Monday, 28 March 2011

Bisnis Laundry di Tengah Mahasiswa


Menjamurnya usaha jasa cuci pakaian kiloan atau laundry di sekitar kampus mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit serta mampu menyerap tenaga kerja di daerah sekitar. Usaha ini pun semakin diminati oleh berbagai kalangan. Kebanyakan para pemilik hanya mengandalkan modal usaha pribadi.

Arif Sepri Novan, pemilik Mega Wash Laundry, mengungkapkan mahasiswa merupakan pangsa pasar terbesarnya saat ini. Mahasiswa memiliki banyak kegiatan dan tugas kuliah yang menyita waktu serta tenaga. Untuk itu peluang membuka usaha laundry di sekitar kampus baginya sangat menjanjikan.

“Pasarnya cukup luas dan jelas,” ungkap Arif, Selasa (22/3) siang lalu.

Arif pun merintis usaha laundry sejak September 2010 lalu di kawasan kampus Universitas Negeri Padang (UNP), di Jalan Gajah VII No.15, Air Tawar, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Ia mempekerjakan dua karyawan untuk mencuci, mengeringkan, menyetrika, serta mengepak pakaian-pakaian tersebut.

Setiap hari Mega Wash Laundry menerima hingga 50 kg pakaian kotor. Arif mematok Rp 4.500 per kilogram. Di samping itu, ia juga mencoba memberikan paket-paket murah untuk mahasiswa. Bahkan, ia menggratiskan mencuci tas, sepatu, bed cover, atau boneka bagi pelanggan-pelanggannya.

“Hal ini sebagai siasat untuk memuaskan pelanggan,” jelas Arif.

Di kawasan Air Tawar, usaha jasa cuci kiloan pakaian semakin menjamur. Sekitar puluhan usaha ini bertebaran di sekeliling kampus UNP.

Seperti Kios Cuci Kiloan di Jalan Merak, Air Tawar Selatan, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Kios ini tergolong baru, sekitar tiga bulan di kawasan tersebut. Kios Cuci Kiloan harus bersaing dengan usaha laundry lainnya yang telah tumbuh terlebih dahulu.

Oki, karyawan Kios Cuci Kiloan, menuturkan kebanyakan pelanggannya mahasiswa. Setiap hari sekitar sepuluh pelanggan mempercayakan Kios Cuci Kiloan untuk mencuci pakaian-pakaian mereka.

“Ada yang me-laundry satu kilo atau puluhan kilo,” jelas Oki, Senin (21/3) malam lalu.

Murah Meriah

Berbagai pelayanan serta paket murah meriah pun disediakan untuk menggaet mahasiswa menjadi pelanggan tetap. Ada juga yang menyediakan paker antar jemput ke rumah-rumah atau kontrakan serta kos-kosan mahasiswa.

Usaha jasa Mega Wash Laundry menyediakan paket Rp 60 ribu untuk 15 kilogram dan Rp 100 ribu untuk 25 kilogram.

“Jadinya cuma Rp 4.000 per kilo,” ujar Arif.

Tak jarang pula, usaha laundry ini memberikan paket ulang tahun bagi pelanggannya, seperti gratis mencuci boneka atau sepatu.

Di tempat berbeda biaya laundry per kilo juga berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan jasa pelayanan yang diberikan kepada pelanggan. Ada yang memberikan pewangi pakaian secara cuma-cuma atau tidak sama sekali.

Rani, mahasiswa Fakultas Teknik UNP, menganggap laundry lebih praktis. Beberapa kali dalam sebulan ia me-laundry pakaiannya, tidak hanya di satu usaha laundry, tetapi juga di jasa laundry lain yang tersebar di kawasan Air Tawar. Rani mengeluarkan biaya untuk me-laundry sekitar Rp 10-15 ribu setiap me-laundry.

“Di kosan sering kekurangan air, ya di-laundry saja,” kata Rani, Senin (21/3) malam lalu.

Berbeda dengan Her, mahasiswa UNP, yang memilih jasa laundry karena capek dengan berbagai kegiatan di kampus dan tugas-tugas kuliah yang menumpuk.

“Capek nyuci,” keluhnya, Selasa (22/3) pagi lalu.

Kala Bank Nagari sebagai Mitra Mahasiswa


Bank Pembangunan Daerah atau Bank Nagari selaku mitra kerja Universitas Negeri Padang (UNP) selalu mendukung agenda pengembangan perguruan tinggi ini. Bank Nagari berkomitmen memajukan UNP dengan meningkatkan pelayanan dari aspek perbankan, baik bagi pegawai maupun mahasiswa di kampus tersebut. Hal ini diungkapkan Nurhayani, SE, selaku kepala Cabang Pembantu Bank Nagari di UNP, Kamis (24/3) lalu di ruangannya.

Sebagai mitra kerja di perguruan tinggi, Bank Nagari memberikan kemudahan bagi mahasiswa. Kemudahan itu terlihat dari biaya administrasi yang dikenakan kepada nasabah (mahasiswa_red) hanya sebesar Rp 250 per bulan.

"Kalau nasabah umum sebesar Rp 5.000. Jauh lebih murah kan?" ujar Mami, panggilan akrab Nurhayani.

Selama ini Bank Nagari hanya memiliki dua pelayanan bagi mahasiswa, yakni proses pembayaran SPP secara manual dan menjadikan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) sebagai Kartu ATM. Namun, mulai Mei depan Bank Nagari akan merintis pelayanan SMS Banking bagi mahasiswa untuk memudahkan proses pembayaran SPP maupun tranksaksi lainnya.

"Insya Allah Juni tahun ini Bank Nagari akan launching SMS Banking," pungkasnya.

Tidak hanya itu, dalam segi pengamanan pun Bank Nagari semakin memperkuat sistem pengamanan di kampus. Menurut Mami, Bank Nagari bekerja sama dan selalu berkoordinasi dengan Satuan Pengaman UNP untuk mengamankan Bank Nagari serta UNP sendiri.

"Kami (Bank Nagari_red) juga langsung berkoordinasi dengan Polisi Sektor Padang Utara dalam peningkatan pengamanan," jelasnya.

