Sunday, 6 February 2011

Dua Panggung Pelacur


Judul : Agama Pelacur
Dramaturgi Transendental
Penulis : Prof. Dr. Nur Syam, M.Si
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tebal : xviii + 200 halaman
Cetakan : Pertama, Oktober 2010
Harga : Rp 55.000,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP


Salah satu fenomena sosial yang menyimpang –terutama dalam kaca mata agama dan budaya- sekaligus unik adalah dunia pelacuran. Jika mengingat satu kata ini, yang terbayang tentulah kehidupan malam dengan segala aktivitas seksual yang tidak hanya memalukan dan menjijikkan, tetapi juga merupakan kejahatan seksual dan hampir selalu mendapat tantangan dari beragam pihak. Perkembangan dunia pelacuran dewasa ini juga berjubel di Tanah Air. Tidak hanya di kota-kota besar, di kampung-kampung pun dunia esek-esek ini tumbuh subur.
Persoalan seksualitas sudah sangat lama diperbincangkan. Mulai zaman Yunani Kuno hingga zaman yang sebar IT sekarang. Perbincangan seksualitas selalu menjadi ide menarik dan mendapat tempat di mana pun juga. Tidak hanya di kalangan masyarakat bawah, kaum menengah, dan atas pun kerap kali membahas hal ini. Sesuatu yang tidak mengherankan jika dunia seksualitas –yang dulu tabu dibicarakan- sekarang justru menjadi persoalan atau ide-ide yang perlu dijelaskan dengan seksama.
Saat ini seks telah memasuki ranah publik. Sekarang ini orang membicarakan seks seperti orang membicarakan politik, bisa dimana saja dan kapan saja. Tidak hanya itu, seks pun bisa dipolitisir dengan berbagai alasan yang bisa ‘dilegalkan’. Apakah itu sebagai salah satu instrumen dalam menggaet banyak suara saat kampanye, terlepas nanti apakah ditolak atau diterima, maupun bidang lainnya. Tetap saja seks selalu diberi ruang untuk diperbincangkan atau dimanfaatkan.
Tidak hanya dalam bidang politik, dalam bidang ekonomi pun, seks menjadi salah satu komoditas di kawasan global yang menggiurkan. Perputaran uang begitu cepat hingga menjadikan seks sebagai salah satu bisnis yang banyak diminati orang-orang. Dalam hal ini seks menjadi sarana entertainment melalui beberapa media, seperti film porno, dan tentu saja melibatkan bintang film, rumah produksi, sutradara, jaringan peredaran, penonton, dan efek keuangan yang diperoleh nantinya.
Namun siapa sangka, di balik keremangan kehidupan pelacuran, pelacur itu sendiri mengalami dilematis dalam menjalankan perannya sebagai penghibur bagi pelanggan. Di satu sisi pelacur bertanggung jawab atas kehidupan selanjutnya secara ekonomi, baik anak dan keluarga, atau pun dalam ranah religiusitas dan tanggung jawabnya kepada Sang Khalik kelak. Dalam konteks ini, penulis menampilkan analisis dramaturgi transendental dalam menyikapi fenomena pelacuran yang terkesan sudah dilegalkan di negeri ini.
Konsep dramaturgi transendental menampilkan dua panggung dalam sebuah pertunjukkan. Panggung itu meliputi panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Dunia pelacuran yang kerap dipandang sebagai dunia dengan ruang sosial yang jauh dari keberuntungan, mampu menampilkan ruang yang berbeda. Jika selama ini terdapat anggapan bahwa ruang pelacuran adalah ruang yang hampa agama -pada panggung depan- namun tidaklah sama dengan panggung belakang, yang justru para pelacur tetap menjalankan kegiatan beribadah, semisal beramal, salat, mengaji, berdoa, dan lainnya.
Kajian dramaturgi transendental mencoba memberikan warna baru tentang dunia pelacuran yang kerap dipinggirkan. Generalisasi yang acapkali dilabelkan kepada pelacur tidak selamanya memberikan pembenaran empiris. Sekurang-kurangnya ada yang berbeda dari pelabelan atau stereotipe yang dilekatkan kepada mereka. Penulis pun menjelaskan betapa indahnya memandang sebuah fenomena tanpa langsung memberikan sak sangka yang menjatuhkan atau merendahkan terlebih dahulu tanpa alasan yang kuat dan terpercaya.
Agama Pelacur yang ditulis oleh Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, mengangkat dunia pelacur di Surabaya dan tempat-tempat lainnya di Pulau Jawa. Bermula dari penelitian lapangan yang melibatkan beberapa mahasiswa hingga menjadi sebuah buku menarik untuk disimak dan direnungkan. Walaupun pada beberapa sub judul terjadi repetisi cerita, seperti sejarah seksualitas sepanjang peradaban manusia, justru menjadi bahan memperdalam pemahaman pembaca bagaimana perkembangan seks di dunia dan beberapa kebudayaan kuno.

