Monday, 10 January 2011

Mobil Gorden Coca-Cola

Belajar Kepemimpinan dari Cina


Judul : The Little Red Book
Leadership Secrects of Mao Tse-Tung
Penerjemah : A. Rachmatullah
Penerbit : ONCOR Semesta Ilmu
Tebal : x + 230 halaman
Cetakan : Pertama, 2010
Harga : Rp 40.000,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP



“Kita harus memberi pemahaman kepada rakyat bahwa negara kita ini masih miskin, dan kita tidak dapat merubah keadaan dalam waktu singkat; perubahan hanya mungkin terjadi jika generasi muda bersatu dengan rakyat, bekerja keras; hanya dengan cara demikian Cina akan menjadi kuat dan makmur dalam beberapa dekade ini. Penerapan sistem sosialisme kini telah membuka jalan kita menuju masyarakat yang ideal pada masa depan, namun untuk mewujudkannya dibutuhkan kerja keras.” On the Correct Handling of Contradictions Among the People (27 Februari 1957).
Kalimat di atas salah satu quotation dari Mao Tse-Tung dalam menyemangati anak-anak muda Cina untuk bangkit dari kemiskinan dan ketertinggalan dari bangsa lain. Calaan-celaan yang dihujamkan pemerintah Sovyet kepada Cina waktu itu, menyebabkan Mao begitu gigih menjalankan misinya, membangkitkan, memajukan, serta membuat Cina disegani negara-negara lain di dunia. Walhasil, Cina pun tampil sebagai sebuah raksasa yang baru bangun dari tidurnya dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat merambah hampir ke penjuru dunia, termasuk Indonesia saat ini.
Dewasa ini, Cina tidak lagi menjadi negeri ‘di balik tirai’ yang dikelilingi tembok tinggi yang angkuh. Kini, Cina yang komunis itu sudah membuka gerbangnya lebar-lebar dan menjadi negara sosialis kapitalis. Memang, julukan itulah yang tepat disandang negara Tiongkok itu sekarang. Cina tidak lagi menjadi kawasan tertutup bagi investasi dari luar. Justru kini, dunia sedang berlomba-lomba menancapkan paku bumi investasinya di negeri Cina itu. Tidak sedikit orang-orang Cina menjadi konglomerat baik di tanah leluhurnya maupun di tempat lain.
Perkembangan ini tidak terlepas dari peran pahlawan Cina, Mao Tse-Tung yang memproklamasikan Cina pada 1 Oktober 1949 lalu. Mao sendiri sebenarnya bukanlah seorang filsuf yang orisinil. Gagasan-gagasannya banyak dipengaruhi dan didasarkan dari bapak-bapak sosialisme lainnya seperti Karl Marx, Lenin, serta Stalin. Tetapi ia banyak berpikir tentang materialisme dialektika yang menjadi dasar sosialisme dan penerapan gagasan-gagasan ini dalam praktiknya. Namun, Mao menjalankan semua prinsip yang ia dapati secara orisinil pada Cina waktu itu. Mao bisa pula dikatakan seorang filsuf Cina yang pengaruhnya paling besar pada abad ke 20.
Konsep falsafah Mao yang terpenting adalah konflik. Menurutnya konflik bersifat semesta dan absolut, hal ini ada dalam proses perkembangan semua barang dan merasuki semua proses dari awal hingga akhir. Model sejarah Karl Marx juga berdasarkan prinsip konflik: kelas yang menindas dan kelas yang tertindas, kapital dan pekerjaan berada dalam sebuah konflik kelas. Pada suatu saat hal ini akan menjurus pada sebuah krisis dan kaum pekerja akan menang. Semua proses akhirnya, menurut Mao, akan membawa kita kepada sebuah keseimbangan yang stabil dan harmonis. Mao jadi berpendapat bahwa semua konflik bersifat semesta dan absolut, jadi dengan kata lain bersifat abadi. Konsep konflik Mao ini ada kemiripannya dengan konsep falsafah Yin-Yang di Cina.
The Little Red Book atau Buku Merah ini memaparkan nilai-nilai dasar kepemimpinan politik Mao selama memimpin Cina. Selama Revolusi Kebudayaan, para pelajar dan buruh wajib memiliki ini dan mempelajarinya. Buku ini disusun secara tematis dalam 33 bab, yang berisi nilai-nilai dasar kepemimpinan politik Mao. Bab-bab dengan halaman-halamannya membicarakan beragam persoalan kepemimpinan Mao. Mulai dari Partai Komunis Cina, Pertentangan Kelas, Perang dan Perdamaian, Kerja Politik, Pejabat dan Rakyat, Demokrasi dalam Tiga Lapangan Utama, Heroisme Revolusioner, Kader, Masa Muda, Wanita, hingga Kebudayaan dan Kesenian. Buku ini layak dibaca untuk seseorang yang menginginkan revolusi, paling tidak ‘revolusi’ bagi diri sendiri.

