Tuesday, 25 October 2011

Kawin Cobak





“Anas! Anas! di rumahkah kau malam ini?” Teriak seseorang dari luar. Gemuruh suara para lelaki semakin ramai. Kontan saja seisi rumah terbangun.

Setengah berlari sambil menyanggul rambut disisipi uban, perempuan setengah abad itu keluar kamar. Disusul suaminya sambil merapikan sarung lusuh kotak-kotak. Drittttt, pintu dengan engsel berkarat itu dikuakkan, sedikit terpaksa.

“Apa yang terjadi?” Suara cemas perempuan itu keluar, bertanya kepada orang ramai. Jelas sekali raut wajahnya tegang dan panik melihat banyak orang malam-malam buta ke rumahnya.

“Itu, anak gadismu tertangkap pemuda sedang berduaan malam-malam dengan Liyan di jembatan ujung,” jawab lelaki yang memanggil-manggil nama Anas tadi.
“Sekarang ia dimana?” Tanya si suami sambil berbaur dengan orang-orang. Bergegas akan menyusul Mida, anak gadis mereka yang ranum. Sebelum si suami berangkat, tiba-tiba dua sepeda motor dikendarai pemuda berhenti di depan orang ramai. Mereka membawa sejoli belasan tahun yang dengan raut muka penuh cemas.
“Mereka mencoba kabur Pak Anas. Lihat rupanya!” lapor seorang pemuda yang membawa si gadis.

Gadis belasan itu menggigil. Sambil menunduk ia berjalan terseok-seok mendekati orang-orang. Kedua tangannya, di bawah temaram lampu listrik, penuh lumpur dan mulai meremas-remas bajunya. Ia begitu kalut. Pandangan matanya liar. Rambutnya yang sebahu acak-acakan, terburai kemana-mana. Sedangkan lengan bajunya sobek seperti tersangkut kawat yang ditarik paksa.

“Bapak! Mida tak ingin dikawin cobak,” kata Mida gemetar sebelum isaknya memecah.
Lelaki yang dipanggil bapak tak bergumam. Hanya memperhatikan tubuh anak gadisnya yang bercampur lumpur. Dua langkah di belakang lelaki itu, perempuan tadi geleng-geleng kepala dan meringis menahan sakit. Sakit dalam hati melihat anak gadisnya kelak, mau tak mau harus berumah tangga dalam usia belia. Sakit menanggung malu, karena aib ini akan selalu dipergunjingkan orang kampung seumur hidup. Sakit karena telah dikecewakan oleh darah dagingnya sendiri, yang tadi siang baru saja berjanji akan segera menamatkan sekolahnya. Oh Tuhan yang satu.

“Astagfirullah, astagfirullah,” perempuan itu beristigfar lirih.

Sedangkan si pemuda, tak kuat lagi memandang wajah-wajah orang yang menangkapnya. Kedua tangannya jatuh lunglai tak berdaya. Persis seperti seorang tahanan jika ingin diambil fotonya. Ia tak kalah cemasnya dibanding gadis belia tadi. Beberapa pemuda mulai mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar kepadanya. Serasa air kencingnya muncrat di celana saking takutnya pemuda itu kepada para lelaki yang telah menangkapnya. Ia hanya bisa menduga-duga dalam rasa cemas. Apalagi jika kelak mereka jadi dikawinkan.

Ibu si gadis semakin gelisah. Ia tak ingin Mida harus kawin dengan Liyan hanya karena hukum cobak harus ditunaikan. Tidak hanya dalam hitungan jari tangan contohnya. Setahun dua, pernikahan karena kawin cobak kebanyakan berpisah di tengah jalan. Bayangan Tuti, Wati, Rati, Marti, dan beberapa janda muda lain melesat di pelupuk matanya. Mereka korban kawin cobak beberapa tahun lalu. Dan sekarang luntang lantung mempertahankan hidup yang memang tidak dipahat dengan halus.
Ingin rasanya ia menghapus hukum cobak atau lari dan pindah dari kampung jika membayangkan kawin cobak yang harus dijalani Mida. Ia tak ingin anak-anaknya terjebak dalam adat yang entah meninggikan atau justru merendahkan. Namun apa daya, ia dan keluarganya lahir, tumbuh, dan besar di kampung ini. Ia mendapatkan banyak cinta dan indahnya warna kehidupan di tanah leluhur mereka.

