Wednesday, 29 June 2011

Wisran Hadi Dipanggil Sang Pencipta

Lelaki 66 tahun itu terbujur kaku dengan raut wajah seperti biasanya, namun sedikit pucat. Di atas tempat tidur sederhana, ia tidur-dan akan lebih panjang dari biasanya-berselimutkan kain panjang batik plus semacam selempang yang dipakai lelaki Minang (maaf saya tidak tahu persis apa namanya), berwarna ungu menghimpit jenazah, sang inspirator itu. Sedangkan selendang tipis putih menutupi leher hingga kepalanya yang abu-abu. Ya, ia Wisran Hadi yang kita kenal sudah dipanggil Sang Pencipta pagi tadi pukul 07.30 WIB, Selasa (28 Juni 2011) di Lapai, kota Padang. Begitu penggalan pesan pendek yang saya terima dari Darman Moenir, guru menulis saya. Hujan rintik-rintik mulai menyirami kota ini. Langit dan alam seolah berduka akan kepergian lelaki 'nyentrik' dan pemberani ini hingga dini hari, Rabu (29 Juni 2011) perayaan Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw.

Di sisi kanan jenazah terbujur, duduk bersimpuh perempuan tua dan sabar yang senantiasa mendampingi Wisran Hadi sekitar puluhan tahun belakangan. Ia Puti Reno Raudha Thaib, seorang Bundo Kanduang di kota Padang. Mengenakan baju kurung putih motif bunga-bunga kecil hijau, profesor ini menyambut salam dan tanya setiap pelayat berkenaan dengan perihal suaminya tercinta. Sesekali ia merapikan kerudungnya yang tak lagi rapi. Gurat-gurat kesedihan di wajahnya menggambarkan betapa ia kehilangan seorang junjungan dan kekasih tersayang yang teramat dalam. Di balik wajah sendu itu, ia berharap dimasa mendatang akan lahir seorang pejuang yang mungkin persis sama dengan style suaminya dalam berkarya, seperti pada apa yang telah diperjuangkan suaminya selama ini. Setidaknya hal itu terwakili dengan pesannya, "Terima kasih Nak. Doakan dan lanjutkan perjuangan Bapak," ujarnya dengan suara serak kepada kami.

Dug, hatiku berdegub kencang dan mulai tak tenang meninggalkan rumah duka itu. Di perjalanan pulang, pesan sang profesor selalu mengiang hingga aku menulis tulisan ini. Mampukah aku mentransformasi cara berpikir ala Wisran Hadi? Pertanyaan itu pun membayangiku setiap kali aku sendiri dan ketika melihat buku-buku yang berserakan di kamar. Aku tak banyak membaca dan mengikuti perkembangan karya dan pemikiran Wisran Hadi, selain rubrik Jilatang dan Kabagalau di koran Padang Ekspres serta Ota Kusie Bendi di harian umum Haluan, sesekali menyimak artikel-artikel yang ditulisnya di koran-koran di kota ini. Itu saja, tak banyak memang.

Beberapa gadis muda menemani istri Wisran Hadi, perempuan yang tak kalah hebatnya menulis dengannya. Setiap pelayat yang ingin melihat wajah Wisran Hadi untuk terakhir kali, gadis-gadis ini selalu membantu membukakan selendang, memenuhi keinginan para pelayat. Beberapa pelayat di ruang tamu itu, kebanyakan perempuan, tengah berbincang pelan dan mengaji di sekitar jenazah Wisran Hadi. Tak jauh dari tempat tidur yang menopang jenazah untuk terakhir kali, beberapa kain kafan, sabun mandi, bunga dan harum-haruman, serta perlengkapan jenazah, telah tersedia. Siap digunakan untuk mengafani salah satu budayawan serta sastrawan kebanggan ranah Minang itu. Ah, tak berapa lama lagi ia akan meninggalkan tahan sakti ini selama-lamanya.

Sementara di luar sana, pelayat yang kebanyakan laki-laki, sedang berbincang-bincang, mempersiapkan proses penguburan, mempersiapkan tempat untuk ta'ziah serta memasang karangan bunga berbela sungkawa dari berbagai elemen dan lembaga. Ada saudara dan kolega dari keluarga yang berduka, sesama budayawan dan sastrawan, para pekerja media, pejabat publik, masyarakat biasa, dan anak muda 20an seperti kami yang merasa dekat dan kehilangan dengan Wisran Hadi. Semua berbaur dan bercengkerama tentang cerita-cerita dan kehidupan sang jenazah.

