Wednesday, 17 August 2011

Dirgahayu ke-66 Republik Indonesia, Jayalah Indonesiaku



Sejak dua hari lalu, jalan-jalan yang kutelusuri dari tempat aku dibesarkan, Lubuk Sanai Mukomuko, beberapa kampung diwarnai dengan bendera Merah Putih di setiap halaman rumah warga. Bermacam-macam, ada bendera yang berkitar merah menyala, ada pula bendera yang mulai kusam warnanya serta tak bergerak sama sekali. Pun demikian dengan tiang bendera. Ada yang sengaja memakaikan kayu bagus serta dicat dengan baik. Ada pula hanya dengan sebilah bambu dan diikatkan pada pagar rumah-rumah warga. Pemasangan bendera ini tentu saja untuk mengenang dan menghargai jasa para pahlawan bangsa ini yang telah bersusah payah memerdekakan bangsa kita, Indonesia.

Tradisi tahunan ini, memasang bendera Merah Putih, ataupun jika ada dana mengadakan lomba makan kerupuk, pacu lari karung, dan sebagainya, semata-mata untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dengan penuh suka cita. Bangsa besar ini tentu tak mau dicap sebagai generasi pembangkang dan tak menghargai pengorbanan jasa para pahlawan yang telah tiada. Rasa cinta yang tulus dan dalam ini tak mudah lenyap dari dalam jiwa kita. Sebagai penerus, setidaknya kita tahu dan paham akan pengorbanan besar itu.

Pagi-pagi sekali pada tanggal 17 Agustus 2011, saya sengaja menengok-nengok ke sekeliling kompleks tempat tinggal yang selama kurang lebih empat tahun ini saya tempati. Niat hati untuk menghilangkan kantuk selepas sahur. Karena tepat sekali, selain memperingati 17 Agustus, juga memperingati malam ke 17 ramadhan 1432 hijriah tahun 2011 ini. Saya pun mencoba mengingat-ingat, kok ada yang kurang dengan pemandangan dip agar-pagar rumah penduduk pagi ini? Oiya ternyata para warga di sini tidak memasang bendera Merah Putih pada hari ini rupanya. Kasihan sekali, saya tidak dapat menikmati pemandangan warna merah putih itu lagi.

Ketika menolehkan kepala ke arah kiri, ternyata pagar rumah itu juga seperti hari-hari biasanya. Tak ada tiang dan bendera Merah Putih. Oiya ternyata rumah Pak Ketua RT pun sepertinya lupa dengan peringatan tujuhbelasan ini. Kasihan sekali aku. Ketika menolehkan kepala ke arah kanan, tepat rumah Bapak kostku sendiri, ternyata juga tak ada bendera. Justru suara-suara musik boyband dari kamar anak gadisnya berdentang-dentang pagi ini. Kemana orang-orang ini? Jalan-jalan sepi sesepi hatiku karena tak ada bendera yang menghiasi pagi ini. Kasihan sekali aku.

Secepat kilat kutelpon One, kakak perempuanku di rumah, apakah rumah kami juga tak memasang bendera Merah Putih pagi ini? Semoga tidak. Semoga ibu masih mengingat hari bersejarah nasional ini. Karena, sebelum aku berangkan ke kota ini, kemarin beliau berpesan kepada kakak laki-lakiku, agar mencarikan beliau sebatang bambu yang tak begitu besar yang akan dijadikan sebagai tiang bendera Merah Putih waktu pelaksanaan 17 Agustus kelak. Semoga beliau tidak lupa. Tapi One yang kutelpon ternyata belum di rumah. Ia masih di daerah dinasnya yang cukup jauh dari rumah. Sedangkan ibu, pasti sedang sibuk dengan pekerjaan beliau di pasar sana. Dan aku sangat tidak mungkin untuk menelpon beliau untuk saat ini. Pertanyaan ini pun masih menggantung hingga sekarang. Apakah rumah kami diwarnai bendera Merah Putih saat ini? Harapku iya.

