, 8 February 2012

Dan Semua Bintang Berseru Nakal




Malam itu kau membelikan aku boneka Shaun, tidak yang gembrot itu, sedanglah ukurannya untuk pelukanku yang mungil. Tentu aku tertawa-tawa senang memeluknya. "Andai aku yang jadi Shaun, bakal seru nih," katamu waktu itu. Dasar pacar jelek, jawabku dengan sebal dibuat-buat. Kita pun makan malam di tempat biasa. Itu, angkringan yang super ramai dengan dinding ditempeli kalimat perintah 'Mohon Bayar Dimuka'. Setiap kami makan malam di angkringan itu, pacar saya yang super jelek tadi, mengusili mba-mba yang menghitung harga makan kami. "Mana mukanya mba, sini tak tempelin duit," katanya sambil terkekeh. Si mba-mba pun tak dapat menyurukkan muka merah padamnya di malam temaran itu.

Begitulah, walau namanya angkringan, engkau akan berjumpa banyak orang, baik masyarakat pribumi maupun anak-anak muda perantauan, ya seperti kami. Tak sedikit pula si londo-londo yang belajar makan masakan Jawa yang super manis pedas di sana. Semuanya berbaur di bawah temaran lampu neon kekuningan. Satu-satunya sudut dimana kau dapat memandang tanpa rasa takut adalah teve usang 17 in yang selalu menayangkan gambar-gambar bergerak. Selebihnya adalah para orang dewasa yang sedang makan, minum, berbincang, tertawa atau pun bermain gaplek dengan beragam minuman panas mengelilingi mereka.

Aku dan pacarku menempati kursi kayu panjang tak jauh dari teve usang itu. Duduk berhadapan dan saling menyantap makanan masing-masing. Sesekali suapan kami diikuti dengan perbincangan seputar hari tadi dan akan dilakukan esok hari. Tak jarang pula kami berdebat pendapat tentang suatu hal yang menurutku atau baginya sepele. Ya, apalagi kerjaan kami ketika berjumpa selain berdebat dan kekeuh dengan pendapat masing-masing. Namun, semua harus usai, karena kejanggalan itu membuat kesal dan tidak enak.

Di kota ini, kau akan menemukan tidak hanya beragam manusia, namun juga budaya malam hari yang bisa penuh dengan kenakalan, dan juga bisa penuh hukum-hukum positif lainnya. Di sini kau akan menemukan setiap malam adalah malam minggu, kata pacarku dengan pedenya. Apa iya? Jawabku. Saksikan saja sendiri. Setiap malam kita mengeliling kota ini, apakah kau melihat kesunyian dan ke-sepi-an? Tidak bukan? Jawabmu sendiri. Kota ini memang selalu ramai. Apalagi di pusat-pusat keramaian dan jalan-jalan perempatan. Jika kau ke kota ini, dari pagi ke pagi, coba kau berdiri di kawasan Nol Kilometer, perempatan jalan, salah satunya Jalan Malioboro yang sangat fenomenal itu.

Di ujung jalan itu, tepatnya Jalan A. Yani, sangat amat diramaikan oleh pengunjung. Orang-orang tidak takut duduk-duduk di pinggir jalan, berfoto ria dan berburu foto di bibir jalan ini. Dan sepertinya, tragedi Suzuki Xenia yang menelan 9 korban jiwa di trotoar Jakarta itu tidak berlaku di kota ini. Semua serba sibuk dengan urusan wisata masing-masing. Dan jangan kau heran dengan para pramuwisma yang mereka juga heran melihat sikapmu nanti yang sangat ceria melihat keramaian unik itu. Mereka, para pramuwisma itu, juga akan menemanimu duduk-duduk di tempat-tempat santai terbuat dari beton di sekitar kawasan sini. Coba saja nanti ya.

Dan jika senja tiba, dan kau masih duduk di sana, kau akan menyaksikan puluhan ribu burung gereja terbang di atas kawasan ini. Arah Timur dari kawasan ini adalah Istana Presiden yang berpagar besi. Kau hanya bisa melihat dari seberang jalan. Di depan bangunan tua dan besar ini tertancap pohon-pohon besar tempat bersarangnya burung-burung tadi. Sore itu kau akan menyaksikan para burung ini urban ke tengah-tengah kota setelah sekian jam mereka terbang dan hinggap di mana-mana. Suara mereka cukup mengalahkan bisingnya kendaraan yang lalu lalang di depanmu.