Walaupun demikian, Mami masih menyayangkan sikap mahasiswa yang kurang antusias menyambut peningkatan pelayanan yang diberikan Bank Nagari. Salah satunya, pembayaran SPP Online via KTM. Bank Nagari pun mencoba memberikan sosialisasi serta edukasi penggunaan KTM dalam pembayaran SPP bagi mahasiswa.

"Hingga saat ini masih ada mahasiswa yang ngotot jauh-jauh datang dari kampung hanya untuk membayar SPP ke Padang. Padahal sudah bisa transfer via KTM lho," kata Mami.

Ia menghimbau mahasiswa agar mampu menggunakan jasa pelayanan yang telah disediakan Bank Nagari. UNP dan Bank Nagari telah berinvestasi milyaran rupiah untuk memajukan dan memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa. Mahasiswa jangan sampai kehilangan fasilitas hanya karena mahasiswa tidak mengerti cara kerja atau penggunaan jasa pelayanan yang telah disediakan Bank Nagari dan UNP.

"Mahasiswa jangan abaikan itu. Jika tak tahu silahkan bertanya atau hubungi Bank Nagari. Kami buka 24 jam via telepon," ujarnya.


Yang Warna-warni di Topi Pelindung


Usaha topi pelindung atau helm semakin diminati banyak orang. Omsetnya cukup tinggi hingga menembus jutaan rupiah per hari. Namun, masih ada beberapa penjual yang menjual helm tidak ber-Standar Nasional Indonesia (SNI).

Di lingkungan kampus sendiri, kebutuhan helm semakin banyak setiap tahun. Setiap tahun ajaran baru, mahasiswa baru di kampus-kampus semakin bertambah dan pengguna helm pun meningkat. Peluang ini pun ditangkap oleh Syafrizal, warga Jalan Cendrawasih, Air Tawar, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang.

Bermodalkan seadanya, ia menjual helm yang sesuai dengan kantung mahasiswa. Setiap bulan, lelaki 48 tahun ini pun membeli berkoli-koli helm. Satu koli berisi 40 helm dengan jenis dan harga yang sama.

“Rata-rata harganya di bawah seratus ribu rupiah,” jelas Syafrizal, Selasa (22/3) siang lalu.

Lelaki dengan dua putri ini, menjual helm sejak tahun 2003 silam. Ia menjual helm dengan harga Rp 50-75 ribu. Setiap hari ia mampu menjual 3 sampai 5 helm dengan beragam harga. Syafrizal butuh waktu satu hingga tiga bulan untuk menjual satu koli helm. Ia membelinya di beberapa grosiran helm di daerah Tabing.

“Walaupun murah sudah ber-SNI kok,” ungkapnya, sambil duduk merokok di depan kedai helmnya. Namun, jika ada yang menginginkan harga lebih mahal, ia pun menerima pesanan dengan kesepakatan yang dibuat sebelumnya.

Tidak hanya helm, Syafrizal juga menjual spare part dan membuka bengkel motor.

Grosiran helm seperti ruko RMM yang terletak di Jalan Prof. Dr. Hamka, Air Tawar, Kota Padang, menyediakan berbagai model, ukuran, serta harga helm. Ruko ini juga mendistribusikan helm ke beberapa toko eceran di sekitar Kota Padang.

Susilo, 24 tahun, karyawan RMM mengaku usaha helm di Kota Padang sedang berkembang jika dibandingkan dengan kota-kota besar seperti Jakarta atawa Bandung yang lebih dahulu memulainya. Rata-rata pembelinya mahasiswa, biker, serta umum dengan harga kebanyakan di atas seratus ribu rupiah.

“Kebutuhan helm semakin meningkat setiap tahun,” ujar lelaki asal Jawa Tengah ini, Selasa (22/3) lalu.

Setiap hari ruko yang dimiliki oleh urang awak ini bisa menjual enam hingga sepuluh helm dengan beragam merek dan harga. Hasil penjualan itu berkisar satu hingga tiga juta rupiah setiap hari. Belum lagi jika ditambah dengan hasil penjualan grosiran. Walaupun demikian, kadang-kadang ruko ini juga sepi oleh pembeli.

“Ya tergantung bulan dan tahun juga,” ungkapnya.

Menurut Susilo, semakin banyaknya kebutuhan helm semakin banyak pula dijual helm-helm yang tidak ber-SNI. Di Kota Padang banyak helm-helm dijual dari produk home industry.

“Memang setiap helm bertuliskan SNI, tapi belum tentu asli,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk membuktikan helm tersebut asli atau tidak harus teliti ketika membeli. “Helm yang asli tidak akan pecah kaca pelindungnya jika dibanting,” kata Susilo.

Selaraskan Kualitas SDM dengan Akhlak Mulia

Rencana strategis (renstra) Politeknik Negeri Padang (PNP) awal tahun2011 hingga 2014 kelak selain meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik staf pengajar maupun mahasiswa, PNP ini pun mencoba melebarkan sayap, menjalin kerja sama hingga ke negara luar sebagai bentuk komitmen menjadikan PNP sebagai politeknik bergengsi baik dalam negeri maupun luar negeri. Berbagai kerja sama pun dibangun tidak hanya dengan sesama politeknik ataupun universitas, dengan berbagai perusahaan serta industri-industri pun semakin ditingkatkan. Hal ini disampaikan Direktur PNP, Aidil Zamri, MT, di sela-sela aktivitasnya di PNP, Selasa (1/3) siang lalu di ruangannya.

Menurut Aidil, baru-baru ini PNP telah menjalin kerja sama dengan dua universitas di Malaysia serta beberapa industri di Pulau Batam dan Kalimantan. Tak ketinggalan, dalam negeri pun PNP juga telah bekerja sama dengan PT. PLN, Telkom, Trakindo, dan lainnya. Kerja sama PNP dengan berbagai pihak terjalin dalam beberapa bentuk. Ada yang berbentuk pertukaran mahasiswa (students exchange), penelitian bersama dosen, dan berbagai kegiatan yang menitikberatkan kepada diskusi dan penambahan ilmu. “Tak jarang PNP menghadirkan dosen tamu dari beberapa perusahaan,” tambahnya.

Aidil menambahkan, seiring waktu mahasiswa PNP semakin banyak. Kelengkapan sarana dan prasarana pun menjadi perhatian utama bagi PNP. Hampir setiap tahun PNP memperbaiki, mengganti, serta membangun sarana dan prasarana yang telah rusak atau tak layak pakai. Hal ini bertujuan agar proses pembelajaran mahasiswa semakin berkualitas. “Kualitas output selalu menjadi perhatian utama,” ungkapnya.