Sembari kumenulis catatan ini, di dua radio-tape radio dan handphone radio-aku menyimak bagaimana upacara bendera memperingati 17 Agustus dilaksanakan baik di kota ini maupun di Jakarta sana yang dikomandoi oleh Presiden SBY. Aku menyimak hingga selesai. Senang rasanya bisa merasakan nuansa 17 Agustus yang sudah sangat jarang aku rasakan. Semenjak memasuki dunia kampus, berbagai upacara bendera tak lagi aku ikuti. Tak seperti waktu masih SD, SMP, SMA dahulu. Setiap Senin dan hari-hari nasional lainnya kami memperingati dengan riang gembira walaupun kadang disertai dengan canda tawa kami yang kanak-kanak.

Ah momen-momen itu sangat menyenangkan dan mengharukan. Tak mudah dilupakan dan tak mudah pula digantikan. Perjalanan ini begitu singkat. Tak terasa usiaku sudah memudahkanku untuk tak mengikuti acara-acara serupa ini. Banyak adik-adik yang ternyata jauh lebih baik dan apik memaknai hari nasional ini. Mereka jauh lebih cerdas, lebih nasionalis, dan tentu saja lebih memiliki masa depan yang lebih cerah. Semoga. Kadang aku melihat masa depan bangsa ini di dalam mata mereka yang lugu dan jujur apa adanya. Mereka masih perawan dan indah untuk disusupi berbagai ajaran dan cara menghadapi dunia ini dengan sangat indah dan pendek. Untuk saat ini aku mencoba berbuat sebermanfaat mungkin kepada mereka yang berhak mendapatkan masa depan dengan lebih baik dan adil. Demi bangsa ini dan di saat HUT RI ke-66 ini, dalam lubuk hati, aku siap mempersembahkan jiwa dan raga untukmu, bangsaku.

My Fast_The Second Week_August 2011



Memasuki pekan ke dua mengikuti puasa ramadhan 1432 Hijriah tahun 2011 ini, saya ditemani gadis kecil baru. Ia mahasiswa baru yang ngekost di tempat kostku. Bertubuh mungil, rambut panjang lurus nan lebat dan legam serta teronggok kaca mata minus yang cukup tebal di wajahnya. Oh, rupanya gadis kecil ini mengalami kerusakan mata di usia yang sangat muda. Aku jadi kasihan. Karena ia begitu sulit, bagiku, membaca SMS dan membaca apa saja yang ada di kamar ini.

Pekan ke dua puasa ini, cobaan sepertinya semakin besar dan menuntutku agar lebih kuat. Mulai dari tingkah sedikit aneh gadis kecil di kamarku, aktivitas kampus yang semakin padat dan sepertinya untuk yang terakhir kali aku penuhi, undangan sana sini buka puasa yang cukup membuat kocekku terseok-seok, dan cobaan dalam bentuk lain. Puasa ini begitu mengharu biru dan berbeda dari puasa tahun kemarin.

Pada puasa ini pula, aku menargetkan untuk selalu memenuhi salat sunah tarawihku baik kulakukan di masjid dan musala maupun di kamar kostku sendiri. Tak apa. Karena bagiku, melengkapi setiap malam ramadhan dengan salat sunah tarawih merupakan sesuatu yang tak ingin kulewati lagi. Aku merasakan kenikmatan yang luas biasa dengan salat sunah satu ini. Salat sunah yang selalu kujalankan sebanyak 8 rakaat plus 3 rakaat ini kuusahakan selalu mengiringiku sebelum menjelang melepas lelah, tidur. Salat ini begitu menenangkan dan membuatku semakin dekat dengan orang-orang yang kucintai dan tentu saja dengan Sang Pencipta kita.

Tak beberapa lama, puasa pekan ke dua ini pun dipenuhi dengan orang-orang yang membuat aku selalu gembira dan terpingkal-pingkal, ya teman-teman kostku yang gokil dan noraknya minta ampun. Kebahagian ramadhan memang tak bisa disangka-sangka. Allah Swt, sangat mencintai dan peduli kepada kita dengan caranya sendiri-sendiri. Ya, mengirimkanku teman-teman dari orang-orang terbaik ciptaan-Mu. Untuk kesempatan ini aku kembali mengucap syukur akan karunia berlimpah yang diberikan kepadaku dengan tangan-tangan-Nya. Ah, ramadhan sebenarnya aku tak mau kau tinggalkan.

