Wednesday, 29 June 2011

Wisran Hadi Dipanggil Sang Pencipta

Lelaki 66 tahun itu terbujur kaku dengan raut wajah seperti biasanya, namun sedikit pucat. Di atas tempat tidur sederhana, ia tidur-dan akan lebih panjang dari biasanya-berselimutkan kain panjang batik plus semacam selempang yang dipakai lelaki Minang (maaf saya tidak tahu persis apa namanya), berwarna ungu menghimpit jenazah, sang inspirator itu. Sedangkan selendang tipis putih menutupi leher hingga kepalanya yang abu-abu. Ya, ia Wisran Hadi yang kita kenal sudah dipanggil Sang Pencipta pagi tadi pukul 07.30 WIB, Selasa (28 Juni 2011) di Lapai, kota Padang. Begitu penggalan pesan pendek yang saya terima dari Darman Moenir, guru menulis saya. Hujan rintik-rintik mulai menyirami kota ini. Langit dan alam seolah berduka akan kepergian lelaki 'nyentrik' dan pemberani ini hingga dini hari, Rabu (29 Juni 2011) perayaan Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw.

Di sisi kanan jenazah terbujur, duduk bersimpuh perempuan tua dan sabar yang senantiasa mendampingi Wisran Hadi sekitar puluhan tahun belakangan. Ia Puti Reno Raudha Thaib, seorang Bundo Kanduang di kota Padang. Mengenakan baju kurung putih motif bunga-bunga kecil hijau, profesor ini menyambut salam dan tanya setiap pelayat berkenaan dengan perihal suaminya tercinta. Sesekali ia merapikan kerudungnya yang tak lagi rapi. Gurat-gurat kesedihan di wajahnya menggambarkan betapa ia kehilangan seorang junjungan dan kekasih tersayang yang teramat dalam. Di balik wajah sendu itu, ia berharap dimasa mendatang akan lahir seorang pejuang yang mungkin persis sama dengan style suaminya dalam berkarya, seperti pada apa yang telah diperjuangkan suaminya selama ini. Setidaknya hal itu terwakili dengan pesannya, "Terima kasih Nak. Doakan dan lanjutkan perjuangan Bapak," ujarnya dengan suara serak kepada kami.

Dug, hatiku berdegub kencang dan mulai tak tenang meninggalkan rumah duka itu. Di perjalanan pulang, pesan sang profesor selalu mengiang hingga aku menulis tulisan ini. Mampukah aku mentransformasi cara berpikir ala Wisran Hadi? Pertanyaan itu pun membayangiku setiap kali aku sendiri dan ketika melihat buku-buku yang berserakan di kamar. Aku tak banyak membaca dan mengikuti perkembangan karya dan pemikiran Wisran Hadi, selain rubrik Jilatang dan Kabagalau di koran Padang Ekspres serta Ota Kusie Bendi di harian umum Haluan, sesekali menyimak artikel-artikel yang ditulisnya di koran-koran di kota ini. Itu saja, tak banyak memang.

Beberapa gadis muda menemani istri Wisran Hadi, perempuan yang tak kalah hebatnya menulis dengannya. Setiap pelayat yang ingin melihat wajah Wisran Hadi untuk terakhir kali, gadis-gadis ini selalu membantu membukakan selendang, memenuhi keinginan para pelayat. Beberapa pelayat di ruang tamu itu, kebanyakan perempuan, tengah berbincang pelan dan mengaji di sekitar jenazah Wisran Hadi. Tak jauh dari tempat tidur yang menopang jenazah untuk terakhir kali, beberapa kain kafan, sabun mandi, bunga dan harum-haruman, serta perlengkapan jenazah, telah tersedia. Siap digunakan untuk mengafani salah satu budayawan serta sastrawan kebanggan ranah Minang itu. Ah, tak berapa lama lagi ia akan meninggalkan tahan sakti ini selama-lamanya.

Sementara di luar sana, pelayat yang kebanyakan laki-laki, sedang berbincang-bincang, mempersiapkan proses penguburan, mempersiapkan tempat untuk ta'ziah serta memasang karangan bunga berbela sungkawa dari berbagai elemen dan lembaga. Ada saudara dan kolega dari keluarga yang berduka, sesama budayawan dan sastrawan, para pekerja media, pejabat publik, masyarakat biasa, dan anak muda 20an seperti kami yang merasa dekat dan kehilangan dengan Wisran Hadi. Semua berbaur dan bercengkerama tentang cerita-cerita dan kehidupan sang jenazah.