Sepasang Sepatu

Sepatu pada awalnya berfungsi melindungi kaki dari berbagai ancaman. Sebagai pelindung, sepatu selayaknya digunakan dengan rasa aman dan mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan. Saat ini, sepatu tidak hanya sebagai penopang kaki dan tubuh ketika berjalan, namun juga menggambarkan kelas seseorang yang memakai sepatu.
Jenis dan mode sepatu apa yang akan digunakan bisa saja menjadi persoalan besar. Apakah seseorang pantas mengenakan sepatu itu atau tidak? Persoalan ini pun bisa menyangkut apakah seseorang pantas dan memenuhi syarat dimasukkan ke dalam kelompok tertentu atau harus pindah ke kelompok lain.
Sepasang sepatu mampu menggambarkan bagaimana status sosial seseorang. Sepasang sepatu juga mampu mengangkat atau menjatuhkan harkat, martabat, dan derajat manusia. Sepatu bermerek akan dipandang sebagai citra diri tersendiri (ekslusif) dan cenderung istimewa. Begitu juga sebaliknya. Sepasang sepatu mampu beralih fungsi tidak hanya sebagai benda pakai, tetapi mempunyai bahasa tubuh tersendiri yang memiliki intrik. Selain sebagai produk historis, sepasang sepatu juga menjadi alat ukur kepuasaan sosial seseorang.
Sebagai contoh, tokoh Suhas dalam film 3 Idiots, kerap menampilkan siapa dia melalui apa-apa yang tengah ia gunakan, tidak hanya sepatu, tetapi juga jam tangan serta pakaian. Cerita Cinderella yang melegenda pun, dengan sepatu kaca menampilkan sosok putri atau perempuan sempurna dalam hal kecantikan dan keanggunan. Tak heran, berbondong-bondonglah para perempuan memakai sepatu serupa dengan sepatu Cinderella. Begitu kuat daya magis dari perubahan fungsi sepasang sepatu.
Selain itu, sepasang sepatu dalam konsep analisis wacana kritis, juga memiliki teks dan konteks. Hal ini tergambar pada peristiwa pelemparan sepatu oleh Muntadar al-Zeidi kepada Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, pada 2008 silam. Sepatu yang dilemparkan tersebut dihargai sekitar US$ 20 juta. Dukungan terhadap al-Zeidi pun muncul hampir di seluruh wilayah Arab. Walaupun ia sempat dibui, namun dukungan dan simpatisan yang menganggap ia sebagai pahlawan semakin banyak. Bahkan ada yang berniat menjadikannya sebagai menantu.
Pada peristiwa itu, sepatu tak lagi menjadi benda pakai yang digunakan di kaki, tetapi sebagai simbol perlawanan dan pemberontakan terhadap kekuasaan rongrongan bangsa Amerika Serikat. Ekspresi kekesalan dan kemarahan al-Zeidi melalui sepatu, menjadikan sepatu tersebut memiliki nilai jual tinggi, menjadi model untuk memproduksi sepatu serupa, dan digemari orang-orang. Ada kandungan teks, konteks, nasionalisme, dan perlawanan budaya terhadap kekejaman Amerika Serikat pada kasus pelemparan sepatu tersebut.
Perubahan fungsi sepatu tidak terlepas dari kepentingan produsen. Mitos iklan, yang penuh daya tarik dan pesona, mampu menyulap pemikiran manusia akan pentingnya citra diri dan menafikan fungsi utama sepasang sepatu. Akan banyak lahir mitos-mitos yang mempengaruhi dan mengatur pola pikir dalam menjelaskan siapa seseorang dan bagaimana karakternya melalui benda-benda yang diiklankan. Susunan kata-kata dalam bahasa iklan, langsung atawa tidak langsung dan sadar atau tidak sadar, pelan-pelan membuat orang-orang mengkultuskan mitos tersebut dan menjadikan diri sebagai korban secara sukarela.

