Thursday, 19 May 2011

Korban Human Trafficking di Batam Gara-gara Laptop Tersangkut PSK

"Aku mau balik ke rumah. Ketemu mama dan adik-adikku lagi kak," ujar Melati (bukan nama sebenarnya_red), korban human trafficking kepada Haluan Kepri, Sabtu (30/4) malam kemarin.

Sembari menarik-narik celana pendeknya (hotpants), Melati memulai kisah penipuan yang mengakibatkan dirinya sampai di Pulau Batam dan terjerat jaringan Pekerja Seks Komersial (PSK) di salah satu tempat hiburan malam di kawasan Nagoya. Semua cerita pahit ini bermula dari ajakan seorang teman maya di Camfrog, salah satu fitur bermain online yang mengandalkan kamera komputer ataupun laptop (komputer jinjing) sebagai daya tariknya, menjanjikan pekerjaan dan memperoleh laptop dengan harga murah di Batam.

Melati bercerita, setiap hari ia selalu bermain Camfrog di warung internet (warnet) serta berinteraksi maya dengan teman-temannya. Salah satu teman mayanya berasal dari Batam, dan mengajaknya datang ke kota ini serta mengiming-imingi pekerjaan dengan gaji lumayan besar. Janji-janji itulah yang menguatkan hati Melati datang ke kota industri ini dan berharap dapat membeli laptop.

"Aku kepengen bangetlah lepi (laptop_red) kak. Dengan lepi, aku bisa apa saja, termasuk bercamfrog ama teman-temen," kata gadis 18 tahun ini polos.

Sekitar satu setengah bulan lalu, Melati pun tiba di Batam dengan diongkosi oleh teman mayanya, pemuda yang bekerja serabutan di kawasan Bengkong, Kota Batam. Sekitar dua minggu Melati tinggal bersama pemuda tersebut. Tak tahan tinggal bersama orang lain tanpa memberikan apa-apa, Melati berinisiatif mencari pekerjaan. Bermodalkan nekat, ia pun melamar pekerjaan di salah satu tempat hiburan malam di kawasan Nagoya, Mess Karaoke Dinasty 1. Segala persyaratan administrasi pun dilengkapi oleh si pemuda, termasuk memalsukan usia Melati menjadi 21 tahun dan menukar agamanya yang semula Kristen menjadi Islam di Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya.

Awalnya di sana, Melati ditawari bekerja sebagai Public Relation (PR). Namun, selang beberapa hari kemudian, ia pun dipaksa oleh 'Mami' atau germo di sana untuk melayani tamu atau pengunjung. Tak hanya melayani tamu, ia juga dipaksa bekerja bak perempuan-perempuan lainnya sebagai perempuan penghibur dan siap melayani semua kemauan si tamu.

"Kadang saya dibawa ke hotel dan menginap di sana, tak hanya di tempat kerja aja kerjanya kak," pungkas gadis yang putus sekolah sejak kelas X SMA ini.

Gadis asal Kebun Jeruk, Jakarta ini pun awalnya enggan bekerja sebagai pemuas nafsu apek-apek, yang kebanyakan berkunjung. Namun, ia tak dapat berbuat banyak. Sekitar dua minggu, sejak 17 hingga 29 April lalu, gadis berdarah Batak ini pun dipaksa oleh maminya melayani semua keinginan tamu. Jika ia menolak, ia tidak hanya dimarahi namun juga ditekan dengan berbagai ucapan kasar dan menyakitkan.

Tak sampai di sana saja, lanjut Melati, gaji yang ia peroleh pun harus dibagi rata dengan perusahaan tempat dia bekerja. Kadang, kelakuan maminya pun membuat Melati gerah. Selain gaji yang dibayarkan tidak sesuai perjanjian awalnya, Melati juga dibebankan membayar uang makan si mami di tempat itu.

"Cashbon mami aku juga yang bayar. Sedangkan buat aku saja masih kurang. Kadang tip dari tamu pun harus dibagi dua dengan perusahaan," keluhnya sembari memain-mainkan handphone Nokianya.