Di tengah kota yang penuh dengan bangunan tua ini, kau seolah-olah berada pada zaman sewaktu kota ini dibangun. Kau tahu kantor Bank BNI? Jika kau singgah di sini, usahakanlah memotret dirimu di bangunan tua dan eksotis ini. Percayalah, dari kajauhan gedung ini seolah-olah mewakili para menir Holand yang pernah berkunjung atau berkuasa di kota ini.

Dan ketika malam perlahan merangkak menghampiri kaki-kakimu, maka bertengadahlah, di layar jagat raya Andromeda itu akan kau lihat betapa bintang-bintang juga tak ingin melewatkan keramaian dan kesempurnaan malam di kawasan Nol Kilometer itu. Percayalah padaku, jika kau kesini, kau akan menyaksikan hal itu dengan sempurna. Galaksi terbesar ini menyuguhkan pemandangan langit malam membentang dengan luar biasa. "Hal semacam ini yang menguatkan kalau setiap malam di kota ini adalah malam minggu, jelek," kata pacarku yang jelek tadi. Memang ia sengaja menekankan kata jelek kapadaku. Itu telah menjadi panggilan yang kurang kusuka, namun akrab di telingku.

Cerita ini memang jauh melenceng dari judul yang kugoreskan. Acap kali aku memberi judul tulisan tidak sesuai dengan isi yang disampaikan. Ya, itulah aku. Kegalauan dan ketakjelasan masih saja membayangi. Bersama bintang yang juga kerap kupandangi lama-lama, membuatku hilang akal dan kendali. Dan semua bintang berseru nakal adalah kata-kata yang kuselipkan tidak sengaja di hatimu.

Kepada Angin di Februari Kabisat





Sejak Februari ini angin sepoi-sepoi semakin berhasrat menimpa wajahku. Wajah yang dilanda beribu-ribu kebingungan ini semakin dekil dan tak terurus. Di tengah terpaan itu kusampaikan pula salam kebebasan dan kejayaan. Mungkin ini waktu dimana aku menghindar dari kemapanan. Kami, aku dan teman di Andalas, pernah berseloroh bahwa kami adalah generasi anti kemapanan. Sembari terkekeh, temanku mengiyakan gombalanku yang gila dan garing itu. Pada waktu itu memang hanya sebagai obrolan biasa lewat telepon genggam. Generasi digital yang mudah hilang kendali.

Kepada angin di Februari Kabisat, entah iya kabisat atau tidak, hanya saja saya sangat menyukai menuliskannya. Februari ini, angin-angin kadang garang kadang juga sepoi mengiringi pagi kami hingga malam merangkak. Hujan hanya sekali-sekali. Itu pun tak lama. Namun selalu diikuti angin, kadang angin kencang, kadang juga tidak. Kepada angin Februari Kabisat ini pula ingin kubisikkan seribu kata dan helaan napas. Kepada angin ini pula, kutuangkan segala cerita dari pagi ke pagi. Andainya angin Februari ini merentangkan segala untaian kalimat dariku, entah bagaimana jadinya.

Kepercayaanku kepada angin, tak pernah pudar. Angin-angin ini pun kadang berbisik manja padaku. Mereka cukup senang bisa terbang kemana-mana dan membawa berbagai hal yang akan disinggahkan pada tempat berbeda. Termasuk menyinggahkan debu-debu di wajahku yang membuatnya semakin kusam. Tak apalah, kata mereka, toh kami selalu merelakan kekuasaan kami menyimpan segala rahasia yang kau rentangkan setiap pagi, kata angin. Aku mengangguk, sepakat. Wajahku pun berlumpur debu setebal telunjuk.

Angin Februari Kabisat ini kurasakan cukup panas dan menggerahkan. Sama ketika aku menonton televisi yang isinya lebih banyak membuat gerah ketimbang menghibur diri. Kuakui, hampir setiap hari, pagi dan petang, tontonanku tak lepas dari Spongebob dan Shaun serta teman-teman mereka. Kemudian tontonan ini, jika tak membosankan, berlanjut ke hal-hal yang menggelitik perut. Aku tak bisa lagi memilih tontonan yang lain, katakanlah itu semacam 'Dunia Dalam Berita' yang pernah kita tonton di zaman Orde Baru bahkan Reformasi setiap hari pukul 7 dan 9 malam, bukan? Bagiku itu membosankan dan membuat kesal.