Wisran Hadi yang 'Pembelok'

Ketika Wisran Hadi menerima penganugerahan baru-baru ini, dan saya mengikuti informasi tentang karyanya, ketika itu pula saya melabelinya sebagai sastrawan dan budayawan yang 'membelok'. 'Membelok' disini bagi saya adalah orang yang memandang suatu keadaan yang tidak sama dengan kebanyakan sastrawan atau budayawan lain memandangnya. Analoginya, jika sastrawan atau budayawan 'membelok' hanya 90 derajat, Wisran Hadi 'membelok' hingga 180 derajat. Ada sesuatu yang patut ditanyakan, dikritisi, dan pantas ditertawakan dengan memberi makna yang sangat dalam. Dan itu semua memang perlu 'dimintai pertanggungjawabannya'. Wisran Hadi melakukan itu dengan banyak mendapat tantangan dari pihak-pihak yang tidak merestui arah berpikirnya.

Tak cukup sampai di sana, Wisran Hadi dengan sikapnya yang 'membelok' itu, kerap membelokkan atau membalikkan suatu pakem yang sudah diamini oleh banyak orang-termasuk pejabat dan orang-orang seprofesi dengannya-dengan santai dan merasa tak ada yang janggal di sana. Padahal masyarakat sekota Padang atau se Sumatera Barat panik dibuatnya. Semisalnya pementasan Imam Bonjol oleh Teater Bumi yang dikomandoi oleh Wisran Hadi, yang pementasannya dikawal oleh ratusan aparat kepolisian waktu itu di Jakarta. "Padahal penampilan teater itu biasa-biasa saja. Tak ada yang perlu dikawal, seperti melakukan tindak kriminal saja," kata Wisran Hadi pada detik-detik menjelang penganugerahan serta di suatu petang ketika saya mengikuti pelatihan menulis esai dengannya.

Mengikuti 'pembelokan' yang dilakukan Wisran Hadi hanya dari cerita-cerita orang yang dekat dengannya, gambar-gambar pementasan masa silam yang bahkan ketika saya belum lahir, serta pada pengakuan waktu penganugerahan itu. Ia melakukan itu semua dikarenakan dirinya yang tak bisa menerima begitu saja apa yang diperbuat oleh pemerintah kemudian diamini masyarakat banyak, yang bisa saja tidak sesuai dan bertentangan dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. "Patokan kita adalah agama," pungkas Wisran Hadi pada pelatihan itu.

Selain itu, 'pembelokan' yang dilakukan Wisran Hadi berkaitan dengan sikap kebanyakan orang Minang yang suka mencemooh, mancimeeh. Orang Minang memang suka mencemooh apa saja yang dilakukan orang lain atau pemerintah. Termasuk orang-orang terdekat saya. Menurut saya mencemooh ini erat kaitannya dengan sikap yang kritis serta iri hati. Dan Wisran Hadi dalam pandangan saya lebih dekat pada pencemooh yang kritis. Ia mencemooh, mengkritisi semua yang terjadi di ranah Minang dengan gayanya yang khas dan sedikit melucu, namun tetap tajam dan membangun. Karakter mencemooh yang seperti ini yang tidak dimiliki banyak orang di ranah Minang dan inilah yang saya tulis sebagai 'pembelok' tadi.

Salah satu tulisan saya yang dikritisi oleh Wisran Hadi, 'Sisir'. Ia menawari kami menulis hal-hal kecil yang terlupakan banyak orang, padahal jika dikemas dengan apik akan bermakna dan memiliki banyak pelajaran bagi masyarakat. Singkatnya, Wisran Hadi menyarankan saya dalam tulisan itu, "Jika tak ada sisir di rumah, tak jadi soal dan jangan panik. Segera gunaka jilbab, walaupun awalnya hanya sebagai penutup kepala yang awut-awutan, semoga nanti akan menambah keimanan," ujarnya. Hal kecil yang dikemasnya dengan letupan-letupan emosi dan membuat pembaca mengangguk-angguk "Itu benar dan kenapa tidak dilakukan." Begitu Wisran Hadi mengajari kami bagaimana cara 'membelok' yang konstruktif walau kadang mendapat cibiran.

Hingga saat ini, saya belum mampu berpikir dan menulis dengan seribu 'pembelokan' itu. Tapi Wisran Hadi telah tiada. Hari ini, Rabu (29 Juni 2011) ia telah tidur pada tempat yang tidak biasa. Duhai 'pembelok' selamat beristirahat dan jalan panjang yang akan kau tempuh mungkin masih sama dengan kami-kami di sini.