Jurnalistik Mahasiswa pun Perlu Kompetisi

Kunjungan perdana Studi Media dan Budaya Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto di Jakarta sekitar sebulan lalu, 8 hingga 20 Agustus, pada surat kabar nasional Media Indonesia (MI). Salah satu media harian dari sekian banyak media yang berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat Indonesia ini, tak segan-segan memberikan pendapat, berbagi ilmu seputar dunia jurnaistik serta evaluasi terhadap SKK Ganto. Bertamu sekaligus belajar pada media nasional yang lebih profesional dari media kampus kami, kira-kira demikian kalimat yang cocok untuk menggambarkannya.
Lain MI lain pula Ganto. Jika pada keredaksian MI terdapat sesuatu yang menjadi ciri khas media ini, Ganto pun demikian. Perbedaan kontras dalam pemberitaan dan laporan antarmedia ini tidak begitu jauh. Walau pangsa pasarnya berbeda namun hakikat dan kode etik pun selalu dijalankan.
Bincang-bincang dengan kepala divisi pemberitaan MI, Ade Alwi, memaparkan seputar pemberitaan mulai dari ide yang diusung, hipotesa pra turun ke lapangan, editing, hingga pada masa layout, dini hari di percetakaan dan seterusnya pada sirkulasi produk MI ke ibukota serta daerah-daerah lainnya di tanah air. Khusus dalam sebuah berita baik yang soft news maupun hard news, tetap saja MI membingkai beritanya dengan sebuah frame. Pembingkaian berita di MI bertujuan agar berita tidak mencar ke mana-mana. Sudut pandang yang akan diambil pun lebih jelas hingga tidak menimbulkan kekacauan kacau tak menentu. Selain itu frame ini sangat efektif untuk mengkronologiskan sebuah peristiwa sesuai alurnya hingga mencapai sebuah titik yang telah ditentukan. Tidak hanya keindahan dan kejelasan yang akan diperoleh dari kegiatan ini, add value tersendiri akan segera dituai.
Pembahasan 15 menit tersebut masih seputar bingkai yang dipakai MI agar menjadikannya sebagai media pencetak informasi selain terbaru dan menarik serta credible (dipercaya pembaca) dengan pemberitaannya. Selang beberapa waktu, diskusi beranjak pada bentuk berita dan laporan yang ditawarkan. Tak pelak persaingan antarmedia semakin kuat dan keras. Masing-masing media pun harus berpikir keras menghadapi hal ini. Salah satu tantangannya ialah kecepatan dalam pemberitaan. MI melengkapi kebutuhan ini pun dengan telah mencoba menyatukan diri dengan dunia maya. Pemberitaan secara online tak bisa dielakkan. Harus dimiliki, demi sebuah kompetisi antarsesama.
Jika frame yang dipakai MI, mampu menjadikannya sebagai media yang kapabilitas di bidangnya, kenapa Ganto tidak pula untuk mencoba, demikian pikiranku saat itu. Ganto sebagai surat kabar kampus, media alternatif bagi civitas akademika UNP, tidak salah merombak diri, jika itu lebih baik, lebih variatif, dan lebih memasyarakat.
Pemberitaan MI pun juga dilengkapi dengan sistem online. Memang sudah sepantasnya setiap media memiliki hal ini. “Bagaimana pun juga, jika tidak ingin ketinggalan yah harus memakai sistem ini,” Jelas Ade Alwi selaku Kepala Divisi Pemberitaan. Untuk bentuk penyampaian informasi ini, Ganto pun telah memanfaatkan media online untuk keredaksiannya, berita. Namun belum menampilkan video sebagai penambah kemenarikan sebuah berita. Karena dengan adanya video di tampilan web Ganto sebagai penunjang informasi akan semakin bagus. Dengan video, penyampaian informasi kepada pembaca akan semakin banyak.
Ganto sebagai media dan atau bacaan bagi mahasiswa dan civitas akademika di kampus, jika mampu memanfaatkan sarana dan fasilitas yang ada akan membuat Ganto semakin besar dan lebih banyak dibaca orang. Labih dalam lagi, Ganto bisa menyaingi media local dengan cara dan cirinya sendiri, mahasiswa.
Sebagai mahasiswa, dengan ini Ganto dibangun, seharusnya bukanlah menjadi kendala jika dalam penyampaian berita akan lebih mampu menganalisa, bermain dengan riset, serta sangat mendukung dalam segi informasi yang lebih terbaru. Bergulat dengan jurnalisme sastrawi dan investigasi, bagi sebuah pers mahasiswa seperti Ganto, dirasa akan mampu. Belajar dari awal semenjak berada di Ganto merupakan sebuah modal untuk mengasah keterampilan menulis. Tidak hanya dalam menulis, mengasah kepekaan pun tidak kalah pentingnya. Namun, bagaimana caranya serta metode yang tepat dan sesuai dengan kondisi Ganto sendiri sangat perlu dipertimbangkan.
Selain itu, untuk di bidang riset, kalau di Ganto, namanya Penelitian dan Pengembangan, sebuah divisi yang bergulat dengan kemajuan dan serta selalu bermain dengan data, sampel, untuk menguatkan laporan. Pendapat dan keinginan pembaca kadang susah ditebak. Untuk itu sebagai media yang menomorsatukan data, fakta, dan logika, Ganto pun sudah seharusnya ‘membuka’ diri untuk siap dikritisi dan diberi saran dari pihak lain. Untuk itu, penelitian kecil-kecilan, riset serta bagaimana metode yang digunakan untuk menganalisa data tersebut memang harus sudah dimulai. Hal ini sangat berpengaruh bagi mahasiswa dan harian lokal setempat.
Media Indonesia (MI) memiliki bingkai/freame dalam setiap berita yang akan diturunkan. Frame ini sama dengan sudut pandang yang dipakai akan kemana berita diarahkan agar jelas duduk peristiwa serta solusi (jika ada) yang akan ditawarkan. Selalu hidupkan budaya ilmiah, baca, tulis di setiap kegiatan. Biasakan berhipotesa dengan isu dan peristwa hangat, agar banyak ide dan angel yang bisa diambil dalam menentukan dan menyelesaikan berita atau laporan.