Nah, tontonan macam begini semakin menjamur dan dapat kau temui disetiap chanel tevemu. Begitu juga chanel teve di rumah tempatku bernaung. Hanya saja, lama-lama, tontonan itu membuat resah dan geram. Bagaimana tidak, sebanyak aku tahu kalau negara ini semakin digerogoti koruptor dan keadilan sangat susah didapatkan, aku semakin lesu dan tak bernafsu makan. Agar aku tak lesu dan tetap sehat, maka aku menghindarkan tontonan itu sebisa aku. Jika sudah kepepet, dalam artian hanya ingin mengetahui apa kabar terhangat hari itu, maka tak lebih dari tiga menit, boleh aku menyimak kabar-kabar itu. Sungguh, sangat susah lebih dari tiga menit. Karena kehilangan tiga menit menonton Spongebob atau Shaun, aku bisa bertanya-tanya hingga mata terpejam di larut malam. Aneh dan lebay ya. Ya, begitulah.

Menulis cerita ini, aku ditemani oleh Sandaran Hatinya Letto. Suara vokalisnya yang serak dan lembut itu, membawaku pada nuansa yang sangat amat menyayat. Lirik-lirik lagunya yang jika ditilik-tilik lagi adalah ungkapan kepada Sang Khalik. Hal ini berkaitan dengan acara Cak Nun dan orkes Kiai Kanjeng baru-baru ini yang aku hadiri di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Cak Nun yang terkenal dengan religiutasnya, mampu membuatku terpesona dan kagum. Acap pula Cak Nun dan Kian Kanjeng membawakan lagu-lagu Letto, tidak hanya sebagai hiburan, namun kedalaman makna, coba kau hayati, dan tunggulah hatimu bergetar hebat. Dasarnya, hakikat Tuhan, dapat kau peroleh kapan dan dimana saja kawan. Tanpa tedeng aling-aling aku memaknainya begitu.

Dan kepada angin pula, ia tidak hanya berwujud, seperti yang kita kenal sebagai angin. Namun ia lebih dari sekedar angin. Ia tak hanya sebagai penyejuk, namun kerap pula sebagai penolong sebagai perpanjangan tangan (kuasa) Sang Pencipta kepada kita. Dan kepada angin aku berterima kasih karena telah mempu menuliskan cerita singkat ini sebagai ungkapan hatiku, yang untuk kesekian kalinya kadang sok tahu dan sering nyebelin.

Kepada angin di Februari Kabisat, ketahuilah cerah dan gembiranya hantarkan beragam kupu-kupu beterbangan di atas kepalaku ketika menuliskan kisah ini. Oh, untuk berbahagia, buatlah peristiwa bahagia kecil itu menjadi besar dan maknai lebih. Karena hanya dengan demikian kita dapat tersenyum tanpa berharap lebih pada orang.

Kepada angin di Februari Kabisat, sampai jumpa lagi. Tetaplah ayunkan dedaunan pepohonan di atas kepalaku ini tanpa kau pernah berharap lebih, karena aku selalu tahu apa yang kau bisikkan.

Perjalanan Rindu pada Langit Andalas




120 pekan tak cukup membuatku mengeluh dan balik kanan pada terpaan angin dan padai di jantung kota ini. Masa itu, adalah masa dimana kau tumbuh lebih besar, kata seorang teman sembari mengunyah suir-suir ayam gorengnya. Tak sampai di sana, pada masa ini kau juga harus banyak belajar tentang kehidupan yang benar-benar begini adanya. Tidak seperti kehidupan selama ini kau di Andalas. Kau pasti pahamlah maksudku, katanya, kali ini mulai menyeruput es tehku.

Judul di atas, bukan rindu tepatnya, tapi kegamangan dan ketakutan, yang kadang saya lebih-lebihkan. Kau itu, suka menakut-nakuti diri sendiri, kata temanku ini. Jalani nasibmu di sini, dan kita bersama teman-teman di rumah kedua itu, mencoba merubah, apakah akan lebih baik atau semakin kecele. Kita lihat nanti, katamu lagi. Memang, temanku satu ini melihat hidup sangat simpel dan tak perlu merepotkan diri. Ia persis abangku di Andalas. "Kau jangan bingung di sana. Jangan dipersulit hidup. Jalani kehidupan seperti alur yang telah diberikan. Jangan mikir aneh-aneh," katanya dalam telepon dari seberang. Jujur, saya sangat terhibur dan seolah-olah beban berkwintal di pundak seketika terlepas. Begitu juga teman satu ini.

