Thursday, 22 December 2011

Perjuangan Ini Masih Diteruskan



‘Untuk Amak dan para perempuan yang semoga masih membaca’



Sekitar 200 (bahkan ribuan) perempuan dari tanah Jawa diberangkatkan ke luar Jawa dan luar Indonesia oleh Pemerintahan Jepang selang waktu Maret 1942- Agustus 1945 dulu. Masa pendudukan Jepang itu, para remaja Jawa yang berusia 14-19 tahun ini dijanjikan akan disekolahkan di Tokyo dan Shonanto, Singapura sekarang. Namun, apa yang terjadinya? Jika kita mengenal istilah Jugun Ianfu (perempuan penghibur), ini lah mereka-mereka itu. Janji manis dari Dai Nippon hanya omong kosong belaka sebagai bentuk ketidakprimanusiaan dan jiwa ksatria mereka yang lembek.

Semua itu berawal dari pecahnya Perang Pasifik serta serangan dari Hindia-Belanda membuat Jepang semakin kawalahan. Jika dulu Dai Nippon sengaja mendatangkan perempuan penghibur dari Jepang, Cina, dan Korea untuk para Heiho (serdadu), namun sebagai gantinya gadis Indonesia dipaksa dan diciderai untuk mengambil posisi tersebut.
Para remaja ini kebanyakan berasal dari keluarga menengah, bergelar ‘roro’. Mulai dari putri kumichoo (kepala rukun tetangga), kuchoo (lurah), sonchoo (camat), dan gunchoo (wedana). Tak ketinggalan pula remaja-remaja ini berasal dari orang tuanya para guru, juru tulis, mantri polisi, penilik sekolah, dan seterusnya. Mereka menjadi korban dari kerakusan serta kesewenang-wenangan pemerintahan Jepang pada waktu itu.

Pramoedya Ananta Toer dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer-Catatan Pulau Buru- memaparkan bagaimana nasib, kekerasan, ketakberdayaan, serta keter’diam’an pemerintah Indonesia terhadap mereka, para gadis ini. Mereka, hingga kini, masih tersebar di beberapa wilayah terpencil di Nusantara. Dalam kehidupan tanpa jaminan, tanpa bantuan, dan mungkin tanpa harapan, namun masih menyisakan kepiluan yang teramat dalam.

“Tak ada orang menolong sahaya. Sahaya dibawa masuk ke dalam kamar kapal. Pelangi (selendang) itu yang jadi penutup muka sahaya. Ia gelatakkan sahaya... dan waktu terbangun seluruh badan lemas, pakaian rusak semua... badan sakit semua. Ya, Nak, terang-terangan saja, Ibu sudah tua sekarang, apa pula guna malu. Sipen na (kamaluan ini) bengkak. Sahaya menangis. Tapi tiap sahaya menangis dia malah datang lagi dan diulanginya perbuatannya... dan sahaya pingsan lagi. Begitu terus sampai sahaya tak dapat menangis.” (Kartini, asal Semarang, anak pegawai Pangreh Praja).

Serta petikan ini,"Pada kesempatan sekilas yang menyusul setelah itu, Wai Durat mendesak terus dengan pertanyaannya, dan Ibu Muka Jawa mengulangi lagi sumpahnya pada Pamali dengan jalan membikin garis silang di atas tanah. Jari-jarinya yang tua kemudian menjumput tanah dari titik silang dua garis lurus itu dan memasukkan ke dalam mulut, memakannya, sambil berkata:
“Dari bumi ini aku lahir. Dari bumi ini aku makan. Aku akan mati dan kembali di bumi ini juga.” Setelah itu ia berkata, “Kau terlambat, Nak.” (Ibu Lansar, nama burunya Muka Jawa, asal Pemalang, Jawa Tengah).

Beberapa petikan para ‘pahlawan bidadari’ ini mengungkapkan kepada pembaca betapa kehidupan perempuan masih jauh dari apa yang diharapkan oleh perempuan itu sendiri. Mereka menjadi korban atas kesewenang-wenangan pemerintah dan penguasa pada waktu itu. Orang tua mereka yang beruang dan menjabat, harus membayar mahal, kehilangan putri, atas kerakusan dan kemunafikan karena lebih mencintai harta dan kehidupan mewah hadiah dari Dai Nippon waktu itu.

Ini bukti sejarah yang data-datanya akan sangat banyak lagi jika dilakukan penelitian tentang keberadaan, kehidupan, serta masa tua para mantan Jugun Ianfu ini di Tanah Air sekarang. Republik ini tentu mampu membawakan perkara korban perang ini kepada mahkamah internasional dan menuntut pertanggungjawaban Dai Nippon atas kerakusan dan kebodohan serdadu mereka. Keadilan akan selalu ada jika berniat memperjuangkannnya.
Di Hari Ibu ini, diharapkan tidak ada lagi perempuan-perempuan yang mengalami nasib seperti Jugun Ianfu, disepelekan, dan dirampas hak-hak mereka. Perempuan memang harus tahu dan paham bagaimana posisi mereka baik di ranah domestik maupun publik (skala lokal ataupun global). Pemahaman ini akan memberi bagaimana seharus dan sebaiknya mereka berpikir dan bertindak. Kekurangan-kekurangan yang ada pada perempuan tidak berarti sebagai simbol mereka selalu berharap besar bantuan kepada laki-laki. Namun hanyalah salah satu cara agar perempuan lebih cerdas lagi mengasah potensi yang dimiliki.

Dan untuk Amak di sana, semoga selalu dalam keadaan bersemangat dan tawakkal. Kecintaan akan keluarga tak akan pernah berkurang. Kecintaan akan masa depan lebih baik tak akan pudar. Harapan demi harapan selalu beliau lantunkan dalam barisan panjang doa-doa beliau, pagi, siang, dan malam, untuk putra putri dimana pun berada. Rasa cinta dan kebanggan ini terhadap Amak juga tak pernah surut-surutnya. Hanya beliaulah sosok yang membuatku selalu optimis, selalu segar, selalu rendah hati, dan memahami sebagai insan. Terima kasih Amak. Di Hari Ibu ini, doa dan harapan kupanjatkan dari sini untuk Amak tercinta.

Dan kepada saudari-saudariku di mana pun berada. Baik di Lubuk Sanai, di Bengkulu, di Padang, di Aceh (Sumatera) serta di sini (Jawa), aku benar-benar bangga pada kalian semua. Perempuan, ia insan yang tak mudah diduga sekaligus teman diskusi yang cerdas yang akan membawamu kepada ketenangan yang luar biasa. Sejarah telah menorehkan kita, perempuan, sebagai manusia cerdas, arif, dan tawadu’.

Selamat Hari Ibu!

Monday, 12 December 2011

Angkringan Simbol Maskulinitas




Cara pandang orang-orang Yogyakarta terhadap angkringan tidaklah selalu sama. Angkringan bukanlah semata tempat makan yang menyediakan nasi kucing, goreng tempe, bakwan, bakso tusuk, goreng jangkrik, goreng burung, serta minuman ala kadarnya. Di balik kesederhanaan angkringan, baik tempat dagangan maupun penjual, angkringan menjelma menjadi sebuah ikon yang mungkin tak terduga sebelumnya.
Kata seorang teman, di angkringan anda akan merasakan suasana kerakyatan yang begitu kental. Egaliter masyarakat sangat kuat di sini, walaupun mereka hidup di tengah-tengah budaya keraton yang penuh dengan kelas-kelas sosial. Di angkringanlah strata kelas itu melebur, menguap, hingga tak tampak. Dalam konteks ini setiap orang mendekati kelas sejajar, yang termanifestasi dengan sebungkus nasi kucing serta segelas teh angat seharga kurang lebih Rp 2.500.
Tak peduli apakah yang makan nasi kucing di sana kaum pekerja menengah, pekerja kasar, mahasisiwa, atau seorang pemilik penerbit ternama di Kota Gudeg ini. Ketika mereka meluruskan niat makan di angkringan, ketika itu pula mereka harus menerima semua kenyataan bagaimana riilnya kondisi kehidupan masyarakat di Yogyakarta. Angkringan bisa menjadi solusi antara dua pihak, penjual yang pas-pasan dengan pembeli yang menempatkan diri pas-pasan pula. Ini menjadi simbiosis mutualisme, yang juga terkait dengan falsafah masyarakat Yogyakarta yang nrimo.
Lalu, kenapa angkringan menjadi simbol maskulinitas? Hampir di setiap ruas jalan (baca;trotoar) di kota Yogyakarta, selalu tersedia angkringan dengan tempat berjualan yang khas; gerobak jualan, dua kursi kayu panjang, serta layar yang menutupi angkringan. Di atas gerobak ini tersedia berbagai panganan gorengan dan nasi kucing. Tak ketinggalan cerek aluminium, termos air, bara pembakaran, serta perlengkapan masak lainnya yang sangat tradisional.
Sedangkan dua kursi kayu yang panjangnya kira-kira dua meter itu digunakan sebagai tempat menikmati segala panganan yang tersedia di gerobak. Di kursi sederhana ini, setiap pembeli bebas duduk dengan gaya apapun. Sembari menikmati nasi kucing dan teh angat, pembeli yang tidak dibatasi sekat bebas bercengkerama dengan penjual.
Nah, layar berfungsi menutupi gerobak jualan serta para pembeli yang tengah menikmati makanan di sana. Layar ini memberi sekat antara jalan umum/raya, sebagai simbol keganasan, dengan pembeli yang sedang makan, sebagai simbol kenyamanan/kelembutan. Tipisnya layar sebagai sekat antara keganasan (jalan raya) dengan kelembutan (angkringan atau tempat makan) mengakibatkan kaum perempuan enggan singgah dan makan di angkringan. Alhasil, angkringan dominan diramaikan oleh kaum laki-laki.
Cerita seorang sahabat, dia perempuan. Perempuan Jawa akan sangat tidak nyaman ketika ia menyuap, mengunyah, dan menelan, tiba-tiba orang berseliweran di depan serta samping kiri kanan, bahkan di belakangnya. Keadaan ini membuat mereka risih dan seolah-olah terancam. Risih karena mungkin merasa diperhatikan baik ketika menyuap, mengunyah, serta menelan, yang notabene ketika kegiatan itu dilakukan dominan membuat perempuan merasa kurang percaya diri. Hal ini dikuatkan dengan posisi angkringan di tepi jalan atau trotoar yang selalu ramai dan gaduh. Terancam, posisi duduk di angkringan, menempatkan perempuan berada di tengah laki-laki. Sebagai minoritas, posisi ini membuat perempuan kerap tidak leluasa dan berpeluang besar menjadi buah pembicaraan waktu itu.
Walaupun demikian, bukan berarti perempuan tidak pernah bahkan anti ke angkringan, tentu saja tidak. Hanya saja, mereka tidak ingin menghabiskan waktu selama makan di angkringan, yang banyak didatangi kaum lelaki. Perempuan kerap membungkus makanan mereka dan mencari tempat yang lebih nyaman, baik dari keramaian lelaki maupun hiruk pikuk kendaraan jalanan. Tidak ketinggalan ada sepersekian persen kaum perempuan di kota ini justru merasa enjoy makan di angkringan bersama lelaki lainnya. Ini pengecualian, apakah mereka berasal dari perempuan Jawa atau luar Jawa dengan tanpa embel-embel kelas yang mengikat.
Fenomena ini, menyulap angkringan menjadi sebuah wadah, baik sebagai tempat makan maupun tempat berdiskusi yang bebas kelas. Angkringan serupa dengan Lapau kalau di Minangkabau. Ia tidak melulu terikat dengan minuman dan makanan, namun lebih luas menjadi budaya suatu masyarakat yang kaya akan nilai-nilai lokal. Walapun terkesan murah dan tak bergengsi, angkringan tetap menjadi primadona baik oleh kaum pribumi maupun oleh kaum urban di kota ini.