Lulusan PNP yang kelak harus siap bekerja diberbagai perusahaan atau industri, menurut Aidil juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik serta berkarakter yang kuat. Mahasiswa harus memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi dengan lingkungan dimana mereka bekerja. “Dan yang paling penting adalah kedisiplinan,” tegasnya. Untuk itu, PNP menyediakan berbagai sarana dan prasarana bagi mahasiswa berkreatifitas dan menjalin kerja sama dalam sebuah tim. “Dengan berorganisasi mereka bisa mengatur diri dan orang lain dengan baik,” tutupnya.

Reportase Investigasi dan Etika Wartawan

Dalam melakukan reportase investigasi seorang wartawan harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang hukum, perundang-undangan, sosial, budaya, ekonomi, kebiasaan masyarakat, agama, politik, teknologi, serta lingkungan. Hal ini sangat mendukung wartawan dalam menganalisa besar kecilnya penyimpangan yang terjadi.

Selain itu, wartawan juga harus dituntut memiliki banyak jaringan atau sumber berita agar mudah dan cepat mengecek suatu informasi sehingga dengan mudah pula memperoleh gambaran awal tentang apa yang akan diselidiki. Hal ini disampaikan Fachrul Rasyid HF, selaku pemateri dengan tema Investigative Reporting di depan 26 peserta, Jumat (18/3) pagi lalu di kantor Harian Umum Haluan Kompleks Lanud di Tabing, Kota Padang.

“Oleh karena itu, lobi dan jaringan yang luas dan kuat adalah 60% dari modal sukses seorang wartawan investigasi,” ujarnya.

Dalam malakukan reportase investigasi, pemilihan angle atau sudut pandang sangat menentukan. Angle ini harus ditetapkan sejak awal dan tidak gampang terpengaruh oleh pemberitaan lain yang akan membelokkan sudut pandang tadi. “Jika menemukan angle lain, tunda dulu untuk digarap kemudian,” kata Fachrul.

Menulis reportase investigasi tetap mempertimbangkan aspek jurnalistik. Nilai kebaruan, informatif, relevan, unik, tokoh, ekslusif, serta berpengaruh besar, tetap menjadi landasan utama dalam reportase investigasi. “10-20% dari reportase harus mencerdaskan pembaca,” tegas wartawan senior Majalah Tempo ini.

Di samping membahas reportase investigasi, pelatihan ini juga diisi oleh anggota Badan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat yang akrab disapa Infai. Infai menjelaskan tentang etika wartawan dalam menyampaikan berita kepada masyarakat. “Kecerdasan emosional dan intelektual seorang wartawan itu sangat penting,” kata Infai, Jumat (18/3) siang lalu.

Menurut Infai, sebuah berita tidak hanya dilengkapi dengan 5W dan H, tetapi juga mengandung nilai etika dan estetika. Etika sebagai kecerdasan wartawan memperoleh informasi dan menyampaikannya kepada masyarakat. Estetika, penyampaian berita harus mempertimbangkan penggunaan bahasa yang tepat dan efektif. “Kata pertama adalah kunci kalimat pertama. Kalimat pertama adalah kunci paragraf pertama. Paragraf pertama adalah kunci keseluruhan berita. Bahasa sangat berperan penting di sana,” tutup Infai.

Ragam Jurnalistik Bantu Kembangkan Bahasa Indonesia

Dalam dunia kewartawanan, penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan ragam jurnalistik harus diperhatikan dengan baik. Tidak sedikit surat kabar-surat kabar di Kota Padang, Sumatera Barat, menggunakan bahasa Indonesia dengan ragam jurnalistik masih melenceng dari kaidah yang telah ditentukan. Dampaknya tidak hanya kepada pemberitaan yang sulit dipahami pembaca tetapi juga akan melahirkan kesan kurang profesional bagi surat kabar tersebut. Hal ini disampaikan guru besar dari Universitas Negeri Padang Prof. Dr. Ermanto, S.Pd, M.Hum, di depan 30 peserta Pelatihan Jurnalistik Haluan Media Group Angkatan 1 tahun 2011, Rabu (23/2) lalu di kantor Harian Umum Haluan Kompleks Lanud, Tabing, Kota Padang.

Menurut Ermanto, ragam jurnalistik memiliki dua peranan bagi pengembangan bahasa Indonesia ke depannya. Ragam jurnalistik bisa berdampak positif serta bisa berdampak negatif bagi bahasa Indonesia. Sebagai sarana dalam penyampaian berita pada surat kabar-surat kabar, ragam jurnalistik mampu memperkenalkan serta mengembangkan kosa kata baru guna menambah khasanah kosa kata bagi bahasa Indonesia. “Baru-baru ini kita kerap mendengar kata pengunggah dan pengunduh, tidak lagi upload atau download,” jelas Ermanto.

Sedangkan dampak negatif dari ragam jurnalistik, menurut Ermanto, penggunaan istilah atau kata-kata tidak baku dalam beberapa pemberitaan atau reportase di surat kabar. Kecenderungan surat kabar menggunakan kata-kata tidak baku secara tidak langsung akan ditiru oleh masyarakat sebagai pembaca. “Untuk itu, setiap surat kabar serta wartawan diharapkan memiliki kamus bahasa Indonesia serta buku ejaan bahasa Indonesia sebagai pedoman,” terangnya.

Acara ini juga disertai dengan tanya jawab antara pemateri dengan peserta pelatihan. Ermanto juga menjelaskan posisi wartawan yang tidak boleh memihak, tidak memasukkan opini dalam pemberitaan, menggunakan bahasa lugas dan lancar, serta tidak sok tahu atas sesuatu yang baru dijumpai. “Banyak wartawan yang sok tahu sehingga mengaburkan berita yang ditulis,” tutupnya.