Keadaan ini pun membuat Melati merasa dirugikan. Beruntung ia belum meneken kontrak kerja dengan Dinasty 1. Atas saran beberapa rekan kerja di tempat itu, Melati memberanikan diri mengadu dan meminta pertolongan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat Komite Anti Trafficking dan Hak Asasi Manusia (LSM KAT dan HAM) yang berkantor di kawasan Sei Jodoh, Kota Batam, untuk diberhentikan bekerja di sana.

Tak berselang hari, LSM KAT dan HAM memediasi Melati untuk mengeluarkan dan meminta pertanggungjawaban pihak Dinasty 1 atas nasib Melati. Melati tak ingin kembali bekerja di sana. Satu-satunya yang ia harapkan adalah pulang ke Kebun Jeruk dan berjumpa dengan keluarga serta sanak familinya di sana.

"Aku takut di Batam dan ingin cepat-cepat balik ke rumah di Jakarta," pinta gadis berambut sebahu ini dengan nada iba.

Korban Human Trafficking di Batam Gara-gara Laptop Tersangkut PSK

"Aku mau balik ke rumah. Ketemu mama dan adik-adikku lagi kak," ujar Melati (bukan nama sebenarnya_red), korban human trafficking kepada Haluan Kepri, Sabtu (30/4) malam kemarin.

Sembari menarik-narik celana pendeknya (hotpants), Melati memulai kisah penipuan yang mengakibatkan dirinya sampai di Pulau Batam dan terjerat jaringan Pekerja Seks Komersial (PSK) di salah satu tempat hiburan malam di kawasan Nagoya. Semua cerita pahit ini bermula dari ajakan seorang teman maya di Camfrog, salah satu fitur bermain online yang mengandalkan kamera komputer ataupun laptop (komputer jinjing) sebagai daya tariknya, menjanjikan pekerjaan dan memperoleh laptop dengan harga murah di Batam.

Melati bercerita, setiap hari ia selalu bermain Camfrog di warung internet (warnet) serta berinteraksi maya dengan teman-temannya. Salah satu teman mayanya berasal dari Batam, dan mengajaknya datang ke kota ini serta mengiming-imingi pekerjaan dengan gaji lumayan besar. Janji-janji itulah yang menguatkan hati Melati datang ke kota industri ini dan berharap dapat membeli laptop.

"Aku kepengen bangetlah lepi (laptop_red) kak. Dengan lepi, aku bisa apa saja, termasuk bercamfrog ama teman-temen," kata gadis 18 tahun ini polos.

Sekitar satu setengah bulan lalu, Melati pun tiba di Batam dengan diongkosi oleh teman mayanya, pemuda yang bekerja serabutan di kawasan Bengkong, Kota Batam. Sekitar dua minggu Melati tinggal bersama pemuda tersebut. Tak tahan tinggal bersama orang lain tanpa memberikan apa-apa, Melati berinisiatif mencari pekerjaan. Bermodalkan nekat, ia pun melamar pekerjaan di salah satu tempat hiburan malam di kawasan Nagoya, Mess Karaoke Dinasty 1. Segala persyaratan administrasi pun dilengkapi oleh si pemuda, termasuk memalsukan usia Melati menjadi 21 tahun dan menukar agamanya yang semula Kristen menjadi Islam di Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya.

Awalnya di sana, Melati ditawari bekerja sebagai Public Relation (PR). Namun, selang beberapa hari kemudian, ia pun dipaksa oleh 'Mami' atau germo di sana untuk melayani tamu atau pengunjung. Tak hanya melayani tamu, ia juga dipaksa bekerja bak perempuan-perempuan lainnya sebagai perempuan penghibur dan siap melayani semua kemauan si tamu.

"Kadang saya dibawa ke hotel dan menginap di sana, tak hanya di tempat kerja aja kerjanya kak," pungkas gadis yang putus sekolah sejak kelas X SMA ini.

Gadis asal Kebun Jeruk, Jakarta ini pun awalnya enggan bekerja sebagai pemuas nafsu apek-apek, yang kebanyakan berkunjung. Namun, ia tak dapat berbuat banyak. Sekitar dua minggu, sejak 17 hingga 29 April lalu, gadis berdarah Batak ini pun dipaksa oleh maminya melayani semua keinginan tamu. Jika ia menolak, ia tidak hanya dimarahi namun juga ditekan dengan berbagai ucapan kasar dan menyakitkan.

