Thursday, 22 December 2011

Perjuangan Ini Masih Diteruskan



‘Untuk Amak dan para perempuan yang semoga masih membaca’



Sekitar 200 (bahkan ribuan) perempuan dari tanah Jawa diberangkatkan ke luar Jawa dan luar Indonesia oleh Pemerintahan Jepang selang waktu Maret 1942- Agustus 1945 dulu. Masa pendudukan Jepang itu, para remaja Jawa yang berusia 14-19 tahun ini dijanjikan akan disekolahkan di Tokyo dan Shonanto, Singapura sekarang. Namun, apa yang terjadinya? Jika kita mengenal istilah Jugun Ianfu (perempuan penghibur), ini lah mereka-mereka itu. Janji manis dari Dai Nippon hanya omong kosong belaka sebagai bentuk ketidakprimanusiaan dan jiwa ksatria mereka yang lembek.

Semua itu berawal dari pecahnya Perang Pasifik serta serangan dari Hindia-Belanda membuat Jepang semakin kawalahan. Jika dulu Dai Nippon sengaja mendatangkan perempuan penghibur dari Jepang, Cina, dan Korea untuk para Heiho (serdadu), namun sebagai gantinya gadis Indonesia dipaksa dan diciderai untuk mengambil posisi tersebut.
Para remaja ini kebanyakan berasal dari keluarga menengah, bergelar ‘roro’. Mulai dari putri kumichoo (kepala rukun tetangga), kuchoo (lurah), sonchoo (camat), dan gunchoo (wedana). Tak ketinggalan pula remaja-remaja ini berasal dari orang tuanya para guru, juru tulis, mantri polisi, penilik sekolah, dan seterusnya. Mereka menjadi korban dari kerakusan serta kesewenang-wenangan pemerintahan Jepang pada waktu itu.

Pramoedya Ananta Toer dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer-Catatan Pulau Buru- memaparkan bagaimana nasib, kekerasan, ketakberdayaan, serta keter’diam’an pemerintah Indonesia terhadap mereka, para gadis ini. Mereka, hingga kini, masih tersebar di beberapa wilayah terpencil di Nusantara. Dalam kehidupan tanpa jaminan, tanpa bantuan, dan mungkin tanpa harapan, namun masih menyisakan kepiluan yang teramat dalam.

“Tak ada orang menolong sahaya. Sahaya dibawa masuk ke dalam kamar kapal. Pelangi (selendang) itu yang jadi penutup muka sahaya. Ia gelatakkan sahaya... dan waktu terbangun seluruh badan lemas, pakaian rusak semua... badan sakit semua. Ya, Nak, terang-terangan saja, Ibu sudah tua sekarang, apa pula guna malu. Sipen na (kamaluan ini) bengkak. Sahaya menangis. Tapi tiap sahaya menangis dia malah datang lagi dan diulanginya perbuatannya... dan sahaya pingsan lagi. Begitu terus sampai sahaya tak dapat menangis.” (Kartini, asal Semarang, anak pegawai Pangreh Praja).

Serta petikan ini,"Pada kesempatan sekilas yang menyusul setelah itu, Wai Durat mendesak terus dengan pertanyaannya, dan Ibu Muka Jawa mengulangi lagi sumpahnya pada Pamali dengan jalan membikin garis silang di atas tanah. Jari-jarinya yang tua kemudian menjumput tanah dari titik silang dua garis lurus itu dan memasukkan ke dalam mulut, memakannya, sambil berkata:
“Dari bumi ini aku lahir. Dari bumi ini aku makan. Aku akan mati dan kembali di bumi ini juga.” Setelah itu ia berkata, “Kau terlambat, Nak.” (Ibu Lansar, nama burunya Muka Jawa, asal Pemalang, Jawa Tengah).

Beberapa petikan para ‘pahlawan bidadari’ ini mengungkapkan kepada pembaca betapa kehidupan perempuan masih jauh dari apa yang diharapkan oleh perempuan itu sendiri. Mereka menjadi korban atas kesewenang-wenangan pemerintah dan penguasa pada waktu itu. Orang tua mereka yang beruang dan menjabat, harus membayar mahal, kehilangan putri, atas kerakusan dan kemunafikan karena lebih mencintai harta dan kehidupan mewah hadiah dari Dai Nippon waktu itu.