Entah sejak kapan hukum cobak ada di kampungnya. Jauh sebelum ia dan suaminya lahir, hukum ini telah berkuasa. Ia pun tak tahu kenapa hukum cobak harus ada. Bisa jadi tujuan hukum ini agar anak gadis dan bujang mereka suci sampai mati, sangat mulia bukan? Namun, sekarang justru hukum ini meninggikan jumlah daftar janda-janda di kampung mereka. Di setiap kedai, lelaki muda dengan mudah memperolok-olok pernikahan. Abai dengan tanggung jawab dan tak segan-segan menggagahi para gadis. Sesuatu yang sangat memalukan. Karena kelegalan hukum cobak memaksakan seseorang menikah dengan orang lain yang belum tentu sama-sama mencintai.

Berhasrat sekali ia memaki Mida atau bahkan mencekik leher anak durhaka itu. Kenapa harus di malam buta keluar rumah hanya karena sedang dilanda kegilaan pubertas nan memuncak. Padahal mulut perempuan ini sudah berbusa-busa menjelaskan bahaya seorang gadis keluar malam dan berjumpa seorang pemuda kepada anak-anaknya. Hukum cobak tak pernah memandang siapa bapak, paman, ataupun buyut. Kepala desakah, kepala sekolahkah, camatkah, dukun tenungkah, atau dukun beranakkah, hukum cobak tak gamang melirik anak gadis dan bujang mereka.
“Kau tak tahu diuntung. Anak penutup pintu rezeki,” bentaknya sambil mengepalkan tangan.

Tapi ia dan suaminya tak bisa berpaling. Dadanya turun naik menahan amarah. Kali ini ia dan keluarga begitu terpukul. Hukum cobak yang selama ini diabaikannya benar-benar sebuah pukulan dan hukuman yang menyesakkan dada. Tak ada denda yang dapat melunasi hukum, selain memang harus menikah. Ingin rasanya ia memberikan semua emas dan perak dalam lipatan kain di lemari kamarnya. Mengganti dengan bergoni-goni padi di dapur agar anak gadisnya tak jadi kawin cobak. Bahkan menyembelih kerbau-kerbaunya untuk memberi makan orang sekampung asal saja Mida dan keluarganya tak selalu dianggap keluarga gatal dan murahan.

Perempuan ini sekarang benar-benar kacau. Suaminya tak dapat berbuat banyak. Ia dengan jabatannya tak dapat melakukan tawar menawar dengan para pemuda dan tokoh-tokoh masyarakat yang menangkap anak gadisnya. Bagaimanapun juga Mida harus kawin dengan Liyan sesegera mungkin. Terserah apakah dengan hajatan tiga hari tiga malam dan menyewa organ tunggal atau hanya sekedar mendoa, mendatangkan buya dan sepuluh orang serta berdoa bersama setelah ijab qabul dilakukan.

Menjelang fajar, rumah panggung itu sepi. Orang-orang penangkap Mida satu demi satu menghilang. Mereka menyerahkan si gadis dan si bujang kepada orang tuanya. Dua hari kemudian ketua penangkap akan menagih hari perkawinan kepada Anas dan keluarga. Dan tentu saja mulai pagi ini hingga entah sampai kapan, kabar Mida gadis genit dan kotor, anak kepala sekolah, ini akan berhembus mulai dari jembatan ujung, singgah di kedai-kedai kopi, di tepian sungai, di tengah orang-orang peladang, di sekolah-sekolah, di balai ruang desa, hingga ke telinga Datuk Malaka, kakek si gadis.
Sebagai datuk di kampung itu, mendengar kabar cucunya kena cobak penduduk dan segera kawin, dunianya seakan runtuh. Di mana kepala akan disurukkan? Lebih baik kepala ini dipotong saja daripada menanggung malu. Melihat cemooh dan gelak sinis penduduk kepadanya di kedai-kedai dan balai ruang desa, seakan mengiris hatinya dengan sembilu kemudian meneteskan tetes demi tetes asam.