Tak sampai di sana saja, lanjut Melati, gaji yang ia peroleh pun harus dibagi rata dengan perusahaan tempat dia bekerja. Kadang, kelakuan maminya pun membuat Melati gerah. Selain gaji yang dibayarkan tidak sesuai perjanjian awalnya, Melati juga dibebankan membayar uang makan si mami di tempat itu.

"Cashbon mami aku juga yang bayar. Sedangkan buat aku saja masih kurang. Kadang tip dari tamu pun harus dibagi dua dengan perusahaan," keluhnya sembari memain-mainkan handphone Nokianya.

Keadaan ini pun membuat Melati merasa dirugikan. Beruntung ia belum meneken kontrak kerja dengan Dinasty 1. Atas saran beberapa rekan kerja di tempat itu, Melati memberanikan diri mengadu dan meminta pertolongan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat Komite Anti Trafficking dan Hak Asasi Manusia (LSM KAT dan HAM) yang berkantor di kawasan Sei Jodoh, Kota Batam, untuk diberhentikan bekerja di sana.

Tak berselang hari, LSM KAT dan HAM memediasi Melati untuk mengeluarkan dan meminta pertanggungjawaban pihak Dinasty 1 atas nasib Melati. Melati tak ingin kembali bekerja di sana. Satu-satunya yang ia harapkan adalah pulang ke Kebun Jeruk dan berjumpa dengan keluarga serta sanak familinya di sana.

"Aku takut di Batam dan ingin cepat-cepat balik ke rumah di Jakarta," pinta gadis berambut sebahu ini dengan nada iba.

Mengabdi dalam Kepekatan


Pulau Batam merupakan salah satu pulau terbesar dan terpadat di Provinsi Kepulauan Riau. Sejak pulau ini dan beberapa pulau lainnya bergabung dan membentuk provinsi baru, provinsi ini semakin berkembang mengarah ke provinsi atau pulau-pulau industri di Tanah Air. Di balik kesuksesan pembangunan dan perkembangan ekonomi, masyarakat Pulau Batam bisa dikatakan kering dalam berkesenian. Sebagian masyarakat dan insan atau pelaku seni kurang ‘bergairah’ mengembangkan dan melestarikan kebudayaan baik lokal maupun kontemporer. Kemampuan dan perkembangan berkesenian pun semakin menurun. Ketika berjalan-jalan di pulau yang hidup 24 jam ini, tak banyak tempat atau komunitas seni di pulau ini yang dapat kita jumpai.
Walaupun demikian, ada satu komunitas seni yang tetap eksis dan berpengaruh di Pulau Batam. Komunitas itu Komunitas Seni Rumahhitam. Komunitas ini telah ada sejak tahun 2000 di Pulau Batam. Beragam kegiatan kesenian yang dilakukan dan dikembangkan oleh Komunitas yang dipimpin oleh Tarmizi ini. Mulai dari seni teater, seni tari, seni musik, seni sastra, hingga seni rupa. Karena namanya Komunitas Seni Rumahhitam, tak heran rumah-rumah sebagai tempat berkarya dan berkreasi ini dicat dengan warna hitam. Hingga sekarang komunitas ini memiliki sekitar 20 pengurus yang menjalankan segala aktivitas berkesenian di komunitas tersebut. Komunitas yang berada di jalan RE Martadinata, Sekupang ini berasal dari beragam suku di Pulau Batam. Slogan yang tertera di salah satu pintu masuk rumah komunitas ini ‘Lewat Seni Mengabdi pada Negeri’ menghantarkan mereka memperoleh beberapa piagam penghargaan dari berbagai pihak.
Berikut beberapa jempretan foto ketika rombongan magang pelatihan jurnalistik Haluan Media Group singgah di komunitas ini pada Selasa (5/4) siang lalu.