Paham Berita dan Kode Etik Jurnalistik


Seorang wartawan dituntut paham dengan konsep berita serta mampu menuliskannya dengan baik kepada pembaca. Selain itu, sebagai pengemban profesi jurnalis ia harus bekerja secara profesional dan menjunjung tinggi etika profesi sebagai landasan ia berpijak. Hal ini menjadi topik utama pembicaraan pada pelatihan jurnalistik di Harian Umum Haluan, Senin (7/3) lalu.
Nilai berita berkaitan dengan rasa ingin tahu khalayak atau seseorang terhadap suatu peristiwa, informasi, atau apapun yang berkaitan dengan diri, kehidupan, lingkungan, pekerjaan, sejarah masa lalu, hobi atau kegemarannya. Hal ini disampaikan H. Hasril Chaniago, Konsultan Pengembangan Media di depan sekitar 30 peserta Pelatihan Jurnalistik Haluan Media Group Angkatan 1 tahun 2011, Senin (7/3) lalu di kantor Harian Umum Haluan Kompleks Lanud, Tabing, Kota Padang.
Ia menambahkan nilai berita terdiri atas beberapa hal, seperti kebaruan, daya kejut, pengaruh atau cakupan, kedekatan, keanehan, ketokohan, kemanusiaan serta nilai bisnis. Dalam perusahaan pers, tambah Hasril, idealisme suatu koran harus dijaga dengan baik. Nilai bisnis dalam berita bukan untuk mengaburkan atau menghilangkan idealisme, tapi justru menguatkan. “Idealisme harus disokong dengan nilai ekonomi agar koran kita tetap dibaca orang,” jelas Hasril.
Dalam pelatihan itu juga hadir Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Sumatera Barat, Basril Basar. Ia memberikan materi seputar Kode Etik Jurnalistik (KEJ) serta menampilkan berbagai permasalahan seputar media. KEJ merupakan sekumpulan aturan yang akan menuntun wartawan dalam bersikap dan berbuat ketika menjalankan tugas-tugas jurnalistik. Beberapa pasal pun disampaikan Basril sebagai salah satu contoh aturan yang harus ditaati baik oleh media pers maupun wartawan sendiri.
Basril menambahkan, persuratkabaran pada dasarnya tidak hanya memiliki peran sebagai penyampai informasi, namun juga memiliki peran lain yang lebih utama. Pers juga berperan sebagai media pendidikan, hiburan, perekonomian, serta kontrol sosial bagi pemerintah ataupun masyarakat. “Peran ini harus seimbang dijalankan,” jelasnya, Senin (7/3) sore lalu.
Ia juga menyinggung tentang kebebasan pers di Tanah Air. Kebebasan pers merupakan hak asasi manusia. Pemerintah tak boleh campur tangan atau mengintervensi pers dengan cara apapun. “Apalagi membredel pers,” tegasnya. Walaupun demikian, bukan berarti pers memiliki kebebasan mutlak. Pers tetap memperhatikan norma-norma agama, adat, sosial, serta menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dalam pemberitaannya.

Memoar Pengrajin Sepatu



Di tengah semakin maraknya industri rumahan yang memproduksi sepatu dengan memanfaatkan berbagai kemajuan teknologi, Jasrizal, 52 th, tetap memberdayagunakan peralatan dan kemampuan seadanya. Di kiosnya yang berukuran sekitar 3m x 3m di Jalan Prof. Dr. Hamka No 75, Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, pria asal Padang Pariaman ini mengerjakan semua tahap pembuatan sepatu secara manual dengan perlengkapan seadanya. Di sekitar ia duduk, berserakan perlengkapan pembuatan sepatu, seperti gunting, obeng, lem sepatu, benang, paku-paku kecil, serta peralatan lainnya. Tak jauh darinya, berdiri mesin jahit Singer yang telah berumur puluhan tahun.
Sejak 25 tahun lalu, Jas, begitu akrabnya, sudah menghuni kios itu. Warga Siteba ini menyewa kios tersebut sebesar Rp 3,5 juta setiap tahun. Kios itu merupakan ‘sawah dan ladang’ Jas serta keluarga. Dengan kios dan usaha pembuatan sepatunya, Jas telah menamatkan sekolah lima dari tujuh anaknya. Kebanyakan anak-anak Jas lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sebagian telah menikah dan bekerja. “Dua orang lagi sedang (menempuh) SMP (Sekolah Menengah Pertama),” ungkap Jas, Minggu pagi (27/2) lalu.
Setiap hari, rata-rata Jas memperoleh Rp 200 ribu dari hasil pembuatan serta perbaikan sepatu dari orang-orang yang berkunjung ke kiosnya. Ia pun selalu mengusahakan membuka kiosnya setiap hari, mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. “Semakin sore dan malam, semakin ramai,” jelas Jas sambil mengganti beberapa alas sepatu pelanggannya.
Keterampilan membuat sepatu diturunkan oleh sang ayah kepada Jas sejak ia berumur belasan tahun. Anak-anak Jas pun mahir membuat serta memperbaiki sepatu yang rusak. Namun, tak satu pun dari anak-anaknya yang mewarisi usaha Jas. Anak-anak Jas lebih memilih bekerja di bidang lain, seperti dua anaknya yang bekerja pada proyek pembangunan masjid di Kota Padang. “Dan saya tak pernah memaksa mereka (mewarisi usaha ini,red),” katanya. Lagi pula, tambah Jas, terlalu banyak yang mengelola usaha yang sederhana ini juga tidak baik. Membiarkan mereka bekerja di tempat lain, tentu akan menambah pengalaman mereka.
Melakoni pekerjaan membuat dan memperbaiki sepatu tak pernah membuat Jas rendah diri. Ia bangga dengan pekerjaannya yang selalu bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal serta ‘penting’. “Yang ngesol sepatu di sini, rata-rata polisi, tentara, guru, dosen, serta mahasiswa,” ungkapnya sambil tertawa. Selain itu, Jas merasa kehidupannya lebih bermakna dengan lebih banyak menjalin keakraban daripada hanya mencari uang melulu. “Beberapa kali saya tidak meminta upah dari pelanggan,” jelasnya.
Namun, Jas juga mempunyai angan-angan untuk membesarkan usahanya. Dua tahun lalu ia menderita kecelakaan. Operasi di kepalanya yang memakan biaya puluhan juta pun tak dapat dielakkan. Jas kekurangan modal untuk membangun usahanya kembali. Hingga sekarang ia hanya mengandalkan modal usaha yang tersisa. Tiga lelaki yang sering membantu Jas di kios juga tak bekerja lagi.
Suami dari Silvia, 47 th, ini enggan untuk meminjam modal usaha pada bank ataupun koperasi. Baginya, selain urusan yang berbelit-belit, juga disebabkan bunga peminjaman yang besar. Ia merasa justru semakin diberatkan dengan sistem peminjaman tersebut. Hingga sekarang, Jas melakoni usahanya dengan modal dan keadaan seadanya. “Modal usaha selalu jadi kendala. Ya, semoga ada yang berniat membantu dengan cara yang lebih mudah,” terangnya sambil menyelesaikan sol sepatu.