Thursday, 8 December 2011

Keberbedaan Ini Kuteruskan




Jalan panjang ini harus kususuri sendiri. Kesendirian, hanyalah kata absurd yang tak perlu kupanjanglebarkan apalagi untuk dipermasalahkan. Jika ingin, kata itu bisa kaujadikan tameng untuk kau berlindung dan keep going kemana pun kau pergi. Justru sebaliknya, kata itu bisa menjadi bumerang dimana ia akan menggorok lehermu hingga putus dan darahnya membeku seketika. Sadis memang jika kau penjang lebarkan.
Namun, dengan kesendirian ini aku justru menemukan perbedaan yang sangat berharga dari fase hidupku kini. Perbeda dari orang-orang yang pernah ditemui sebelumnya ataupun berbeda dari hal-hal yang kuperkirakan akan sama. Sungguh di luar perkiraanku pada perjalanan ini. Perbedaan yang menghantarkan kita pada satu jalur dan beriring bersama memasuki liangnya. Indah memang jika dijalani dengan saling keterbukaan dan aku maupun kamu tahu maksud hati ini, bahwa bukan untuk mencelakaimu. Justru dari sinilah cerita itu bermula.
Subuh yang kurasakan ini bukanlah subuh yang biasa. Pada sedini hari ini, muazin, dengan suara ringannya dan khas, mencoba membangunkan setiap orang yang mengaku beragama Allah Swt. Dalam samar-samar, suara ringan dan khas itu seperti begitu akrab di kupingku. Namun, suara itu tidak bergema sedini hari ini. Jam di telepon genggamku memperlihatkan sekitar pukul 03.20 wib.
“Masyaallah, malam nian engkau mengaji wahai mas muazin?” bisikku di dalam hati. Di detik lain seseorang mengajakku berjamaah. Kukuatkan tungkai-tungkai kaki ini menuruni 13 anak tangga, menggapai sakelar lampu di atas kepalaku, menggayung air, kemudian berwudu. Guyuran air berangsur memulihkan pikiran ini bahwa aku sedang tidak di rumah. Kembali menaiki anak tangga dengan ukiran sederhana dan segera menghamparkan dua sajadah untuk kami berjamaah. Di sela tirai berjendela kaca, rupa-rupanya fajar perlahan-lahan menyentuh langit. Subhanallah, begitu cepat poros bumi berputar di kota asri ini, pikirku tengah mengenakan mukena.
Sembari membolak-balik biografi WS. Rendra setelah berjamaah subuh, cericit-cericit di sana sini menghadirkan suasana lain di hatiku. Bukan cericit twit yang biasa kita lakukan dan juga bukan cericit anak ayam, namun cericit burung gereja serta burung prenjak dari rumah tetangga. Pagi-pagi begini, bukan suara kokok kokok ayam yang membangunkanmu wahai cinta, namun cericit-cericit burunglah yang melumerkan mimpi indahmu.
Perlahan-lahan kusibakkan tirai berjendela kaca itu. Duhai dari ketinggian ini aku menyaksikan burung-burung gereja liar tengah asyiknya bertamasya pagi di atas genteng rumah-rumah penduduk. Warna sayapnya yang gelap, kontras sekali dengan warna genteng yang cerah. Jadi kamu akan mudah menemukan lima bahkan sepuluh burung gereja berbanjar, bercericit sambil membersihkan sayap-sayap mereka. Tak terhitung pula, mereka berputar-putar di sekitar genteng, mungkin ini ritual menyambut pagi. Bahkan jangan-jangan ini suguhan istimewa untukku sebagai tamu atau bahkan warga baru di tanah kelahiran mereka. Dalam senyumku, kusapa mereka. “Selamat pagi kawan kecil.”
Pada pukul 05.10 wib ini, hidup sudah dimulai teman. Burung-burung itu akan mencari sesuatu yang mampu mempertahankan serta memperpanjang hidup dan usianya. Pada pukul 05.30 wib ini, rasanya engkau akan enggan melaksanakan salat subuh dua rakaat. Karena langit luas di sini sudah terang benderang, walaupun mentari belum juga menyembulkan kemilau indahnya. Sedangkan di luar sana, satu dua tiga kendaraaan baik roda dua, roda tiga, dan roda empat sudah mulai mewarnai jalan selebar tiga meter itu. Aktivitas masyarakat di sekitar Mantrijeron ini sudah sangat ramai.
Sedangkan di sekitar rumah ini, kau akan mendengar gesekan tanah dan sapu lidi saling beradu menghadiri pagimu di sekitar RT 016 ini. Mbah-mbah, baik mbah putri maupun mbah kakung, saling membersihkan pekarangan mereka. Sembari mencabut rumput-rumput kecil liar, mereka bercengkerama dengan bahasa yang sungguh aku tak mengerti. Sesekali diselingi tawa dan suara meninggi. Entah apa yang mereka utarakan. Bisa jadi perilaku cucu mereka tadi malam yang menggelikan, atau masakan mereka yang diam-diam dikerubungi semut bahkan cicak. Lagi, lagi aku hanya menduga di balik bahasa yang mungkin hanya tertera di primbon itu.
Pukul 06.00 wib ini aku yakin kau tak akan menambah porsi tidurmu lagi. Karena si gadis kecil di depan rumah akan bernyanyi-nyanyi dengan mbah kakungnya yang setia mengajaknya bermain apa saja. Ia baru 2,5 tahun, namun ia seolah-olah dirimu, perempuan. Tatapan matanya yang tak mudah berkedip akan membuatmu susah jauh darinya jika bersua. Biasanya ia akan membawakan lagu Kasih Ibu dengan suaranya yang lembut serta lafaznya yang cadel. Rambutnya sebahu serta poni kuda di dahinya, “Persis potongan rambutku waktu dulu,” gumamku.
Gadis kecil ini harus merelakan masa kecilnya bermain hanya bersama mbah kakung, bapak, serta nenek. Sesekali, tetangga dewasa mengajaknya berkeliling RT, karena dia suka bercengkerama yang akan membuatmu penasaran, walau kau tak mengerti apa yang diceritakannya. Dimana ibu? Ibu tak bisa kemana-mana. Kabar yang kuterima, setelah kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun lalu, si ibu menderita lumpuh, entah permanen entah tidak. Ibu hanya akan menemani gadis kecil bermain hingga di depan pintu rumah dan dapur. Dibantu kursi beroda, si ibu sabar mengajarinya bernyanyi dan bercerita, apa saja, asalkan si gadis kecil mengeluarkan suara-suara yang menghangatkan rumah itu. Termasuk rumah yang kutempati ini. Ia mahkluk terkecil di antara kami. Ia mahkluk yang kami tak ingin ia merasakan kesedihan. Ia mahkluk yang kami tak ingin ia menangis dan tak berteman. Ia mahkluk yang rasanya ingin kuajak bermain ke rumah ini. Namun, tentu aku berpikir-pikir lagi mengeksekusi niat itu.
Mentari terus menanjak tinggi. Kata ahli gizi, pada jam-jam segini bagus untuk kesehatan, sinar mentarinya mengandung vitamin D. Kehidupan pun semakin berisik dan ramai. Deru kendaraan menjadi-jadi. Dan engkau akan menyaksikan puluhan sangkar burung berjejer di depan rumah ini. Ada murai, prenjak, serta burung dengan sayap warna-warni. Mereka dilengkapi dengan aneka makanan yang tidak kuduga sebelumnya. Burung-burung itu ternyata tidak hanya memakan pur, seperti kebanyakan makanan burung, tetapi juga memakan jagung muda, selada, ulat-ulat kecil, serta makanan lainnya. Keren juga ya, pikirku.
Mungkin karena mendengar serta melihat burung garuda yang bebas lepas terbang di angkasa, cericit-cericit burung-burung ini pun semakin ramai. Mereka begitu sigap menerima makanan khusus yang disodorkan oleh tuannya. Si tuan begitu telaten, menjemur burung-burung, memandikan mereka, menyuapi makanan, membersihkan kandang, serta merawat semua kebutuhan burung-burung tersebut. Si tuan yang sangat ramah, sebenarnya hampir semua warga kota ini ramah, begitu di mataku, selalu bersiul-siul ketika melakukan aktivitasnya itu.
Kondisi ini menghantarkanku kepada situasi sepuluh tahun lalu. Tetangga kami di Lubuk Sanai, Mukomuko, Bengkulu, juga memelihara berbagai jenis burung sebagai komoditi untuk diperjualbelikan kepada orang-orang beruang di tempat itu. Dengan telaten pula tetanggaku itu merawat burung-burung tersebut. Begitu juga dengan tetangga kami di kota ini. Hanya saja, burung-burung yang dipelihara lebih beragam dan tentu saja dengan cara yang mungkin sedikit berbeda.
Kami memanggilnya Pak De, entah kapan beliau menikah dengan tanteku. Harapan kami, dengan panggilan itu setidaknya Pak De menganggap kami sebagai anak atau apalah namanya yang dekat dengan keluarga mereka. Karena, jujur saja, kami tak punya siapa-siapa di sini selain tetangga yang baik hati, dengan syarat kita pun harus baik hati kepada mereka. Beliau begitu santun dan sedia membantu, seperti meminjam obeng, membantu mengangkat jemuran sepatu dan pengikat rambut, membantu burung gereja yang terjerat tali temali secara tak sengaja di atap rumah kami, dan seterusnya. “Benar-benar homy tempat ini,” bisikku dalam hati.
Perbedaan ini terus datang setiap pagi. Perbedaan ini muncul seiring mentari merebak dari arah jalan Ring Road Timur kota ini. Perbedaan yang memberi kita banyak ilmu serta kemungkinan-kemungkinan yang akan kita wujudkan kelak. Ya, perbedaan ini akan kuteruskan.
...
Tak perlu menangis, tak perlu bersedih
Tak perlu tak perlu sedu sedan itu
Hadapi saja
...
Alunan biola Hadapi Saja dari Iwan Fals memotong cerita sepenggal ini. Banyak ceritera dan kisah di sini sobat.

Sunday, 4 December 2011

Generasi Sophisticated Geblek





Fenomena barang canggih (baca; teknologi) baik itu blackberry, tablet, iphone, ipad, dan seterusnya semakin mencabik-cabik kantong kita sebagai anak muda. Kenapa anak muda? Karena anak muda yang paling tidak tahan dengan segala godaan, termasuk godaan barang canggih nan seksi itu. Tidak sedikit anak muda setia mengikuti mode dan tren handphone keluaran terbaru untuk dimiliki, bagaimanapun caranya. Dan tidak sedikit pula yang minder jika hanya memakai handphone yang itu-itu saja sejak beberapa tahun belakangan. Rasanya gimana gitu bawa-bawa handphone yang dilengkapi infra red? Tiba-tiba muka berubah warna mirip hati ayam.
Seorang teman bela-belain untuk mendapatkan blackberry dari bapaknya yang berkantung pas-pasan. Sang bapak yang berpenghasilan Rp 3 juta per bulan dengan beban enam mulut yang harus diisi tiga kali sehari, cukup kewalahan memenuhi hasrat itu. Namun, pantang surut merengek kian hari si BB akhirnya dimiliki juga. Tiga pekan kemudian, ternyata si BB hanya digunakan untuk berBBM ria, berFB ria, dan berTwit ria sesama sohib dan selingkuhan. Sedangkan menelpon dan berSMS cukup memakai handphone butut yang harga bekasnya cuma Rp 50 ribu, plus simcard yang providernya menawarkan ribuan SMS gratis. Enggak usah ditulis di sini ya providernya. Tak ada yang marah dan menyesali, karena si bapak tidak memakai BB.
Sedangkan teman berikutnya, harus memakai BB karena pacar sang kakak telah membelikan BB baru yang lebih canggih sebagai tanda cinta yang lebih serius kepada kakak. Mahar 1 lah istilahnya. Si adik mendapat hibah BB, lumayan keren, tapi ia belum nyaman menggunakannya. Karena tak punya budget untuk berBBM ria. Jatah bulanan dari ibunda saja harus dicukup-cukupkan untuk membiayai tiga simcard yang rutin ia gunakan untuk membalas SMS dan menelepon orang-orang yang katanya fans-fans gelap. Indah bukan dengan barang teknologi itu?
Teman yang satu lagi, memakai tablet untuk keperluan usaha dan bisnis menggiurkan yang omsetnya mencapai puluhan juta per bulan. Bentuknya, tentu tak perlu dideskripsikan di sini, siapa sih yang tidak pernah lihat tablet? Ndeso banget. Sang teman mengaku tab ini, begitu akrabnya, digunakan hanya untuk transaksi dan transfer uang kepada pelanggan ataupun sesama kolega pengusaha. Maklum, mobilitas yang tinggi memang butuh barang yang super duper mobile juga sebagai rekan kerja yang tak pernah protes. Untuk ngegames, sepertinya sayang ya. Masa canggih-canggih begitu buat cekikikan enggak jelas. Sesekali si tab ini digunakan untuk menjawab panggilan dari orang-orang, baik yang tercinta maupun yang bikin sebel. Selain itu, tak guna bahkan si tab bikin boring. Akunya, si tab kayaknya belum maksimal deh bantu aku. Makanya sering aku biarin telentang di kasur.
Ini baru tiga alasan mengapa anak muda negeri ini memakai produk canggih. Ada sejuta alasan lagi mengapa kita memakai BB dan patnernya itu. Ada yang pengen punya niat dari dalam hati, ada yang kebagian durian runtuh, ataupun yang beralasan kebutuhan. Ketiga-tiganya, sesuai sinopsis di atas, cukup untuk diceramahi sekitar 2 SKS karena kurang tertib dalam membelanjakan uangnya di jalan yang benar. Selain itu, ketiga-tiganya juga perlu diikutsertakan di dalam kelas sejarah sekitar dua bulan berturut-turut. Di kelas itu, ketiganya akan belajar lagi bagaimana kehidupan tempo dulu yang tanpa produk canggih tersebut juga bisa berpacaran, iseng, dan dagang. Metode ini bukan awal untuk mengeluarkan fatwa haram terhadap barang canggih ya, perlu digarisbawahi. Karena menurut seorang penulis hebat di negeri ini, yang katanya punya koran Republika itu lo, hidup di zaman posmodern ini harus berhati-hati dan jangan sampai terhegemoni dengan segala kecanggihan, yang secara tidak langsung sudah menjadi hal wajib untuk diniati, dimiliki, serta digunakan. Waktu membaca esainya, saya mengangguk-angguk bangga dan tersenyum simpul sembari melirik handphone butut dan ilegal milik saya. Tiba-tiba nama saya tercantum samar-samar sebagai CEO Republika di handphone itu. Keren gila!
Begitulah fenomena bercanggih-canggih ria yang ditemukan saat-saat ini. Budaya BB dan tablet sudah sangat dekat dengan kehidupan kita. Pernah seorang ibu guru yang mengikuti pelatihan apa gitu, tampak mencolok sekali, karena hanya beliau yang memakai tablet di kelas pelatihan. Waktu jam istirahat si tab digunakan untuk berfoto-foto ria dengan peserta lain. Salah satu dari teman saya dimintai bantuan menjepret si ibu guru dan rekan-rekannya. Setelah teman saya sentuh sana sini, menu untuk menjepret tak ditemukan lagi. Alhasil, ibu guru dan rekan-rekannya tak jadi foto bareng. Dengan dongkol bu guru berucap, “Abis kulit kamu kasar banget, pada hilang. Mana ibu juga enggak tahu cara balikinnya,” jawab ibu guru dengan muka masam. Gubrak! Kita hampir terjungkang.
Lagi-lagi, baik tua maupun muda pada dasarnya tak mau terlindas tren, istilah jadulnya ketinggalan zaman. Kita mau semua yang mencolok mata itu. Kita mau semua yang orang lain miliki. Kita mau semua sesuatu yang sepertinya mampu mengangkat strata sosial kita. Padahal, dominan orang-orang hebat yang kita temukan, tidak memakai BB dan patnernya itu. Salah seorang mentor justru memakai handphone mini dan butut dengan memori hanya cukup menampung 100 data phonebook. Seorang penulis terkenal memakai handphone dilengkapi karet gelang guna bertahan menyala. Bahkan, seorang peneliti Indonesia di Belanda, justru memiliki handphone yang sepertinya produk Cina yang laris manis di pasaran itu.
Kita pasti salut dengan kekuatan mental dan diri mereka untuk bertahan dalam kondisi seperti itu. Beliau-beliau tak malu apalagi segan kepada rekan-rekan. Beliau-beliau enjoy dengan fasilitas yang telah dimiliki. Tingkat kebertahanan dari tren ini yang masih sangat sulit kita jangkau sebagai anak muda. Kita mungkin masih labil, dalam proses pencarian jati diri juga, serta tentunya masih menyusu kepada orang tua dan belum memiliki beban, sehingga hal-hal demikian belumlah menjadi fokus dan analisa kita yang sangat dalam. Padalah berawal dari sini kemacetan, kebangkrutan, serta kemiskinan bangsa kita dimulai. Bagaimana tidak, jika kesenjangan sosial semakin tinggi, perekonomian bangsa kita yang masih kusut ini akan semakin sulit diselesaikan. Ujung-ujungnya krisis perekonomian menjadi bayang-bayang dimana bangsa kita berdiri. Bukan melarang memakai BB dan patnernya ya, hanya saja dengan produk itu, daya beli kita terhadap produk dalam negeri menurun, budaya hemat itu mengambang menjadi dongeng di angkasa, tingkat konsumerisme tinggi, dan yang paling menyedihkan, ternyata banyak bapak, ibu, serta saudara-saudara kita yang diam melongo, tak tahu menahu terhadap barang canggih itu. Sedih deh pokoknya kalau sudah begitu. Herannya, kita pun enggan banget buat ngajarin BB apalagi tablet kepada mereka-mereka. Kita semakin skeptis dan apatis! Silahkan direnungkan.

Sejuta Cinta di Sini




Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa bantuan dan cinta datang menghampiri kapan dan dimana saja kita berada. Tak terduga-duga, dari sahabat kecil, sahabat baru, teman baru, dan dukungan dari orang-orang yang sangat mencintai serta dicintai. Cinta itu datang bercucuran bak hujan di sore hari. Silih berganti dalam berbagai model dan bentuk.
Awalnya sangat tidak percaya, namun kemudian cinta menghampiri setiap detik dan hari yang kita jalani. Tak kenal lelah dan tak kenal waktu. Kapan cinta datang maka berbunga-bungalah hati. Kapan cinta mampir maka serasa damai dan sejuknya bumi ini. Kapan cinta datang, oh karunia-Mu memang di luar kemampuan kami.
Begitulah cinta menghampiri setiap detik perjalanan hidupku di kota ini. Mencari peruntungan, ada saja sahabat kecil dan sahabat baru yang menghampiri biasa yang memberi jalan dan kenalan untuk lebih bermanfaat di sekitar lingkungan kita. Mencari makanan enak, lagi, ada saja para sahabat yang meluangkan waktu dan tenaga berkunjung kian kemari hanya untuk memberi pengalaman bagaimana gurihnya masakan khas kota ini.
Cinta besar dan luar biasa ini datang tak begitu saja. Nikmat yang diturunkan oleh Sang Pencipta kepada kita semua pada hari ini adalah satu karunia atas bentuk kecintaan dan kesayangan Tuhan kepada kita, ciptaannya. Rasa cinta itu pula yang dituangkan oleh Tuhan kepada para sahabat yang telah bermurah hati membantu, mengayomi, serta mencintai kita apa adanya. Di sini aku menemukan cinta yang mungkin tak mudah untuk membalasnya.
Hidup, kata Ibu, tak selalu berjalan mulus. Ada saja hambatan serta rintangan yang harus kita lalui dan hadapi. Berbagai rintangan itu tak pula terduga dan tak disangka-sangka datangnya. Soal kemampuan, setiap kita mampu menghadapi dan melewatkan rintangan itu dengan sabar dan mawas diri. Tak ada jurus yang paling ampuh di dunia ini selain kesabaran dan berpikir baik kepada Sang Khalik atas segala rahmat maupun hal-hal yang belum ingin kita terima.
Pun demikian dengan para sahabat di sekeliling kita. Energi-energi positif yang mereka berikan, awalnya mungkin tak begitu berarti bagi kita saat itu, namun percayalah, lambat laun, energi itu merupakan salah satu tongkat untuk berdiri kembali ketika kita rapuh dan roboh. Sifat-sifat Sang Khalik memang tak selalu dimiliki oleh setiap manusian. Namun, fitrah manusia adalah sifat-sifat tersebut yang sudah diturunkan Tuhan sejak kita masih janin. Hanya saja, udara, kehidupan, dan silaunya mata akan keindahan dunia yang gagah ini membuat sifat-sifat itu seperti tertutup abu nan tebal. Kita cenderung memikirkan diri sendiri. Kita cenderung meremehkan serta merendahkan orang lain. Kita cenderung menganggap kebutuhan dan keinginan orang lain tak penting dan tak perlu dipertimbangkan apalagi diperjuangkan.
Sosok manusia yang seperti itu, hampir pernah dialami oleh masing-masing kita, manusia biasa. Termasuk saya sebagai penulis kisah ini. Bahkan sesuatu yang kejam juga pernah kita lakukan kepada orang lain yang baru kita kenal dan menganggap pantas hal itu mereka terima. Tak jarang pula mungkin kita disumpahi dan dicap sebagai anak kurang ajar, kurang etis, dan seterusnya. Begitulah, jika perlakuan yang diberikan kepada orang lain bertentangan dengan fitrah manusia serta sifat-sifat Sang Khalik kita.
Di sini, saya ingin menuliskan bahkan mungkin sebuah keabdian, bahwa para sahabat yang sudah dan sedang menyebarkan banyak cinta kepada para sahabat yang lain yakni mereka adalah, Mba Lovely Husna, Ana sang sahabat kecil yang imut, Amril dan Purwa, duo sahabat yang paling super, Mba Anis yang rame dan memotivasi, serta beberapa orang sahabat baru yang datang dari berbagai kampus di kota ini. Mereka, para sahabat saling membantu sesuai kemampuan mereka terhadap apa yang dibutuhkan. Beragam dan sangat meringankan.
Perjalanan yang sudah beberapa kali pernah dijalani ini mengajarkan betapa hubungan antarmanusia yang penuh tepa selira, sangat diperhitungkan. Hubungan yang menempatkan siapa kita, baik dari tingkat pendidikan, pengetahuan, sosial, dan politik itu akan menentukan bagaimana cara kita memposisikan diri terhadap orang lain. Baik yang baru dikenal maupun yang sudah cukup lama dikenal. Di sini, kita diuji untuk bisa bertahan sebagai pemenang ataupun mundur sebagai orang yang kelak penuh dengan penyesalan. Bergabung dengan para sahabat kecil dan baru tanpa harus melebur dengan karakter mereka yang mungkin belum sesuai dengan hati nurani kita-pada sisi ini, kita tak bisa berkata-kata lagi.

