Tuesday, 25 October 2011

Harusnya Saya Diwisuda ‘S2’




Sejak pagi sekali, saudara-saudara perempuanku sudah mempersiapkan segala hal guna mempercantik diriku pada hari H wisuda tahun ini, 2011. Aku tak punya pilihan lain, kecuali meluluskan niat hati mereka yang baik dan tulus itu. Tak sampai satu jam, mereka telah menyulapku menjadi makhluk yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Entah cantik, entah seram. Yang jelas sulapan itu kubawa ke tengah-tengah keramaian dan cukup menenangkan, karena banyak juga fans yang ingin berfoto bareng denganku.
Waktu itu hari Sabtu, 8 Oktober 2011. Hari dimana aku dan 3912 wisudawan/wati di Universitas Negeri Padang diwisuda secara resmi. Kata Rektor UNP, kami mengenalnya dengan sebutan Pak Didi, wisuda periode 92 ini merupakan wisuda terbesar sepanjang sejarah berdirinya UNP sejak dari IKIP Padang hingga berubah menjadi UNP. Saking besarnya dan banyaknya, wisuda diadakan sebanyak dua hari, Sabtu dan Minggu. Agak aneh, kurang meriah, namun terselip kebanggaan yang luar biasa. Itulah periode ketika aku diwisuda di kampus ini. Setiap hal pasti menyimpan ‘sesuatu’ untuk dikenang hingga mati.
Lantas apa hubungan judul tulisan ini dengan wisuda sarjanaku yang baru S1? Awalnya tak ada relasi yang kuat dan mencengangkan. Karena ketika membuat judul tulisan, aku terkesan spontanitas saja tanpa memutar-mutar otak lebih dalam hanya untuk sebuah judul tulisan. Dan satu lagi, bagiku judul tulisan itu haruslah kuat dan membekas di benak pembaca ketika pertama kali mereka membaca tulisanku. For the first time, they read my notes, I hope my notes makes them surprise and happy. Begitu saja.
Agak menggelikan memang. Seingatku baru sekali seumur hidup, aku didandankan layaknya seorang pengantin, menor, dan mirip ondel-ondel. Tapi, para perempuan yang melirikku, selalu saja menyenangkan kupingku, ‘Wah elok sekali’ kata mereka. Aku tersanjung dan agak grogi untuk memperlihatkan ke orang banyak di luar sana. Rasa senang bercampur dengan perasaan lucu di dada. Mencoba menghibur diri dengan menampilkan kalimat-kalimat, ritual wisuda kenapa harus berkebaya dan bertata rias yang mencolok begini? Ada-ada saja cara menikmati acara. Begitu dalam pikirku. Dan aku salah satu ‘korbannya’. Aku mulai enggan berpikir banyak, karena lebih terfokus bagaimana selamat memakai high heels ini.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^