Antara Pelanggan dan Harga

Dugaan virus flu burung (H5N1) yang tersebar di beberapa tempat di Kota Padang baru-baru ini, dirasakan sudah mulai berimbas ke sejumlah pedagang sate ayam di kawasan Air Tawar, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Bukan karena pelanggan yang mengonsumsi sate ayam berkurang, tetapi ketersediaan daging ayam ataupun ayam semakin berkurang di pasaran. Hal ini menyebabkan melonjaknya harga daging ayam dari biasanya.
Ajo, 56 th, pedagang sate ayam yang selalu mangkal di depan Hotel Basko, jalan Prof. Dr. Hamka, mengeluhkan harga daging ayam yang semakin mahal. Pedagang sate yang satu ini identik dengan sate cekernya. Kaki-kaki ayam itu diramu dan dijadikannya sebagai santapan dengan harga murah meriah. Namun, sejak merebaknya flu burung di Kota Padang, harga ceker pun melonjak.
“Biasanya saya membeli 100 ceker hanya Rp 20 ribu, sekarang jadi Rp 30 ribu,” keluh Ajo, Kamis (10/3) malam kemarin. Sedangkan ia tak bisa menaikkan harga sate ceker per tusuknya, pelanggannya bisa beralih ke pedagang sate lain. Untuk daging ayam hal serupa juga terjadi.
Hal senada juga dijelaskan Ajo Piaman, 45 th, pedagang sate keliling di sekitar kampus Universitas Negeri Padang. Walaupun harga melonjak, mulai dari daging ayam serta bumbu-bumbunya, pedagang ini tak berniat menaikkan harga per porsinya, melainkan mengurangi porsinya. Ini salah satu taktik yang dilakukan untuk menyeimbangkan harga dan keuntungan yang didapat kelak.
Hingga saat ini pelanggan kedua pedagang sate ini belumlah berkurang terkait merebaknya flu burung di Kota Padang. Pelanggan sate belum terpengaruh dan merasa takut ketika mengonsumsi sate. Pendapatan kedua pedagang ini pun tak berkurang dari biasanya.
Ajo hampir setiap malam memperoleh pendapatan dari berjualan sate sekitar Rp 1 juta. Ia mulai mangkal sejak pukul 17.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB. Setiap malam Ajo menjual 800 tusuk sate dengan berbagai jenis. Ada daging ayam, ceker, siput atau lokan, daging sapi, hingga buntut. Dari berjualan sate, tiga dari empat anaknya telah jadi sarjana. “Minggu besok, yang nomor tiga, tamat Akper akan baralek,” ungkapnya sambil mengipas-ngipas daging sate di atas bara api.
Sejak 30 tahun lalu, Ajo telah melakoni kehidupannya dengan hasil berjualan sate. Ia mengaku telah membangun rumah permanen di kawasan bibir pantai, Patenggangan, di Air Tawar. Hingga kini ia telah memiliki tiga gerobak sate yang dijalankan oleh keponakan dan saudaranya yang lain. Baginya pelanggan menjadi nomor satu untuk keberhasilan usaha satenya selama ini. Termasuk ketika virus flu burung merebak di Kota Padang. “Saya memilih daging ayam yang bagus. Membeli ayam hidup-hidup dan diperiksa, sakit atau sehat,” begitu kata Ajo meyakinkan pelanggannya.
Santi, 26 th, warga Air Tawar Selatan, tidak merasa ketakutan jika mengonsumsi sate ayam. Menurutnya, infeksi flu burung tidak terjadi ketika mengonsumsi daging ayam yang telah dimasak. “Aman-aman saja makan sate ayam,” ujarnya sambil tersenyum.

Haluan Siapkan Jurnalis Muda

Guna memenuhi kebutuhan wartawan di Haluan Media Group (HMG), CEO HMG H. Basrizal Koto membuka Program Pelatihan Jurnalistik HMG Angkatan 1 tahun 2011. Program ini mempersiapkan calon-calon wartawan agar benar-benar siap bergabung dan bekerja sama dengan berbagai unit kegiatan dan usaha di HMG kelaknya. Hal ini disampaikan Syamsurrizal, selaku ketua pelaksana acara grand launching HMG, Senin (14/2) siang lalu di Lt.6 Best Western Premiere Basko Hotel, Padang.
Mengusung tema ‘Menciptakan Jurnalis yang Berkualitas dan Profesional’ acara ini menghadirkan Tarman Azam selaku Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Indrawadi Tamin pakar komunikasi, Taufik Ismail sastrawan, serta CEO HMG H. Basrizal Koto. Selain itu, acara ini juga diikuti oleh pihak-pihak dari Basko Group baik yang tersebar di Riau, Kepulauan Riau, maupun di Padang sendiri.
Dalam sambutannya, Tarman Azam menekankan kerja profesionalisme dalam dunia media menjadi utama dan tak bisa ditawar-tawar. Profesionalisme ini tidak bersifat pribadi, tapi justru kolektif. Mulai dari pihak paling bawah hingga paling atas. “Kerja sama menjadi penentunya. Apakah maju atau hancur,” ungkapnya. Selain itu, dunia wartawan bagi Tarman adalah dunia yang tak pernah berhenti belajar. Orang-orang yang tergabung di dalamnya adalah orang-orang terpelajar dan paham kode etik. “Makanya harus merekrut orang hebat, cerdas, dan tak henti-hentinya belajar,” kata Tarman.
Sedangkan Indrawadi menjelaskan tentang kode etik dan kebebasan pers di Tanah Air. Bagi Indrawadi, setiap jurnalis harus tahu dan mengerti dengan kode etik yang mengatur profesinya. Kode etik menjadi kaidah moral yang harus dipatuhi demi ketentraman banyak pihak. Dengan kode etik, pers diharapkan jauh dari pemberitaan yang sensasional, pornografi, dan perbuatan tidak terpuji lainnya. “Kebebasan pers diharapkan tidak membahayakan masyarakat,” ujarnya. Selain itu, kebebasan pers (freedom of press) sering disalahartikan dengan free for dan free from. Ada yang free for sensasional dan pornografi, tentu saja ini melanggar Undang-undang Pers No 40 tahun 1999. “Namun yang lebih diharapkan adalah free from perpanjangtanganan pemerintah,” tegasnya.
Kehadiran sastawan ranah Minang, Taufik Ismail, selain membacakan puisi-puisi karyanya ia juga menyinggung penggunaan bahasa Indonesia yang semakin ditinggalkan oleh orang Indonesia, khususnya dunia media di Nusantara. “Kesadaran berbahasa bukan urusan teve, tapi mencari laba itu urusan teve,” ujarnya. Selain itu, ia juga menyinggung tentang minat baca generasi muda yang merosot dari tahun ke tahun karena keasyikan dengan dunia digital.