Ini bukti sejarah yang data-datanya akan sangat banyak lagi jika dilakukan penelitian tentang keberadaan, kehidupan, serta masa tua para mantan Jugun Ianfu ini di Tanah Air sekarang. Republik ini tentu mampu membawakan perkara korban perang ini kepada mahkamah internasional dan menuntut pertanggungjawaban Dai Nippon atas kerakusan dan kebodohan serdadu mereka. Keadilan akan selalu ada jika berniat memperjuangkannnya.
Di Hari Ibu ini, diharapkan tidak ada lagi perempuan-perempuan yang mengalami nasib seperti Jugun Ianfu, disepelekan, dan dirampas hak-hak mereka. Perempuan memang harus tahu dan paham bagaimana posisi mereka baik di ranah domestik maupun publik (skala lokal ataupun global). Pemahaman ini akan memberi bagaimana seharus dan sebaiknya mereka berpikir dan bertindak. Kekurangan-kekurangan yang ada pada perempuan tidak berarti sebagai simbol mereka selalu berharap besar bantuan kepada laki-laki. Namun hanyalah salah satu cara agar perempuan lebih cerdas lagi mengasah potensi yang dimiliki.

Dan untuk Amak di sana, semoga selalu dalam keadaan bersemangat dan tawakkal. Kecintaan akan keluarga tak akan pernah berkurang. Kecintaan akan masa depan lebih baik tak akan pudar. Harapan demi harapan selalu beliau lantunkan dalam barisan panjang doa-doa beliau, pagi, siang, dan malam, untuk putra putri dimana pun berada. Rasa cinta dan kebanggan ini terhadap Amak juga tak pernah surut-surutnya. Hanya beliaulah sosok yang membuatku selalu optimis, selalu segar, selalu rendah hati, dan memahami sebagai insan. Terima kasih Amak. Di Hari Ibu ini, doa dan harapan kupanjatkan dari sini untuk Amak tercinta.

Dan kepada saudari-saudariku di mana pun berada. Baik di Lubuk Sanai, di Bengkulu, di Padang, di Aceh (Sumatera) serta di sini (Jawa), aku benar-benar bangga pada kalian semua. Perempuan, ia insan yang tak mudah diduga sekaligus teman diskusi yang cerdas yang akan membawamu kepada ketenangan yang luar biasa. Sejarah telah menorehkan kita, perempuan, sebagai manusia cerdas, arif, dan tawadu’.

Selamat Hari Ibu!