Demam Korea dan Nasionalisme

Merebaknya kegemaran anak muda atau remaja Indonesia akan artis-artis kawakan dari Negara-Negara Matahari Terbit seperti Cina, Jepang, ataupun Korea, memberikan keasyikan tersendiri untuk disimak. Berawal dari kegandrungan mengikuti serial filmnya baik di televisi maupun membeli VCDnya.
Tak sampai di situ, untuk mengikuti sepak terjang sang aktor dan aktris dalam kehidupan sehari-hari, tak sedikit remaja bela-belain membeli majalah yang memuat idola mereka atau bahkan mengaksesnya di dunia maya, salah satunya mem-follow sang idola pada jejaring sosial seperti twitter ataupun facebook.
Dari sekian banyak aktor dan aktris tersebut, aktor yang berasal dari Korea lebih mendapat tempat. Genre musik dan style tersendiri dari personilnya kelihatan lebih menarik dari yang lain. Mulai dari penampilan aksi panggung sang idola, keterlibatan idola dalam sebuah talk show versi Korea, dan berbagai iven lainnya yang mengikutsertakan sang idola. Walaupun subtansinya hanya sekedar lucu-lucuan. Sang idola dan pemandunya kebanyakan hanya mengadakan acara semacam games yang membuat penonton tertawa.
Demam Korea pun merebak ke Sumatra Barat. Tidak sedikit remaja di Kota Padang mengandrungi band-band asal Korea serta performancenya di atas panggung. Selain mengoleksi lagu-lagu dan videonya, jangan heran ada juga yang mengoleksi foto-foto sang idola. Tidak sediki pula yang mencoba mempraktikkan pola tari serta lagu dari sang idola.
Lalu apa yang didapat dari deman Korea ini untuk para remaja? Menguntungkankah atau sebaliknya. Berkaca kepada apa yang telah terjadi, yang didapat dari deman Korea, pertama memuaskan keinginan menonton, melihat, dan mengamati sang idola dengan segala aktingnya. Memang jika memandang dalam segi ketampanan dan kecantikan, terlepas apakah mereka sudah menjalani operasi plastik atau tidak, orang-orang Korea ataupun sejenisnya jauh lebih menarik dari negara lainnya. Wajah orientalis mereka memang menggemaskan, bahasa remajanya ‘cute’, ‘imut’ dan sepadannya.
Film-film, lagu, dan sebagainya yang berasal dari sang idola, jika ditonton memang melahirkan sebuah kecanduan tersendiri untuk ingin selalu disimak hingga tamat. Remaja atau penonton secara tak langsung patuh mengikuti setiap seri dari serial film sang idola. Dampaknya, jika tak hati-hati dan cermat, kegiatan ini tentu hanya membuang-buang waktu remaja. Hal ini dikarenakan tidak banyak yang ditampilkan oleh sang idola yang mengandung nilai-nilai edukasi, seperti kearifan budaya Korea, sistem sosial di sana, ataupun lainnya.
Dengan demikian, tak salah jika seorang remaja demam Korea. Namun jika sampai melalaikan belajar, kegiatan bersama dengan teman-teman atau bahkan orang tua, akan menjadi sebuah trouble yang perlu dicarikan way outnya. Selain itu, demam Korea di tanah air ataupun di Ranah Minang, juga memberikan tantangan tersendiri bagaimana trik jitu agar band-band tanah air atau sejenisnya juga mampu merebut hati remaja untuk lebih cinta pada mereka. Bagaimanapun juga mencintai produk tanah air jauh lebih penting, bermakna, dan sangat nasionalis daripada berpaling ke ‘produk’ negara lain.