Deretan Barak di Politeknik Negeri Padang

Kafetaria menjadi tujuan pertama pelepas penat setelah disibukkan dengan berbagai kegiatan perkuliahan. Kafetaria tidak hanya sebagai tempat memesan dan mengisi perut dengan berbagai jajanan. Tetapi, juga sebagai berkumpul, bersenda gurau, berdiskusi, ataupun sebagai tempat pacaran. Begitu juga dengan kafetaria-kafetaria di Politeknik Negeri Padang (PNP). Mahasiswa di sini menyebutnya dengan barak.
Sejak pukul 07.00 WIB, kafetaria-kafetaria ini telah menjajakan berbagai makanan serta minuman yang diminati mahasiswa. Harganya pun tentu disesuaikan dengan kantung mahasiswa. Walaupun sederhana dan bahkan seadanya, tetap saja kafetaria-kafetaria ini diramaikan oleh mahasiswa menjelang sore.
Rosna (52), warga Kelurahan Koto Tuo, kompleks Universitas Andalas, setelah azan subuh berkumandang segera mendatangi baraknya. Ditemani oleh suami atau anak gadisnya, Rosna pun memulai beraktivitas, seperti memasak nasi, membuat gulai atau sambal, menyiapkan bahan-bahan lotek, memasak lontong sayur, serta makanan lainnya.
Ni Ros, begitu akrabnya, telah berjualan di PNP sejak tahun 1993. Ia bersama beberapa penjual makanan lainnya telah dua kali digusur oleh pihak PNP selama berjualan di kampus itu. Terakhir, pihak PNP menyiapkan tempat berjualan dalam bentuk deretan kios seukuran 5m x 4m per orang bagi masyarakat di sekitar PNP sebagai bentuk penertiban. Setiap pedagang dikenakan sewa barak Rp 7000 per hari. “Tapi saya hanya membayar Rp 5000,” ujarnya sambil tertawa, Selasa (1/3) lalu.
Bagi Ni Ros dan teman-temannya, barak yang disediakan PNP belum mencukupi untuk menampung barang-barang mereka. Secara serempak mereka pun memperpanjang luas barak menjadi sekitar 10m x 4m ke arah belakang dan beberapa meter ke depan. Alhasil barak mereka pun semakin luas, siap menampung ratusan mahasiswa PNP yang datang ke sana.
Barak ini bagi Ni Ros merupakan sumber pertama mata pencaharian keluarga mereka. Keberadaan mahasiswa pun cukup menentukan pendapatan mereka setiap hari. Jika musim libur, Ni Ros dan teman-teman pun sepi penghasilan, karena kebanyakan mahasiswa tidak ke kampus. Begitu juga jika perkuliahan kembali normal. Setiap hari Ni Ros bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp 500 ribu. “Dan barak ini hampir setiap hari dibuka,” jelasnya sambil mengulek cabe.
Menghadapi berbagai ulah mahasiswa, yang kadang tidak membayar setelah makan di baraknya, Ibu tiga anak ini pun merelakan semua itu. Baginya, kelak si mahasiswa akan merasa berdosa kemudian melunasinya. Sebuah foto kelas mahasiswa PNP berukuran 10R terpampang di gerobak nasi Ni Ros. Hal ini menandakan mahasiswa-mahasiswa tersebut dulu akrab Ni Ros. “Setiap barak memiliki pelanggan dari berbagai jurusan,” tutupnya.

Dari Pasal ‘Karet’ hingga KPU

Kriminalisasi atau terpidananya seorang wartawan semata-mata dikarenakan ketidakprofesionalan mereka bekerja dalam memberitakan suatu perkara dan sebagainya. Kejahatan penghinaan ini disebutkan pada pasal 310, 311, dan 315 dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). “Tidak hanya wartawan, penerbit dan percetakannya pun bisa dijerat,” jelas Rusdi Zen, SH, pengacara serta Ketua DPD KAI Sumatera Barat, Jumat (25/2) lalu, di kantor Harian Umum Haluan Kompleks Lanud, Tabing, Kota Padang.
Rusdi menambahkan, kejahatan atau delik yang dilakukan melalui media massa merupakan delik umum. Sebagai delik umum, pasal-pasal yang digunakan pun bebas untuk menjerat si pelaku. “ Jadi para wartawan ini dijerat tidak selalu dengan UU Pers No 40 itu,” ungkapnya. Agar wartawan ataupun profesi lainnya tak terpidanakan, kepatuhan terhadap kode etik atau profesi sangat diutamakan.
Pemberian materi dalam Pelatihan Jurnalistik Haluan Media Group Angkatan 1 tahun 2011 ini tidak hanya tentang delik pers tetapi juga menghadirkan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Barat, Marzul Veri. Ia menyampaikan materi tentang sosialisasi atau pendidikan politik bagi masyarakat untuk memilih presiden, anggota dewan, serta kepala-kepala daerah.
Marzul menyayangkan masih adanya bias Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK dan BKK) di kampus-kampus yang pernah diterapkan, tidak hanya di Sumatera Barat tapi juga di daerah lain. NKK dan BKK menuntut kampus bersih dari segala aktivitas perpolitikan. Hal ini menyebabkan mahasiswa tidak peduli dengan politik serta pemilihan-pemilihan kepala daerah di daerahnya. “Dan tingkat tertinggi golput itu ada pada mahasiswa,” ungkapnya di depan 26 peserta pelatihan.
KPU, tambah Marzul, bertindak sebagai pelaksana, mengikuti aturan perundangan serta menyukseskan pemilihan umum. Kesuksesan ini tentu harus dibantu oleh masyarakat sebagai partisipan terbesar. Dalam menjalankan tugasnya, KPU harus bersikap netral, tidak memihak salah satu calon atau partai. “Kasus ada anggota KPU dari partai politik, wah saya tidak ikut-ikut,” ujarnya sambil tertawa.