Pun begitu dengan teman hati yang menemaniku sejak dua tahun terakhir. Satu sisi, kadang ia membuatku malu dan jengkel setengah mati. Namun sisi positif dan konstruktifnya jauh lebih besar. Ia memotivasi, memberi saran ini itu, dan apresiasi yang tulus kepadaku ketika aku mengalami hal-hal positif dan membanggakan. Pun ia menjadi orang pertama untuk aku curhati dalam keadaan tertentu. Selain keluargaku tercinta yang segala-galanya bagiku, saat ini. Terima kasih. Allah Swt, mengirimkan satu makhluk ‘aneh’ yang siap siaga menjadi kawan hati dan sahabat baik.

Namun, ada sedikit penurunan yang kualami, mungkin karena sitaan waktu yang lebih besar mengurus sana sini, kuantitas aku menulis jadi berkurang. Ya menulis hal-hal yang sangat aku sukai waktu ini. Menulis segala hal mengenai keadaan di sekitar lingkunganku. Ya, aku jarang beli koran, karena kadang tak di kota ini ketika akhir pekan. Mengurus urusan lain yang jauh lebih penting dan mendadak. Urusan yang menyangkut masa depan. Tapi, tentu saja aku tak mencoba meninggalkan diri untuk mengikuti perkembangan informasi di dunia online, tentang apa saja yang tentu saja bermanfaat untukku. Detik-detik terakhir aku di kampus ini cukup menyita banyak waktu, tenaga, dan uang. Tabungan pun mirip macan ompong yang melongo saja ketika aku bongkar untuk memenuhi kebutuhan semua ini.

My fast ini begitu menggugah dan bermakna. Jauh lebih bermakna dari tahun kemarin. Ramadhan menjadi jauh lebih berarti dan mencoba mengikis dosa-dosa selama ini yang tertumpuk di dalam diriku. Kepada Allah Swt, aku berharap besar, setelah ramadhan tak lagi mendampingiku, aku tak ingin semua berjalan seperti biasa-biasa saja. Hidup ini tentu saja berjalan dengan caranya sendiri dan tentu saja mampu membuat kehidupanku jauh lebih baik dan berarti sesuai dengan mimpi-mimpi yang kubangun dengan apik dan elok selama ini. Melalui jiwa struggle harus kupupuk dengan baik sejak sekarang ini. Jiwa itu telah tumbuh dan segar dalam tubuhku, tinggal sekarang bagaimana aku memupuk agar jiwa struggle ini berkembang dan membawa kebaikan serta kemuliaan baik untuk diriku, keluarga, maupun untuk masyarakatku. Semoga ya Allah Swt.



Tuesday, 9 August 2011

Kota Padang Ultah Ke-342




Hari ini tanggal 7 Agustus 2011. Bertepatan dengan hari Minggu, libur rutin, hampir setiap orang. Termasuk saya, yang mencoba tidur seharian seperti bangkai di kamar kost. Mencoba menikmati akhir pekan pertama bulan puasa tahun ini dengan kesendirian, oh tentu saja tidak. Saya tak pernah sendiri. Walaupun pernah mencoba untuk sendiri. Ada kado tiga novel bagus-bagus yang menemani. Bercengkerama, mulai dari sebelum berbuka puasa, malam menjelang, setelah sahur, dan setia menemaniku di dalam angkutan kota yang selalu bising. Mayday.

Sehalaman koran lokal di kota ini dipenuhi oleh iklan ucapan Selamat Ulang Tahun untuk Kota Padang yang ke-342 tahun. Saya terpaku kemudian disusul senyum dikulum membaca iklan tersebut. Aha, hari jadi ke-342, tua banget, pikirku. Secepat kilat otakku berpikir, ini momen yang bagus dan yahud untuk menulis sesuatu tentang kota yang telah kudiami sekitar empat tahun ini. Ah, aku jadi ingat nenek-nenek dan kakek-kakek yang pernah beumur ratusan tahun.