Sunday, 20 November 2011

Merantau Itu Seperti Minum Air Seteguk Demi Seteguk





Bagaimana saya bisa menyabaikan betapa merantau sangat menarik hati, sesuai dengan cerita panjang lebar betapa negeri rantau itu sangat mengasyikkan dari mulut ke mulut orang rantau yang pulang ke kampung halaman. Hal ini pulalah yang dinasbihkan oleh Abak (alm) dan Amak yang sepertinya tak kenal lelah. Mereka, sepasang suami istri dengan empat buah hati,diboponglah merantau merantau ke negeri yang belum pernah mereka jejaki sebelumnya. Sangat menantang dan kemudian dapat digolongkan kepada pasangan muda yang sangat berani sekali tentunya. Ini cerita tantang kedua orang yang sangat mengisnpirasiku.

Sekarang, giliranku. Abak (alm) tak banyak meninggalkan warisan untuk Amak dan keempat kami beradik kakak. Beliau meninggalkan rumah permanen, kendaraan, usaha berdagang,serta semangat yang sangat susah untuk diredupkan, perihal bagaimana melihat hidup di dunia fana ini. Dan aku mencoba menuruni segala sesuatu semangat yang telah ditransfer oleh Abak(alm) dan Amak kepada anak-anak yang sangat bersusah payah mereka besarkan. Aku menjadi sosok yang sepertinya tidak bisa menerima semua itu apa adanya. Kenapa hanya menerima hal itu apa adanya, padahal kita mampu melakukan banyak hal lagi untuk hasil yang jauh lebih maksimal, kalau kata Mario Teguh yakni MT 10+1= sukses. Artinya, lakukan yang maksimal pada diri anda dengan satu syarat, anda harus sakit kemudian setelah melakukan pekerjaan itu. Itu MT 10+1= sukses. Bagiku ini ungkapan yang sangat luar biasayang memang tidak mudah dapat dilakukan oleh setiap orang.

Lantas, apa hubungan merantau dengan minum air? apalagi seteguk demi seteguk? Hmm, hubungannya, kesegaran, kenyamanan, dan kenikmatan itu memang didapat tidak secara langsung namun bertahap. Ini hanya sebuah penganalogian terhadap hidup yang keras dan penuh pengorbanan. Ketika anda minum, ada dua cara bagaimana anda menelan minuman itu hingga sampai di lambung. Pertama, meneguknya bak seorang atlit yang kehausan setelah berlari selama 2 jam dan sepanjang 25 km. Kedua, minum ala seorang sosialita yang tak ingin pewarna bibirnya tergerus minuman ketika ia minum.

Untuk merantau, saya sepertinya lebih memilih minum ala gaya sosialita yang untuk menikmati keberkahan lainnya, ia tidak perlu mengorbankan keberkahan yang sudah ia peroleh sebelumnya. Bagi sosialita ini masalah perut ia tak ingin terburu-buru dan habiskan waktu untuk memikirkannya. Sedangkan minum ala atlit, ini sebuah kebutuhan yang tak lagi memikirkan basa basi dan performance di depan banyak orang. Faktor kebergantungan dan tingkat sosial menjadi faktor yang tak mudah untuk dikesampingkan.

Bagaimana dengan merantau? faktor di atas ini pun, banyak sedikitnya berpengaruh kepada bulatnya tekad seseorang untuk menapaki tanah rantau. Kenapa demikian? Kenyamanan dan ketidaknyamanan menjadi kunci utama untuk anda berani mengambil keputusan ini dalam berbagai alasan awal yang pernah anda utarakan. Percaya tidak percaya, hanya orang yang telah mengambil keputusan ini dapat merasakan bagaimana dahsyatnya ketika langkah pertama membawa anda menjauhkan kampung halaman anda dengan kulit anda. Hanya anda dan Tuhan yang tahu serta sepatu butut yang anda kenakan. Selanjutnya anda akan menikmati bagaimana hati dan keringat dingin bercucuran di jidat anda. Bukan pembuat gentar justru anda semakin yakin dengan tekad itu.

Ceritanya, Alex of Madagascar Escape si harimau nyentrik dari kebun binatang New York pun 'merantau' untuk memperoleh kehidupan yang jauh berbeda dan menarik yang tidak terbayangkan sebelumnya. I like to move it, move it, sangat menggoda dan membuka banyak cakrawala di dalam diri kita. Ungkapan ini tidak hanya sebatas kalimat dengan kata kerja,melainkan lebih dari itu. Filosofinya, Alex, Melman, Gloria, dan Marty untuk move dibutuhkan banyak daya dan upaya. Mereka tahu dan siap untuk menjalankan semua itu yang dipertaruhkan adalah nyawa dan hari esok.

Ini cerita Alex dan kawan-kawan. Ceritaku, masih on the way dan cerita ini
sangatlah nyeleneh. Namun aku tunggu ceritamu.

"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang" Imam Syafi'i dalam Ranah 3 Warna oleh A. Fuadi.

Tuesday, 25 October 2011

Keringnya Ladang Nurbaya




Di musim rintik-rintik, sedari pagi, tengah hari, hingga malam menjelang, Nur hanya berputar-putar di dalam rumahnya yang seluas lapangan bola kaki. Perempuan muda itu tak terbiasa dengan gerimis. Ke kandang kambing belakang ia pun tak kuasa. Takut butiran-butiran bening itu menghujani kepalanya. Ia bisa terbaring berbulan-bulan, karena didera influenza dan menggigil. Dan ini bisa membuatnya mati.
Tapi ia tak sanggup mendengar embikan kambing-kambing yang sejak gadis ia pelihara. Kambing-kambing itu telah seperti anak-anaknya. Saban hari, setelah suaminya ke kantor kelurahan, segera ia berkutat dengan kambing-kambing itu. Kambing itu sudah ia pelihara sudah tujuh tahun. Jumlahnya enam ekor, semua jantan.
Modal membeli kambing ia dapatkan ketika bekerja di luar negeri. Ia dikontrak menjadi pembantu rumah tangga di Singapura selama lima tahun. Bersama Wati, Idah, dan Lela mereka mengenyam hidup sebagai buruh migran di negeri orang. Separuh gajinya ia kirimkan pulang kampung melalui wesel. Separuh dari uang itu ia pesankan kepada bapaknya agar dibelikan kambing-kambing jantan. Kata ibunya, seorang gadis yang suka memelihara kambing jantan, akan bersuamikan lelaki kaya dan mapan. Nur pun semakin tertarik memelihara kambing jantan daripada sapi, kerbau, atau ayam.
Namun, uang yang dikirimkan Nur tidaklah seberapa. Uang itu tak mampu menutupi biaya sekolah menengah tiga adiknya. Apalagi jika diparuh dua untuk membeli kambing-kambing jantan. “Takkan cukup,” kata bapaknya. Belum lagi untuk membeli obat pengapuran ibunya. Sejak Nur meninggalkan kampung, perempuan renta itu semakin payah.
Bapak Nur pun menghabiskan uang-uang kiriman setiap bulan untuk keperluan rumah tangga dan sekolah adik Nur. Lelaki tua itu hanya seorang tukang cukur di Pasar Rebo. Pasar sekali sepekan, Rabu, dimulai jam enam pagi dan berakhir jam sepuluh pagi. Selebihnya, ia lelaki pengumpul pinang di sela-sela pagar ladang orang. Satu dua ia kumpulkan pinang-pinang. Dibelah, dijemur sampai kering, dicongkel untuk memisahkan daging dari kulitnya yang tebal. Ia membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk memperoleh sekilo pinang yang siap jual, seharga Rp 8.000.
Selang tiga tahun kemudian Nur kembali ke kampung. Tak seekor pun kambing-kambing jantan menyambutnya.
“Saya tak marah kepada bapak, ibu, dan adik-adik,” kata Nur dingin. Ia paham keadaan keluarga setelah keberangkatannya ke negeri orang dari mulut bapaknya.
Tapi, sejak itu ia tak menyisihkan sepeser pun uang untuk keluarganya. Semua pendapatannya ia belikan tanah dan membangun rumah lumayan besar. Bersebelahan kampung dengan bapak, ibu, dan adik-adiknya. Sejak rumah berdiri dan menikah, ia tak pernah menjejaki rumah tua bapaknya. Kabar dari keluarga itu pun tak singgah lagi di telinganya.
Kesibukan Nur memelihara kambing-kambing membuatnya lupa diri. Sejak dua tahun menikah, tak ada tanda-tanda Nur akan melahirkan. Suaminya tidak banyak menuntut.
“Kambing-kambing itu jauh lebih berguna daripada bayi kan Mas?” kata Nur di peraduan.
“Hmmm,” lengos suaminya.
Setiap hari kerja, ia tak pernah ikut campur mempersiapkan perbekalan suaminya ke kantor. Tidak juga ikut dengan ibu-ibu arisan sekelurahan setiap Jumat pagi. Bukan karena ia tak cantik apalagi tidak berduit. Dan juga bukan karena ia tergolong perempuan bodoh. Nur cukup cerdas dan telaten. Apalagi waktu pulang dari negeri orang, Nur menjadi buah bibir sebagai gadis sukses dan membanggakan kampung. Ia tak peduli semua itu. Ia tetap tak tertarik bergabung dengan perkumpulan istri-istri pegawai kelurahan. Baginya itu hanya menghabiskan pendapatan suami.
Setiap fajar menyinsing, ia menyiapkan sarapan sekenanya. Kegiatan suami, ya suami. Kegiatannya cukup menyita waktu dengan kambing-kambing jantan itu. Bau amis kambing, sudah menjadi khas bau yang disukai Nur. Awalnya suami Nur terheran-heran melihat sikapnya terhadap kambing-kambing itu. Nur tak ambil peduli. Bukankah lelaki itu tertarik kepada Nur karena ia satu-satunya pemilik kambing-kambing jantan di kampung ini.
Kambing jantan bagi Nur merupakan sebuah lambang kesuksesan bagi seorang perempuan baik sebelum maupun setelah bersuami. Kecintaan Nur kepada kambing-kambing itu hingga mewarnai tidurnya. Dalam lenanya, kambing-kambing itu tidak hanya membanggakannya, namun kerap pula membantunya melakukan kegiatan rumah. Bagi Nur, keberadaan kambing jantan mampu mengalahkan keberadaan keluarganya. Apa saja bisa diselesaikan jika bersama kambing jantan, termasuk pemenuhan sehari-hari Nur. Kambing-kambing itu berubah menjadi budak-budak yang siap disuruh-suruh oleh Nur.
Pada suatu malam, Nur bermimpi dengan seorang perempuan tua yang buruk rupanya. Dari raut wajahnya, tampak perempuan tua itu begitu riang dan bahagia melihat kambing-kambing jantan di sekitar rumah Nur. Perempuan tua yang buruk rupanya itu berujar agar Nur tak mudah terperdaya menjual kambing-kambing itu. Karena kambing-kambing jantan itu merupakan sumber kebahagian hidup Nur untuk masa-masa mendatang. “Ia dapat membahagiakanmu melebihi suamimu. Jangan pernah bosan kepada kambing-kambing ini meskipun kadang bau yang dikeluarkannya begitu menyiksa hidungmu!” ujar perempuan tua yang buruk rupanya itu kepada Nur.
Pernah suatu ketika, ia diserang flu dan tak sanggup ke luar kamar. Suaminya telah di kantor kelurahan. Kambing-kambing itu kelaparan dan mengembik keras-keras. Nur pun kalang kabut. Ia semakin menggigil mendengar embikan kambing meraung-raung ke telinganya. Iba bercampur was-was. Tapi, ia tak mampu mendekati kambing-kambing itu. Untuk berdiri saja, kedua tungkainya tak mampu menahan berat badannya. Nur pun berteriak-teriak dan menjerit-menjerit di dalam kamar seperti orang kesetanan. Memanggil-manggil seseorang. Berharap ada tetangga mendengar teriakannya.
Untunglah seorang perempuan muda, tetangga dua rumah dari rumahnya belum ke dangau, bertanam padi. Ia mendengar teriakan Nur dari rumah besarnya. Segera ia membantu memberi makan kambing-kambing itu. Namun tidak serta merta kambing-kambing itu langsung memakan rumput-rumput tersebut. Kambing-kambing itu memang berhenti mengembik namun tak mau makan. Hewan-hewan itu hanya memandang triplek-triplek hijau tanpa mau mencicipi rumput pemberian tetangga Nur. Sang tetangga pun menceritakannya pada Nur. Nur menangis, mengutuki diri, dan segera berdoa agar ia cepat sembuh dari serangan flu.
***
Perangai Nur dengan kambing-kambingnya semakin aneh. Kambing-kambing itu tak pernah dilepas lagi ke ladang-ladang orang. Nur mengajari binatang itu makan berbagai buah-buahan dan sayuran laiknya manusia. Membukakan pintu rumah, dapur, dan kamar untuk kambing-kambing itu. Tak jarang pula kambing-kambing itu bermalam di ruang tengah, di kamar, dan di peraduan Nur. Binatang itu pun semakin berisi, besar-besar, dan memiliki embikan keras. Tanduknya semakin panjang dan kuat. “Pasti kelak harganya tinggi,” desis Nur senang.
Ia tak lagi menghiraukan kepergian suaminya. Lelaki yang telah dua tahun hidup dengannya memilih meninggalkan Nur beserta rumah dan binatang peliharaannya. Katanya suaminya tertekan mendengar bisik-bisik orang kampung terhadap dirinya. Tidak di kelurahan, di pasar pagi, di dangau-dangau, orang-orang mempergunjingkan istrinya. Itu membuatnya gerah. Pernah suatu ketika di kamar mandi, suaminya memeriksa seluruh tubuh Nur yang tengah telanjang itu. Suaminya ingin memastikan kalau tubuh istrinya tidak ada yang rusak bahkan kurang setelah begitu sering bergaul dengan kambing-kambing mereka.
“Kau seperti orang gila. Saban hari sibuk dengan binatang itu. Bau kambing! Aku malu pada orang-orang Nur!” Geram suaminya sebelum meninggalkan Nur.
Nur diam saja. Baginya lelaki tak berguna apa-apa jika tak mendatangkan sesuatu yang bisa membanggakan diri dan keluarga. Ya, seperti bapak dan adik-adiknya yang lelaki itu. Hidup seperti benalu, menumpang, mencuri, menghisap makanan orang lain, dan sayang tak pernah sadar serta menyesali perbuatan itu. Betapa banyak bedebah-bedebah itu di dalam kampungnya kini seiring semakin mengular pula perempuan-perempuan antrean mengurus KTP di kelurahan. Mereka rela meninggalkan kampung, rela meninggalkan anak suami demi memperoleh kehidupan mapam di luar negeri sana.
Sayang, sang suami justru ongkang-ongkang kaki di rumah. Menggulung-gulung rokok nipah dan menyeruput kopi hitam pekat sepanjang hari. Harap-harap menunggu wesel istri datang setiap tiga bulan sekali dari Malaysia, Singapura, Thailand, atau Arab Saudi. Tak tahukah mereka betapa susahnya mengais sepeser demi sepeser uang di negeri orang, pikir Nur. Tidak hanya peluh dan air mata, kehormatan dan harga diri pun digadaikan.
Begitu juga dengan suami Nur. Pegawai kelurahan, dengan gaji hanya cukup untuk dua minggu makan, Nur benar-benar jengah. Pernikahannya dengan lelaki itu hanya untuk menguatkan keyakinan ibunya tentang garis tangan seorang gadis yang suka memelihara kambing-kambing jantan. Awalnya ia begitu bangga dan terhormat. Merasa jadi perempuan beruntung dan anak penuh bakti. Ya, agar pengapuran, asam urat, dan darah tinggi itu tak merenggut nyawa perempuan renta di kampung seberang sana. Ternyata itu hanya iman ibunya.
“Sudahlah, suatu hari kelak kau akan kembali. Kau membutuhkan aku, Mas.” Ungkap Nur bangga sambil terkekeh menuju kandang kambing. Suaminya meringis.