“Percuma kau kusekolahkan tinggi-tinggi. Suamimu pun tak bisa diandalkan,” geramnya kepada si anak, ibu Mida di suatu siang.

“Tak sedikit pun kau hargai aku sebagai ayahmu dan datuk di kampung ini,”
“Mulai hari ini, keluarga kita takkan lagi dipandang orang. Takkan lagi disegani. Takkan lagi diagungkan,” ujar Datuk Malaka dengan nada getir sambil membuang pandang ke luar jendela. Seolah-olah ia ingin menitipkan resah itu kepada angin yang bertiup dan segera membawanya pergi ke langit kemudian hilang tak berbekas. Namun, luka di dada masih membekas. Semakin mengiris ketika membayangkan sindiran-sindiran orang kampung atau sesama datuk di hari pernikahan kelak.

***
Si ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Wajah, rambut, dan kulit sama lusuhnya dengan busana yang ia kenakan. TV di depan perempuan itu menyalak-nyalak tak karuan. Sorot matanya lurus ke depan. Tapi tidak sedang menonton. Satu demi satu semut hitam menjalar dari dinding seperti rel kereta api, mengerubungi gelas di sampingnya yang berisi sisa-sisa kopi semalam.

Sejak ayahnya, Datuk Malaka, tutup usia setahun lalu, bola kehidupannya retak dan pecah berkeping-keping. Ia menjadi bulan-bulanan oleh sanak saudara atas kepergian ayahnya. Pertengkaran sering singgah di keluarga besar mereka. Ia dan saudara-saudaranya selalu saja menemukan alasan untuk memaki, menghina, dan merendahkan. Keluarga besarnya pun kini tercerai berai.

Tiba-tiba dilemparkannya gelas itu ke dinding dimana foto pernikahan Mida menggantung. Pranggggg! Kaca berhamburan menjatuhi TV.
“Ibu memecahkan foto lagi ha?” suara menghardik menyusul dari samping rumah.
“Ibu tak pernah menyukai lelaki pilihanku. Mau Ibu apa?” Kata Mida meringis setelah berada di sisi perempuan berambut kelabu itu.
Kali ini Mida tak dapat menahan geramnya.

“Mereka tak pernah elok di mata Ibu. Selalu ada cacat dan menghina. Mida telah terluka, namun Ibu menambah dalam luka itu. Tak adakah restu buat Mida lagi Bu?”
“Mida tak dapat mengelak dari hukum cobak, walaupun Mida masih suci waktu itu Bu. Tapi Ibu, selalu menganggap Mida perempuan buruk. Anak Ibu sendiri. Ibu mau melihat Mida menjadi janda muda yang tak punya uang, yang tak punya kesempatan, yang tak punya pilihan? Janda muda yang dinilai pengganggu rumah tangga orang. Ibu mau Mida seperti itu? ” ujar Mida di sela isaknya.

Diungkapkan semua kepiluan, keputusasaan, kemarahan, dan kesengsaraan batin yang ia hadapi. Setiap lelaki yang naik ke rumahnya, menjadi suaminya, selalu saja berakhir dengan perceraian. Ibu Mida selalu saja menemukan celah agar Mida tak berumah tangga lebih dari setahun dengan para lelaki itu. Pun, ketika Mida berniat memiliki bayi dari suaminya terdahulu. Ibunya cepat-cepat mematahkan niat itu.

“Bukankah lelaki yang kau cintai bukan suamimu?” bisik ibu Mida. Bisikan itu cukup mangkus untuk menenggelamkan niat Mida memiliki anak dari suami-suaminya.
Ini foto terakhir yang dipecahkan ibunya dengan cara yang sama. Setelah sebulan ibunya memecahkan foto, biasanya ia akan bercerai. Empat foto pengantin telah lumat setiap tahun berturut-turut.

Ibu bergumam, “Hmm, Mida, anak-anakku.”
Di detik lain, “Perkawinan itu bukan untuk dicoba-coba!” teriak ibu Mida dari balik jendela kaca.
2010 Padang 9. 30 AM

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^