Bersama dia, kehidupan ini jauh lebih mudah dan aman kawan. Kau tak percaya? Suatu saat nanti jika ada waktu, akan aku perkenalkan kau dengan dia. Dalam benakku, ia memiliki konsep kehidupan yang sangat simpel namun bukan berarti tidak terpetakan. Kebijakan melihat hidup ini sangat saya hormati. Lambat laun saya memang harus banyak belajar. Kali ini bukan ilmu-ilmu praktis, namun ilmu kehidupan yang super duper harus dipraktikkan. Ya, katakanlah tak perlu bersusah payah menonton Golden Waysnya Mario Teguh, atau menyimak Salam Luar Biasanya Pri GS di radio-radio. Tak perlu. Cukup kau rela mendengarkan banyak ulasan dari kawanku satu ini. Atau ini jangan-jangan hanya tulisan tak mutu tentang kegalauan yang akut di diriku. Dan aku memaksamu membaca curhat ini hingga paragraf terakhir. Terserahlah.

Dan pekerjaan ini cukup membuatku menghilangkan segala kepanikan, sifatnya tentu temporary. Tak permanen. Pekerjaan yang memberiku banyak luang belajar dan bergaul dengan banyak orang. Kau banyak bersyukur dengan pekerjaan barumu ini, kata temanku itu. Menjalani adalah proses yang luar biasa yang akan menentukan siapa dirimu. Sekarang kau hanya menjalani dan menjalani. Katanya setiap pagi, siang, sore, dan malam. Kesediaan ia sebagai sahabat sekaligus saudara, sungguh anugerah yang luar biasa. Sekali lagi, jika ada waktu, akan kuperkenalkan kau padanya.

Sejak SMP, SMA, duduk di kuliah, hingga lepas darinya, aku memang harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Memang, siapa saja harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dan itu terbaik. Tapi bagiku, tidak sejelas itu. Maksudku begini, dalam meraih sesuatu, kadang aku mampu menakar, apakah hal itu akan aku peroleh atau tidak. Takarannya ini sudah aku tahu, walaupun aku tak dapat menentukan. Perjuanganku mendapatkan kesibukan, harus sebanding dengan apa-apa yang telah kukorbankan. Semakin banyak aku berkorban, maka semakin dekat pula kesibukan yang kucari menghampiri. Begitu juga sebaliknya.

Pengorbanan ini kawan, tidak tanggung-tanggung. Tidak hanya berkorban materi, tetapi juga berkorban hati dan nurani. Tak perlulah kutuangkan bagaimana pengorbanan ini kulalui. Karena itu hanya akan membuatmu sedih dan bersimpati dalam padaku. Apalagi jika tuangan curhat ini sampai ke telinga Ibu, Abang, dan Uniku di Andalas. Bisa-bisa aku dibentak untuk kembali ke tanah itu selama-lamanya. Tak perlu terjadi. Memalukan itu. Aku tak perlu disimpatikan. Cukup dijadikan teman yang dapat dipercaya dan menyenangkan.

Nah, pengorbanan inilah yang menggerakkan tanganku untuk menuliskan kata rindu kepada Andalas. Bagaimanapun juga, ketika engkau ditimpa derita dan kesusahan, benak dan hati ini langsung menampilkan bayangan dan suasana kota kecilmu, jika aku, maka Andalas. Semakin jelas dan terang, dan semakin nelangsalah aku. Namun, buru-buru aku hapus semua bayangan itu. Sekuat tenaga dan hati pula aku berdiri menuju kamar mandi. Mengguyur kepala dengan air pagi, cukup membuatku meninggalkan sedikit akan bayangan dan kenangan itu. Dan kembali membawa pikiran yang berisi kesadaran akan hari ini dan apa yang semestinya dikerjakan. Begitulah, caraku mengobati hati yang luka. Luka bukan karena cinta, seperti pada yang banyak terjadi. Namun luka karena perantauan, heee.

Andalas, dalam ulasan ini, rasa rindu itu sedikit-sedikit tersalurkan. Walau tak mesti menginjakkan kaki di tanah itu. Memang, kadang musuhku terbesar adalah hatiku yang banyak bercakap-cakap yang kadang sok tahu dan tak realistis. Membosankan memang.

Belanja Buku dan Manipulasi Dirimu




Perhelatan pesta buku di kota Jogja awal tahun 2012 ini akan segera berakhir. Detik-detik terakhir pesta buku yang oleh dihelat Ikatan Penerbit Buku Yogyakarta (IKAPI DIY) ini mengundang banyak pengunjung. Hampir setiap hari iven akbar ini diramaikan oleh mereka-mereka yang buku holic. Tentu saja hal ini ditunjang dengan peran kota Jogja sebagai kota pelajar dan budaya di Tanah Air.