Monday, 12 December 2011

Angkringan Simbol Maskulinitas




Cara pandang orang-orang Yogyakarta terhadap angkringan tidaklah selalu sama. Angkringan bukanlah semata tempat makan yang menyediakan nasi kucing, goreng tempe, bakwan, bakso tusuk, goreng jangkrik, goreng burung, serta minuman ala kadarnya. Di balik kesederhanaan angkringan, baik tempat dagangan maupun penjual, angkringan menjelma menjadi sebuah ikon yang mungkin tak terduga sebelumnya.
Kata seorang teman, di angkringan anda akan merasakan suasana kerakyatan yang begitu kental. Egaliter masyarakat sangat kuat di sini, walaupun mereka hidup di tengah-tengah budaya keraton yang penuh dengan kelas-kelas sosial. Di angkringanlah strata kelas itu melebur, menguap, hingga tak tampak. Dalam konteks ini setiap orang mendekati kelas sejajar, yang termanifestasi dengan sebungkus nasi kucing serta segelas teh angat seharga kurang lebih Rp 2.500.
Tak peduli apakah yang makan nasi kucing di sana kaum pekerja menengah, pekerja kasar, mahasisiwa, atau seorang pemilik penerbit ternama di Kota Gudeg ini. Ketika mereka meluruskan niat makan di angkringan, ketika itu pula mereka harus menerima semua kenyataan bagaimana riilnya kondisi kehidupan masyarakat di Yogyakarta. Angkringan bisa menjadi solusi antara dua pihak, penjual yang pas-pasan dengan pembeli yang menempatkan diri pas-pasan pula. Ini menjadi simbiosis mutualisme, yang juga terkait dengan falsafah masyarakat Yogyakarta yang nrimo.
Lalu, kenapa angkringan menjadi simbol maskulinitas? Hampir di setiap ruas jalan (baca;trotoar) di kota Yogyakarta, selalu tersedia angkringan dengan tempat berjualan yang khas; gerobak jualan, dua kursi kayu panjang, serta layar yang menutupi angkringan. Di atas gerobak ini tersedia berbagai panganan gorengan dan nasi kucing. Tak ketinggalan cerek aluminium, termos air, bara pembakaran, serta perlengkapan masak lainnya yang sangat tradisional.
Sedangkan dua kursi kayu yang panjangnya kira-kira dua meter itu digunakan sebagai tempat menikmati segala panganan yang tersedia di gerobak. Di kursi sederhana ini, setiap pembeli bebas duduk dengan gaya apapun. Sembari menikmati nasi kucing dan teh angat, pembeli yang tidak dibatasi sekat bebas bercengkerama dengan penjual.
Nah, layar berfungsi menutupi gerobak jualan serta para pembeli yang tengah menikmati makanan di sana. Layar ini memberi sekat antara jalan umum/raya, sebagai simbol keganasan, dengan pembeli yang sedang makan, sebagai simbol kenyamanan/kelembutan. Tipisnya layar sebagai sekat antara keganasan (jalan raya) dengan kelembutan (angkringan atau tempat makan) mengakibatkan kaum perempuan enggan singgah dan makan di angkringan. Alhasil, angkringan dominan diramaikan oleh kaum laki-laki.
Cerita seorang sahabat, dia perempuan. Perempuan Jawa akan sangat tidak nyaman ketika ia menyuap, mengunyah, dan menelan, tiba-tiba orang berseliweran di depan serta samping kiri kanan, bahkan di belakangnya. Keadaan ini membuat mereka risih dan seolah-olah terancam. Risih karena mungkin merasa diperhatikan baik ketika menyuap, mengunyah, serta menelan, yang notabene ketika kegiatan itu dilakukan dominan membuat perempuan merasa kurang percaya diri. Hal ini dikuatkan dengan posisi angkringan di tepi jalan atau trotoar yang selalu ramai dan gaduh. Terancam, posisi duduk di angkringan, menempatkan perempuan berada di tengah laki-laki. Sebagai minoritas, posisi ini membuat perempuan kerap tidak leluasa dan berpeluang besar menjadi buah pembicaraan waktu itu.
Walaupun demikian, bukan berarti perempuan tidak pernah bahkan anti ke angkringan, tentu saja tidak. Hanya saja, mereka tidak ingin menghabiskan waktu selama makan di angkringan, yang banyak didatangi kaum lelaki. Perempuan kerap membungkus makanan mereka dan mencari tempat yang lebih nyaman, baik dari keramaian lelaki maupun hiruk pikuk kendaraan jalanan. Tidak ketinggalan ada sepersekian persen kaum perempuan di kota ini justru merasa enjoy makan di angkringan bersama lelaki lainnya. Ini pengecualian, apakah mereka berasal dari perempuan Jawa atau luar Jawa dengan tanpa embel-embel kelas yang mengikat.
Fenomena ini, menyulap angkringan menjadi sebuah wadah, baik sebagai tempat makan maupun tempat berdiskusi yang bebas kelas. Angkringan serupa dengan Lapau kalau di Minangkabau. Ia tidak melulu terikat dengan minuman dan makanan, namun lebih luas menjadi budaya suatu masyarakat yang kaya akan nilai-nilai lokal. Walapun terkesan murah dan tak bergengsi, angkringan tetap menjadi primadona baik oleh kaum pribumi maupun oleh kaum urban di kota ini.