Ebiet G. Ade menulis dalam Camelia IV,

Surgalah di tanganmu
Tuhanlah di sisimu
Kematian hanyalah tidur panjang,
Maka mimpi indahlah engkau, Camelia

Monday, 27 June 2011

Pesawat Terbang di Atas Atap

Sejak Rabu (22/7) kemarin pesawat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara berputar-putar di Kota Padang. Jejeran spanduk di sepanjang jalan Kota Padang, menerangkan atraksi ini akan berakhir empat hari kemudian, Minggu (26/7). Para awak penerbang ini melakukan berbagai atraksi di udara dalam rangka perayaan Aerosport Show TNI AU di Kota Padang. Ada yang terjung payung, atraksi gantole, serta tak ketinggalan pesawat-pesawat TNI AU berseliweran setiap sekitar lima menit sekali. Cukup menghibur sekaligus memekakkan telinga.

Pagi ini, Kamis (23/7) kami sedang menikmati kerupuk dengan sambal lado, ya sebut saja sebagai sarapan anak-anak kos yang jauh dari Ibunda. Sedang asyik-asyiknya makan sambil bercengkerama dengan teman-teman tiba-tiba dengung pesawat dari jauh dan mendekat di atas pemondokan kami. Sepertinya dekat sekali dengan atap rumah, karena derunya begitu kencang dan membuat kami menggigil. Semoga saja tak jatuh, harap-harap kami sembari menelan kerupuk-kerupuk tak bervitamin itu.

Seiring waktu beberapa pesawat mulai menghiasi angkasa yang semakin terang benderang. Kota Padang yang sedang dilanda hujan ringan mulai senja hingga subuh, sepertinya welcome begitu menerima ada puluhan pesawat lalu lalang di angkasa. Ah hiburan gratis dan jarang sekali bagi warga kota Padang.

Memang ketika, kemarin siang saya berjalan-jalan dengan angkutan kota, masyarakat kota ini begitu antusias menyaksikan Aerosport Show ini. Di sepanjang jalan yang angkot lalui hampir setiap bibir jalan diramaikan oleh orang-orang yang menyaksikan berbagai atraksi tersebut. Dari berbagai usia merasa terhibur dan penasaran sehingga mereka tak jenuh-jenuhnya menengadah ke angkasa guna memperoleh hiburan langka ini. Bahkan puluhan remaja lelaki sengaja duduk-duduk di pembatas dua jalur jalan raya dan menyaksikan atraksi tersebut tanpa merasa terganggu oleh deru dan debu kendaraan lalu lintas yang berseliweran. Wajah bangga, lugu, dan terhibur sekali.

Seorang Ibu muda sembari tersenyum kepada anaknya, sekitar lima tahun, menunjukkan beberapa penerjung payung menghiasi angkasa kepada buah hatinya. “Aeromodellingnya bagus kan?” ujarnya sambil melirik ke wajah anaknya yang terpaku menyaksikan atraksi terjung payung tersebut. Si Ibu bangga dan mengiring anaknya memasuki kawasan Lanud Padang, di Tabing, Kota Padang.

Di sana sudah menunggu berbagai penampilan dan hiburan seputar TNI AU. Ada pesawat tempur, pesawat kecil, gantole, senjata perang, radio perang, pakaian perang, tali temali, dan berbagai macam perlengkapan TNI AU. Tempat bermain anak-anak pun disediakan di tempat seluas sekitar satu hektar itu. Di terpa sinar matahari siang, pengunjung tak merasa bosan dan kepanasan dengan berbagai stand serta hal-hal lain seputar TNI AU dan promosi berbagai kekayaan suatu daerah termasuk surat kabar lokal di Sumatera Barat.

Aerosport Show barangkali salah satu cara bagi personil TNI AU untuk meningktakan eksistensi mereka sekaligus ajang sosialisasi kepada masyarakat tentang peran dan fungsi tentara udara ini. Sayangnya, masyarakat belum mampu memaknai dengan terbuka dan efisien apa dan bagaimana peran atraksi yang disuguhkan oleh TNI AU kepada masyarakat. Masyarakat banyak menilai ajang ini hanya sebagai hiburan udara cuma-cuma sebagai pelepas lelah bekerja dan cara menghibur anak yang sedang rewel. Selebihnya tak jelas.

Walaupun tidak seimbang dengan pengeluaran yang dikorbankan TNI AU (baca;negara), setidaknya ajang ini cukup menghibur masyarakat yang mengeluarkan decak kagum kepada TNI AU. Apakah ini salah satu cara membangun citra TNI AU di mata masyarakat kota Padang? Atau ajang ini merupakan pembiasaan kepada masyarakat bagaimana kondisi perang ketika pesawat berseliweran di atas atap rumah? Karena tak sedikit juga masyarakat dan mahasiswa beranggapan ajang ini merupakan pembiasaan kepada masyarakat ketika perang terjadi di Tanah Air. Perang Indonesia dan Malaysia? Ah tak tahulah.