Setiap hari saya mengunjungi iven buku ini karena tak tahu lagi akan kemana, serta teman-teman tercinta memang mangkal di sana. Selama tujuh hari, beragam orang yang dating berkunjung, melihat-lihat, dan syukur-syukur berbelanja buku. Paling banyak yang datang memang para mahasiswa dan orang dewasa. Apalagi pada stand buku yang kami tunggui beramai-ramai. Selain harga miring, diskon hampir 80 persen, para pengunjung juga akan dimanjakan dengan tema-tema buku yang lebih bebas (liberal) serta berani. Koleksi buku dari penerbit ini memang rada-rada kiri. Kiri, apakah itu pancasilanya, apakah itu Islamnya, dan kebudayaannya. Semua hampir kiri, jika tak ingin mengatakan kafir.

Nah, pada hari ke empat, buku-buku pada stand ini diborong oleh dua perempuan setengah baya. Dari penampilan serta merek gadget yang mereka kenakan tampak sekali kalau mereka berasal dari kalangan beruang. Beruang dan banyak membeli buku, tentu tidak menjamin bahwa mereka suka dan cinta kepada buku. Bisa saja mereka membeli buku-buku dengan total jutaan rupiah itu sebagai lahan bisnis yang menggiurkan. Ya, hal ini terlihat ketika mereka mimilah-milah buku yang hendak dibeli. Tak lihat lama-lama, ambil kumpulkan, ambil kumpulkan, ambil kumpulkan, kemudian membayar.

Pikiran ini tidak berburuk sangka kawan. Pikiran ini lahir dari pada apa yang tampak dan bisa diuraikan dengan tidak memfitnah. Alhasil memang tidak meleset. Dua perempuan setengah baya itu, memang jualan buku di kota lain dengan kelipatan harga yang sangat manis. Tak perlu ditanya, sembari senyum-senyum ketika membayar, mereka berucap, “Lumayan dijual di luar kota jadi mahal lho mba,” katanya kepada kami. Benar kan?

Selanjutnya datang pula berkunjung Guruh Sukarno Putra memborong banyak buku di setiap stand. Tak tanggung-tanggung, putra sang proklamator ini membawa ajudan, katakanlah begitu, sekitar sepuluh orang. Kesepuluh pria tinggi besar dan berstelan batik ini mengawasi sang pujangga-menurut saya Guruh itu pujangga-ketika memilih-milih buku. Beberapa ajudan juga membantu memilihkan buku-buku yang layak masuk ke perpustakaan Guruh. Konon, kata temen yang iseng bertanya, bahwa Guruh memiliki sekitar 30 ribu koleksi buku di tempat tinggalnya. Entah iya entah tidak. Dan jika iya, entah dibaca semua atau hanya judul yang dibaca. Itu urusan Guruh dan buku-bukunya.

Ketika Guruh mampir ke stand buku teman saya, saya iseng menyempatkan berfoto bareng dengan sang pujangga. Ya, awalnya saya kurang berminat, tapi tak pikir-pikir lagi, kenapa tak dicoba ya, gimana sih rasanya bersapaan dengan Guruh yang nyentrik itu. Waktu itu, Guruh memakai batik lengan panjang dan bercelana jeans hitam. Pasti bermeraklah, dan dalam asumsi saya keluaran luar negeri itu. Tak apa-apa. Setiap orang memiliki hak asasi untuk mengenakan produk dalam negeri maupun luar negeri.

Guruh kembali memilih-milih buku tanpa menoleh kiri kanan. Yang dipandang cukup apa yang di depan matanya. Melirik sebentar, memutuskan, dan memberikan kepada ajudan yang mengikutinya dari belakang, tepatnya si pengumpul buku untuk Guruh. Melihat banyaknya buku yang dibeli Guruh, kata seorang teman yang sama-sama menunggu stand buku, Guruh berbelanja buku tak kurang dari satu juta pada setiap stand. Jika ada 40 stand pada pesta buku itu, berarti sebanyak minimal 40 juta Guruh berbelanja buku di hari itu. Maka bayangkanlah berapa jumlah eksemplar buku yang dibeli Guruh. Kemudian banyangkanlah Guruh membaca-baca buku itu, baik ketika sedang di mobil, di meja makan, di depan laptop, di kamar mandi bahkan mungkin di toilet. Wajar kan?