Tak rela ketinggalan berita perayaan ulang tahun tua ini, sejak pagi kuputar-putar tuning radio butut di kamarku. Maklum, umur radio ini cukup tua dibanding umur kucing-kucing yang pernah ada di rumahku. Dan lagian ini radio bukan radio pribadiku. Radio kakak kostku yang kerap memutar musik yang bernuansa India dan Jiran. Selera kakakku yang satu ini benar-benar melankolis dan Melayu banget. Alhasil, beberapa siaran radio kutemukan dengan tetap bermusik ria. Karena aku bukan tipe yang mudah putus asa, sekali lagi kucoba mencari siaran yang klop markotop dengan telinga dan hasratku. Aku menemukan. Radio lokal kota ini, Sushi FM.

Acara diadakan di kantor DPRD Kota Padang. Dihadiri oleh berbagai pihak. Ada Gubernur Sumbar, Wali Kota Padang, para pemuka adat, bundo kanduang, dan urang-urang bagak di kampung-kampung dan di kampus. Namanya rapat pleno dengan anggota DPRD Kota Padang. Banyak bincang yang disampaikan dan didengarkan oleh berbagai pihak. Pun saya yang menyimak dari radio, sesekali mengernyitkan kening, kemudian terkekeh-kekeh mendengarkan celotehan para urang bagak dengan gaya bicara dan maksud pidato. Ah ternyata urang Minang memang sangat egaliter dan pintar-pintar rupanya.

Pidato pertama yang saya simak, pidato yang disampaikan oleh Wali Kota Padang, Dr. Fauzi Bahar, M.Si. Gelar M.Si dan Dr nya memang didapati dari kampus yang juga saya tempat kuliahi. Kalimat ini tidak berpretensi apa-apa, tidak bangga dan tidak juga senang. Biasa saja. Hanya memberi tahu kepada pembaca blog saya. Seperti yang sudah-sudah, bunyi pidato itu bikin saya terkikik-kikik. Ada yang janggal dan cuping telinga saya bergerak-gerak ketika menerima bunyi yang disampaikan oleh Pak Wali. Susunan kata dan kalimat yang disampaikan, terseok-seok dengan bahasa Indonesia resmi plus bahasa gado-gado dengan bahasa Minangkabau kebanggaan kita. Dilanjutkan dengan pidato urang awak di rantau, katanya dari Singapura, dan Gubernur Sumbar Prof. Irwan Prayitno dengan sekali-sekali menyematkan bahasa dan medok Jawa plus bahasa sleng. Ah Pak Gub ini semakin gaul saja. Batinku.

Seperti pidato SBY dan pidato resmi kenegaraan lainnya. Isi pidato berkutat dengan ekonomi masyarakat, kesehatan ibu dan anak, kematian bayi, politik dan kebijakan, agama Islam dan nonislam, pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, budaya ranah Minang, bencana serta penangggulangannya dan anak kemenakan yang sedang diurusi. Semua dibahas dengan komplit dan komprehensif, sayang hanya sebatas wacana yang tak pernah usai. Rencana ini itu, pembangunan yang akan dibangun di sana sini, dan rancangan yang akan dibahas kelak dan nanti. Rapat pleno ini begitu antusias ingin begini begono. Kesempurnaan Kota Padang memasuki usia ke-342 ini harus dipertimbangkan dengan matang. Padang diharapkan menjadi pionir dan percontohan untuk kabupaten kota lainnya di Sumbar, Sumatera, bahkan Tanah Air.

Bagiku, ultah Kota Padang ini memberikan suatu nuansa yang memang patut disyukuri. Otak kiriku berputar-putar, sejak empat tahun aku mengarungi kehidupan di kota ini, ya tak jauh signifikan perubahan, mulai dari tata kota, masyarakatnya, pendidikannya, pariwisata, teknologi, dan seterusnya. Yang banyak berkembang adalah dialektis para juru bicaranya yang semakin merebak kemana-mana. Perubahan yang dilakukan memang banyak hanya dalam diskusi, ruang pertemuan yang full AC, tunjuk sana sini dengan semangat menyampaikan ide-ide brilian. Pun demikian dengan para perantaunya yang kebanyakan sukses di luar sana. Perubahan yang akan dilakukan cukup memberikan angin segar bahkan angin surga bagi masyarakat kota ini. Namun setelah acara selesai, ide-ide dan semangat tadi terkurung di dalam ruangan full AC. Tak berpindah kemana pun. Sesampai di rumah, para pembicara asyik masyuk bergelut dengan anak, istri, dan keluarga. Ide pun melayang-layang bak arwah gentanyangan. Tak tentu arah.