Perempuan dan Masa Depan Indonesia




Berbicara tentang kebangkitan bangsa Indonesia berarti berbicara tentang kondisi nyata bangsa saat ini kemudian menyiapkan strategi-strategi jitu untuk menghadapi masa depan yang berat dan jauh lebih menantang. Tak ketinggalan belajar dari perjalanan sejarah bangsa yang besar ini, agar hal-hal yang tidak penting dan mengacau diharapkan tak terulang kembali. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sebentar lagi akan memasuki usia ke 66 tahun, beragam hal yang mesti dibenahi dan mendapat perhatian lebih untuk mewujudkan bangsa yang adil, mulia, dan bermartabat. Salah satu hal yang menarik untuk diperbincangkan adalah relasi antara laki-laki dan perempuan yang hingga saat ini masih timpang dan tak jelas simpang siurnya.
Kenapa hal ini menarik untuk dikaji? Hingga saat sekarang perempuan kerap mengalami ketidakadilan gender, diskriminatif, dan marginalisasi peran dalam berbagai aspek kehidupan. Perempuan belum memperoleh posisi tawar yang layak atas kualitas (pemikiran) yang dimiliki, hanya dikarenakan ia perempuan. Ungkapan perempuan belum menikah adalah milik ayahnya, perempuan menikah milik suaminya, perempuan janda adalah milik anak laki-laki atau saudara lelaki suaminya, menunjukkan bahwa perempuan belum memiliki hak penuh atas tubuhnya. Sistem patriarkat di negeri ini masih mendominasi dan melahirkan ketimpangan-ketimpangan gender, yang kebanyakan merugikan perempuan.
Ketimpangan atau ketidakadilan gender melahirkan berbagai kasus yang korban utamanya adalah perempuan. Sebut saja kekerasan (baca; KDRT) yang kebanyakan dialami oleh perempuan. Penyebab tindak kekerasan pun kadang hanya karena hal sepele yang tidak clear dikomunikasikan antara istri dan suami. Alhasil ‘bogem mentah’ pun melayang dari suami kepada istrinya. Ironisnya, hal ini di mata masyarakat kita sudah dianggap wajar dan pantas diterima perempuan. Penilaian bias gender bahwa laki-laki dianggap selalu benar pun telah berurat berakar pada sistem sosial dan budaya kita. Hal senada juga diungkapkan oleh Fiorenza (Anwar, 2009:238) kekerasan berkaitan dengan prinsip kekuasaan sosial yang dimiliki oleh laki-laki yang cenderung merendahkan kedudukan perempuan dalam sistem sosial.
Kasus terhangat yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan adalah kasus pidana mati terhadap Ruyati binti Saboti Saruna. Tenaga kerja migran asal Bekasi, Jawa Barat ini harus menerima perlakuan yang tidak adil baik dari majikannya serta hukuman pancung yang kuno dari Kerajaan Saudi Arabia. Ruyati bukan sekedar korban kekerasaan, eksploitasi, dan ketidakadilan gender, namun ia juga korban kesewenang-wenangan pemerintah nasional yang kurang perhatian dengan tenaga kerja serta nasib perempuan. Komisi Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyesalkan sikap pemerintah yang lamban dan kebanyakan retorika semata dalam menghadapi permasalahan yang tengah dialami buruh migran, terutama perempuan. Komisi ini pun berusaha mengadvokasi para buruh yang tengah bermasalah melalui Kementerian Luar Negeri yang bermuara kepada konvensi PBB 1990 tentang Perlindungan Pekerja Migran.

Rekonstruksi Peran Perempuan
Pada dasarnya perempuan dan laki-laki sama, baik kecerdasan otaknya, kemuliaan budi, keluhuran cita-cita, memiliki harapan dan impian, kekhawatiran dan ketakutan, begitu juga memiliki potensi untuk memimpin. Hal ini sudah dicatat sejarah sejak akhir tahun 1928. Pada waktu itu, perempuan Indonesia telah memiliki kesadaran politik dan keberanian yang luar biasa dengan menyelenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini menghasilkan kesepakatan untuk mengirimkan mosi kepada pemerintah agar diadakan dana untuk janda dan anak-anak, mencegah perkawinan anak-anak, dan memperbanyak pendidikan untuk perempuan. Pada Kongres Perempuan Indonesia II tahun 1935 perhatian ditujukan kepada keadaan buruh perempuan. Sementara pada Kongres III tahun 1938 masalah kedudukan dan peranan perempuan, serta usaha perbaikan nasib kaum perempuan merupakan isu yang dominan dibicarakan. Kongres-kongres yang diadakan ini merupakan perjuangan perempuan pada masa kebangkitan nasional sekali pun mereka harus berhadapan dengan pemerintah kolonial Belanda.
Tak sampai di sana, memasuki tahun 1950-an berbagai lembaga dan gerakan perempuan menjamur di Tanah Air. Sebut saja Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang memfasilitasi setiap perjuangan perempuan pada masa kemerdekaan. Gerwani yang berhasil mengambil peranan penting di parlemen cukup berpengaruh terhadap perubahan nasib perempuan yang lebih baik di Tanah Air waktu itu. Sayang, stabilitas politik terguncang pada tahun 1965 yang juga berdampak kepada Gerwani. Lembaga yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia ini dibubarkan dan dihancurkan. Menurut Arivia (2006:17) waktu itu rakyat diarahkan untuk membenci komunis yang pengaruh jahatnya dikatakan datang dari kaum perempuannya. Untuk mengembalikan perempuan ke ‘jalan yang benar’, konon haruslah dengan mengokohkan kuat-kuat peran kaum perempuan sebagai istri, ibu, ibu rumah tangga. Indonesia pun memasuki era Dharma Wanita.
Di era globalisasi dan reformasi sekarang ini, struktur dan peranan perempuan Indonesia akan mengalami perubahan akibat transparansi dalam segala aspek kehidupan. Kesempatan memperoleh pendidikan dan pengetahuan yang luas bagi perempuan akan memberikan kesadaran dan peranannya yang besar di masyarakat. Ungkapan perempuan adalah tiang negara, menunjukkan betapa besar peran, andil, dan partisipasi aktif perempuan dalam menegakkan suatu bangsa dan negara menjadi kokoh dan makmur. Menurut Subhan (2004:54) dengan kesadaran dan pengetahuan yang diperoleh, kaum perempuan tidak hanya bisa menjadi ibu rumah tangga atau istri yang berkutat di wilayah domestik, akan tetapi potensi yang dimilikinya harus dikembangkan termasuk memasuki wilayah publik yang terbuka lebar untuk perempuan. Tentu saja dengan adanya syarat-syarat yang harus dipenuhi tidak hanya untuk perempuan tetapi juga untuk lelaki.
Kiprah atau keterlibatan perempuan di dunia publik semakin berkembang dari tahun ke tahun. Kesempatan perempuan bergabung dengan dunia politik pun cukup menggembirakan. Kuota 30 persen keterlibatan perempuan di parlemen pun memberikan angin segar untuk perjuangan kaum hawa. Namun, keterlibatan itu masih saja cenderung kepada hal-hal ‘rumah tangga’ seperti, kesehatan, BKKBN, sosial, dan sebagainya. Keterlibatan perempuan dalam pengambilan kebijakan juga masih minim, misalnya pada politik dan kebijakan luar negeri, pertahanan dan keamanan, keuangan serta APBN. Perempuan sepertinya kurang meminati hal tersebut. Kondisi ini pun, kembali, membawa perempuan kepada posisi pinggiran dan menguatkan pendapat Maryln French (Nugroho, 2008;xix) bahwa peradaban manusia adalah perjalanan peradaban laki-laki. Ironis memang.
Menyikapi kondisi yang demikian, cakrawala pemikiran para pemimpin dan pengampu kebijakan bangsa tentang Gender Related Development atau Gender and Development ini juga perlu dikokohkan. Siasat strategi dalam merekonstruksi penafsiran budaya yang dinilai membatasi peran perempuan ini sangat diperlukan. Pandangan bahwa perempuan adalah bagian dari masyarakat -yang terdiri dari perempuan dan laki-laki- sudah sewajarnya memberikan perlakukan yang sama kepada kedua komponen ini. Prinsip-prinsip keadilan hukum serta sosial juga turut serta memecahkan permasalahan konstruksi sosial (baca;ketidakadilan gender) yang telah mendarah daging di tengah masyarakat kita. Semisalnya, peningkatan porsi anggaran pendidikan dan kesehatan kepada perempuan. Pemberdayaan hak-hak berpolitik untuk perempuan dan laki-laki jangan sampai dibeda-bedakan. Semua ini kita lakukan untuk kebangkitan perempuan dan bangsa Indonesia ke depan, menuju bangsa yang lebih bermartabat, adil, dan makmur. Sehingga tak ada lagi perempuan yang tersisihkan, termarginalkan, serta terdiskriminatifkan hak-haknya karena alasan apapun.

Referensi
Anwar, Ahyar. 2009. Geneologi Feminis: Dinamika Pemikiran Feminis. Jakarta: Penerbit Republika.
Arivia, Gadis. 2006. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Komisi Anti Kekerasan terhadap Perempuan http://komnasperempuan.org
Nugroho, Riant. 2008. Gender dan Strategi: Pengarus-Utamaannya di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Subhan, Zaitunah. 2004. Perempuan dan Politik dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.

Nurbaya dan Lelaki Sedarahnya

Di balik jeruji besi, ibu bersandarkan bantal lusuh seadanya. Perempuan yang rambutnya kian memutih itu, tak ingin mengorbankan puasanya walaupun ia semakin hari semakin lemah. Tak hanya menanggung lapar dan haus, tetapi juga malu dan bersalah. Setelah dua tahun dibui, ibu tetap merasakan kegagalan dan kesalahan itu sebagai buah dari sikapnya yang teledor dan bodoh.
Ia gagal mendidikku sebagai anak yang dibesarkan tanpa ayah. Dan ia masih merasa bersalah kepada majikannya dulu. Karena lalai dengan janjinya untuk merawat kakak angkatku, Mida, hingga ke jenjang pernikahan. Seperti hari ini, ia tak banyak bicara padaku. Satu dua kata ibu bertanya kabar sembari memperbaiki sanggulnya yang baik-baik saja. Setiap kali aku menjenguknya, pesan ibu selalu sama, berharap aku dan kakakku cepat mendapat jodoh dan hidup bahagia.
“Ah terkutuklah ayah yang menyia-nyiakan nasib kami,” desisku setiap kali menjenguk ibu di rumah pesakitan itu.
***
Bulan Ramadan ini merupakan bulan yang paling berkah bagi keluarga kami. Di bulan ini rezeki keluargaku lebih banyak daripada bulan-bulan sebelumnya. Karena, hampir setiap malam aku mengikuti lomba mengaji di berbagai masjid hingga subuh menjelang. Pada setiap lomba pula, biasanya aku memperoleh peringkat unggulan atau tiga besar. Dari hasil lomba itu, ibu dapat memperbaiki atap dapur yang bocor dan menyambut Lebaran kelak dengan aneka kue dan minuman. Jangan heran, aku yang berusia 17 tahun adalah seorang pencari nafkah di bulan Ramadan, setidaknya sejak tujuh tahun lalu.
“Nurbaya, kakakmu bukanlah akar kuat bagi ibu bergantung. Kaulah anakku, si pengangkat derajat keluarga kita kelak,” begitu ibu membujuk jika aku menolak mengikuti lomba mengaji karena capek dan mengantuk.
Tapi bujukan itu jarang sekali dilakukan ibu. Karena badanku selalu sehat dan jiwaku selalu siap untuk mengikuti lomba. Tak lagi semata-mata karena ingin membantu ibu dan sebagai tonggak keluarga. Namun karena Faisal, teman lelaki yang sama-sama jago mengaji denganku. Hampir setiap malam kami bersua, bercengkerama, serta melepas rindu karena seharian tak sempat berjumpa. Terus terang saja, Faisal pacarku.
Aku dan Faisal sudah saling kenal dan akrab sejak lima tahun lalu. Beberapa bulan belakangan kami sempat tidak bertegur sapa karena berbagai hal. Namun, menjelang bulan Ramadan ini aku dan Faisal tak berselisih lagi. Kami semakin dekat dan lebih nyaman. Ia kerap mengantarku pulang ke rumah subuh-subuh sehabis mengikuti lomba mengaji. Ibu dan kakakku pun tak berpikir macam-macam. Bahkan aku sering dititipkan ibu kepadanya. Karena Faisal adalah lelaki baik, sudah bekerja tetap, dan mamakku sendiri.
Ya, Faisal mamakku. Faisal sesuku dengan ibuku yakni sikumbang, begitu juga dengan sukuku. Aturan adat telah menetapkan bahwa Faisal adalah adik ibuku. Walaupun mereka tidak seibu dan seayah, namun jalinan darah yang tak tampak itu sangat kuat, dipercayai, dan bermakna. Karena Faisal adik ibuku, aku tak berhak memiliki hubungan dekat, hubungan berkasih sayang sepasang anak manusia dengannya. Karena itu tabu, tidak sesuai adat, dan tentu saja haram.
Diam-diam aku dan Faisal masih menabur dan memupuk rasa kasih sayang itu dengan cara kami masing-masing. Hingga bulan Ramadan ini, rasa itu kembali bersemi dan semakin kuat. Tak mampu diredupkan dengan apapun. Biasanya kami berjumpa di salah satu rumah temanku. Aku bermain di sana dan Faisal adalah tamu di rumah itu. Nikmatnya madu berkasih sayang sudah kami rasakan bersama-sama. Aku dan Faisal tak ingin menjauh.
Perihal menikah sepersukuan, ibu Faisal pernah bercerita kepadaku. Menikah sepersukuan merupakan perbuatan terkutuk, katanya. Perbuatan ini akan mencoreng muka dan harga diri dari kaum cerdik pandai dan mamak dari suku yang bersangkutan. Merusak tatanan dalam bersanak famili dan bermasyarakat. Hukuman adat akan sangat berat, dipermalukan dan dicampakkan seumur hidup. Hukuman hidup akan menyakitkan, karena kau akan melahirkan anak dari tanah lumpur yang lembek dan hanya bisa berceloteh atau anak dari kayu yang keras dan tak berotak. Hukuman alam apalagi, tak satu pun dari butiran nasi yang kaumakan ikhlas bersarang di perutmu. Mereka menyumpah serapah hingga kau rasakan betapa nikah sepersukuan itu sangat mengutuki dirimu dan suamimu. Aku bergidik mendengarnya.
“Aku siap dengan segala hukuman itu, Nur. Menghitamkan kampung halaman atau mati sekalipun,” bisik Faisal ketika kuceritakan semua itu di warung soto pada suatu malam.
Keterkutukan ketika melawan adat itu, bagiku sangat tidaklah adil. Hanya karena menikah dengan seseorang yang bertalian darah, sekalipun dengan saudara jauh, mereka dicampakkan, dipermalukan, dan dianggap pembawa malapetaka. Padahal masih ada perbuatan yang jauh lebih memalukan dilakukan oleh anak muda di tempat tinggalku, yakni gadis muda melahirkan tanpa diketahui siapa suami dan ayah dari si bayi. Bahkan, yang lebih ironis, tetanggaku mendapatkan kiriman bayi mungil laki-laki dari seorang perempuan bercadar, mengaku ibu si bayi dan ayahnya adalah anak sulung tetanggaku.
Perbuatan macam begitu, diterima oleh masyarakat kami dan kaum cerdik pandai dengan tangan terbuka dan lapang dada. Meskipun, para ibu lebih sering mengurut dada ketika mendapat kabar demikian. Laiknya tak terjadi apa-apa. Seiring angin siang berhembus, kehidupan pun berjalan seperti biasanya. Untuk itulah, ibuku melarang kakak perempuanku merantau dan mencari kehidupan ke negeri orang. Kata ibu, anak gadis sepulang dari rantau merupakan buah bibir yang tak pernah habis dipergunjingkan hingga merubah nasib si gadis menjadi perawan tua.
“Biarlah anak gadisku di rumah. Hidupnya akan baik-baik saja selagi ia rajin sembahyang dan mengaji,” begitu ibu membela diri jika berhadapan dengan para tetangga yang rewel dan suka fitnah.
Namun, di penghujung bulan Ramadan ini Faisal semakin kuat mendesakku untuk menyampaikan perihal hubungan kami kepada ibuku. Ia berencana akan melamarku setelah Lebaran. Semua keperluan pesta pernikahan telah disiapkannya, termasuk pelarian kami jika kelak diusir. Hanya menunggu kata sepakat dariku dan dari ibuku. Ketika rencana ini kukabarkan kepada kakakku di kamar, ia berang dan mengataiku sebagai gadis tak tahu diri dan tak tahu malu. “Perbuatan tak senonoh apa lagi yang akan dilakukan keluarga kita, setelah kegagalan ibu menikah dengan ayahmu ha?” ujar Mida padaku.
Kontan saja, kakakku mengabarkan hal ini kepada ibu sepulang dari masjid. Ibu tak banyak bicara. Pembawaan beliau yang dingin dan tenang, sulit untuk ditebak. Malam itu hingga subuh menjelang aku pulang, ibu mengurung diri di kamar. Tak banyak yang ia lakukan. Kata kakak, ibu mengeluarkan isi lemari pakaian dan melipat-lipat baju kecil milik kami ketika masih kanak-kanak dulu. Beberapa tropi, hadiahku mengikuti lomba mengaji juga dibersihkannya. Hingga berawallah kejadian yang memalukan sekaligus memilukan ini.
Ketika deru sepeda motor yang membawaku, berhenti di depan rumah pada subuh itu, ibu menyambutku seperti biasa. Bertegur sapa dengan Faisal yang siap-siap kembali ke rumahnya. Tapi, ibu menawarkan Faisal singgah. Sedikit memaksa. Setelah menutup pintu, ibu berujar tenang.
“Nurbaya takkan pernah menikah denganmu Sal. Takkan pernah! Ia tak pantas mendampingimu. Mida lebih dulu menaruh hati padamu dan nikahilah gadis itu. Karena ia rajin, pengabdi, dan cocok untuk lelaki sepertimu.”
Aku dan Faisal ternganga. Ia berdiri mematung, tak percaya ibu berujar seperti itu.
“Tapi Uni, Nurbaya bersedia kulamar bahkan meninggalkan kampung ini. Dan aku tak mencintai Mida. Sungguh!” bela Faisal setelah berhasil mengendalikan dirinya.
Mendengar itu, wajah ibu merah padam. Menahan emosi sekaligus malu, karena kakakku ditolak langsung oleh Faisal.
“Apa? Kau tak mencintai Mida? Sejak kapan? Sejak kau mengetahui ia tak perawan lagi ha?” tanya ibu beruntun sambil mendekati Faisal.
“Yyyyyaaaa,” jawab Faisal tergagap, berusaha mengelak sorotan tajam mata ibu dan menjauh darinya.
Raut wajah ibu yang semakin kusut dan kalut mencerminkan betapa ia membenci dan merasa terhina. Ibu di mataku tiba-tiba berubah menjadi perempuan naga, bengis, dan menakutkan. Ia bisa menelan siapa saja yang ada di depannya. Pembawaannya yang tenang dan sedikit dingin akan membuat pikiranmu berkecamuk, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan perempuan yang tengah geram ini selanjutnya.
Secepat kilat ibu mengayunkan belati dari balik sarungnya ke perut Faisal. Lelaki muda itu mencoba mengelak dan melawan. Namun, kebengisan ibu telah merubahnya menjadi monster yang tak dapat dikalahkan. Pada sabetan kedua Faisal terjerembab. Ia meringis menahan perih sembari memegangi perutnya yang sobek dan bercucuran darah. Aku menjerit membangunkan kakakku, tetangga, dan seisi kampung.
Gemes Itik