Selanjutnya pada kejadian ini, beberapa stand yang dikunjungi Guruh, pastilah stand itu lengang. Tak ada pengunjung lain yang dekat-dekat dan berdesakan memilih buku di sekitar Guruh, ketika seperti biasanya. Barangkali mereka terpana dan terpesona melihat Guruh secara live sekitar satu meter di depan mata kepala mereka. Sebenarnya yang terpesona tidak hanya pengunjung, saya dan teman-teman juga demikian. Bahkan sang komisaris penerbit juga terpesona dan menyempatkan foto bareng bersama Guruh.

Melihat kejadian ini, saya teringat pada ucapan seorang teman dari pulau di Timur sana, buku dan membeli buku mencirikan dua karakter dan gaya hidup. Pertama, memang sangat membutuhkan dan menunjang pekerjaan atau profesi, katakanlah itu kebutuhan. Sedangkan yang kedua, saat ini buku cenderung mengarah kepada kehidupan pamer dan hedonisme. Buku menjadi penambah pernak pernik kehidupan kelas elit atau kelas menengah ke atas. Dengan buku mereka 'meningkatkan' identitas dan jati diri kepada jenjang yang jauh lebih tinggi, katakanlah buku sebagai simbol masyarakat postmodern dan kelas industri teranyar.

Nah, dalam kaca mata saya, teman-teman yang berlebihan membeli buku termasuk Guruh, cenderung kepada artian kedua. Kenapa? Lihat saja para cendekiawan kita di teve-teve, di koran, dan di poster-poster, pasti memilih berfoto dengan latar belakang buku tersusun rapi di rak buku. Kemudian foto itu disebarkan ke publik, apakah itu untuk kampanye, untuk wawancara ekslusif, atau hanya sebagai profile picture di jejaring sosial. Budaya narsis dan pamer, menuju sombong, sudah mulai wajar di negeri ini.

Ini baru satu contoh tentang buku dan membeli buku banyak-banyak. Saya menulis demikian tidak iri, karena bisa saja pembaca mengira saya tidak mampu membeli banyak buku seperti Guruh, itu memang benar. Alasan lainnya, di mata saya bukan kepada membeli buku, namun kepada konstruksi masyarakat sosial kita tentang kecerdasan dan kesuksesan. Jangan salah, masyarakat awam, ketika melihat seseorang menenteng buku kemana-mana, mereka akan menilai si penenteng buku pastilah cerdas dan berkarakter sukses. Bullshit itu semua. Tak menjamin. Kebodohan tetaplah kebodohan, tak ada sangkut pautnya dengan banyak membeli buku. Saya sendiri, beberapa tahun lalu tergila-gila dengan buku dan hingga sekarang, ketika saya perturutkan nafsu membeli buku, buku dengan skala kebutuhan pada no 2 dan 3, ternyata memang banyak disusun saja di atas lemari. Akan tetapi berbeda dengan buku pada skala kebutuhan no 1, tentu sangat berbeda.

Pertanyaannya, apakah anda membeli buku sesuai skala kebutuhan no 1, atau skala no 2, 3, dan 4 yang anda beli? Jika iya, saya akui bahwa anda memiliki cukup duit dan lemari buku di rumah. Namun, saya tidak percaya begitu saja jika anda dengan enteng menamatkan buku-buku no 2, 3, 4 itu dengan segera dan paham. Teman saya yang gila buku, hanya gila mengoleksi, sedangkan membacan masih jauh. Alasannya, buku hanya sebagai hiasan karena di rumah tidak ada pigura. Ini sebuah keprihatinan.

Keprihatinan ini dilihat juga oleh pak sopir taksi. Ketika taksi melaju ke Pesta Buku Jogja, pak sopir becerita panjang lebar tentang orang-orang besar yang kerap muncul di televisi dengan buku-bukunya. “Baca koran tiap hari saja tak siap semuanya mba, ini baca buku sekardus. Ya, gaya-gayaan saja mba, he he he,” ungkap pak sopir. Menurut pria 55 tahun ini, banyak buku tak menjamin para pemimpin bangsa lebih cerdas dan mulia. Tetap saja bangsa ini digrogoti korupsi dan tindak kriminal lainnya. Begitu pendapat pak sopir taksi dengan bahasa Indonesia dicampur bahasa Jawa. Saya mengiyakan dan tersenyum kecut.

Tulisan ini hanya merekam apa yang ada di kepala setelah apa yang dilihat dan didengar.