Tuesday, 21 June 2011

Rame-rame Wakafkan Buku pada KPM



Musibah gempa bumi yang meluluhlantakkan Kota Padang, Sumatera Barat tahun 2009 lalu, tak hanya memakan korban jiwa dan harta benda, tetapi juga mengakibatkan Kota Padang serta masyarakatnya mengalami kerugian yang jauh lebih besar, ribuan bahkan ratusan ribu koleksi buku, majalah, jurnal, serta dokumentasi tentang Sumbar hilang, rusak, bahkan hancur. Menyisakan puing-puing yang tak berarti. Dampaknya, masyarakat Sumbar kehilangan bahan bacaan yang beragam dan berkualitas. Hal inilah yang mendasari berdirinya Komunitas Padang Membaca (KPM) di Kota Padang yang dipelopori oleh Yusrizal KW dan kawan-kawan pecinta buku. Mereka menyebutnya Kawan Sapabukuan. Komunitas ini pun telah dideklarasikan pada 23 April 2011 lalu di Padang.
“Selain itu, kita juga tak bisa terus-menerus bergantung kepada pemerintah untuk menyediakan buku dan bahan bacaan murah serta berkualitas kepada masyarakat banyak. KPM hadir untuk memfasilitasi masyarakat dan anak-anak Minang agar dapat membaca buku yang berkualitas serta bervariasi,” terang Yusrizal KW, selaku Ketua KPM, Minggu (12/6) di Galeri Utama Taman Budaya Sumbar.
Dalam acara ‘Satu Cinta untuk Gerakan Membaca, Ayo Bersama Wakafkan Buku’ Yusrizal KW menerangkan tugas KPM hanya sebagai penyalur buku-buku untuk taman-taman bacaan yang tersebar di Kota Padang dan sekitarnya. Buku-buku yang diwakafkan oleh Kawan Sapabukuan akan diserahkan kepada taman bacaan sesuai dengan konsep dan jenis buku yang ada pada taman bacaan tersebut. Pada acara yang sama, KPM juga merekrut calon anggota KPM yang nantinya akan diikutsertakan dalam berbagai kegiatan KPM.
“Keuntungan lainnya, KPM berusaha setiap anggota KPM akan mendapatkan diskon sebesar 10 persen setiap pembelian satu eksemplar buku di toko buku Sari Anggrek dan Gramedia di Kota Padang dengan hanya memperlihatkan kartu anggota KPM,” kata Yusrizal KW kepada sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan, seperti pelajar, mahasiswa, dosen, wartawan, dan pengelola taman bacaan.
Hal ini bertujuan, lanjutnya, agar Kawan Sapabukuan mendapatkan buku yang lebih murah dan berkualitas di tengah mahalnya harga buku dan kepentingan kapitalisme dalam dunia perbukuan masa kini. KPM juga berusaha mensosialisasikan Ayo Membaca kepada masyarakat dengan program-program yang akan dilaksanakan KPM.
“Anggota KPM diharapkan juga mampu menularkan ‘virus’ membaca kepada masyarakat. KPM menjadikan membaca sebagai tren, cool, dan aksi peduli kepada Tanah Air Indonesia,” pungkasnya.
Dalam acara tersebut KPM menerima buku sekitar ratusan eksemplar dari wakaf Kawan Sapabukuan. Acara ini juga diselingi dengan musikalisasi puisi dari Teater Noktah serta diskusi tentang KPM, buku, dan taman bacaan di Sumbar.