Thursday, 8 December 2011

Keberbedaan Ini Kuteruskan




Jalan panjang ini harus kususuri sendiri. Kesendirian, hanyalah kata absurd yang tak perlu kupanjanglebarkan apalagi untuk dipermasalahkan. Jika ingin, kata itu bisa kaujadikan tameng untuk kau berlindung dan keep going kemana pun kau pergi. Justru sebaliknya, kata itu bisa menjadi bumerang dimana ia akan menggorok lehermu hingga putus dan darahnya membeku seketika. Sadis memang jika kau penjang lebarkan.
Namun, dengan kesendirian ini aku justru menemukan perbedaan yang sangat berharga dari fase hidupku kini. Perbeda dari orang-orang yang pernah ditemui sebelumnya ataupun berbeda dari hal-hal yang kuperkirakan akan sama. Sungguh di luar perkiraanku pada perjalanan ini. Perbedaan yang menghantarkan kita pada satu jalur dan beriring bersama memasuki liangnya. Indah memang jika dijalani dengan saling keterbukaan dan aku maupun kamu tahu maksud hati ini, bahwa bukan untuk mencelakaimu. Justru dari sinilah cerita itu bermula.
Subuh yang kurasakan ini bukanlah subuh yang biasa. Pada sedini hari ini, muazin, dengan suara ringannya dan khas, mencoba membangunkan setiap orang yang mengaku beragama Allah Swt. Dalam samar-samar, suara ringan dan khas itu seperti begitu akrab di kupingku. Namun, suara itu tidak bergema sedini hari ini. Jam di telepon genggamku memperlihatkan sekitar pukul 03.20 wib.
“Masyaallah, malam nian engkau mengaji wahai mas muazin?” bisikku di dalam hati. Di detik lain seseorang mengajakku berjamaah. Kukuatkan tungkai-tungkai kaki ini menuruni 13 anak tangga, menggapai sakelar lampu di atas kepalaku, menggayung air, kemudian berwudu. Guyuran air berangsur memulihkan pikiran ini bahwa aku sedang tidak di rumah. Kembali menaiki anak tangga dengan ukiran sederhana dan segera menghamparkan dua sajadah untuk kami berjamaah. Di sela tirai berjendela kaca, rupa-rupanya fajar perlahan-lahan menyentuh langit. Subhanallah, begitu cepat poros bumi berputar di kota asri ini, pikirku tengah mengenakan mukena.
Sembari membolak-balik biografi WS. Rendra setelah berjamaah subuh, cericit-cericit di sana sini menghadirkan suasana lain di hatiku. Bukan cericit twit yang biasa kita lakukan dan juga bukan cericit anak ayam, namun cericit burung gereja serta burung prenjak dari rumah tetangga. Pagi-pagi begini, bukan suara kokok kokok ayam yang membangunkanmu wahai cinta, namun cericit-cericit burunglah yang melumerkan mimpi indahmu.
Perlahan-lahan kusibakkan tirai berjendela kaca itu. Duhai dari ketinggian ini aku menyaksikan burung-burung gereja liar tengah asyiknya bertamasya pagi di atas genteng rumah-rumah penduduk. Warna sayapnya yang gelap, kontras sekali dengan warna genteng yang cerah. Jadi kamu akan mudah menemukan lima bahkan sepuluh burung gereja berbanjar, bercericit sambil membersihkan sayap-sayap mereka. Tak terhitung pula, mereka berputar-putar di sekitar genteng, mungkin ini ritual menyambut pagi. Bahkan jangan-jangan ini suguhan istimewa untukku sebagai tamu atau bahkan warga baru di tanah kelahiran mereka. Dalam senyumku, kusapa mereka. “Selamat pagi kawan kecil.”
Pada pukul 05.10 wib ini, hidup sudah dimulai teman. Burung-burung itu akan mencari sesuatu yang mampu mempertahankan serta memperpanjang hidup dan usianya. Pada pukul 05.30 wib ini, rasanya engkau akan enggan melaksanakan salat subuh dua rakaat. Karena langit luas di sini sudah terang benderang, walaupun mentari belum juga menyembulkan kemilau indahnya. Sedangkan di luar sana, satu dua tiga kendaraaan baik roda dua, roda tiga, dan roda empat sudah mulai mewarnai jalan selebar tiga meter itu. Aktivitas masyarakat di sekitar Mantrijeron ini sudah sangat ramai.
Sedangkan di sekitar rumah ini, kau akan mendengar gesekan tanah dan sapu lidi saling beradu menghadiri pagimu di sekitar RT 016 ini. Mbah-mbah, baik mbah putri maupun mbah kakung, saling membersihkan pekarangan mereka. Sembari mencabut rumput-rumput kecil liar, mereka bercengkerama dengan bahasa yang sungguh aku tak mengerti. Sesekali diselingi tawa dan suara meninggi. Entah apa yang mereka utarakan. Bisa jadi perilaku cucu mereka tadi malam yang menggelikan, atau masakan mereka yang diam-diam dikerubungi semut bahkan cicak. Lagi, lagi aku hanya menduga di balik bahasa yang mungkin hanya tertera di primbon itu.
