Tuesday, 26 July 2011

Jangan Pandang Remeh Arsip




Arsip tidak hanya dibutuhkan untuk menjawab tanya atasan. Bukan juga hanya berumur lima tahun, setelah itu bisa begitu saja dibuang, dibakar, atau dijual di pasar loak. Arsip mengandung nilai-nilai sejarah dan budaya yang tiada tara. Keberadaan dan tata aturan arsip pun mampu merefleksikan budaya serta kemajuan suatu bangsa baik atau tidak. “Semakin bagus pengaturan arsip suatu bangsa semakin maju pula bangsa tersebut,” jelas Suryadi, sebagai pembicara dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas Padang Membaca (KPM) di Museum Adityawarman, Padang, Minggu (17/7) lalu.
Bagi Suryadi, dosen dan peneliti di Leiden University Institute for Area Studies (LIAS) di Leiden, Belanda ini, salah satu kelemahan masyarakat Sumatera Barat dan Indonesia secara umum adalah masih memandang arsip sebagai benda mati yang tiada fungsinya. Arsip dipandang hanya sebagai tumpukan kertas dan barang lainnya yang akan memenuhi ruangan. Begitu juga dengan orang-orang yang bekerja di lembaga kearsipan, arsip masih menjadi barang biasa-biasa saja. “Padahal melalui arsiplah suatu bangsa dapat direkonstruksi sesuai keinginan masyarakatnya. Karena di Leiden, orang juga mengarsipkan CD, VCD, koran, majalah, dan sebagainya sebagai sumber ilmu,” ungkap alumnus Jurusan Sastra Daerah Program Studi Bahasa dan Sastra Minangkabau Universitas Andalas ini kepada sekitar 50 peserta diskusi.
Selain pentingnya budaya mengarsipkan, Suryadi juga menegaskan betapa pentingnya membaca yang kemudian diikuti dengan budaya menulis. Membaca masih menjadi sesuatu yang belum akrab pada masyarakat Indonesia, pun masyarakat Sumbar atau kota Padang. Bagi Suryadi, budaya membaca, menulis, mengarsipkan merupakan budaya yang jauh lebih penting untuk masa depan bangsa ini. “Apa yang akan kita wariskan atau berikan kepada anak cucu kelak jika generasi sekarang malam membaca, menulis, apalagi mengarsipkan segala sesuatunya? Hal ini jauh sekali berbeda dengan negeri Belanda sana,” jelas Suryadi.
Diskusi ini juga diselingi dengan musikalisasi puisi oleh Teater Nan Tumpah. Beberapa anggota KPM juga mewakafkan buku koleksi pribadi untuk disalurkan kepada taman-taman bacaan yang menjadi relasi KPM di Sumatera Barat dan kota Padang. Diskusi ini tak hanya dihadiri oleh para pecinta buku dari mahasiswa atau pelajar, namun juga oleh sastrawan dan penulis seperi Darman Moenir, Hasril Chaniago, para dosen, para guru, serta pihak lainnya. KPM sebagai penyelenggara juga bekerja sama dengan toko-toko buku di kota Padang, pihak-pihak donatur, serta sastrawan atau para penulis yang membantu kegiatan komunitas yang diketuai oleh Yusrizal KW ini.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^