Pornografi Ancaman Karakter Bangsa

Maraknya peredaran video seks di dunia maya yang ‘menghimbau’ masyarakat luas untuk melihatnya, semakin mencerminkan watak bangsa yang memprihatinkan. Peredarannya begitu mudah diakses oleh siapa saja, termasuk di sini remaja dan anak-anak. Yang menjadi momok menakutkan adalah, aktor atau pelaku dalam video seks ialah seorang publik figur yang menjadi idola. Kenyataannya, apa yang dilakukan oleh pengidola tidak akan jauh-jauh dari apa pula yang dilakukan idola, yang selalu dibanggakannya.
Mudahnya remaja dan anak-anak mengakses internet yang di dalamnya banyak gambar dan video seks, akan menjadi semacam ancaman yang serius. Degradasi moral dan pembentukan karakter yang bobrok pun akan merajalela. Ini lah kecemasan dan ketakutan serius, baik bagi orang tua, keluarga, maupun negara. Antisipasi dan tindakan yang mangarah kepada ketertiban-ketertiban penguasa internet, mulai dilakukan pemerintah, seiring maraknya beredar video seks sepuluh hari belakangan.
Beredarnya video seks yang aktornya publik figur, menjadi perhatian bangsa dan elemen-elemen lainnya. Hal ini menjadi ancaman besar bagi pembentukan dan perkembangan moral anak bangsa. Karena peredaran video tersebut berpotensi memancing rasa ingin tahu publik, dan kemudian memburu video itu lewat internet. Hal ini menjadi kasus serius yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Semakin mudahnya setiap golongan dapat mengakses video seks, pada hakikatnya tidak terlepas dari media yang menampilkannya. Baik hanya berupa foto-foto ataupun potongan-potongan video yang notabene akan tetap memancing pemirsa untuk mencari link video tersebut. Kemudian melihat, menonton, dan tidak menutup kemungkinan memperagakannya, dalam bentuk apa pun.
Media merupakan sarana dan media yang menjadikan ‘aktor’ dan ‘penonton’ menjadi jauh lebih dekat dan akrab. Melalui media, ‘penonton’ bisa menyaksikan apa saja yang ingin disaksikan. Terlebih lagi dengan media online zaman sekarang. Tak ada lagi batas. Tak ada lagi hambatan. Hanya dalam hitungan detik, ‘penonton’ bisa mengakses apa saja, sesuka hati dan perut ‘penonton’.
Penguasaan dan penggunaan media online bagi remaja dan anak-anak juga semakin meningkat. Hal tak bisa dipungkiri. Media online juga harus diajarkan kepada remaja dan anak-anak baik di sekolah, keluarga, maupun di dunia sosial lainnya. Penguasaan dan penggunaan internet akan semakin meningkatkan akses remaja dan anak-anak kepada dunia maya, dan tak pelak lagi termasuk situs-situs yang tidak ‘menyehatkan’.
Media menjadi faktor penting dalam menginformasikan, menyebarluaskan, dan bahkan membuat lebih sensasional dalam kasus video seks yang belakangan hampir menyita perhatian bangsa Indonesia. Dari pagi hingga malam, media selalu menampilkan kasus video tersebut. Tidak hanya media elektronik termasuk di sini media cetak dengan style tersendiri. Dalam hal ini media hanya menampilkan info-info yang sensasional dan kurang profesional. Fungsi media dalam hal pendidikan diabaikan dan dibiarkan saja. Hanya ‘penonton’ yang dituntut menjadikannya pendidikan atau sebaliknya, dijadikan sampah.
Nah, bagaimana dengan slogan pendidikan berkarakter yang didengung-dengungkan beberapa waktu lalu oleh pemerintahan. Pendidikan yang jauh dari kebohongan, bermoral, beretika, tidak antisosial, dan tidak antidemokrasi. Inilah model pendidikan yang coba dibangun kemudian ditularkan oleh pendidik kepada semua elemen di masyarakat, termasuk di sini publik figur dan media, tentunya.
Model pendidikan ini pun menjadi tren tersendiri bagi pembangunan bangsa, khususnya bagi lembaga pendidikan dan sejenis lainnya. Hampir setiap pihak, dihimbau untuk mengembangkan dan menularkan model pendidikan ini. Konsepnya tidak lagi memanusiakan manusia tetapi justru memuliakan manusia. Diharapkan dengan model pendidikan berkarakter ini dapat melahirkan manusia-manusia dan generasi muda yang cerdas, bermoral, berkarakter, dan terampil.
Tantangannya sekarang adalah mampukah konsep pendidikan berkarakter menerjang dan melawan arus dari pengaruh dunia maya yang tak terbendung? Jangan sampai konsep pendidikan berkarakter tidak hanya retorika dan dialektis yang hampa. Jangan sampai dengan semakin bebasnya media menampilkan info-info tanpa etika dan tidak menjunjung kode etik profesi, adalah salah satu sarana menjadikan moral bangsa ini semakin buruk dan mengkhawatirkan.
Menilik dari fenomena ini, semua elemen bertanggung jawab agar anak-anak dan remaja tidak menjadi korban degradasi moral dari menyebarnya video seks tersebut. Anak-anak dan remaja harus dihindarkan dari hal-hal yang berbau pengaksesan situs porno. Tentu hal ini tidak baik bagi perkembangan, baik fisik maupun psikis mereka. Pemerintah sebagai pihak yang paling berwenang dan berkuasan, susah sebaiknya mengambil tindakan yang bijak bagaimana menyelesaikan kasus video seks yang bertebaran di dunia maya.
Sebenarnya tidak hanya pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat sosial sudah sepatutnya menjauhkan anak-anak dan remaja dari dunia yang tidak mendidik tersebut. Regulasi atau peraturan untuk hal ini telah ada, namun implementasi dan aplikasi yang mapan belumlah menampakkan titik terang yang mengharapkan. Hal ini merupakan tantangan baru bagi pihak yang berwenang bagaimana menegaskan dan mengaplikasikan sanksi yang tegas dan tidak pandang bulu baik, bagi aktor, penyebar, maupun pengunduh dan yang mengajak melihatnya. Tidak terlambat untuk selalu memperbaiki diri dan merekonstruksi kembali watak dan karakter bangsa yang (sudah) mulai mengarah kepada penipisan moral.