Tuesday, 22 March 2011

Seniman Jalanan Saluang dan Suliang “Daripada Meminta-minta Lebih Baik Menghibur Orang”



Alunan saluang menyayat dari kejauhan. Suaranya berkejaran dengan deru sepeda motor dan mobil yang lewat. Seakan tak mau tahu, Rizal dengan khusyuk memainkan saluang dan suliangnya bergantian. Berharap kepada siapa saja yang datang dan berkenan memberinya uang barang seribu atau berapa pun. Selembar ribuan pun dimasukkan oleh seorang pemuda ke dalam kardus bekas di depan Jasril.
“Mokasih (terima kasih_red),” katanya sambil memamerkan senyum terindah yang ia miliki.
Hembusan angin sore ikut serta mengabarkan alunan saluang dan suliang itu kepada siapa saja yang berlalu lalang di sekitar lapangan sepak bola Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Padang sore itu, Rabu (15/3) lalu. Sesekali beberapa mahasiswa yang sedang jogging ataupun bermain bola kaki melempar pandang ke arah Rizal. Ada juga dari kejauhan beberapa mahasiswa memperhatikan laki-laki berusia 35 tahun itu memainkan alat-alat musik yang dibawanya.
Rizal telah 19 tahun menghabiskan hidupnya dengan saluang. Sejak berhenti dari sekolah dasar kelas empat, ia pun menekuni dan menggantungkan hidup dengan saluang hingga sekarang. Dari Alahan Panjang, Solok, Rizal berhenti di beberapa rumah makan guna memperlihatkan kehebatannya memainkan saluang. Tak puas dengan saluang, beberapa bulan ini ia pun menekuni bermain suliang.
Pendapatan Rizal setiap hari tidaklah banyak. Ia mengantongi sekitar Rp 60 ribu per hari. Dan tiap hari pula ia harus mengeluarkan Rp 30 ribu untuk ongkos pulang pergi dari Alahan Panjang ke Kota Padang. Sisanya untuk belanja lelaki lajang ini sehari-hari.
“Awak alun punyo bini (saya belum beristri_red),” ujarnya sambil membuang pandang ke mahasiswa-mahasiswa yang sedang berolahraga. Saban hari ia bertolak dari Alahan Panjang sekitar pukul 11.00 WIB dan kembali ke rumah peninggalan orang tuanya di kampung larut malam.
Bagi Rizal, mengamen dengan saluang dan suliang lebih menarik dan mulia daripada meminta-minta. Ia tidak tertarik sama sekali jika hanya meminta sedekah kepada orang-orang untuk hidup. Memberikan keindahan bunyi dan menghibur orang yang berseliweran di sekitarnya melahirkan keasyikan dan ketenangan tersendiri bagi Rizal.
“Ndak masuak doh kalau mamintak-mintak di pasa (tidak sesuai bagi saya kalau meminta-minta di pasar),” ujarnya.
Untuk itu, Rizal pun tidak melulu ngamen di tempat yang sama setiap hari. Ia akan beranjak dari satu daerah ke daerah lain secara bergantian.
“Biasonyo limo hari awak baaliah lai (setelah lima hari saya berpindah tempat ngamen_red),” pungkasnya. Hal ini menurutnya agar orang-orang di daerah itu tidak bosan dengan permainan saluang dan suliang serta dirinya.
Rizal mengaku baru pertama kali ngamen di kampus, tepatnya di UNP. Pengalaman ngamen di kampus, diakuinya tidak mendapatkan banyak penghasilan dibanding ngamen di rumah makan ataupun di trotoar-trotoar.
“Mungkin bisuak ndak kamari lai (mungkin besok tidak ke sini lagi_red), ” jelasnya sambil mengelus-elus saluang di pangkuannya.
Kali ini ia sengaja datang ke Kota Padang untuk bermain saluang. Biasanya ia ngamen di rumah makan di Sungai Rumbai, Bungo, Gunuang Medan, dan daerah lainnya. Ketika ditanya Haluan apakah ia berniat menikah, Rizal hanya menggeleng lemah sambil berujar, “Alun ado jodoh lai (belum jodohnya_red),” diiringi gelak renyah Rizal.

Thursday, 3 March 2011

Ilmu Lain di Luar Bangku Sekolah


Judul : Sekolah Sambil Berpetualang
Penulis : Rahul Alvares
Penerjemah : A. Rachmatullah
Penerbit : ONCOR Semesta Ilmu
Tebal : viii + 156 halaman
Cetakan : Pertama, 2010
Harga : Rp 35.000,-