Saya memiliki cukup pengalaman dengan hal ini. Beberapa kali mengikuti pelatihan, rancangan, deklamasi, diskusi pergerakan, dan seterusnya. Hasilnya, tebakan pembaca tak salah lagi. Hampir nihil. Memang kita harus optimis dengan segala yang telah dilakukan. Dan tak ada yang sia-sia dilakukan. Namun, otak saya masih saja mencemooh adegan demi adegan serupa ini. Ya serupa rapat ulang tahun ke-342 kota Tercinta Kujaga dan Kubela ini. “Memang kita banyak dan sepertinya kita cerdas, tapi kita berbuat tak sebanding dengan kepintaran kita”. Saya benar-benar sadar dengan kalimat ini. Bagaimana tidak, hingga malam menjelang dan saya menuliskan hal ini, kalimat ini tetap mengiang-ngiang di telinga dan hati saya. Bahkan ketika berjumpa dengan banyak orang yang saya yakin mereka adalah orang-orang pilihan. Namun, mereka tak bisa berbuat banyak. 11 12 dengan saya. Unbelievable.

Itu otak kotor saya yang berpikir aktif. Sedangkan otak kanan saya lebih dewasa dan sedikit cerdas. Ia sangat anggun, keibuan, serta kebapakan. Semua ini harus dihadapi dengan penuh harap dan wajah cerah. Ah kayak iklan pemutih wajah saja. Maksud otak kanan saya, semua ini harus dipikirkan dan ditelaah dengan mahzab kekananan. Tak boleh kiri. Sebab, dengan kekananan semua ini tidak akan menyebabkan saya kena stress dan stroke. Jika selalu kiri, potensi stress dan stroke itu besar sekali. Sekalipun kamu bukan pejabat. Begitu kata otak kanan saya menyindir. Benarkah? Ah otak kanan saya ini benar-benar sok tahu. Saya tak memiliki riwayat stroke muda di dalam keluarga besar. What’re you talking about my heart?

Begitu juga dengan Kota Padang yang tengah berulang tahun ini. Kita harus optimis, kota yang kecele karena sering ditimpa musibah ini harus menengadah dan tak menunduk terus. Kasihan dia. Sudah jatuh tertimpa tangga, terjerembab ke tai ayam, eh datang pula gempa menyenggol. Malang benar kan? Hanya orang-orang dari kota inilah yang lebih banyak optimis membangun kota tercinta ini. Dalam ulang tahun ke tiga abad lebih ini, kota ini memang harus banyak berbenah, beikhtiar, serta berdoa. Pun demikian saya yang tengah mempersiapkan diri untuk meninggalkan sementara kota ini. Ya, semoga saya tidak menjadi insan dialektor yang hanya cerdas di ruang full AC. Di luar saya kecele seperti kota ini. Selamat ulang tahun Kota Padang. Jaya selalu ya. Don’t give up.

Saturday, 6 August 2011

Menularkan Tradisi Membaca dan Menulis





Sekitar 50 peserta antusias mengikuti undangan berdiskusi tentang tradisi membaca dan menulis oleh penyair Taufiq Ismail. Penyair Taufiq Ismail selaku pembicara, menyampaikan bahan diskusinya tentang tradisi membaca dan menulis dengan judul ‘Menutup Babak Generasi Rabun Membaca Buku, Pincang Menulis Karangan’. “Kita, orang Minang, memiliki tradisi membaca dan menulis yang tinggi. Apalagi zaman kemerdekaan dahulu. Tradisi ini harus kita tularkan dan lestarikan untuk generasi mendatang,” ungkap Taufiq Ismail di Rumah Puisi Taufiq Ismail, di Nagari Aie Angek, Padang Panjang, Sabtu (23/7) lalu.