Pesta ‘Kemunafikan’ Nan Menggoda

Pesta demokrasi lima tahunan tahap pertama bangsa ini baru saja selesai. Mengapa tahap pertama? Karena masih ada tahap berikutnya, yakni pemilihan presiden dan wakil presiden pada 20 Juli mendatang. Kemudian, mungkin, disusul lagi putaran kedua pemilihan yang sama pada bulan September 2004 lalu, jika tidak ada calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) bisa memenangkan 50 persen pada putaran pertama. Sangat melelahkan, tetapi itulah konsekuensi pesta penghamburan uang rakyat yang harus dilewati.
Hasil dari pemilu legislatif tahap awal ini pun sebenarnya sudah bisa dilihat dari hasil penghitungan suara dari Quik Count (penghitungan cepat) dan penghitungan suara di pusat tabulasi suara tingkat nasional. Dari awal sebenarnya sudah bisa diprediksi kalau partai yang akan menjadi pemenang adalah partai yang mempunyai dana kampanye yang berlebih. Dana yang bisa menghipnotis rakyat dengan iklan di media massa, membeli suara, melakukan serangan fajar, memanipulasi penghitungan suara, atau bahkan menyewa preman untuk menteror rakyat untuk memilih partainya. Akan lebih menyedihkan lagi ketika terdeteksi ada lurah dipaksa harus menandatangani kontrak politik untuk memenangkan salah satu partai.
Berhasilkah kita mendemokratisasikan lembaga-lembaga politik dan semua komponen pendukung demokrasi lainnya? Kalau diukur dari stabilitas, maka pesta ini bisa dikatakan cukup berhasil, karena realitas di lapangan menunjukkan kalau semua tempat pemungutan suara (TPS) berlangsung dengan tenang dan damai. Namun jika kita melihat esensi demokrasi yang salah satunya bisa diukur dari tingkat partisipasi politik rakyat memberikan hak suaranya, maka pesta yang telah banyak menghamburkan duit ini penuh dengan kemunafikan. Pemilu (pemilihan umum) yang selalu disimbolisasikan sebagai pesta demokrasi ini tidak lebih dari sekedar upaya elit politik untuk melegitimasi pembohongan politik kolektif. Sampai keluar ‘hukum’ golput (golongan putih/golongan yang tidak memilih salah satu partai) itu haram, hakikatnya adalah kembali kepada kepentingan kelompok untuk sebuah kursi.
Indikatornya bisa dilihat dari berbagai hal, antara lain; pertama, hampir semua partai politik besar selama kempanye hanya mampu memobilisasi massa dengan cara-cara yang tidak elegan (money politic). Kedua, jutaan pemilih produktif akhirnya tidak bisa memilih karena tidak memiliki kartu C4 (undangan sebagai pemilih sah), sementara ada orang yang telah meninggal dan belum cukup umur justru memilikinya. Ketiga, sistem komputerisasi yang seharga miliaran rupiah itu dengan mudah bisa dimainkan oleh mafia penghitungan suara (hacker) yang tentunya dikomandoi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan di situ. Keempat, adanya ribuan bahkan mungkin jutaan surat suara yang tertukar dan rentan untuk dimanipulasi suara pemilih. Kelima, adanya pemilu susulan dibeberapa daerah yang merupakan sebagai titik rawan memanipulasi suara pemilih.
Dengan melihat indikator di atas, maka tidak heran jika pesta yang diagung-agungkan ini merupakan pesta ‘kemunafikan’ yang begitu dinikmati oleh para elit politik. Politik memang kotor, tapi bukan berarti kita harus membuang kotoran di pinggir jalan. Politik memang tidak ada yang jujur, tapi tidak perlu mengeksploitasi ketidakjujuran itu di depan rakyat yang tidak semuanya bisa dikibulin. Politik memang identik dengan kebohongan, tetapi di sinilah dituntut kelihaian politikus bagaimana bisa berbohong tanpa merasa rakyat bisa dibohongi. Artinya kalau menjanjikan rakyat sembilan, jangan hanya memberikan satu atau dua, tapi berilah enam atau tujuh. Dengan demikian rakyat tidak merasa dibohongi.
Inilah resikonya ketika hampir semua orang yang terlibat dalam proses pemilu, tidak konsen menjadikan pemilu sebagai pesta demokrasi untuk melahirkan pemimpin bangsa yang berkualitas. Tapi justru menganggap pemilu sebagai ‘proyek raksasa’ untuk berlomba-lomba mendapatkan keuntungan. Tidak ada jaminan kalau semua yang terlibat sabagai pelaksana pemilu tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan mendapatkan keuntungan finansial.
Karena pemilu dianggap sebagai proyek raksasa, maka hasilnya pun tidak lepas dari proses tawar menawar. Dalam tender proyek, siapa yang paling tinggi penawarannya, maka dialah yang menjadi pemenang. Begitulah yang terjadi dalam setiap pemilu, tidak hanya pada 2004 lalu namun juga 2009 ini. Parpol (partai politik) yang memiliki banyak uang, maka parpol itulah yang berpeluang besar memenangkan tender politik. Apalagi sejarah politik dunia telah membuktikan kalau politik bisa dibeli dengan uang. Jika tak percaya, tanyalah pada dedengkot demokrasi yang ‘lengsernya’ disertai lemparan sepatu, George Walker Bush, dengan menyuntikkan dana tambahan 182 juta dollar AS untuk kembali ‘bersemedi’ di Gedung Putih yang kedua kalinya dengan menghalalkan segala macam cara.

Tereduksinya Mahasiswa

Menghancurkan dan membangun. Siklus ini yang selalu berputar dalam gerakan mahasiswa. Dan itu harus ada.