Pukul 06.00 wib ini aku yakin kau tak akan menambah porsi tidurmu lagi. Karena si gadis kecil di depan rumah akan bernyanyi-nyanyi dengan mbah kakungnya yang setia mengajaknya bermain apa saja. Ia baru 2,5 tahun, namun ia seolah-olah dirimu, perempuan. Tatapan matanya yang tak mudah berkedip akan membuatmu susah jauh darinya jika bersua. Biasanya ia akan membawakan lagu Kasih Ibu dengan suaranya yang lembut serta lafaznya yang cadel. Rambutnya sebahu serta poni kuda di dahinya, “Persis potongan rambutku waktu dulu,” gumamku.
Gadis kecil ini harus merelakan masa kecilnya bermain hanya bersama mbah kakung, bapak, serta nenek. Sesekali, tetangga dewasa mengajaknya berkeliling RT, karena dia suka bercengkerama yang akan membuatmu penasaran, walau kau tak mengerti apa yang diceritakannya. Dimana ibu? Ibu tak bisa kemana-mana. Kabar yang kuterima, setelah kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun lalu, si ibu menderita lumpuh, entah permanen entah tidak. Ibu hanya akan menemani gadis kecil bermain hingga di depan pintu rumah dan dapur. Dibantu kursi beroda, si ibu sabar mengajarinya bernyanyi dan bercerita, apa saja, asalkan si gadis kecil mengeluarkan suara-suara yang menghangatkan rumah itu. Termasuk rumah yang kutempati ini. Ia mahkluk terkecil di antara kami. Ia mahkluk yang kami tak ingin ia merasakan kesedihan. Ia mahkluk yang kami tak ingin ia menangis dan tak berteman. Ia mahkluk yang rasanya ingin kuajak bermain ke rumah ini. Namun, tentu aku berpikir-pikir lagi mengeksekusi niat itu.
Mentari terus menanjak tinggi. Kata ahli gizi, pada jam-jam segini bagus untuk kesehatan, sinar mentarinya mengandung vitamin D. Kehidupan pun semakin berisik dan ramai. Deru kendaraan menjadi-jadi. Dan engkau akan menyaksikan puluhan sangkar burung berjejer di depan rumah ini. Ada murai, prenjak, serta burung dengan sayap warna-warni. Mereka dilengkapi dengan aneka makanan yang tidak kuduga sebelumnya. Burung-burung itu ternyata tidak hanya memakan pur, seperti kebanyakan makanan burung, tetapi juga memakan jagung muda, selada, ulat-ulat kecil, serta makanan lainnya. Keren juga ya, pikirku.
Mungkin karena mendengar serta melihat burung garuda yang bebas lepas terbang di angkasa, cericit-cericit burung-burung ini pun semakin ramai. Mereka begitu sigap menerima makanan khusus yang disodorkan oleh tuannya. Si tuan begitu telaten, menjemur burung-burung, memandikan mereka, menyuapi makanan, membersihkan kandang, serta merawat semua kebutuhan burung-burung tersebut. Si tuan yang sangat ramah, sebenarnya hampir semua warga kota ini ramah, begitu di mataku, selalu bersiul-siul ketika melakukan aktivitasnya itu.
Kondisi ini menghantarkanku kepada situasi sepuluh tahun lalu. Tetangga kami di Lubuk Sanai, Mukomuko, Bengkulu, juga memelihara berbagai jenis burung sebagai komoditi untuk diperjualbelikan kepada orang-orang beruang di tempat itu. Dengan telaten pula tetanggaku itu merawat burung-burung tersebut. Begitu juga dengan tetangga kami di kota ini. Hanya saja, burung-burung yang dipelihara lebih beragam dan tentu saja dengan cara yang mungkin sedikit berbeda.
Kami memanggilnya Pak De, entah kapan beliau menikah dengan tanteku. Harapan kami, dengan panggilan itu setidaknya Pak De menganggap kami sebagai anak atau apalah namanya yang dekat dengan keluarga mereka. Karena, jujur saja, kami tak punya siapa-siapa di sini selain tetangga yang baik hati, dengan syarat kita pun harus baik hati kepada mereka. Beliau begitu santun dan sedia membantu, seperti meminjam obeng, membantu mengangkat jemuran sepatu dan pengikat rambut, membantu burung gereja yang terjerat tali temali secara tak sengaja di atap rumah kami, dan seterusnya. “Benar-benar homy tempat ini,” bisikku dalam hati.
Perbedaan ini terus datang setiap pagi. Perbedaan ini muncul seiring mentari merebak dari arah jalan Ring Road Timur kota ini. Perbedaan yang memberi kita banyak ilmu serta kemungkinan-kemungkinan yang akan kita wujudkan kelak. Ya, perbedaan ini akan kuteruskan.
...
Tak perlu menangis, tak perlu bersedih
Tak perlu tak perlu sedu sedan itu
Hadapi saja
...
Alunan biola Hadapi Saja dari Iwan Fals memotong cerita sepenggal ini. Banyak ceritera dan kisah di sini sobat.

