Tuesday, 26 July 2011

Pusparatri, Perempuan Penolak Surga*


Judul : Pusparatri
Gairah Tarian Perempuan Kembang
Penulis : Nurul Ibad, Ms
Penerbit : Pustaka Sastra dan Omah Ilmu Publishing
Tebal : x + 220 halaman
Cetakan : Pertama, 2011
Genre : Novel
Harga : Rp 40.000,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP



Untuk kesekian kalinya Nurul Ibas, Ms meluncurkan novel bertajuk senada dengan novel-novel sebelumnya, seperti novel Nareswari Karennina yang tergabung di dalam trilogi Kharisma Cinta Nyai, yakni perjuangan seorang perempuan yang ingin keluar dari lembah kemaksiatan dengan lakon lain, Gus Rukh, sebagai juru selamat. Begitu juga dengan novel Puparatri: Gairah Tarian Perempuan Kembang yang baru diluncurkan pertengahan tahun 2011 ini.
Di dalam sambutannya, penulis, Nurul Ibad, Ms menyampaikan kepada pembaca, bahwa novel ini mengangkat tema perjuangan perempuan awam untuk memperoleh kehidupan yang layak dan bermartabat, sekalipun mereka harus menjadi perempuan penghibur, bukan istri pertama, atau bahkan istri yang dinikahi sirri. Namun, justru dari rahim mereka lahir orang-orang hebat dan berpengaruh untuk umat di masa mendatang.

Tema ini diangkat berdasarkan realita kehidupan zaman kini. Satu sisi masyarakat cenderung memandang rendah orang-orang yang melakoni pekerjaan di dunia malam dan sejenisnya. Padahal di balik pekerjaan yang tidak terhormat itu, justru mampu memberi kehidupan kepada orang lain dengan lebih baik. Seperti tokoh Pusparatri di dalam novel ini yang mampu memberi banyak pekerjaan kepada orang-orang, meskipun ia bermodalkan hasil menjual diri di pemakaman di puncak Bukit Ambulu. Nyi Poniyem dan Paijo serta orang-orang yang bekerja membantu usaha Pusparatri, menganggap ia sebagai majikan yang tidak hanya kaya namun juga baik hati dan penuh kasih. Di sini, penulis membongkarbalikkan pandangan orang-orang tentang perempuan malam yang selalu dikonotasikan dengan seburuk dan sehina mungkin.

Bahkan tokoh Pusparatri merupakan keturunan Raja Agung Mataram karena ayahnya Raden Mas Joyokesumo berdarah ningrat Hamengkubuwana II demikian juga ibunya, Retno Kesambi masih berdarah Sunan Kudus. Hanya saja masa lalu yang suram membawanya harus hidup dengan dunia malam yang bergelimang kemaksiatan. Pada tahap ini, muncullah Gus Rukh, kiai nyeleneh dari Tulungagung yang mengentaskan kemaksiatan dengan jalan keluar masuk dan bergaul dengan para bramacorah untuk membawa mereka ke jalan yang benar, termasuk Pusparatri.

Selanjutnya novel ini mengalir dengan berbagai kisah mistis. Karena Gus Rukh ternyata orang sakti yang mampu merubah dirinya sesuai dengan apa yang diinginkan dan kebutuhan dakwahnya. Pusparatri pun menjadi salah satu orang yang harus dientaskan dari lembah kemaksiatan oleh Gus Rukh. Namun, Gus Rukh yang diberi kesaktian luar biasa oleh Tuhan tak mampu berbohong kepada dirinya sendiri bahwa ia benar-benar menyukai, mencintai Pusparatri dan membujuk perempuan muda itu mau menjadi istrinya yang kesekian kalinya.

Sebagai perempuan malam yang trauma dengan penikahan, Pusparatri tak mudah dibujuk. Pekerjaan yang ia lakoni sebagai perempuan penghibur dan mendambakan kehadiran seorang bayi, tak serta merta membuatnya lupa diri, mengganggu dan merebut suami orang. Ini pantangan baginya. Pusparatri pun tak ingin dijadikan sebagai istri kedua dari kiai Gus Rukh, yang kelak mampu mengabulkan semua angan-angannya. Pada bagian ini, penulis ingin menyampaikan bahwa perempuan malam pada hakikatnya sama dengan perempuan (manusia) lainnya; menginginkan kehidupan yang wajar, jauh dari dosa, dan tak ingin dimusuhi. Mereka tetap menyambung setiap titik kehidupannya tanpa mencoba mengusik kehidupan orang lain meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri. Kutipan berikut menjadi pembelaan serta gugatan atas nasib yang diderita Pusparatri kepada Gus Rukh.

“…Jangan kau jadikan aku istrimu. Meskipun aku menyintaimu. Biarlah aku tetap dalam cahaya kehidupan ini. Menjadi istrimu adalah penderitaan. Menjadi istrimu adalah kegelapan yang lain. Bahkan terlalu gelap untuk aku jalani…Apakah Tuhanmu sedemikian angkuh pada para perempuan sehingga menentukan takdirmu dipenuhi dengan sakit hati para perempuan yang menyintaimu?”

Novel ini jelas menarik untuk dibaca. Gus Ibad meneropong dunia perempuan malam dari kaca mata pesantren, yang memang latar belakang penulis ini. Ia menyandingkan sosok Gus Rukh dan Pusparatri dalam ranah yang tidak biasa. Kisah percintaan dan pergumulaan mistis dua insan ini mengiring pembaca kepada tingkat kepenasaranan yang tinggi. Pertanyaannya kira-kira ada tidak tempat atau tradisi demikian di Pulau Jawa sana? akan membayang-bayangi pembaca selanjutnya. Dalam novel ini, batas imajinasi, mitos, dan legenda terasa semakin tipis. Letupan-letupan emosi tokohnya mampu membawa pembaca agar tak perpaling dari bacaannya. Selamat membaca!


* terinspirasi dari salah satu judul cerpen yang pernah dibaca.

Jangan Pandang Remeh Arsip




Arsip tidak hanya dibutuhkan untuk menjawab tanya atasan. Bukan juga hanya berumur lima tahun, setelah itu bisa begitu saja dibuang, dibakar, atau dijual di pasar loak. Arsip mengandung nilai-nilai sejarah dan budaya yang tiada tara. Keberadaan dan tata aturan arsip pun mampu merefleksikan budaya serta kemajuan suatu bangsa baik atau tidak. “Semakin bagus pengaturan arsip suatu bangsa semakin maju pula bangsa tersebut,” jelas Suryadi, sebagai pembicara dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas Padang Membaca (KPM) di Museum Adityawarman, Padang, Minggu (17/7) lalu.
Bagi Suryadi, dosen dan peneliti di Leiden University Institute for Area Studies (LIAS) di Leiden, Belanda ini, salah satu kelemahan masyarakat Sumatera Barat dan Indonesia secara umum adalah masih memandang arsip sebagai benda mati yang tiada fungsinya. Arsip dipandang hanya sebagai tumpukan kertas dan barang lainnya yang akan memenuhi ruangan. Begitu juga dengan orang-orang yang bekerja di lembaga kearsipan, arsip masih menjadi barang biasa-biasa saja. “Padahal melalui arsiplah suatu bangsa dapat direkonstruksi sesuai keinginan masyarakatnya. Karena di Leiden, orang juga mengarsipkan CD, VCD, koran, majalah, dan sebagainya sebagai sumber ilmu,” ungkap alumnus Jurusan Sastra Daerah Program Studi Bahasa dan Sastra Minangkabau Universitas Andalas ini kepada sekitar 50 peserta diskusi.
Selain pentingnya budaya mengarsipkan, Suryadi juga menegaskan betapa pentingnya membaca yang kemudian diikuti dengan budaya menulis. Membaca masih menjadi sesuatu yang belum akrab pada masyarakat Indonesia, pun masyarakat Sumbar atau kota Padang. Bagi Suryadi, budaya membaca, menulis, mengarsipkan merupakan budaya yang jauh lebih penting untuk masa depan bangsa ini. “Apa yang akan kita wariskan atau berikan kepada anak cucu kelak jika generasi sekarang malam membaca, menulis, apalagi mengarsipkan segala sesuatunya? Hal ini jauh sekali berbeda dengan negeri Belanda sana,” jelas Suryadi.
Diskusi ini juga diselingi dengan musikalisasi puisi oleh Teater Nan Tumpah. Beberapa anggota KPM juga mewakafkan buku koleksi pribadi untuk disalurkan kepada taman-taman bacaan yang menjadi relasi KPM di Sumatera Barat dan kota Padang. Diskusi ini tak hanya dihadiri oleh para pecinta buku dari mahasiswa atau pelajar, namun juga oleh sastrawan dan penulis seperi Darman Moenir, Hasril Chaniago, para dosen, para guru, serta pihak lainnya. KPM sebagai penyelenggara juga bekerja sama dengan toko-toko buku di kota Padang, pihak-pihak donatur, serta sastrawan atau para penulis yang membantu kegiatan komunitas yang diketuai oleh Yusrizal KW ini.

Etika Religius untuk Masyarakat Modern


Judul : Agama dan Bayang-bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari
Penulis : Dr. Mustari Mustafa
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tebal : xii + 206 halaman
Cetakan : I, Juni 2011
Harga : Rp 40.000,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP



Pascareformasi bangsa Indonesia harus menghadapi tantangan yang jauh lebih besar, baik itu permasalahan nasional maupun dari luar negeri. Berbagai kemelut pun melanda Tanah Air ini. Mulai dari krisis ekonomi, politik, nasionalisme serta moralitas yang jauh lebih mengancam ketentraman dan kedamaian kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecenderungan pihak-pihak penguasa untuk mendahulukan kebutuhan pribadi atau kelompoknya, semakin meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat kepada penguasa. Alhasil, berbagai tindakan, aksi bahkan pelanggaran hukum ikut serta mewarnai kehidupan masyarakat yang bermuara kepada instabilitas nasional.
Kondisi ini menjadi perhatian utama sekaligus kegamangan bagi Dr. Mustari Mustafa, seorang pendidik yang mengabdikan dirinya di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Mengangkat pemikiran dari tokoh Syaikh Yusuf Al-Makassari tak terlepas dari perannya sebagai ulama, mubalig, sufi, ahli tarekat, dan penjuang yang menguasai dan mengamalkan ajaran Islam secara kafah. Kecendekiawan Syaikh Yusuf pantas ditelaah lebih dalam, dikembangkan, serta semoga menjadi pelajaran baru bagi generasi selanjutnya. Penulis yang juga mubalig ini, melihat tokoh Syaikh Yusuf sebagai figur teladan yang tak bisa diabaikan begitu saja peran dan jasanya dalam perkembangan intelektual ajaran Islam di Indonesia, baik bagi masa lalu maupun untuk masa mendatang.
Buku ini bercerita tentang Syaikh Yusuf (1626-1699) mulai dari zaman sebelum beliau dilahirkan, masa pertumbuhan dan perkembangan beliau, masa beliau belajar, masa menumpas pendudukan kolonial Belanda di Tanah Air, hingga masa-masa beliau dibuang ke Afrika Selatan dan menghabiskan akhir hayat hidupnya di sana. Meskipun Syaikh Yusuf lahir dan dibesarkan dalam lingkungan kerajaan yang tentunya sangat nyaman, namun beliau tak serta merta menerima kehidupan itu. Justru Syaikh Yusuf bekerja lebih keras (menimba ilmu pengetahuan) untuk menegakkan Islam, membela dan memajukan masyarakatnya, serta melawan kolonial Belanda di Makassar waktu itu.
Jalan hidup Syaikh Yusuf hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri seperti di Yaman, Hijaz, Syiria, Turki dan berakhir di Cape Town Afrika Selatan. Syaikh Yusuf juga belajar dan berkelana di Makkah dan Madinah. Selama perjalanan panjang itu, beliau bertemu dan belajar dengan tokoh-tokoh besar, fenomenal, para sufi, para syaikh yang terkenal dalam ajaran Islam. Dari semua pembelajarannya itu, Syaikh Yusuf pun menghasilkan karya-karya besar yang lebih banyak berkaitan dengan syariat. Pemahaman tentang tarekat dan tasawuf juga menjadi poin penting yang dikembangkan oleh Syaikh Yusuf pada waktu itu.
Pemikiran-pemikiran Syaikh Yusuf pun tak bisa dilepaskan dari perpaduan para filosof Yunani Kuno yang diinterpretasikan oleh tokoh-tokoh Islam sebelum Syaikh Yusuf lahir. Perpaduan ini pun semakin berwarna ketika pada era Syaikh Yusuf dan zaman setelah beliau. Syaikh Yusuf menekankan bagaimana posisi ajaran Islam dalam berbagai zaman, sehingga ajaran Islam tidak hanya maju tetapi juga tumbuh dan berkembang pesat dalam masyarakat yang plural dan modern seperti saat ini. Salah satunya, bagaimana ajaran Islam berterima di masyarakat yang secara status sosial berbeda antara satu dengan yang lain. Tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan tempat tinggal perpengaruh besar terhadap derajat pemahaman seseorang terhadap Islam. Syaikh Yusuf memandang semua ini tidak biasa-biasa saja, justru permasalahan besar yang berpotensi membawa pada situasi yang pelik jika tak ditangani dengan baik.
Di tangan penulis, buku Agama dan Bayang-bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari ini menjadi begitu penting untuk memahami kondisi masyarakat kekinian sekaligus mencoba mencari jalan keluar (way out) yang jauh lebih bermakna dan mencerdaskan. Bahasanya yang sederhana dan mudah dimengerti menjadikan buku ini cocok dibaca ketika waktu senggang. Selamat membaca!