Kesenian Reog dan Balas Dendam



Kesenian reog yang kita kenal sekarang, ternyata berbeda dengan kesenian reog ketika masa dulu atau waktu reog itu sendiri dilahirkan. Perbedaan-perbedaan tersebut muncul dan berkembang sesuai dengan generasi penerus dan zamannya. Reog, ternyata tak hanya kesenian belaka, namun seni tradisi ini kaya sejarah dan budaya dari salah satu daerah di Tanah Air ini. Di tangan Han Gagas, novel Tembang Tolak Bala, menyajikan perihal tersebut dengan apik dan memukau.
Berawal dari petualang jiwa seorang bocah, Hargo. Ia tergolong anak yang berbeda dari kawan-kawan seusianya. Ketika koma, tak sadar diri sekitar sebulan, ia mengalami petualang jiwa dengan berbagai tokoh kharismatik yang membesarkan tradisi reog di Ponorogo. Beruntun, penggalan sejarah dan kisah kelahiran, kebiasaan, dan budaya reog ia dapati dari berbagai tokoh dan warok, pendekar sakti pemanggul reog ketika pertunjukan seni reog Ponorogo.
Tak hanya itu, Hargo, tokoh utama novel ini justru dijadikan sebagai gemblak dalam petualangan batinnya. Gemblak merupakan anak laki-laki tampan belasan tahun yang dipelihara warok dan dijadikan sebagai pemuas nafsu seksualnya tanpa berhubungan intim dengan istri atau perempuan lain, karena berhubungan dengan perempuan akan melunturkan ilmu kesaktian warok. Mirisnya, ia disetubuhi oleh eyangnya sendiri, karena tradisi gemblak itu. Penulis pun membubuhi novel ini dengan kisah Sodom-Gomora dalam Al-Kitab, semakin menyayat batin tokoh utama tentunya. Hargo pun diasuh oleh pembesar-pembesar reog dan menyelami berbagai kisah reog pada zaman Majapahit dengan raja Brawijaya V, raja terakhir Majapahit.
Selanjutnya novel ini menyajikan berbagai kemelut dan keganjilan yang ditemui Hargo. Seperti de javu, Hargo bertemu dengan orang-orang yang sepertinya telah ia jumpai dalam dunia yang berbeda. Justru dengan tokoh-tokoh tersebut ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi baik dalam petualangnya maupun masa depannya kelak. Tak hanya itu, bayang-bayang masa kecil dengan Mei Ling, gadis cilik yang menghiasi hari-hari bermainnya berganti dengan kehadiran gadis-gadis belia seperti sosok Juni dan Juli memenuhi masa remaja hingga dewasanya.
Di penghujung cerita, Hargo yang telah dikarunia oleh pembesar reog dengan kesaktian, tembang tolak bala, berjumpa dengan Juli, gadis manis keturunan pesaing leluhur Hargo. Benci dan dendam tak dapat ditepik, bapak Juli sendiri pun pernah mengirim bala hingga bapak Hargo terbunuh sadis. Namun, kemurnian hati dan rasa cinta satu dengan lainnya dapat mengalahkan dendam keturunan dan menuju pencerahan dalam dua keluarga besar tersebut.
Warok Hargo pun memunculkan seni reog Ponorogo yang wajar dan lebih ‘sehat’, tetap ‘sakti’ tanpa gemblak, hidup dengan istri dan anak-anak. Ia melanjutkan seni reog Ponorogo kebanggan daerahnya yang penuh cerita dan kearifan. Sedangkan kesaktian senandung tembang tolak bala dan pusaka aksara tetap ia miliki sebagai perisai ampuh penangkal segala yang jahat. Jelas menarik dan selamat membaca.