Dewasa ini peran mahasiswa mulai terkikis oleh keadaan pasca reformasi yang carut-marut, sehingga mahasiswa telah banyak kehilangan posisinya sebagai agen perubahan (agent of change). Hal ini bisa dilihat dari penurunan kualitas mahasiswa dan kualitas gerakan mahasiswa itu sendiri. Saat ini, dalam menanggapi suatu kebijakan pemerintah, mahasiswa cenderung bergerak sendiri tanpa ada suatu gerakan bersama, sehingga gerakan mahasiswa era reformasi ini, banyak yang mentah dan cenderung terlibat dalam gerakan anarki demi satu tujuan, yaitu eksistensi.
Menurut Sutan Syahrir (1966) peran mahasiswa tereduksi oleh sifat anarko sindikalisme, dimana mahasiswa saat ini tidak mempunyai suatu gerakan bersama, antargolongan mahasiswa dan menganggap golongannya lebih superior dibanding golongan mahasiswa lain. Hal ini menyebabkan gerakan mahasiswa tersentralisasi dan hanya pada gerakan monumental. Tentu gerakan ‘basi’ seperti ini tidak akan berdampak pada kebijakan publik atawa keadaan sosial masyarakat.
Melemahnya pergerakan mahasiswa ini disebabkan oleh paradigma yang telah diset sebegitu rupa, baik oleh pihak kampus, maupun pemerintah, dan sayangnya mahasiswa tidak menyadari musuh di depan mata. Mahasiswa terlena dengan gaya hidup hedonis, instant, dan mainset ‘primitif’ lainnya. Mereka hidup dalam hingar bingar budaya massa (mass culture) dan budaya pop (pop culture) yang dikonstruksi kapitalis. Seperti yang diutarakn John Lennon “Sex, TV, and music make you weak,”. Mungkin inilah yang dapat menggambarkan memudarnya kesadaran mahasiswa masa kini.
Perubahan sistem dan pola pendidikan di perguruan tinggi mengubah paradigma dan orientasi mahasiswa saat ini. Dalam pendidikan, mahasiswa dididik untuk cepat lulus dengan nilai yang bagus. Titik. Tidak diberikan alternatif paradigma berfikir yang lebih substansial. Kegiatan kuliah hanya berorientasi pada strata sosial dan gelar semata. Tidak lagi berfikir tentang proses yang harus dijalani. Makna pendidikan tertutup oleh bayang-bayang biaya kuliah yang mahal dan tuntutan orang tua.
Mahasiswa difokuskan untuk menyelesaikan SKS. Sulit berkembang dan bereksplorasi dengan ilmu yang dipelajari. Untuk ilmunya saja sulit, apalagi dengan yang lain. Miris sekali. Mahasiswa memiliki tembok pembatas yang tinggi dengan masyarakat, menjadi robot stakeholder dan pasar kapitalistik yang sudah menunggunya dalam genggaman globalisasi. Tentu hal ini menyulap paradigma realitas. Realitas mahasiswa saat ini; absen, kuliah, praktikum, nilai, dan apapun yang berdampak pada nilai bagus dan cepat lulus mengaburkan realitas yang sesungguhnya sebagai manusia dan masyarakat yang memiliki tanggung jawab terhadap pengabdian masyarakat, penelitian, dan pendidikan.
Sehingga dalam berorganisasi pun, mahasiswa telah merubah orientasinya. Maka akan lebih memilih organisasi minat dan bakat- maaf tidak bermaksud memojokkan. Karena organisasi minat bakat memiliki peran fungsional dan akan lebih bermanfaat setelah memperoleh nilai bagus dan lulus kelak. Layaknya organisasi SMA, cenderung pada minat dan keterampilan, yang mengutamakan kesenangan belaka. Jarang sekali menyentuh realitas masyarakat yang sesungguhnya. Bahkan eksekutif mahasiswa yang sejatinya pelopor gerakan grass root mahasiswa, hanya menjadi perpanjang tangan birokrat. Jika ada bentuk yang tampak sebagai perlawanan kebijakan, sifatnya hanya seremonial dan formal. Eksekutif mahasiswa ibarat karyawan yang hanya ‘bekerja’ dan menjadi lembaga mandul yang sifatnya sebagai pemanis buatan serta bunga-bunga organisasi dan administrasi mahasiswa.
Pendapat masyarakat, mahasiswa terkesan pahlawan kesiangan yang tiba-tiba datang bila ada masalah yang dihadapi bangsa dan setelah menunjukkan muka lantas mahasiswa kembali ke kampus. Padahal sebuah persoalan bangsa tidaklah mencuat saat itu saja, namun sebuah akumulasi yang dari hari ke hari menggunung berdasarkan kejadian satu dengan kejadian lainnya. Permasalahan bangsa harus diihat sebagai sebuah adegan dan bukan sebuah potret. Sehingga penyelesaiannya membutuhkan usaha yang sistematis, terprogram, yang melihat permasalahan dari segi struktur dan tidak dari ‘kulit-kulitnya’ saja. Ini dampaknya.
Untuk itu, sudah seharusnya mahasiswa bangun dan tidak hanya menikmati cerita-cerita indah tentang pergerakan dari pendahulu. Mahasiswa seharusnya memiliki orientasi yang lebih jelas tentang suatu gerakan masif yang dapat dilakukan bersama-sama antargolongan mahasiswa. Ketepikan kepentingan kelompok yang hanya akan memicu ketidaktotalan dalam pergerakan. Mari, bangun sebuah lembaga independen yang menjunjung idealisme mahasiswa sesungguhnya sebagai pengiring kebijakan dari pemerintah, demi sebuah cita-cita bangsa.


Terinspirasi dari sarasehan pertemuan pers mahasiswa se Indonesia di BPPM Balairung, UGM awal Juni lalu.