Foto ini diambil pada sore hari sekitar pukul 16.30 WIB, Kamis, 4 Agustus 2011 di salah satu tempat bermain (di tengah sawah yang sudah dipanen) anak-anak kampung Jambak, Balai Selasa, Sumatera Barat. Lahan sawah itu digunakan anak-anak kampung Jambak sebagai tempat bermain bola sebelum lahan itu diolah kembali oleh petani setempat untuk menanam padi.

Terbang

Foto ini diambil pada siang hari sekitar pukul 13.00 WIB, Senin, 29 Maret 2010 di kota Padang, Sumatera Barat. Anak-anak bermain lompat-lompatan dari atas jembatan ke sungai atau Banda Bakali di bawahnya. Di tengah rintik-rintik hujan siang itu, tak menyurutkan semangat ketangkasan mereka melompat dari ketinggian.






Perempuan Penjual Pacai



Ayah telah membuka kedai serba ada ini sejak aku dilahirkan. Entah apa yang ada di benak ayah waktu itu, hingga beliau tertarik membuka kedai macam begini. Apa saja yang diinginkan orang-orang kampung selalu tersedia di kedaiku. Mulai dari perlengkapan mandi, alat-alat masak, jarum pentul, hingga batu asah. Jangan heran, setiap hari kedaiku ramai oleh pembeli. Tapi, sekarang ayah telah tiada.
Di kedai warisan ayah ini, pacai1lah yang paling banyak dicari orang. Karena, di kampungku, setiap pesta perkawinan, ritual kematian, doa-doa menyambut bulan suci, serta kegiatan tradisi tertentu, selalu terasa kurang lengkap jika tak ada pacai. Serbuk pacai yang mengeluarkan aroma khas apalagi ketika dibakar, menjadi daya tarik dan magis, turun temurun bagi orang-orang di kampungku. Makanya, pacai menjadi barang wajib ada di kedaiku.
Bagiku sendiri, bau pacai seperti bau bunga sedap malam yang diterpa angin sore. Suatu kali ibu menaburkan serbuk pacai ke dalam bara api di tengah rumah menjelang senja. Semerbak aromanya menyusup ke segala penjuru ruangan dan relung jiwa. Membuat kami berdecak kagum sekaligus khusyuk. Ah pacai. Ingat pacai aku jadi ingat ayah.
Pembeli pacai tak menentu. Kadang anak-anak, kadang para remaja yang disuruh orang tuanya. Tapi, lebih sering para orang tua. Setiap orang yang membeli pacai di kedaiku, selalu aku tanyakan untuk apa pacai digunakan. Bermacam jawaban yang dilontarkan.
“Untuk pesta si Meri,” atau “Ini lagi mendoa kecil-kecil,” serta “Pak Datuk ‘telah pergi’ tadi malam,” jawab orang-orang pembeli pacai kepadaku. Jawaban beragam itu membuat perasaanku kadang enak dan kadang mengharu biru.
Aku yang dibesarkan oleh ayah dan ibu di kedai serba ada ini, membuat diriku berbakat dan terampil berdagang. Kata ibu darah berdagang itu aku warisi dari ayah. Aku sudah memulainya sekitar sepuluh tahun lalu ketika aku mulai pintar berhitung. Sejak itu, ayah dan ibu mempercayaiku melayani pembeli di kedai, tentu hanya untuk barang-barang dengan harga rendah, ya seperti pacai ini.
Berdagang pacai bagiku sangat menyenangkan. Karena, selain selalu dicari-cari orang setiap hari, keuntungan yang didapat juga tidak sedikit. Aku berdagang pacai dengan keuntungan hampir mencapai lima kali lipat dan, tanpa saingan. Aku membeli pacai seharga dua puluh ribu rupiah per kilogram. Setibanya di kedai, pacai kuecer seharga sepuluh ribu rupiah per ons-nya.
Biasanya serbuk-serbuk pacai kubungkus kecil-kecil dengan harga lima ribu rupiah per bungkus. Semua bungkusan itu kujejerkan di atas meja biro. Meja dimana timbangan, gunting, selotip, kantung plastik, rokok, korek api, kertas kado, dan laci duitku bersarang. Meja ini menjadi sangat penting di kedaiku. Aku menunggu kedai seharian duduk di kursi yang berhadapan dengan meja biro ini.
“Meja ini lambang kebesaran dan keseriusan kita berdagang,” jelas ibu sambil mengelap-elap meja biro. Acap kali tampak olehku ibu tengah membayangkan almarhum ayah yang sering duduk di sana.
Dulu, aku kerap diajak ayah membeli pacai ke kota, nun jauh di sana dari tempat tinggal kami. Aku hapal tempatnya. Sebuah kota yang memakan waktu sepuluh jam perjalanan bus. Tengah malam kuberangkat, pada tengah malam berikutnya aku telah di rumah kembali. Cukup melelahkan. Tapi aku merasa ada yang kembali terpuaskan dalam batinku.
Setiap pulang dari kota, aku selalu membawa tidak kurang sepuluh kilogram pacai. Dua hari kuhabiskan untuk memecah-mecah bongkahannya menjadi bongkahan-bongkahan yang lebih kecil. Kemudian membungkus, mengecer, dan menatanya di meja biro. Ibu siap menjualnya di kedai. Sedangkan aku, seharian penuh menjajakan pacai ke kampung-kampung.
Bertumpukan pada sepeda motor tua ayah, kukepak pacai ke dalam dua kardus aqua gelas. Pun beberapa papan pacai yang telah disusun kugantung pada setang sepeda motor itu. Agar orang tahu aku sedang berjualan pacai keliling kampung. Sebelum matahari meninggi aku sudah harus meninggalkan rumah. Kumulai dengan arah barat kampung, agar tak menantang mentari yang panasnya membuatku tidak hanya bermandi peluh tapi juga seperti ikan teri yang siap dikeringkan.
Aku mulai menyusuri sudut-sudut perkampungan dan ladang-ladang. Pasar-pasar kecil di setiap kampung tak ketinggalan kusinggahi. Menawarkan pacai ke kedai-kedai kecil. Jika beberapa tahun lalu hanya aku dan ayah yang menjual pacai, sekarang aku akan membuka pintu bagi penjual lain untuk menjual pacai sepertiku. Mereka akan kujadikan hulu hasratku menjual pacai sekaligus pasangan elok meraup keuntungan pasar bersama. Alhasil, tak satu kedai pun menolak tawaranku menjual pacai pada mereka. Tak jadi soal jika keuntungan yang kudapat sedikit berkurang ketika menjual pacai di kedaiku.
Berjualan pacai keliling seperti ini, membuat aku merasa seperti malaikat bagi pembeli. Aku sering berandai-andai, jika aku tak lagi berjualan pacai, tentu orang-orang yang akan menikahkan anaknya merasa ada yang kurang. Tidak saja kurang pacai, tapi menyusul kurang sah, kurang khidmat, kurang sakral, dan kurang serius tentunya.
Begitu juga dengan orang-orang yang akan menguburkan anggota keluarga mereka yang meninggal. Pastilah orang lain menganggap si anu menguburkan saudaranya seperti menguburkan kucing mati saja. Tak ada harum-haruman. Tak ada serbuk-serbukan. Sang keluarga sepertinya tak menghormati arwah dan jasa-jasa si mayat ketika hidup. Maka, tak jarang pula aku mengecer pacai kepada orang-orang yang tengah mempersiapkan pesta pernikahan atau sedang dilanda duka seperti itu.
Suatu petang kubelokkan sepeda motorku ke arah timur perkampungan. Matahari masih menggantung condong ke laut. Di belakangku beberapa bungkus pacai masih tersisa. Aku ingin dua kardus pacai ludes terjual hari ini. Besok aku akan kembali. Menagih hasil penjualan di kedai-kedai kecilku bahkan melebarkan pijakan roda-roda sepeda motorku. Mungkin ke utara dan selatan atau bisa saja ke kampung seberang.
“Kedai-kedai kecil di pelosok kampung biasanya tutup tidaklah di petang hari, biasanya sehabis magrib,” gumamku meyakinkan diri.
Memasuki perkebunan ubi jalar, beberapa lelaki masih sibuk dengan cangkul mereka. Kuoper persneling ke nomor dua, sedikit melambat. Undukan-undukan tanah memanjang dipenuhi tumbuhan menjalar terbentang sejauh mata memandang. Bunga-bunga ungu keputihan memenuhi tiap helai daunnya. Bertanda tumbuhan ini sedang mekar-mekarnya dan siap diserbu oleh kumbang-kumbang. Para lelaki tadi sibuk membersihkan rumput-rumput liar di sela-sela undukan.
“Tak lama lagi para peladang ini akan sumringah, memanen ubi jalar mereka,” pikirku dalam hati.
“Hei Nak! Mari singgah dulu,” lambai seorang pak tua, sepelemparan batu dariku yang tengah asyik dengan pemandangan sore itu.
Aku mendekat dengan wajah penuh senyum. Di dangau pak tua, aku menawarkan pacai sambil melepas lelah.
“Bapak mau membeli pacai? Jangan-jangan nanti ada anaknya yang mau pesta,” tawarku ramah.
“O iya. Bapak mau membeli pacai-pacaimu.” Katanya dengan sungging senyum yang terasa aneh bagiku.
“Pacai-pacaiku? Memangnya Bapak mau beli berapa banyak?” selaku penasaran.
“Memang yang tersisa berapa, Nak?” balik pak tua bertanya dengan suaranya yang berat.
“Masih lima papan pacai lagi Pak,” sambungku. “Satu papan ada dua puluh bungkus kecil. Satu bungkus lima ribu rupiah. Bapak boleh dapat harga murah kok?” Tawarku pada pak tua sambil membuka ikatan kardus pacai.
“Bapak mau ngecer di rumah?”
“Ndak, Cuma buat keluarga.”
“Istri dan anak-anak bujang Bapak suka dengan pacai,” pak tua menjawab santai. Ia berkacak pinggang melempar pandang membelakangiku. Rambut kelabunya turut mempertegas keringkihan tubuh pak tua. Mulutnya berdesis, mengucapkan kata-kata yang tak kutangkap maknanya.
“Buat apa saja Pak?” buruku lagi.
“Ngerokok, dicampur sambel, dan ngusir nyamuk,” jawab pak tua sekenanya sambil berbalik ke arahku.
“Lha, bukannya pacai buat nikah dan ada kematian saja Pak,” aku makin penasaran.
“Bapak mau tiga papan Nak!” pintanya tanpa menggubris kepenasaranku.
Cepat-cepat aku membuka kardus dan menyisihkan tiga papan pacai.
“Hehehehe,” suara pak tua menyambut ketika menerima pacai. Deretan gigi hitamnya masih begitu jelas di senja ini. Guratan di wajahnya pun bercerita kalau ia telah hidup puluhan tahun dan lelaki pekerja keras.
“Besok saya mampir lagi. Mau kan Bapak jadi pelanggan saya? Eh habis berapa lama sebanyak itu Pak?” Tanyaku.
“Paling seminggu Nak,” jawabnya cengengesan sambil mengeluarkan beberapa lembar lima puluhan ribu dari kantung bajunya yang lusuh dan dekil.
Ketika jemari kami bersentuhan terasa sesuatu yang dingin dan kaku. Dug, jantungku berdesir. Sejenak aku merinding. “Tak biasanya,” pikirku. Di detik berikutnya aku berusaha bersikap wajar. Wajah pasinya tetap cengengesan seperti tak merasakan keterkejutanku setengah mati dengan buku-buku tangannya itu. Kubalas dengan anggukan dan senyum pendek. Segera kukantongi lembaran uang tadi dan menyeret sepeda motorku menjauh dari pak tua.
“Aku pamit dulu Pak. Sudah mulai gelap.”
Pak tua hanya mengangguk sembari membuka bungkusan pacai. Sebelum aku meninggalkan dangau pak tua, lelaki itu sudah mengunyah-kunyah pacai. Aku tambah ngeri.
“Baru kali ini ada orang yang makan pacai,” gumamku, sambil menghidupkan lampu sepeda motor.
Di tengah jalan, perempuan paruh baya membawa keranjang bunga menyetopku. Ia meminta tumpangan hingga ke pertigaan jalan. Aku tak bisa. Namun, ia terpana ketika mengetahui aku menjual pacai pada pak tua di dangau sana.
“Pak tua itu bukan peladang. Dan ini pemakaman suamiku serta orang-orang kampung sini,” ujar perempuan itu.
Aku membisu. Ketika aku menoleh ke dangau tadi, dari kejauhan samar-samar pak tua melambaikan tangan ke arahku.