Dalam materinya, Taufiq membandingkan bagaimana sekolah-sekolah di luar negeri menjadikan mata pelajaran membaca dan mengarang sebagai mata pelajaran wajib diikuti oleh para siswa. Sekolah-sekolah tersebut tidak hanya menyediakan berbagai buku sastra yang dikarang oleh sastrawan-sastrawan besar dunia tetapi juga mewajibkan mengarang yang kelak akan dicetak menjadi buku-buku karangan para siswa tersebut. “Mata pelajaran membaca dan mengarang menjadi jauh lebih menarik para siswa, sehingga dua mata pelajaran ini mendapat tempat di hati para siswa,” kata Taufiq di depan para penulis dan penyair muda yan tersebar di beberapa kota di Sumatera Barat.

Ia melanjutkan, betapa budaya ini jauh berbeda dengan budaya membaca dan mengarang di Tanah Air saat ini. Mata pelajaran membaca dan mengarang jauh tertinggal di belakang. Para siswa lebih tertarik mempelajari ilmu alam atau eksakta daripada membaca dan mengarang. Padahal sejarah mencatat bagaimana para siswa yang banyak membaca dan menulis menjadi tokoh yang berpengaruh terhadap bangsa ini ke depannya. “Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dan seterusnya, adalah para siswa yang ditempa oleh sekolah Hindia Belanda untuk lebih banyak membaca dan mengarang. Dan ingat, mereka tidak hanya membaca buku dengan satu bahasa tetapi tiga atau empat bahasa sekaligus. Bayangkan!” pungkas Taufiq dengan nada meninggi.

Selanjutnya, Taufiq pun menampilkan angka-angka banyak buku yang tersedia di sekolah-sekolah, buku wajib yang harus dibaca oleh para siswa, jumlah karangan yang harus ditulis oleh para siswa apakah itu per minggu, per semester, per bulan hingga per tahun, kemudian jumlah buku yang berisi kumpulan karangan yang dihasilkan oleh para siswa tersebut setiap tahunnya. Taufiq menegaskan, budaya menularkan membaca dan menulis kepada para siswa bukan berarti mencoba menjadikan mereka sebagai sastarwan. Budaya membaca dan menulis bertujuan untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa lain di dunia. “Kita tertinggal jauh dengan bangsa lain. Dengan membaca dan menulis kita yakin dapat mengejar ketertinggalan itu seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang besar bangsa ini dahulu,” kata Taufiq menyemangati para peserta baik dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan guru.

Berbagai kegiatan pun telah dilakukan oleh Taufiq Ismail dengan Majalah Sastra Horison sejak tahun 1996. Apakah itu dalam bentuk pelatihan, sanggar menulis, diklat, lomba, dan lokakarya sastra. Gerakan ini pun mendapat dukungan dari berbagai lembaga pemerintah, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum. Hingga saat ini Taufiq masih mengembangkan dan membudayakan suka membaca dan menulis di Tanah Air dan khususnya di Sumatera Barat. Dengan kegiatan ini Taufiq memusatkan gerakan bagaimana kelas membaca dan mengarang itu menjadi kelas yang menyenangkan, asyik, dan gembira. “Dengan sastra nilai-nilai luhur itu akan tumbuh dan berkembang di dalam jiwa para siswa untuk mebekali dan menghadapi kehidupan yang jauh lebih keras di masa mendatang,” jelas Taufiq.

Acara yang dikomandoi oleh Muhammad Subhan ini berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Untuk menghibur peserta, diskusi juga diselingi dengan pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan menampilkan nyanyian-nyanyian oleh para peserta.

My Fast_The First Week_August 2011




Sengaja membuka puasa tahun 2011 ini di rumah bersama Ibu, Nenek, dan kakak-kakak. Tak mau membuat Ibu sedih, kalau anak bungsunya tak mudik ketika Ramadhan menjelang. Ramadhan menjadi bulan paling sakral dan bahkan penuh dengan sesuatu yang mengharu biru-dalam keluargaku. Bulan ini semua orang harus hadir di depan mata, bagaimanapun keadaannya. Termasuk aku, yang sedang sibuk di tahun akhir perkuliahan.