NII dan Romantisme Masa Lalu


Gerakan pembentukan Negara Islam Indonesia (NII) baru-baru ini yang memakan banyak ‘korban’ menjadi perbincangan hangat serta menjadi topik aktual di tengah-tengah masyarakat. Semua media cetak dan elektronik mengabarkan gerakan yang digawangi oleh anak-anak muda cerdas, pendukung gerakan jihad, dan baik langsung maupun tidak bergulat dengan perpolitikan nasional, setiap hari dengan berbagai berkembangannya. Tak kalah menariknya untuk diikuti, mayoritas pengikutnya berasal dari dunia kampus atau perguruan tinggi. Mahasiswa; kalangan elite, cukup berduit, dan tentu saja lebih cerdas dari masyakarat kebanyakan.
Historinya, tahun 1949 lalu, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pernah memproklamasikan Negara Islam dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) beserta para pendukungnya waktu itu. SM Kartosoewirjo dan rekan-rekan seperjuangan mengganggap pembentukan negara baru akan menjadi pilihan terbaik di tengah mundurnya negara dalam memberikan kehidupan yang lebih sejahtera, bermartabat, serta mulia. Tanah Air masih berduka. Peperangan tetap merajalela, agresi Belanda tak sedikit mengorbankan jiwa raga para pejuang demi membela Tanah Air, walaupun teks proklamasi kemerdekaan telah diproklamirkan. Dalam kondisi demikianlah DI/TII lahir, sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintahan sekaligus berjihad di medan perang.
Sejarah keinginan mendirikan sebuah Negara Islam atau Negara Khilafah yang berlandaskan syariah berlanjut hingga 30 tahun ke depan. Tahun 1980-an muncul kelompok yang saat itu popular dengan sebutan N-11, nama untuk menyebut Negara Islam Indonesia (NII). Ya, penggeraknya dari golongan menengah, anak muda dari kampus. Mereka tak hanya cerdas, memiliki semangat jihad yang tinggi, dan tak ketinggalan strategis ‘berperang’ yang mengagumkan. Dengan mudah tampil di depan publik serta menyita banyak perhatian. Kemudian lenyap seolah-olah ditelan bumi, dan kembali membuat berbagai perdebatan panjang yang cukup memusingkan negara dengan aksi-aksi dan ‘teror-teror’nya. Motifnya, tak jauh berbeda dengan cita-cita SM Kartosoewirjo tempo dulu. NII atau sejenisnya hingga sekarang menjadi semacam ‘hantu’ yang ditakuti baik oleh para pemegang tampuk perguruan tinggi, pemerintah, maupun para orang tua. Istilah baiat, lantik atau kukuhkan, serta cuci otak pun menjadi populer namun terpeyorasi dan penuh dengan konotasi tersendiri.
Buku ini merekap semua seluk beluk tentang NII. Mulai dari kelahiran, perjuangan, apa yang dicita-citakan oleh pergerakan senada dengan NII terbentang dengan lengkap dan apik. Sang duo penulis guru besar buku ini merangkum sejarah dan masa depan NII, serta bangsa ini, dalam konteks demokrasi, corak atau bentuk pemerintahan yang dipakai di negeri ini. Bagaimana kelangsungan sebuah negara yang dibayang-bayangi keinginan membentuk sebuah negara di dalam negara dan dengan landasan yang berbeda? Duo penulis ini menceritakan secara detail, tanpa menyalahkan ataupun membenarkan salah satu pihak (baca; NKRI dan NII).
Fokus penceritaan buku ini selain hubungan romantisme gagasan pembentukan Negara Islam, juga memotret bagaimana pandangan masyarakat Indonesia yang kebanyakan memeluk agama Islam mengenai praktik demokrasi, bantuan luar negeri (nonIslam) yang banyak membantu Tanah Air. Selain itu, buku ini juga mengupas tentang penerapan syariah Islam, kesetaraan gender, serta sistem politik serta pemerintahan yang dicita-citakan sejak dahulu. Semua perihal tersebut dikupas dengan komprehensif, kelengkapan data dan penelitian terdahulu, serta dengan opini yang tidak menggurui.
Gaya penyampaian buku ini bak penutur langsung yang bercerita namun tetap santai dengan bahasa-bahasa populernya. Memang sekali-sekali pembaca akan dihadapkan pada kata-kata nonbaku dan sulit dimengerti, namun tak akan mengurangi peran buku ini sebagai penambah khasanah pembaca akan demokrasi di Tanah Air dan NII yang disertai dengan beberapa lampiran Teks Proklamasi NII. Cukup mengusik dan selamat membaca.