Camp Vietnam dan Wajah Pariwisata Kita



Siapa yang tak kenal Camp Vietnam? Sejak situs bersejarah ini dicanangkan sebagai pariwisata sejarah di provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sejak itu pula ratusan bahkan puluhan ribu orang datang berkunjung. Penasaran dan keingintahuan itu tak hanya muncul dari masyarakat Kepri atau Kota Batam. Tetapi juga dari daerah lain di luar Kepri. Ada yang dari dalam negeri ataupun dari luar negeri. Tak terhitung pula orang-orang keturunan Vietnam datang berkunjung. Mereka menggali sejarah. Mengingat kisah dan pahitnya perjuangan ketika leluhur mencoba mempertahankan kehidupan.
Camp Vietnam, satu dari sekian banyak aset kebanggaan Kota Batam atau Kepri yang tidak dimiliki oleh provinsi lain di Nusantara. Tempat ini menyimpan ribuan cerita dan kisah. Kisah kehidupan anak manusia yang memperjuangkan hak dan kehidupan di tengah peperangan yang tak diinginkan. Mereka berjuang. Berjuang demi anak cucu dan masa depan. Sebuah memori yang tak mudah ditepis, sekali pun oleh masyarakat Kota Batam ataupun Kepri.
Ketika singgah di kota industri ini, merugi dan sedih sekali jika tak menyempatkan waktu berkunjung ke Camp Vietnam. Dari dulu dan dari berbagai situs, mungkin kita hanya bisa berdecak kagum akan cerita dan kuatnya pesan yang disampaikan dari foto-foto, penggalan tempat ini. Camp Vietnam, sebuah penyelaman masa lalu yang menggetarkan.
Namun, ketika berkunjung ke situs bersejarah ini, lamat-lamat cerita itu buyar sudah. Kondisi beberapa situs terkesan tak diurus dengan baik. Ada yang dibiarkan begitu saja. Ada pula yang diurus hanya dengan separuh hati. Kisah menggetarkan di Camp Vietnam tiba-tiba terputus dan hilang rasa.
Kebanyakan, pengunjung lebih tertarik datang hanya untuk mengabadikan diri dengan sejepret foto. Pelepas tanya sebagai tanda pernah berkunjung ke tempat terpopuler ini. Selebihnya melihat-lihat dan pelepas lelah di akhir pekan.
Padahal, pengunjung berhak tahu dari orang-orang yang mengurusi situs bersejarah ini. Mulai dari kisah lampau, perjuangan pengungsi, budaya mereka, hingga nilai-nilai serta kearifan lokal yang pengungsi bawa sebagai wahana memperluas cakrawala pengunjung.
Ironisnya, semua itu lebih banyak pengunjung dapatkan di situs-situs internet. Pengetahuan dan pengalaman langsung datang ke Pulau Galang, dimana Camp Vietnam berada, hanya secuil kisah indah tak lepas dari pelepas tanya.
Belum lagi ditambah dengan masih ada beberapa situs bersejarah, seperti bangunan sekolah pengungsi, yang tidak hanya lapuk dimakan usia, tetapi terkesan juga tidak diurus dengan baik. Bangunan itu dibiarkan lapuk bersama tumbuhan menjalar yang mengerubuni puing bangunan itu. Kita, pengunjung hanya mampu memandang dari kejauhan tanpa dapat mendekati dan menyentuhnya.
Kondisi ini tidak hanya memiriskan hati, tetapi juga mencerminkan watak kita yang enggan merawat dan belajar dari peninggalan-peninggalan sejarah yang sarat ilmu dan makna hidup. Sudah seharusnya, Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Batam lebih ambil peduli dengan kondisi ini. Tentu saja anggaran untuk merawat situs bersejarah Camp Vietnam tidaklah sedikit dan selalu dikucurkan. Hanya saja pelaksanaan dan pengawasan yang lebih maksimal perlu diterapkan.
Pihak-pihak yang berwenang, sebaiknya cepat mengambil keputusan untuk lebih mendayagunakan situs ini. Tidak hanya sebagai icon tetapi juga sebagai salah satu kebanggaan dan sumber pendapatan daerah yang harus selalu diperhatikan. Jika tidak, tentu kita tak ingin menyesal kepada waktu yang menghancurkan peninggalan ini hanya karena kita lalai merawat dan memaknainya.