Tak mudah mengambil keputusan setelah tamat Sekolah Menengah Atas berpetualang ke daerah-daerah lain yang belum diketahui. Apalagi jika hal ini dilakukan oleh seorang bocah belasan yang tindak tanduknya masih harus dipantau oleh kedua orang tua. Tapi siapa sangka bocah dari salah satu daerah di India, dalam usia 16 tahun memutuskan berpetualang ke daerah-daerah yang belum pernah dilaluinya selama dua belas bulan kemudian.
Bagi si bocah, memperoleh pengetahuan tidak hanya di bangku sekolah. Ia bisa mendapatkan ilmu lebih banyak dan rinci dengan langsung turun ke tempat-tempat dimana ia bisa belajar. Untuk memenuhi keinginan dan hasrat itu ia tak segan-segan dan tak takut untuk hidup menumpang dan makan seadanya kepada orang yang baru ia kenal. Menjadi pesuruh di sebuha toko aquarium, menjadi profesi pertama yang ia lakoni sebelum deretan petualang yang mengasyikkan sambung-menyambung dalam perjalanannya kelak.
Buku ini memang kisah petualang penulis yang dituangkan dalam bentuk kisah-kisah lucu dan bermanfaat selama ia berpetualang ketika tamat sekolah dulu. Berbekal restu dan persediaan seadanya dari orang tua, penulis mulai menjelajah berbagai daerah dengan latar sosial dan keadaan alam yang unik pula.
Selama berpetualang, penulis belajar bagaimana membuat dan memperbaiki aquarium, mengemas pupuk kompos, berteman dengan ular, belajar bertani, membiakkan cacing tanah, serta pengalaman lainnya. Si bocah tidak hanya banyak mengenal ilmu pengetahuan, tetapi ia semakin mudah akrab dengan orang-orang atau keluarga yang sudi menampungnya selama menjalani petualangan ke daerah-daerah atau ke kampus-kampus yang berbeda.
Buku ini adalah sederetan kisah menarik dan penuh pengetahuan dari penulis. Dalam usia mudanya penulis selain berani berpetualang sendiri, ia juga menuliskan kemudian mengirimkan tulisan tersebut ke media massa untuk di baca oleh khalayak ramai sebagai penambah ilmu. Berbagai pengalaman ia dapati, seperti mengenal berbagai macam ular, bagaimana cara mengobati jika di gigit ular, atau pengalaman makan cacing dan kecoak sebagai hasil dari pembiakan sendiri.
Kumpulan kisah Rahul menyajikan cerita dan pesan tersendiri bagi remaja atau generasi muda untuk mampu hidup mandiri dengan segala keterampilan yang didapat, bisa dikatakan sejak dini. Rahul tak bisa mengatur keuangannya, namun setelah melakukan petualang dengan duit pas-pasan dari orang tua, ia harus mampu mengatur pengeluaran dan pendapatan agar tak kelaparan di tengah perjalanan. Selain itu, ia bukannya tak mendapati kendala selama melakukan petualangan, namun ia harus mampu mengatasi dan meminimalisir semua akibat itu sebelum merugikan dan mencelakai dirinya sendiri. Inilah pola berpikir dan bertindak yang harus dimiliki oleh setiap anak muda jika ingin sukses dan tentunya harus cerdas.
Selain menyuguhkan kisah-kisah menarik, buku ini juga mengajarkan kepada kita betapa pentingnya mencintai alam dan selalu menjaga keseimbangan ekosisten yang ada di alam untuk kehidupan mendatang. Sebuah kisah yang penuh ekspresi kecintaan terhadap bumi dan seisinya dari seorang anak muda di daerah kecil di India sana.

Sampah Visual

Keberadaan sinema elektronik atau sinetron semakin banyak mendapat sorotan di masyarakat. Kisah ceritanya ditampilkan dengan puluhan atau bahkan ratusan episode hanya untuk mengisahkan seorang gadis malang yang tiba-tiba dicintai banyak pihak, terutama kaum lelaki. Semua itu dikisahkan berputar-putar, klasik, tak masuk akal, bahkan terkesan lebay. Ada-ada saja yang diarahkan oleh sang sutradara untuk membuat cerita menguras emosi penonton, tapi lebih banyak sumbang.
Pihak yang berkepentingan atau tidak, mengecam keberadaan sinetron yang dinilai merusak moral anak bangsa. Unsur edukasi diabaikan hanya karena demi memperoleh rating tertinggi. Unsur hiburan pun terabaikan. Karena sinetron tak lagi menghibur penonton dengan kisah-kisahnya yang dibuat-buat rumit dan melelahkan. Sinetron, film-film picisan produk dalam negeri, pun menuai berbagai kritik. Isinya bermacam-macam, ada yang ingin mengatur jam tayang sinetron, tak lagi prime time, ada yang mencemooh dan mengolok-olok dengan berbagai cara; lukisan, teaterikal, tulisan, dan sebagainya, namun yang lebih parah mengharamkan sinetron tayang pada tivi-tivi masyarakat dalam negeri.
Walaupun demikian, sinetron tetap saja mendapat tempat hati masyarakat di Tanah Air. Setiap si gadis malang mulai tayang, masyarakat terutama kaum ibu dan remaja putri sudah duduk manis di depan televisi mereka hingga dua atau tiga jam ke depan. Mereka merasa ada yang kurang menjelang tidur dan esok hari jika tidak menyaksikan bagaimana kelanjutan kisah kehidupan si gadis malang malam itu. Tidak sampai di situ, acapkali kisah si gadis malang dibawa-bawa ke kehidupan nyata. Mulai dari mengisahkan ulang kehidupan si gadis di beranda-beranda rumah pada tengah hari hingga mencoba meniru dan melakukan hal-hal yang dilakukan si gadis malang di dalam televisi.
Sepertinya, semakin banyak pihak yang mencoba ‘membumihanguskan’ sinetron, semakin banyak pula pihak-pihak yang menyuburkan salah satu lahan usaha ini. Para remaja digaet untuk ambil tempat dalam dunia sinetron Tanah Air. Remaja-remaja ini dijanjikan dan diperkenalkan dengan kehidupan kota, hedon, dan tentunya bebas. Tak jarang, bagi seorang artis besar dan tersohor, sinetron merupakan salah gerbang menapaki kehidupan yang lebih makmur.
Masyarakat semakin terbuai dengan keberadaan sinetron setiap malam di rumah mereka. Sinetron bagi mereka menjadi peri tidur guna meninabobokan masyarakat yang telah lelah bekerja dari pagi hingga petang bahkan malam, namun kelak uang mereka dijarah penguasa. Masyarakat tak sadar lagi telah dibodohi dan diiming-imingi kehidupan super dupel mewah dan megah. Mereka hanya tahu bagaimana menghilangkan kepenatan dengan mempelototi body-body cantik, seksi, dan gagah tanpa pernah mendalami apa maksud dari cerita yang dikisahkan.
Kondisi ini memang memprihatinkan. Masyarakat kita dibodohi oleh orang-orang sebangsa dan setanah air hanya demi kepentingan kelompok dan golongan dengan dalih hiburan serta tren masa kini. Dan semakin banyak orang-orang sebangsa yang berbuat seperti itu. Atau jangan-jangan masyarakat kita paham dan bosan dengan kehidupan yang serba pahit di Bumi Pertiwi ini kemudian beralih menggandrungi lakon-lakon fiksi namun sempurna dan mampu melupakan kepahitan hidup walau sesaat.