Etika Religius Ala Buya Hamka



Kasus mafia pajak Gayus Tambunan yang menyita perhatian masyarakat atau publik sejak hampir setahun lalu masih menyisakan tanda tanya besar. Tanda tanya baik bagi penegak hukum yang langsung menangani kasus ini maupun masyarakat yang hanya bisa mendengar dan menyaksikan lewat televisi-televisi di rumah. Artinya kasus ini belumlah menemukan titik terang. Penggelapan uang rakyat, korupsi, kolusi, dan nepotisme masih subur, awet, bahkan terpelihara apik di republik ini.
Kasus Gayus hanyalah salah satu kasus yang menghebohkan Tanah Air. Sebelumnya, beberapa kasus besar yang merugikan rakyat dan bangsa juga sudah berseliweran di tengah-tengah pandangan kita. Kasus lumpur Lapindo, kasus Bank Century, pembunuhan aktivis Munir, serta kasus lainnya masih saja menggantung dan tak jelas rimbanya. Lembaga hukum yang seharusnya menyelesaikan kasus ini dengan tangkas hanya menjadi penonton layaknya masyarakat luas. Lembaga hukum tak berdaya. Panitia khusus, panitia kerja, ataupun satuan tugas yang dibentuk juga tak banyak memberi bantuan. Masyarakat kecewa dan menganggap pemerintah semakin tak becus mengurus negara. Pemerintah dan para elit hanya sibuk mengurusi diri sendiri dan golongan. Etika berbangsa centang perenang, melenceng dari rel yang sesungguhnya, persatuan dan kesatuan berbangsa pun semakin goyah.
Penulis buku ini, Dr. Abd. Haris menangkap fenomena semakin tipisnya etika anak bangsa dalam hidup berbangsa dan bernegara melalui deretan permasalahan dan kasus yang menyeruak ke tengah-tengah masyarakat. Salah satu pemikiran yang menyentak penulis ialah dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang akrab kita kenal Buya Hamka, dengan etika religiusnya. Dari serentetan ilmu yang dikembangkan Buya Hamka, penulis lebih meruncingkan pada etika. Etika yang dibangun atas peleburan tawhid, ilmu agama yang religious, serta filsafat yang bersifat rasional.
Buku ini menjelaskan bagaimana pemikiran Buya Hamka yang secara pribadi lebih banyak mengedepankan rasio dalam berpikir terutama menjelaskan teks-teks agama yang didakwahkannya. Tauhid selain sebagai pandangan hidup (way of life) bagi Buya Hamka juga merupakan landasan dalam hidup bermasyarakat. Indonesia yang telah meletakkan tauhid sebagai sila pertama pada landasan negara, ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ merupakan keputusan yang tepat. Namun, ketauhidan yang didengung-dengungkan, menilik keadaan bangsa dewasa ini, justru melahirkan pandangan pesimis bagi anak bangsa. Seseorang yang memang memiliki ketauhidan yang baik, seharusnya melahirkan iklim kehidupan yang egaliter, menjunjung kedamaian, tidak menindas, menolak perbudakan, hidup saling menguatkan persaudaraan, apalagi kesombongan karena turunan.
Penulis yang juga dosen di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya ini menjabarkan bagaimana faktor internal akal mendorong seseorang melakukan perbuatan moral dan bagaimana pula syahwat mendorong seseorang melakukan perbuatan amoral. Menurut Buya Hamka, manusia dengan akalnya mampu mengetahui dan melakukan perbuatan yang baik karena dalam pandangan Buya Hamka manusia mempunyai kemampuan kekuatan yang dominan dalam menentukan perbuatannya. Dengan demikian, Buya Hamka melihat perbuatan seseorang muslim dalam melakukan perbuatannya, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk, adalah pilihan bebasnya dan harus bertanggung jawab terhadapnya.
Walaupun pada awalnya buku ini adalah hasil penelitian penulis, namun pada akhirnya buku ini lebih banyak membahas etika terapan, seperti etika pemerintahan, etika profesi, etika bisnis, etika keadilan, dan lainnya. Perubahan isi atau muatan buku ini mampu membuka cakrawala pengetahuan kita tentang etika yang jika selama ini kita ketahui hanyalah etika dalam mata pelajaran agama atau pelajarana kewarganegaraan di sekolah-sekolah. Siapa saja cocok, terutama kaum pelayan publik di negeri ini, membaca karangan Dr. Abd. Haris ini tanpa susah-susah membuka kamus, karena istilah-istilah yang digunakan telah dilengkapi dengan catatan-catatan kaki yang sama berbobotnya dengan materi yang dijabarkan. Selamat membaca.