Pandanwangi

Secepat kilat orang-orang membuka bungkusan mayat mungil itu. Sebelum sempat dikuburkan, bungkusan putih itu bergerak-gerak. Mata orang-orang tak henti-hentinya memelototi gadis mungil dalam kain kafan tiga lapis itu. Tangis bayi itu pun pecah seperti baru keluar dari liang ibunya. Ucapan-ucapan syukur pun menggema di pekuburan kampung yang tiba-tiba ramai.
"Oh gadisku, ibu sayang nak," kecupan-kecupan cinta menghujani si bayi dari ibunya yang lusuh dan pucat pasi. Kulit perempuan itu berubah cerah ketika mendapati bayinya hidup kembali. Ia kehabisan tenaga setelah lima kali pingsan sejak tadi malam. Tak kuasa menerima kepergian putri bungsunya setelah diserang pelasit.
Selama tiga hari tiga malam keluarga perempuan itu mengadakan syukuran. Semua orang kampung dijamu. Berbondong-bondonglah orang miskin di kampung itu datang. Selama ini mereka hanya makan ubi sekarang diberi makanan enak-enak. Anak-anak yatim diundang. Disuruh mengaji dan mendendangkan puji-pujian pada Sang Khalik. Sebelum pulang mereka pun diberi surat Juz 30, berisi ayat-ayat pendek yang acap dipakai dalam salat.
"Semoga gadisku tak diserang pelasit lagi. Lindungilah ia Tuhanku," mohon si perempuan dalam doa-doanya.
Sejak itu, perempuan dan suaminya pindah ke rumah keluarga besar. Di sana banyak orang. Ada kakak, ipar, ibu, bapak, pakde, bukde, mbah-mbah pengrajin batik, dan para keponakan. Setiap saat si gadis kecil akan berkawan, baik siang maupun malam. Rumah besar itu pun dijaga oleh lima lelaki dewasa selama 24 jam.
"Bapak telah menggaji mereka selama lima tahun ke depan. Kamu jangan cemas lagi. Pelasit itu takkan datang kemari. Lagian Mbah Karno juga sudah Bapak kasih tahu. Ia sedia menginang cah ayu," kata Bapak pada malam pertama perempuan itu menginap.
***
"Ibu, aku mau sekolah di sekolah tari. Tak mau jadi guru." Ucapku pada ibu. Aku tak tertarik menjadi seorang guru seperti ibu, mbah putri, dan dua orang kakakku. Saban hari mereka mengurusi anak-anak penuh ingus, dekil, dan tentu saja bandel. Seperti kakakku itu, sepulang sekolah ia langsung tidur. Tak sempat lagi mengepangkan rambutku. Tak mau lagi diajak jalan-jalan ke tepi sungai.
"Mbak capek, jalan-jalannya besok saja ya," kalimat itu selalu meloncat dari mulutnya ketika kuajak. Aku kesal dan cemburu. Ia lebih sayang anak ingusan itu daripada aku. Aku enggan di rumah. Aku lebih sering bermain ke rumah Sri, tetanggaku.
Sri pintar menari. Walau ia masih kecil, tapi tubuhnya gemulai sekali. Ia bisa menari Pendet dan sudah seminggu ini kemana-mana ia selalu membawa piring plastik kecil. Katanya ia sedang belajar menari piring. Entah tarian apa itu. Tapi Sri sangat ingin mempelajarinya. Katanya ia akan ke luar negeri untuk menari. Melenggang-lenggok di depan orang asing yang putih-putih, tinggi-tinggi, dan amis. Tapi Sri sangat menginginkannya.
Setiap Sri bercerita, aku hanya mendengar. Bagiku orang putih dan tinggi itu ya seperti bapak. Tapi bapak tidak amis, hanya bau temulawak. Bapak suka minum itu karena ibu sering membuatkannya. Aku pun putih. Rambutku seperti emas. Tapi tidak tinggi. Juga tidak amis dan bau temulawak. Aku suka memakai bedak ibu, baunya bau pandan dan membuat aku selalu ingin makan.
Mbah putri juga bau pandan. Malahan sanggulnya dihiasi daun pandan. Kata embah, karena rambunya sudah tipis dan pendek, untuk menyanggulnya mbah menambahkan daun pandan agar lebih kuat. Aku mengenali, jika seseorang mendekat dan berbau pandan, siapa lagi kalau bukan ibuku dan mbah putri. Kesukaan dua perempuan ini pun mewarisiku.
"Selain wangi, pandan membuat seorang gadis lebih ayu dan menggoda," kata mbah padaku sambil merapikan sanggulnya. Aku tak mengerti waktu itu.
***
Setiap tiga bulan sekali, kami berkeliling kampung. Manggung dari satu kampung ke kampung lain. Dengan perlengkapan seadanya, aku, Sri dan beberapa teman, menghibur masyarakat desa dengan tembang dan tarian. Biasanya pada musim-musim purnama dan terang bulan. Karena pada waktu-waktu itu, masyarakat tampak lebih senang dan bersemangat. Ini musim petani menghabiskan malam dengan tertawa, minum-minum, menari, serta pesta. Perempuan dan laki-laki jadi satu. Serta tak jarang sebagai ajang cari jodoh. Selebihnya tidak.