Sunday, 4 December 2011

Generasi Sophisticated Geblek





Fenomena barang canggih (baca; teknologi) baik itu blackberry, tablet, iphone, ipad, dan seterusnya semakin mencabik-cabik kantong kita sebagai anak muda. Kenapa anak muda? Karena anak muda yang paling tidak tahan dengan segala godaan, termasuk godaan barang canggih nan seksi itu. Tidak sedikit anak muda setia mengikuti mode dan tren handphone keluaran terbaru untuk dimiliki, bagaimanapun caranya. Dan tidak sedikit pula yang minder jika hanya memakai handphone yang itu-itu saja sejak beberapa tahun belakangan. Rasanya gimana gitu bawa-bawa handphone yang dilengkapi infra red? Tiba-tiba muka berubah warna mirip hati ayam.
Seorang teman bela-belain untuk mendapatkan blackberry dari bapaknya yang berkantung pas-pasan. Sang bapak yang berpenghasilan Rp 3 juta per bulan dengan beban enam mulut yang harus diisi tiga kali sehari, cukup kewalahan memenuhi hasrat itu. Namun, pantang surut merengek kian hari si BB akhirnya dimiliki juga. Tiga pekan kemudian, ternyata si BB hanya digunakan untuk berBBM ria, berFB ria, dan berTwit ria sesama sohib dan selingkuhan. Sedangkan menelpon dan berSMS cukup memakai handphone butut yang harga bekasnya cuma Rp 50 ribu, plus simcard yang providernya menawarkan ribuan SMS gratis. Enggak usah ditulis di sini ya providernya. Tak ada yang marah dan menyesali, karena si bapak tidak memakai BB.
Sedangkan teman berikutnya, harus memakai BB karena pacar sang kakak telah membelikan BB baru yang lebih canggih sebagai tanda cinta yang lebih serius kepada kakak. Mahar 1 lah istilahnya. Si adik mendapat hibah BB, lumayan keren, tapi ia belum nyaman menggunakannya. Karena tak punya budget untuk berBBM ria. Jatah bulanan dari ibunda saja harus dicukup-cukupkan untuk membiayai tiga simcard yang rutin ia gunakan untuk membalas SMS dan menelepon orang-orang yang katanya fans-fans gelap. Indah bukan dengan barang teknologi itu?
Teman yang satu lagi, memakai tablet untuk keperluan usaha dan bisnis menggiurkan yang omsetnya mencapai puluhan juta per bulan. Bentuknya, tentu tak perlu dideskripsikan di sini, siapa sih yang tidak pernah lihat tablet? Ndeso banget. Sang teman mengaku tab ini, begitu akrabnya, digunakan hanya untuk transaksi dan transfer uang kepada pelanggan ataupun sesama kolega pengusaha. Maklum, mobilitas yang tinggi memang butuh barang yang super duper mobile juga sebagai rekan kerja yang tak pernah protes. Untuk ngegames, sepertinya sayang ya. Masa canggih-canggih begitu buat cekikikan enggak jelas. Sesekali si tab ini digunakan untuk menjawab panggilan dari orang-orang, baik yang tercinta maupun yang bikin sebel. Selain itu, tak guna bahkan si tab bikin boring. Akunya, si tab kayaknya belum maksimal deh bantu aku. Makanya sering aku biarin telentang di kasur.
Ini baru tiga alasan mengapa anak muda negeri ini memakai produk canggih. Ada sejuta alasan lagi mengapa kita memakai BB dan patnernya itu. Ada yang pengen punya niat dari dalam hati, ada yang kebagian durian runtuh, ataupun yang beralasan kebutuhan. Ketiga-tiganya, sesuai sinopsis di atas, cukup untuk diceramahi sekitar 2 SKS karena kurang tertib dalam membelanjakan uangnya di jalan yang benar. Selain itu, ketiga-tiganya juga perlu diikutsertakan di dalam kelas sejarah sekitar dua bulan berturut-turut. Di kelas itu, ketiganya akan belajar lagi bagaimana kehidupan tempo dulu yang tanpa produk canggih tersebut juga bisa berpacaran, iseng, dan dagang. Metode