1Pacai: serbuk cendana atau setanggi (kemenyan wangi)

Kawin Cobak





“Anas! Anas! di rumahkah kau malam ini?” Teriak seseorang dari luar. Gemuruh suara para lelaki semakin ramai. Kontan saja seisi rumah terbangun.

Setengah berlari sambil menyanggul rambut disisipi uban, perempuan setengah abad itu keluar kamar. Disusul suaminya sambil merapikan sarung lusuh kotak-kotak. Drittttt, pintu dengan engsel berkarat itu dikuakkan, sedikit terpaksa.

“Apa yang terjadi?” Suara cemas perempuan itu keluar, bertanya kepada orang ramai. Jelas sekali raut wajahnya tegang dan panik melihat banyak orang malam-malam buta ke rumahnya.

“Itu, anak gadismu tertangkap pemuda sedang berduaan malam-malam dengan Liyan di jembatan ujung,” jawab lelaki yang memanggil-manggil nama Anas tadi.
“Sekarang ia dimana?” Tanya si suami sambil berbaur dengan orang-orang. Bergegas akan menyusul Mida, anak gadis mereka yang ranum. Sebelum si suami berangkat, tiba-tiba dua sepeda motor dikendarai pemuda berhenti di depan orang ramai. Mereka membawa sejoli belasan tahun yang dengan raut muka penuh cemas.
“Mereka mencoba kabur Pak Anas. Lihat rupanya!” lapor seorang pemuda yang membawa si gadis.

Gadis belasan itu menggigil. Sambil menunduk ia berjalan terseok-seok mendekati orang-orang. Kedua tangannya, di bawah temaram lampu listrik, penuh lumpur dan mulai meremas-remas bajunya. Ia begitu kalut. Pandangan matanya liar. Rambutnya yang sebahu acak-acakan, terburai kemana-mana. Sedangkan lengan bajunya sobek seperti tersangkut kawat yang ditarik paksa.

“Bapak! Mida tak ingin dikawin cobak,” kata Mida gemetar sebelum isaknya memecah.
Lelaki yang dipanggil bapak tak bergumam. Hanya memperhatikan tubuh anak gadisnya yang bercampur lumpur. Dua langkah di belakang lelaki itu, perempuan tadi geleng-geleng kepala dan meringis menahan sakit. Sakit dalam hati melihat anak gadisnya kelak, mau tak mau harus berumah tangga dalam usia belia. Sakit menanggung malu, karena aib ini akan selalu dipergunjingkan orang kampung seumur hidup. Sakit karena telah dikecewakan oleh darah dagingnya sendiri, yang tadi siang baru saja berjanji akan segera menamatkan sekolahnya. Oh Tuhan yang satu.

“Astagfirullah, astagfirullah,” perempuan itu beristigfar lirih.

Sedangkan si pemuda, tak kuat lagi memandang wajah-wajah orang yang menangkapnya. Kedua tangannya jatuh lunglai tak berdaya. Persis seperti seorang tahanan jika ingin diambil fotonya. Ia tak kalah cemasnya dibanding gadis belia tadi. Beberapa pemuda mulai mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar kepadanya. Serasa air kencingnya muncrat di celana saking takutnya pemuda itu kepada para lelaki yang telah menangkapnya. Ia hanya bisa menduga-duga dalam rasa cemas. Apalagi jika kelak mereka jadi dikawinkan.

Ibu si gadis semakin gelisah. Ia tak ingin Mida harus kawin dengan Liyan hanya karena hukum cobak harus ditunaikan. Tidak hanya dalam hitungan jari tangan contohnya. Setahun dua, pernikahan karena kawin cobak kebanyakan berpisah di tengah jalan. Bayangan Tuti, Wati, Rati, Marti, dan beberapa janda muda lain melesat di pelupuk matanya. Mereka korban kawin cobak beberapa tahun lalu. Dan sekarang luntang lantung mempertahankan hidup yang memang tidak dipahat dengan halus.
Ingin rasanya ia menghapus hukum cobak atau lari dan pindah dari kampung jika membayangkan kawin cobak yang harus dijalani Mida. Ia tak ingin anak-anaknya terjebak dalam adat yang entah meninggikan atau justru merendahkan. Namun apa daya, ia dan keluarganya lahir, tumbuh, dan besar di kampung ini. Ia mendapatkan banyak cinta dan indahnya warna kehidupan di tanah leluhur mereka.

Entah sejak kapan hukum cobak ada di kampungnya. Jauh sebelum ia dan suaminya lahir, hukum ini telah berkuasa. Ia pun tak tahu kenapa hukum cobak harus ada. Bisa jadi tujuan hukum ini agar anak gadis dan bujang mereka suci sampai mati, sangat mulia bukan? Namun, sekarang justru hukum ini meninggikan jumlah daftar janda-janda di kampung mereka. Di setiap kedai, lelaki muda dengan mudah memperolok-olok pernikahan. Abai dengan tanggung jawab dan tak segan-segan menggagahi para gadis. Sesuatu yang sangat memalukan. Karena kelegalan hukum cobak memaksakan seseorang menikah dengan orang lain yang belum tentu sama-sama mencintai.

Berhasrat sekali ia memaki Mida atau bahkan mencekik leher anak durhaka itu. Kenapa harus di malam buta keluar rumah hanya karena sedang dilanda kegilaan pubertas nan memuncak. Padahal mulut perempuan ini sudah berbusa-busa menjelaskan bahaya seorang gadis keluar malam dan berjumpa seorang pemuda kepada anak-anaknya. Hukum cobak tak pernah memandang siapa bapak, paman, ataupun buyut. Kepala desakah, kepala sekolahkah, camatkah, dukun tenungkah, atau dukun beranakkah, hukum cobak tak gamang melirik anak gadis dan bujang mereka.
“Kau tak tahu diuntung. Anak penutup pintu rezeki,” bentaknya sambil mengepalkan tangan.

Tapi ia dan suaminya tak bisa berpaling. Dadanya turun naik menahan amarah. Kali ini ia dan keluarga begitu terpukul. Hukum cobak yang selama ini diabaikannya benar-benar sebuah pukulan dan hukuman yang menyesakkan dada. Tak ada denda yang dapat melunasi hukum, selain memang harus menikah. Ingin rasanya ia memberikan semua emas dan perak dalam lipatan kain di lemari kamarnya. Mengganti dengan bergoni-goni padi di dapur agar anak gadisnya tak jadi kawin cobak. Bahkan menyembelih kerbau-kerbaunya untuk memberi makan orang sekampung asal saja Mida dan keluarganya tak selalu dianggap keluarga gatal dan murahan.

Perempuan ini sekarang benar-benar kacau. Suaminya tak dapat berbuat banyak. Ia dengan jabatannya tak dapat melakukan tawar menawar dengan para pemuda dan tokoh-tokoh masyarakat yang menangkap anak gadisnya. Bagaimanapun juga Mida harus kawin dengan Liyan sesegera mungkin. Terserah apakah dengan hajatan tiga hari tiga malam dan menyewa organ tunggal atau hanya sekedar mendoa, mendatangkan buya dan sepuluh orang serta berdoa bersama setelah ijab qabul dilakukan.

Menjelang fajar, rumah panggung itu sepi. Orang-orang penangkap Mida satu demi satu menghilang. Mereka menyerahkan si gadis dan si bujang kepada orang tuanya. Dua hari kemudian ketua penangkap akan menagih hari perkawinan kepada Anas dan keluarga. Dan tentu saja mulai pagi ini hingga entah sampai kapan, kabar Mida gadis genit dan kotor, anak kepala sekolah, ini akan berhembus mulai dari jembatan ujung, singgah di kedai-kedai kopi, di tepian sungai, di tengah orang-orang peladang, di sekolah-sekolah, di balai ruang desa, hingga ke telinga Datuk Malaka, kakek si gadis.
Sebagai datuk di kampung itu, mendengar kabar cucunya kena cobak penduduk dan segera kawin, dunianya seakan runtuh. Di mana kepala akan disurukkan? Lebih baik kepala ini dipotong saja daripada menanggung malu. Melihat cemooh dan gelak sinis penduduk kepadanya di kedai-kedai dan balai ruang desa, seakan mengiris hatinya dengan sembilu kemudian meneteskan tetes demi tetes asam.

“Percuma kau kusekolahkan tinggi-tinggi. Suamimu pun tak bisa diandalkan,” geramnya kepada si anak, ibu Mida di suatu siang.

“Tak sedikit pun kau hargai aku sebagai ayahmu dan datuk di kampung ini,”
“Mulai hari ini, keluarga kita takkan lagi dipandang orang. Takkan lagi disegani. Takkan lagi diagungkan,” ujar Datuk Malaka dengan nada getir sambil membuang pandang ke luar jendela. Seolah-olah ia ingin menitipkan resah itu kepada angin yang bertiup dan segera membawanya pergi ke langit kemudian hilang tak berbekas. Namun, luka di dada masih membekas. Semakin mengiris ketika membayangkan sindiran-sindiran orang kampung atau sesama datuk di hari pernikahan kelak.

***
Si ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Wajah, rambut, dan kulit sama lusuhnya dengan busana yang ia kenakan. TV di depan perempuan itu menyalak-nyalak tak karuan. Sorot matanya lurus ke depan. Tapi tidak sedang menonton. Satu demi satu semut hitam menjalar dari dinding seperti rel kereta api, mengerubungi gelas di sampingnya yang berisi sisa-sisa kopi semalam.

Sejak ayahnya, Datuk Malaka, tutup usia setahun lalu, bola kehidupannya retak dan pecah berkeping-keping. Ia menjadi bulan-bulanan oleh sanak saudara atas kepergian ayahnya. Pertengkaran sering singgah di keluarga besar mereka. Ia dan saudara-saudaranya selalu saja menemukan alasan untuk memaki, menghina, dan merendahkan. Keluarga besarnya pun kini tercerai berai.

Tiba-tiba dilemparkannya gelas itu ke dinding dimana foto pernikahan Mida menggantung. Pranggggg! Kaca berhamburan menjatuhi TV.
“Ibu memecahkan foto lagi ha?” suara menghardik menyusul dari samping rumah.
“Ibu tak pernah menyukai lelaki pilihanku. Mau Ibu apa?” Kata Mida meringis setelah berada di sisi perempuan berambut kelabu itu.
Kali ini Mida tak dapat menahan geramnya.

“Mereka tak pernah elok di mata Ibu. Selalu ada cacat dan menghina. Mida telah terluka, namun Ibu menambah dalam luka itu. Tak adakah restu buat Mida lagi Bu?”
“Mida tak dapat mengelak dari hukum cobak, walaupun Mida masih suci waktu itu Bu. Tapi Ibu, selalu menganggap Mida perempuan buruk. Anak Ibu sendiri. Ibu mau melihat Mida menjadi janda muda yang tak punya uang, yang tak punya kesempatan, yang tak punya pilihan? Janda muda yang dinilai pengganggu rumah tangga orang. Ibu mau Mida seperti itu? ” ujar Mida di sela isaknya.

Diungkapkan semua kepiluan, keputusasaan, kemarahan, dan kesengsaraan batin yang ia hadapi. Setiap lelaki yang naik ke rumahnya, menjadi suaminya, selalu saja berakhir dengan perceraian. Ibu Mida selalu saja menemukan celah agar Mida tak berumah tangga lebih dari setahun dengan para lelaki itu. Pun, ketika Mida berniat memiliki bayi dari suaminya terdahulu. Ibunya cepat-cepat mematahkan niat itu.

“Bukankah lelaki yang kau cintai bukan suamimu?” bisik ibu Mida. Bisikan itu cukup mangkus untuk menenggelamkan niat Mida memiliki anak dari suami-suaminya.
Ini foto terakhir yang dipecahkan ibunya dengan cara yang sama. Setelah sebulan ibunya memecahkan foto, biasanya ia akan bercerai. Empat foto pengantin telah lumat setiap tahun berturut-turut.

Ibu bergumam, “Hmm, Mida, anak-anakku.”
Di detik lain, “Perkawinan itu bukan untuk dicoba-coba!” teriak ibu Mida dari balik jendela kaca.
2010 Padang 9. 30 AM

Peminggiran Perempuan di dalam Novel Tanah Tabu

Mengikuti perkembangan tema novel Indonesia dewasa ini, persoalan perempuan dapat menjadi sentral masalah yang tidak habis-habisnya dikupas oleh pengarang. Berbagai fenomena tentang perempuan menjadi faktor pendorong bagi pengarang untuk menghadirkannya dalam sebuah karya sastra. Selanjutnya masalah gender, emansipasi perempuan, eksistensi perempuan, dan citra perempuan terus berkembang dari novel-novel periode Pujangga Baru hingga sekarang. Salah satu novel yang menceritakan bentuk-bentuk ketidakadilan sosial terhadap gender perempuan ialah Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf. Novel ini pun semakin penting di dalam kesustraan Tanah Air karena mendapatkan penghargaan sebagai pemenang pertama dalam sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2008 lalu.

Novel ini mengisahkan kehidupan seorang perempuan tua bernama Mama Anabel dan lebih dikenal dengan Mabel. Mabel yang ditinggal suaminya, hidup dengan menantunya, Lisbeth atau Mace, yang juga ditinggal oleh suaminya. Ditemani Leksi, cucunya berusia tujuh tahun, Pum, seekor anjing tua, serta Kwee seekor babi, Mabel menjalani kisah hidupnya di tanah Papua penuh dengan berbagai kemelut. Perang suku, penindasan, kekuasaan, ketidaktahuan, serta keterbelakangan kehidupan, itulah yang ada di sekeliling Mabel dan kebanyakan suku-suku di Papua. Para perempuan menjadi korban dari peristiwa-peristiwa tersebut, baik korban fisik maupun psikis. Kebanyakan kaum perempuan mengabdikan hidup mereka selamanya hanya untuk keluarga, suami, kebun, dan babi. Adat istiadat yang patriarkat telah menjadi hukum alam tak tertulis merupakan sesuatu yang baku dan harus dipatuhi.

Walaupun demikian, Mabel ternyata tidak tumbuh menjadi perempuan yang menerima semua itu apa adanya, tetapi ia memiliki pemikiran maju. Sepak terjang ia dalam memimpin pedagang sayur di pasar untuk bernegosiasi dengan perusahaan tambang emas, pembeli sayur-mayur hasil kebun mereka, juga menambah peran Mabel dalam memperjuangkan hak untuk kaum dan masyarakatnya. Hiruk-pikuk pemilihan kepala daerah dan janji-janji partai politik pun mewarnai kehidupan Mabel selanjutnya. Tidak hanya itu, pemikiran kritis, jiwa sosial, dan rasa welas asih Mabel semakin berkembang atas ketidakterimaannya ketika ketidakadilan terjadi di sekelilingnya. Di sisi lain novel ini mencoba menggali tradisi lokal kelas bawah Papua yang didominasi oleh kaum kelas atas yang kadang mengambil kesempatan atas kelemahan dari kelas bawah (pembangunan perusahaan tambang emas di Papua). Novel etnografi ini juga menceritakan tentang kepahitan dan kesedihan perempuan-perempuan di tanah Papua. Getar-getir peristiwa yang dapat membawa pembaca kepada frekuensi kematangan penulis dalam memahami kehidupan sosial dalam lingkungan masyarakat Papua.

Semua sepak terjang Mabel dalam membebaskan keluarga, kaum perempuan, dan masyarakatnya dari ketidakadilan dan ketertinggalan diceritakan oleh narator dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Novel Tanah Tabu dikisahkan oleh tiga narator yakni, Pum, Kwee, dan Aku. Pembaca akan digiring kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam novel melalui pengisahan dari sudut pandang seekor anjing tua, seekor babi, dan seorang bocah Papua, Leksi. Hal ini menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik yang sebelumnya belum pernah ditampilkan oleh sastrawan-sastrawan di tanah air. Dengan kaca mata tiga narator ini, penulis menyuguhkan cerita yang apik dan sarat makna yang berujung kepada perenungan hakikat dan peran perempuan di dalam realitas sosial yang berhubungan dengan laki-laki, adat, agama, dan negara kepada para pembaca.