Siapa lagi yang akan membuat Ibu senang dan bahagia kalau bukan kami-anak-anaknya yang sudah lumayan besar dan dewasa. Salah satunya berkumpul, bercerita, berdebat, memasak, berjualan, dan berziarah bersama ke makam Ayah. Sejak kepergian Ayah, kami semakin menyadari dan paham kehidupan harus tetap dilanjutkan tanpa beliau lagi. Dan berziarah, salah satu luapan rindu kepada beliau dan tetap mensyukuri yang ada dalam kehidupan kami.

Perjalanan dimulai H-5 Ramadhan, ketika aku meninggalkan kota dimana aku bermukim sejak empat tahun terakhir ini, kota Padang Tercinta, Kujaga dan Kubela-begitu semboyan paling mutakhir di salah satu kota ranah Minang ini. Melewati kota yang tengah berbenah-setelah setelah porak-poranda dihoyak gempa dua tahun lalu. Di sana sini masih banyak dilakukan pembangunan. Di salah satu jalan yang ditelusuri travel ‘carteranku’ Pemerintah Kota tengah membangun jalur evakuasi tsunami. Kota Padang semakin populer dengan kota yang memiliki ancaman bencana air bah tsunami di Tanah Air. Bulu romaku kerap bergidik mendengar kata dan kabar macam begini. Apa-apaan sih pakar bencana tsunami? Pikirku dalam hati.

Penumpang beragam. Aku yang paling muda, semua ibu-ibu dan bapak-bapak yang bisa dikatakan tak sehat 100 persen lagi. Ada yang baru selesai operasi katarak, cabut gigi, dan seterusnya. Tujuan mereka pun tak sama dengan tujuan ke kotaku, Lubuk Sanai, Mukomuko, Bengkulu. Ibu dan bapak-bapak ini hanya menempuh perjalanan maksimal tiga jam yang masih berputar-putar pada Provinsi Sumbar, Kabupaten Pessel. Sedangkan aku, selama seven hours. Cukup melelahkan dan tapi tak bosan kok.

Memasuki bulan puasa, beragam hal yang diceritakan oleh para ibu dan bapak ini. Tak seperti kita, anak muda. Beliau-beliau tak perlu kenalan dulu. Cukup bersinggungan di tempat duduk yang sama dan mengetahui kalau penumpang di sebelahnya menggunakan bahasa Minang, percakapan dari A, X, Y, Z pun mengalir tanpa henti. Sesekali diselingi sorak sorai dan kata-kata keluhan perihal berita yang disampaikan oleh teman sebangku.

Apalagi mendengar kabar harga-harga melonjak tinggi memasuki bulan puasa dan lebaran kelak. Musim panceklik, anak-anak yang masih sekolah dengan biaya tidak sedikit, baju lebaran, hasil panen kurang, serta harga jual pun melorot. “Harga buah sawit cukup bagus. Harga karet pun demikian. Tapi harga gambir, tak dapat diharapkan. Sudahlah kita capek mengurusi dan memasaknya, harganya begitu-begitu saja, bahkan turun,” keluh seorang ibu sambil menarik jilbab di sampingku duduk. Ibu itu semakin gerah dengan udara di dalam travel plus cerita hasil panen yang tak membahagiakan. Cerita ini pun disambut dengan kabar lainnya dari ibu dan bapak-bapak yang duduk di belakangku.

Perjalanan semakin jauh meninggalkan kota Padang. Satu-satu penumpang turun dan kembali travel ini sepi penumpang. Tinggal aku, dua penumpang lainnya serta pak supir. Pak supir tak bosan-bosan mengajakku bercerita meskipun aku tidak duduk di kursi depan. Ia tahu aku mahasiswa satu-satunya yang menumpang. Penumpang lainnya telah terlelap, ibu-ibu juga. Pak supir bercerita tentang anak-anak gadisnya yang terancam tak bisa melanjutkan sekolah karena usahanya bangkrut. Ia dan istrinya harus banting stir, jadi supir travel dan menyediakan panganan basah ke kedai-kedai di sekitar tempat tinggal mereka. Tiga anaknya, tengah membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk keperluan sekolah dan lainnya. Aku pun jadi iba.