Aku mengenakan kebaya jaring ular merah dengan dada sedikit menantang. Ini kebaya sulaman mbah putri. Ia begitu paham dengan dunia panggung dan tubuhku. Katanya, aku punya raut manis dan menggoda. Campuran darah ibu dan bapak menelurkan aku sebagai kembang desa. Di bawah sinar rembulan, wajah dan tubuhku semakin menggoda. Belahan rokku, acapkali tersapu angin dan memperlihatkan betis putih bulir padi.
Sedang asyik-asyik menari, tiba-tiba seorang lelaki tua menghampiriku. Kulitnya berlipat-lipat dimakan waktu. Bajunya lusuh dan dekil. Awalnya aku tak mengacuhkan lelaki itu. Ketika mata kami beradu, ia mengedipku dengan mata kanannya. Aku masih acuh, seperti biasa menunduk dan tetap tersenyum ramah. Sudah biasa hal itu dilakukan oleh seorang bongkok seperti dia.
"Dasar tua keladi," gumamku dalam hati.
Tapi ia terus mendekat. Lebih dekat dan dekat. Hingga kini kami hanya berjarak sejengkal. Aku mulai gelisah. Menolak atau pamit ke belakang sangat tidak sopan. Sri, semeter di depanku semakin asyik dengan goyangan dan tembangnya. Sepertinya orang-orang tak menghiraukan kami, tepatnya aku.
"Cah ayu, Pandanwangi," sapanya. Aku kaget bukan kepalang. Kali ini tatapannya tak lepas dari tubuhku. Pandanwangi, orang-orang memang menyebutku begitu. Tapi tidak untuk lelaki tua ini.
"Kau mengingatkanku pada mayat cabang bayi yang hidup kembali di pekuburan 20 tahun silam," katanya sambil menyeringai.
Duk, detak jantungku. Wajahku berubah pucat. Gerakanku melambat dan tak jelas.
"Tetap menari," katanya sambil melengos.
"Kau hidup dengan tarian, begitu juga aku." Kata lelaki itu kemudian.
"Pakde siapa dan mau apa?" tanyaku.
"Aku ke sini hanya untuk nembang dan nari," sambungku cepat.
Lelaki itu tetap melenggak-lenggok ringan. Namun tatapannya lebih tajam.
"Hanya nembang dan nari?" ulangnya. Aku tak mengerti.
"Sejak dua tahun kau nembang dan nari, sejak itu sawah-sawah semakin kering. Ladang-ladang semakin sempit dan tandus. Kau pikir petani itu bekerja setelah mereka menari dan nembang semalam suntuk denganmu ha? Tidak. Mereka sibuk dengan tuak, judi, dan perempuan."
Aku belum paham. "Aku tak berbuat seperti itu Pakde. Sepertinya tidak." Kataku sambil memperhatikan orang-orang kampung yang semakin asyik menari, tertawa, dan minum-minum.
"Pandanwangi, kau seperti ibu dan mbah putrimu." Katanya kemudian, masih berjingkrak-jingkrak.
"Ibumu bersuamikan londo dan mbah putrimu bersuamikan raden. Kedua perempuan ini yang memperkenalkan kehidupan mewah dan liar di kampung-kampung kepada perempuan dan lelaki. Karena awalnya mereka gundik yang kemudian menguasai tanah kampung ini, cah ayu," geram lelaki itu.
"Kau lihat!' katanya tajam, ia tidak lagi menari. "Sawah-sawah tak menghasilkan lagi. Ladang-ladang tak bersisa. Namun mereka tetap makan bukan? Karena mereka bersabung, mencuri, dan menjual diri ke tempat banyak londo di kota-kota besar sana."
"Seharusnya kau sudah mati Pandanwangi agar kau tak mewarisi tabiat ibu dan mbahmu." Kata lelaki itu dingin.
"Kau siapa?" geramku. Dadaku turun naik menahan amarah.
"Aku satu-satunya orang yang ingin menyelamatkan kampung-kampung," katanya sambil memegangi leherku. Mata bulatnya menyorotku dengan tajam. Tampangnya lebih keras dari sebelumnya. Air mukanya semakin keruh, seakan-akan ia melihatku seperti babi besar betina yang telah memporak-porandakan ladangnya.
Aku menepiskan tangannya. Berlari ke belakang panggung. Berlindung dan mencari hawa sejuk. Ngos-ngosan. Bukan karena kehabisan napas, tetapi cemas bercampur takut. "Setan mana itu?" batinku.
Tiba-tiba tangan kasar mencekikku dari belakang. Aaaggggrrrrrrkkkk. Aku sempat berontak dengan tangan, kaki, mata, dan hatiku. Namun, itu tak membantu. Pakde terlalu kuat. Lamat-lamat aku masih mendengar gendang ditabuh, baying Sri semakin cepat meliuk-liuk, dan orang-orang terbahak-bahak.
Sebelum gelap, aku masih mengingat sepotong kata, "Pakde."

2011 Padang, 4.31 AM