Perempuan, Patriarkat (kekuasaan), dan Karya Sastra

Terjadinya ketidakadilan gender terhadap perempuan telah berlangsung sejak lama dan masif selama peradaban umat manusia. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur ketidakadilan masyarakat secara lebih luas kepada kelompok ‘minoritas’ baik itu perempuan ataupun laki-laki. Ketidakadilan peran ini dikonstruksi, disosialisasikan, diperkuat secara sosial dan kultural melalui ajaran agama maupun negara, bukan karena kodrat perempuan atau laki-laki. Kondisi ini menimbulkan ketimpangan peran tidak hanya dalam ranah pribadi (private) tetapi juga dalam ranah umum (public). Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam pelbagai bentuk ketidakadilan, yakni marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotip atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence), serta beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden). Manisfestasi ini tidak bisa dipisah-pisahkan karena saling berkaitan dan berpengaruh secara dialektis (Fakih, 2008:9). Konstruksi sosial gender yang tersosialisasi secara evolusional dan perlahan-lahan ini mempengaruhi biologis masing-masing jenis kelamin. Kaum perempuan harus lemah lembut dan kaum laki-laki harus kuat dan perkasa, maka kaum perempuan dan laki-laki terlatih dan tersosialisasi untuk mewujudkan semua itu. Proses sosialisasi dan rekonstruksi berlangsung secara mapan dan lama ini, akhirnya menjadi sulit dibedakan apakah sifat-sifat gender itu dikonstruksi atau dibentuk oleh masyarakat atau justru kodrat biologis yang ditetapkan oleh Tuhan.

Dalam konteks agama, Shihab (2009:116-117) menjelaskan agama sering dijadikan dalih untuk pandangan negatif kepada perempuan. Interpretasi yang diberikan oleh agamawan lahir dari pandangan masa lampau yang keliru dan telah melekat dalam benak para penafsir masa lalu. Tidak sedikit di antara hal itu yang terpendam di bawah sadar laki-laki dan perempuan, yang kemudian melahirkan budaya masyarakat. Pandangan yang menyatakan bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, menurut sebagian penafsir, berarti perbedaan asal usul kejadian dan nilai kemanusiaan kedua jenis manusia itu. Padahal teks agama tersebut hanya berlaku pada laki-laki dan perempuan pertama, sesudah mereka, laki-laki dan perempuan lahir akibat pertemuan sel sperma dan ovum.

Dominasi peran laki-laki menurut Engineer (dalam Munti dkk, 2005:7) menjadi dibenarkan oleh norma-norma yang tertera dalam kitab suci, yang hal itu sebenarnya hasil penafsiran kaum laki-laki, yang bertujuan mengekalkan dominasi mereka. Menurut Engineer, Al-quran memang berbicara tentang laki-laki yang memiliki kelebihan dan keunggulan sosial atas perempuan, tetapi orang tidak dapat mengambil pandangan teologis semata-mata dalam hal semacam itu, tetapi melainkan harus merujuk pula pada pada pandangan sosio-teologis. Ilyas mengemukakan (dalam Munti dkk, 2005:7) Al-quran terdiri atas ajaran yang kontekstual dan normatif, tetapi tidak akan ada kitab suci keagamaan yang efektif implementasinya jika mengabaikan konteksnya sama sekali.
Perempuan dalam karya sastra ditampilkan dalam kerangka hubungan ekuivalensi dengan seperangkat tata nilai marginal, tersubordinasi, stereotip dan lainnya, yaitu sentimentalitas, perasaan, dan spiritualitas. Perempuan hampir selalu merupakan tokoh yang dibela, korban yang selalu diimbau untuk mendapatkan perhatian (Faruk dalam Sugihastuti dan Suharto 2005: 67). Salah satu kekuatan reproduksi gender yang jangkauannya sangat meluas dan mendalam adalah bahasa (Faruk dalam Sugihastuti dan Suharto 2005: 65-66). Sudiman (dalam Sugihastuti dan Suharto 2005:66) menemukan kecenderungan adanya subordinasi perempuan dalam bahasa Indonesia, terutama dengan melihat beberapa kemungkinan kata yang dapat dikombinasikan dengan kata perempuan dan laki-laki. Kata ‘pelacur’, ‘perawat’, dan ‘sekretaris’ otomatis berkonotasi perempuan, sedangkan kata ‘dokter’, ‘polisi’, ‘tentara’, dan ‘penyair’ dengan sendirinya mengimplikasikan kelaki-lakian. Dalam hal ini Faruk (dalam Sugihastuti dan Suharto 2005: 66) menyatakan bahwa bahasa adalah proses yang terus-menerus melakukan ‘tindakan gender’ dalam berbagai situasi interaksi antara perempuan dengan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari. Ketika laki-laki dan perempuan berpikir melakukan komunikasi kebahasaan, mereka dihadapkan pada bahasa sebagai sebuah kondiri objektif yang bersifat eksternal yang memberikan batas, kerangka, dan bahkan arah terhadap apa yang dapat dipikirkan dan dikemukakannya.

Jika bahasa menjadi reproduksi gender, sastra diharapkan berperan sebaliknya, yakni sebagai realitas tandingan yang dapat menihilkan legitimasi realitas keseharian yang dominan, yang salah satu pembentuknya adalah bahasa. Sastra modern, misalnya, sejak semula menempatkan diri sebagai sebuah aktivitas dan hasil aktivitas yang dimaksudkan untuk menerobos segala kemungkinan yang ditutup bahasa. Perempuan sering disamakan dengan kelas pekerja yang walaupun bukan minoritas dan tidak lahir dari proses sejarah, tetapi selalu tertindas. Sastra pun menempatkan perempuan sebagai (hanya) korban, makhluk yang hanya mempunyai perasaan, dan makhluk yang mempunyai kepekaan spiritual. Di dalam karya sastra masih tersembunyi “setan” struktur gender yang timpang yang berkuasa. Sastra menjadi kamuflase dari kekuatan dominan, menjadi kekuatan reproduksi gender yang terselubung. Anggapan bahwa yang mewakili penciptaan dan pembacaan karya sastra adalah laki-laki pun menjadi semacam pakem yang susah ditampik.

Menurut Sugihastuti dan Suharto (2005:69) ada dua alasan mengapa karya sastra cenderung ‘dikhususkan’ untuk laki-laki. Pertama, nilai dan konvensi sendiri telah dibentuk oleh laki-laki, sedangkan perempuan selalu berjuang untuk mengungkapkan urusannya sendiri dalam bentuk yang mungkin tidak sesuai. Kedua, penulis laki-laki menunjukkan tulisannya kepada pembaca seolah-olah semuanya laki-laki. Menurut Selden (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2005:69) pembaca perempuan pun secara tidak sadar dipaksa membaca sebagai laki-laki. Hal ini dijelaskan oleh Barret (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2005:69-70) pertama, karena kondisi yang mempengaruhi laki-laki dan perempuan dalam menghasilkan kesusastraan secara material berbeda dan mempengaruhi bentuk serta isi yang mereka tulis. Kedua, ideologi jenis kelamin mempengaruhi cara membaca hasil penulisan laki-laki dan perempuan serta bagaimana hukum kecemerlangan ditetapkan. Ketiga, para kritikus feminis harus memperhitungkan kodrat fiksional teks-teks sastra dan tidak memperturutkan “moralisme yang merajalela” dengan mengutuk semua penulis pria yang memamerkan seksisme dalam tulisan mereka dan setuju dengan penulis perempuan untuk mengangkat masalah jenis kelamin. Di sinilah peran kritik sastra feminis digunakan untuk mengungkapkan bagaimana peran perempuan tak kembali termarginalkan, terdiskriminasi, dan mengalami ketidakadilan sosial lainnya di dalam karya sastra.

Kritik sastra feminis menurut Sugihastuti dan Suharto (2000:8) bertolak dari permasalahan pokok, yaitu anggapan perbedaan seksual dalam interpretasi dan perebutan makna karya sastra. Kritik sastra feminis dianggap sebagai kehidupan baru dalam kritik berdasarkan perasaan, pikiran, dan tanggapan yang keluar dari para “pembaca sebagai perempuan” berdasarkan penglihatannya terhadap peran dan kedudukan perempuan dalam dunia sastra. Kritik sastra feminis menurut Millet (dalam Sugihastuti dan Suharto 2005:68) tidak hanya membatasi diri pada karya penulis perempuan, sebab semua karya sastra dapat dianggap sebagai cermin anggapan-anggapan estetika dan politik mengenai gender, biasanya sering disebut “politik seksual”. Menurut Gilber dan Gubart (dalam Sugihastuti dan Suharto 2005:72) melalui argumentasi yang cermat dan dokumentasi yang seksama, kritikus feminis dapat mempengaruhi pembaca dari kedua jenis kelamin dari politik seksual yang direpresentasikan oleh karya-karya seksis yang ditelitinya. Dengan demikian bentuk kritik sastra feminis didasarkan pada asumsi bahwa sastra itu tidak hanya dibentuk oleh dan merefleksikan kondisi sosial, tetapi juga, kritik sastra adalah aktivitas interpretasi yang dapat menganalisis dan mengubah kondisi tersebut. Munculnya banyak pengarang perempuan Indonesia belakangan ini, meningkatnya pembaca perempuan, serta seringnya hadir tokoh perempuan dalam sastra Indonesia pantas diamati dalam rangka penerapan kritik sastra feminis.

Perempuan, Kembali Terpinggirkan

Anindita S. Thayf mengangkat isu ketertindasan perempuan di tanah Papua yang kaya raya. Sebagai tanah atau wilayah yang subur dan kaya akan sumber daya alam, Papua juga diberkahi dengan rakyat atau orang-orang yang kuat untuk menjaga kekayaan tersebut agar selalu tersedia bagi anak cucu mereka kelak. Namun, di balik kekuatan itu, kaum perempuannya justru mengalami nasib yang jauh berbeda dengan tanah mereka yang subur dan kaya. Kehidupan perempuan penuh dengan penindasan, baik oleh laki-laki di tanah Papua maupun oleh kekuasaan (negera) di sana. Mereka mengabdikan hidup hanya untuk kesenangan suami dan keluarga.

Kekayaan tanah Papua mengundang banyak pihak untuk menguasainya dengan mudah dan tanpa mempertimbangkan keadaan dan keseimbangan alam. Tanah Papua dieksploitasi habis-habisan, kearifan lokal diciderai, banyak masyarakat kehilangan lahan perkebunan serta pertanian, dan ternyata para ‘penjaga’ tanah yang kaya pun tak dapat berbuat banyak. Di tengah kesemrautan itu, kondisi perempuan dan anak-anak Papua semakin mengenaskan. Perempuan-perempuan Papua menjadi korban kekerasan baik oleh suami mereka maupun oleh pihak asing yang datang ke Pupua. Anak-anak pun menjadi objek kemarahan sang bapak yang sepertinya tak lagi menyimpan rasa kasih dan sayang terhadap darah dagingnya sendiri. Seperti kutipan berikut ini.

“Gara-gara upah itu, Kwee, Pace Mauwe berubah. Dia jadi suka mabuk-mabukan dan pergi sampai jauh malam. Kata orang-orang, ia bersenang-senang dengan Paha Putih di tempat minum yang buka sampai pagi. Mabel pernah mendapatinya. Mengomeli dan menariknya pulang ke rumah. Tapi dasar laki-laki tidak tahu diri! Ia malah memukul Mabel, dan Johanis kecil juga. Aku yang ada di situ diusirnya dengan lemparan botol. Sejak itu, Kwee, hidup Mabel semakin menderita.” (Thayf, 2009:136).

Pendudukan pihak asing atau penguasa di tanah Papua dalam bentuk pembangunan perusahaan tambang emas dan eksploitasi terhadap alam Papua, tidak semua orang Papua menyetujuinya. Kesewenang-wenangan pihak asing terhadap orang Papua dan alamnya menimbulkan permasalahan baru, pemberontakan orang-orang Papua terhadap pihak asing serta pemerintahan. Untuk meredam pemberontakan ini ribuan prajurit militer pun dikirim guna mengamankan kondisi yang memanas di Papua. Daerah Operasi Militer (DOM) pun melekat di provinsi paling timur Tanah Air ini. Di balik dialektika pengamanan Papua dari berbagai pemberontakan dan peperangan itu, perempuan Papua menjadi target lain namun utama. Di tengah kentalnya budaya patriarkat Papua, berbagai tindak ketidakadilan terhadap perempuan Papua pun terjadi, baik oleh laki-laki atau masyarakat Papua maupun dari pihak luar yang berkuasa di sana.

Mabel mengalami proses pemiskinan dikarenakan dirinya perempuan yang hidup dalam adat dan sosial yang kental patriarkat. Untuk melanjutkan kehidupannya, Mabel bertumpu kepada sang suami, sebagai pencari sumber ekonomi keluarga mereka. Di balik itu, jika tak bergantung kepada suami, Mabel tak mampu melakukan apa-apa. Walaupun ia tetap berladang sayur dan petatas (umbi-umbian) yang sudah menjadi pekerjaan rutin perempuan-perempuan Komen (orang Papua asli) setelah berkeluarga. Namun, hasil ladang bukanlah sebuah pendapatan yang mampu menaikkan taraf kehidupan keluarganya. Di samping itu, di tengah pembangunan dan kemajuan perusahaan tambang emas yang berada di daerah tempat tinggal Mabel, masyarakat Papua dan perempuan pada khususnya justru mengalami proses pemiskinan ekonomi. Proses pemiskinan ini disebabkan oleh semakin berkurangnya lahan pertanian, pencemaran air dan lingkungan oleh perusahaan tambang yang mengakibatkan para perempuan Papua kehilangan lahan pertanian sehingga mereka semakin miskin.

Meskipun Mabel dan pedagang sayur lainnya dapat menjual hasil kebun mereka ke pegawai-pegawai perusahaan di tempat mereka, bukan berarti kehidupan Mabel dan pedagang sayur akan membaik. Keadaan ini justru membuat mereka semakin miskin karena menggantungkan hasil penjualan sayur mereka ke para pegawai-pegawai perusahaan tambang yang belum tentu selalu membeli hasil panen mereka, para perempuan Papua. Harapan atau ketergantungan pedagang sayur, Mabel dan perempuan Papua lainnya terhadap pegawai perusahaan tambang, pun menjadikan Mabel dan perempuan Papua lainnya sebagai pelayan guna memenuhi kebutuhan para pegawai perusahaan tersebut. Walaupun Mabel dan perempuan pedagang sayur lainnya mendapatkan uang sebagai hasil penjualan sayur, namun tak sebanding dengan hasil perusahaan tambang yang berdiri megah di tanah mereka. Keadaan ini merupakan peristiwa nyata sebagai salah satu bentuk marginalisasi yang terjadi pada tokoh utama, Mabel dan perempuan Papua pedagang sayur lainnya.

Tidak hanya itu, proses pemiskinan bahkan pembodohan juga dialami tokoh utama, Mabel, dari orang lain yang berusaha baik kepadanya. Mabel yang pernah tinggal beberapa tahun dengan keluarga Belanda, mengalami kehidupan bisa dikatakan lebih baik dari perempuan suku Dani lainnya di Papua. Namun, di balik kebaikan yang ditawarkan keluarga Belanda, Mabel tetap dianggap sebagai perempuan Papua udik yang tak pantas mendapat pendidikan formal, bak kebanyakan orang lain di daerahnya. Mabel cukup bisa membaca, berhitung, dan mengurus rumah pada keluarga Belanda tersebut, tanpa pernah diberi izin mengikuti sekolah formal, seperti yang diinginkan Mabel. Dalam kondisi ini, Mabel diposisikan sebagai kaum proletariat dan dengan berbagai cara harus tetap berada di kelasnya.