Belajar Diundang Jauh



Berturut-turut setelah ujian akhir skripsi, saya diundang untuk mengikuti berbagai kegiatan. Tentu saja kegiatan positif yang mencerahkan. Hal-hal yang menyemangati karena berjumpa orang-orang yang merasa perlu berbincang kemudian menculik sedikit ilmu di antara kita. Saya mengalami hal itu beberapa hari lalu.

Sesampai di Bukitting, seseorang berpakaian rapi menegur dan menyalami saya. “Adek Risma Dedees ya?” katanya. Saya kaget, mengangguk dengan senyum disungging ke arahnya. Kemudian cerita berjalan ke arah tulisan-tulisan saya yang tidak seberapa itu. Senang dan merasa bersalah. Senang karena tentu saja baru diapresiasi oleh salah satu pembaca yang pernah membaca tulisan saya di media massa. Bersalah, karena tulisan itu mungkin tidak begitu atau sebanyak penulis lain yang disuguhkan kepada pembaca. Tulisan saya, mungkin tidak sedahsyat tulisan oleh penulis lain. Saya tentu saja tak mau menyesatkan pembaca saya. Saya kira pembaca mengerti apa maksud saya ini.

Beberapa acara diikuti dengan santai. Namun di lain waktu, saya merasa kikuk. Saya bukan apa-apa. Sama seperti lainnya, tengah belajar menulis. Tapi kenapa orang-orang memandang begitu hebat. Kata hebat ini bisa jadi narsis saya yang subjektif, atau bisa saya lebay dengan ini. Tapi, sungguh saya belum nyaman dengan situasi seperti itu. Sungguh.

Tiba-tiba seorang pelajar dengan rapi menghadang saya. “Kak, bagaimana bisa menjadi penulis hebat, kakak? ” katanya. Oh saya tercekat. Saya malu pada diri sendiri. Sungguh saya bukan apa-apa. Saya diteror pada acara itu. Pernah memang mengalami hal yang mirip, tapi bukan soal ini. “Kakak hanya mencoba meluangkan waktu lebih banyak di depan laptop,” akhirnya saya menjawab. Terserah apakah itu membaca dan menulis di laptop. Atau bahkan hanya ngegames atau menonton seharian. Maafkan saya. Saya belum siap dengan itu semua.

Saya masih banyak belajar. Belajar bagaimana bertemu dengan orang baru dan asing. Belajar berjumpa senior di kampus dan di Taman Budaya Padang. Belajar berbicara dengan para profesor, kandidat doktor, atau sarjana muda yang selalu ramah di pustaka kampus. Belajar menghadapi Ibu dan kakak di rumah nun jauh di sana. Belajar bergaul sehari-hari dengan kakak dan adik-adik di kost-kosan. Serta berlajar berkomunikasi arif dan menyenangkan dengan orang yang pernah menganggap saya kekasih. Benar saya masih belajar.

Pun ketika berada di Rumah Puisi Taufiq Ismail. Penyair besar dan sering membuat saya tercekat itu, ketika berada di dekatnya saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanya seorang pengagum yang jika tak dikendalikan akan mati sia-sia. Pengagum rak-rak bukunya. Pengagum kerapiannya. Pengagum taman yang dibangun oleh istrinya. Dan saya pengagum perpaduan tanah Gunung Merapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Tandikek di tempat itu. Tentu saja saya lebih banyak melihat-lihat dan menyimak. Kata-kata saya bukanlah peluru atau anak panah yang ketika lepas dari busurnya akan terbang kian kemari dan memporak-porandakan apa saja yang disinggungnya. Bukan itu.

Seorang Adek Risma Dedees, hanya seorang gadis dengan mudah terkagum-kagum dengan apa-apa yang mungkin biasa orang lain lihat. Tak banyak yang harus didapat dan dituai dari diri ini. Saya belajar terasing dan diundang jauh dari biasanya. Dengan begitu, ternyata saya masih belum apa-apa. Kepada pembaca tulisan ini, saya mohon maaf jika membuat sesuatu di dalam diri menjadi tidak nyaman.

Konstruksi Semangat Berorganisasi ala Bung Hatta

Menginjak ke-31 tahun negara dan bangsa Indonesia ditinggalkan oleh salah satu dwitunggal pendiri bangsa ini, Mohammad Hatta, semoga jiwa patriotiknya dalam membela dan mempertahankan Tanah Air tetap diwarisi oleh siapa saja, terutama generasi muda bangsa ini. Beliau pergi hanya sebatas jasad. Pola pikir yang cerdas, rasa nasionalisme yang tak perlu diragukan, keberanian yang pantang ditantang, serta semangat berbagi ilmu guna mencerdaskan anak bangsa, yang tumbuh dan berkembang di dalam jiwa Bung Hatta, yang kesemua itu sarat dengan ilmu dan iman tetap terngiang dan menjadi semangat baru untuk mewujudkan cita-cita bangsa ini sesuai dengan Pancasila. Bung Hatta tak sekedar pahlawan dan legenda. Bung Hatta ‘bermetamorfosis’ dengan apa yang telah diperbuatnya, sehingga melahirkan pemikir-pemikir cerdas dan pekerja-pekerja keras yang bijak dan beriman, tapi dengan satu syarat, kesiapan sang ‘kepompong’ berubah menjadi ‘kupu-kupu’ (baca;generasi muda atau penerus) untuk melanjutkan perjuangan itu dengan situasi, musim, dan cara yang berbeda.

Perjuangan Bung Hatta, dari berbagai sumber, dimulai ketika ia berumur 15 tahun dan menjabat sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang, suatu perkumpulan pemuda yang sarat dengan pergerakan dan bercita-cita memerdekakan Tanah Air dari penjajahan kolonial. Pada tahun itu, 1916, perkumpulan pemuda yang lahir tak hanya Jong Sumatranen Bond, tetapi juga berkembang Jong Java, Jong Minahasa, dan Jong Ambon di nusantara dengan visi dan misi memperoleh kemerdekaan dan kedaulatan negara. Bung Hatta dan rekan pemuda lainnya pun mencoba berbuat sesuatu untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Bung Hatta belajar, menulis, dan terlibat pada banyak pertemuan, baik yang bertema sosial, politik, hukum, filsafat, ekonomi, dan sebagainya. Beliau menggali banyak pengetahuan, wawasan, dan membangun kerja sama serta diplomasi ulung tak hanya di dalam negeri, tetapi juga ke luar negeri. Semuanya ia pelajari dengan sungguh-sungguh. Tak lain dan tak bukan untuk membangun sebuah kekuatan guna mengalahkan dan mengusir penjajah dari tanah Ibu Pertiwi ini. Hasilnya, Bung Hatta serta tokoh-tokoh patriotik lainnya mewariskan kepada kita, sekarang ini, kehidupan yang sangat jauh lebih baik, lebih mulia, dan lebih bermartabat.

Kurang lebih selama 64 tahun Bung Hatta berjuang dan mengabdi kepada Bangsa dan Negara Indonesia. Selama itu pula ia, para pejuang, dan tentunya bangsa Indonesia, mengalami berbagai perlakuan tidak senonoh serta kesewenang-wenangan dari pemerintah kolonial Belanda yang menjajah dan berkuasa atas Indonesia. Peperangan, teror, intimidasi, saling bunuh dan saling tindas, serta tindakan yang tidak bermoral lainnya merupakan perlakuan-perlakuan wajar dan ‘makanan sehari-hari’ yang harus diterima dan ditelan oleh Bung Hatta dan pejuang-pejuang nusantara. Bung Hatta dan pejuang lainnya membutuhkan tidak sedikit tenaga, waktu, ide-ide brilian dan strategis guna membebaskan Tanah Air dari amukan, serangan, dan ganasnya penjajah. Hingga sekarang, ancaman akan keutuhan dan kesatuan Tanah Air Indonesia masih sering dihembuskan dari dan oleh berbagai pihak yang tidak menginginkan kedaulatan dan kemakmuran bangsa ini.

Dalam membela Tanah Air dari penjajahan kolonial, setiap pejuang tak bisa berjalan sendiri-sendiri. Para pejuang harus bekerja bersama-sama. Mereka datang dari berbagai latar belakang dan suku. Berbeda warna kulit, agama, adat-istiadat, dan pola pikir. Namun, semua itu tak lagi melahirkan perbedaan jika telah berhubungan dengan cita-cita merebut kemerdekaan bagi bangsa dan negara, sebagai tujuan bersama rakyat Indonesia. Membangun kekuatan yang jauh lebih kuat, solid, dan masif. Sesuai dengan peribahasa Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh. Mereka berorganisasi. Begitu juga dengan Bung Hatta.

Keikutsertaan Bung Hatta dalam sebuah atau beberapa organisasi pergerakan tentu saja dengan tujuan mewujudkan visi dan misi organisasi tersebut; merebut kemerdekaan dan membangun bangsa dan negara yang berdaulat. Organisasi merupakan satu-satunya cara mewujudkan cita-cita besar dan luhur. Dengan berorganisasi Bung Hatta beserta para pejuang lainnya, tak hanya memiliki kuantitas tenaga yang jauh lebih besar, namun juga memiliki berbagai pemikir dan pencetus pergerakan cerdas dan siap jiwa raga untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka bertukar pikiran dan paradigma tentang segala sesuatu yang patut diperbincangkan. Berdiskusi dan melahirkan strategi-strategi jitu melawan penjajah kolonial, merupakan sesuatu yang harus dikerjakan setiap saat. Konsep organisasi ini pun sejalan dengan pendapat Tan Malaka (2008;4) bahwa aksi massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan politik mereka. Tak ketinggalan, Bung Hatta dan para pejuang, mengelola sebuah penerbitan atau media cetak (koran) yang melahirkan berbagai tulisan dengan topik-topik menarik seputar merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Media massa merupakan salah satu cara yang sangat potensial bagi peningkatan pergerakan perjuangan bangsa Indonesia.