ini bukan awal untuk mengeluarkan fatwa haram terhadap barang canggih ya, perlu digarisbawahi. Karena menurut seorang penulis hebat di negeri ini, yang katanya punya koran Republika itu lo, hidup di zaman posmodern ini harus berhati-hati dan jangan sampai terhegemoni dengan segala kecanggihan, yang secara tidak langsung sudah menjadi hal wajib untuk diniati, dimiliki, serta digunakan. Waktu membaca esainya, saya mengangguk-angguk bangga dan tersenyum simpul sembari melirik handphone butut dan ilegal milik saya. Tiba-tiba nama saya tercantum samar-samar sebagai CEO Republika di handphone itu. Keren gila!
Begitulah fenomena bercanggih-canggih ria yang ditemukan saat-saat ini. Budaya BB dan tablet sudah sangat dekat dengan kehidupan kita. Pernah seorang ibu guru yang mengikuti pelatihan apa gitu, tampak mencolok sekali, karena hanya beliau yang memakai tablet di kelas pelatihan. Waktu jam istirahat si tab digunakan untuk berfoto-foto ria dengan peserta lain. Salah satu dari teman saya dimintai bantuan menjepret si ibu guru dan rekan-rekannya. Setelah teman saya sentuh sana sini, menu untuk menjepret tak ditemukan lagi. Alhasil, ibu guru dan rekan-rekannya tak jadi foto bareng. Dengan dongkol bu guru berucap, “Abis kulit kamu kasar banget, pada hilang. Mana ibu juga enggak tahu cara balikinnya,” jawab ibu guru dengan muka masam. Gubrak! Kita hampir terjungkang.
Lagi-lagi, baik tua maupun muda pada dasarnya tak mau terlindas tren, istilah jadulnya ketinggalan zaman. Kita mau semua yang mencolok mata itu. Kita mau semua yang orang lain miliki. Kita mau semua sesuatu yang sepertinya mampu mengangkat strata sosial kita. Padahal, dominan orang-orang hebat yang kita temukan, tidak memakai BB dan patnernya itu. Salah seorang mentor justru memakai handphone mini dan butut dengan memori hanya cukup menampung 100 data phonebook. Seorang penulis terkenal memakai handphone dilengkapi karet gelang guna bertahan menyala. Bahkan, seorang peneliti Indonesia di Belanda, justru memiliki handphone yang sepertinya produk Cina yang laris manis di pasaran itu.
Kita pasti salut dengan kekuatan mental dan diri mereka untuk bertahan dalam kondisi seperti itu. Beliau-beliau tak malu apalagi segan kepada rekan-rekan. Beliau-beliau enjoy dengan fasilitas yang telah dimiliki. Tingkat kebertahanan dari tren ini yang masih sangat sulit kita jangkau sebagai anak muda. Kita mungkin masih labil, dalam proses pencarian jati diri juga, serta tentunya masih menyusu kepada orang tua dan belum memiliki beban, sehingga hal-hal demikian belumlah menjadi fokus dan analisa kita yang sangat dalam. Padalah berawal dari sini kemacetan, kebangkrutan, serta kemiskinan bangsa kita dimulai. Bagaimana tidak, jika kesenjangan sosial semakin tinggi, perekonomian bangsa kita yang masih kusut ini akan semakin sulit diselesaikan. Ujung-ujungnya krisis perekonomian menjadi bayang-bayang dimana bangsa kita berdiri. Bukan melarang memakai BB dan patnernya ya, hanya saja dengan produk itu, daya beli kita terhadap produk dalam negeri menurun, budaya hemat itu mengambang menjadi dongeng di angkasa, tingkat konsumerisme tinggi, dan yang paling menyedihkan, ternyata banyak bapak, ibu, serta saudara-saudara kita yang diam melongo, tak tahu menahu terhadap barang canggih itu. Sedih deh pokoknya kalau sudah begitu. Herannya, kita pun enggan banget buat ngajarin BB apalagi tablet kepada mereka-mereka. Kita semakin skeptis dan apatis! Silahkan direnungkan.