Wisran Hadi yang 'Pembelok'

Ketika Wisran Hadi menerima penganugerahan baru-baru ini, dan saya mengikuti informasi tentang karyanya, ketika itu pula saya melabelinya sebagai sastrawan dan budayawan yang 'membelok'. 'Membelok' disini bagi saya adalah orang yang memandang suatu keadaan yang tidak sama dengan kebanyakan sastrawan atau budayawan lain memandangnya. Analoginya, jika sastrawan atau budayawan 'membelok' hanya 90 derajat, Wisran Hadi 'membelok' hingga 180 derajat. Ada sesuatu yang patut ditanyakan, dikritisi, dan pantas ditertawakan dengan memberi makna yang sangat dalam. Dan itu semua memang perlu 'dimintai pertanggungjawabannya'. Wisran Hadi melakukan itu dengan banyak mendapat tantangan dari pihak-pihak yang tidak merestui arah berpikirnya.

Tak cukup sampai di sana, Wisran Hadi dengan sikapnya yang 'membelok' itu, kerap membelokkan atau membalikkan suatu pakem yang sudah diamini oleh banyak orang-termasuk pejabat dan orang-orang seprofesi dengannya-dengan santai dan merasa tak ada yang janggal di sana. Padahal masyarakat sekota Padang atau se Sumatera Barat panik dibuatnya. Semisalnya pementasan Imam Bonjol oleh Teater Bumi yang dikomandoi oleh Wisran Hadi, yang pementasannya dikawal oleh ratusan aparat kepolisian waktu itu di Jakarta. "Padahal penampilan teater itu biasa-biasa saja. Tak ada yang perlu dikawal, seperti melakukan tindak kriminal saja," kata Wisran Hadi pada detik-detik menjelang penganugerahan serta di suatu petang ketika saya mengikuti pelatihan menulis esai dengannya.

Mengikuti 'pembelokan' yang dilakukan Wisran Hadi hanya dari cerita-cerita orang yang dekat dengannya, gambar-gambar pementasan masa silam yang bahkan ketika saya belum lahir, serta pada pengakuan waktu penganugerahan itu. Ia melakukan itu semua dikarenakan dirinya yang tak bisa menerima begitu saja apa yang diperbuat oleh pemerintah kemudian diamini masyarakat banyak, yang bisa saja tidak sesuai dan bertentangan dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. "Patokan kita adalah agama," pungkas Wisran Hadi pada pelatihan itu.

Selain itu, 'pembelokan' yang dilakukan Wisran Hadi berkaitan dengan sikap kebanyakan orang Minang yang suka mencemooh, mancimeeh. Orang Minang memang suka mencemooh apa saja yang dilakukan orang lain atau pemerintah. Termasuk orang-orang terdekat saya. Menurut saya mencemooh ini erat kaitannya dengan sikap yang kritis serta iri hati. Dan Wisran Hadi dalam pandangan saya lebih dekat pada pencemooh yang kritis. Ia mencemooh, mengkritisi semua yang terjadi di ranah Minang dengan gayanya yang khas dan sedikit melucu, namun tetap tajam dan membangun. Karakter mencemooh yang seperti ini yang tidak dimiliki banyak orang di ranah Minang dan inilah yang saya tulis sebagai 'pembelok' tadi.

Salah satu tulisan saya yang dikritisi oleh Wisran Hadi, 'Sisir'. Ia menawari kami menulis hal-hal kecil yang terlupakan banyak orang, padahal jika dikemas dengan apik akan bermakna dan memiliki banyak pelajaran bagi masyarakat. Singkatnya, Wisran Hadi menyarankan saya dalam tulisan itu, "Jika tak ada sisir di rumah, tak jadi soal dan jangan panik. Segera gunaka jilbab, walaupun awalnya hanya sebagai penutup kepala yang awut-awutan, semoga nanti akan menambah keimanan," ujarnya. Hal kecil yang dikemasnya dengan letupan-letupan emosi dan membuat pembaca mengangguk-angguk "Itu benar dan kenapa tidak dilakukan." Begitu Wisran Hadi mengajari kami bagaimana cara 'membelok' yang konstruktif walau kadang mendapat cibiran.

Hingga saat ini, saya belum mampu berpikir dan menulis dengan seribu 'pembelokan' itu. Tapi Wisran Hadi telah tiada. Hari ini, Rabu (29 Juni 2011) ia telah tidur pada tempat yang tidak biasa. Duhai 'pembelok' selamat beristirahat dan jalan panjang yang akan kau tempuh mungkin masih sama dengan kami-kami di sini.

Ebiet G. Ade menulis dalam Camelia IV,

Surgalah di tanganmu
Tuhanlah di sisimu
Kematian hanyalah tidur panjang,
Maka mimpi indahlah engkau, Camelia

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^