Tuesday, 25 October 2011

Keringnya Ladang Nurbaya




Di musim rintik-rintik, sedari pagi, tengah hari, hingga malam menjelang, Nur hanya berputar-putar di dalam rumahnya yang seluas lapangan bola kaki. Perempuan muda itu tak terbiasa dengan gerimis. Ke kandang kambing belakang ia pun tak kuasa. Takut butiran-butiran bening itu menghujani kepalanya. Ia bisa terbaring berbulan-bulan, karena didera influenza dan menggigil. Dan ini bisa membuatnya mati.
Tapi ia tak sanggup mendengar embikan kambing-kambing yang sejak gadis ia pelihara. Kambing-kambing itu telah seperti anak-anaknya. Saban hari, setelah suaminya ke kantor kelurahan, segera ia berkutat dengan kambing-kambing itu. Kambing itu sudah ia pelihara sudah tujuh tahun. Jumlahnya enam ekor, semua jantan.
Modal membeli kambing ia dapatkan ketika bekerja di luar negeri. Ia dikontrak menjadi pembantu rumah tangga di Singapura selama lima tahun. Bersama Wati, Idah, dan Lela mereka mengenyam hidup sebagai buruh migran di negeri orang. Separuh gajinya ia kirimkan pulang kampung melalui wesel. Separuh dari uang itu ia pesankan kepada bapaknya agar dibelikan kambing-kambing jantan. Kata ibunya, seorang gadis yang suka memelihara kambing jantan, akan bersuamikan lelaki kaya dan mapan. Nur pun semakin tertarik memelihara kambing jantan daripada sapi, kerbau, atau ayam.
Namun, uang yang dikirimkan Nur tidaklah seberapa. Uang itu tak mampu menutupi biaya sekolah menengah tiga adiknya. Apalagi jika diparuh dua untuk membeli kambing-kambing jantan. “Takkan cukup,” kata bapaknya. Belum lagi untuk membeli obat pengapuran ibunya. Sejak Nur meninggalkan kampung, perempuan renta itu semakin payah.
Bapak Nur pun menghabiskan uang-uang kiriman setiap bulan untuk keperluan rumah tangga dan sekolah adik Nur. Lelaki tua itu hanya seorang tukang cukur di Pasar Rebo. Pasar sekali sepekan, Rabu, dimulai jam enam pagi dan berakhir jam sepuluh pagi. Selebihnya, ia lelaki pengumpul pinang di sela-sela pagar ladang orang. Satu dua ia kumpulkan pinang-pinang. Dibelah, dijemur sampai kering, dicongkel untuk memisahkan daging dari kulitnya yang tebal. Ia membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk memperoleh sekilo pinang yang siap jual, seharga Rp 8.000.
Selang tiga tahun kemudian Nur kembali ke kampung. Tak seekor pun kambing-kambing jantan menyambutnya.
“Saya tak marah kepada bapak, ibu, dan adik-adik,” kata Nur dingin. Ia paham keadaan keluarga setelah keberangkatannya ke negeri orang dari mulut bapaknya.
Tapi, sejak itu ia tak menyisihkan sepeser pun uang untuk keluarganya. Semua pendapatannya ia belikan tanah dan membangun rumah lumayan besar. Bersebelahan kampung dengan bapak, ibu, dan adik-adiknya. Sejak rumah berdiri dan menikah, ia tak pernah menjejaki rumah tua bapaknya. Kabar dari keluarga itu pun tak singgah lagi di telinganya.
Kesibukan Nur memelihara kambing-kambing membuatnya lupa diri. Sejak dua tahun menikah, tak ada tanda-tanda Nur akan melahirkan. Suaminya tidak banyak menuntut.
“Kambing-kambing itu jauh lebih berguna daripada bayi kan Mas?” kata Nur di peraduan.
“Hmmm,” lengos suaminya.
Setiap hari kerja, ia tak pernah ikut campur mempersiapkan perbekalan suaminya ke kantor. Tidak juga ikut dengan ibu-ibu arisan sekelurahan setiap Jumat pagi. Bukan karena ia tak cantik apalagi tidak berduit. Dan juga bukan karena ia tergolong perempuan bodoh. Nur cukup cerdas dan telaten. Apalagi waktu pulang dari negeri orang, Nur menjadi buah bibir sebagai gadis sukses dan membanggakan kampung. Ia tak peduli semua itu. Ia tetap tak tertarik bergabung dengan perkumpulan istri-istri pegawai kelurahan. Baginya itu hanya menghabiskan pendapatan suami.
Setiap fajar menyinsing, ia menyiapkan sarapan sekenanya. Kegiatan suami, ya suami. Kegiatannya cukup menyita waktu dengan kambing-kambing jantan itu. Bau amis kambing, sudah menjadi khas bau yang disukai Nur. Awalnya suami Nur terheran-heran melihat sikapnya terhadap kambing-kambing itu. Nur tak ambil peduli. Bukankah lelaki itu tertarik kepada Nur karena ia satu-satunya pemilik kambing-kambing jantan di kampung ini.
Kambing jantan bagi Nur merupakan sebuah lambang kesuksesan bagi seorang perempuan baik sebelum maupun setelah bersuami. Kecintaan Nur kepada kambing-kambing itu hingga mewarnai tidurnya. Dalam lenanya, kambing-kambing itu tidak hanya membanggakannya, namun kerap pula membantunya melakukan kegiatan rumah. Bagi Nur, keberadaan kambing jantan mampu mengalahkan keberadaan keluarganya. Apa saja bisa diselesaikan jika bersama kambing jantan, termasuk pemenuhan sehari-hari Nur. Kambing-kambing itu berubah menjadi budak-budak yang siap disuruh-suruh oleh Nur.