Tak sampai di sana, pada masa kritis detik-detik memperoleh kemerdekaan bangsa Indonesia, perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang tak hanya berkutat di dalam negeri, tetapi juga harus ke luar negeri. Bung Hatta dan beberapa pejuang melakukan perjalanan ke beberapa negara di Asia, Belanda, dan kawasan lainnya. Bung Hatta belajar bagaimana taktik merebut kemerdekaan dan belajar berdiplomasi dengan para pembesar dunia, semisalnya orang-orang yang duduk di organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Beberapa kesempatan, Bung Hatta juga terdaftar sebagai pengurus organisasi di luar negeri, baik organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, politik, maupun ekonomi. Kesempatan ini pun dimanfaatkan oleh Bung Hatta dengan baik. Ia banyak belajar, menulis, dan berbagi pengalaman serta ilmu dengan para pejuang, kaum cendikiawan di Tanah Air dengan tulisan-tulisan yang dikirimnya dari luar negeri.

Organisasi dan Generasi Muda

Pascakemerdekaan, memasuki Orde Lama, Orde Baru, hingga Era Reformasi sekarang serta adanya kebebasan berserikat yang dilindungi oleh undang-undang, kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia semakin banyak dihiasi oleh berbagai organisasi. Organisasi ini lahir dengan latar belakang dan tujuan yang beragam. Organisasi-organisai ini ada yang berafiliasi dengan pemerintah, tapi tidak sedikit pula yang berdiri sendiri digawangi, tentu saja, oleh putra-putri bangsa yang kreatif, inovatif, dan suka pekerja keras. Mereka memiliki visi dan misi mulia dibarengi jiwa idealisme tinggi. Konsepnya tak jauh berbeda, mewujudkan kehidupan yang lebih bermartabat dan sejahtera, tak sebatas memanusiakan manusia tapi justru memuliakan manusia itu sendiri. Organisasi ini tersebar di masyarakat dan di lembaga-lembaga formal negara, salah satunya di perguruan tinggi. Organisasi-organisai ini ada yang bergelut di ranah politik, hukum, sosial, gender, Hak Asasi Manusia, kajian ekonomi, tenaga kerja atau buruh, jurnalis, sejarah, dan bejibun bentuk organisasi lainnya.
Penyebaran organisasi tersebut memang masih banyak di kota besar di Tanah Air.

Kecenderungan ini tak terlepas dari awak-awak pengurus organisasi dan permasalahan kompleks yang harus mereka tangani, kebanyakan di kota-kota besar. Kondisi ini bertolak belakang dengan masyarakat yang berada di pinggiran kota, kecamatan, hingga desa, yang organisasi serupa masih sulit ditemukan, walaupun tak jarang ditemukan kasus serupa yang ditimpa masyarakat tersebut. Sebagai contoh, perempuan korban Kekerasan dalam Rumah Tangga, gaji buruh yang tidak sesuai dengan perjanjian kontrak kerja, dan masih banyak ketimpangan lainnya. Tak sedikit jatuh korban karena kesewenang-wenang pihak yang tak bertanggung jawab serta lemahnya kemampuan korban atau pihak keluarga. Semua permasalahan ini tak akan terselesaikan oleh pemerintah, tak bermaksud meremehkan, jika tak ditopang oleh peran-peran lembaga organisasi sebagai mediasi sekaligus ‘juru selamat’. Organisasi, jika tak ingin melebihkan, menjadi langkah awal memperoleh kehidupan yang jauh lebih bermakna.

Menilik fenomena keinginan dan kebutuhan generasi muda saat ini untuk tergabung ke dalam organisasi-organisasi, yang tidak abal-abal tentunya, masih kurang menggembirakan. Keterlibatan generasi atau anak muda dalam sebuah lembaga cenderung lebih menyukai kepada hal-hal yang berbau kesenangan dan pragmatis. Hal ini sesuai dengan pengamatan di tempat penulis menimba ilmu, perguruan tinggi, ataupun beberapa berkaca pada tulisan di jurnal-jurnal dan media massa. Keterlibatan mahasiswa pada organisasi-organisasi di kampus tak sampai seperempat jumlah masiswa yang ada. Kebanyakan mahasiswa yang terlibat pun merupakan mahasiswa yang sudah terbiasa berorganisasi sebelum menjejak perguruan tinggi. Artinya, mahasiswa yang terlibat organisasi di kampus penulis, merupakan mahasiswa yang memiliki ‘gen’ atau keranjingan berorganisasi. Orang-orangnya, ya itu-itu saja.

Sementara sisanya, puluhan ribu mahasiswa, cukup puas terdaftar di kampus, belajar, dan sibuk mengurus diri sendiri. Hal ini menjadi pilihan mahasiswa dikarenakan sebagian besar waktu mahasiswa telah disita oleh kuliah dan beban-beban tugas dari dosen. Kesibukan kuliah acap kali menjadi pidato-pidato pledoi kebanyakan mahasiswa untuk enggan (tidak) bergabung dengan organisasi baik intra atau ekstra kampus. Mahasiswa capek dan kehabisan tenaga dengan berbagai tugas kuliah hingga waktu mengurus orang atau hal lain (berorganisasi) tak tersisa. Dalam konteks yang demikian, tak sedikit anggapan terhadap organisasi merupakan kegiatan buang-buang waktu dan sok peduli (care). Pengaruh globalisasi serta era yang serba digital, gaya hidup konsumtif, hedonisme, pergaulan bebas, yang tak lagi mengusung nilai-nilai luhur dan mulia, mengakibatkan rasa peduli, semangat nasionalisme, asas kejujuran, semakin menurun. Seharusnya perkembangan zaman disikapi dengan positif, sesuai dengan karakter, budaya, situasi nyata di negeri ini. Orang-orang menyebut perilaku ini sebagai perilaku banalisme, perilaku menyimpang. Anak muda semakin tak peduli, tak ambil tempat, serta masa bodoh terhadap lingkungan, masyarakat, bangsa bahkan diri mereka sendiri. Sebuah fenomena yang telah merajalela di masyarakat yang melanda anak muda, tak menutup kemungkinan bagi anak muda yang berpendidikan tinggi (perguruan tinggi).

Konstruksi Semangat Berorganisasi

Membangun jiwa agar suka dan betah berorganisasi memang tak mudah. Mereka-mereka yang tergabung dengan organisasi harus siap dan rela mengorbankan tak hanya waktu, tetapi juga tenaga, pikiran, dan materi. Kesiapan ini dituntut seiring banyak dan kompleksnya kegiatan organisasi yang harus diikuti. Awak-awak organisasi dalam lingkungan kampus lebih akrab dengan panggilan sebagai aktivis. Mereka aktif dengan organisasi, bergaul dengan banyak orang, memanajemen diri dengan baik tanpa mengorbankan studi selama di kampus. Mereka diasah berpikir cermat, tangkas, dan tepat dalam berbagai kondisi serta jenius mengambil keputusan tanpa mengorbankan hal lainnya. Sudah merupakan hal lumrah, ketika berorganisasi kurang mendapat dukungan baik dari teman, pacar, bahkan keluarga. Bagi mereka-mereka yang gigih dan paham dengan ‘jaminan’ yang diberikan oleh organisasi mencoba memberi pemahaman kepada yang menentang sehingga tetap lanjut berorganisasi.

Para aktivis ini sejak dini, awal kuliah, biasanya memiliki perencanaan atau grand design masa depan yang melangkah lebih jauh, besar, dan berbeda dari kebanyakan anak muda. Kehidupan sehari-hari mereka sibuk dengan kegiatan dalam dan luar kampus. Di sela-sela kegiatan itulah biasanya mereka mengerjakan tugas-tugas kuliah dan memperdalam ilmu di bidang atau jurusan masing-masing. Berat? Berat jika belum terbiasa dan luar biasa nikmatnya bagi mereka yang telah terbiasa. Hidup dengan penuh tekanan membuat seseorang jauh lebih cerdas dan tangguh ungkap salah seorang penulis fiksi kenamaan di daerah ini. Tentu saja dalam melakoni semua itu dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Berorganisasi tak hanya mendatangkan banyak teman dan relasi, namun ada sebuah ruang di relung jiwa, dengan berorganisasi, ruang itu akan penuh dengan kegembiraan, empati, kasih, dan patriotis pada sesama. Ini ‘jaminan’ yang didapat ketika terlibat dalam organisasi.

Berefleksi pada masa Bung Hatta berorganisasi, sungguh jauh lebih berat dan penuh dengan tantangan dan penindasan. Tak jarang organisasi mereka porak-poranda baik oleh sesama anggota maupun dari pihak luar. Pun demikian saat ini. Tak sedikit organisasi-organisasi, kebanyakan yang berdiri sendiri, diintervensi dan diteror oleh pihak-pihak yang menentang kegiatan organisasi tersebut. Bahkan ada yang memakan korban jiwa dari awak-awak organisasi. Belum lagi lembaga donor dari beberapa negera di luar negeri yang membantu organisasi namun memiliki kepentingan di balik semua bantuan tersebut. Apakah itu dalam bentuk data-data serta peta-peta keadaan dan arah perkembangan suatu negeri.

Hal senada juga kerap terjadi di lembaga pendidikan salah satunya dunia kampus. Keikutsertaan pihak kampus dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa memang tak menjadi masalah. Namun, jika keikutsertaan ini menyangkut kepentingan suatu kelompok apalagi bertentangan dengan idealisme organisasi, tentu kondisi ini sangat lah tidak sehat dan tidak fair. Organisasi kampus kerap ditunggani oleh suatu kelompok dan menjalankan apa-apa saja yang diinginkan oleh kelompok tersebut, apakah dari pihak di dalam kampus ataupun tidak. Para awak tak ubahnya seperti kacung yang distel dengan mudah oleh kepentingan tertentu. Tak hanya itu, kecenderungan anak muda yang serba instan dalam melakukan sesuatu, cuek atau apatis terhadap perkembangan di lingkungan tempat tinggal mereka semakin meningkat dan menimbulkan permasalahan baru dan berat. Mereka semakin tak peduli dengan keadaan bangsa dan negara yang kritis dan di ambang kehancuran. ‘Penyakit’ ini biasanya dengan mudah menyebar pada anak muda serta awak-awak organisasi jika tak dicarikan ‘obat’ yang termanjur.

Meskipun demikian, kondisi ini diharapkan tak akan mematahkan semangat generasi muda untuk selalu berpikir dan beraksi dengan cara membangun kerja sama atau berorganisasi. Kepentingan ideologi dan tentu saja pandangan terhadap politik sangat dibutuhkan untuk (kembali) membangun dan mengembang tanah Ibu Pertiwi. Anak muda harus dikembalikan perannya sebagai agen perubahan (agent of change) bangsa yang besar ini, begitu ungkapan kebanyakan orang tentang peran anak muda negeri. Menurut Mao Tse-Tung (2010;100), tokoh revolusioner Cina, anak muda yang cenderung apatis sebaiknya dikembalikan untuk lebih banyak belajar, selain memperlajari subjek belajar mereka, anak muda juga harus membuat kemajuan dalam wilayah politik, ideologi serta mengikuti peristiwa-peristiwa terkini. Bagi Mao, anak muda yang tidak memiliki pandangan politik yang benar dan terarah sama saja tidak memiliki jiwa. Sedemikian pentingnya sebuah ideologi, ideologi bersama dalam organisasi tentunya, sehingga tak dapat ditampik bahwa organisasi merupakan satu-satunya cara untuk dapat menaikkan harkat dan martabat banyak orang serta keadilan dan ketentraman bersama, karena dengan bersama kita akan lebih kuat dan berani.