Sejuta Cinta di Sini




Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa bantuan dan cinta datang menghampiri kapan dan dimana saja kita berada. Tak terduga-duga, dari sahabat kecil, sahabat baru, teman baru, dan dukungan dari orang-orang yang sangat mencintai serta dicintai. Cinta itu datang bercucuran bak hujan di sore hari. Silih berganti dalam berbagai model dan bentuk.
Awalnya sangat tidak percaya, namun kemudian cinta menghampiri setiap detik dan hari yang kita jalani. Tak kenal lelah dan tak kenal waktu. Kapan cinta datang maka berbunga-bungalah hati. Kapan cinta mampir maka serasa damai dan sejuknya bumi ini. Kapan cinta datang, oh karunia-Mu memang di luar kemampuan kami.
Begitulah cinta menghampiri setiap detik perjalanan hidupku di kota ini. Mencari peruntungan, ada saja sahabat kecil dan sahabat baru yang menghampiri biasa yang memberi jalan dan kenalan untuk lebih bermanfaat di sekitar lingkungan kita. Mencari makanan enak, lagi, ada saja para sahabat yang meluangkan waktu dan tenaga berkunjung kian kemari hanya untuk memberi pengalaman bagaimana gurihnya masakan khas kota ini.
Cinta besar dan luar biasa ini datang tak begitu saja. Nikmat yang diturunkan oleh Sang Pencipta kepada kita semua pada hari ini adalah satu karunia atas bentuk kecintaan dan kesayangan Tuhan kepada kita, ciptaannya. Rasa cinta itu pula yang dituangkan oleh Tuhan kepada para sahabat yang telah bermurah hati membantu, mengayomi, serta mencintai kita apa adanya. Di sini aku menemukan cinta yang mungkin tak mudah untuk membalasnya.
Hidup, kata Ibu, tak selalu berjalan mulus. Ada saja hambatan serta rintangan yang harus kita lalui dan hadapi. Berbagai rintangan itu tak pula terduga dan tak disangka-sangka datangnya. Soal kemampuan, setiap kita mampu menghadapi dan melewatkan rintangan itu dengan sabar dan mawas diri. Tak ada jurus yang paling ampuh di dunia ini selain kesabaran dan berpikir baik kepada Sang Khalik atas segala rahmat maupun hal-hal yang belum ingin kita terima.
Pun demikian dengan para sahabat di sekeliling kita. Energi-energi positif yang mereka berikan, awalnya mungkin tak begitu berarti bagi kita saat itu, namun percayalah, lambat laun, energi itu merupakan salah satu tongkat untuk berdiri kembali ketika kita rapuh dan roboh. Sifat-sifat Sang Khalik memang tak selalu dimiliki oleh setiap manusian. Namun, fitrah manusia adalah sifat-sifat tersebut yang sudah diturunkan Tuhan sejak kita masih janin. Hanya saja, udara, kehidupan, dan silaunya mata akan keindahan dunia yang gagah ini membuat sifat-sifat itu seperti tertutup abu nan tebal. Kita cenderung memikirkan diri sendiri. Kita cenderung meremehkan serta merendahkan orang lain. Kita cenderung menganggap kebutuhan dan keinginan orang lain tak penting dan tak perlu dipertimbangkan apalagi diperjuangkan.
Sosok manusia yang seperti itu, hampir pernah dialami oleh masing-masing kita, manusia biasa. Termasuk saya sebagai penulis kisah ini. Bahkan sesuatu yang kejam juga pernah kita lakukan kepada orang lain yang baru kita kenal dan menganggap pantas hal itu mereka terima. Tak jarang pula mungkin kita disumpahi dan dicap sebagai anak kurang ajar, kurang etis, dan seterusnya. Begitulah, jika perlakuan yang diberikan kepada orang lain bertentangan dengan fitrah manusia serta sifat-sifat Sang Khalik kita.
Di sini, saya ingin menuliskan bahkan mungkin sebuah keabdian, bahwa para sahabat yang sudah dan sedang menyebarkan banyak cinta kepada para sahabat yang lain yakni mereka adalah, Mba Lovely Husna, Ana sang sahabat kecil yang imut, Amril dan Purwa, duo sahabat yang paling super, Mba Anis yang rame dan memotivasi, serta beberapa orang sahabat baru yang datang dari berbagai kampus di kota ini. Mereka, para sahabat saling membantu sesuai kemampuan mereka terhadap apa yang dibutuhkan. Beragam dan sangat meringankan.
Perjalanan yang sudah beberapa kali pernah dijalani ini mengajarkan betapa hubungan antarmanusia yang penuh tepa selira, sangat diperhitungkan. Hubungan yang menempatkan siapa kita, baik dari tingkat pendidikan, pengetahuan, sosial, dan politik itu akan menentukan bagaimana cara kita memposisikan diri terhadap orang lain. Baik yang baru dikenal maupun yang sudah cukup lama dikenal. Di sini, kita diuji untuk bisa bertahan sebagai pemenang ataupun mundur sebagai orang yang kelak penuh dengan penyesalan. Bergabung dengan para sahabat kecil dan baru tanpa harus melebur dengan karakter mereka yang mungkin belum sesuai dengan hati nurani kita-pada sisi ini, kita tak bisa berkata-kata lagi.