Novel Korupsi Tanpa Amanat Antikorupsi


Sebelum bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan pada tahun 1945, Tanah Air ini sudah diramaikan oleh berbagai tulisan (karya sastra) yang menampilkan peliknya problema korupsi dan bahayanya bagi kelangsungan suatu Bangsa. Jika menoleh ke belakang, kita dapat menikmati bagaimana cerita korupsi di dalam Max Havelaar karya Multatuli atau Hikayat Kadiroen oleh Semaun, serta deretan karya sastra (novel dan cerpen) lainnya yang ditulis oleh sastrawan besar di tanah Ibu Pertiwi tentang korupsi.
Tahun 2011 ini, Hario Kecik, penulis yang lama melintang dalam dunia kemiliteran ini, terinspirasi menulis novel Sang Koruptor. Inspirasi ini lahir, jika ditilik, tak lepas dari semakin maraknya pemberitaan di media cetak maupun media elektronik bagaimana bahaya laten dan sistemiknya korupsi di Nusantara. Korupsi menjadi ‘hantu’ yang bisa mempengaruhi setiap orang dan membawanya ke dunia antah berantah yang menjerumuskan siapa saja di dekatnya.
Novel ini bercerita tentang kerja sama antara dua orang mantan koruptor kakap di zaman Orde Baru, bekas pejuang atau veteran, korban politik, dan anak muda generasi baru yang berintelektual tinggi dan bebas. Mereka bersama-sama membangun usaha, kekuatan, serta tujuan besar di era baru yang jauh lebih kuat dan mencoba bermartabat. Mereka bersimbiosis membangun bidang usaha dengan banyak lini, mutlak untuk kelangsungan hidup anak cucu yang tak ingin menderita.
Di samping itu, penulis juga ingin menguatkan apa benar jaringan korupsi yang dibangun, sejak zaman primitif hingga zaman modern sekarang tak lepas dari banyak tangan yang berkuasa. Dan jangan-jangan korupsi itu seperti energi, tak dapat dimusnahkan namun dapat diubah menjadi bentuk lain? Sang penulis pun menyampaikan cerita Sang Koruptor dalam pandangan filosofi dan psikologi yang tak kalah menarik untuk disimak. Korupsi dilembagakan tak lepas dari faktor penyebabnya seperti kepentingan politik dan golongan, gaya hidup konsumtif dan hedonisme, sikap pragmatis, sistem hukum dan birokrasi yang buruk, rasa nasionalisme yang kerdil, serta tak ketinggalan peran istri dan anak.
Pada satu penggalan cerita, seorang (mantan) koruptor malahan ingin tahu dengan cara membedah kepalanya apakah korupsi itu merupakan suatu penyakit yang menyerupai penyakit paru-paru atau kanker yang mungkin bisa dicarikan obatnya. Sang koruptor bersedia dijadikan kelinci percobaan oleh seorang dokter muda agar ‘penyakit’ ini bisa disembuhkan. Menggelikan memang jika korupsi serupa dengan kanker atau radang paru-paru. Penulis menampilkan cerita ini tentu bukan tak memiliki pretensi apa-apa. Penggalan ini menyuguhkan kepada pembaca ternyata koruptor itu tidak hanya memiliki jiwa yang bobrok tetapi juga cukup bodoh dalam hal kesehatan, atau jangan-jangan koruptor itu sudah mengalami sakit jiwa karena terlalu banyak menerima caci maki dan sumpah serapah dari masyarakat sebagai korbannya.
Tak kalah menariknya, penulis sudah mewanti-wanti pembaca sejak pada prakata hingga epilog, kalau penulis tak berniat mempengaruhi atau mempropaganda pembaca agar tak melakukan korupsi atau menjadi aktifis dadakan yang berkoar-koar menyampaikan pesan antikorupsi kepada siapa saja. Bagi penulis korupsi selalu bersimbiosis dengan birokrat suatu negera. Hubungan ini pun kebanyakan berjalan langgeng dan sulit sekali ditembus oleh penegak hukum. Semua kegiatan mereka berjalan secara sistematis dan masif dari satu lembaga ke lembaga berikutnya, dari satu jabatan ke jabatan berikutnya. Sekali lagi, Hario Kecik hanya berbagi cerita tentang korupsi dan pelakunya dari berbagai zaman, plus kisah percintaan anak muda cerdas yang terlibat dengan jaringan tersebut. Bahasanya yang sederhana membuat novel mungil ini enak dan mudah dinikmati kapan saja. Selamat membaca!

Romulus dan Remus, Antara Fakta dan Fiksi




Tak hanya Yunani, keberadaan Kota Roma di permukaan bumi pun penuh dengan cerita-cerita sejak ribuan abad sebelum masehi. Cerita-cerita itu berbaur dengan sejarah berdirinya salah satu kota tua dan megah, Romawi. Peradabannya menyebar dan dikenal oleh penjuru dunia, sebagai kota yang penuh dengan peperangan, ritual, serta penghormatan kepada para dewa-dewi yang kemansyurannya terkenal hingga sekarang.
Buku Mitologi Romawi ini menyajikan asal usul berdirinya kota Roma dengan dua versi. Kedua versi ini bercampur baur antara sejarah dan fiksi. Namun, hingga sekarang bangsa Romawi mempercayai kedua versi tersebut sebagai asal usul Kota Roma. Versi pertama, Kota Roma didirikan oleh Aeneas, salah satu prajurit Troy yang selamat ketika bangsa Yunani membumihanguskan Troy. Sementara versi yang kedua, kota Roma didirikan oleh Romulus, salah satu putra kembar (Romulus dan Remus yang diselamatkan oleh srigala betina) dewa Mars, dewa perang.
Kedua versi tersebut pun dipercayai layaknya sebuah sejarah bangsa Romawi. Michael Grant, penulis Roman Myths, mengatakan, bangsa Romawi telah menyusun sejarah masa lalunya dalam suatu kerangka kronologis, namun mereka juga telah memasukkan unsur-unsur mitologis ke dalamnya. Tujuannya, bangsa Romawi menginginkan lahirnya cerita agung tentang leluhur mereka, karena garis keturunan sangat diperhatikan oleh bangsa Romawi.
Buku mungil ini dengan gaya penceritaan yang lugas dan sederhana, pas dibaca ketika santai atau bepergian. Isi cerita yang tidak memaksa pembaca berpikir keras dalam mendalami mitologi Romawi menambah keasyikan tersendiri bagi pembaca menelusuk, sedikit demi sedikit asal usul bangsa Romawi, bangsa yang pernah berpengaruh di dunia ini.