Nah, meneladani bagaimana Bung Hatta berorganisasi dan tentu saja berpolitik pada masa perjuangan dulu sudah menjadi kewajiban, anak muda Tanah Air ini. Beliau, Bung Hatta serta para pejuang tak hanya mewariskan negara berdaulat dan kaya ini, tetapi warisan yang jauh lebih penting adalah karakter perjuangan dan kepribadian dari pendahulu bangsa. Harapan dan cita para pejuang, warisan ini tidak hanya dijaga dan dinikmati, namun dipertahankan dan dikembangkan untuk masa depan anak cucu sebagai pewarisnya. Kini, belum terlambat bagi anak muda, untuk ikut serta dalam percaturan politik dan arah perkembangan serta kemajuan Tanah Air dengan cara bergabung pada organisasi yang sesuai dengan harapan dan cita. Ketika terlibat dalam sebuah organisasi, berbaur dengan orang lain, merasakan pahit manis dan getar-getir kehidupan, serta melakukan sesuatu untuk mengangkat derajat dan harkat orang lain, secara tidak langsung pelaku organisai sudah mulai memperbaiki satu per satu permasalahan bangsa ini. Bukti kecintaan anak muda, rasa hormat, dan kebanggaan luar biasa pada Tanah Air dan para pendahulu bangsa ini adalah kepedulian pada sesama. Memang, kita tak bisa sekaligus menambal atau mengganti atap rumah yang bocor, kita harus melakukannya bertahap agar kegiatan keluarga di dalam rumah tetap berjalan dengan baik.

Kado Setelah Ujian Skripsi




Tak terasa sudah lebih tiga tahun menggeluti Program Studi Sastra Indonesia di salah satu kampus negeri kota Padang ini. Pada hari itu, Rabu, 20 Juli 2011, sekitar pukul 08.00 waktu setempat, saya mulai mempertanggungjawabkan tugas akhir atau skripsi yang saya buat di depan para penguji, baik yang bergelar professor, doctor, dan seterusnya. Memakan waktu sekitar 2 jam, saya mati-matian mempertahankan teori dan interpretasi saya mengenai gender dan feminisme di depan penguji. Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus oleh professor yang membimbing tugas akhir saya di kampus.

Sebelumnya, Selasa malam, saya menerima pesan pendek dari Panitia Lomba Menulis tentang Bung Hatta yang diadakan oleh Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi sekitar sebulan lalu, Juni 2011. Isi pesan itu, saya disuruh mengecek siapa saja yang beruntung menang dalam perlombaan tersebut, ada yang terpampang di home page nya ataupun terpampang di Harian Umum Singgalang pada Rabu itu. Ya, karena cukup sibuk mempersiapkan ujian akhir skripsi untuk besok paginya, kabar itu tak menyita perhatian hingga ujian berakhir.

Setelah bersalaman dan bercerita ria mengenai ujian akhir kepada teman-teman yang menunggu giliran, barulah teringat dengan home page yang dikabarkan oleh panitia lomba. Mbak, yang waktu itu tengah online dengan lepinya di depan jurusan, langsung saja disabotase untuk membuka situs yang bersangkutan. Loading dulu, dan gagal. Eh ternyata salah ketik. Ketik ulang, loading lagi, jumpa, diperbesar dan ini dia! Adek Risma Dedees menduduki urutan kedua dalam lomba tersebut dengan kategori umum dan mahasiswa. Senang sekali dan langsung menuju jurusan, mencari Singgalang hari itu dan berbisik kepada beberapa orang dosen sambil cengengesan.

“Selamat, selamat ya. Banyak untungnya nih,” kata salah satu dosen di jurusan tersebut. Saya mengucapkan terima kasih dan masih saja cengengesan.

Tak dinyana, teman SMA di Mukomuko ternyata tengah nongkrong di jurusan itu. Ketika berjumpa kami saling tawa dan berjabat tangan. Ia pun menjabat tanganku untuk kedua kalinya ketika mengetahui kabar indah ini. “Hebat nih Adek,” katanya sembari tertawa.

Ya, Alhamdulillah, setelah ujian kompre ternyata say jugaa mendapat peringkat dua dalam lomba tersebut. Cukup memotivasi saya menulis dan membaca lebih banyak serta belajar sejarah tentang bangsa yang kaya dan menyenangkan ini.

Esoknya, Kamis, pagi-pagi sekali saya telah berada di travel menuju Perpustakaan Proklamator Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kadang-kadang mual karena kecepatan mobil dan tanjakan yang diadu supir saja, membuat perut saya terguncang dan ingin memuntahan sesuatu. Perjalanan yang fifty- fifty.

Letak perpustakaan megah itu ternyata di atas bukit satu komplek dengan kantor Wali Kota Bukittinggi. Sepi dan asri sekali. Untuk kesekian kalinya saya mengunjungi kota ini. Setiap dikunjungi pasti ada yang berbeda dari kota berbendera merah ini. Apakah jalannya, pasarnya, tamannya, ataupun perasaan saya saja yang berbeda.

Sedikit terburu-buru saya memasuki ruang auditorium perpustakaan ini. Rupanya sedang ramai dan acara telah dimulai. Banyak anak dan remaja berkumpul di ruang tersebut. Rupanya ada lomba menggambar dan mewarnai antar Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, hingga Sekolah Menengah di Bukittinggi juga di perpustakaan ini.

Tak beberapa lama, puncak penyerahan hadiah pun dimulai. MC pun memanggil dan mempersilahkan setiap pemenang menaiki panggung. Hadiah langsung diserahkan oleh kepala perpustakaan dan entah wali kota entah wakil wali kota entah sekretaris wali kota atau apalah jabatan bapak berkopiah itu. Yang jelas ia senang dan bangga kepada kami para pemenang, dan tentu juga saya.

Sebelum meninggalkan perpustakaan megah itu, karena ini kali pertama saya ke sini, tak buang-buang waktu, langsung saja mneyusuri lekuk demi lekuk perpustakaan tersebut. Para pengelola yang cukup ramah dan rajin senyum semakin menambah kebetahan berlama-lama di sana. banyak sekali koleksi pustaka Bung Hatta ini, batin saya. Mulai dari sastra, bidang sosial, eksakta, kedokteran, IT, majalah kini dan dulu, dan bejibun lagi koleksi baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sebelum keluar dari pustaka ini, saya sempatkan melihat-lihat di Asean Corner, nyaman, lucu-lucu namun kaya ilmu. Sayang, di kota Padang, tak ada pustaka senyaman ini.

Cerita ini diakhiri dengan menggondol satu buku bajakan yang dibeli di kawasan Jam Gadang. Hal ini kerap saya lakukan. Maaf jika kurang mengenakkan. Dan beberapa kantong makanan khas Bukittinggi sebagai traktir setelah ujian kompre dan menang lomba menulis. Tak ada yang keberatan.

Komunitas, Perkumpulan, dan Asosiasi

Keinginan dan kebutuhan akan berkumpul, sejak memasuki era reformasi, semakin banyak dan subur bak cendawan di musim hujan. Apalagi, kebebasan akan berkumpul atau berkomunitas ini dijamin oleh pemerintah di dalam undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semakin banyaklah orang-orang berkumpul, mendirikan suatu lembaga, dan menjalankan semacam visi misi sesuai dengan cita-cita perkumpulan mereka.

Keinginan dan kebutuhan akan berkumpul kemudian membentuk suatu nama, apakah namanya komunitas, asosiasi, grup, persatuan, dan sederatan nama lainnya, cukup marak berkembang di masyarakat kota Padang ini. Beragam perkumpulan, mulai dari perkumpulan para pedagang, perkumpulan jurnalis, perkumpulan pecinta motor, perkumpulan pemerhati sastra, perkumpulan pemerhati pendidikan, perkumpulan pecinta makanan, dan ratusan bahkan ribuan perkumpulan lainnya yang tak bisa disebutkan. Kota Padang pun dipenuhi dengan berbagai perkumpulan, sebagai simbol, nuansa dialektika kita tak pernah padam.

Memasuki era digital ini, tingkat perkumpulan semakin melebar, tak hanya pada dunia nyata namun di dunia maya juga demikian. Sebut saja pada jejaring sosial Facebook, blog-blog, situs-situs, dan lainnya. Bahkan perkumpulan ini semakin masif dan memiliki banyak anggota di belahan bumi lainnya. Tak harus bertatap muka langsung, melalui berbagai fitur yang tersedia di dunia maya, hal itu bukanlah hambatan. Fantastik dan sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Di balik banyaknya perkumpulan yang muncul, sejauh mana perkumpulan-perkumpulan tersebut berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di kota Padang? Dan bagaimana jika seseorang atau suatu kampung tidak memiliki dan tergabung di dalam satu perkumpulan?

Kebutuhan akan perkumpulan tentu sangat penting di dalam kehidupan bermasyarakat. Perkumpulan yang beranggotakan banyak orang itu dinilai lebih efektif dan kuat dalam menyuarakan pendapat dan kebutuhan untuk kehidupan lebih bermartabat. Melalui perkumpulan pula, seperti yang sudah-sudah, dapat melakukan pembelaan (advokasi) terhadap masalah yang sedang dialami. Dengan perkumpulan diharapkan mampu memperoleh keadilan kehidupan yang semakin terciderai ini.

Walaupun demikian, perjalanan perkumpulan yang tumbuh hampir setara dengan semakin meredup bahkan terkuburnya suatu perkumpulan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. Tapi, kebanyaan faktor internal di dalam perkumpulan yang tak dapat diatasi oleh para awak perkumpulan. Semangat membentuk perkumpulan sangat besar dan menggebu-gebu. Namun setelah perkumpulan dibentuk, setelah berjalan beberapa minggu atau bulan, semangat itu mulai pudar dan berakhir tragis, para awak pergi dan perkumpulan tinggal nama.

Hal ini banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Penyebab utamanya, belum adanya niat yang kokoh serta visi misi yang jelas dalam menjalankan perkumpulan tersebut. Memang pada hari-hari pertama, perkumpulan akan diramaikan oleh para anggota yang waktu itu benar-benar ingin mewujudkan cita-cita yang diidamkan. Seiring waktu, tak asing, jika perkumpulan tersebut hanya diisi oleh orang-orang yang menjabat sebagai ketua, wakil ketua, dan sekretaris semata. Sedangkan anggota sibuk dengan kegiatan masing-masing bahkan kabur tanpa meninggalkan pesan.

Kendala lainnya adalah sumber dana dalam menjalankan roda perkumpulan. Ketersediaan dana kerap membuat perkumpulan berjalan mandek dan tak terarah. Bagaimanapun juga, ketersediaan dana merupakan faktor pertama yang jika tak dipenuhi mampu memicu keadaan kepada instabilitas, tak tenang bahkan kacau. Dalam mensiasati hal ini kerap pula para anggota dan pengurus merogoh kocek masing-masing untuk keberlangsungan perkumpulan tersebut. Awalnya tentu berat. Namun seiring waktu, perkumpulan yang ditangani dengan cermat dan serius tentu lebih mandiri dan tak lagi membebani pengurus secara finansial.