Pada suatu malam, Nur bermimpi dengan seorang perempuan tua yang buruk rupanya. Dari raut wajahnya, tampak perempuan tua itu begitu riang dan bahagia melihat kambing-kambing jantan di sekitar rumah Nur. Perempuan tua yang buruk rupanya itu berujar agar Nur tak mudah terperdaya menjual kambing-kambing itu. Karena kambing-kambing jantan itu merupakan sumber kebahagian hidup Nur untuk masa-masa mendatang. “Ia dapat membahagiakanmu melebihi suamimu. Jangan pernah bosan kepada kambing-kambing ini meskipun kadang bau yang dikeluarkannya begitu menyiksa hidungmu!” ujar perempuan tua yang buruk rupanya itu kepada Nur.
Pernah suatu ketika, ia diserang flu dan tak sanggup ke luar kamar. Suaminya telah di kantor kelurahan. Kambing-kambing itu kelaparan dan mengembik keras-keras. Nur pun kalang kabut. Ia semakin menggigil mendengar embikan kambing meraung-raung ke telinganya. Iba bercampur was-was. Tapi, ia tak mampu mendekati kambing-kambing itu. Untuk berdiri saja, kedua tungkainya tak mampu menahan berat badannya. Nur pun berteriak-teriak dan menjerit-menjerit di dalam kamar seperti orang kesetanan. Memanggil-manggil seseorang. Berharap ada tetangga mendengar teriakannya.
Untunglah seorang perempuan muda, tetangga dua rumah dari rumahnya belum ke dangau, bertanam padi. Ia mendengar teriakan Nur dari rumah besarnya. Segera ia membantu memberi makan kambing-kambing itu. Namun tidak serta merta kambing-kambing itu langsung memakan rumput-rumput tersebut. Kambing-kambing itu memang berhenti mengembik namun tak mau makan. Hewan-hewan itu hanya memandang triplek-triplek hijau tanpa mau mencicipi rumput pemberian tetangga Nur. Sang tetangga pun menceritakannya pada Nur. Nur menangis, mengutuki diri, dan segera berdoa agar ia cepat sembuh dari serangan flu.
***
Perangai Nur dengan kambing-kambingnya semakin aneh. Kambing-kambing itu tak pernah dilepas lagi ke ladang-ladang orang. Nur mengajari binatang itu makan berbagai buah-buahan dan sayuran laiknya manusia. Membukakan pintu rumah, dapur, dan kamar untuk kambing-kambing itu. Tak jarang pula kambing-kambing itu bermalam di ruang tengah, di kamar, dan di peraduan Nur. Binatang itu pun semakin berisi, besar-besar, dan memiliki embikan keras. Tanduknya semakin panjang dan kuat. “Pasti kelak harganya tinggi,” desis Nur senang.
Ia tak lagi menghiraukan kepergian suaminya. Lelaki yang telah dua tahun hidup dengannya memilih meninggalkan Nur beserta rumah dan binatang peliharaannya. Katanya suaminya tertekan mendengar bisik-bisik orang kampung terhadap dirinya. Tidak di kelurahan, di pasar pagi, di dangau-dangau, orang-orang mempergunjingkan istrinya. Itu membuatnya gerah. Pernah suatu ketika di kamar mandi, suaminya memeriksa seluruh tubuh Nur yang tengah telanjang itu. Suaminya ingin memastikan kalau tubuh istrinya tidak ada yang rusak bahkan kurang setelah begitu sering bergaul dengan kambing-kambing mereka.
“Kau seperti orang gila. Saban hari sibuk dengan binatang itu. Bau kambing! Aku malu pada orang-orang Nur!” Geram suaminya sebelum meninggalkan Nur.
Nur diam saja. Baginya lelaki tak berguna apa-apa jika tak mendatangkan sesuatu yang bisa membanggakan diri dan keluarga. Ya, seperti bapak dan adik-adiknya yang lelaki itu. Hidup seperti benalu, menumpang, mencuri, menghisap makanan orang lain, dan sayang tak pernah sadar serta menyesali perbuatan itu. Betapa banyak bedebah-bedebah itu di dalam kampungnya kini seiring semakin mengular pula perempuan-perempuan antrean mengurus KTP di kelurahan. Mereka rela meninggalkan kampung, rela meninggalkan anak suami demi memperoleh kehidupan mapam di luar negeri sana.
Sayang, sang suami justru ongkang-ongkang kaki di rumah. Menggulung-gulung rokok nipah dan menyeruput kopi hitam pekat sepanjang hari. Harap-harap menunggu wesel istri datang setiap tiga bulan sekali dari Malaysia, Singapura, Thailand, atau Arab Saudi. Tak tahukah mereka betapa susahnya mengais sepeser demi sepeser uang di negeri orang, pikir Nur. Tidak hanya peluh dan air mata, kehormatan dan harga diri pun digadaikan.
Begitu juga dengan suami Nur. Pegawai kelurahan, dengan gaji hanya cukup untuk dua minggu makan, Nur benar-benar jengah. Pernikahannya dengan lelaki itu hanya untuk menguatkan keyakinan ibunya tentang garis tangan seorang gadis yang suka memelihara kambing-kambing jantan. Awalnya ia begitu bangga dan terhormat. Merasa jadi perempuan beruntung dan anak penuh bakti. Ya, agar pengapuran, asam urat, dan darah tinggi itu tak merenggut nyawa perempuan renta di kampung seberang sana. Ternyata itu hanya iman ibunya.
“Sudahlah, suatu hari kelak kau akan kembali. Kau membutuhkan aku, Mas.” Ungkap Nur bangga sambil terkekeh menuju kandang kambing. Suaminya meringis.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^