Sebelum menikah, Mabel yang ikut dengan keluarga Belanda, dijadikan pembantu dan pelayan oleh keluarga tersebut. Ia tidak hanya memasak, mencuci, membersihkan, dan merapikan rumah tetapi juga bekerja sebagai pengasuh anak oleh keluarga Belanda. Perempuan praktis menjadi warga kelas dua dalam kehidupan masyarakat yang menerima apa adanya nasib yang diputuskan dalam hirarki patriarkat. Walaupun ia tinggal dengan keluarga asal Belanda, ia tetap tidak diberi kebebasan memilih melakukan apa yang menurutnya baik bagi dirinya sendiri. Ia hanya diwajibkan mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Mabel dengan latar belakang suku Dani yang udik dan dengan segala pengetahuannya waktu itu tak dapat berbuat apa-apa. Ia mengerjakan semua perintah dari Nyonya Hermine Stappen, selaku majikannya. Orang Barat juga memosisikan perempuan pada kelas nomor dua dan dianggap tidak penting. Hal ini semakin diperparah dengan adanya sistem perbudakan (majikan dan pembantu) yang pada dasarnya sama-sama perempuan. Budaya dan ideologi kalau perempuan itu mahkluk nomor dua semakin kuat, mengakar, dan akan sulit diperbaiki atau diubah.

Sementara itu, sering terjadi sesama perempuan sering menganggap diri mereka lemah dan takkan mampu melakukan hal-hal yang dilakukan oleh laki-laki. Mereka kadang saling melemahkan antarsesama. Hal ini sudah menjadi budaya sejak mereka belum dilahirkan. Posisi perempuan sebagai makhluk kelas nomor dua, sudah sama-sama dipahami baik oleh perempuan maupun laki-laki. Anggapan bahwa perempuan makhluk kelas nomor dua dikukuhkan oleh masyarakat dan budaya. Hal ini diperkuat oleh masuknya peran dari berbagai pihak bahwa posisi perempuan itu lemah. Berbagai masukan dan tindakan dijejalkan kepada perempuan, khususnya perempuan miskin lagi bodoh. Tidak jarang posisi perempuan yang lemah sengaja diciptakan untuk memasukkan suatu kepentingan tertentu. Mabel tidak diberi kesempatan untuk mencicipi bangku sekolah tentu saja agar sang majikan tidak menginginkan Mabel lalai dengan pekerjaan rumah karena telah disibukkan dengan tugas-tugas sekolahnya. Hal itu tersirat dalam kutipan berikut.

“Kita ini perempuan, Anabel. Tak akan mampu memanggul dunia. Jadi hendaknya kau merasa senang jika bisa menjalani bagianmu dalam kehidupan di dunia ini sebaik mungkin. Perempuan tetap akan menjadi perempuan, bukan laki-laki. Dan ingatlah selalu, perempuan tidak akan bisa memanggul dunia, Anabel. Tidak akan pernah. ” (Thayf, 2009: 123).

Subordinasi yang dialami Mabel juga terjadi dalam hal pinang-meminang. Lelaki dengan superioritas mereka, dengan mudah menaksir harga serta kehormatan perempuan sesuai keinginan mereka. Lelaki menganggap perempuan tak ubah seperti barang yang bisa ditawar-tawar. Hal ini karena pendapat masyarakat khususnya masyarakat Papua yang kental dengan budaya patriarkat. Laki-laki lebih berkuasa dan berhak atas kehidupan perempuan. Hal ini sejalan dengan pendapat Heroepoetri dan Valentina (dalam Anwar, 2009:190) praktik sosial dalam perkawinan masih menempatkan wanita sebagai objek tukar yang merupakan basis dari praktik patriarkat, karena wanita diposisikan sebagai bagian dari kepemilikan (property) laki-laki. Budaya menaksir harga perempuan pada orang-orang Papua pun sudah hidup sejak lama. Mabel, tak dapat berbuat apa-apa. Ia mengikuti aturan adat jika tak ingin dicap sebagai anak pembangkang. Perempuan disubordinasi sesuai keinginan dan kebutuhan kaum laki-laki yang superioritas (kuat, perkasa, dan penuh kuasa). Perempuan dianggap pantas menerima semua perlakuan tersebut.

Pencitraan terhadap perempuan sebagai mahkluk lemah dan pasrah pada nasib kaumnya sudah mengakar pada perempuan Papua. Mereka harus tunduk pada keputusan suami jika tak ingin dicap sebagai perempuan atau istri yang tidak baik-baik. Perempuan Papua, termasuk Mabel, harus membawakan diri sesempurna dan sebaik-baik mungkin di depan suaminya. Sikap ini menjadi sesuatu yang harus dan pantas dilakukan oleh perempuan Papua, sesuai dengan tradisi dan budaya mereka. Kesenangan suami menjadi hal utama, meskipun harus mengorbankan sikap, sifat, dan keinginan perempuan atau istri. Dalam konteks ini, pengorbanan perempuan dinilai jauh lebih besar demi menciptakan kerukunan keluarganya. Perempuan menjadi objek yang harus diatur sesuai dengan keinginan dan kemauan suaminya, tanpa si suami mengetahui kalau pengorbanan yang dilakukan tidak sesuai dengan keinginan dan harapan dari istri atau perempuan itu sendiri.

Selain itu, pencitraan bahwa perempuan itu harus patuh dan tunduk pada kekuatan lelaki semakin mempersempit peluang perempuan untuk lebih cerdas. Perkembangan diri mereka akan semakin lambat atau bahkan terhenti. Ketundukan perempuan kepada laki-laki menyebabkan diri mereka selalu bergantung kepada laki-laki dan ini adalah awal dari kebodohan. Ketergantungan perempuan terhadap laki-laki menyebabkan mereka tak dapat berbuat banyak. Keputusan-keputusan yang diambil untuk diri mereka justru dibuat oleh laki-laki. Tentu saja banyak terjadi ketidakcocokan antara apa yang dibutuhkan perempuan dan apa yang diberikan laki-laki kepada mereka. Namun, karena budaya ini sudah mengalir dalam darah mereka, perempuan kembali menerima dan melakukan semua itu dengan patuh tanpa suara. Perempuan tidak akan menyampaikan apa-apa yang dirasakan tidak berkenan dengan hati mereka apalagi memberontak. Begitu juga dengan Mabel. Ia pasrah pada putusan ayahnya yang menganggap dirinya kerasukan setan serta tak mampu berbuat apa-apa ketika perempuan sukunya menjuluki dirinya sebagai pembangkang.

Demikian juga dengan kekerasan terhadap perempuan yang menjadi salah satu kasus terbesar dari bentuk ketidakadilan gender. Perempuan yang memang tidak memiliki kekuatan sebesar laki-laki, membuat laki-laki merasa perlu memperlihatkan superioritas mereka terhadap perempuan yang tersubordinasi dan pantas menerima perlakuan tersebut. Perempuan dan anak-anak kerap menjadi kambing hitam atas ketidakpuasan laki-laki di luar rumah. Laki-laki kadang merasa perlu menyakiti (fisik dan psikis) istri mereka untuk membuat istri tunduk dan patuh pada mereka, suaminya. Hal ini dialami oleh Mabel, baik sebelum berumah tangga, maupun setelah berumah tangga. Kaum superioritas (laki-laki) menjadikan kelemahan perempuan sebagai kesempatan melecehkan serta menyakiti perempuan sesuka mereka. Kelemahan ini menjadi semacam alasan yang kemudian menjadi kewajaran merendahkan kaum perempuan dengan berbagai tindakan. Perempuan rentan dengan kekerasan dan pelecehan seksual. Seolah-olah organ reproduksi yang mereka miliki mengundang kaum superioritas untuk melecehkan dengan mudah.

Kebanyakan perempuan tak dapat berbuat banyak atas sikap dan tindakan kekerasan yang dilakukan pihak superioritas (laki-laki) terhadap perempuan. Mereka menjadi target dan korban atas penghancuran identitas pribadi atau kaummnya. Kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan mampu menimbulkan kelemahan diri dan mental baik bagi diri si korban ataupun orang (perempuan) lain yang menyaksikannya. Kekerasan terhadap perempuan memiliki hubungan dengan kekuasaan pada pihak-pihak yang berkepentingan. Perempuan korban kekerasaan dan penyiksaan menjadi simbol dari kaum atau kelompok yang diwakilinya. Hal ini akan menciptakan teror untuk menaklukkan salah satu pihak pada kelompok yang sedang bertikai. Tentu saja hal ini hanya akan terjadi pada daerah yang sedang berkonflik, seperti di Papua. Kepentingan masyarakat Papua tidak terakomodasi oleh kepentingan pihak-pihak pemilik modal atau pemerintah di sana. Kericuhan atau peperangan pun tak dapat dielakkan, dan perempuan kerap menjadi korbannya. Kekerasan terhadap perempuan terjadi dalam konteks sebuah budaya yang lebih luas. Kekerasan ini dianggap sesuatu yang wajar dan pantas diterima oleh perempuan. Kekerasan ini pun terorganisasi dengan rapi. Seperti kutipan berikut.
“Ampun! Kupikir hanya hewan buruan saja yang diseret beramai-ramai keluar dari hutan setelah berhasil ditaklukkan para pemburu. Nyatanya, manusia juga ada yang diperlakukan begitu. Kejam sekali! Apalagi manusia itu tidak bersalah. Kuulangi, ia sama sekali tidak bersalah.” (Thayf, 2009:154).

Acap kali pemberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) pada suatu wilayah menyebabkan terjadinya kekerasan dan pelecehan kepada perempuan di daerah tersebut. Perempuan di Papua disimbolkan sebagai tanda kesuburan dan kemakmuran tahan Papua yang memang kaya akan sumber daya alam. Kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dianggap salah satu cara tepat mengetahui keberadaan dan kegiatan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai pemberontak dan musuh negara. Perempuan juga dianggap pantas menerima semua siksaan tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka terhadap sikap dan perlawanan OPM (baca;laki-laki) kepada negara. Tekanan pihak yang lebih kuat terhadap perempuan mampu membuat korban (perempuan) seperti bersalah seumur hidup. Kelemahan perempuan, lagi-lagi, dijadikan sebagai kesempatan untuk menyiksa dan menyakiti mereka dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Perempuan miskin dan tak tahu apa-apa dengan mudah dipaksa mengakui segala kesalahan yang ditimpakan kepada mereka. Penyiksaan dan kekerasan yang dialami oleh perempuan di tanah konflik dilakukan sangat tidak manusiawi. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka dengan segala kelemahan dan ketidaktahuannya menerima apa saja hal-hal yang dijejalkan kepada mereka. Kebodohan, kemiskinan, menjadikan mereka seperti makhluk tak berguna apa-apa. Perempuan kembali menjadi target dan korban kekerasan dan penyiksaan pihak kuat terhadap mereka. Perempuan menerima semua itu tanpa ada hak-hak pembelaan. Mereka menjadi objek tumpukan kekerasan dan kemiskinan di tanah kelahiran mereka.

Kekerasan dan penyiksaan terhadap perempuan dinilai menjadi salah satu cara melegalkan keinginan pihak yang lebih kuat. Penderitaan kaum perempuan Papua tak lepas dari penguasaan ekonomi dan politik pihak asing terhadap tanah Papua yang subur dan kaya. Untuk menguasai tanah tersebut, berbagai cara dilakukan penguasa agar semua keinginan mereka tercapai. Orang Papua dipaksa mengikuti semua kebijakan dan keinginan penguasa. Orang Papua tidak diberi kesempatan mengetahui atau membela tanah mereka yang dijajah oleh pihak asing. Orang Papua dengan segala kelemahan dan ketidaktahuan hanya menerima atau pasrah pada siksaan jika melawan atau memerkarakan hal tersebut. Kekerasan fisik dan psikis lebih mudah dibebankan kepada pihak lemah dan tak tahu menahu. Perempuan Papua (Mabel) menjadi korban penipuan dan kekerasan yang harus ia tanggung. Perempuan ini pun menjadi korban untuk pemuasan kehidupan sang penguasa. Berbagai alasan pihak yang lebih kuat menindas pihak yang lemah untuk menjalankan dan melancarkan keinginan mereka. Penderitaan demi penderitaan kerap diterima perempuan sebagai bentuk kelemahan mereka. Tidak hanya cacat secara psikologi tetapi juga cacat fisik seumur hidup yang harus ditanggung. Mereka tak dapat berbuat apa-apa. Kepentingan ekonomi dan politik menjadikan perempuan korban kesewenang-wenangan pihak penguasa. Dampak kekerasan ini akan membuat perempuan malu, depresi panjang, hingga menyesal seumur hidup.

Di samping itu, tanggung jawab kerja lebih banyak selalu dipikul oleh perempuan Papua. Mereka harus mengerjakan pekerjaan itu tanpa pernah mengeluh dan meninggalkannya. Mabel, perempuan Komen, harus tunduk dengan segala aturan adat tersebut. Ia bertanggung jawab selain mengurusi anaknya juga memastikan agar persediaan sagu tetap ada sebagai bahan makanannya. Tanggung jawab pekerjaan yang banyak ini semakin menyulitkan perempuan Papua untuk mendapatkan informasi apalagi pendidikan lebih luas dan banyak dari luar rumahnya. Mereka secara tidak langsung telah dibodohkan dan dimiskinkan baik oleh adat mereka sendiri maupun oleh pemerintah. Pemerintah tak ambil pusing akan nasib perempuan Papua yang selalu tertindas. Penyelamatan atau perjuangan nasib mereka dinilai tak memberi efek ekonomi apalagi politik, sehingga keterpurukan nasib seperti ini menjadi hal biasa dan tak perlu diperjuangkan.

Di akhir cerita, Anindita S. Thayf menampilkan sosok Mabel yang kalah ‘berperang’ melawan budaya adatnya serta negara (orang-orang berseragam) yang menyeret Mabel dari rumahnya sendiri. Mabel kembali menjadi korban atas ketidakberdayaannya sebagai perempuan dan kaum pinggiran dari sistem sosial di masyarakat dan negaranya. Ia menjadi korban atas kekuasaan dan kekuatan pihak lain (patriarkat). Mabel mengalami ketiadakadilan dan diskriminatif justru di tanah kelahirannya yang kaya dan subur. Pengarang, seolah-olah menampilkan perjuangan tokoh utama selama ini, berakhir tragis dan sia-sia. Harapannya kepada Leksi, cucunya yang masih kanak-kanak, tentu membutuhkan pendidikan dan arahan yang panjang dan dalam tentang hidup dan kehidupan perempuan di tanah Papua yang patriarkat itu. Mabel menjadi simbol keberanian sekaligus harus penuh perhitungan untuk melakukan berbagai manuver, apalagi menyangkut pembongkarbalikan sistem sosial budaya yang telah diamini turun temurun oleh masyarakatnya berabad lamanya.

Penutup
Ketidakadilan sosial gender yang dialami Mabel dan perempuan lainnya di tanah Papua, melahirkan berbagai pemikiran untuk mendobrak adat dan budaya Papua yang kental dengan sistem patriarkat. Tak kalah pentingnya juga meningkatkan potensi perempuan agar lebih cerdas, salah satunya dengan mengikuti pendidikan formal hingga jenjang tertinggi. Pendidikan bagi Mabel merupakan eskalator untuk membawa kehidupan jauh lebih mulia dan sejahtera. Perempuan yang berpendidikan atau pernah mengenyam pendidikan (pendidikan formal) mampu membangun pola pikir yang lebih cerdas dan tidak mudah diperdaya oleh orang lain, apakah itu oleh adat, penguasa (pihak yang berkepentingan) serta laki-laki jahat dan tidak bertanggung jawab.

Penulis menilai masih terjadi bias gender terhadap perempuan di dalam novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf. Sosok Mabel, perempuan yang selama ini ‘digadang-gadangkan’ di dalam setiap alur dan peristiwa, tiba-tiba harus kalah dengan sangat mengerikan di akhir cerita. Mabel tak dapat berbuat apa-apa di tangan orang-orang bersenjata. Sedangkan cita-cita dan harapannya kepada Leksi, sang cucu, masih terlalu naïf untuk dapat meneruskan kehidupan yang keras dan kejam di tanah Papua dengan baik-baik saja. Karena Mace, bukanlah seorang perempuan sekuat dan setangkas Mabel. Ia hanya perempuan yang pasrah dengan nasib dan budaya patriarkat Papua, yang menghantarkan dirinya pada trauma yang dalam dan selalu menangis, dan menangis.




Referensi
Anwar, Ahyar. 2009. Geneologi Feminis. Jakarta: Penerbit Republika.
Fakih, Mansour. 2008. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogykarta: Pustaka Pelajar.
Munti, Ratna Batara dkk. 2005. Respon Islam Atas Pembakuan Peran Perempuan. Jakarta: LBH-APIK.
Shihab, M. Quraish. 2009. Perempuan. Tangerang: Lentera Hati.
Sugihastuti dan Suharto. 2005. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Thayf, Anindita S. 2009. Tanah Tabu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.