Pemilu Mahasiswa

Seiring waktu, kepengurusan sebuah organisasi harus diakhiri dan digantikan oleh orang-orang baru dan tentunya berbeda. Bagi yang harus hengkang atau meninggalkan, tentu akan lebih baik tidak meninggalkan ‘pekerjaan-pekerjaan rumah’ yang memusingkan. Pasalnya, tidak sedikit organisasi mahasiswa atau ormawa, ketika tak menjabat lagi, beribu masalah dan kendala diwariskan.
Sedangkan bagi yang akan duduk pada kursi baru yang sebelumnya belum pernah diduduki, jangan pula terlalu hanyut dan terbuai ke awan-awan hingga lupa akan kewajiban dan tanggung jawab. Bukankah jika posisi seseorang semakin tinggi, tuntutan tanggung jawab dan kewajiban semakin tinggi atau besar pula? Demikian setidaknya pesan yang disampaikan penulis kepada mahasiswa sebelum beringsut dari tahta dan akan segera bertahta dalam tataran organisasi mahasiswa di kampus.
Dunia mahasiswa adalah miniatur dari bentuk sebuah negara. Kita hidup di Republik Indonesia (RI) dengan seorang presiden sebagai kepala negara. Sebuah kampus juga demikian. Pemilihan presiden juga ditentukan dengan sebuah pesta rakyat dalam memilih, namanya pemilu mahasiswa. Memilih kepala negara atau presiden baru yang tentunya lebih peduli, lebih mengayomi, dan lebih baik dari yang sudah-sudah. Jika tidak terpenuhi, percuma saja pesta dan memilih.
Pemilu mahasiswa juga tidak jauh berbeda cara dan mekanisme pelaksanaannya di kampus. Pemilu mahasiswa di dunia kampus, diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM). MPM merupakan lembaga tertinggi di dunia kampus, sekaligus lembaga legislatif. Sebagai legislasi tugas lembaga ini juga berkutat dengan Petunjuk Pelaksana (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) pelaksanaan suatu program kerja dan kegiatan lainnya bagi seluruh ormawa kampus.
Juklak dan Juknis tidak jauh berbeda dengan Undang-Undang Mahasiswa. Kalau pada negara RI sama dengan Undang-Undang Dasar ’45. Pelaksanaan pemilu pun harus dan tidak boleh melanggar ketetapan dan aturan yang telah tercantum serta ditetapkan dalam Juklak dan Juknis. Jika terjadi pelanggaran, siap-siap dengan sanksi tegas yang sudah menunggu.
Pemilu mahasiswa dimulai dengan pencalonan diri presiden dan wakil presiden (capres dan cawapres) kepada Panitia Pemilihan Umum (PPU). PPU ini adalah produk MPM yang terkhusus menangani dan menyelenggarakan pemilihan umum saja. Pemilu selesai, PPU pun akan segera dibubarkan. Panitia ini beranggotakan utusan masing-masing fakultas yang ada di universitas.
Setelah capres dan cawapres mencalonkan diri serta mengembalikan formulir pendaftaran kepada PPU. Tahap selanjutnya ialah tahap verifikasi, tahap pemeriksaan kebenaran syarat-syarat yang telah diajukan PPU kepada setiap bakal calon (balon). Biasanya syarat-syarat ini berkaitan erat dengan akademis, seperti Indeks Prestasi (IP), terdaftar sebagai mahasiswa atau kartu mahasiswa, dan lainnya. Jika ingin lolos tahap ini, satu pun persyaratan harus dipenuhi dan tentunya tidak boleh terlambat mengembalikan formulir, jika tak ingin hanya bermimpi jadi presiden mahasiswa.
Tahap yang paling menarik, bagi capres dan cawapres serta semua mahasiswa, adalah tahap kampanye. Baik itu kampanye berupa penyebaran pamflet maupun kampanye dialogis, debat calon dan mahasiswa. Mengasyikkan sekaligus menegangkan. Di tahap inilah mahasiswa, calon pemilih, menilai layak dan tidak layaknya sang calon diluluskan menjadi kepala negara.
Salah satu dari sekian hal yang dinilai calon pemilih ialah visi dan misi capres dan cawapres. Melalui visi dan misi inilah mahasiswa lain bisa melihat apakah calon yang akan menjadi kepala negara itu serius, sungguh-sungguh, dan berkomitmen meminpin untuk masa depan lebih baik. Atau justru sebaliknya, melalui visi dan misi ini calon tersebut hanya sekedar mencari sensasi, ketenaran, dan bentuk kemarukan atas kedudukan dan posisi yang baginya adalah lahan gembur untuk dieksploitasi. Ingat, dunia mahasiswa adalah replika bentuk negara sebenarnya, termasuk Indonesia, ada yang berjiwa luhur dan ada juga yang berhati busuk.
Tahap selanjutnya adalah pesta akbar mahasiswa, kebetulan pemilu presiden mahasiswa diselenggarakan setiap kepengurusan, sekali setahun, tidak lima tahun sekali seperti negara kita Indonesia. Tahap ini juga tak kalah menarik dan menegangkan. Jika pada pemilihan presiden 2009 lalu terjadi kecurangan-kecurangan di berbagai wilayah di Indonesia, pemilu presiden kampus pun juga demikian. Kecurangan dari tim sukses dan oknum yang tidak bertanggung jawab juga mewarnai pesta demokrasi kampus. Jika ketahuan, sanksi akan berjalan dan lebih parahnya tentu sanksi moral sesama mahasiswa.
Tidak hanya kecurangan, apakah itu penggandaan suara dan lainnya, yang tidak ikut memilih juga tidak sedikit, abstain bahasa pemilunya. Beragam alasan mahasiswa tidak menyalurkan hak pilih. Dalam dunia demokrasi, sebenarnya itu tidak bijaksana dan kurang terpuji. Namun jika kekecewaan atas pemimpin masa lalu sebagai penyebab, tentu dapat dipertimbangkan dan ditoleransi.
Tahap terakhir, adalah tahap puncak, klimaks sekaligus tidak menutup kemungkinan menimbulkan konflik. Semisalnya, calon A tak terima calon B menang, karena calon B curang dalam memberikan hak suara. Adu otot tak terelakkan. Hal ini bisa saja terjadi. Dan kembali penulis mengingatkan dunia kampus dan dunia sebenarnya adalah dua mata yang saling merefleksikan satu dengan lainnya, termasuk Indonesia.