Dieng, Awal Peradaban Nusantara


Judul : Mata Air Peradaban, Dua Millenium Wonosobo
Pengarang : H.A.Kholiq Arif dan Otto Sukatno CR
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tebal : xxvi + 546 halaman
Cetakan : Pertama, Agustus 2010
Harga : Rp 100.000,-



Selama ini kita mengetahui kebesaran bangsa ini sejak dahulu kala melalui kebesaran Kerajaan Majapahit, Kerajaan Sriwijaya, serta kerajaan-kerajaan lain yang mengisi buku sejarah bangsa ini. padahal sejarah Nusantara pertama kali dibangun dan ditemukan di sekitar Komplek Dieng yang dikenal dengan Peradaban Dieng, sebagai sumber sejarah bangsa ini. Dari sinilah, sejarah Tanah Air dimulai dan berkembang ke pelosok Nusantara. Namun tak banyak yang tahu tentang Peradaban Dieng, Wonosobo, suatu daerah pegunungan di bagian tengah Jawa Tengah. Penemuan historisnya membuat kita semakin bertanya-tanya, masih banyakkah rahasia atau bahkan pembohongan generasi tentang sejarah bangsa ini?
Penulis buku ini, H.A Kholic Arif, seorang jurnalis dan Otto Sukatno CR, penulis buku, merangkai data dan fakta yang telah ada kemudian menginterpretasi menjadi cerita histori yang apik dan penuh makna. Kedua penulis ini yang justru bukan sejarahwan, menjabarkan bagaimana Peradaban Dieng lahir, nilai-nilai kehidupan yang diusung, perkembangannya hingga menuju Kerajaan Majapahit serta kerajaan lainnya di Nusantara, kemudian ketenggelaman Peradaban Dieng di muka bumi ini.
Kedua penulis ini sepertinya ingin membuka mata kita, pembaca, tentang sejarah bangsa ini yang entah bagaimana bisa berubah, tidak sesuai dengan bukti-bukti peninggalan masa lalu. Hal ini diperkuat dengan pendapat (Alm) Gus Dur yang memberi pengantar pada buku ini, bahwa sejak abab ke-8 M dan 9 M, Wonosobo telah mulai didiami oleh orang-orang Hindu-Budha. Beberapa sumber pun menyebutkan Peradaban Dieng telah ada pada abad ke-6 M. Pada abad-abad berikutnya kawasan ini semakin diramaikan oleh orang-orang sebagai tempat berdirinya kerajaan mereka. Berbagai etnis yang datang ke Wonosobo, ada Cina Islam, Tionghoa, dan Hindu-Budha. Tentu saja mereka hidup penuh dengan berbagai problema, seperti peperangan memperebutkan perempuan cantik, peperangan membela Tanah Air atau kerajaan mereka, bahkan berperang melawan raja zalim yang berkuasa waktu itu.
Buku ini memang bercerita tentang Wonosobo sebagai pusat Peradaban Dieng. Kedua penulis ini merunut sedemikian rinci apa-apa saja yang terjadi di Jawa Tengah pada abad ke-1 versi Raffles. Wangsa-wangsa, terutama wangsa Sanjaya dan wangsa Syailendra, yang berkuasa serta turunan mereka yang menguasai selanjutnya di Bumi Nusantara pada waktu itu, juga tak ketinggalan menjadi perhatian utama penulis untuk pembaca.
Tak sampai di sana, masyarakat dan pemerintahan Wonosobo pada perkembangannya masa itu, juga banyak dipengaruhi oleh budaya dan agama orang-orang Mesir dan Yunani. Berbagai patung dewa-dewi dengan mudah ditemui di kawasan Dieng ini. Sistem religius dan sistem pemerintahan waktu itu memang lebih banyak kepada animisme dan dinamisme. Dunia mitos dan pemikiran mistis pun memenuhi sistem kemasyarakatan di Dieng.
Selain pembahasan panjang tentang kehidupan masyarakat waktu itu, mulai dari mata uang, kekeluargaan, benda-benda filateli, pajak anjing, menuman keras, dan hal-hal menarik lainnya waktu itu di Dieng. Buku ini juga dilengkapi dengan lampiran-lampiran undang-undang dasar negara, peraturan pemerintah, administrasi kantor-kantor di Wonosobo atau di Dieng yang berangka tahun 1950-an. Sangat menarik dan menambah pemahaman pembaca tentang Peradaban Dieng serta Wonosobo.

Monday, 11 July 2011

Sitti Nurbaya, Feminis Minang Tahun 20-an

“…Cobalah kau pikir benar-benar, nasib kita perempuan ini! Dari Tuhan yang bersifat Rahman dan Rahim, kita telah dikurangkan daripada laki-laki, ‘teman kita’ itu. Sengaja kukatakan ‘teman kita laki-laki’ itu, karena sesungguhnyalah demikian walaupun banyak di antara mereka yang manyangka, mereka itu bukan teman, melainkan tuan kita dan kita hambanya…”(Rusli, 2002:201). Ucapan ini dituturkan oleh Sitti Nurbaya kepada Alimah di penghujung malam kehidupannya dalam roman Sitti Nurbaya karya Marah Rusli (PT. Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, cet. 37 tahun 2002). Ungkapan ini menggambarkan bahwa Sitti Nurbaya merupakan perempuan yang tak tinggal diam ketika nasib dan kehidupan perempuan Minang dan di ranah Minang (masih) mengalami diskriminasi dan ketidakadilan sosial berdasarkan perbedaan gender pada masa itu.

Sitti Nurbaya, anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya di Kota Padang, mempunyai toko-toko yang besar, kebun-kebun yang luas, dan beberapa kapal yang dapat mengangkat barang dagangannya lintas pulau (Rusli,2002: 14). Meskipun dari keluarga yang berkecukupan, Sitti Nurbaya digambarkan tidak memperoleh pendidikan tinggi seperti Samsulbahri, Arifin, dan Bakhtiar. Walaupun demikian, ia tumbuh dengan lingkungan dan pertemanan yang tidak ‘menghalalkan’ diskriminasi perempuan dengan laki-laki. Meski tak berbeda jauh dengan kehidupan Rohana Kudus atau R.A Kartini, tokoh fiktif Sitti Nurbaya tumbuh dan berkembang di dalam situasi yang siap menampung ide, dan keluh kesahnya. Ia bebas berpikir, mengkritisi, dan mengevaluasi hal-hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan nuraninya dan kemauan zaman.

Sitti Nurbaya keberatan dan menolak pandangan kebanyakan perempuan di tempatnya tentang sekolah atau pendidikan bagi para gadis. Sekolah hanya akan membuat perempuan menjadi jahat karena mereka bisa menulis, membaca, dan berhitung, serta menjadi aib keluarga besar nantinya. Tokoh Rukiah pun menjadi perempuan muda korban dari penanaman ideologi peran gender yang tidak adil ini. Demikian juga dengan pendapat bahwa perempuan hanya berperan di dalam rumah. Mereka bertugas hanya seputar dapur, sumur, dan kasur. Sitti Nurbaya menganggap pekerjaan ini tidak menambah kekuatan dan menajamkan pikiran. Menurut Fakih (2008:21) semua pekerjaan itu (baca; domestik) bukanlah pekerjaan produktif yang dihitung dalam statistik ekonomi.

Ranah Minang pada tahun 1890 atau masa roman ini ditulis oleh Marah Rusli, memang mengagung-agungkan derajat bangsa atau kebangsawanan turunan keluarga. Para penerus kebangsawanan ini biasanya sangat banggga dan tak jarang pula pongah ketika menyandang derajat kebangsawanan itu di tengah-tengah masyarakat. Anak perempuan mereka tidak mudah bergaul dengan sesama perempuan lainnya. Pada usia belasan tahun, si gadis pun dipingit di Rumah Gadang dan belajar semua keperluan keluarga dan suami sembari menunggu pinangan dari pemuda yang tentunya berasal dari keluarga bangsawan pula. Begitu juga dengan laki-laki yang berderajat selangkah lebih tinggi dari lelaki lainnya. Kebanyakan para lelaki bangsawan yang telah beristri ini hanya luntang-lantung dan menghambur-hamburkan uang kemana mereka suka. Adat yang menggariskan mereka tak harus bekerja, karena keberadaan istri dan anak merupakan tanggung jawab paman (saudara laki-laki dari ibu atau istri), kerap dijadikan tameng oleh laki-laki bangsawan untuk bersikap acuh tak acuh dan meninggalkan tanggung jawab mereka terhadap nasib anak dan istrinya. Pun ketika budaya beristri banyak (poligami) semakin akrab ditemukan di Ranah Minang. Sitti Nurbaya dan beberapa perempuan menentang budaya ini. “…Bukankah laki-laki seperti ini bisa disamakan dengan bapa kuda atau bapa sapi, yang dipelihara baik-baik dan diberi makan cukup, semata-mata hanya karena hendak mengharap keturunannya saja?” (Rusli,2002:196).

Masyarakat Minangkabau menganut sistem matrilineal yakni garis keturunan menurut garis ibu, namun praktik budaya patriarkhat tak terelakkan dalam masyarakatnya. Perempuan mengalami diskriminasi, subordinasi, kekerasan serta bentuk lainnya yang merupakan perwujudan (manifestasi) dari budaya patriarkhat, kekuasaan dominan di tangan laki-laki. Sebagai contoh pada proses pengambilan keputusan ataupun tindak kekerasan (baca; KDRT) yang dialami para perempuan. Hal-hal yang menyangkut kehidupan dan nasib perempuan selanjutnya kerap diputuskan oleh keluarga (patriarkhat) tanpa meminta persetujuan si gadis. Mulai dari perjodohan, agama, sosial, dan sebagainya. Sedangkan kekerasan fisik maupun psikis serta ketidakadilan kerap melanda perempuan, hanya dikarenakan ia lemah dan dianggap ‘pantas’ menerima semua itu. Menurut Fiorenza (Anwar, 2009:238) kekerasan berkaitan dengan prinsip kekuasaan sosial yang dimiliki oleh laki-laki yang cenderung merendahkan kedudukan perempuan dalam sistem sosial. Posisi perempuan (Minang) pun masih dalam ranah abu-abu dan sulit untuk dibanggakan.

Data statistik dari beberapa Women’s Crisis Centre menyatakan bahwa kasus pelecehan dan perkosaan terhadap perempuan, termasuk istri yang mengalami tindak kekerasan dari suami, terus meningkat setiap tahun (Subhan, 2006:57-58). Menurut Winata, dari keseluruhan populasi perempuan, nyaris 12% di antaranya, terutama di pedesaan, pernah mengalami tindakan kekerasan. Namun, KDRT ternyata bukan hanya isu perempuan pedesaan. Perempuan perkotaan dengan pendidikan dan pekerjaan yang kerap dianggap memiliki posisi tawar seimbang, ternyata juga tak terbebas dari tindak kekerasan. Kondisi ini memperlihatkan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan masih berjalan langgeng di Tanah Air hingga sekarang. Kenyataan ini tidak terlepas dari masih kuatnya ideologi gender yang mensosialisasikan bahwa laki-laki dan perempuan adalah individu berbeda, dalam kepribadian dan pola pikir, yang semakin banyak mengusung dan membakukan ketidakadilan sosial gender di masyarakat.

Sitti Nurbaya di dalam roman ini menentang dan menolak semua tindak diskriminasi itu dengan caranya sendiri. Ia yang tak menerima posisi perempuan sebagai hamba laki-laki, meminta cerai dan selalu memasang muka masam kepada suaminya, Datuk Maringgih. Bagaimanapun juga, pernikahan yang dilangsungkan antara Sitti Nurbaya dengan Datuk Maringgih, semata-mata hanyalah pernikahan untuk melunasi hutang piutang ayahnya, Baginda Sulaiman kepada Datuk Maringgih. Kekerasan psikologi ini diderita oleh Sitti Nurbaya lantaran agar sang ayah tidak dipenjarakan karena tak mampu melunasi hutang piutang itu kepada Datuk Maringgih. Hal ini menjelaskan bahwa perempuan (Sitti Nurbaya) kembali dinilai rendah, hanya sebagai barang (dengan nilai sepuluh ribu) yang mampu melunasi hutang piutang ayahnya.

