Monday, 9 January 2012

22, 1, 12 Pada Diri yang Terbawa Angin Beriak




Ini kali pertama aku menulis tentang diri, merayakan diri, dan akan lebih enak dibaca juga oleh diri, sendiri. Tulisan ini mengenangkan pada hari jadi yang ke 22 tahun, tepat sebulan lalu. Aku menuliskan kemudian setelah pergantian tahun yang dipenuhi seribu cemberut. Tak ada makna lebih pada pergantian tahun 2011 menuju 2012 itu, bagiku. Hari terakhir 2011 pasti berbeda dengan hari lainnya, namun belum ada yang istimewa, yang patut aku rayakan. Jadi aku tertidur dengan sangat pulas pada malam itu. Maafkanlah!

Baru malam ini aku kembali bersemangat bercerita melalui aksara tentang diri yang pernah terlupakan dalam huruf-huruf. Itupun setelah aku mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan. Tapi, sudahlah, aku yakin peristiwa itu tidak lepas dari apa-apa yang pernah aku perbuat sebelumnya dalam artian kurang baik. Ya, namakan saja karma kecil-kecilan. Dan tidak sampai di sini saja, aku pun yakin masalahku ini ada solusi terbaik yang akan datang untuk mengobat diri dan jantung ini. Datangnya kapan? Aku belum tahu. Namun, bukan karena aku perempuan sehingga lebih banyak sabar tidak, aku belajar lagi mengendalikan emosi yang setiap kali sedia diledakkan. Aku tak ingin itu terjadi. Bagaimana pun juga, aku pernah belajar mengatasinya, berhasil. Dan tak mungkin kali ini aku kalah.

Usiaku menginjak genap 22 tahun. Apakah pada usia ini aku lebih matang? Dewasa? Bijak? Cantik? Dan tajir? Ah belum tentu. Hidupku ini memiliki banyak kemungkinan yang hingga saat ini masih gelap bagiku. Beberapa pilihan di atas adalah kemungkinan itu. Bisa jadi terwujud, bisa juga belum terwujud pada usia ini. Memang banyak yang mendoakan, entah hanya basa-basi atau memang benar-benar serius, bahwa aku diharapkan begini begono, pokoknya all the best lah. Begitu isi selamat yang aku terima. Terima kasih bagi pengucap yang tentu sangat baik hati dan merupakan kawan serta calon kawan yang luar biasa.

Hari jadi tahun ini sangat biasa sekali. Tidak terdefinisi biasanya. Tak ada bar bur ber. Tak ada jebakan-jebakan aneh, dan seperti biasa tak ada kado materi. Aku mahfum. Keadaan itu telah kubaca sebelumnya dengan sangat baik. Sangat arif, dan memang benar adanya. Aku tentu tak kecewa, karena aku sudah biasa dengan begitu. Ada sesuatu yang aneh, karena aku tak perlu mengajak beberapa rekan makan-makan, hanya sebagai ungkapan syukur semata, seperti di pulau seberang tahun-tahun lalu. Ini menjadi asing bagiku saat itu. Ya sudah, aku juga tak berharap banyak. Siapa yang akan aku ajak makan-makan. Kawan baru hitungan jari dan mereka penuh dengan basa-basi. Aku berinfak saja.

Pada usia ini aku masih saja merasa sebagai bungsu yang tak memililki beban materi apa-apa. Aku masih saja seperti anak amak beberapa tahun lalu. Semua kebutuhanku dipenuhi oleh amak, abang, serta oneku yang sangat perhatian. Aku kadang heran dengan diri ini. Mereka tak pernah meminta apapun dalam bentuk materi kepadaku. Mungkin memang karena aku selalu terlihat kere ya? Sehingga tak ada alasan bagi mereka merequest walaupun hanya dalam bentuk main-main. Malahan amak dan saudara-saudaraku berkirim kabar dan mengkhawatirkan kebutuhanku. “Adek mau dikirimi nggak?” Aku terbahak, sekaligus ada yang tergenang pada ekor mataku. Terbahak bukan untuk mereka yang sangat aku hormati dan sayangi, tapi untukku yang masih dianggap anak kecil dan butuh laporan setiap saat pada mereka. Basah di ekor mataku karena aku tergagu dan syukur sangat dalam bahwa aku tak memiliki siapa-siapa selain Allah dan mereka. Tiba-tiba aku jadi teringat abak di surga. Sedang apa ya beliau di sana? Harapku damai dan penuh kebahagiaan.

Usia ini memberiku banyak pelajaran sekaligus kemunduran. Pelajaran mandiri dan berbagi hati dengan beberapa orang yang mau tak mau harus aku sayangi. Aku berkata begitu, bukan berarti aku munafik dan tak serius. Aku harus menyayangi mereka seperti Allah menyayangiku dan seisi alam ini. Aku belajar bagaimana Mahatma Gandhi menghabiskan masa hidupnya untuk mereka yang terbuang dan terpinggirkan. Aku belajar kenapa Bunda Teresa begitu total mencintai mereka yang kudisan serta tak beruang itu. Begitu pula dengan nabiku Al Amin. Dan saat ini kenapa aku tak bisa belajar bagaimana mencintai orang-orang, yang dalam banyak kaca mata orang, belum waktunya untuk dicintai. Ah terlalu kejam dan vulgar mereka.

Sedangkan kemunduran yang kurasakan, selain kemunduran stok tabungan, aku juga mengalami kemunduran aktivitas dan kuantitas berpikir yang semakin sedikit. Menurut akal sehatku, sedikit banyaknya dikarenakan cara bergaulku dengan teman-teman yang berbeda latar belakang dengan agenda aktivitasku waktu dulu, dunia diskusi dan tulis menulis. Sekali lagi, bukan karena aku perempuan aku harus bersabar. Bersabar tak kenal jenis kelamin dan gender, setiap orang pada waktunya harus menerapkan ini dengan sebaik mungkin. Aku bersabar sembari mengerjakan apa yang bisa kukerjakan dalam waktu dekat. Melihat-lihat apa yang bisa kuambil peluang untuk hidupku lebih berwarna dan tak monoton. Hingga aku dipermainkan oleh waktu.

Memasuki usia genap ini banyak doa yang kulantunkan. Doa-doa yang telah kuterbangkan ke awan sana semoga tidak hanya didengar Allah tetapi juga sedikit demi sedikit dikabulkan sesuai dengan apa-apa yang relevan aku lakukan. Allah, Engkau Yang Maha Tahu, sangat mengenal isi hati dan kepalaku. Engkau Yang Maha Penyayang sangat paham bahwa aku patut diberikan kasih sayang dalam bentuk yang Engkau pahami. Doa-doa ini selalu kutembangkan pagi dan petang. Berharap rida dan kemujuran datang silih berganti. Allah, bukan berarti aku belum mendapatkan rida dan kemujuran hingga aku berkata begitu. Dengan dilahirkan dari rahim amak dan aku pernah serahim dengan abang dan oneku, aku sudah sangat rida dan mujur Allah. Terima kasih. Aku yakin pada 22 ini aku berkah, insya Allah.