Keibaan ini menghantarkanku untuk berimajinasi. Suatu hari kelak, cita-cita dan anganku ingin membantu anak-anak yang putus sekolah semakin kuat. Andai-andai aku sukses mulai tahun ini dan seterusnya pun menghias kepalaku. Dan kelak jika aku kenal anak pak supir, aku akan membantu bocah tersebut untuk bisa kuliah dan jadi gadis cerdas, pikirku. Tentu saja hal ini tidak kuutarakan kepada pak supir, aku bisa ditertawakannya.

Panjang cerita merebak ke wilayah politik dan kepartaian. Untung sebelum meninggalkan kota Padang, aku masih sempat membaca Koran dari Palmerah dan kota Padang serta majalah Tempo yang terkenal itu. Masih, kasus Nazar menghiasi surat kabar-surat kabar. Tak ketinggalan nama Anas, Ketua Partai Demokrat di sebut-sebut dan SBY, presiden Indonesia tahun ini. Pak supir ini ternyata tak hanya peduli pada bangsa ini, tapi cerdas juga menyampaikan pendapat dan prediksi nasib partai tersebut serta nasib Indonesia berikutnya. Aku kagum.

Asyik, karena nyambung dengan obrolan yang diciptkan, aku ditraktir pak supir makan siang di rumah makan yang sering kusinggahi. Alhamdulillah, pak supir ini selain peduli bangsa juga peduli dengan aku dan kantungku. Makan lahap tanpa sungkan. Pak supir pun membawa semua itu santai dan aku tak merasa berutang duit padanya. Perjalanan dilanjutkan dengan obrolan lainnya.

Lubuk Sanai, Mukomuko, Bengkulu, adalah kota dimana aku tidak dilahirkan tetapi mendapatkan banyak cinta dan kasih dari orang-orang sana. Tak mudah melupakan masa-masa kanak-kanak dan remaja di kota kecil itu. Bergaul dengan banyak keluarga dan beragam suku, tak hanya menarik tapi juga kerap beradu mulut. Semua berjalan normal, ketika satu per satu anak-anak daerah itu terbang ke kota lain untuk beberapa waktu dan akhirnya kembali. Begitu dengan aku.

Para tetangga tak berubah jauh. Keramahan dan suka menggosipkan orang lain masih tumbuh subur-aku tak menampik hal ini pernah juga dilakukan oleh sanak saudaraku. Semoga setelah kupesankan, tak asyik ngomongin orang di belakang mereka, sifat dan sikap ini sedikit berubah. Sepak terjang para orang-orang untuk memperoleh kehidupan lebih baik-secara ekonomi-juga terasa kental di sini. Ada yang baru pulang haji. Ada yang baru membeli mobil. Ada yang baru menanam lahan sawit berhektar-hektar. Ada yang baru kawin lari. Ada yang baru dirundung sedih karena ditinggal anak atau suami selamanya. Dan macam-macam. Serta temanku yang baru saja menjomblo atau sedang penjajakan untuk pacar ketiga, selingkuh lagi.

My fast kuhabiskan membantu Ibu dan kakak berjualan di pasar, bergelut dengan kucing sawah yang baru diadopsi kakak laki-lakiku, cekikikan dengan OVJ, serta telpon dan SMS an dengan teman-temanku di kota Padang. Sedangkan lepiku, terpaksa kutaskan karena fan nya tak berfungsi baik sehingga aku harus membongkar dan merogoh kocekku sebesar Rp 350 ribu. Amboy. Rezeki tak berpintu. Tapi aku ikhlas teman.

Tak lama, aku harus kembali ke kota Tercinta ini dan menyelesaikan semua tanggung jawabku kepada Allah Swt, kampus, Ibu, dan diri sendiri. Aku harus menutup babak ini dengan apik, sesuai harapan Ayah dahulu. Setelah itu, aku merasa punya sepasang sayap yang bisa kuandalkan untuk mewarisi semangat dan daya juang Ayah untuk menjejaki wilayah baru dalam kehidupan masing-masing kita. Merantau. Semoga.