Demikian pula dengan peristiwa pelecehan seksual yang dialami Sitti Nurbaya di atas kapal ketika ia berlayar menuju Jakarta, menyusul Samsulbahri. Penilaian ini tentu memberikan efek negatif kepada perempuan berupa subordinasi, stereotip, dan penurunan kepercayaan diri dari si perempuan. Di akhir perjuangan dan perlawanannya, Sitti Nurbaya mengorbankan kasih dan sayangnya tanpa berjumpa lagi dengan Samsulbahri, kekasihnya. Bagi Sitti Nurbaya ketulusan dan keikhlasan cinta dan kasih untuk membangun kehidupan yang baru, mutlak lahir dari orang-orang yang akan menjalaninya, bukan dari paksaan apalagi sampai mengebiri hak dan cinta mereka.

Usaha dan upaya membangun karakter bangsa yang berkesetaraan dan berkeadilan gender tanpa kekerasan harus dibangun dengan segenap partisipasi masyarakat sejak dini. Kekuatan, kecerdasan, dan penguasaan laki-laki atas perempuan tak ada nilainya jika relasi antara perempuan dan laki-laki tetap berjalan timpang dan tidak menciptakan kehidupan yang harmonis serta manusiawi. Sederhananya, ada kondisi umum yang membuat perempuan sama dengan laki-laki, namun ada pula kondisi khusus yang dimiliki perempuan yang membuatnya berbeda, tetapi bukan berarti untuk dibedakan.

Referensi
Anwar, Ahyar. 2009. Geneologi Feminis: Dinamika Pemikiran Feminis. Jakarta: Penerbit Republika.
Arivia, Gadis. 2006. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Fakih, Mansour. 2008. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rusli, Marah. 2002. Sitti Nurbaya. Jakarta: Balai Pustaka.
Subhan, Zaitunah. 2006. Kekerasan Terhadap Perempuan. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Winata, Raja Maspin. 2011. “Perempuan dan Perempuan”. Diakses pada Minggu, 3 Juli 2011 pada situs www.Pewarta-Indonesia.Com

Semangat Jos Soedarso nan Heroik


Judul : Konspirasi di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul
Operasi Patria Menyergap STC-9 ALRI
Penulis : Julius Pour
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : xiv + 290 halaman
Cetakan : Pertama, April 2011
Harga : Rp 58.000,-


Pertempuran di Laut Arafuru, malam pada 15 Januari 1962, yang sempat dikomandoi Komodor Laut Josaphat Soedarso atau Yos Sudarso beserta puluhan anak buahnya berakhir tragis. Kapal Perang Republik Indonesia Macan Tutul yang mereka andalkan tenggelam dan terkubur di dasar laut dengan menggenaskan. Operasi militer pembebasan Irian Barat dari cengkeraman Belanda itu tak hanya meninggalkan luka pilu, penyesalan, namun juga cerita konspirasi yang memiriskan. Kepentingan politik dan kekuasaan antargolongan di angkatan bersenjata waktu itu, tak dapat dielakkan. Sekaligus harus mengorbankan banyak jiwa, termasuk Komodor Jos Soedarso yang polos, ‘pembangkang’, namun tegas dan ksatria membela Tanah Air.

Semuanya bermula dengan pidato Tri Komando Rakyat (19 Desember 1961) oleh Presiden Sukarno di Yogyakarta. Salah satu isi Trikora yakni gagalkan pembentukan negara boneka Papua oleh Belanda. Operasi ini dilengkapi dengan tiga fase strategi militer: fase infiltrasi (penyusupan), fase eksploitasi (serangan masif kepada pusat pertahanan lawan), dan fase konsolidasi (penguasaan secara mutlak Irian Barat). Operasi ini pun dikenal dengan Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dengan komandan Mayjen Soeharto, yang dilakukan secara rahasia. Pada fase infiltasi inilah segala kemelut dan carut marut kinerja dari angkatan bersenjata yang dipunyai Republik ini terkuak plus tabiat orang-orang yang gila akan kekuasaan.

Pada setiap sub bab buku ini, pembaca akan digiring kepada masa detik-detik akan meletusnya perang di Laut Aru (Laut Arafuru). Komodor Jos Soedarso yang merasa ditantang oleh Presiden Sukarno waktu itu pun mengucapkan ‘… permintaanku hanya satu, izinkan aku ikut mendarat. Aku harus mengambil segenggam tanah Irian. Akan aku sampaikam kepada Bung Karno sebagai bukti, Jos Soedarso bukan pengecut seperti dituduhkan’. Ia pun bergabung dengan infiltran (sukarelawan) yang akan membebaskan Irian Barat di atas KRI Macam Tutul. Padahal ia tidak harus mengikuti tugas itu, karena Komodor Jos Soedarso menjabat Deputi I mengelola operasi, artinya ia orang nomor dua di Angkatan Laut Republik Indonesia waktu itu dan tak bertanggung jawab dengan operasi tersebut.

Namun, cita-cita ini dibalas dengan kegagalan karena operasi militer tersebut bocor dan disadap oleh angkatan bersenjata Belanda. Kebocoran rencana operasi ini bukanlah di tengah laut, namun sejak KRI Macan Tutul meninggalkan Tanjung Priok bertolak ke Irian Barat. Dengan mudah kapal perang dan penghancur HRMS Everston, HRMS Utrecht, dan HRMS Kostenaer milik Belanda membumihanguskan KRI Macan Tutul yang ditumpangi Komodor Jos Soedarso di Laut Aru. Pesan terakhir Komodor Jos, “Kobarkan semangat pertempuran. Matjan Tutul tenggelam dalam pertempuran laut secara gentleman dan brave. ”

Julius Pour, sang penulis, meriset semua hal tentang perang di Laut Aru melalui berbagai dukomentasi serta wawancara dengan peserta pertempuran di Laut Aru yang masih sehat wal afiat hingga sekarang. Selain sebagai kenangan akan pertempuran tersebut, buku ini juga mengupas ada apa di balik insiden tersebut yang hingga kini masih digantung. Buku ini cocok untuk menambah wawasan, belajar strategi perang, serta mempertebal rasa nasionalisme sebagai generasi muda maritim dari para pendahulu bangsa ini, salah satunya seperti Komodor Jos Soedarso. Jalesveva Jayamahe. Justru di laut kita jaya. Selamat membaca!

Ucap Dengar Budaya Kita

Tanah Air ini diikenal dengan negara agraris, memiliki kebudayaan yang berbeda dengan negara lain semenjak dahulu. Sebagai negara agraris para pendahulu kita, tidak banyak mengenal budaya baca tulis atau budaya literer. Hal ini dipengaruhi oleh cara hidup yang dominan bergantung ke alam, nomaden (berpindah-pindah) dan cenderung akan pemenuhan kebutuhan fisik. Dalam kondisi ini masyarakat kita tak begitu mengenal aksara -tak bermaksud menafikan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang memenuhi sejarah Nusantara. Untuk berinteraksi mereka berkomunikasi secara lisan dengan bahasa tertentu waktu itu.

Hingga saat ini, mengerucut kepada masyarakat Minangkabau, budaya ini masih segar dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi masyarakat Minangkabau yang kental dan akrab dengan budaya lisannya, mengalami permasalahan serius berkaitan dengan semangat baca tulis ini. Kita jauh lebih suka dan menikmati budaya ucap dan dengar (lisan). Alasannya, karena hal ini lebih menarik dan menyenangkan hati daripada membaca dan menulis yang cukup membosankan itu.

Padahal, masyarakat Minang pernah memiliki orang-orang bagak yang tidak hanya rancak berujar (berdiplomasi) tetapi cakap pula menulis (menyampaikan ide-ide mulia). Orang-orang bagak ini tak hanya mengharumkan tanah kelahirannya, ranah Minang, membuat bangga generasi selanjutnya, tetapi juga disegani oleh suku dan bangsa lain. Ada Buya HAMKA, Ibrahim Datuk Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Bung Hatta, dan deretan nama lainnya. Orang-orang bagak ini, fenomenal dan dikenang dunia.

Hemat penulis, kita tak perlu mengambinghitamkan budaya ucap yang telah membumi itu. Hanya saja, menumbuhkembangkan betapa pentingnya banyak membaca dan menulis itu jauh lebih bermanfaat, menarik, dan ‘seksi’ daripada hanya berujar dan mendengar. Tak sampai di sana, setelah dikampanyekan, juga diperlukan kesadaran tinggi dari masyarakat kita, khususnya anak muda yang tengah menempuh pendidikan, pada budaya membaca dan menulis ini.

Penyair Taufik Ismail dan rekan-rekannya telah merintis hal ini pada tahun 1999 lalu. Pelatihan yang diberi nama Membaca Buku, Menulis Karangan, dan Apresiasi Sastra (MMAS) itu, banyak menghasilkan penulis hebat namun ada pula yang ampo. Begitu juga dengan Dewan Kesenian Sumatera Barat yang pernah mengadakan pelatihan menulis senada pada tahun 1995. Hasilnya, cukup memuaskan, namun seiring waktu penurunan kualitas dan kuantitas pengarang atau penulis juga tak bisa ditampik di ranah Minang ini.

Akan tetapi, kita tak boleh pasrah dan acuh tak acuh pada keadaan yang mulai memperihatinakan ini. Sikap masa bodoh takkan mampu mengubah keadaan, justru memperparah. Membudayakan membaca dan menulis hingga detik penghabisan tentu selalu didengungkan kepada generasi selanjutnya. Setiap kita dapat berperan dengan cara masing-masing. Apakah dalam bentuk grup-grup kecil atau komunitas, yang tidak hanya care tetapi juga beraksi untuk mengentaskan sindrom antibacatulis ini. Termasuk media massa cetak dan elektronik yang berperan sebagai perpanjang tangan hal serupa kepada khalayak ramai.

Fantasi Manusia Yunani di Zaman Prasejarah


Judul : Mitologi Yunani
Pengarang : Edith Hamilton
Penerjemah : A. Rachmatullah
Penerbit : ONCOR Semesta Ilmu
Tebal : xiv + 314 halaman
Cetakan : Pertama, 2011
Harga : Rp 60.000,-



Yunani sebagaimana yang diketahui oleh dunia, merupakan bangsa yang memiliki peradaban besar dan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat dan bangsa lain di muka bumi. Yunani menjelma, dengan segala keagungan dan kekuatannya, menjadi negara dan bangsa yang diperhitungkan hingga saat ini. Negeri itu tumbuh dan menguasai berbagai elemen, terutama dalam ilmu pengetahuan serta kebudayaan dunia dengan tokoh-tokoh termansyur yang hidup jauh sebelum masehi. Kemansyurannya pun masih dikenang dan dipelajari oleh masyarakat masa kini.
Setiap bangsa di dunia pasti memiliki sejarah, cerita-cerita tentang bagaimana bangsa tersebut lahir dan berkembang, begitu juga dengan bangsa Yunani. Yunani sebagai bangsa yang besar, hidup penuh dengan mitologi-mitologi yang diciptakan oleh masyarakatnya sendiri. Mereka hidup dan bersatu dengan mitologi-mitologi tersebut dengan damai dan menyenangkan. Penciptaan tentang mitologi pun erat kaitannya dengan latar belakang sebuah bangsa, apakah buruk ataupun baik.
Bangsa Yunani dahulu kala pernah mengalami kehidupan purba, biadab, dan brutal. Seiring waktu bangsa ini melahirkan mitologi yang berisi cerita yang tidak lagi mengungkap kehidupan yang tidak manusiawi tersebut untuk diceritakan kepada anak cucu, generasi selanjutnya. Mitologi-mitologi yang berkembang di Yunani merupakan suatu bukti bahwa Yunani berhasil mengangkat kehidupan dan peradaban mereka dari lumpur kotor dan kebiadaban.
Tak ingin melebihkan, sebagian kecil mitologi bangsa Yunani tersebut terangkum dalam buku setebal 314 halaman ini. Mitologi Yunani berisi berbagai kisah tentang para dewa serta manusia. Mulai dari dewa pemimpin bangsa Yunani terbesar, Zeus, serta saudaranya, istri, dan anak-anak Zeus yang ikut campur dalam kehidupan bangsa Yunani tempo dulu. Walaupun mitologi Yunani berisi cerita tentang para dewa bangsa tersebut bukan berarti mitologi-mitologi ini merupakan Bible, sebuah catatan keagamaan bangsa Yunani. Hal ini dikarenakan mitos tak berhubungan dengan agama. Mitos hanyalah penjelasan terhadap fenomena alam, hiburan, dan sebuah bukti pencaharian manusia terhadap apa-apa yang belum diketahui dengan baik sebelumnya.
Walaupun demikian, fantasi masyarakat Yunani ini mampu menyulap pemikiran banyak orang di dunia untuk percaya dan menjadi cerita-cerita yang perlu diceritakan kepada anak-anak muda sebagai generasi selanjutnya. Mitologi ini memiliki daya tarik dan kekuatan tersendiri bagi pembaca atau pendengar. Tak ketinggalan dalam mitologi Yunani penikmat atau pembaca juga dapat memetik manfaat dari apa yang disuguhkan. Begitu juga dengan buku bersampul ‘The Wooden Horse’ yang penuh dengan warna putih dan abu-abu sebagai latar belakangnya. Cukup memikat calon pembaca untuk menilik-nilik cerita apa yang tertera di dalam buku ini.
Buku terjemahan ini selain menyajikan kisah para dewa-dewi di Yunani pada zaman dahulu kala juga menceritakan berbagai pengalaman anak manusia yang kehidupan mereka langsung bersentuhan dengan para dewa. Menggunakan bahasa sederhana dan mudah dimengerti, pembaca akan digiring dari satu petualangan ke petualangan berikutnya yang kadang tentu tak masuk akal bagi masyarakat modern saat ini. Namun, tetap sarat muatan pengetahuan tentang Yunani yang penuh mistik dan daya tarik tersendiri. Selamat membaca!

Gus Dur

Ia telah wafat akhir tahun lalu. Kesedihan yang mendalam melanda bangsa ini. Bapak bangsa yang dibanggakan, diagungkan, sekaligus menggelitik, telah berpulang ke haribaan-Nya. Ia pemimpin yang meninggalkan jejak dalam, tidak hanya untuk golongan namun juga untuk nasional.
Latar belakang pesantren mengantarkannya sebagai pemikir umat yang beda dari kebanyakan. Tokoh civil society ini ditakdirkan sebagai pendidik, pemikir, dan penulis ide-ide bernas, cemerleng, sekaligus ‘liar’. Penggodokan dari pesantren, yang sarat islami, tidak membuatnya stagnan di sana. Namun, seiring waktu, pemikirannya berkembang merambah ke arah demokrasi, hak-hak asasi, problem mayoritas-minoritas, pluralisme, serta pemerintahan dan kedudukan agama-agama dalam kehidupan dunia. Begitu kompleks dan itu didalami dengan baik olehnya.
Perjalanan hidup Gus Dur dari Pesantren Tebuireng hingga kursi kepresidenan berjalan tidak begitu mulus. Keterlibatan penuhnya di NU juga mendapat sorotan yang tidak sedikit. Hal ini penting, mengingat selama tiga periode, 15 tahun, ia menduduki pucuk pimpinan NU dan menghembuskan napas-napas baru ke dalam organisasi ini. Napas-napas baru yang ia hembuskan tidak selamanya di setujui oleh petinggi-petinggi NU. Seperti pada tahun 1987, masa jabatan pertama, ia berani mengusulkan mengubah salam Muslim "assalamualaikum" menjadi salam sekular "selamat pagi”. Alhasil ia pun menuai kritik tajam dari pihak-pihak tertentu.
Pelan-pelan Gus Dur merangkak ke ranah politik dengan membentuk forum Demokrasi, pembentukan PKB, dan lebih luas memberikan akses kepada generasi muda untuk memasuki dunia politik. Walaupun PKB didominasi oleh orang-orang NU, namun Gus Dur menyatakan bahwa partai tersebut terbuka untuk semua orang. Berkoalisi dengan Amien Rais, Megawati, dan Sultan Hamengkubuwono X, Gus Dur pun mampu menggapai kursi kepresidenan dalam Pemilu 1999. Walau masa jabatan itu singkat dan berakhir sedikit sad ending, bukan berarti Gus Dur tidak berbuat apa-apa.
Selama masa jabatannya, gaya hidup dan gaya pemikiran Gus Dur banyak membawa perubahan dan perkembangan ke arah yang lebih sedikit ‘santai’ dan prosais, tidak lagi sakral dalam formalitas yang meng-agonia. Ia menampilkan gaya yang mampu menyulap pemikiran orang-orang di sekitarnya, bahkan masyarakat luas dengan pameo politik ‘gitu aja kok repot’. Kalimat ini menarasikan bahwa politik itu tidak harus dilaksanakan dengan gaya citra agung dan mulia. Namun di sisi lain Gus Dur mencoba menyerukan bahwa politik harus diketahui, dipahami, dan boleh dilakukan oleh setiap lapisan masyarakat. Tidak lagi terbatas pada kalangan elit dan beruang.
Gus Dur tampil dengan perilaku dan kepribadian apa adanya. Ia maju tanpa menjadikan dirinya sebagai orang yang harus dibanggakan dan disanjung. Justru pada akhirnya inilah yang membuat orang-orang menyanjung dan membanggakan Gus Dur. Citra yang ia bangun sedemikian apik, elok, dan berciri khas tersendiri. Hal ini justru membuat suasana politik negeri ini mudah dipahami, tetap mengandung kecerdasan sekaligus populis.
Sayang, ia dipanggil ketika bangsa ini masih dalam pesakitan yang akut. Dan justru kita masih sangat membutuhkan buah pikirannya. Ikhlaskan saja dan selamat jalan Gus Dur.

Saturday, 9 July 2011

Kultum KH. Zaenuddin MZ di Radio

Tanah Air kembali berduka dengan kepergian KH. Zaenuddin MZ, dai sejuta umat yang amat dicintai di negeri ini. Beliau pergi untuk selama-lamanya setelah serangan jantung yang dideritanya. Persis dengan sastrawan dan budayawan Wisran Hadi yang meninggal beberapa minggu lalu. Dai ini juga menderita yang sama.

Kepergian Dai ini cukup mengagetkan dan membuatku sedih. Kaget karena tak disangka sebelumnya, bahwa Dai yang luar biasa ini, energik, dan selalu menghibur jemaahnya dengan kotbah-kotbah memiliki riwayat penyakit jantung. Seperti yang diketahui bersama, penyakit ini sudah menjadi pembunuh nomor satu di negeri ini. Penyakit jantung pun menjadi penyakit yang populer di tengah-tengah masyarakat, baik perkotaan maupun pedesaan.

Sedih, ya siapa yang tak sedih ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintai, walaupun secara langsung saya belum pernah bertemu dengan beliau. Merasa kehilangan dan nelangsa, ketika mendengar Dai ini tutup usia karena serangan jantung. Sedikit cerita tentang Dai ini. Ketika menjalani pendidikan di perguruan tinggi negeri di kota Padang, Sumatera Barat, yang kental dengan nuansa Islaminya, kotbah-kotbah Dai semakin saya minati. Hampir empat tahun dan hampir setiap sore menjelang Maghrib kami, saya beserta teman-teman di kos menyimak kultum-kultum KH. Zaenuddin MZ melalui radio.Berbagai kebajikan dan teladan dari Rasulullah Saw dan para sahabat yang dapat kita ambil hikmahnya yang disampaikan oleh sang Dai. Dengan suaranya yang khas dan gaya berkotbah yang unik, saya merasakan ada kenyamanan, ketentraman, dan sangat terhibur dengan kultum beliau.

Kami mendengarkan kultum itu hanya tujuh hingga sepuluh menit sebelum azan Maghrib bergumandang di kota ini. Sesekali Dai menyisipkan kelucuan di antara kultum-kultumnya. Setiap kelucuan tentu saja diikuti dengan suara gelak tawa para jemaah, cukup khas, dengan suara-suara jemaah laki-laki muda. Beliau tak merasa terganggu. Saya berpikir, beliau memang memiliki konsep, menyampaikan kebajikan dan keteladanan di dalam ajaran agama sebaiknya tidak memberatkan para jemaah yang akan memikulnya. Saya membuat kesimpulan seperti ini bukan tanpa alasan. Alasannya, ketika para jemaah merasa terhibur dengan kultum-kultum beliau, secara tak sadar jemaah akan selalu mengingat kebajikan itu dalam kehidupannya sehari-hari. Jika telah diingat, Insyaallah akan lebih mudah melakukannya.

KH. Zaenuddin MZ melakukan itu semua penuh dengan perhitungan yang matang, saya yakin itu. Hal ini bisa dilihat dari setiap hari, pengikutnya semakin banyak. Orang-orang yang berguru dan menjadi jemaahnya ribuan bahkan jutaan umat. Sehingga tak heran beliau digelari sebagai Dai Sejuta Umat, luar biasa. Gelar yang tak mudah diperoleh oleh para dai dan ustadz-ustadz di negeri ini. Ini bukti kalau beliau sangat dicintai dan dibanggakan oleh anak bangsa dimana beliau lahir, tumbuh, kemudian wafat.

Sejak kecil, Abak (almarhum), ayah saya, kerap memberikan pengetahuan melalui kaset atau VCD yang memuat kultum-kultum seperti KH. Zaenuddin MZ, Aa Gym, UJe, dan sebagainya. VCD-VCD itu kerap diputar di ruang tengah (TV) menjelang salat Maghrib. Apalagi memasuki bulan suci Ramadan. Rumah kami akan diramaikan dengan suara-suara kultum serta tak ketinggalan nyanyian-nyanyian rohani, untuk ini Amak lebih banyak mendapat tempat. Amak sangat menyukai lagu-lagu qasidah dan nuansa Timur Tengah, gambus. Kami, para anak merupakan pendengar sejati.

Perlakuan seperti ini yang saya dapatkan dari kedua orang tua menyebabkan saya sangat menyukai pidato-pidato agama. Cukup menarik, saya tumbuh menjadi anak yang cukup pintar berpidato, baik di sekolah-sekolah maupun di dalam masjid. Ini masa lalu yang sangat Abak dan Amak banggakan dari saya. Setiap tahun, saya pasti ikut serta memberikan kultum kepada para jemaah salat Tarawih di masjid pada bulan suci Ramadan. Setelah kepergiaan Abak, saya gamang melanjutkannya. Namun, Amak tetap mendukung.

KH. Zaenuddin MZ, bagi saya guru berpidato yang sangat hebat. Walaupun, sekali lagi, saya tak pernah bersua secara langsung beliau dan memang beliau pasti tak kenal saya. Namun, melalui VCD dan menonton di TV saya banyak belajar bagaimana berpidato yang baik dan mencerdaskan pendengar. Sekarang beliau telah tiada, sama seperti Abak dan Pak Wis. Saya merasakan kehilangan sosok ayah untuk kesekian kalinya. Tetapi angin siang ini akan berhembus ke setiap penjuru dan kehidupan memang harus dilanjutkan, meskipun tak lagi ditemani oleh orang-orang hebat seperti Abak, Pak Wis, dan KH. Zaenuddin MZ. Selamat jalan kepada para sang teladan.

Sunday, 3 July 2011

Dinamika Bangsa: Potret Demokrasi Setengah Hati

Berkecamuknya perpolitikan bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah di dunia tahun ini, turut serta mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara di belahan dunia lainnya. Berbagai bidang kehidupan terbawa-bawa, perekonomian tentu saja, pendidikan tak dapat dielakkan, tak hanya sosial-budaya bahkan nyawa masyarakat sipil pun terancam, serta hubungan bilateral ataupun multilateral antarnegara tak menutup kemungkinan juga terkorbankan. Bak teori turbulensi, setiap kejadian yang terjadi di suatu tempat akan berpengaruh pada tempat lainnya, begitu juga hubungan antara Negara Kesatuan Republik Indonesia di Asia ini dengan Kerajaan Maroko di Benua Afrika sana.

Terlebih-lebih ketika, sedang hangat-hangatnya, Kerajaan Maroko melalui Raja Mohammed VI mengajukan proposal dasar reformasi perubahan konstitusi negara dan pemerintahan. Kerajaan Maroko yang selama ini menerapkan sistem monarki absolut, dikarenakan semakin melubernya pergolakan di negara-negara Islam, sistem ini pun kini dinilai kurang (tidak) fair dan tidak asyik lagi untuk kelangsungan kehidupan masyarakat banyak di Maroko. Dengan pertimbangan berat dan matang tentunya, Raja Mohammed VI pun menemukan solusi konkrit yang dinilai tepat dan konstruktif. Masyarakat Maroko pun ditawari sistem demokrasi ala sang raja.

Demokrasi, bentuk atau sistem yang banyak dianut oleh bangsa-bangsa dalam mengurusi negara dan pemerintahan dunia ini. Sistem ini bertolak dari kepentingan dan kebutuhan rakyat atau masyarakat banyak sebagai penentu kemudi, akan dibawa kemana suatu bangsa nantinya. Demokrasi yang lebih akrab pada telinga kita ialah semboyan ‘Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat’. Begitu kuat dan besarnya peran serta hak rakyat, suara rakyat adalah suara Tuhan, sehingga dalam konsep demokrasi, the king (president) can do no wrong hanyalah isapan jempol belaka. Demokrasi pun dinilai telah dan akan membawa kehidupan dan peradaban umat manusia kepada strata yang jauh lebih tinggi, mulia, dan bermartabat. Tak jarang pula demokrasi dijadikan anak emas peradaban modern oleh negara-negara di permukaan bumi ini. Termasuk di Indonesia dan menyusul, mungkin, Kerajaan Maroko.

Menjalankan roda pemerintahan dan negara tentu tidak dengan separuh hati apalagi main-main. Begitu juga ketika mencoba menerapkan sistem demokrasi di suatu negara. Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Kerajaan Maroko yang sama-sama memiliki mayoritas umat Islam, tentu sudah menjadi kewajiban dalam menerapkan suatu sistem haruslah sungguh-sungguh dan total atau kafah. Ketotalan atau keseluruhan ini akan berdampak kepada bidang dan lini-lini berikutnya, lancar atau tersendat, efektif atau justru pemborosan dalam pelaksanaannya. Ketotalan ini pun menunjukkan keseriusan pemerintah atau negara menyelamatkan dan memajukan negara dan bangsa dari ancaman chaos serta kehancuran dari peradaban dunia.

Menghadapi kemelut bangsa, baik yang tengah dihadapi Indonesia di dalam negeri maupun Kerajaan Maroko di Afrika sana, ada baiknya mengecek kembali cara kerja pemerintah dan pemahaman akan konsep yang tengah diterapkan oleh bangsa masing-masing. Mengevaluasi setiap tindakan yang telah dilakukan tentu sudah menjadi pekerjaan para pemimpin kita di atas sana. Tetapi, mengkaji dan mengevaluasi suatu pekerjaan besar dan saling terkait, seperti konsep demokrasi ini, tak bisa hanya dengan menggunakan satu jenis kaca mata. Beragam sudut yang harus ditelisik, bermacam warna yang harus disigi tidak dengan satu paradigma. Ada banyak perspektif yang digunakan untuk bisa mengukur, kemudian menemukan satu indikator dan standarisasi yang bisa diambil sebagai patokan bertindak yang sesuai dengan harapan banyak orang. Dan jangan sekali-sekali berpragmatisme, karena hal ini berkaitan dengan kelangsungan kehidupan umat manusia.

Keakuratan evaluasi penerapan sistem ini erat kaitannya dengan cita-cita demokrasi yang diimpikan dan diagung-agungkan oleh banyak bangsa, pun oleh Indonesia dan Kerajaan Maroko. Jika tidak sungguh-sungguh, alih-alih memosisikan umat manusia sebagai subjek, justru dehumanisasi yang berlangsung. Bukan kesejahteraan yang tercipta, malahan ketimpangan, kemerosotan moral, dan ketidakadilan yang terjadi. Pendulum yang digerakkan oleh pranata-pranata modern justru bergerak ke sisi yang berseberangan dengan konsep negara Magribi dan bumi Ibu Pertiwi ini. Jauh panggang dari api. Kita tak mau dan tak bisa membiarkan itu terjadi. Di dalam demokrasi, pertanggungjawaban, transparansi, dan akuntabilitas menjadi poin penting dan dijunjung tinggi. Maka, tak ada yang salah ketika kita dan para pemimpin tengah mempelajari suatu konsep atau sistem pada waktu bersamaan sistem itu dijalankan. Perlahan-lahan transformasi itu akan mengalir dan menuju tepat pada porosnya.

Demikian juga dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Kerajaan Maroko. Hubungan persahabatan yang telah dibina selama setengah abad lebih, jangan sampai kandas begitu saja ketika sistem pemerintahan yang dianut tak sama atau berbeda dalam pengejawantahannya. Sistem demokrasi yang telah dan akan diterapkan, sebaiknya selalu diikuti dengan berbagai diskusi dan tukar pikiran antarnegara. Sikap terbuka, selalu belajar dari pengalaman, dan dekonstruktif perlu dikedepankan oleh kedua belah pihak agar hambatan-hambatan yang dialami dalam pelaksanaannya segera teratasi dengan baik. Komunikasi intensif ini harus dikemas dengan kreatifitas yang apik dan menjadi nafas baru yang sarat akan optimisme antara kedua negara.

Apalagi Indonesia yang menganut sistem politik bebas dan aktif yang tentunya sangat sinkron dengan politik Maroko. Sistem politik ini diharapkan mampu mengembangkan dan memajukan kedua negara dalam berbagai bidang, terutama bidang pemerintahan serta politik yang kini tengah dilanda kegalauan. Sebagai saudara, Indonesia dapat merasakan ketidaknyamanan yang dialami baik oleh pemerintah Kerajaan Maroko maupun masyarakatnya. Dan sebagai saudara pulalah, Indonesia memiliki tanggung jawab dan peran dalam membantu menciptakan kedamaian dan ketentraman di Maroko, yang mulai bergejolak saat ini. Begitu juga dengan Kerajaan Maroko. Walaupun dipisahkan oleh laut luas dan gunung menjulang, Maroko tentu tak menjadikan hal itu alasan untuk tidak care dan simpati kepada Indonesia yang juga tengah dilanda masalah nasional.
Hubungan bilateral yang telah dibangun, jangan hanya sebagai catatan kaki antara kedua negara, namun merupakan senjata dalam berdiplomasi dan sebagai tameng untuk menghindari campur tangan pihak asing yang dianggap memiliki kepentingan tertentu di balik bantuan yang ditawarkan. Tak berburuk sangka, namun sikap kehati-hatian hendaknya selalu diperhatikan dan saling mengingatkan satu sama lain demi terciptanya suatu bangsa, Indonesia dan Maroko, yang moderat dan inklusif. Menyambut Hari Nasional Kerajaan Maroko, 30 Juli 2011 kelak, hendaknya dijadikan sebagai momentum untuk kembali menggairahkan dan menyulut semangat reformasi dan kemajuan untuk kedua negara.

Petualangan Lain di Jurnalistik


Judul : Mencari Tepi Langit
Penulis : Fauzan Mukrim
Penerbit : Gagas Media
Genre : Novel
Tebal : viii + 284 halaman
Cetakan : Pertama 2010
Harga : Rp 37.000,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP


Jika selama ini kita banyak membaca karya sastra yang ceritanya bergelut pada titik percintaan, adat, perang, agama, maupun filsafat, mungkin takkan membosankan ketika menyelami karya sastra, novel, dengan sedikit pergeseran ke arah lain, dunia jurnalistik atau kewartawanan. Tak banyak memang, karya fiktif yang mengangkat persoalan utama di dalam cerita tersebut berkutat dengan dunia media cetak atau pers. Di Tanah Air pun karya serupa masih tergolong jarang ditemukan yang bisa dinikmati oleh ‘penggila novel’.
Dunia jurnalistik, tak jauh berbeda dengan bidang lainnya, memiliki keunikan dan keasyikan tersendiri di dalamnya. Pun ketakenakan dan kesewenang-wenangan kerap membayangi awak-awak yang bergiat di lembaga tersebut. Semua hambatan itu tentu bisa dicarikan solusinya, apakah dengan cara-cara beradab ataupun ‘konyol’ dengan menertawai nasib sendiri. Di dunia nyata hal tersebut lumrah, tetapi bagaimana jika dunia kewartawan digarap dengan fiktif dan style bercerita yang berbeda dengan novel lainnya? Hal inilah yang dilakukan oleh Firman Mukrim, lelaki kelahiran Sulawesi Selatan dengan riwayat hidup jurnalis.
Novel Mencari Tepi Langit mengisahkan kehidupan dua jurnalis muda dengan berbagai pengalaman liputan di daerah bencana dan tempat lainnya. Tak hanya itu, pencarian siapa sebenarnya Horizon Santi, gadis adopsi keluarga ber-ada di Ibu Kota, juga menyemarakkan cerita ini plus gelora-gelora cinta dari sang jurnalis yang kadang tengik minta ampun. Memang, pembaca akan lebih banyak disuguhi dengan cerita pengalaman liputan tokoh utama, Senja Utama Senantiasa kepada teman perempuannya.
Buku bersampul daun ditimpa mentari ini pada hakikatnya menyampaikan pesan kepada pembaca, bahwa kehidupan seseorang akan bergantung dan berpengaruh kepada orang lain, baik langsung ataupun tidak. Pengarang menganalogikan dengan teori turbulensi dan menyontohkan jika kepak sayap kupu-kupu di Kirgistan dapat menyebabkan badai di Pantura. Lebay? Pembaca akan segera tahu dengan menyimak novel tersebut.
Novel jurnalistik dengan gaya bahasa popular ini menyajikan dua cerita dengan latar dan tokoh yang berbeda. Pengalaman liputan menghadapi GAM di Aceh, kriminal dan teroris di kota-kota besar Tanah Air, kuliner di tempat-tempat wisata, serta lainnya menambah warna bacaan pembaca tentang dunia jurnalistik yang mungkin tidak mudah dipahami. Pada beberapa bab, penulis sengaja menyisipkan guyonan-guyonan ala jurnalis di tempat ia bekerja dengan melibatkan etnis-etnis di nusantara. Suku, agama, ras, dan antargolongan cukup dimaknai sebagai kepanjang dari SARA. Jadi, tak ada pembicaraan yang sensitif dan sakit hati jika nama-nama jurnalis itu diganti begitu saja, tulis penulis.
Novel ini selain menarik dibaca oleh ‘penggila novel’ juga akan menambah ‘pengalaman fiktif’ bagi jurnalis sendiri dimanapun berada. Buku ini tak hanya sebatas hiburan, tetapi juga sebagai salah satu cara pembuka diri, jika tak ingin dikatakan curhat, bagi (sebagian) jurnalis kepada publik, kalau pekerjaan yang dilakukan menjanjikan resiko yang tidak kecil yakni keselamatan hidup. Dengan latar beragam di Nusantara, pembaca juga diperkenalkan dengan istilah-istilah daerah di beberapa tempat yang masih asing. Sangat menginpirasi dan selamat membaca.